ruang cerita keluarga mama triplet

LIMA PERTANYAAN YANG PERLU DIAJUKAN KE PASANGAN SEBELUM MENIKAH

by | Dec 11, 2019 | Pasutri | 19 comments

Masih ragu-ragu untuk menikah? Coba deh tanyakan lima pertanyaan penting di bawah ini ke pasangan.

– Madam A –

Gonjang-ganjing kabar sertifikasi nikah mencuat di media. Kabar yang beredar, mulai tahun 2020 besok setiap pasangan yang berencana menikah selain diwajibkan mengikuti bimbingan pranikah juga wajib lulus dalam bimbingan tersebut. Kalau enggak lulus enggak dapat sertifikat, enggak dapat sertifikat enggak bisa nikah. Modyar!

Masih berdasarkan beberapa media, bimbingan pranikah yang harus diikuti oleh calon suami istri akan dilaksanakan selama tiga bulan. Ide ini muncul setelah pemerintah mengamati angka perceraian yang terus meningkat tajam dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari kemenag, pasangan yang bercerai di tahun 2019 sudah setengah juta orang.

Hmmm, membaca hal ini membuat saya bingung mau berada di pihak pro atau kontra. Untuk bagian penyuluhan atau bimbingan sih saya setuju banget. Amat penting bagi calon suami istri mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi setelah menikah serta kiat-kiat menghadapinya.

Cuma yang bikin saya mengernyitkan dahi adalah bila tidak lulus, tidak dapat sertifikat kemudian tidak bisa menikah kok rasanya ngganjel juga. Gimana ya, dalam Islam sendiri syarat sah menikah juga simpel. Meski kesel juga kalau lihat orang jadi bermudah-mudah untuk menikah.

MENIKAH ENGGAK SEMUDAH ITU ZHEYENK!

Sebagai seseorang yang pernikahannya baru seumur jagung (hampir 8 tahun) saya harus mengakui kalau ibadah yang satu ini sangat berat untuk dijalani. Pernikahan adalah ibadah dengan durasi yang sangat panjang dan tanggung jawab yang sangat berat. Kata-kata rindunya Dilan mah lewat.

Kadang, saya sendiri takjub serta bersyukur karena pernikahan saya dan suami masih bertahan sampai sekarang. Maklum, saya dan Cucup termasuk dalam golongan orang yang menikah muda, usia 22 tahun. You know-lah anak muda kayak gimana. Saya dan dia saat itu masih jauh dari kata dewasa ataupun bijaksana, jadi ya banyak banget gesekan yang saya hadapi di awal-awal pernikahan.

Lima pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menikah
Is love enough?
Source : Pixabay

Meski menikah muda, saya sendiri sebetulnya enggak begitu suka dengan kampanye menikah muda. Apalagi yang pakai embel-embel demi menghindari zina. Asli, malah sebel sama orang-orang yang kayak gini.

Helaauuw please deh, nikah itu enggak cuma urusan tentang penyatuan selangkangan. Menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran, dua masa lalu, dua mimpi, dan dua kepribadian demi mencapai satu tujuan akhir : Jannah.

Wudih, bisa juga saya nulis kayak gitu. Masya Allah Tabarakallah.

Kembali ke topik awal, menghindari zina adalah salah satu manfaat menikah. Catat baik-baik ya, kalau perlu di bold, garis bawah, dan tulis miring, menghindari zina adalah salah satu manfaat menikah.

Lalu tujuan menikah apa? Tujuan menikah ya ibadah, menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah sampai ke syurga-Nya. Kalau nikah tujuannya cuma untuk menghindari zina, maka tinggal tunggu waktunya untuk berpisah. Lha wong alasannya nikah berarti cuma supaya bisa halal melakukan sex doang kan? Dan mohon maaf nih, sex tidak akan pernah menjadi alasan yang kuat bagi seseorang untuk bertahan dalam pernikahan.

Perlu diketahui, masalah yang muncul setelah menikah itu buanyaaakk banget. Percayalah, masalah-masalah yang datang menghampiri itu tidak bisa diselesaikan dengan sex. Marriage is much more than sex. Maka kalau ada yang bilang bahwa menikah itu untuk menghindari zina, langsung jawab bahwa Islam sudah mengatur hal tersebut dengan menjaga pandangan atau berpuasa.

Jangan pernah bermudah-mudah dalam membentuk niat menikah, kecuali kalian benar-benar siap dengan segala konsekuensinya.

KENAPA SIH SERING MUNCUL MASALAH DALAM PERNIKAHAN?

Hal pertama yang perlu banget dipahami, selama kita hidup maka masalah akan muncul. Masalah hilang kalau kita sudah mati. Jadi bersyukurlah kalau masalah masih sering datang. Meski demikian, tetep kalau bisa jangan jadi orang yang suka mancing masalah.

Lima pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menikah

Kedua, kita dan pasangan adalah dua orang yang berbeda. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan bentuk fisik serta fitrah yang berbeda. Selain itu, tempat lahir, pola asuh, kepribadian, kebiasaan, adat istiadat serta pola pikir kita dan pasangan pun berbeda sekali. Maka wajar kalau kemudian perbedaan-perbedaan ini sesekali memicu permasalahan rumah tangga.

Ketiga, permasalahan muncul di kala suami dan istri tidak memiliki visi dan misi yang jelas dalam menjalani biduk pernikahan. Cuman let it flow aja gitu, ngikut arus. Enggak salah sih, tapi pasangan yang memiliki tujuan jelas biasanya udah satu suara, udah kompak. Jadilah mereka lebih santuy menghadapi problematika rumah tangga.

Berdasarkan novel serta curhatan-curhatan beberapa akun curhat yang saya baca, banyak sekali orang yang merasa terjebak dalam pernikahan. Mereka merasa tertipu ketika menyadari bahwa menikah ternyata tak seindah itu.

Some people curhat suaminya tidak peka, tidak mau urun tenaga ngurus anak, tidak mau modalin skincare istri, tidak mau mendengar keluh kesah istri. Sebaliknya ada juga suami yang curhat kalau istrinya tidak mau merawat tubuh, tidak mau bersikap baik terhadap mertua, dan lain-lain. Banyak pokoke!

Baca Juga : Untuk Aku dan Kamu yang Mudah bilang cerai saat menikah

Duh, saya merasa miris membaca curhatan seperti ini. Semakin sedih ketika tahu bahwa pasangan yang mengalami kasus-kasus begitu sangat banyak. Tak jarang malah teman atau tetangga sendiri.

Banyak pasangan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah-masalah ini dengan baik. Ada yang pernah mencoba untuk ngobrol bersama, tapi kok melebar kemana-mana sehingga berujung pertengkaran. Begitu terus setiap kali diskusi, hingga akhirnya memilih diam ketika ada masalah. Mereka berharap kalau hal itu akan reda dengan sendirinya.

Padahal, masalah-masalah yang tak selesai akan menumpuk di alam bawah sadar. Kemudian datang masalah-masalah baru lagi, didiamkan lagi, menumpuk lagi sampai akhirnya suatu waktu salah satu pihak tak tahan lagi. Endingnya bisa ditebak, ambyar.

BANGUN KOMUNIKASI YANG BAIK SEJAK SEBELUM MENIKAH

Sebagai pihak yang mengatur regulasi pernikahan, saya sangat memahami bahwa negara tidak ingin rakyatnya bercerai. Perceraian itu membawa banyak masalah soale, mulai dari anak, nafkah, harta gono-gini, dll.

Saya mencoba berprasangka baik, pemerintah melalui kementrian agama membuat aturan sertifikasi pranikah adalah agar para calon suami dan istri itu memiliki bekal pendidikan rumah tangga yang cukup. Calon suami dan calon istri perlu tahu apa peran, hak, serta tanggung jawab mereka dalam pernikahan.

Saya sendiri semakin ke sini semakin menyadari bahwa yang menjadi tiang penyangga utama kuatnya mahligai pernikahan bukanlah cinta. Tapi komunikasi yang baik antara suami dan istri. Komunikasi adalah kunci.

Saat sebelum menikah dulu, saya tidak hanya ribet mengurusi printilan acara pernikahan seperti gedung, katering, foto, dan kawan-kawannya, tidak. Lebih dari itu, saya juga berusaha untuk menguatkan mental menghadapi kehidupan pernikahan

Jadi gini, Cucup melamar ketika saya masih kuliah semester 6. Waktu itu saya sedang ribet-ribetnya kuliah serta menyelesaikan skripsi. Sejujurnya, saya histeris sekali ketika dia betul-betul serius mau bicara pada papa.

I mean wow, ini menikah gitu loh, MENIKAH. Menikah kan butuh komitmen yang enggak main-main. Menikah artinya saya bakalan terikat sama Cucup like forever. Apa sanggup saya hidup sama orang yang tergila-gila banget main game? Apa sanggup saya melewati waktu sama dia yang cuek dan dinginnya ngalah-ngalahin kulkas? Apa saya siap untuk menerima posisi menjadi istri?

Saya pernah menangis malam-malam karena amat sangat ketakutan. Sebuah pikiran gila untuk membatalkan pernikahan tiba-tiba muncul begitu saja. Saya khawatir, saya merasa belum siap.

Saya takut kehilangan kebebasan. Takut tidak diperbolehkan memakai celana jeans sama Cucup. Takut dia tidak akan membiayai behel gigi saya. Takut dia tidak akan mengijinkan saya pergi dengan teman-teman. Intinya, saya takut ketika menikah nanti saya akan kehilangan jati diri saya sendiri.

Mama saya yang kaget melihat putrinya menangis histeris malam-malam akhirnya menelepon Cucup. Dan…tahukah teman-teman, dia datang ke rumah saya. Padahal waktu itu sudah sangat larut malam.

“Kamu kenapa?” tanya dia sambil duduk di sofa ruang tamu dan menepuk-nepuk sebelahnya, meminta saya untuk duduk di sana.

“Aku takut menikah.” jawab saya jujur.

Cucup mengernyitkan dahi, “Apa yang kamu takutin?”

“Aku takut nanti kamu enggak ngebolehin aku pakai celana jeans dan jilbab paris lagi.”

Cucup melongo mendengar jawaban saya. Detik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala. Saya yang melihat reaksinya langsung cemberut.

“Apalagi yang kamu takutin?” tanya dia. Dan begitulah, malam itu menjadi momen di mana saya dan dia berdiskusi tentang segala hal yang mungkin akan terjadi dalam pernikahan.

LIMA PERTANYAAN YANG SAYA AJUKAN SEBELUM YAKIN UNTUK MENIKAH

Selain mengenai cara berpakaian, malam itu saya menanyakan beberapa hal lainnya, yaitu;

  1. Menurut kamu, perawatan wajah dan tubuh istri penting atau enggak? Siap untuk memodali skincare? (Karena waktu itu aku perawatan di Natasha yang agak pricey)
  2. Apa pendapat kamu tentang laki-laki yang mau turun tangan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga (termasuk anak) ?
  3. Bagaimana menurut kamu peran suami dalam menjembatani hubungan istri dan mertua (ibu suami) supaya tidak muncul konflik?
  4. Apa yang akan kamu lakukan kalau misalnya kita tidak sepakat dalam memutuskan suatu masalah? (misal jika saya ingin bekerja sedangkan dia maunya saya di rumah)
  5. Apa pendapat kamu tentang adab “menjaga pandangan” yang dimaksud dalam Islam?”

Yap, dari lima pertanyaan utama itu kami berdua mendiskusikan berbagai macam hal. Seandainya bukan karena sudah tengah malam dan kami belum halal, mungkin obrolan kami akan bablas sampai pagi.

Adakah di sini yang penasaran dengan jawabannya Cucup? Mmmm…kasih tau enggak eaaa *digaplok pembaca*

Mohon maaf, jawaban-jawaban dari dia biar saya keep sendiri dulu ya, spesial soalnya. Wakakakaka. Yang pasti, sejak malam itu saya tidak lagi merasa ragu untuk melangkah jenjang pernikahan bersamanya. Ahei!

Saya tentu saja cinta Cucup, tapi secinta-cintanya saya sama dia, saya berusaha menempatkan logika di atas perasaan. Sekedar cinta tidak bisa jadi pegangan, toh banyak pasangan yang menikah karena alasan cinta pada akhirnya bercerai.

Saya bersyukur sekali karena mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran. Dari lima pertanyaan itu, saya jadi tahu bagaimana cara Cucup memandang sebuah permasalahan dan cara menyelesaikannya. Saya juga jadi tahu kalau cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kedatangan dia malam itu serta kesediaannya untuk menerima ketakutan dan kekhawatiran saya menunjukkan kalau dia betul-betul serius.

TANYAKAN DI AWAL, AGAR TAK MENYESAL

Ya, lebih baik bertanya daripada tersesat di tengah jalan. Percayalah, lima pertanyaan di atas sudah cukup menunjukkan karakter seseorang. Apalagi kalau tanyanya dadakan, kan dia jadi enggak sempet mikir. Karena enggak punya waktu buat mikir, kata-kata yang keluar jadi lebih jujur. Eh, bener enggak sih pemikiran kayak gini?

Seandainya saat itu Cucup tidak menjawab dengan baik lima pertanyaan yang diajukan, saya sudah memberanikan diri untuk stop saja. Bukan kenapa-kenapa, tapi lebih baik saya hancur di awal, ketika pernikahan belum terjadi. Saya ngeri membayangkan akan sebesar apa kesedihan dan sakit yang dirasakan jika berhenti justru saat pernikahan sudah berjalan. Saya tidak mau menyesal.

Tapi memang, semua sudah qadarullah, semua sudah merupakan takdir dari Allah kalau saya akan menikah dengan Cucup. Tugas kami berdua sekarang berubah meski tujuannya tetap sama. Kalau dulu sayalah yang masih harus diyakinkan if we can make it work, sekarang kami saling bahu-membahu agar pernikahan ini betul-betul bisa berjalan sesuai harapan.

Pesan saya kepada para dedek yang berada dalam fase menuju pernikahan, rajin-rajinlah bertanya tentang solusi dari kemungkinan masalah yang muncul jika kalian ditakdirkan sebagai suami istri. Pertimbangkan jawabannya, perhatikan perilakunya.

Terakhir, luruskan niat.

Saya yakin orang yang niatnya untuk menikah memang lurus pasti jalannya dimudahkan. Orang yang betul-betul siap untuk menikah tak akan menganggap remeh bimbingan pranikah. Dan orang yang sangat serius dengan pernikahannya akan berjuang agar lulus mendapatkan sertifikat pranikah. Betul?

Oke deh, ini sedikit pemikiran saya tentang isu sertifikasi pranikah dan lima pertanyaan yang perlu diajukan teman-teman sebelum menikah kepada pasangan. Semoga sepenggal tulisan ini bisa bermanfaat.

Anyway, tulisan ini juga merupakan kolaborasi dengan salah satu sahabat blogger, yaitu Nyonya Malas. Blogger hits yang satu itu menulis opininya tentang sertifikasi pra nikah. Cek tulisan beliau diiii

SERTIFIKASI PRA NIKAH, EMANG PERLU?

Nah, selamat menikmati tulisan kami berdua. Adieu!

Ajeng Pujianti Lestari

Ajeng Pujianti Lestari

Blogger | Mother

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris :). Untuk kerja sama silakan menghubungi ajenghimme@gmail.com

    

You May Also Like

TIPS BAHAGIA MENJADI IRT MESKI AWALNYA DIPAKSA

TIPS BAHAGIA MENJADI IRT MESKI AWALNYA DIPAKSA

Tulisan ini murni curhat tentang saya yang dulu dipaksa menjadi IRT - Madam A - Pagi tadi saya menulis sebuah status di Facebook. Iseng aja sebenernya, kepo sama pandangan orang-orang tentang istilah 'me time' alias waktu untuk diri sendiri. Terutama bagi seorang IRT...

VITALIS BODY WASH, SENJATA AMPUH MELELEHKAN SI SUAMI KULKAS

VITALIS BODY WASH, SENJATA AMPUH MELELEHKAN SI SUAMI KULKAS

Mak, mau enggak saya kasih tahu salah satu jurus yang perlu dikeluarkan saat mau menggoda suami yang diem dan kaku banget, selain pakai pakaian seksi atau lirikan mata? Coba deh mandi pakai Vitalis Body Wash, dijamin suami langsung colak-colek karena enggak bisa...

19 Comments

  1. Dian farida ismyama

    Aku ga sempat nanya apa2 karena ga tahu harus nanya apa. Wkka kacau ya. Dan emang bener begitu menikah dan serumah, geger lah karena banyak perbedaan

    Reply
  2. Dian Restu Agustina

    Wah list pertanyaanmu boleh juga, Mbak Ajeng..apalagi yang bagian Natasha..#eh

    Memang sebelum menikah ada hal yang bisa saling didiskusikan dulu. Tergantung sikon masing-masing pasangan.
    Tapi yang utama, jadi ada bayangan kita akan karakter dari calon suami/istri kita ini.
    Ulasan yang menarik nih…dan aku dari sini baru ngeh banget tentang sertifikasi nikah.
    untuk jamanku belom ada ..kalau ada lhak yo ribet. Aku di Denpasar, dia di Medan kami nikah di Kediri hihihi

    Reply
  3. Chriesty

    Wiiii kalo gak sempet nanya piye mbak?😂 Tp cintanya bolak balik NTB – Bandung dan gak kecantol cewe lain disana membuktikan niatan baiknya pgn nikah, cukuplah ya waktu itu yg jd pertimbangan😆

    Reply
  4. Icha Marina Elliza

    Mba Ajeng, hampir sama kita ya..
    saya pun hampir 10 tahun menikah. Bagi saya 5 tahun pertama adalah masa-masa kritis dalam berumahtangga.
    Kalo sukses, ke depannya lebih mudah.
    Soal pertanyaan ke pasangan, nomer 1 makjleb ya, hahaha.

    Kalo di saya, tambahannya soal kesehatan juga mba Ajeng. Penting supaya kita tau faktor resiko ke depannya.

    Reply
    • Name *Yeni Sovia

      Mba Ajeng, malah orang yang sudah mati itu lebih banyak masalahnya. Masalah amal, masalah hisap harta, terus masalah aib kita dibuka semuanya dll. Masih mending ya di dunia kita masih bisa memperbaiki klo udah mati nggak bisa lagi ya hiks. Mending kalau kita langsung masuk syurga ya hihihi. Amin ya Allah smga bisa lngsung masuk syurga. Ngomong-ngomong setuju mba ajeng pernikahan itu bukan soal seks tpi ada yang lebih penting dari itu.

      Dulu waktu aku taaruf ama ayah erysha. Nggak banyak tanya. Dia tanya aku, klo nti dia pindah2, aku mu ikut atau di bandung aja? Pertanyaan sesuai sikon. Trus aku nanya gmna soal pendidikan anak. Ga bnyak nanya wktu itu. Trus aku berdoa trus ama Allah smp mendekati hari H hihihi. Sekarang sih nyesel knpa ga dri dulu ketemu dia hihihi

      Reply
      • sugatangguh

        Wah, aku mendapatkan ilmu baru ya mb. hehe. Siap ntar ilmunya diterapin

        Reply
        • Ida Raihan

          Aku team kontra deh kayaknya. Baru sekarang mau nikah wajib ada sertifikasi.

          Reply
          • Ida Raihan

            Lhooo kenapa komenku masuknya ke reply komen orang. Wakakka

  5. Vivi

    alahai mbaa.. aku sampe depresi karena gak baca jawaban dari lima pertanyaan…
    hihihi *minta ditimpuk*

    aku diajak nikah via telp. aku lagi boci. belom terkumpul semua nyawaku ketika ituh…

    pas udah nyadar, aku jadi sakit kepala saking senengnya kwkwkwkwkwkw hust

    Reply
  6. RACHMANITA

    Memang banget dan bener kalau nikah itu tidak hanya sekedar cinta..tapi perlu beli mobil..beli rumah..perlu banyak pokonyaa..hehehehe

    Reply
  7. Faisol Abrori

    Untuk urusan pernikahan saya mah no komen, untuk yang menjalaninya semoga bisa menjalankannya dengan ikhlas, untuk yang belum menikah ya tidak apa-apa, yang penting tetap mengabdi pada negara

    Reply
  8. Bambang Irwanto

    Memang benar, Mbak. menikah bukan hanya urusan menyatukan selangkangan saja, biar menghindari zina. Tapi menikah karena banyak hal. Ibadah, menyatukan hati, dan sebagainya.
    Dan bagus juga daftar pertanyaannya, apalagi yang menarik nomor 1. Perawatan di Natasha memang cihuiii hahaha.
    Tapi apa dulu Kang Cucup juga gantian mengajukan daftar pertanyaan ya, Mbak? Misalnya apa tidak keberatan kalau koleksi motor gede? hehehe

    Reply
  9. Rohyati Sofjan

    Bulan ini genap 11 tahun pernikahan saya dan suami. Sungguh tidak mudah di awal-awal mula pernikahan, terutama 5 tahun pertama. Masalahnya adalah pihak lain yang ikut campur urusan dalam sampai suami tidak punya kedewasaan yang saya butuhkan dalam mengatasi masalah secara bijak, emosional karena watak kerasnya.
    Terus mengapa kami masih tetap bersama? Anak semata wayang adalah alasannya. Juga karena kami pada dasarnya saling membutuhkan sebab tidak punya keluarga sejati.
    Menikah itu tidak mudah tetapi jika ikhlas djalani pastinya ada rasa tenang dan bertanggung jawab akan komitmen.

    Reply
  10. April Hamsa

    Howalah Bu Cucup ternyata menikah muda 😀
    Enaknya sih pas udah ada anak, anak dah agak gede, kita masih bisa beraktivitas kerja di sektor publik lg kalau mau 😀
    Enggak enaknya mungkin kehilangan “masa muda” yang mestinya buat seneng2 dulu, traveling dulu, dll haha
    Tapi emang kudu bener2 dipertimbangkan dan juga terbuka satu sama lain sebelum memutuskan menikah yaaa

    Reply
  11. donasaurus

    hadeh kalo ngomongin soal pernikahan emang bisa 1001 malam ceritanya.Tapi bener kok berumah tangga -jadi istri +jafi ibu dan plus jadi mantu itu perlu banyak toleransi sana dan sini.Kalau tidak percikan percikan api bisa jadi kebakaran

    Reply
    • Ida Raihan

      Aku dulu malah ada 11 syarat yang kuajukan ke suami. Alhamdulillah disetujui semua. Emang udah jodoh sih

      Reply
  12. Susindra

    5 pertanyaannya seram kalau bagi cowok yang tidak benar-benar cinta. Bisa langsung lari sambil bilang apaan, sih? Hahahahah. Tapi memang harus ditanyakan, secara langsung atai hanya observasi. Kalau saya dulu dari observasi krn mata saya awas mengawasi gerakan sepelan/sehalus mungkin.

    Reply
  13. zlindra.net

    jujur aku pun masih mempertanyakan ke diri aku sendiri, apakah aku beneran sudah siap menikah atau belum. aku takut salah langkah, aku takut ternyata aku belum siap berkomitmen untuk menikah

    Reply
  14. paket wisata belitung

    alhamdulillah komitmen saya dan istri sama, menikah karena ibadah. kalo semua didasari ibadah alhamdulillah semua lancar yang saya rasakan…

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ajeng Pujianti Lestari

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris :). Untuk kerja sama silakan menghubungi ajenghimme@gmail.com

Archives

Categories