LIMA PERTANYAAN YANG PERLU DIAJUKAN KE PASANGAN SEBELUM MENIKAH

Masih ragu-ragu untuk menikah? Coba deh tanyakan lima pertanyaan penting di bawah ini ke pasangan.

– Madam A –

Gonjang-ganjing kabar sertifikasi nikah mencuat di media. Kabar yang beredar, mulai tahun 2020 besok setiap pasangan yang berencana menikah selain diwajibkan mengikuti bimbingan pranikah juga wajib lulus dalam bimbingan tersebut. Kalau enggak lulus enggak dapat sertifikat, enggak dapat sertifikat enggak bisa nikah. Modyar!

Masih berdasarkan beberapa media, bimbingan pranikah yang harus diikuti oleh calon suami istri akan dilaksanakan selama tiga bulan. Ide ini muncul setelah pemerintah mengamati angka perceraian yang terus meningkat tajam dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari kemenag, pasangan yang bercerai di tahun 2019 sudah setengah juta orang.

Hmmm, membaca hal ini membuat saya bingung mau berada di pihak pro atau kontra. Untuk bagian penyuluhan atau bimbingan sih saya setuju banget. Amat penting bagi calon suami istri mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi setelah menikah serta kiat-kiat menghadapinya.

Cuma yang bikin saya mengernyitkan dahi adalah bila tidak lulus, tidak dapat sertifikat kemudian tidak bisa menikah kok rasanya ngganjel juga. Gimana ya, dalam Islam sendiri syarat sah menikah juga simpel. Meski kesel juga kalau lihat orang jadi bermudah-mudah untuk menikah.

MENIKAH ENGGAK SEMUDAH ITU ZHEYENK!

Sebagai seseorang yang pernikahannya baru seumur jagung (hampir 8 tahun) saya harus mengakui kalau ibadah yang satu ini sangat berat untuk dijalani. Pernikahan adalah ibadah dengan durasi yang sangat panjang dan tanggung jawab yang sangat berat. Kata-kata rindunya Dilan mah lewat.

Kadang, saya sendiri takjub serta bersyukur karena pernikahan saya dan suami masih bertahan sampai sekarang. Maklum, saya dan Cucup termasuk dalam golongan orang yang menikah muda, usia 22 tahun. You know-lah anak muda kayak gimana. Saya dan dia saat itu masih jauh dari kata dewasa ataupun bijaksana, jadi ya banyak banget gesekan yang saya hadapi di awal-awal pernikahan.

Lima pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menikah
Is love enough?
Source : Pixabay

Meski menikah muda, saya sendiri sebetulnya enggak begitu suka dengan kampanye menikah muda. Apalagi yang pakai embel-embel demi menghindari zina. Asli, malah sebel sama orang-orang yang kayak gini.

Helaauuw please deh, nikah itu enggak cuma urusan tentang penyatuan selangkangan. Menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran, dua masa lalu, dua mimpi, dan dua kepribadian demi mencapai satu tujuan akhir : Jannah.

Wudih, bisa juga saya nulis kayak gitu. Masya Allah Tabarakallah.

Kembali ke topik awal, menghindari zina adalah salah satu manfaat menikah. Catat baik-baik ya, kalau perlu di bold, garis bawah, dan tulis miring, menghindari zina adalah salah satu manfaat menikah.

Lalu tujuan menikah apa? Tujuan menikah ya ibadah, menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah sampai ke syurga-Nya. Kalau nikah tujuannya cuma untuk menghindari zina, maka tinggal tunggu waktunya untuk berpisah. Lha wong alasannya nikah berarti cuma supaya bisa halal melakukan sex doang kan? Dan mohon maaf nih, sex tidak akan pernah menjadi alasan yang kuat bagi seseorang untuk bertahan dalam pernikahan.

Perlu diketahui, masalah yang muncul setelah menikah itu buanyaaakk banget. Percayalah, masalah-masalah yang datang menghampiri itu tidak bisa diselesaikan dengan sex. Marriage is much more than sex. Maka kalau ada yang bilang bahwa menikah itu untuk menghindari zina, langsung jawab bahwa Islam sudah mengatur hal tersebut dengan menjaga pandangan atau berpuasa.

Jangan pernah bermudah-mudah dalam membentuk niat menikah, kecuali kalian benar-benar siap dengan segala konsekuensinya.

KENAPA SIH SERING MUNCUL MASALAH DALAM PERNIKAHAN?

Hal pertama yang perlu banget dipahami, selama kita hidup maka masalah akan muncul. Masalah hilang kalau kita sudah mati. Jadi bersyukurlah kalau masalah masih sering datang. Meski demikian, tetep kalau bisa jangan jadi orang yang suka mancing masalah.

Lima pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menikah

Kedua, kita dan pasangan adalah dua orang yang berbeda. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan bentuk fisik serta fitrah yang berbeda. Selain itu, tempat lahir, pola asuh, kepribadian, kebiasaan, adat istiadat serta pola pikir kita dan pasangan pun berbeda sekali. Maka wajar kalau kemudian perbedaan-perbedaan ini sesekali memicu permasalahan rumah tangga.

Ketiga, permasalahan muncul di kala suami dan istri tidak memiliki visi dan misi yang jelas dalam menjalani biduk pernikahan. Cuman let it flow aja gitu, ngikut arus. Enggak salah sih, tapi pasangan yang memiliki tujuan jelas biasanya udah satu suara, udah kompak. Jadilah mereka lebih santuy menghadapi problematika rumah tangga.

Berdasarkan novel serta curhatan-curhatan beberapa akun curhat yang saya baca, banyak sekali orang yang merasa terjebak dalam pernikahan. Mereka merasa tertipu ketika menyadari bahwa menikah ternyata tak seindah itu.

Some people curhat suaminya tidak peka, tidak mau urun tenaga ngurus anak, tidak mau modalin skincare istri, tidak mau mendengar keluh kesah istri. Sebaliknya ada juga suami yang curhat kalau istrinya tidak mau merawat tubuh, tidak mau bersikap baik terhadap mertua, dan lain-lain. Banyak pokoke!

Baca Juga : Untuk Aku dan Kamu yang Mudah bilang cerai saat menikah

Duh, saya merasa miris membaca curhatan seperti ini. Semakin sedih ketika tahu bahwa pasangan yang mengalami kasus-kasus begitu sangat banyak. Tak jarang malah teman atau tetangga sendiri.

Banyak pasangan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah-masalah ini dengan baik. Ada yang pernah mencoba untuk ngobrol bersama, tapi kok melebar kemana-mana sehingga berujung pertengkaran. Begitu terus setiap kali diskusi, hingga akhirnya memilih diam ketika ada masalah. Mereka berharap kalau hal itu akan reda dengan sendirinya.

Padahal, masalah-masalah yang tak selesai akan menumpuk di alam bawah sadar. Kemudian datang masalah-masalah baru lagi, didiamkan lagi, menumpuk lagi sampai akhirnya suatu waktu salah satu pihak tak tahan lagi. Endingnya bisa ditebak, ambyar.

BANGUN KOMUNIKASI YANG BAIK SEJAK SEBELUM MENIKAH

Sebagai pihak yang mengatur regulasi pernikahan, saya sangat memahami bahwa negara tidak ingin rakyatnya bercerai. Perceraian itu membawa banyak masalah soale, mulai dari anak, nafkah, harta gono-gini, dll.

Saya mencoba berprasangka baik, pemerintah melalui kementrian agama membuat aturan sertifikasi pranikah adalah agar para calon suami dan istri itu memiliki bekal pendidikan rumah tangga yang cukup. Calon suami dan calon istri perlu tahu apa peran, hak, serta tanggung jawab mereka dalam pernikahan.

Saya sendiri semakin ke sini semakin menyadari bahwa yang menjadi tiang penyangga utama kuatnya mahligai pernikahan bukanlah cinta. Tapi komunikasi yang baik antara suami dan istri. Komunikasi adalah kunci.

Saat sebelum menikah dulu, saya tidak hanya ribet mengurusi printilan acara pernikahan seperti gedung, katering, foto, dan kawan-kawannya, tidak. Lebih dari itu, saya juga berusaha untuk menguatkan mental menghadapi kehidupan pernikahan

Jadi gini, Cucup melamar ketika saya masih kuliah semester 6. Waktu itu saya sedang ribet-ribetnya kuliah serta menyelesaikan skripsi. Sejujurnya, saya histeris sekali ketika dia betul-betul serius mau bicara pada papa.

I mean wow, ini menikah gitu loh, MENIKAH. Menikah kan butuh komitmen yang enggak main-main. Menikah artinya saya bakalan terikat sama Cucup like forever. Apa sanggup saya hidup sama orang yang tergila-gila banget main game? Apa sanggup saya melewati waktu sama dia yang cuek dan dinginnya ngalah-ngalahin kulkas? Apa saya siap untuk menerima posisi menjadi istri?

Saya pernah menangis malam-malam karena amat sangat ketakutan. Sebuah pikiran gila untuk membatalkan pernikahan tiba-tiba muncul begitu saja. Saya khawatir, saya merasa belum siap.

Saya takut kehilangan kebebasan. Takut tidak diperbolehkan memakai celana jeans sama Cucup. Takut dia tidak akan membiayai behel gigi saya. Takut dia tidak akan mengijinkan saya pergi dengan teman-teman. Intinya, saya takut ketika menikah nanti saya akan kehilangan jati diri saya sendiri.

Mama saya yang kaget melihat putrinya menangis histeris malam-malam akhirnya menelepon Cucup. Dan…tahukah teman-teman, dia datang ke rumah saya. Padahal waktu itu sudah sangat larut malam.

“Kamu kenapa?” tanya dia sambil duduk di sofa ruang tamu dan menepuk-nepuk sebelahnya, meminta saya untuk duduk di sana.

“Aku takut menikah.” jawab saya jujur.

Cucup mengernyitkan dahi, “Apa yang kamu takutin?”

“Aku takut nanti kamu enggak ngebolehin aku pakai celana jeans dan jilbab paris lagi.”

Cucup melongo mendengar jawaban saya. Detik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala. Saya yang melihat reaksinya langsung cemberut.

“Apalagi yang kamu takutin?” tanya dia. Dan begitulah, malam itu menjadi momen di mana saya dan dia berdiskusi tentang segala hal yang mungkin akan terjadi dalam pernikahan.

LIMA PERTANYAAN YANG SAYA AJUKAN SEBELUM YAKIN UNTUK MENIKAH

Selain mengenai cara berpakaian, malam itu saya menanyakan beberapa hal lainnya, yaitu;

  1. Menurut kamu, perawatan wajah dan tubuh istri penting atau enggak? Siap untuk memodali skincare? (Karena waktu itu aku perawatan di Natasha yang agak pricey)
  2. Apa pendapat kamu tentang laki-laki yang mau turun tangan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga (termasuk anak) ?
  3. Bagaimana menurut kamu peran suami dalam menjembatani hubungan istri dan mertua (ibu suami) supaya tidak muncul konflik?
  4. Apa yang akan kamu lakukan kalau misalnya kita tidak sepakat dalam memutuskan suatu masalah? (misal jika saya ingin bekerja sedangkan dia maunya saya di rumah)
  5. Apa pendapat kamu tentang adab “menjaga pandangan” yang dimaksud dalam Islam?”

Yap, dari lima pertanyaan utama itu kami berdua mendiskusikan berbagai macam hal. Seandainya bukan karena sudah tengah malam dan kami belum halal, mungkin obrolan kami akan bablas sampai pagi.

Adakah di sini yang penasaran dengan jawabannya Cucup? Mmmm…kasih tau enggak eaaa *digaplok pembaca*

Mohon maaf, jawaban-jawaban dari dia biar saya keep sendiri dulu ya, spesial soalnya. Wakakakaka. Yang pasti, sejak malam itu saya tidak lagi merasa ragu untuk melangkah jenjang pernikahan bersamanya. Ahei!

Saya tentu saja cinta Cucup, tapi secinta-cintanya saya sama dia, saya berusaha menempatkan logika di atas perasaan. Sekedar cinta tidak bisa jadi pegangan, toh banyak pasangan yang menikah karena alasan cinta pada akhirnya bercerai.

Saya bersyukur sekali karena mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran. Dari lima pertanyaan itu, saya jadi tahu bagaimana cara Cucup memandang sebuah permasalahan dan cara menyelesaikannya. Saya juga jadi tahu kalau cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kedatangan dia malam itu serta kesediaannya untuk menerima ketakutan dan kekhawatiran saya menunjukkan kalau dia betul-betul serius.

TANYAKAN DI AWAL, AGAR TAK MENYESAL

Ya, lebih baik bertanya daripada tersesat di tengah jalan. Percayalah, lima pertanyaan di atas sudah cukup menunjukkan karakter seseorang. Apalagi kalau tanyanya dadakan, kan dia jadi enggak sempet mikir. Karena enggak punya waktu buat mikir, kata-kata yang keluar jadi lebih jujur. Eh, bener enggak sih pemikiran kayak gini?

Seandainya saat itu Cucup tidak menjawab dengan baik lima pertanyaan yang diajukan, saya sudah memberanikan diri untuk stop saja. Bukan kenapa-kenapa, tapi lebih baik saya hancur di awal, ketika pernikahan belum terjadi. Saya ngeri membayangkan akan sebesar apa kesedihan dan sakit yang dirasakan jika berhenti justru saat pernikahan sudah berjalan. Saya tidak mau menyesal.

Tapi memang, semua sudah qadarullah, semua sudah merupakan takdir dari Allah kalau saya akan menikah dengan Cucup. Tugas kami berdua sekarang berubah meski tujuannya tetap sama. Kalau dulu sayalah yang masih harus diyakinkan if we can make it work, sekarang kami saling bahu-membahu agar pernikahan ini betul-betul bisa berjalan sesuai harapan.

Pesan saya kepada para dedek yang berada dalam fase menuju pernikahan, rajin-rajinlah bertanya tentang solusi dari kemungkinan masalah yang muncul jika kalian ditakdirkan sebagai suami istri. Pertimbangkan jawabannya, perhatikan perilakunya.

Terakhir, luruskan niat.

Saya yakin orang yang niatnya untuk menikah memang lurus pasti jalannya dimudahkan. Orang yang betul-betul siap untuk menikah tak akan menganggap remeh bimbingan pranikah. Dan orang yang sangat serius dengan pernikahannya akan berjuang agar lulus mendapatkan sertifikat pranikah. Betul?

Oke deh, ini sedikit pemikiran saya tentang isu sertifikasi pranikah dan lima pertanyaan yang perlu diajukan teman-teman sebelum menikah kepada pasangan. Semoga sepenggal tulisan ini bisa bermanfaat.

Anyway, tulisan ini juga merupakan kolaborasi dengan salah satu sahabat blogger, yaitu Nyonya Malas. Blogger hits yang satu itu menulis opininya tentang sertifikasi pra nikah. Cek tulisan beliau diiii

SERTIFIKASI PRA NIKAH, EMANG PERLU?

Nah, selamat menikmati tulisan kami berdua. Adieu!

19 Comments
  1. December 12, 2019
  2. December 12, 2019
  3. December 13, 2019
  4. December 13, 2019
    • December 13, 2019
      • December 13, 2019
        • December 14, 2019
          • December 14, 2019
  5. December 13, 2019
  6. December 13, 2019
  7. December 14, 2019
  8. December 14, 2019
  9. December 14, 2019
  10. December 14, 2019
  11. December 14, 2019
    • December 14, 2019
  12. December 14, 2019
  13. December 15, 2019
  14. December 16, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *