EMPAT TIPS MENGAJARKAN PUASA PADA ANAK

Menyampaikan konsep puasa pada anak itu tricky sekali. Kepleset dikit, ambyar.

– Madam A –

“Mohon maaf lahir batin, semoga kita semua dimampukan oleh Allah untuk menikmati puasa Ramadhan 1441 H.”

Saya mengetikkan kalimat tersebut di beberapa WA group tepat setelah pemerintah mengumumkan bahwa tanggal 1 Ramadhan tahun ini jatuh serentak pada hari Jumat tanggal 24 April kemarin. Ya Allah, terharu sekali karena Allah ternyata masih memberi kesempatan pada kita untuk kembali bertemu dengan Ramadhan.

Terutama ketika seluruh dunia sedang berjuang melawan wabah Covid-19.

Tahun ini, alhamdulillah anak sulung saya yang usianya 7 tahun sudah paham sekali dengan konsep puasa. Tahun lalu dia juga beberapa kali berhasil puasa full hingga maghrib. Sisanya bolong karena asma kambuh dan pulang kampung. Maklum, di Jogja kakek dan neneknya merasa tidak tega melihat si abang berpuasa. Adakah yang senasib? Hahaha

Orang tua kalau udah ada cucu emang ke anak jadi lupa, wkwk.

Anyway, pada hari pertama puasa kemarin ada seseorang yang bertanya di WAG khusus teman-teman yang sudah merasakan self healing bersama Ibu Safithrie Sutrisno. Beliau adalah konselor parenting dan pernikahan, kami biasa memanggilnya dengan sebutan “Emak”. Pertanyaannya begini :

“Mak, bagaimana mengajarkan puasa yang benar untuk anak di bawah 7 tahun?”

empat tips mengajarkan puasa ke anak - ayunafamily.com
Berpuasa sekeluarga

Meski harus menunggu, saya bersyukur sekali Bu Fithrie menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan ini. Supaya lebih mudah, saya buat poin-poinnya ya.

  1. Sampaikan arti dari puasa sesuai syariah namun tetap mudah dimengerti oleh anak. Arti puasa sesuai syariah : menahan lapar dan haus dari subuh sampai maghrib.
  2. Sebaiknya kita tidak membuat istilah ‘puasa setengah hari’.
  3. Sampaikan juga bahwa kita gembira berbuka puasa karena ada hadist yang menyebutkan seperti itu, bukan sekedar karena makanan berbuka saja. Ini dimaksudkan agar anak tidak hanya fokus pada makanan untuk berbuka.
  4. Orang tua wajib memperlihatkan kegembiraan ketika berbuka.

Gimana? Masih bingungkah dengan poin-poin di atas? Supaya lebih mudah, saya berikan contoh percakapannya :

Orang tua : “Alhamdulillah, senang sekali ya nak rasanya bisa berbuka puasa.”

Anak : “Iya, takjilnya enak-enak sih.”

Orang tua : “Iya betul, tapi tahu enggak nak, yang paling membuat Mama gembira karena ada hadist yang menyebutkan bahwa kebahagiaan orang berpuasa itu ada dua. Pertama, ketika ia berbuka dan kedua, ketika ia bertemu Rabbnya atas puasa yang dilakukannya. Dan Mama bener-bener merasa nikmat banget bisa puasa.”

Selanjutnya, orang tua bisa memperlihatkan ibadah lebih banyak dibanding biasanya. Children see children do, anak akan lebih menangkap contoh nyata dibanding sekedar omongan.

Bu Fithrie tak pernah absen mengingatkan kami semua untuk HANYA menyampaikan pesan. BUKAN NASIHAT. Mengasuh anak adalah menanam konsep, membangun value yang tepat dan membantu anak membangun kebiasaan baik dari perilaku kita yang bisa mereka tiru.

Bingung lagi? Baik, saya akan coba menuliskan contoh percakapan menanamkan pesan, bukan menasihati. Teman-teman bisa memperhatikan ya.

Bunda : “Alhamdulillah, seneng banget eui rasanya sudah baca Al-Quran. Bunda sedang berusaha menambah ibadah banyak-banyak.”

Anak : “Emang kenapa Bun?”

Bunda : “Soalnya kalau bulan Ramadhan gini pahalanya ditambah-tambahin sama Allah. Jadi makin banyak deh.”

Jika pada saat kita mengajak ngobrol anak ndilalah anaknya enggak bertanya, kita boleh langsung melanjutkan kalimat pertama dengan kalimat selanjutnya.

Dari percakapan seperti di atas, pesan bahwa bulan Ramadhan sebaiknya banyak-banyak beribadah, jadi tersampaikan. Tidak ada nasihat atau kalimat menggurui sedikitpun. Anak jadi tidak terganggu dengan kata-kata kita yang seringnya tanpa sadar malah membuat mereka jadi malas beribadah.

Tahu enggak kata-kata, kalimat yang bikin anak jadi males mau sholat, mau ngaji, dll itu? Coba perhatikan contoh kalimat yang saya tuliskan di bawah ya :

“Bunda banyak-banyakin ibadah supaya pahalanya tambah banyak, makannya dek ayo tambah-tambahin ibadahnya, jangan tidur melulu.”

“Ramadhan itu bulan penuh berkah loh, kamu kok malah main game terus-terusan aja dari tadi.”

“Kamu kayaknya enggak sayang sama bulan Ramadhan ya? Sholat ditunda-tunda, mana ngaji cuma dua baris doang udah berhenti.”

Coba deh temen-temen baca dalam hati dan bayangkan kalau orang tua kita mengatakan kalimat tersebut pada kita. Bayangkan.

Apa yang kira-kira dirasakan? Kalau saya sih pastinya merasa kesel, bete, dan sebel. Bikin jadi males mau ibadah.

KENAPA ISTILAH PUASA SETENGAH HARI SEBAIKNYA TIDAK DISAMPAIKAN?

Alasannya simpel aja sih, karena istilah “puasa setengah hari” itu tidak ada secara syariah. Saya juga enggak tahu sejarahnya puasa setengah hari itu dari mana, tapi istilah tersebut muncul sudah lama. Saya pun dulu merasakan itu.

Pertanyaannya, bagaimana kalau anak kita masih kecil dan tidak bisa puasa sampai maghrib? Bagaimana cara membuatnya tetap merasa diapresiasi?

Jawaban dari ibuk adalah sebagai berikut :

“Kita bisa menyampaikan kepada anak bahwa dia boleh puasa sekuatnya saja.”

“Sebutannya belajar puasa, bukan puasa setengah hari. Dan tidak ada paksaan dalam hal ini.”

Untuk masalah apresiasi, kita bisa mengatakan bahwa kita bangga dengan usaha anak yang mau belajar menahan lapar serta haus, belajar puasa. Berikan pelukan, dan cium di 4 tempat yaitu kening, pipi kanan, pipi kiri, dan ubun-ubun.

Uluh-uluh, membayangkan kita bisa kasih apresiasi anak kayak gini kok rasanya uwu-uwu sekali ya? Hehehe. Kayak soo sweet banget karena bisa bangun bonding orang tua ke anak.

Eh lupa, sedikit catatan tambahan, kita boleh menambahkan pesan “Keren sekali sih anak mama sudah belajar puasa dari sekarang. Insya Allah kalau sudah baligh nanti, adek kuat puasa sampai maghrib. Semangat ya sayang.”

BAGAIMANA MENYAMPAIKAN KEPADA ANAK KALAU KITA TIDAK BISA PUASA?

Sebagai perempuan, ada saatnya kita tidak bisa puasa entah karena haid atau nifas. Saya yakin ibu-ibu banyak yang merasa galau (termasuk saya). Galau memikirkan bagaimana sih cara paling mudah menyampaikan ke anak alasan kita tidak bisa puasa.

Lagi-lagi, ternyata mudah saja loh menjawabnya. Enggak perlu njelimet-njelimet pusing tujuh keliling. Bu Safithrie malah dengan lugasnya bilang;

“Bilang saja ke anak, Mama tidak puasa karena menstruasi.”

Sesimpel itu.

Kita bahkan boleh kok memberikan penjelasan ilmiah tentang menstruasi dan nifas secara logis dan sederhana kepada anak. Misalnya dengan cukup mengatakan bahwa mamah sedang keluar darah di vagina, sehingga tidak bisa puasa. Begitchu.

Sekali lagi, ini bukan jorok ya. Ini logis dan ilmiah sekali. Bagian dari sex education, dan saya pernah menulis tentang ini.

MEMBERI REWARD KARENA PUASA, YES OR NO?

Siapa di sini yang suka kasih-kasih reward kalau anak berhasil puasa, sholat, atau nambah hapalannya? *pelan-pelan ngacung*

Hadiah, perlu atau tidak?

Kalian tidak sendirian genks, saya juga beberapa kali melakukan hal ini. Mengiming-imingi Si Abang dengan sesuatu kalau mau melakukan sesuatu. Saya pribadi merasa hal ini memang bukan sesuatu yang benar sih, tapi cara ini efektif untuk bikin anak bergerak. Iya atau iya?

Nah, hal ini juga ditanyakan di grup. Dan jawaban dari Ibuk Fithrie membuat saya merenung banyak.

Sesungguhnya akan lebih baik jika orang tua memberi sesuatu berupa materi atau barang ke anak itu karena memang kita mau ngasih. Tak perlu ada alasan, enggak perlu ada embel-embel “Karena kakak sudah melakukan….”

Lagipula, sudah menjadi kewajiban orang tua memenuhi segala sesuatu sesuai kemampuan orang tua. *Hakdesh* Asli, di bagian ini saya merasa tertampar-tampar.

Jika anak melakukan kebaikan, bersikap baik, atau membuat prestasi, maka penghargaan terbaik yang bisa kita beri adalah pelukan dan memperlihatkan rasa cinta yang besar dan bangga sekali pada anak.

Misalnya tentang anak yang berhasil melakukan puasa full. Sampaikan bahwa ayah dan ibu bangga sekali atas usaha anak yang luar biasa untuk bisa puasa full. Perhatikan kata yang saya bold dan miringkan ya teman-teman, fokus ke situ. Yang kita apresiasi adalah usaha anak.

“Ayah bangga sekali lihat Abang berusaha sungguh-sungguh puasa, menahan lapar dan haus, menjaga sholat, sampai baca Al-Quran lebih banyak. Ayah bangga sekali. Ayah bahagia setiap mendengar Abang baca Al-Quran.” (Sambil senyum, sambil peluk, sambil cium anak)

Dengan menyampaikan hal tersebut, anak akan membangun konsep bahwa “Ketika aku beribadah, ayah ibu senang, bangga, dan bahagia.”

Dari sini, anak akan belajar bahwa bukan materi/harta yang membuat kita bahagia. Yang membuat kita merasa bahagia adalah hal baik, sikap yang baik, ibadah yang baik.

Sahih lah ya penjelasan dari ibuk ini. Saya sempet kepikiran juga, kalau masih kecil mungkin rewardnya kecil-kecil, anak makin besar rewardnya pasti minta macam-macam. Kebayang enggak kalau misalnya pas usia sekolah dia mogok berangkat. Sekalinya mau berangkat sekolah dia minta reward laptop atau motor? Ambyar wis.

Berita sejenis udah sering kita dengar dimana-mana. Bukan salah anak juga. Anak kan hanya mengikuti konsep yang dibangun orang tua bahwa kebaikan harus dibalas dengan materi. Dan konsep tersebut salah.

Yuk mari kita perbaiki mindset kita terlebih dahulu bahwa anak bisa kok memahami kalau kebaikan dibalas dengan cinta serta rasa bangga.

KASIH SAYANG, KUNCI MENGAJARKAN KONSEP PUASA PADA ANAK

Agama hanya bisa diterima di dalam hati dengan kasih sayang. Iman ada di dalam hati, bukan pada logika. Coba deh perhatikan kasus-kasus anak-anak yang enggak mau ibadah. Mereka enggak mau bukan karena enggak mau, tapi karena kesel sama orang tua yang selalu mengancam dan kasar banget kalau meminta anak ibadah.

Padahal agama kita ini agama yang baik, rahmatan lil alamin, agama yang penuh kasih sayang.

Jika kita menyampaikan agama dengan penuh kasih sayang, memperlihatkan kepada anak bahwa kita sebagai orang tua menjadi sosok penyabar dan penuh kasih sayang ketika menjalankan ibadah. Maka otak anak akan merekam hal ini. Anak akan menangkap konsep bahwa

“Oh orang tuaku jadi baik dan penuh kasih gini gara-gara beribadah. Aku juga mau rajin ibadah ah.”

Dari generasi ke generasi pola asuh kita mengenai cara menyampaikan agama ke anak emang agak melenceng ya. Alih-alih penuh kasih sayang seringnya malah diancam. Ancamannya pun enggak main-main kayak, “Entar Allah marah loh, entar masuk neraka loh.”

Padahal, kalau dpikir-pikir lagi, masa iya Allah marah sama anak-anak yang enggak ngerti apa-apa. Kemungkinan besar Allah marah akan murka sama kita yang sudah seenaknya ngancam-ngancam sambil membawa namaNya.

empat tips mengajarkan puasa ke anak
Seperti kata Omar dan Hana : Fasting Is Fun

Kita jarang sekali mendapatkan panduan gimana menyampaikan kewajiban puasa, sholat, zakat atau semua perintah agama yang lain dengan tepat. Akibatnya, konsep rahmatan lil alamin justru enggak dapet. Dan ini menyedihkan.

So, marilah kita ubah sama-sama kebiasaan ini.

Lakukan dengan penuh kasih sayang.

Lakukan tanpa paksaan.

Ingat, anak kita usianya masih anak-anak sehingga wajar kalau mereka males-malesan atau kadang melanggar. Coba diingat-ingat lagi, apakah saat kita kecil dulu puasa dan sholatnya sempurna dan paripurna?

Agama kita penuh kasih sayang. Tidak merendahkan, tidak memojokkan.

Mari-mari kita sampaikan pada anak betapa nikmat dan bahagianya berpuasa atau sholat lima waktu tepat waktu. Lebih banyak senyum, lebih banyak kata-kata penuh cinta.

Supaya anak-anak memahami konsep puasa yang sesungguhnya. Supaya kita semua benar-benar menjalankan ibadah karena iman, karena menikmati. Bukan karena takut atau sekedar menunaikan kewajiban.

Sepakat?

14 Comments
  1. June 29, 2020
  2. June 29, 2020
  3. June 29, 2020
  4. June 30, 2020
  5. June 30, 2020
  6. June 30, 2020
  7. June 30, 2020
  8. June 30, 2020
  9. July 1, 2020
  10. July 1, 2020
  11. July 1, 2020
  12. July 2, 2020
  13. July 2, 2020
  14. July 3, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *