MEMAHAMI PENTINGNYA SEX EDUCATION

Awas aja kalau sampai ada yang bilang belajar sex education itu enggak penting. Ini jaman edan woi !

– Madam A –

SEX EDUCATION : TABU DAN SARU

Beberapa waktu yang lalu,  saya dan teman-teman mengadakan kelas parenting yang membahas tentang sex education bersama ibu Safithrie Sutrisno. Tidak lama setelahnya, saya iseng ingin berbagi sakuprit cerita dengan  membuat sebuah instastory di instagram. Pada tayangan awal, sebuah pertanyaan pun dilempar ; Wahai para orang tua jaman milenial, seberapa penting sih bagi kalian memahami tentang sex education? 

Semua yang vote, baik itu emak-emak atau babe-babe ternyata memilih penting banget. Hamdalah dan sujud syukur untuk itu.

Tidak perlu menunggu lama sampai sejumlah teman mengirim pesan pasca cerita tersebut tayang. Mereka bertanya tentang segala tingkah polah anak yang ada kaitannya dengan sex education.  Dari beberapa diskusi singkat, saya bisa menarik kesimpulan bahwa memang kami para orang tua ini miskin ilmu, terutama ilmu tentang masalah begituan. Ya, kalo tentang jurus atau posisi bikin anak sih udah pada hafal di luar kepala deh, yaqin aqu. Tapi coba begitu berhadapan sama anak yang tanya “Mama, kenapa tytyd aku begini tapi tytyd si otong begitu” dijamin langsung bingung celingukan dan kebakaran jenggot. Cuma bisa mangap karena kehabisan kata-kata, ye kan?

Masih sedikit orang tua yang tidak malu atau merasa risih bahkan untuk mengajari anaknya mengenal jenis kelaminnya masing-masing. Akibatnya anak-anak menerima informasi yang tidak tepat. Kalau boleh jujur, saya pun dulu terjebak pada pola perilaku semacam ini.

sex education - ayunafamily.com

Komunikasi yang tepat sangat membantu penyampaian sex education yang benar

Iya saya tahu, saya paham banget bagaimana kondisi masyarakat kita yang menganggap bahwa pembicaraan tentang sex itu sesuatu yang tabu dan saru. Padahal ya enggak juga loh, semua tergantung pada sejauh mana keterampilan berkomunikasi kita dengan anak. Tapi ya justru ini akar masalahnya, komunikasi yang tepat.

Baca Juga : Parents, bangun komunikasi yang baik yuks!

MENGAPA KITA PERLU MEMAHAMI SEX EDUCATION?

Kalau ada teman-teman yang membaca blog ini dan masih merasa ragu tentang betapa seriusnya masalah memberikan pemahaman yang benar tentang sex kepada anak, mari sini saya ceritakan sesuatu pada kalian. Fyi, cerita ini nyata ya, dipaparkan oleh bu Fithrie di awal kelas dan sukses membuat kami semua yang hadir merinding menahan nafas.

Cerita 1 ~

Alkisah, ada seorang anak SD yang bertanya kepada orang tuanya, pertanyaan yang mudah aja sih aslinya. Pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan oleh semua anak di muka bumi. 

“Ma, adek bayi itu datangnya dari mana?” tanya dia dengan polosnya.

Sama seperti kita, para orang tua yang fakir ilmu kalau ditanyain hal begini. Si ibu kontan kaget, panik dan tidak siap. Kemudian, alih-alih menjawab, si ibu ini justru marah. 

“Nanti, kalau kamu udah dewasa kamu bakal tau sendiri,” ucapnya kesal sambil menyuruh si anak untuk diam. 

Yap, ini adalah tipe jawaban standar  termudah bagi orang tua yang enggak mau ambil pusing. Nggak usah denial, faktanya orang tua kita jaman dulu  melakukan hal yang sama kan? Dan kita pun menduplikasi bagaimana cara orangtua kita yang dulu. Hanya saja,  sayang sekali, si anak yang tidak puas dengan jawaban alakadar ibunya ini malah jadi semakin penasaran. Kenapa sih mama enggak mau jawab? Ada apa? Mungkin itu yang dia pikirkan dalam hati.

Lalu anak ini bertemu dengan tetangganya, seorang anak laki-laki usia SMP. Entah bagaimana, si anak mengajukan pertanyaan yang sama yang dia ajukan ke mamanya kepada si tetangga. Kalian tahu jawaban dari tetangganya yang anak SMP ini? 

“KAMU PENASARAN YA? SINI AKU AJARIN” 

Sampai di sini, kami semua shock. SHOCK BERAT! Tahukan kalian, anak SD ini “diajari” oleh tetangganya yang SMP itu selama dua tahun. DUA TAHUN YA ALLAH, BAYANGKAN! Dua tahun si anak mengalami pelecehan seksual tanpa diketahui oleh orang tuanya. 

Lalu pada suatu waktu, si anak mengeluhkan sakit pada alat kelaminnya. Ketika hal tersebut akhirnya terbongkar, semuanya sudah sangat sangat sangat terlambat …

***

Cerita kedua adalah kisah nyata yang saya alami sendiri. Sempat saya posting di laman Facebook pribadi dan dishare sampai puluhan kali walau tidak viral.

Cerita 2 ~

“Mah, itu si Yuan bilang kalau penisnya tiba-tiba kerasa geli terus jadi lurus” kata Yusuf (suami saya) tiba-tiba, dengan suara yang agak panik.

Saya mengernyitkan dahi, bingung.  “Lah, emang kalian habis ngapain to?” Tanya saya yang tahu kalau ayah dan anak ini habis melakukan aktifitas berdua.

“Aku ngajakin Yuan nonton Final Fantasy bareng. Enggak ada yg aneh-aneh, cuman emang tokoh perempuannya pake celana pendek,” jawabnya. Saya mendeteksi ada nada meminta maaf dari ucapan Yusuf.

Saya muntab. Kesel! Rasanya pengen ngambil gada terus nggeprukin ke Yusuf berkali-kali atau njejelin cabe seratus biji ke kepalanya. What? Emang sih saya penggemar pasangan Yuna dan Tidus dari FF IX yang muncul di lagu Melodies Of Life. Tapi tapi tapi, mengajak anak umur lima tahun untuk menonton film yang saya tahu betul tokoh perempuannya berpakaian agak terbuka itu, itu..

antara Yusuf sudah bosan hidup, atau kangen saya omelin.

Namun alih-alih pergi ke tukang sayur untuk mewujudkan impian jejelin cabe ke suami saya tersayang, saya pergi menghampiri Yuan. Saya peluk dan elus rambutnya perlahan. Ya allah, tidak terasa si bayi itu sekarang sudah sebesar ini. 

“Abang, tadi ayah cerita katanya abang ngerasa penisnya geli ya?” Tanya saya lembut

Dia mengangguk dan menjawab dengan wajahnya yang polos ” Iya mah,tadi yuan lihat gambar perempuannya, terus penis yuan kerasa geli. Eh, jadi lurus, ihihihi”

Saya menghela nafas sambil terus mengelus rambutnya. Ya Allah, betapa saya seorang fakir ilmu, untuk kasus seperti ini saja saya masih bingung bagaimana cara menghadapinya. Alhamdulillah, sampai titik ini minimal kami tidak panik histeris.

Saya berpandang-pandangan dengan Yusuf. Setelah melakukan telepati akhirnya kami sepakat untuk menanyakan hal ini pada Bu Fithrie.

Malam harinya saya menanyakan hal tersebut pada si ibu

“Bu, kalimat apa ya yang kira-kira pas untuk menanggapi pengalamannya si Yuan?” Tanya saya setelah bercerita panjang lebar.

“Oh, kalau masalah itu sih ajeng tinggal katakan kalimat ini : “Alhamdulillah, itu artinya Yuan adalah anak laki-laki yang sehat. Sudah, sampai situ saja” jawab si ibu, lugas dan mudah dipahami, seperti biasa.

 Akhirnya saat hendak pergi tidur, saya dan Yuan merecall kejadian tadi siang. Apa yang disampaikan si ibu saya sampaikan kembali ke Yuan. Saya katakan bahwa Yuan adalah anak laki-laki yang sehat.

Saya bersyukur Yuan tidak malu ataupun menolak untuk berbagi cerita tentang hal tersebut kepada saya ataupun ayahnya. Bagaimanapun, kami berdua berusaha sebisa mungkin untuk menjadi teman tempatnya berbagi. Ngeri banget kalau Yuan sampai menyembunyikan hal ini dan cerita ke temen2nya dan justru mendapatkan pemahaman yang salah.

Bagaimana dengan tanggapan Yuan? Oh dia tersenyum bahagia karena disebut anak laki-laki yang sehat. Baiqla, untuk sementara ini, case closed.

***

Cerita terakhir based on true story juga ya. Pertanyaan ini dilemparkan oleh seorang ayah yang memiliki anak gadis yang sudah sekolah dasar. Diskusi ini cukup seru dan bikin kami manggut-manggut juga. 

Cerita 3 ~

“Ayah, fuck itu apa? Kok temen-temenku suka sekali ngomong fuck?” 

Kalimat itu keluar dari seorang ayah yang gusar dengan pertanyaan anak gadisnya yang berusia tujuh tahun (SD). Ketika itu kami sedang mengikuti kelas parenting bersama Bu Fithrie. 

Seketika kelas menjadi hening. 

“Lalu bapak jawab apa?” tanya ibu.

“Saya jawab saja kalau itu kata yang tidak baik,” jawab si bapak

Bu Fithrie tersenyum, “Lalu apa tanggapan anak bapak?” 

“Nah, itulah bu. Anak saya jadi tanya lagi, tidak baik di bagian mananya? Apanya yang tidak baik? Saya jadi bingung gimana harus menjawabnya” keluh si bapak sambil menggaruk-garuk kepalanya. 

“Katakan saja arti adanya dari fuck itu,”ucap beliau sambil memandang kami semua. 

Tiba-tiba bu Fithrie mangacungkan jari tengah lalu menghadapkannya ke bawa dan berkata “Ayah bunda semua, ini adalah FUCK,” katanya dengan suara tegas. 

“Ini,” Bu Fithrie menggerakan jari telunjuk yang diacungkannya ke arah bawah “adalah PENIS. Sedangkan ini,” beliau menggunakan tangan satunya untuk menunjuk dua jari di kanan-kiri yang dikepal “adalah SKROTUM. Itu properti lengkap kemaluan laki-laki”. 

Kami semua menganga. 

“Setelah itu katakan dengan jelas bahwa : AYAH MARAH SEKALI KALAU KAKAK SEMBARANGAN MENGUCAPKAN KATA ITU,” terang beliau lugas. 

“Oh iya, hal ini berlaku untuk semua kata kotor apapun ya. Terangkan artinya kemudian jelaskan bahwa kita akan sangat marah bila kata itu diucapkan sembarangan,” tambah beliau. 

Notes: saya membuka beberapa kamus, arti dari kata fuck sebenarnya lebih pada intercourse. Namun saat mengatakan fuck biasanya dibarengi dengan tindakan mangacungkan jari tengah. 

Pemaparan di atas adalah cara termudah bagi orang tua memaparkan hubungan kata dan tindakan saat melihat orang lain mengatakan fuck. Terutama bila anak-anak kita di bawah 17 tahun.

***

PENGERTIAN SEX EDUCATION SESUNGGUHNYA

Apa moral of the story yang bisa kita ambil dari tiga cerita nyata di atas? Apakah sudah cukup menampar  dan membangkitkan kesadaran  kita semua akan kenyataan problematika sebagai ortu jaman now yang makin rumit?  Betapa kita sangat perlu banyak-banyak belajar tentang seksualitas. Eh tapi nggak cuman itu, kita juga butuh tahu bagaimana cara menyampaikan hal tersebut pada anak. Fiuuhhh *elapkeringet*

Sekali lagi tolong dimengerti, anggapan tabu dan saru yang tidak tepat justru menghambat proses pemberian sex education.    Sini deh tak kasih tahu, sex education adalah pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi serta cara menjaga dan memeliharanya. Seiring bertambahnya usia anak, sex education juga menjadi landasan pengetahuan mengenai cara bergaul yang sehat dan bertanggung jawab sesuai nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

Piye, jauh banget kan arti sebenarnya sex education sama prasangka yang sudah dibangun sama masyarakat jadoel?

Baca Juga : Hal Sederhana Untuk Ibu Bahagia

Dalam kasus cerita pertama, itu adalah contoh nyata bagaimana bila anak-anak tidak mendapatkan pendidikan seksualitas yang genap. Mereka, anak-anak yang penasaran itu akhirnya lari ke TV, internet, buku atau teman. Kebayang dong apa yang akan mereka temui nanti di internet? Hiiiiii, seremnya ngalah-ngalahin ketemu genderuwo tauk.

TIPS & TRIK YANG BISA DILAKUKAN

Terus harus gimana jeng? harus gimanaaaaaa?

Belajar.

Iya belajar. Cuman itu yang bisa kita lakukan. Mungkin manteman bisa ikut seminar atau bikin kelas parenting tersendiri seperti saya atau baca buku atau baca blog ini misalnya *uhuk*.

Ada beberapa tips dan trik yang akan saya tuliskan di sini dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan atau tingkah laku anak yang berkaitan dengan sex education. Tips dan trik ini saya dapat dari Bu Fithrie dan pengalaman pribadi ya. Barangkali teman-teman bisa menduplikasinya. Monggo disimak.

  1. Don’t Be Panic!  Saya tahu dan paham banget gimana rasanya dapat pertanyaan tidak terduga dari anak. Walaupun saat itu ingin teriak “what are you asking about dudeee???, kita harus tetap menahan diri dan menampilkan wajah kalem. Tunjukan pada anak-anak bahwa pertanyaan mereka adalah    suatu hal yang biasa wae. Bila memang hal itu bikin kita shock banget dan terasa sulit, teman-teman bisa minta waktu untuk tarik-hembus nafas sambil istighfar dulu. Hati dan pikiran yang tenang menghasilkan jawaban maksiat, eh maksimal maksute.
  2. Cari tahu seberapa jauh pemahaman anak. Selesai menangkan diri, tersenyumlah wahai engkong dan enyak semua. Coba deh tanya balik ke mereka. Bagaimanapun, jawaban yang kita berikan harus sesuai dengan usia, kemampuan berpikir serta perkembangan emosi anak. Mungkin, untuk kasus yang bertanya adek datang dari mana kita bisa menangkis dengan kalimat “Kalau menurut kakak, adek datang dari mana…?” Bila jawabannya adek datang dari Planet Mars, fix itu warning anak kita kebanyakan nonton anime enggak jelas. Nah, jawaban si anak akan menjadi salah satu landasan kita untuk menjawab pertanyaan inti. Kalau masih balita bilang saja dari perut mama, sudah sampai di situ saja. Kalau sudah SD tapi masih kelas rendah bisa dikatakan dari Vagina. Kalau SD kelas tinggi, bisa diajak nonton videonya Harun Yahya yang menjelaskan tentang sel repdroduksi. Lima belas menit awal aja sudah cukup, kalau kelamaan takut bosen. Video ini yang di sarankan oleh Bu Fithrie ya. Saya sendiri sudah menyiapkannya kalau-kalau tetiba nanti Yuan mulai bertanya-tanya lagi.
  3. KISS (Keep Information Short and Simple). Sampai usia lima tahun anak-anak hanya menerima tujuh kata di awal ya manteman. So, gunakan kata-kata yang pendek dan sederhana. Seperti dalam kasusnya Yuan, tanggapan “Karena Yuan anak laki-laki yang sehat” itu sudah cukup.
  4. Jika belum punya jawaban, tunda dan katakan dengan jujur. Kadang walau sudah exhale-inhale dan istighfar sampai seratus kali kita masih merasa bingung. Biasanya ada dua alasan, antara enggak bisa nyusun kata-kata untuk jawab dan enggak tahu apa-apa sama sekali. Bila memang sudah stuck, ya sudah tinggal berkata JUJUR dan MINTA WAKTU. Contoh kalimatnya mungkin bisa begini, “Wah, pertanyaan abang sepertinya agak membingungkan. Boleh mama minta waktu lima hari untuk mencari tahu dulu? Nanti kalau sudah ketemu mama akan kasih tahu”. Sedikit catatan, kalau sudah terjadi kesepakatan, orang tua jangan lari dari tanggung jawab dengan berharap anak akan lupa ya, jangan! It’s a big no, ini artinya malah ngajarin bohong. Setelah lima hari dan anak lupa, ingatkan saja dengan lembut. “Bro, masih inget enggak obrolan kita kemarin dulu itu…” gitu.
  5. Buat batasan. Nah, ini penting banget banget banget bangettttttt!!! Orang tua wajib menetapkan batasan yang jelas supaya tidak melebar kemana-mana. Bentar, masih bingung ya? Contohnya gini, untuk setiap diskusi tentang sex education ucapkan “Kakak, kalau ada pertanyaan lagi, tentang apapun juga, tanya langsung ke ayah atau bunda saja ya”. Dengan kalimat ini, diharapkan anak tidak akan bertanya (terutama tentang hal sensitif) kepada orang lain. Kalimat pengunci ini menjadi alat pencegah terjadinya kasus seperti anak SD di atas.
  6. Ungkapkan perasaan kita dan ucapkan terima kasih. Hal yang tidak kalah penting adalah terima kasih. Sujud syukur yang banyak kalau anak-anak masih menjadikan kita sebagai tempat bertanya yang pertama dan utama. Kita mesti curiga kalau anak kita kok kayak enggak ada rasa penasaran terhadap apapun. Kalimat seperti “Wah, mama sebenernya kaget abang tanya begitu, tapi terima kasih ya sudah mau bertanya ke mama.” telah sangat membantu terciptanya komunikasi positif antara kita dan anak loh. Jadi, jangan lupa untuk lakukan ini ya.

 

MANFAAT PEMBERIAN SEX EDUCATION SEJAK DINI

Huffthh, walau terkesan berat dan menakutkan, mengajarkan sex education sejak dini kepada anak menjadi hal yang wajib dilakukan orang tua loh. Kenapa harus sejak dini? Karena belajar tentang hal ini enggak gampang, butuh proses yang panjang mulai dari sejak anak lahir sampai tahap remaja akhir.

Kita perlu memahami kalau anak-anak sudah terbiasa  mendapat bekal sex education yang tepat maka anak akan mengenal yang namanya rasa malu, lebih menghargai diri sendiri dan memiliki kepribadian yang sehat. Efek lanjutannya jelas, anak dapat melindungi diri dari bahaya perundungan seksual, perilaku seks bebas dan hal-hal lain yang selalu membuat kita berkata ‘Ya Allah amit-amit’ sambil elus-elus perut.

Baca juga : Kontrasepsi, Solusi Berhubungan Nyaman dan Aman

Btw, saya menuliskan ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri yang memiliki pengalaman dengan buruknya pemberian sex education pada anak. Komunikasi saya dengan anak jelek, ilmu saya cetek. Hal ini menjadikan saya orang tua yang tidak tahu bagaimana cara menyikapi perilaku anak.

Saya menyesal, menyesaaaaaaall sekali.

Untuk itulah, kalau teman-teman mengaku sayang sama anak, hayuklah mulai peduli dari sekarang. Jangan jadikan ketidaktahuan kita sebagai pembenaran untuk bersikap abai. Be a smart parent, a lovely parent. Bagaimanapun, kita tidak mau menyesal kan?

Pondok Aren, 26 Juni 2018

P.S Insya Allah tulisan selanjutnya akan membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan anak seperti “Mama menikah itu apa?” dan lain sebagainya. Nantikan yaa!

 

 

 

 

37 Comments
  1. July 1, 2018
    • July 3, 2018
  2. July 2, 2018
    • July 3, 2018
  3. July 2, 2018
    • July 3, 2018
  4. July 2, 2018
    • July 3, 2018
  5. July 2, 2018
    • July 3, 2018
  6. July 3, 2018
    • July 3, 2018
  7. July 3, 2018
    • July 3, 2018
  8. July 3, 2018
  9. July 3, 2018
  10. July 3, 2018
  11. July 3, 2018
    • May 15, 2019
  12. July 3, 2018
  13. July 3, 2018
  14. July 4, 2018
  15. July 4, 2018
  16. July 5, 2018
    • July 6, 2018
  17. July 6, 2018
  18. July 30, 2018
  19. August 2, 2018
  20. May 15, 2019
    • May 15, 2019
      • May 17, 2019
  21. May 15, 2019
  22. May 20, 2019
    • May 21, 2019
  23. May 22, 2019
  24. January 12, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *