SUAMI, JANGAN BILANG “SABAR” KE ISTRI LOH!

Ketika istri lagi marah, kesel, capek sampai nangis dan kayaknya lemeeeessss banget buat sekedar berdiri aja, jangan pernah kalian kasih nasihat atau nyuruh sabar ya. Percaya, makin remek perasaan istri kalian.

– Madam A –

Suami, jangan bilang “sabar” ke istri loh. Sudah lama sekali enggak nulis tema pasutri di blog nih. Adakah yang kira-kira menunggu cerita-cerita tentang saya dan suami?*ge er mode on*

Enggak ada to? Hyaa kecewa, padahal udah ngarep, wkwkwk.

Meski enggak ada yang nunggu, saya tetep mau berbagi. Kali-kali aja cerita antara saya dan suami bisa sedikit menginspirasi.

Saya kepengen berbagi tentang sebuah situasi yang belum lama ini sempet dialamin. Kejadiannya udah agak lama, pengen saya tulis sejak kemarin-kemarin tapi kok ya ada aja alasan untuk enggak nulis dimari, huhu.

Yaudah, langsung saja saya ceritain ya. Setting waktunya udah agak lama, kalau enggak salah sekitar 14 minggu yang lalu. Ketika itu pagebluk Covid 19 ini belum datang. Semua masih berjalan dengan normal, Yusuf suami saya berangkat ke kantor dan si abang pergi ke sekolah sedangkan saya tinggal di rumah bersama Luna dan Aylan (anak kedua dan ketiga).

Hari itu hari jumat. Sedikit informasi, saya memiliki jadwal rutin untuk tahsin bersama ibu-ibu perumahan. Alhamdulillah, di sini ada seorang pengajar tahsin yang bersedia datang untuk mengajar ibu-ibu ke rumah. Kelas tahsin sekaligus liqo ini jadwalnya muter, pertama di rumah ibu A, rumah ibu B, rumah ibu C dan seterusnya, pokoknya semua ketempatan. Model giliran kayak gini sengaja kami ambil sebagai ajang untuk menjalin tali silaturahmi sama tetangga.

Pada minggu tersebut, qadarullah saya ketempatan. Seneng dong ya rumah mau didatangin sama tamu-tamu yang mau belajar ngaji, setor hapalan, dan kajian. Biasanya kalau memang mau ada acara seperti ini, saya sudah ngomong ke Yusuf supaya dia bantu-bantu beberes. Tapi saat itu saya sedang ada masalah atau gimana, jadinya lupa bilang. Sarapan pun masak seadanya. Si abang dan suami saya bekelin kotak bekal supaya bisa beli nasi kuning atau nasi uduk pinggir jalan.

Setelah urusan keberangkatan suami dan si abang beres, barulah saya menemani duo krucils sarapan. Mereka berdua sedang belajar untuk makan sendiri sehingga butuh waktu agak lama. Kelar makan, kami membaca buku sebentar.

Saat itu entah bagaimana, Aylan si bungsu justru asyik mengeluarkan buku-buku dari rak. Semuanya diturunkan, mulai dari buku di rak yang paling atas sampai bawah, dipakai buat mainan. Kebayang dong ya penampakannya seperti apa? Buku-buku yang berantakan itu tidak sempat saya rapikan karena saya ribet cuci piring di dapur.

Ketika sedang membilas piring, tiba-tiba saja saya mencium harum pewangi yang biasanya dipakai untuk setrika. Jeng jeng jeng, perasaan saya mulai enggak enak. Saya stop kegiatan cuci-cuci dan ngecek ke ruang tamu. Bener saja, lantai seruang tamu sampai sofa sukses basah semua disemprot sama Aylan. Pelaku penyemprotan sendiri malah cuma pringas-pringis bangga nunjukin botol yang isinya tinggal seperempat. Enggak ada rasa bersalahnya dikit pun.

Belum selesai sampai disitu, saya hampir terpleset, sedangkan Luna malah benar-benar sudah jatuh gedubrak. Ya Allah, alhamdulillah kepalanya tidak terbentur meski dia tetep nangis. Selesai menenangkan Luna saya langsung berpikir cepat, apa dulu nih yang prioritas untuk diselesaikan?

Mengepel lantai menjadi pilihan pertama agar tidak ada korban jatuh lagi. Sambil mulai melap saya melihat Luna mau ikut bantu bereskanbuku. Nah, ndilalah pas lagi beresin buku dia nyenggol gelas beling yang posisinya ada di atas. Si gelas ini begitu disenggol cantik akhirnya jatuh dan pecah.

Astaga astaga astaghfirullah, saya histeris. Kerjaan jadi nambah.

Pada momen yang sama, samar-samar saya mendengar suara mesin cuci mulai berputar, sedangkan masih ada beberapa baju yang belum masuk. Lantai masih basah, ditambah pecahan kaca dimana-mana, padahal jam 9 pagi tamu bakal datang. Saat itu jam menunjukkan angka 08.20.

Tanpa babibu anak-anak saya minta untuk diam di tempat dan saya pindahkan satu-satu ke kamar. Safety first. Setelah memastikan mereka aman, barulah pecahan kaca saya kumpulkan. Nah, begitu selesai sama urusan beling ini tiba-tiba hape bunyi. Ketika saya cek ternyata Yusuf yang telepon.

Katakanlah saya lemah karena kejadian kayak gitu saja membuat saya sangat emosional. Tapi memang pada saat itu perasaan saya kacau balau. Saya kesel sama anak-anak yang enggak bisa diajak kerja sama, saya kesel sama keadaan yang sulit. Di seberang sana baru juga suami bilang halo saya menjawab sambil ngegas. Saya ceritakan apa yang terjadi di rumah dengan penuh emosi.

Jangan meminta istri untuk sabar, ini loh alasannya
Menangis bisa mengurangi beban. Source : Pixabay

Saya capek, saya merasa letih harus berjuang sendirian karena malam sebelumnya suami juga baru pulang jam 10. Sendirian di rumah dari pagi sampai malam ngurusin tiga anak itu enggak mudah.

“Gimana? Aku bisa bantu apa? Mau aku pesenin makanan buat suguhan acara di rumah?” tanya dia begitu saya selesai cerita.

“ENGGAK USAH MIKIR TENTANG MAKANAN!”, jawab saya hampir histeris “Bentar to Ay, aku tak nangis dulu.” kata saya kemudian.

Lalu ya begitulah, saya nangis. Saya menangis tersedu-sedu, sampai sesenggukan karena bener-bener mengeluarkan rasa kesel, capek, dan marah yang dari tadi terpendam. Saya nangis seperti anak kecil. Saya menangis dan menangis sampai akhirnya tenang sendiri.

Gimana dengan suami? Dia tetep stay di seberang sana ketika saya menangis. Saya bahkan sempet denger dia terkekeh-kekeh juga sih, hahaha. Mungkin antara geli dan kasihan ngelihat istrinya harus jungkir balik sendirian di rumah. Setidaknya, dia enggak menutup telepon. Setidaknya, dia masih mau mendengarkan luapan perasaan istrinya dulu.

“Udah tenang? Kamu mau aku pesenin apa?” tanya dia begitu saya selesai tersedu-sedu.

Saya sendiri karena lagi enggak bisa mikir akhirnya cuma jawab terserah ke dia. Setelahnya kami sepakat untuk mengakhiri percakapan. Saya memberitahu dia kalau saya mau lanjut beberes. Percaya enggak percaya, rasanya perasaan saya jadi lebih baik setelah nangis.

“Yaudah, semangat ya istriku.” ucap suami sesaat sebelum memutuskan sambungan telepon.

Benar saja, saya sudah enggak kesel lagi sama anak-anak. Saya jadi bisa mengarahkan mereka berdua untuk nurut tanpa marah-marah. Kerjaan rumah pun ajaibnya selesai ketika dilakukan dengan tenang. Waktu menunjukkan pukul 08.45.

Tak lama kemudian muncul notifikasi whatssap dari Yusuf, ternyata dia sudah memesan snack via ojek daring. Makanan suguhan itu sedang dalam perjalanan menuju rumah. Saya sempet melongo melihat jenis-jenis makanan yang dia pesan. Makanan tersebut harganya agak mahal, kalau dijumlah nominalnya cukup besar.

Saya terharu. Duh, suamiku itu…sungguh. Bisa banget bikin speechless.

Alhamdulillah, pada akhirnya liqo dan tahsin bersama ibu-ibu perumahan bisa terlaksana dengan baik di rumah. Betul-betul seperti mimpi, padahal satu jam sebelumnya saya mengira semua bakal kacau.

APA HIKMAH YANG BISA DIAMBIL DARI CERITA DI ATAS?

Ada beberapa hal yang mau saya apresiasi dari cara suami menghadapi istrinya yang stress dan pusing dengan keadaan di rumah.

Pertama

Suami mau menyempatkan diri untuk telepon di saat yang tepat. Ini beneran saya juga bingung kok bisa-bisanya suami telepon. Padahal biasanya kami jarang sekali teleponan. Boro-boro telepon, suami WA duluan pun rasanya wow. Biasanya saya jadi pihak yang WA dia itupun kalau memang pas ada kebutuhan untuk ngabarin sesuatu.

Mungkin ini yang disebut ikatan batin suami istri ya, jadi dia ada feeling kalau istri lagi amburadul banget di rumah dan butuh dikuatkan. Makannya ujug-ujug telepon.

Kedua

Alih-alih berkata,

“Yaudah sih kamu yang sabar.” atau

“Yaelah, kayak gitu aja marah-marah.” atau

“Kamu kan ibu, harusnya kamu enggak usah nangis segala dong.” atau kalimat lain yang bunyinya sejenis, suami justru menawarkan bantuan. Catat ini, BANTUAN.

Saat kami sedang tersambung via telepon, tidak ada satu patah kata pun dia mengeluarkan kalimat yang isinya nasihat. Tidak ada sekali pun dia mengeluarkan kata yang menyuruh saya untuk sabar. Tidak ada.

Suami, pada titik ini, memahami bahwa masalah yang saya hadapi tidak mudah. Dia tahu kalau tingkah anak-anak bisa begitu menyebalkan dan menyulitkan saya sebagai orang tua. Dia juga tahu kalau membereskan rumah tidak bisa dilakukan sekejap mata. Sehingga, baginya saya berhak kok untuk kesal ketika semua tidak berjalan semestinya. Bagi suami, saya berhak merasa bete, frustasi, dan bingung.

Saya berhak untuk menangis ketika merasa situasi di rumah begitu berat. Itulah sebabnya dia menelepon, karena menurut dia semua perasaan negatif ini perlu penyaluran. Itulah sebabnya dia merasa enggak perlu untuk kasih nasihat apapun. Bagi dia masalah yang saya hadapi bukan masalah remeh. Dia tahu, saya butuh bantuan dan itulah yang dia lakukan agar saya tetap waras.

Gara-gara suami bersikap seperti inilah, saya jadi merasa diterima. Dan jadi tambah cinta, hahaha.

Ketiga

Suami berkantor di Sudirman, sedangkan saya di rumah, di daerah Cisauk, Tangerang. Meski terpisah hampir 25km tapi dia mau berepot-repot memesan makanan via ojek daring. Ini bikin terharu karena ternyata dia sepeduli itu.

Suami betul-betul memberi bantuan yang enggak sekedar manis di bibir memutar kata. Actionnya beneran ada.

PESAN UNTUK PARA AYAH/SUAMI SE-INDONESIA RAYA YANG MASIH SUKA NYURUH ISTRI SABAR

Waktu saya menuliskan kisah ini di instagram stories, banyak sekali yang menanggapi. Ada beberapa yang repost sambil men-tag suaminya, ada pula yang menyuruh suaminya untuk mengecek langsung tulisan saya. Saya bisa tahu karena jumlah pembaca stories saat itu melonjak tajam.

Banyak teman-teman yang berterima kasih karena saya sudah menuliskan kisah ini. Mereka jadi lebih mudah menyampaikan apa yang sesungguhnya mereka rasakan ke suami mereka.

Sejujurnya, suami juga dulunya enggak kayak gini kok. Sikap dia sama saja seperti rata-rata suami di Indonesia, sayang dan cinta ke istri tapi ya cuek gitu. Dia (dan saya) mulai berubah ke arah yang lebih baik ketika rajin mengikuti kelas parenting Komunikasi Pengasuhan Anak bersama Ibu Safithrie Sutrisno.

Dalam kelas itu, kami belajar mengenali perasaan, menyampaikan perasaan, juga menanggapi perasaaan. Belajarnya memang tentang orang tua ke anak, tapi prakteknya bisa diterapkan ke semua lini. Saya dan suami jadi lebih bisa mengkomunikasikan masalah dengan baik.

Saya jadi tahu bagaimana cara menyampaikan masalah, dan suami juga memahami bagaimana caranya menanggapiku serta masalah yang ada. Kayak kasus di atas.

Lewat tulisan ini, saya sebenarnya cuma pengen bilang. Pak, jangan ajari istri kalian untuk bersabar atau menahan marah. Ketahuilah, istri tuh sudah khatam sekali dengan bab sabar. Menikah, menuruti perintah suami, hamil, melahirkan, menyusui, udah kurang sabar apa coba?

Pak, ketahuilah kalau istri sedang dalam kondisi down, pusing, kesal, marah-marah melulu atau menangis, dia tidak butuh nasihat. Istri membutuhkan kalian untuk ada di di sisinya, memahaminya, menerima segala keluh kesahnya. Jangan pernah berpaling kalau istri menangis, peluk, usap bahu dan punggungnya. Bisa jadi bebannya terlalu berat dan kalian sebagai suami adalah tempat berbagi.

Pak, jangan pernah meremehkan pekerjaan istri. Menghadapi anak dalam kondisi normal saja melelahkan, apalagi kalau mereka berulah. Begitu pula dengan pekerjaan rumah tangga, tidak ada selesainya itu mah. Beri bantuan nyata, ajak anak-anak bermain sehingga istri bisa beberes dengan lebih tenang. Belajarlah untuk ucapkan terima kasih, itu saja sudah bisa menghilangkan lelah para istri hingga 50%.

Pak, jangan pernah menghardik istri dengan kata-kata yang buruk. Pahami kalau istri adalah manusia biasa, bukan malaikat. Seorang istri yang sudah menjadi ibu berhak untuk merasakan lelah mengasuh anak. Ini tidak berarti istri tidak sayang kepada anak kalian, tapi faktanya mengasuh adalah pekerjaan berat. Terima hal ini. Istri juga berhak merasa kesal, bosan, marah, tidak sabar, dan segala hal negatif lainnya. Jangan paksa mereka untuk terus menerus sabar dan kuat. Istri berhak merasa rapuh.

Pak, sekali lagi, jangan pernah katakan sabar ya kalau istri mulai kelihatan tidak normal. Tawarkan bantuan untuk cuci piring, memandikan anak, menjemur baju. Bila tidak mau, coba tawarkan jalan-jalan naik motor keliling kampung, jajan cilok pengkolan, atau sekedar pijatan. Tawarkan bantuan nyata, bukan kata-kata.

Menikah kok kayaknya ribet banget ya? Lah iya emang ribet menikah itu, modalnya enggak cuma cinta. Merawat hubungan antara suami dan istri itu berat. Saya dan suami aja perlu waktu bertahun-tahun belajar sampai akhirnya bisa kejadian kayak gini. Makannya, jangan pernah menjadikan pernikahan itu main-main.

Jangan biarkan istri merasa harus berjuang sendirian menghadapi masalah di rumah setiap harinya. Kalau kata Bu Fithrie sih support each other, know what to do, know what you need for that kind of situation.

MARI BERJUANG BERSAMA

Btw, apakah saya dan Yusuf lalu bisa menghadapi masalah dengan baik secara terus menerus? Jebul ya enggak juga. Ada beberapa masalah yang kadang bikin kami berdua pengen gaplok-gaplokan juga, hahaha. Tapi setiap ingat nawaitu untuk menikah delapan tahun yang lalu, alhamdulillah bisa kembali ke jalan yang benar.

Menikah memang enggak melulu cinta-cintaan sih, seringnya bahkan lebih drama dibanding drama Korea.

Semoga kisah dan pesan kecil tentang sabar ini, bisa membawa manfaat untuk teman-teman yang sudah maupun hendak menikah. Dan semoga Allah menjaga pernikahan kita, hingga Jannah-Nya, aamin aamin ya rabbal aalaminn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *