ruang cerita keluarga mama triplet

Untuk Aku & Kamu yang Mudah Bilang Cerai Saat Bertengkar

by | Oct 21, 2019 | Pasutri | 11 comments

Cerai itu untuk selamanya, maka jangan bermudah-mudah dalam mengatakannya

– Madam A –

Dulu.

Duluuuu banget saat saya masih newbie dalam dunia pernikahan. Saat saya masih terkaget-kaget dengan kelakuan Yusuf yang menyebalkan. Saat saya merasa bahwa menikah ternyata hanya jebakan.

Saya sering bertengkar, dan minta cerai.

Enggak tahu kenapa tapi mulut ini emang kadang susah diaturnya. Bertengkar dikit, lalu adu argumen, kesel, minta cerai. Bertengkar banyak, marah, merasa diabaikan, minta cerai. Repeat! Saya sampai heran, katanya pernikahan itu surga dunia, tapi kenapa rasanya seperti di neraka?

Saking lelahnya dengan pertengkaran terus menerus, sering saya menggunakan kata cerai sebagai senjata supaya Yusuf tunduk, mengalah, dan memenuhi permintaan saya. Pikir saya, kalau dia bener-bener cinta, dia pasti akan menuruti permintaan saya supaya kami tidak bercerai bukan?

Hmm…kalau diingat-ingat lagi, komunikasi kami sebagai pasangan suami istri muda emang buruknya ampun-ampunan. Hal ini ditambah oleh sikap merasa ‘memiliki’ yang membuat hubungan kami terpuruk di level terbawah.

Beruntung, Yusuf jarang sekali terpancing untuk melakukan hal yang sama. Dia paham kalau sebenarnya saya sedang marah. Hal ini sangat saya syukuri. Maklum, kalau kata cerai keluar dari pihak laki-laki, itu artinya udah jatuh talak kan ya? Eh, iya enggak sih? Cmiiw.

Meski demikian, tidak berarti Yusuf gelem-gelem wae saya perlakukan gini terus. Ada saat di mana dia lelah dengan perilaku barbar istrinya. Dia, yang selalu woles dan sabar tiba-tiba saja mengiyakan keinginan saya untuk minta berpisah.

“Yaudah, ayo lakukan sesuai keinginan kamu.” katanya dengan nada lelah. Waktu itu kami sedang bertengkar entah untuk episode keberapa saking banyaknya.

Tahukah teman semua, mendengar Yusuf mengatakan ini membuat saya merasa seperti disambar petir pada siang bolong. Karena shock, secara perlahan saya mundur. Saya yang sebelumnya mengaum seperti singa mendadak diam seribu bahasa.

“Kamu…kamu serius?” tanya saya takut-takut.

“Iya, aku serius mau ngabulin keinginan kamu!” balasnya ketus.

Hati saya mencelos. Saya yakin teman-teman yang sudah punya pasangan pasti tahu perasaan saya saat itu. Padahal suami enggak dengan lantang mengatakan cerai, dia cuma bilang mau mengabulkan keinginan saya. Meski demikian, tetap saja rasanya…

“Enggak mau! AKU ENGGAK MAU CERAI!!” jerit saya histeris.

“Lha itu tadi kamu minta cerai. Aku kan cuman nurutin permintaan kamu aja. Kamu bilang kamu menderita jadi istriku, kamu bilang kamu tersiksa menikah sama aku, yaudah silahkan kalau kamu mau selesai sampai di sini.” tutur dia panjang lebar. Air mata mulai membanjir, dan saya kontan sesenggukan sambil menggelengkan kepala.

“Bukan itu maksud aku…”

“Kata kamu, aku enggak berjuang dalam pernikahan ini. Katamu aku enggak cinta, katamu…”

Yusuf terus menerus membalikkan semua kata-kata saya. Bener-bener kata demi kata. Pada detik itulah saya baru tahu, kalau dikata-katai ternyata tidak enak, kalau diancam cerai sesakit itu.

KISAH TEMAN YANG TIDAK INGIN CERAI, TAPI DIPAKSA CERAI

Madam, kok ndengaren banget ngomongin tentang hal yang agak sensitif seperti C-word ini?

Iya, saya juga heran kok berani banget cerita tentang masa lalu yang hancur-hancuran. Masa lalu yang sebenernya pengen saya kubur dalam-dalam. Tapi sebagai pengingat diri, saya harus menuliskan ini. Mana tau bisa jadi bahan renungan bersama kan?

Jadi ceritanya, beberapa waktu kemarin saya ketemu seorang teman. Agar memudahkan, mari kita sebut saja dia sebagai mbak A.

Mbak A ini tinggal bersama anak lelakinya dan juga seorang pengasuh yang sudah embah-embah. Awalnya kami ngobrol-ngobrol biasa, waktu saya bilang kok hebat banget tinggal beriga saja, mbak A menjawab kalau dia sedang LDM dengan suaminya.

Entah karena merasa nyaman atau karena tampang saya yang curhatable ciumable dan gaplokabledia tiba-tiba saja mengungkapkan kondisi sesungguhnya.

“Sebenernya, saya sedang dalam proses ini mbak.” katanya sambil menunjukan jari-jari yang dibentuk menyerupai gunting.

Saya yang bingung harus memberi respon bagaimana, hanya bisa menjawab “Oh”

“Suamiku telat nakal mbak. Kalau sampeyan lihat penampakan dia, pasti enggak bakal kepikiran kalau dia bisa aneh-aneh.” lanjutnya sedih.

Saya yang mendengar hal tersebut langsung mahfum kenapa mbak A dan sang suami hendak berpisah.

“Padahal aku sampai keluar kerja demi nemenin dia penempatan kemana-mana, tapi dia malah main gila.”

“Sabar ya mbak…” entah kenapa hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir. Mbak A yang diselingkuhin, tapi kok saya juga yang ikut ngerasain sakitnya.

Mbak A tersenyum, “Nggak papa mbak, ini saya kembali kesini juga karena diusir sama suami. Anak saya enggak dinafkahi, boro-boro ding, ditanyain kabarnya aja enggak.” keluhnya geram.

Mata saya langsung melihat ke arah seorang anak seusia Luna yang sedang mencoba-coba sepeda barunya. Saya cuma bisa mengelus dada, bagaimana bisa?

“Dari kemarin setiap telepon, dia cuma minta saya yang mengajukan gugat cerai. Soalnya kalau dia yang maju duluan, harus bayar 40 juta. Saya enggak mau, kalau kami harus bercerai itu karena salah satu dari kami mati, bukan karena ada orang ketiga.” kata mbak A santai sambil membelai rambut anaknya yang kini memeluk dirinya.

Stay strong there mbak, anakmu insya Allah akan jadi anak yang solih. Insya Allah.” Saya sudah tidak tahu harus berkata apalagi, mendengar seorang istri, ibu, mendapatkan musibah seperti ini, saya hanya bisa mendoakan bukan?

Dan si mbak A, entah kenapa saya seperti melihat embun di matanya…

RUMITNYA HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Begitu mbak A dan saya saling berpamitan, saya pun pulang ke rumah. Baru juga mengucap salam, saya langsung mencari Yusuf. Dia yang sedang leyeh-leyeh di kasur kaget melihat istrinya tiba-tiba main peluk.

“Aku kangen.” kata saya di pundaknya. Yusuf yang sudah pulih dari kagetnya lalu mengelus-elus kepala saya.

“Tadi aku habis dicurhatin temen, dia dipaksa cerai sama suaminya. Aku sedih.” kata saya lagi. Air mata yang sebelumnya dari tadi tertahan mulai tumpah sedikit-sedikit.

“Aku minta maaf, aku dulu sering minta cerai setiap kita bertengkar. Aku kapok, aku takut, aku enggak mau kehilangan kamu ay. Aku enggak pernah serius dengan kata-kataku tentang cerai, itu cuman ancaman kosong aja. Tolong maafin aku…”

“Aku udah maafin kamu dari dulu.”

Saya mendongakkan kepala, mencoba melihat Yusuf, mencari cinta di matanya. “Tolong ingatkan aku terus ya Ay, aku enggak bisa membayangkan tanpa kamu…”

Begitulah, saya yang sudah tobat semakin bertobat. Rasanya Allah kayak ngasih peringatan dan pengingat terus-menerus supaya saya belajar.

tentang aku dan kamu yang mudah berkata cerai
Meminta maaf dan memaafkan, salah satu kunci keharmonisan keluarga

Menikah, menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang tak pernah mudah. Ada masa dimana rasa cinta tidak cukup kuat untuk melekatkan hubungan.

Embuh, tapi selama hampir delapan tahun menikah dan mengamati pernikahan orang-orang di sekitar, hanya sedikit orang yang mau kasih effort untuk merawat cinta. Dan ini, biasanya terjadi pada bapak-bapak.

Sepertinya kalau sudah jadi istri atau suami ya sudah, aman. Padahal ya belum tentu. Masalah dalam pernikahan ya pasti ada, pasti. Justru hari-hari setelah pernikahan itu isinya masalah semua. Tapi pilihan untuk menyelesaikannya baik-baik, mendiamkan, mengabaikan, atau menyerah, semua ada di tangan kita.

MASALAH UTAMA KONFLIK SUAMI ISTRI ADALAH : ISTRI TIDAK TAHU BAGAIMANA CARA MENYAMPAIKANNYA, DAN SUAMI TIDAK TAHU BAGAIMANA CARA MENANGGAPINYA. SEMUDAH ITU

Madam A

CERAI ADALAH PINTU DARURAT

Jujur, saya banyak sekali belajar dari Yusuf maupun kemelut hidup mbak A. Dulu saya terlalu tinggi memasang ekspektasi pada suami, sehingga ketika dia tidak mencintai saya dengan cara yang saya inginkan, itu berarti dia tidak cinta. Dan saya berhak merasa marah.

Hal tersebut jelas salah. Setelah bertahun-tahun menikah saya baru menyadari, kalau kami memiliki love languange yang berbeda-beda. Yusuf mencintai saya, dengan caranya sendiri yang istimewa. Saya mengetahui hal ini setelah mendatangkan konselor pernikahan, ya Bu Fithrie itu.

Gara-gara Bu Fithrie, saya jadi bisa melihat Yusuf dengan kacamata yang berbeda. Semakin kesini kami semakin tahu cara untuk berkomunikasi dua arah. Saya pun jadi memandang pernikahan sebagai sesuatu yang serius. Dulu, saya sering bilang cerai karena memang menganggap remeh ikatan ini. Sungguh kesalahan yang sangat fatal.

Sekarang, saya menyadari kenapa Yusuf sampai detik ini tidak pernah mengeluarkan C-word. Selain karena dia pemegang talak, dia menganggap bahwa hubungan yang terjalin antara kami amat sangat sakral. Niatnya menikah sejak awal pun jelas, membangun rumah tangga yang samara. Maka dari itu, bertahun-tahun lalu dia selalu mencoba untuk memahami setiap kemarahan saya.

Walaupun pendiam dan cuek, Yusuf orang yang sangat serius dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ini artinya, kalau sampai dia mengucapkan C-word, berarti dia sungguh-sungguh dan sangat siap dengan segala konsekuensi yang ada. Naudzubillahmindzaliq, ini mengerikan. Saya enggak mau, dan jangan sampai pernah terjadi.

“Segala sesuatu masih bisa dibicarakan mah, pasti ada jalan keluarnya. Kecuali kamu murtad.” begitu kata Yusuf ketika kami berlanjut ngobrol tentang C-word.

Ah, jadi ingat kata-kata yang terkenal itu. “Kalau suami masih menafkahi, mau bantuin urusan rumah, mau pulang ke rumah, masih mendatangi kita untuk melampiaskan syahwat, mau mengurus anak-anak, bertahan adalah hal terbaik.”

Baca Juga : Saat suami menyakiti hatiku…

Kecuali pasangan sudah KDRT, baik fisik maupun verbal, tidak pulang-pulang, menolak untuk menafkahi, mengabaikan, dan atau melakukan perbuatan yang jelas dilarang agama. Atau, ketika kita tahu bahwa hanya kita sendirilah yang berjuang dalam pernikahan ini. Cerai adalah pintu darurat, bukan pintu utama.

MARI, PIKIRKAN BAIK-BAIK

Untuk teman-teman atau para pembaca yang hari ini sedang diuji pernikahannya, mari kita pikirkan bersama. Sanggupkah bila kita hidup tanpa dia? Bisakah kita untuk tidak peduli kalau dia belum makan? Bisakah kita berhenti memikirkan dia sedang apa? Benarkah keberadaan dia disamping kalian hanya menyakiti saja?

Pikirkan, pikirkan, pikirkan.

Barangkali, cinta yang meredup masih bisa dibenahi.

Barangkali, hubungan yang dingin masih bisa dihangatkan lagi.

Barangkali, rindu itu masih ada…

Selamat berjuang teman-teman, karena Jannah bersama orang tersayang, bukan sesuatu yang mudah tanpa perjuangan…

Ajeng Pujianti Lestari

Ajeng Pujianti Lestari

Blogger | Mother

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris :). Untuk kerja sama silakan menghubungi ajenghimme@gmail.com

11 Comments

  1. Tanti Amelia

    Alhamdulillah sudah diingatkan melalui orang lain ya jeng, (eh maksudnya bukan namamu Ajeng loh .. )

    berarti ini pesan dari malaikat tak bersayap ya, kalo ada rejeki lebih berbagi sama dia ya, aku ngenes bacanya. semoga dia mendapatkan pengganti yang lebih baik. amiiin

    iya iya aku kapok ngomong sembarangan!

    Reply
  2. maseko

    Bersyukur suaminya sabar ya Mbak.. Kalau saya di posisi suami, cerai mungkin tidak, karena saya masih tanggung jawab sana nafkah anak-istri, tapi mungkin ya mencari hati yang lain, yang bisa dan mau menerima jiwa ini apa adanya..

    Reply
  3. Djangkaru Bumi

    Setiap rumah tangga pastinya ada gejolak.
    Dan yang paling tahu ya pastinya yang menjalaninya.
    Lelaki pastinya tahu, maksud perempuan jika mengeluarkan kata cerai. Dia hanya ingin diperhatikan lebih.
    Tapi jika memang benar benar ingin cerai juga tak ada Maslah jika itu semua demi kebaikan bersama.
    Perjalanan hidup itu memang penuh misteri. Tidak ada yang tahu

    Reply
  4. pungkas

    Ya itu lah mbak, nilai ibadahnya nikah itu ya disitu. Ujiannya sepanjang waktu. Harus ada olah rasa saat menjalin hubungan.

    Reply
  5. Salim Soraya

    Namanya rumah tangga pasti ada masalah, jangankan rumah tangga, yang masih pacaran aja juga ada masalahnya… Kembali lagi ke personal masing” bagaimana menyikapinya, dan sebaiknya sama” berpikir bagaimana solving masalahnya… Sedih tau kalau harus pisah … 🙁

    Reply
  6. nusa penida

    bingung berkata kata bacanya… semoga dan jangan sampai ada kata cerai di keluarga ku. aamiin.

    Reply
  7. septyani

    waktu mba ajeng ke konselor pernikahan, datangnya sendiri apa bareng suami mba? kena biaya berapa utk perkunjungannya mba? butuh waktu berapa lama mba utk konsultasinya? berapa kali pertemuan maksud aku

    Reply
    • Ajeng Pujianti Lestari

      waktu itu konselornya yang datang mbak, alhamdulillah. Berapa kali ya, cukup sering sih

      Reply
  8. Silvie

    Ah…
    Kadang memang saat pertengkaran terjadi dan sudah ada dititik terlelah , maunya memang begitu mba.

    Tapi setelah difikir lahi lebih jauh, berpisah dengan suami belum tentu lebih baik.

    Benar mba : kadang kita menaruh harapan kepada suami terlalu tinggi

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

Categories