VITALIS BODY WASH, SENJATA AMPUH MELELEHKAN SI SUAMI KULKAS

Mak, mau enggak saya kasih tahu salah satu jurus yang perlu dikeluarkan saat mau menggoda suami yang diem dan kaku banget, selain pakai pakaian seksi atau lirikan mata? Coba deh mandi pakai Vitalis Body Wash, dijamin suami langsung colak-colek karena enggak bisa nahan.

– Madam A –

My cold husband, itulah sebutan yang saya berikan pada suami di awal-awal pernikahan hingga sekarang. Terinspirasi dari judul novel-novel yang sliweran di wattpad *iya monmaap saya alay*.

Dalam novel-novel tersebut karakter tokoh utama laki-lakinya rata-rata digambarkan agak mirip yaitu pendiam, kalau bicara seperlunya, ekspresi datar, sok cool, tapi bijaksana. Entah kenapa tiap membaca, saya merasa relate banget-lah. Suami saya juga seperti itu. Kalau ada perbedaan sih bedanya dia bukan CEO atau pemilik perusahaan yang super duper kaya.

Pada titik ini, saya paham kalau saya harus berhadapan dengan realitas . Bukan halusinasi.

Btw, jangan tanyakan kenapa saya yang karakternya berbeda 180 derajat mau saja menjadi istrinya. Saya sendiri selalu bertaya-tanya, dia ini udah ngasih sajen apa sehingga saya mau menjadi budak cintanya?

Saya sering banget protes dengan sikap dia yang pendiam dan cenderung tidak peka itu, namun nyatanya kami snaggup bertahan hingga sekarang. Punya anak tiga orang pula, sampai teman-teman pada geleng-geleng kepala. Hahaha.

Namanya juga manusia, di luar boleh diam-diam aja, tapi kalau udah berduaan sama pasangan halal pastinya beda dong. Apalagi kalau udah mulai menjalin bonding yang melibatkan skin to skin, wuih! Mantap-mantap.

Iya, suami saya ini meski pendiam tapi dia hobi meluk dan sentuh-sentuh istrinya. Kadang, saya lagi asyik nyapu pun dipanggil sama dia. Dia meminta supaya saya nyimpen sapu dan cuddle alias kelonan berdua aja di kasur. Tapi ya enggak lama, dijamin enggak sampai lima menit anak-anak pasti nyerbu ikutan.

Di saat-saat beginilah saya merasa, kalau suami enggak kulkas-kulkas banget, eh maksudnya enggak sedingin itu. Aslinya dia penyayang, hanya susah aja mengungkapkannya. Hampir delapan tahun pernikahan, dan dia masih berjuang untuk mampu menunjukkan kasih sayang tanpa canggung.

Sayangnya, ada sedikit masalah. Saya merasa beberapa waktu belakangan, hubungan kami tidak seperti biasanya.

Akhir-akhir ini, saya kepikiran kalau kami berdua sudah beberapa lama tidak kruntelan. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali dia nyosor minta ciuman. Memang sih, saya kesal kalau ketika sedang memasak atau cuci piring dia iseng grepe-grepe. Sebuah keisengan yang dia lakukan dengan wajah tetap datar. Tapi sekarang, saya kangen diisengin.

Ada apa?

Kenapa kami jadi terasa jauh?

Saya mencoba positif thinking, oh barangkali dia capek, oh barangkali dia stress, atau oh mungkin dia sedang malas?

Sekuat-kuatnya hati ini mencoba menentramkan diri, saya tidak bisa berbohong. Saya ternyata rindu loh disentuh-sentuh dia. Saya kangen dengan kedekatan kami, terutama karena dua hari ini kami tidur terpisah. Dia menemani si abang yang sedang berlatih tidur di kamarnya sendiri, saya bersama kedua adiknya.

Karena secara fisik kami jadi agak jauh (padahal serumah), jadilah saya merasa dia kembali menjadi sosok yang dingin. Dia kembali seperti dulu, bicara seperlunya dan… agak menghindar setiap saya mengajak cuddle duluan.

Kebayang enggak sih sedihnya kayak apa? Saya merasa diabaikan dan tidak dicintai. Saya jadi lesu, jadi males ngapa-ngapain, padahal kata orang-orang saya tuh orang yang selalu ceria dan bersemangat.

Yaudah, demi melelehkan kembali manusia yang sedingin es balok itu, akhirnya saya berani untuk mengajaknya bicara empat mata. Saya penasaran, ada apa sih dengan kita?

Begitu anak selesai tidur, saya menyusulnya ke kamar sebelah kemudian menyeretnya ke ruang tamu. Kami berdua duduk di sofa, sebelahan. Tapi sayang, dia justru lebih memilih ngelus-ngelus hape dibanding istrinya yang sedih, hiks.

“Udah enggak cinta lagi to sama aku?” Tembak saya langsung tanpa ba bi bu.

Dia menoleh dan mengernyitkan dahi, heran dengan pertanyaan yang saya ajukan. “Ya cintalah.” Jawab dia singkat. Sambil kembali mengalihkan perhatiannya ke layar hape. Ugh!

“Tapi aku kok ngerasa kalau kamu enggak cinta lagi ya, lha wong kita mulai jarang kelonan, terus aku jarang kamu pegang-pegang atau cium-cium lagi. Kamu kenapa? Ada yang salah denganku?”

Suami menunjukkan ekspresi bingung. Saya terus menerus merengek meminta penjelasan.

“Tapi kamu janji jangan marah ya.” Kata dia yang sepertinya tidak tahan dengan rengekan istrinya.

Saya pun langsung mengangguk penuh semangat, “Iya janji, kamu kenapa sih sebenernya?Jujur aja deh, aku nggak bakal marah kok.”

“Jadi gini loh, aku tuh merasa kalau akhir-akhir ini kamu itu…” suami memotong kata-katanya, membuat saya jadi semakin penasaran.

“Iya aku kenapa?” tanya saya sambil menunjuk diri sendiri.

“Kamu…bau…” Jawab dia lirih.

Untuk sesaat, hanya ada keheningan di antara kami berdua. Saya mencoba mencerna ucapan dia, dan dia terlihat cemas menunggu reaksi saya.

“Oh.” kata saya yang tidak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Hati saya terasa nyeri, seperti habis dicubit. Sedangkan suami, dia meringis sambil menepuk-nepuk punggung saya.

“Aku mau ngomong tapi takut kami tersinggung, maaf ya. Sekarang, kita cari solusinya yuk?” Tawar dia.

Saya menggeleng, saya bahkan hanya bisa mendengar suaranya samar-samar. Saat itu fokus saya hanya ingin lari, kabur ke comberan terdekat dan nyemplung. Saya malu sekali.

Memang setelah pindah rumah ke Cisauk, kami berdua sepakat untuk tidak memiliki pembantu karena ingin segera melunasi cicilan yang hanya dua tahun saja. Ketika itu suami ragu saya sanggup mengurus tiga orang anak dan rumah sedangkan dia bekerja di Jakarta.

Saya meyakinkan dia bahwa saya sanggup. Kalau tidak sanggup ya panggil pembantu tapi sesekali. Alhamdulillah, sudah hampir 4 bulan ini kami pindah dan semua berjalan cukup lancar. Meski banyak sekali cobaannya tapi pekerjaan rumah tangga masih terkejar, begitu juga mengurus anak.

Semua saya usahakan untuk selesai dengan baik, walau harus mengorbankan waktu saya sendiri. Saya memasak di sore hari menjelang malam, agar pagi tinggal menghangatkan. Mungkin karena mengupas-ngupas bawang dan memasak , serta kesempatan untuk mandi tertunda, badan saya jadi bau.

Setelah malam itu, malam di mana semua indera terasa tumpul karena satu ucapan suami, saya mulai berpikir banyak hal. Awalnya tentu saja saya merasa marah dan meradang. Helooo, bukankah wajar kalau diri ini bau? Kalau tak mampu menjaga penampilan, lha wong ngurusin anak-anak, makan, dan rumah. Saya bekerja keras untuknya gitu loh.

Tapi, setelah berulang kali dipikirkan ulang, rasa-rasanya yang suami keluhkan adalah hal yang betul. Sesungguhnya dia itu orang yang baik dan jarang banget mengeluh. Kalau sudah sampai diungkapkan berarti memang hal itu masalah.

Saya paham, ketika hamil saya pun tidak mau dekat-dekat dengannya. Bagi saya, baunya sungguh mengganggu dan bikin mual. Padahal dia sudah mandi dan menyemprotkan parfum (yang justru makin membuat mualnya bertambah-tambah). Lalu, apakah dia tidak boleh mengeluhkan hal yang sama?

Lagipula, dia laki-laki. Sewajarnya dia suka melihat hal yang indah, dan mencium yang harum. Toh sebelum suami bilang, saya sudah berjanji untuk tidak marah. Apalagi dia sempat mengajak saya untuk mencari solusinya bersama-sama.

PENYELESAIAN MASALAH

Saya tidak mau tenggelam berlama-lama. Tentu saya sedih dan sakit hati ketika suami bilang kalau saya bau. But I should move up, not give up. Saya mencoba menulis beberapa hal yang sekiranya bisa membantu.

Selanjutnya, saya merasa perlu untuk kembali menyayangi diri sendiri. Ya, saya memiliki tiga anak kecil di rumah. Ya, saya mengerjakan semuanya sendirian. Tapi meski kerjaan seabrek-abrek, saya harus tetap memberi kesempatan dan hak agar tubuh terawat. Saya juga memiliki kewajiban menjaga kehangatan hubungan dengan suami. Anak-anak membutuhkan orang tua yang stabil bukan?

Itulah kenapa saat sedang membeli sedikit kebutuhan di mini market, saya bertekad untuk mampir ke bagian perawatan tubuh. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk membeli tiga botol Vitalis Body Wash. Hehehe, pokoknya saya enggak mau tanggung-tanggung. Saya mau mencoba memakai produk ini saat mandi untuk menghilangkan semua bau badan.

review vitalis body wash fresh dazzle
3 Varian Vitalis Body Wash

Tidak hanya membeli sabun baru, saya juga membuat list yang akan saya ajukan ke suami. Isi dari list itu antara lain :

  1. Meminta Ayah membantu mandikan anak-anak sebelum berangkat kerja.
  2. Meminta Ayah agar bantu membersihkan ruang tamu selepas anak-anak tidur.
  3. Meminta Ayah agar rutin mengirimkan WA dengan pesan , “I love yous istriku” . Setiap hari.
  4. Meminta Ayah agar menyisihkan budget untuk perawatan tubuh. (Enggak perlu mahal-mahal, setidaknya cukup untuk beli Vitalis Body Wash)

PERASAAN SAAT MEMAKAI VITALIS BODY WASH

Kenapa saya tertarik untuk nyobain Vitalis Body Wash? Pertama, mungkin karena sering banget melihat iklan fragrance-nya di TV. Ya ampun saya suka banget sama model iklan yang memperlihatkan kekuatan dan kemampuan perempuan gitu loh. Alasan kedua sih karena baca-baca review di beberapa tempat. Semua bilang kalau sabunnya enak dan sangat direkomendasikan. Belum lagi harganya masih sangat terjangkau kalau dibanding sabun dengan parfum kelas dunia lainnya.

Selain itu, kemasan Vitalis Body Wash agak beda dengan sabun biasa. Packagingnya ergonomis, mudah digenggam dan dibawa. Warna-warnanya pun kalem dan lembut sekali, menenangkan siapapun yang melihat. Terakhir tentu saja bentuk tutupnya unik, yaitu disc top caps, kekinian dan praktis.

Saya begitu menanti-nanti waktu mandi, seperti anak kecil yang tak sabar untuk mencoba. Ketika akhirnya kulit ini bertemu dengan cairan lembut Vitalis Body Wash Fresh Dazzle yang berwarna hijau, saya tahu pilihan saya tepat. Semerbak Jeruk Yuzu dan Green Tea Extract langsung menguar.

Fresh Dazze, varian favorit saya

Itu bekas-bekas kerjaan seharian seperti cuci piring, ngepel, bersihkan popok, masak, pokoknya semua-semua bau yang nempel di kulit berasa rontok. Wangi-wangi tak sedap yang sebelumnya mengganggu, hilang diganti keharuman Bergamot, Floral Bouquet, dan Musk Amber. Campuran semua wewangian ini, membuat kulit harum maksimal dan lebih lama.

Saya jadi betah sekali berlama-lama di kamar mandi, menikmati saat me time dan memanjakan diri. Satu hal tambahan yang perlu dicatat ketika mandi parfum Vitalis Body Wash adalah, begitu keluar kamar mandi, kesegarannya masih tersisa di sana. Sampai-sampai, waktu anak saya hendak buang air kecil setelah saya mandi, dia komentar,

“Mama pakai sabun apa sih? Kok kamar mandinya masih wangi banget.”

Uhuy!

BAGAIMANA DENGAN REVIEW DUA PRODUK VITALIS BODY WASH LAINNYA?

First Impression saya dengan Vitalis Body Wash Fresh Dazzle begitu tak terlupakan. Saya puas sekali memakai sabun ini. Kulit saya terasa lembut, tercium wangi, dan terlihat segar. Ajeng si upik abu yang cuma Ibu Rumah Tangga itu seperti berubah menjadi Ibu Ratu yang mempesona.

Nah, setelahnya saya juga mencoba Vitalis Body Wash White Glow (warna pink) dan Vitalis Body Wash Soft Beauty (ungu) berturut-turut.

Apa yang berbeda dengan ketiga produk ini selain warna? Tentu saja jenis keharumannya.

Saat menggunakan yang berwarna hijau, wanginya tuh betul-betul segar. Sebaliknya, untuk yang pink wanginya lembuutttt sekali. Apa ya, saking lembutnya saya merasa kayak berada di antara gumpalan awan kapas. Duh, susah banget menjelaskan pakai kata-kata pokoknya.

Mungkin karena kandungan parfum pada varian ini memiliki aroma fruity dari Cherry & Raspberry, serta Marshmallow yang empuk itu. Begitu selesai mandi, saya seolah menjadi tuan putri dari negeri Khayangan yang lembut dan kalem.

Kesan berbeda kembali saya rasakan saat mencoba varian Soft Beauty. Meski namanya soft, saya justru merasa kalau produk yang berwarna ungu ini seolah campuran kesegaran dan kelembutan. Segarnya dapat, momen lembutnya juga enggak ketinggalan. Lengkap!

Mungkin karena varian yang berwarna ungu ini mengandung campuran buah dan bunga. Aroma clean dari Fruity Aldehydic, ditambah wangi Mawar & Violet. Jangan lupa agar kulit terasa kenyal dan segar ada tambahan Tonka Bean Sandalwood Premium. Mantap!

Bener-bener, momen mandi jadi enggak pengen cepat selesai. Kali aja kalau mandinya lebih lama, harumnya juga lebih lama, hihi.

Setelah mandi, kulit saya terasa lembab dan lebih kenyal dibanding sebelumnya. Harapan saya, penampilan saya jadi semakin lezat kalau dipandang suami. *ebuset, ini istri atau makanan?*

DAN KULKAS ITU PUN MELELEH

Bagaimana kelanjutan kisah saya dan suami? Teman-temen penasaran atau penasaran banget?

Jadi malam itu, ketika saya menyempatkan diri untuk mandi tepat sebelum suami pulang. Saya kan mandi pakai Vitalis Body Wash Fresh Dazzle tercinta. Begitu melepas jaket dan helm, saya menghampirinya.

Dengan penuh kepatuhan, saya mencium tangan dan…memeluknya. Memeluk dengan erat sambil berkata,

“Ayah, aku kangen loh sama kamu. “

Dia terkekeh.

Lalu entah bagaimana, sepertinya dia merasa bahwa tubuh saya wangi. Dia pun mencium leher saya, menyesap harumnya.

“Mah.” panggilnya sambil tidak melepaskan saya sedikitpun.

“Hmm?” tanya saya yang masih menikmati pelukan dia.

“Kamu wangi banget.” katanya, terdengar sedikit takjub.

Saya tersenyum. Sepertinya nanti malam akan terjadi sesuatu yang menyenangkan setelah anak-anak tertidur dan kami bisa berduaan. Terima kasih banyak Vitalis Body Wash Fresh Dazzle!

28 Comments
  1. January 28, 2020
    • January 28, 2020
  2. January 28, 2020
  3. January 28, 2020
  4. January 28, 2020
  5. January 29, 2020
  6. January 29, 2020
  7. January 30, 2020
  8. January 30, 2020
  9. January 30, 2020
  10. January 31, 2020
  11. January 31, 2020
  12. January 31, 2020
  13. January 31, 2020
  14. January 31, 2020
  15. January 31, 2020
  16. February 1, 2020
  17. February 1, 2020
  18. February 1, 2020
  19. February 1, 2020
  20. February 3, 2020
    • February 13, 2020
  21. February 3, 2020
  22. February 4, 2020
  23. February 5, 2020
  24. February 7, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *