ruang cerita keluarga mama triplet

PENGALAMAN MUDIK NAIK BUS MALAM SUMBER ALAM

by | Jun 16, 2019 | Picnic | 19 comments

Ternyata, tak harus pakai kereta atau pesawat. Dengan bus malam pun saya, suami, dan anak-anak tetap bisa sampai Jogja.

– Madam A –

Aloha! Assallammuallaikum, akhirnya selesai sudah waktu Indonesia bagian beberes rumah dan nidurin anak. Mumpung si kecil udah merem,dan tetehnya lagi asyik nonton miniforce sambil makan keripik apel, saya mau coba memenuhi janji untuk sharing pengalaman mudik kemarin.

Sebetulnya, mudik bukan hal yang istimewa-istimewa banget sih. Toh udah hampir tiap tahun dilakuin. Cuma memang, kali ini rasanya berbeda karena kami mencoba untuk keluar dari zona nyaman (baca : nekad).

Selama tujuh tahun merantau, pesawat dan kereta adalah dua transportasi umum yang menjadi pilihan untuk mudik. Maklum, setelah menikah Allah memberi rejeki 3 kali hamil sehingga harus memilih kendaraan yang betul-betul nyaman untuk anak-anak.

Sedikit intermezzo, aslinya tahun ini saya enggak berniat merayakan Idul Fitri di Jogja karena bulan Juli nanti adik saya nikah. Nah, qadarullah satu syawal jatuh di tanggal 5 Juni, kepikiran enggak biayanya kalau bulan Juni saya pulang terus bulan Juli pulang lagi, sambil bawa pasukan lengkap?

Sejak sebelum ramadhan, saya dan Yusuf sepakat memilih untuk pulang ke Majalengka saja. Di sana ada nenek, om tante, paman bibi serta sepupu dan ponakan-ponakan, ramai pokoknya. Enggak bakal kesepian lah saya. Yang hampa justru papa dan mama di Jogja, karena mereka juga tidak bisa pulang kampung, enggak ngumpul sama anak cucu.

Mungkin, masih mungkin loh ya. Berangkat dari pemikiran ini, Yusuf, berpikir untuk membatalkan mudik ke Majalengka dan tetap pulang ke Jogja. Itu, dan masalah sulitnya memastikan ketersediaan transportasi ke Majalengka membuatnya urung berlebaran di kota kelahiran saya.

“Mau naik apa? Kereta sama Pesawat udah pasti habis sejak 90 hari sebelum lebaran to.” kata saya agak keberatan saat dia menyampaikan keinginannya untuk pulang ke Jogja.

“Kita naik bus aja, bus malam. Kalau bus, tiketnya masih banyak.” jawab dia. Mata saya membulat.

“Wew, naik bus? Serius?” Duh, jangan-jangan suami saya itu ngelindur karena belum sempat istirahat siang.

“Serius.” balasanya.

Tidak lama kemudian, sebuah gambar terkirim. Bujug, Yusuf nih kesambet apa sih? Kok tiba-tiba aja dia udah beli tiket? *menatap nanar 4 tiket bus malam eksekutif PO Sumber Alam untuk mudik, dan 4 tiket bus malam PO Pahala Kencana untuk baliknya*

Saya terpaku, lemes, speechless, bingung mau ngomong apa. Mau bales WA nyebut Dasar Suami Raja Tega, kok enggak tega. Tapi mau nurut gitu aja kok berasa ngganjel di hati? Apalagi Yusuf kayak udah yakin banget. Kan sebel.

Ya emang sih, ada sedikit perasaan senang yang muncul. Saya rindu banget sama Jogja. Tapi sisanya, saya lebih banyak merasa takut. Saya takut kalau di sana makan mulu terus nambah gendut gimana?

Saya juga khawatir, secara bus itu kan lama perjalanannya unpredictable. Apalagi anak kami ada tiga. Wajar kan kalau udah pesimis duluan.

“Tenang mah, insya Allah kita akan baik-baik saja.” kata dia mencoba ngayem-ngayemi.

Saya cuman mecucu. Kembali memandang tiket sudah dibeli. Uang sudah keluar yang berarti hanya tersisa dua pilihan bagi saya : mengeluh atau menikmati perjalanan nanti. Saya mengambil pilihan kedua. Jangan sampai dobel rugi deh, udahlah uang keluar tapi perjalanan juga enggak kerasa nikmat.

ANAK-ANAK SAKIT MENJELANG PERJALANAN

Seminggu sebelum mudik, Luna (anak kedua) demam. Naik turun lebih dari empat hari, entah karena feeling seorang ibu pada hari keempat saya langsung cek darah. Leukositnya sangat tinggi, 22ribu. Padahal angka normalnya berada di kisaran belasan ribu saja.

Fix, dia mondok selama tiga hari di rumah sakit. Begitu Luna pulang, eh gantian Yuan (anak sulung) yang sakit. Berawal dari keinginannya untuk ikut Yusuf i’tikaf di Masjid. Yuan keasyikan bermain sampai tengah malam. Saat pulang ke rumah, bengeknya kumat dan enggak sembuh-sembuh.

Bahkan di pagi hari saat hari perjalanan di mulai pun Yusuf sempat membawa dia berobat ke dokter spesialis anak untuk memastikan kondisinya. Sepulang dari dokter dia bilang kondisi Yuan baik.

Saya sempat curiga, jangan-jangan Yusuf bilang “baik” tuh supaya saya enggak panik dan membatalkan perjalanan? Hmm… Ah embuhlah, saya mencoba untuk menutup kuping dari pikiran-pikiran negatif. Pokoknya, tugas saya saat ini sebagai istri adalah patuh dan percaya pada suami bukan? Kalau pun semisal nanti terjadi sesuatu (naudzubillah mindzaliq), maka itu akan menjadi tanggung jawab Yusuf baik di dunia maupun akhirat.

S0, mari kita singkirkan perasaan galau. Let’s move on and enjoy the new adventure!

PERALATAN & PERLENGKAPAN YANG DISIAPKAN UNTUK NAIK BUS MALAM VERSI MADAM

Untuk perjalanan mudik kali ini, saya berusaha untuk membawa tidak terlalu banyak barang. Maklum, belum menguasai medan cui! Takutnya ntar ribet sama anak-anak dan bawaan malah terbengkalai, kan berabe.

Jadi, bawaan saya terdiri dari :

  1. dua buah koper berisi baju-baju
  2. Sebuah tas jinjing berisi baju ganti masing-masing satu stel untuk setiap anak, makanan kecil, air mineral, bantal leher, jaket, kaos kaki, serta obat-obatan ( kami membawa antimo dewasa dan antimo anak)
  3. Tas slempang berisi uang, tissue kering, tissue basah, popok, charger hape dan alat elektronik lain.
  4. Tas punggung punya saya berisi kamera, kosmetik & skincare *uhuk*
  5. Tas plastik dari quick chicken, isinya lima paket nasi+ayam untuk berbuka dan sahur di jalan.

Kali ini, meski busnya memiliki toilet, saya dan Yusuf sepakat untuk tetap memakaikan popok pada Luna agar tidak repot semisal dia kebelet saat bus masih berada di tengah jalan. Sedangkan untuk Yuan, dia sudah kami usahakan untuk pipis saat di rumah dan sesaat sebelum berangkat.

Oh iya, jangan pernah lupa kalau persiapan yang terpenting adalah sounding sounding dan sounding. Kami berdua menyampaikan pada anak-anak tentang hal-hal apa saja yang mungkin akan mereka temui dalam perjalanan. Saya juga meminta anak-anak untuk selalu berdekatan dengan kami selama perjalanan. Ini penting supaya mereka enggak asal ngeloyor pergi. Maklum, namanya juga anak-anak. Kalau lihat sesuatu yang menarik suka tiba-tiba pergi aja.

Okay, persiapan selesai. Saatnya berangkat!

PENGALAMAN NAIK BUS MALAM SUMBER ALAM

Gimana sih Jeng rasanya naik bus malam? Lebih spsesifik lagi, bus malam dari PO Sumber Alam?

Mmmm…rasanya. Sungguh. Nano. Nano.

Well, sebelumnya saya udah menyempatkan diri untuk baca-baca tentang pelayanan bus sumber alam. Yusuf sendiri adalah pengguna setia Sumber Alam jaman dia kuliah di STAN. Dulu kadang saya menjemput dia di daerah dongkelan. Bahagia banget rasanya bisa ketemu setelah berbulan-bulan terpisah.

Pernah juga beberapa kali nganterin dia yang mau balik ke Jakarta naik bus tersebut. Waktu itu sering terbersit pikiran, pengen rasanya ikut dia kemana-mana walau naik bus ekonomi yang non ac. Tapi itu kan dulu! Romantisme masa lalu!

Jebul sama Allah dikabulin beneran, huweeee.

Bukan enggak bersyukur kesempatan untuk naik bus bareng akhirnya datang juga. Kalau dulu kan masih berdua aja, sekarang buntutnya udah tiga, udah beda cerita dan beda doa.

Lha wong saat tahu Yusuf ngajakin naik bus aja saya pengen ngepruk dia sambil bilang, “Kamu tuh enggak cinta ya sama aku? Istrinya kok diajakin susah melulu, huhuhu.”

*halah lebay*

Menanti di pool Sumber Alam Ciledug

Kenapa Yusuf memilih Sumber Alam? Karena beli tiketnya bisa via traveloka dan poolnya deket rumah. Cuman di puri beta sana, sebelahan sama Ramayana Ciledug.

Poolnya kecil, sempit, panas. Enggak begitu nyaman buat nunggu. Qadarullah waktu itu dianterin sama Alvin, jadi kami bisa ngadem di mobil sambil nunggu. Di sana, kami enggak bisa buang air. Aylan sempet berak, Yuan juga. Mereka terpaksa dibawa suami ke toiletnya Ramayana, di lantai dua pula. Ribet banget.

Di tiket, jadwal keberangkatan tertulis pukul 16.00. Hanya saja, kalau melihat padatnya jalanan saya enggak yakin kalau bus bakal datang tepat waktu. Nah, memang ini salah satu kekurangannya naik bus : ketepatan waktu bergantung pada jalanan. Beda sama pesawat dan kereta yang punya jalur sendiri, bus harus berbagi ruang dengan transportasi lainnya.

Jam 17.00 bus datang, selang lima menit setelah Aylan sukses memaksa saya membeli balon seharga tiga belas ribu. Hadeh. Wajah anak-anak yang sebelumnya terlihat bete berubah ceria. Yuan yang paling super duper antusias, dia langsung naik ke atas. Saya foto-foto bentar, sedangkan Yusuf mengurus barang-barang di bagasi.

Anyway, saya enggak tahu apakah hal ini juga terjadi di bus sumber alam yang lain, tapi Yusuf cerita kalau dia dimintai uang rokok oleh crew bus sumber alam. Lucunya, saat dia menyerahkan uang lima ribu rupiah, uang itu ditolak.

“Halah, nek mung mangewu nggo opo mas.” (Halah, kalau cuma lima ribu buat apa mas)

Saya ketawa ngakak. Yawla, ampun bener deh manusia jaman now. Katanya minta duit, begitu dikasih malah ditolak. Maunya apa coba? Lima ribu juga uang loh. Kalau di Jogja kan bisa jadi semangkok soto. Saya curiga crew bus yang minta duit itu anaknya pedagang emas, lha gengsinya tinggi banget je. Kzl!

Tapi saya enggak begitu suka sama pelayanan bus ini. Bahkan sejak pertama kali lihat armadanya. Crewnya itu loh, kasar. Masak nyuruh penumpang naik bus sambil teriak-teriak dan mukul-mukul badan bus? Please deh, tinggal kasih tahu aja kalau bus mau berangkat dengan sopan apa susahnya? Kayak harus banget pake otot. Jadi dobel kzl!

Suasana di dalam Bus Sumber Alam

Begitu masuk, saya melihat kalau bus ini tipe jajaran kursinya 2-2. Kabin toilet ada di tengah-tengah agak ke bawah. Kursinya berwarna-warni, enggk terlalu empuk, biasa aja. Tidak ada tempat untuk menaruh botol atau kantong yang biasanya menempel di punggung kursi.

pengalaman naik bus malam sumber alam - ayunafamily.com
Model tempat duduk, di bagian punggung bener-bener polos (dok pribadi)

Begitu menengadah ke atas, saya cuma bisa berdecak kecewa karena lampu maupun pengaturan AC sudah dol. Rusak total. Tidak ada bantal, tidak ada selimut, tidak ada apapun. Benar-benar hanya kursi apa adanya.

Ini beneran kelas eksekutif??? Tanya saya dalam hati, mulai mumet.

Yusuf duduk bersama Yuan di sisi kanan, sedangkan saya, Luna, dan Aylan di sisi kiri. Selesai menata barang, dia mencolek tangan saya.

“Gimana?” tanyanya dengan ekspresi antara pengen minta maaf dan menguatkan.

Saya hanya membalas dengan senyum kecut.

Oh ya, tolong jangan lupakan ini : sejak berangkat dua orang pengamen masuk. Mereka bermain gitar di sebelah saya persis. Saya enggak terganggu dengan genjrengannya, tapi bau rokoknya itu loh, ra nguati. Bau bus dan rokok yang berpadu jadi satu bener-bener sukses bikin saya kayak diaduk-aduk.

Baru juga lima belas menit perjalanan, saya sudah merasa amat sangat tersiksa. Ya Lord, bayar 320 ribu seorang tapi kok fasilitasnya gini amat?

Di daerah kreo, kedua pengamen itu turun. Finnally! Akhirnya! Horas! Eh tapi, baru saja saya membuang nafas karena merasa lega dengan suasana tenang, supir tiba-tiba menyalakan televisi dan menyetel video dangdut pantura dengan volume maksimal.

Ya Allah, I’m more than speechless…

Seandainya bisa turun, saya pengen banget turun di tengah sayup-sayup lagu apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang, semar mesem..semar mendem..

Kebetulan kursi kami berada di baris keempat atau kelima sehingga gambar video mbak-mbak penyanyi dangdut yang kurang bahan itu terlihat amat jelas. Anak-anak bisa melihat tayangan tersebut dengan mudahnya *tepok jidat*.

Pintu keluar, mana pintu keluaaarrrrr ????!!! Masih keinget betapa saya udah kepengen nangis histeris aja waktu itu. Kepengen pulang, pengen duduk manis di sofa sambil nonton Nussa Rara sambil menanti adzan. Sudahlah seharian capek banget packing, ngurusin balita dan si abang yang sakit, dan beres-beres rumah sebelum ditinggal. Kok ya jodohnya sama bus ginian.

Mendekati waktu maghrib, pusing yang saya rasakan makin menjadi-jadi. Bersyukur sekali kami sudah persiapan antimo sebelum berangkat. Saya meminta sebuah sama Yusuf, menenggaknya, dan tidak butuh waktu lama langsung tertidur.

Jam 9 malam saya terbangun, tepat saat Bus memasuki sebuah restoran di daerah Indramayu. Ternyata kekhawatiran saya tentang macet di tol Cikampek tidak terbukti. Saya yang saat itu sedang berhalangan, meminta Yusuf untuk gantian menggendong Aylan karena mau ke kamar mandi. Mau mengosongkan organic cup. Iya, kemarin itu saya mulai belajar untuk pakai menscup alih-alih pembalut.

Baca Juga : Tips Menjaga Kesehatan Kewanitaan Selama Perjalanan

Restoran tersebut cukup ramai. Toiletnya banyak, dan lumayan bersih. Sambil meluruskan badan saya menyempatkan diri membeli teh hangat. Setelahnya saya bergantian sama Yusuf, dia mau sholat maghrib dan Isya.

pengalaman naik bus malam sumber alam - ayunafamily.com
Tempat makan di daerah Indramayu, cukup nyaman

Bus berhenti sebentar banget, cuma tiga puluh menit lalu lanjut jalan lagi. Setelah minum antimo, badan saya agak enakan. Sopir kembali menyetel dangdut, tapi saya enggak kesel karena setidaknya anak-anak tetap bisa tidur dengan pulas.

Bentar, sebelumnya Luna sempat bangun sambil nangis. Di sela-sela tangisnya dia bilang kalau badannya enggak enak. Oleh Yusuf, Luna langsung diminumin antimo anak. Tangisnya enggak langsung berhenti sih, harus digendong dan dielus-elus dulu punggungnya baru dia tidur lagi.

Bener-bener, udah lama banget saya enggak merasakan keampuhan antimo. Entah bakal jadi apa perjalanan mudik saya tanpa antimo.

Bus kembali berhenti sekitar jam 2 malam, kali ini di restoran khusus bus-bus sumber alam. Saya tentu saja turun untuk mengosongkan menscup. Yusuf enggak turun blas, cuma minta dibeliin minum yang seger-seger. Dia sendiri sahur di dalam bus karena memang kami sudah sedia makanan.

Sekitar jam 6 pagi kami semua sudah bangun, begitu juga penumpang lain. Saya takjub dan bersyukur bisa melewati ujian musik dangdut yang disetel sepanjang malam.

Hampir lupa, Bus Malam ini punya toilet yang hanya bisa digunakan untuk buang air kecil saja. Penasaran sama penampakannya enggak?

pengalaman naik bus malam sumber alam - ayunafamily.com
Penampakan Toilet di dalam bus malam sumber alam

Melewati daerah Kebumen dan Sukoharjo, para penumpang mulai berkurang. Salah satu nilai plus naik bus, kita bisa request turun di mana, asal dilewati. Sekitar jam 08.00 saya melihat bangunan-bangunan yang tampak familier. Tak lama setelahnya, kami sampai di perempatan dongkelan, turun di sana.

Oh iya, kali ini Yusuf menyiapkan uang sepuluh ribu untuk crew yang membantu menurunkan barang. Duile, nominalnya dinaikin biar enggak ditolak lagi eui.

REVIEW JUJUR BUS MALAM SUMBER ALAM

Total perjalanan adalah lima belas jam, sudah termasuk transit di dua tempat untuk istirahat.

Untuk kali ini, review saya jelas enggak bagus. Mulai dari armada, kenyamanan sampai pelayanan dari crew, nilainya ble’e semua. Enggak sebanding dengan harga.

Yusuf bilang, harga 320ribu memang khusus tuslah aja kayaknya, harga normal untuk kelas eksekutif sumber alam cuma 180ribu. Hmm… mendengar penjelasan dia, saya mulai maklum. Meski tetep bete.

Tapi yaudah, setidaknya saya bersyukur sekali karena kami sekeluarga bisa sampai Jogja dengan sehat walafiat tanpa kekurangan satu apapun. Allah juga memberi kemudahan lain, anak-anak blas enggak rewel. Hanya Luna yang sempet nangis karena mabok perjalanan, itu pun langsung teratasi. Yuan dan Aylan anteng-anteng aja.

Apakah akan mencoba lagi naik bus malam sumber alam?

No. Kecuali emang enggak ada transportasi lain alias udah kepepet banget nget nget nget. Mending berjuang nyari tiket kereta bisnis.

Tapi, semisal teman-teman memang terbatas banget secara finansial, naik sumber alam bisa jadi pilihan. Abaikan aja yang saya tulis, toh ini hanya opini personal. Bisa jadi penumpang lain suka banget sama dangdut pantura, sehingga naik bus malam dengan iringan dangdut selama perjalanan tidak masalah baginya.

Oh ya, saya juga berharap agar tulisan ini dibaca oleh pihak Sumber Alam dan bisa dijadikan masukan untuk memperbaiki pelayanannnya.

Nah, sekian saya sharing kali ini ddi tulisan berikutnya saya akan menulis tentang pengalaman naik bus malam lagi, tapi dengan armada dari perusahaan yang berbeda. Nantikan ya!

Ajeng Pujianti Lestari

Ajeng Pujianti Lestari

Blogger | Mother

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris :). Untuk kerja sama silakan menghubungi ajenghimme@gmail.com

19 Comments

  1. Tanti Amelia

    Sabaaaaarrrr sampai lebaaaar ya mbak. Saya sendiri pernah terpaksa naik bus malam dari Yogya ke Tangerang. Pengalaman sih sebelumnya waktu sama rombongan, udah ngga enak, jadi mempersiapkan diri untuk se-ngga enak mungkin.

    Allah berikan kemudahan dengan tidur semalaman setelah minum Antimo dan menutup bolongan AC yang jebol menggunakan hansaplast!

    Sumpah kalo boleh mending naik kereta saja . Untung anak anak ga rewel ya mbak

    Reply
    • Om Koodok

      inginnya seh gitu ,tapi kampung saya maih jau dari stasiun. Bus ini yang masih bisa diandalkan.

      Reply
  2. Djangkaru Bumi

    Kok ya sama dengan keluhan yang saya rasakan. Kalau saya naiknya dari pool Bekasi, Paku. Sumber Alam tetap jaya karena belum ada saingan yang begitu mencolok.
    Bus nya tampak sudah menua. Bahkan saya pernah beli yang mahal, eh pasa hujan ketetesan alias bocor.
    Semoga saja, sumber alam mau meningkatkan kualitas dan mutu armadanya.

    Reply
    • Antung apriana

      Sayang banget ya kondisi bisnya kurang memuaskan gitu. Kalau aku terakhir kali naik bis antar kota itu waktu ke samarinda beberapa tahun lalu. Nekat banget naik bis sendirian dan lumayan ada pengalaman nggak mengenakkan juga jadinya

      Reply
  3. maya rumi

    aq malah sebaliknya mbak udah lama banget gak mudik dengan bis, merasa nggak nyaman dengan lamanya perjalanan dan memilih untuk nggak mudik kalau harus naik bus karena jakarta -solo jaraknya jauh sekali dan makan waktu lebih panjang lagi kan, duh nggak sanggup untuk berada di bus selama itu.

    Reply
  4. Visya

    I FEEL YOU KAK! Haha sory out of control. Sebenarnya aku biasa mudik naik bus ke kampung bapak di Jepara krn memang akses yg paling memungkinkan ya cuma bus tp bus yg kita naik selalu bus bagus. Tempat duduk ya nyaman, ada selo Johan kaki, ada Coffee breakfast, full ac, full wifi. Nah suatu kali kita mendadak mudik, terpaksa naik bus seadanya. Masya Allah ternyata sampe 24 kam di jalan yg biasanya cuma 12 jam. Krn itu emang ke Semarang dlu ga lgsg ke Jepara. Udah busnya sangat ga nyaman, bangkunya rusak. Kapok pok pak!

    Btw liburan lebaran kemarin aku juga ke Wonosobo naik bus bawa baby alhamdulillah berangkat lancar jaya bocah tidur semaleman. Eh pas pulang kaki bengkak krn bocah ga mau dipangku ayahnya wkwk

    Harganya wow banget bisa banget tuh operator bus nyari untung #geram

    Reply
  5. Bety Kristianto

    Hihihi aku pernah punya pengalaman mirip-mirip mba. Cuma waktu itu aku masih single. Jadi masih nggak seberapa hebohnya hahaha. Cuma nggak lagi-lagi deh naik bis antara kota untuk itungan puluhan jam kayak dulu. Apalagi bawa anak huhuhu…

    Reply
  6. Sumiyati Sapriasih

    aku juga pernah naik bus ketika kunjungan ke rumah anak di semarang, sebuah review yang menarik dan lengkap kakak. terima kasih ya kak infonya

    Reply
  7. Yanti

    Aku dah lama mbaa mudik gak naik bis soalnyaa suka mabuk heheh baca uraian mbaa aduh saya penasaran mau naik bis nih anak2 jga dah gede sih paling mau ngerasain naik bis lagi

    Reply
  8. Fenni Bungsu

    Kalau naik bus di malam hari terus bepergian daku belum pernah, tapi kalau dari pagi sampai malam terus sampai pagi lagi pernah waktu ke Jogja sama ke Padang

    Reply
  9. Rani

    butuh kesabaran banget ya mba naik bus sumber alam. pantas banyak yang sudah meninggalkan

    Reply
  10. Natra rahmani

    Waaah liat fotonya kok aku langsung bayangin gimana ya. Tidak bersih dan gak banget buat dibawa berpergian jauh begini. Duuuh pengalaman sekali ya kak ajeng.

    Reply
  11. Kartika Indah

    Rasanya sudah lama sekali ga naik Bus…dan sepertinya asik juga ya naik Bus keluar kota sama anak anak, one day saya mau coba juga jalan jalan dengan bus

    Reply
  12. Dian Restu Agustina

    Baca cerita Madam A jadi pengin naik bis lagi hihihi. Kebalikan.justru awsl tinggal di Jakarta mudiknya aku naik bis..karena itu yang paling bisa dibeli tiketnya. Karena pertama kali memang dah ambil cicilan rumah jadi jatah mudik ya cuma pakai bis kuatnya.

    Reply
  13. Irra Octaviany

    Haduh, engga deh kalau aku disuruh naik bis. Suami ngajakin ke kampung halamannya di labuan, banten naik bis, gegara ada bis baru jurusan bandung-labuan. Tapi kayaknya engga deh. Walau mungkin pelayanan di sini gak seburuk bis trans jawa, tapi tterp enggaaaa… pegelnya itu loooohhh… huhu. Gak kuat akuuu

    Reply
  14. Nurul Dwi Larasati

    Aku jadi ngebayangin mumetnya kamu naik bus ini. Kenapa ga pilih Sinar Jaya atau Lorena? Itu bagus lho busnya, aku pernah naik, tapi bukan ke Yogya sih.

    Reply
  15. Diah

    Lain kali kalau terpaksa naik bus ini lagi harus nyiapin penutup kuping dan mata juga sekalian ya Mbak, heheheh. Kenapa coba gak nyalain ceramah atau apalah gitu ya yg bisa buat nyaman perjalanan apalagi Ramadhan gitu. Mungkin biar pak supirnya tetap melek sepanjang jalan karena musik dangdut super kencengnya itu kali yah.
    Eyaatapii, itu toiletnya lumayan bersih ya Mbak kelihatannya, gak bau juga kan ya? Hihihih

    Reply
  16. Antung apriana

    Sayang banget ya kondisi bisnya kurang memuaskan gitu. Kalau aku terakhir kali naik bis antar kota itu waktu ke samarinda beberapa tahun lalu. Nekat banget naik bis sendirian dan lumayan ada pengalaman nggak mengenakkan juga jadinya

    Reply
  17. Ima satrianto

    Wah aku belum pernah naik bis yang ada toiletnya begini. Makasih ya ceritanya, jadi bisa siap-siap kalau nanti bepergian pakai bus.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

Categories