LIMA PENYEBAB ANAK BERBOHONG, ORANG TUA WAJIB TAHU!

lima penyebab anak berbohong

Mari, belajar lagi menjadi orang tua

Madam A

Orang tua pasti marah kalau tahu anak berbohong. Tapi, pernah enggak sih kita-kita ini sebagai orang tua bertanya ke diri sendiri, kenapa ya anak kita sulit untuk bicara jujur?

Ada aksi, ada reaksi. Children see, children do. Anak-anak kita terlahir dalam kondisi fitrah. Tidak ada anak nakal, anak menyebalkan, anak kasar, anak tidak sopan, dan anak-anak dengan perangai buruk lainnya. Kita yang membentuk mereka, pola asuh kita yang membuat perilaku-perilakunya menjadi keliru. Saya selalu ingat sebuah pepatah,

“Hati-hati menunjuk anak kita. Satu jari mengarah ke dia, empat jari mengarah ke kita.”

Saya sendiri menyadari, ketika anak bersikap menyebalkan, itu pasti karena saya duluan yang berperilaku menyebalkan di hadapan mereka. Anak-anak hanya meniru saja. Meski enggak jarang saya membela diri, kayaknya saya enggak semenyebalkan itu deh? Well, benarkah? Jangan-jangan malah saya nih yang lebih menyebalkan dibanding mereka? Huhu.

Inilah alasannya kenapa saya berusaha untuk tidak pernah berhenti belajar ilmu parenting. Menjadi orang tua itu begitu sulitnya. Harus sabar, harus pintar, harus, senyum, harus bisa melakukan apapun, pokoknya harus banget jadi superhero di depan anak-anak.

Lelah? Enggak. Saya melakukannya karena saya cinta sekali sama anak-anak. Mendidik anak di jaman sekarang ini tantangannya luar biasa. Enggak jarang saya merasa keder. Saya takut dan khawatir tidak bisa memberikan cukup ilmu yang mampu membuat mereka kuat menghadapi kehidupan.

Nah, beberapa hari yang lalu @roemah.emak dan Ibuk Safithrie Sutrisno melakukan Live IG dan ngobrol-ngobrol seputar parenting. Tema yang diangkat adalah ‘Anakku Suka Berbohong?

Huwaa, mantulita temanya! Relate banget sama yang saya rasakan akhir-akhir ini. Anak sulung saya, Si Abang Yuan naga-naganya mulai sering enggak jujur. Saya cemas kalau ketidakjujuran ini berlangsung lama, hiii amit-amit. Jangan sampai ya Allah, huhu.

APA ITU BOHONG?

Bohong alias dusta alias palsun, menurut KBBI daring artinya tidak sesuai dengan hal sebenernya.

Berbohong adalah berkata berat badan lima puluh kilo, padahal berat aslinya enam puluh kilo. Eh, itu saya ding *emot tutup muka*

Berbohong adalah bilang enggak cinta, padahal sebenernya cintaaaaa banget. (lah, itu mah kelakuan sua…*hilang sinyal*)

Berbohong adalah bilang masakannya enak, padahal aslinya kelebihan garam. *eh

anak berbohong karena

Hahaha, enggaak ding. Pokoknya, berbohong itu kalau kita bilang akan pulang kantor cepet padahal kita tahu kalau kita akan pulang telat karena mampir shopping dulu.

Berbohong itu ketika kita janji akan membelikan mainan besok, ketika anak menangis meraung-raung minta belikan mainan sekarang. Padahal memang tidak ada niatan untuk membelikan mainan sama sekali.

Berbohong itu ketika kita janji akan ngajak anak jalan-jalan sebagai iming-iming supaya kita bisa kabur bentar hang out sama teman-teman. Padahal ya memang tidak merencanakan untuk jalan-jalan bareng anak sama sekali.

Berbohong itu…hmm, coba teman-teman lanjutkan deh. Jujur, semakin lama semakin saya nyesek. Begitu banyak kebohongan-kebohongan yang secara sadar ataupun tidak, pernah kita lakukan ke anak.

MENGAPA ANAK BERBOHONG?

Saya menyeret Yusuf, suami saya, ketika menyimak pembahasan materi ini. Iya, saya tipe yang selalu melibatkan suami dalam hal pengasuhan. Setiap ada kelas parenting baik online maupun offline, sebisa mungkin dia saya hadirkan. Pokoknya selama namanya adalah parenting, bukan motherthing atau fatherthing, dia wajib tahu.

Nah, setidaknya ada lima penyebab yang bikin anak berbohong. Kelima hal itu adalah :

1. Takut Dimarahin.

Hati saya mencelos, ingin rasanya menampar diri sendiri. Dulu, saya berbohong karena takut mama atau papa marah. Sekarang, saya melakukan hal yang sama. Saya sering marah-marah.

Saya biasa saja ketika dia melakukan hal yang benar, dan mudah sekali marah ketika dia salah. Padahal, kesalahan-kesalahan yang dia lakukan pun bukan sesuatu yang fatal, masih bisa diperbaiki. Tapi saya hanya menunjukkan kemarahan demi kemarahan.

Menghadapi orang yang mudah marah itu melelahkan. Enggak heran Yuan jadi lebih memilih untuk berbohong. Dia takut, dia capek, dia bosan menghadapi ibunya yang seperti petasan yang mudah tersulut dan meledak.

2. Meniru Orang Tua.

Pada poin ini, Bu Fithrie meminta maaf terlebih dahulu karena harus menyampaikan sebuah fakta : Ibu yang bekerja adalah yang paling sering melakukan kebohongan.

Tentu tidak semua ibu yang bekerja seperti ini. Saya memahami betapa sulitnya seorang ibu yang pagi-pagi mesti berpisah dari anak. Tak jarang mesti sembunyi-sembunyi, kucing-kucingan sama anak. Anak dipegang pengasuh diajak bermain di luar dan ibu mesti berangkat seraya berjingkat-jingkat supaya tidak terlihat dan memicu drama.

Sepintas hal ini terlihat menjadi solusi, tapi tahukah teman, kalau ini terus-menerus ilakukan, maka anak akan belajar untuk berbohong. Suatu hari nanti, ketika mereka membesar, mereka yang akan berjingkat-jingkat pelan untuk kabur keluar dari rumah tanpa sepengetahuan kita. Apakah kita mau hal itu terjadi?

Saya membayangkan betapa besar rasa sakit hati yang akan saya rasakan kalau anak pergi diam-diam, tanpa ijin. Nah, rasa sakit hati ini pastilah dirasakan juga oleh anak kita. Pernah enggak kita mikirin itu?

Huftthh…

Lalu, bagaimana solusinya? Akan saya tulis nanti, sekarang kita fokus ke penyebab dulu ya.

3. Jarang Diapresiasi, Jarang Dihargai.

Bentar, saya mesti exhale-inhale dulu. Entah kenapa semakin jauh mendengarkan pemaparan Bu Fithrie, saya kok makin berasa sesek. Kayak ditunjukin dengan jelas betapa banyak kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat, Allahu…

Anak yang jarang diapresiasi atau dihargai sama orang tuanya cenderung akan lebih pendiam. Buat apa? Toh kalau menunjukkan keberhasilan, respon orang tua paling, “Halah, gitu aja seneng. Tuh si ono, udah lebih bagus karyanya.”

Coba kalau kita yang digituin, antara ngamuk atau nangis darah mesti. Padahal, apresiasi sangat penting untuk membangun self esteem atau rasa percaya diri anak-anak kita.

4. Sering Dikoreksi, Sering Disalahkan.

Aaaaaaaa! Ini sering banget saya lakukan ke Yuan Ya Allah. Saya sering banget komentar, “Bang, kok kamarnya begini sih?” sedangkan saat itu dia baru saja merapikan kamar.

Pernah dia membantu saya cuci piring, tapi alih-alih berterima kasih yang keluar dari mulut justru, “Abang, lantainya basah banget. Itu masih ada sisa sabun di gelas nak.”

Ya Allah, Ya Allah, pasti patah banget hati anak itu. Saya menyesal luar biasa, padahal bisa saja saya mencium dan memeluknya terlebih dulu sambil bilang terima kasih. Setelahnya baru deh mengingatkan dia itu kembali membilas gelas yang masih bersabun.

Enggak heran dia jadi menolak untuk melakukan sesuatu. Buat apa?

5. Melindungi Teman

Nah, siapa yang jaman kecilnya pernah melakukan ini? Berbohong atas dasar rasa setia kawan #tsaaahh. Rasa-rasanya hampir semua anak pernah ya.

Meski tujuannya baik, kita tetap harus memberi penguatan pada anak bahwa kejujuran menjadi hal yang harus kita junjung tinggi.

BAGAIMANA MENCEGAH ANAK BERBOHONG?

Nah, lima penyebab anak berbohong sudah dipaparkan. Saya yakin teman-teman jadi punya banyak pertanyaan. Gimana caranya supaya anak mau bicara jujur?

mencegah anak berbohong

Setidaknya, ada dua hal utama yang bisa dilakukan oleh orang tua :

1. Orang Tua Wajib Jujur

Kalau enggak mau anak bohong ya orang tuanya jangan bohong. Sesimpel itu.

Simpel tapi beraaaattttt banget prakteknya. Contohnya nih, ketika kita mesti pergi tanpa bawa anak-anak. Apa yang mesti dilakukan? Kalau jujur kita mau pergi, ditangisin. Enggak jujur, ngajarin bohong. Harus gimana ya looorrdd?

Well, saya diajarin sama Bu Fithrie, lebih baik meninggalkan anak menangis tapi kita pamit baik-baik di depannya, daripada pergi diam-diam. Ya, anak pasti sedih, ya, anak pasti menangis, itu wajar banget. Ibu adalah orang yang paling diinginkan anak untuk selalu dekat, kalau ditinggal ya kecewa.

Saya mencoba praktek ini, sehari sebelum pergi saya tektokan sama Yusuf. Saya bilang ke dia, besok ada acara sendiri dan anak-anak mesti quality time sama dia. Begitu juga dengan anak-anak, sejak malam saya sudah sounding ke mereka.

“Mama besok pagi mau pergi karena ada acara. Kalian di rumah main sama ayah ya.”

Saya sounding ini di malam dan pagi hari, dengan wajah ceria dan hati yang gembira. Anak-anak antara sadar dan enggak ketika saya bicara. Nggak papa, setidaknya sudah terbentuk konsep di kepala mereka bahwa ibu mau pergi keluar dan mereka main di rumah sama ayah.

Pagi harinya ketika saya mau pergi, mereka enggak terlalu sedih dan kecewa. Paling-paling cuma tanya, “Mama jadi pergi?” gitu.

Kalaupun ada yang nangis, biasanya yang bungsu. Dia memang nempel banget sama saya. Ketika nangis, si Aylan, nama si bungsu, digendong oleh ayahnya. Sesekali dia mencoba untuk menarik atau menggapai-gapai, mencegah saya pergi. Saya peluk dan cium dia lama, saya katakan bahwa setelah acara nanti saya langsung pulang dan kami akan main bersama.

Meski diiringi isak tangis, saya tetap pergi. Biasanya begitu sudah duduk manis di KRL, saya akan mengirim pesan ke Yusuf, bertanya kondisi di rumah. Yusuf bilang, Aylan juga berhenti nangis tidak lama setelah saya berlalu.

Nah, ini poin yang harus digaris-bawahin, anak pasti nangis, anak pasti rewel, tapi percayalah, enggak akan lama. Dengan cara ini, ada dua keuntungan yang kita dapatkan.

Pertama, orang tua bersikap jujur dan mengajarkan kejujuran. Kedua, secara tidak langsung anak belajar mengelola rasa sedih dan kecewa yang dia rasakan.

2. Apresiasi, Apresiasi, Apresiasi

Beneran deh, sejak menyimak materi ini, saya kembali belajar untuk berhenti mengoreksi. Maka benarlah salah satu hadist yang mengatakan lebih baik diam daripada bicara tapi menyakitkan hati.

Saya menyadari kalau saya cukup sering bersikap merendahkan ke anak. Contohnya ketika dia berinisiatif untuk mengerjakan PR tanpa disuruh, saya berkomentar, “Tumben.” Itupun masih ditambah ekspresi menghina, kayak enggak percaya kalau dia bisa gitu loh.

Saya lupa, kalau sikap seperti ini sangat berpotensi menyakiti hatinya. Pengen sih berdalih bilang bercanda, tapi masak iya bercanda malah nyakitin hati? Bercanda kan tujuannya bikin lawan bicara tertawa, bukan sedih.

Nah, Bu Fithrie juga kembali memberikan tips. Coba deh perhatikan dua kalimat tanggapan di bawah ini.

Situasi : Anak mengerjakan tugas

Tanggapan 1 : “Oh, kamu udah ngerjain PR?”

Tanggapan 2 : “Wah Masya Allah, anak mama solih sudah ngerjain PR Boleh Mama cek PRnya nak? Mama khawatir ada yang salah.”

Nah, dari dua tanggapan di atas, mana yang terdengar lebih baik? Teman-teman pasti bisa menilai kan ? Hehe.

Jadi, tanggapan yang kedua ini kesannya meninggikan anak, dan ingin membantu. Siapapun yang mendengar pasti merasa nyaman dan senang bukan?

YUK, MULAI BERUBAH!

Kepengen anaknya bicara jujur kan? Kepengen anak berhenti berbohong kan? Cara terbaik merubahnya adalah dengan mengubah cara kita memperlakukan mereka.

Kita dulu yang berubah, anak-anak pasti mengikuti. Saya yakin sekali kalau teman-teman adalah ibu yang hebat, ayah yang tangguh, orang tua yang luar biasa mencintai anak-anak. Karena itu, meski susah, meski penuh drama, mari kita mulai untuk belajar jujur pada mereka.

5 Comments
  1. October 31, 2020
  2. November 5, 2020
  3. November 5, 2020
  4. November 10, 2020
  5. November 18, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *