Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

GALAU ANTARA PESANTREN ATAU SEKOLAH UMUM? BACA INI DULU

GALAU ANTARA PESANTREN ATAU SEKOLAH UMUM? BACA INI DULU

Pesantren atau sekolah umum keduanya sama-sama baik, yang enggak baik itu kalau orang tuanya berlepas tangan dalam hal mendidik anak.

– Madam A –

Assallammuallaikum, halo semuanya apa kabar?

Enggak kerasa sekarang udah bulan Juli aja nih. Bulan di mana tahun ajaran baru dimulai. Selama sebulan terakhir, timeline Facebook agak penuh dengan berbagai opini maupun pengalaman para orang tua yang mengalami peraturan penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi.

Saya sendiri baru kemarin sabtu menghadiri wisuda TK si sulung. Ya ampun, sekolah jaman now, TK aja pakai wisuda segala. Kebayang enggak sih betapa repot para guru ini harus mengondisikan anak-anak agar tetap duduk selama prosesi wisuda berjalan? Luar biasa pokoknya.

Anyway, sebenarnya tulisan ini mangkak agak lama. Saya merasa on off tiap kali mau lanjut nulis. Maklum, topiknya agak sensitif. Sesensitif saya yang lagi galau karena hari ini kok belum juga kedatangan tamu bulanan, huhu. (please jangan tanya apakah saya hamil atau tidak, please!)

Kembali ke soal sekolah. Tulisan ini dibuat sebagai rangkuman dari status yang saya buat saat Ramadhan kemarin. Ceritanya, saya membaca sebuah tulisan pendek milik gurunda Ust. Harry Santosa. Terus bikin status, ealah ternyata jadi ramai. Banyak yang nimbrung. Asyik banget.

Namun sebelum menulis lebih jauh, saya mau kasih disclaimer dulu ya. Supaya enggak ada salah paham diantara kita. Tapi kalau lemper atau arem-arem pake rawit gendut, boleh lah yauw.

Saya berjuang sekali untuk menulis tentang hal ini dari dua sudut pandang. Istilah asoy-nya sih cover both sides, supaya berimbang. Biar tidak ada yang baper. Jadi, pastikan membaca sampai habis sebelum mengeluarkan komentar apapun.

Saya termasuk dalam golongan yang suka sebel sama orang yang belum juga selesai baca langsung ngeluarin komentar aneh-aneh, dan menuduh macam-macam. Jangan dong ah, sedih betul hati Marimar nanti.

Selanjutnya, tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan pihak manapun. Tidak sama sekali. Saya memiliki keyakinan bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Sehingga ketika A memilih sekolah umum dan B memilih pesantren keduanya tentu sama-sama baik.

Orang tua memiliki alasan tersendiri, tidak bisa disamakan tidak bisa dipaksakan karena setiap keluarga kondisinya unik.

Intinya adalah, mari mengosongkan gelas sebelum membaca serta budayakan bahwa ‘sepakat untuk tidak sepakat’ adalah pilihan yang terbaik bila kita berseberangan pendapat.

***

Jadi gini *benerin arah kamera*

Waktu itu saya menulis status “Kalau baca komen-komennya Ust.Harry Santosa jadi kepikiran, jangan-jangan cuma aku yang enggak berpikir sekolahin anak di pondok?”

Udah. Gitu aja. Sebuah status yang menurut saya simpel. Namun qadarullah, teman-teman yang berkunjung memberi komentar cukup banyak sehingga tahu-tahu status receh ini jadi agak berbobot untuk disimak. Berbobot karena tidak ada perang di dalamnya, malah saling memberi masukan.

Saya menulis status demikian karena sampai detik ini saya memang tidak pernah kepikiran untuk menyekolahkan anak-anak ke pesantren. Kenapa? Karena kata pesantren tidak terlalu familiar dalam keluarga. Papa dan mama tidak pernah bertanya atau memperkenalkan saya pada dunia pesantren.

Saya sendiri bisa disebut “anak negeri”. Sejak jaman SD sampai kuliah ngejarnya negeri terus. Lumayan, banyak sekolah negeri di dekat rumah. Apalagi biayanya masih terjangkau bagi papa dan mama yang punya anak 4 orang.

Jaman dulu enggak ada tuh sistem zonasi, adanya sistem tahu diri. Saya cukup sadar dengan kemampuan kognitif saya sejauh apa sehingga enggak muluk-muluk ngejar sekolah favorit. Prinsip saya saat itu, lebih baik jadi ikan besar di kolam kecil daripada ikan kecil di kolam besar.

Pokoknya, mending jadi kece di sekolah biasa, daripada jadi burik di sekolah favorit. Meski endingnya saya tetap berada di dalam tim anak yang biasa-biasa saja. Adalah sebuah berkah yang selalu saya syukuri ketika tahu kalau saya tetap bisa menempuh pendidikan sarjana di salah satu universitas terbaik di Indonesia yang ada di Jogja.

Sekolah Umum dan Perilaku di Rumah

Walaupun tinggal bersama orang tua, saya tidak dimanjakan oleh papa dan mama. Bahkan, ketika SD saya sudah diajari berwirausaha. Kebetulan saat itu kami memiliki kios persewaan buku komik dan novel. Untuk mendapatkan uang jajan tambahan, saya diharuskan membantu berjaga di sana, melayani para penyewa buku.

Saat kecil saya juga sudah terbiasa memasak sendiri, cuci piring, bahkan cuci pakaian. Tidak selalu, tapi tangan kecil ini bisa melakukannya kalau memang kepepet. Saat mama sedang pergi, sayalah yang mendapatkan tugas untuk bersih-bersih.

Jaman SD saya dilatih bersepeda dan diberi tahu cara naik bis. Papa dan Mama membelikan sepeda untuk saya agar bisa berangkat sendiri ke sekolah. Padahal sekolah saya jaraknya lumayan jauh dari rumah, lewat jalan besar pula. Tapi kok ya mereka percaya-percaya saja kalau saya dan kakak-kakak saya akan baik-baik saja.

Lompat ke masa SMA. Saat itu saya jarang punya waktu luang. Selain karena mengikuti berbagai kegiatan di sekolah, tugas juga cukup banyak. Gayanya sih sok mengeluh, padahal hidup dengan kesibukan yang berfaedah itu nikmat sekali. Kemudian, naik ke kelas 3 yang mana mau tidak mau fokus belajar untuk kelulusan karena kurikulumnya ganti melulu.

Cinta? Hmm…ya ada sih suka-sukaan gitu. Tapi enggak perlu dibahasalah, enggak penting. Saya kok alergi mengorek masa lalu sendiri, wkwkwk.

Selama masa SD sampai kuliah ini saya menyadari kalau papa dan mama memberikan seuatu yang begitu berharga pada saya : kepercayaan.

Mereka percaya bahwa saya mampu menjaga diri. Mereka percaya bahwa saya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka percaya bahwa saya bisa mengambil keputusan sendiri. Mereka percaya kalau saya tidak akan merusak kepercayaan mereka dengan hal-hal negatif yang bisa merusak martabat keluarga.

Jadi, mereka jarang sekali melarang saya berkegiatan. Saya mau di kampus sampai malam karena kumpul kelompok atau menonton konser jazz pun mereka fine. Syaratnya cuma satu, saya memberi kabar agar tidak membuat mereka khawatir.

Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah, meski bersekolah di sekolah umum dengan orang tua yang tidak memberi pengawasan 24 jam full atau pendidikan agama yang pas-pasan banget, alhamdulillah sekali saya bisa hidup cukup lurus dan normal.

Meski saya tinggal bersama orang tua, saya tetap dipaksa untuk mandiri. Jarang sekali dimanjakan dengan ini dan itu. Saya juga pernah melakukan kesalahan, sering malah. Tapi saya belajar banyak dari Papa dan Mama yang tak pernah letih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Saya merasakan betul bagaimana Papa dan Mama telah berhasil menumbuhkan fitrah dan bakat saya dengan cukup baik.

Tapi saya enggak berani sombong. Saya, yang cuma remah-remah rempeyek di dasar palung mariana, bisa cukup sukses menjalani hidup atas ijin Allah. Dan juga doa tanpa putus dari orang tua. Malah, saya kok yakin selama ini bisa jauh dari marabahaya pergaulan dan sebagainya itu justru karena Mama Papa selalu menyebut nama saya di dalam rintihan doa mereka.

PESANTREN ATAU SEKOLAH UMUM, PILIH YANG MANA?

Lompat ke masa sekarang. Pilihan sekolah rasanya semakin banyak saja. Tidak jarang orang tua harus survey-survey dulu sebelum memutuskan di mana si anak akan bersekolah. Eh tapi, sebelum menentukan di mana, kita masih berhadapan dengan pertanyaan mau ke nyantri atau umum aja?

pesantren atau sekolah umum? ayunafamily.com
source : pixabay

Supaya punya gambaran, coba saya rangkumkan dari komentar di status saya di Facebook. Ada 29 orang yang berkomentar tentang pilihannya. 13 orang memilih sekolah umum, 2 orang berniat memondokkan anaknya di Pesantren, 4 orang berbagi pengalaman tentang anaknya yang sekolah di pesantren, 7 orang memilih untuk tidak memilih, dan satu orang menjawab enggak nyambung.

Mari simak alasan teman-teman yang ingin menyekolahkan anak mereka di sekolah umum :

Kalo memang harus mondok gitu, aku beraninya klo anak pas SMA. kalo usia SD / SMP pengennya bondingnya yg kuat dulu dari aku dan aku harus ngasih pondasi yg kuat dulu sama anak. Karena tugas utama pendidikan anak kan ortu ya bukan sekolah/lembaga pendidikan lain. Eh tp itu aku ya tiap orang beda2 πŸ™. Khawatir komen aku ini menyinggung orang lain πŸ™ˆ

Sama aku juga mba ajeng, pernah beberapa kali aku cerita dan sounding tentang pondok pesantren. Anaknya gak mau πŸ˜…

Anakku yang gede pas SMA mbedignya minta ampun tapi gak membuat aku berpikir untuk mondokin adeknya. Justru aku belajar anak abg fitrahnya seperti itu. Sekarang ya ngalamin lagi. Biarlah perlekatan itu ada. Dicari anak-anak, dicemberutin anak-anak, didiemin anak-anak. Ibu dan ayah ada untuk kalian dalam susah dan senang

Melihat kondisi keluarga dan anak, aku nggak ada niat mondokkin anak. Biarlah anak kuasuh lewat tanganku sendiri, dibawah pengawasanku sendiri. Kalau mau pintar agama, tinggal panggil guru privat Insya Allah pintar juga. Fokusku malah mereka harus seimbang antara ilmu dunia sama akhirat, jangan berat sebelah. Bahaya nanti.

Menurut aku sih pembentukan karakter anak paling baik bersama orang tua ya. Itu yg akan membentuk kepribadian anak sampai dia dewasa.
Bersama orang tua keteladanan lebih alamiah dan nyata.

Pendidik anak terbaik adalah ortunya. Pesantren itu juga banyak macamnya, kita harus lihat sistem pendidikan disana. Guru-gurunya dan banyak lainnya. Jangan sampai, niat baik kita supaya anak bisa lebih baik, malah jadi bumerang.

Aku pengennya anak mondok bareng Bapak Ibunya.klo anak mondok sendirian,tapi orang tuanya gak ikut belajar,rasanya kurang greget gituπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Aku juga ga pengen anak mondok. Apalagi anak cuma semata wayang. Bayanginnya aja ga sanggup.

Kalau kami tipe keluarga yang masih senang ngumpul bareng. Ya emaknya, ya anaknya. Mungkin nanti kalau udah SMA si anak mulai bosen direcokin emaknya. Jadi milih tinggal rada jauh dari ortunya. Ha…ha… Sekarang sih masih seneng ngumpul dan curhat setiap hari.

Saya juga enggak kok, mbak. Gak ada jaminan apapun kualitas anak jauh lebih baik setelah mondok. Depend on the family. Sedangkan menurut saya (yg saat remaja tanpa ortu) kasih sayang, pengawasan orangtua sangat penting bagi anak remaja. Suami yang lulusan pesantren juga setuju soal ini. Jadi kami sepakat, anak-anak tetap bersama kami sampai usia dewasa.

Nggih. Dalem nggak mau mondokin anak sejak kecil. Pengin “megang” mereka sendiri sampai dia mandiri: bisa ngaji dan baca pertama dari emaknya, bisa diskusi dan ketrampilan apapun pertama dari emak bapaknya, bercerita kapan pertama mimpi basah, kapan pertama jatuh cinta ya ke emak bapaknya. Meski tiap puasa dalem pondokin sih. Dua puluh hari aja. Biar dapet aura pesantren. Tiap Ramadhan. Cuma kalau sudah kuliah, harga mati harus nyantri. Harus jadi lelaki dan calon imam yang santri. Mohon doa nggih untuk L dan D πŸ™‚

Nah, teman-teman yang lain mengemukakan pendapat mereka tentang pengalaman anak atau kerabatnya yang mondok :

Anak saya mondok, Alhamdulillah bonding tetap jalan. Setiap pekan komunikasi, baik langsung maupun via guru. Sekarang pengurus OSIS di sekolah. Ahlaknya sangat baik, mandiri, berprestasi. Insya Allah semakin soleh dan punya pengetahuan agama yang cukup untuk kelak menjadi imam.

Dulu mbak masuk pondok karena kemauan dia sendiri, itupun ditaruh di pondok deket rumah mbahnya, jadi sering ditengok, dan kamipun jadi sering banget pulang, nyaris sebulan or dua bulan sekali. Justru karena di pondok dia jadi lebih menghargai setiap pertemuan kami, adek and masnya. Now dia kost sendiri, dan kamipun tetep seriiinngg banget pulang, nengok dia. Dia jadi pribadi yg mandiri, ke mana2 ngebis sendiri mengunjungi teman2 pondoknya yg tersebar, juga jadi lebih hangat, penyayang…., Oh ya cuma setahun pertama di pondok dia agak sulit menyesuaikan diri😊😊

Ponakan saya semenjak masuk pondok juga lebih mandiri, bisa menghargai uang, lebih sayang sama orang tuanya. Malah kalau dia curhat dia merasa bisa lebih mengekspresikan dirinya. Alhamdulillaah kemarin ikut Wisuda Tahfidz Nasional. Ini masuk SMA dibebaskan mau kemana. Malah milih yang lebih jauh. Kalau sebelumnya mondok di banten, SMA nya malah milih ke Tebu Ireng jombang Jatim. Proses dia masuk ke Tebu Ireng juga diurus sendiri. Berangkat dari jakarta naik kereta bareng temen-temennya. Sampai tes juga sendiri Alhamdulillaah lolos ke tebu ireng. Setahun pertama mondok, ya begitulah. Minta dijenguk tiap minggu, trus 2 minggu sekali trus sebulan sekali. Kreatif ngelobi pengasuh pondok, satpam sampai pegawai administrasi pinjem Hp buat nelp orang tuanya.

Menurutku kemauan dan kesiapan anak penting. Keponakanku masuk smp mondok, karena kemauan sendiri. Ternyata di pondok diajari mandiri (karena di rumah ada pembantu jadi kurang mandiri) yang awalnya males nyuci sendiri. Di pondok ada sih laundry, tapi kan bayar, dan uang sakunya nge pas, akhirnya belajar nyuci sendiri. Itu salah satu contoh juga. Malah ada temennya yangg buka jasa nyuci lebih murah dari loundry pondok. Belajar bisnis jg. Macam-macam positifnya karena selain ilmu agama diajari skill lain juga yang manfaat buat mereka.
Tetep sih, psikologis anak minimal usia smp lah mondok tuh.
(Di kampung ku ada pondok buat Anak balita – SD. Yang ada aku malah kasian sama mereka kek kurang terawat, ini pondok apa panti asuhan ya banyak anak kecilnya, mereka jd kurang kenal sama orang tuanya sendiri. Lebih mengutamakan ustad nya dibanding ortunya)

Itu sebabnya biar anak ga merasa dibuang dan menghilangkan rasa rindu saya dengan cepat. Saya cari yg cuma 15 menit atau 30 menit paling lama menuju pondoknya. Ga perlu naik kereta atau masuk tol keluar kota. Cukup pesan ojol saya bisa sampai. Dan itu juga kesepakatan kami. Doain, Mba.. saya dan anak saya kuat ya.

Sekarang, mari kita simak pendapat teman-teman lain yang berada di tengah-tengah. Mereka yang menulis ini adalah orang-orang yang saya anggap panutan, lebih senior, lebih banyak pengalamannya, lebih bijaksana. Bisa disimak karena pesan dari mereka berfaedah banget!

Anak yang tidak dipondok pesantrenkan pun, tidak jadi jaminan si orang tua, dan anak, akan benar-benar BENAR tumbuh lekat dan baik fitrah kekeluargaannya. Pertimbangan mesantrenin anak, tidak bisa digeneralisir bahwa si ortu melepas tanggung jawabnya begitu saja. Tiap keluarga beda latar belakangnya, beda pertimbangannya, juga beda keputusan yang diambilnya, termasuk risiko yang muncul setelah keputusan dibuat pun akan berbeda-beda hasil dan juga penerimaan dari si anak maupun ortu itu sendiri. Jadi, kalau saya sendiri, nggak semua teori ust. Hary cocok dan sesuai dengan kondisi keluarga , Misalnya.. 😊 Tapi kalau utk sebagai bahan pertimbangan/diskusi dengan pasangan, masih bisa lah. #edisimilihsekolah

Kalau untuk saya pribadi, semua sekolah (apapun kurikulumnya) itu baik, karena sejak awal diniatkan membangun sekolah pasti untuk kebaikan. Adapun dalam perkembangan prosesnya mengalami up and down, itu adalah bagian dr proses. Tinggal kita sebagai orang tua mencari sekolah yang ‘paling cocok’ untuk karakter anak kita. Nah cari sekolah yg cocok ini yang jadi PR sebetulnya..
Misalnya, sekolah yg concern pada akademis dan eksakta dan kelas akselerasi mungkin sangat cocok untuk anak yang memang dominan otak kiri dan kecerdasan nya di bidang eksakta. Tapi belum tentu cocok untuk anak kinestetik atau anak yang berbakat seni.
Sebaliknya, sekolah alam mungkin tidak sesuai untuk anak eksakta ini. Makanya dalam menentukan sekolah untuk anak, sy tidak berani mendahului takdir dan qodar Allah. Karena setau saya ada dalilnya, apa yang menurut kita baik, tapi belum tentu baik menurut Alloh, demikian juga sebaliknya. Jadi istikhoroh itu sangat penting untuk saya dalam menentukan sekolah mana yang terbaik untuk setiap anak.

Kalau menurutku soal mondok ini sangat kasuistik tiap keluarga. Karena semua contoh ada. Ada yang anaknya jadi baik di pondok. Ada yang anaknya jadi merasa dibuang. Ada yang jadi nakal karena di rumah. Ada yang tetap sholeh di rumah. Semua ada contohnya. Tiap anak dan orang tua adalah yang paling tahu mana yang paling pas buat keluarga mereka.

Komentar terakhir yang mau saya tuliskan di sini datang dari seorang dokter gigi yang pernah praktek di ujung timur Indonesia. Hal yang beliau tuliskan barangkali bisa jadi perhatian kita semua, baik orang tua maupun pengelola pondok.

Masalah sekolah terserah orang tua masing masing sih ya. Aku pernah ketemu pasien anak yang dia ditinggal di pondok dari usia dibawah 5 th, dan pondoknya pondok yang mungkin memang menerapkan hidup prihatin gitu. Makan sedikit lauk pauk seadanya dan bangun sangat pagi tidur agak malam. Si anak yang waktu itu umurnya 8 tahun kelihatan (maaf) kurus banget. Aku ajak ngomong pandangannya kayak kosong. Secara garis besar kaya kurang terawat gitu lah. Memang ada orang yang (maaf) kurang mampu yang menitipkan anaknya ke panti asuhan / pondok yang memang ditujukan untuk orang kurang mampu. Tapi kalau misal masih punya biaya ya kalau bisa anak dalam usia penting pertumbuhannya sebisa mungkin dicukupkan gizi, kasih sayang dan tidur cukup karena hormon pertumbuhan kan maksimal terproduksi saat istirahat. Dan aku bisa lihat pola itu pas aku praktek di sana (tempat disamarkan), aku disana cuma praktek kurang lebih 4-5 bulan. Tapi aku sampe bisa hafal lho tiap anak umur 10-15 tahun-an giginya hampir semua rusak itu pasti sekolahnya di ponpes. Padahal yang rusak parah adalah gigi permanen dewasanya yangg udah ga ada gantinya lagi, miris sedih …

TENTANG PERAN ORANG TUA, BUKAN HANYA PESANTREN ATAU SEKOLAH UMUM SAJA

Semua sekolah, dalam atau luar negeri, nyantri atau pulang pergi, murah atau mahal, semuanya baik. Toh kalau dpikir-pikir lagi, di dunia ini rasanya tidak ada sekolah yang betul-betul sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah saja #tsaah.

Mau anak di sekolah umum ataupun di pesantren, yakinlah kalau orang tuanya mendidik dengan baik, anak pasti baik. Karena tiang pendidikan anak yang paling utama berada di tangan orang tua. *kemudian nunjuk diri sendiri*

Baca Juga : Belajar Menjadi Orang Tua dari Fim Nussa dan Rara

Diakui atau tidak, orang tua jaman now itu egois. Mencari sekolah kalau bisa yang all in. bisa ngasih contoh baik, pendidikan agama baik, pendidikan kognitif baik, bla bla bla harus serba baik. Enggak salah sih, sah-sah saja. Tapi kalau dirinya sendiri sebagai orang tua tidak mau ikutan belajar dan berubah menjadi lebih baik, kan nyebelin. *kemudian nunjuk diri sendiri lagi*

Ini betulan loh. Ketika mencari SD untuk si abang, saya banyak sekali bermuhasabah diri. Ketika saya mencari sekolah ideal dengan kriteria tertentu sebetulnya saya sadar, apa yang saya cari harusnya bisa saya berikan sendiri di rumah.

Saya menginginkan guru yang sabar, tapi sudahkah saya sendiri sabar? Saya mencari guru yang telaten, tapi sudahkah saya telaten ngajarin anak? Saya mencari guru yang bisa bersahabat sama anak, tapi sudahkah saya sendiri menjadi sahabat bagi anak-anak?

*kemudian merenung sambil glundang-glundung*

Saya setuju dengan salah satu pendapat dari sahabat yang saya tulis di atas. Setiap pilihan tentu membawa konsekuensi sendiri-sendiri. Saya misalnya, memilih untuk menyekolahkan anak di SD IT (swasta). Ini berarti saya dan anak masih serumah. Pekerjaan Rumah saya adalah gimana caranya membuat anak-anak tetap merasa dekat dan betah dengan saya.

Karena dekat secara jarak belum tentu dekat secara hati. Kalau kerjaan saya tiap hari cuma ngomel-ngomel pastinya anak enggak bakal betah di rumah. Maunya jauh aja dari rumah, jauh dari mama.

Hal yang sama berlaku untuk orang tua yang anaknya nyantri. Sudahlah terpisah jarak, jangan sampai terpisah hati. Pekerjaan rumah orang tua para santri adalah membuat gimana si anak tidak merasa terbuang saat jauh. Dengan telepon setiap hari, atau sekedar mengirimkan makanan dengan go-food. Lalu, saat si anak di rumah pun orang tua punya PR tambahan, membuat anak merasa betah di rumah.

Selanjutnya tentang niat, jangan pernah lupa untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan. Ketika kita memilih sekolah, niatkan bahwa yang kita lakukan adalah untuk ibadah. Bahwa sekolah tidak hanya mencari dunia saja.

Masalah niat ini terasa penting, setidaknya bagi saya. Saya tuh sering bertanya sama diri sendiri, apa sesungguhnya niat saya menyekolahkan si abang di sini? Supaya bisa nyombong ke orang lain? Supaya kelihatan mampu? Supaya kelihatan keren? Atau supaya dia bisa jadi anak yang shalih?

MELAWAN STEREOTYPE MASING-MASING

Saya sebetulnya tertampar sekali ketika ada yang bertanya begini sama Ustadz Harry :

Kalau alasan memondokkan anak supaya lebih baik bagaimana ustadz?
Si anak sudah belajar merokok (ayah dan pamannya perokok) serta bermain game online di warnet sampai tak ingat waktu.

Lalu dijawab oleh beliau

Itu sebenarnya menjadikan pesantren jadi rendah dan membuat ustadz ustadzah “cuci piring” dll. Sejatinya pesantren adalah tempat mencetak da’i atau ahli ilmu, bukan karantina atau UGD anak bermasalah. Justru yang dikirim ke pondok harus anak-anak yang bersinar bukan anak bermasalah.

Well, saya tidak tahu siapa yang memulai tapi fakta di lapangan menunjukan bahwa kata ‘pesantren’ sudah sangat lekat dengan istilah ‘tempat belajar untuk anak-anak bermasalah supaya jadi lebih baik’. Bahkan, ada yang bilang kalau pesantren adalah penjara suci, tempat buangan bagi anak-anak nakal. Tempat orang tua bisa lepas tangan dari kewajibannya menidik anak.

Padahal, tentu saja tidak demikian. Saya menemukan banyak penulis-penulis hebat justru jebolan dari pesantren. Anak pesantren tetap bisa ikut OSN (Olimpiade Sains Nasional), menjadi atlet, bahkan masuk perguruan tinggi negeri dan menjelajah kemana-mana.

This is it, saat ini saya melihat bagaimana pihak pengelola pondok pesantren, khususnya di kota-kota besar mulai bergerak untuk mengubah stereotype buruk pesantren. Sulit, tetapi bukan mustahil.

Adik ipar saya saat di SMP kemarin nyantri, dan saya beberapa kali menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Gedungnya bagus, luas, bersih. Adik ipar saya juga tumbuh dengan baik, dia bahkan tetap bisa menjadi dirinya sendiri. Rebel, sesekali melawan aturan dan dihukum untuk push up. Tapi hapalannya memang masya Allah. Empat jempol wis.

Sama halnya dengan sekolah umum baik negeri maupun swasta. Ada yang dulunya sering banget disebut sekolah tukang tawuran, sekolah buangan, sekolah yang pengelolanya sering korup dan seterusnya.

Semua berjuang melawan stereotype masing-masing. Mencoba untuk mengubah pandangan masyarakat awam agar bisa menjadi lebih lebih baik.

APA YANG HARUS DISIAPKAN OLEH ORANG TUA SEBELUM ANAK SEKOLAH/NYANTRI?

Nah, dalam postingan yang sama saya sempat membaca salah satu orang tua bertanya. Apa yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pondok pesantren?

Dari pemaparan Ust.Harry kurang lebihnya ada 8 hal terkait fitrah anak yang perlu disiapkan. Ketika membaca, menurut saya yang beliau sampaikan memang harus dilakukan oleh semua orang tua yang hendak menyekolahkan anaknya secara umum. Tidak hanya ke Pesantren. Kedelapan hal tersebut adalah :

  1. Fitrah Keimanan – sholat, murojaah, shaum sunnah dll tidak lagi disuruh-suruh bahkan bergairah.
  2. Fitrah Belajar – belajar tidak disuruh-suruh, suka hal-hal baru, senang riset dan meneliti walau sederhana, kagum pad aahli ilmu dan karyanya
  3. Fitrah Bakat – sudah punya aktfitias seru sesuai bakatnya, misalnya menulis, merancang, memprogram, memimpin dll. Upayakan pilih pondok yg menyalurkan bakatnya. Bakat bukan sekedar keterampilan
  4. Fitrah Seksualitas – identitas gendernya ajeg. Kalau lelaki, tidak melambai, ia sudah punya aktifitas kelelakian yang ajeg, mengidolakan ayah. Begitu juga dengan anak perempuan.
  5. Memiliki kedekatan yang sangat baik dengan ayah ibunya, sehingga tidak mencari pelarian. Pastikan kalau Tsanawiyah, ananda dihomestaykan bukan diasramakan
  6. Fitrah Individualitas dan Sosialitas – sudah percaya diri yang cukup, tidak egois, aktif bersosial atau mudah bersosial dll
  7. Fitrah Estetika dan Bahasa – punya kemampuan mengekspresikan perasaan dan fikiran dgn baik. Mampu bernarasi dan mencintai karya sastra dll Resik dan indah dalam pakaian dan penampilan dll
  8. Fitrah kedewasaan – mampu membuat agenda masa depannya, tangguh dan suka bertanggungjawab
  9. Fitrah jasmani – punya pola makan, pola tidur, pola gerak dan pola bersih yg baik.

Terus, kapan sih waktu yang paling tepat untuk memondokkan anak? Ehm, kalau pendapat Ust. Harry sih di usia SMP . Saya cukup setuju karena usia SMP tuh enggak kekecilan.

Selain mempersiapkan kedelapan fitrahnya ini, orang tua juga wajib mencari sekolah yang sesuai dengan karakter anak. Karakter anak loh ya, bukan orang tua.

Selain itu, sarana pra sarana sekolah juga wajib jadi pertimbangan. Salah satunya masalah gizi tadi, usahakan cari pondok yang menyediakan makanan bergizi karena anak-anak sampai usia belasan masih dalam tahap tumbuh kembang.

Oh iya, Ust. Harry juga merekomendasikan sebuah pondo pesantren di daerah Yogyakarta. Namanya ponpes Mualimin dan Mualimat. Saya pernah merasakan nyantri selama tiga hari di sana saat ramadhan, masya allah tempatnya bersih dan makanannya enak. Enggak heran Ust.Harry menyebut tempat ini.

Boleh lah mungkin teman-teman yang berminat untuk menyantrikan anaknya survey dulu kesana.

YUK BANYAK BERDOA UNTUK ANAK-ANAK KITA

Apa kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan ini? Apapun itu, mari kita banyak-banyak berdoa. Semoga di manapun mereka bersekolah, mereka bisa menjadi anak yang kuat jiwanya, yang mampu menunaikan amanah belajar dan, yang selalu ingat pada Allah dalam setiap tindakannya.

Semoga, para orang tua di seluruh Indonesia saling mendukung satu sama lain, bukan malah menikung. Karena dimanapun sekolah anaknya, tanggung jawab utama pendidikan, ada di rumah.

Selamat memilih sekolah!

(Visited 167 times, 1 visits today)


13 thoughts on “GALAU ANTARA PESANTREN ATAU SEKOLAH UMUM? BACA INI DULU”

  • Kalau menurut aku pribadi sebaiknya memang orang tua tidak memaksakan kehendak pada anak. tujuan semua orang tua memang benar pasti yang terbaik untuk anaknya. tetapi apa benar bahwa pilihan yang kita tentukan dan paksakan memang yang terbaik untuk anak kita? belum tentu. Saya belajar dari pengalaman hidup saya yang segala urusan pendidikan diatur oleh orang tua. dan meninggalkan bakat dan kemampuan yang saya miliki sebenarnya. saya tidak ingin menjadi orang tua seperti itu, semoga saya bisa menjadi orang tua yang membimbing dan mengarahkan anak. pilihan terakhir tetap pada anak.

  • mba, saya setuju bgt dengan quotenya di awal tulisan. pesantren atau umum sama2 baik asal ortu tetap berperan dalam emndidik anak. saya sendiir hiks erasa ga sempurna dan sering igni mnyerah mendidik anak tapi gabisa mundur kan. yg ada terus maju melakukan yg terbaik untuk pendidikan anak sambil doa yg kuat sama Allah

  • Aku dan suami juga produk sekolah negeri, dan kita sepakat untuk tidak mensekolahkan anak-anak ke negeri. Malah saya pengen anak saya homeschooling waktu TK-SD.

    Tapi saya juga ada niat untuk pesantren, tapi untuk anak laki-laki.. Dan mirip seperti Mbak, nanti saat mereka udah baligh, SMP, SMA atau pas kuliah nanti.. Soalnya para ulama dulu mendorong anaknya untuk belajar keluar dari rumah..

    Tapi saya setuju dengan Mbak, mondok atau sekolah umum itu sama, tergantung pendidikan yang kita berikan.

  • Ulasannya lengkap banget ini mba, makasih banyak. Dulu saya hampir memasukkan anak ke SMP yang model pesantren, tapi ga jadi karena suami saya bilang “Mosok kita ngasuh anak satu aja cuma sampai usia 12 tahun”. Jadilah masuk ke SMP swasta (Muhammadiyah). Ternyata begitu adiknya lahir, kemudian dia justru tinggal dengan neneknya. Sejauh ini sih alhamdulillah baik-baik saja, selalu terkontrol, selalu dekat di hati meskipun jauh di mata karena anak saya memang tipe yang suka curhat ke ibunya πŸ™‚

  • Kalau menurut daku, pesantren atau sekolah umum memiliki keunggulan masing-masing, begitupun dengan biaya pendidikannya. Tinggal bakat si anak arahnya kemana, dan memang ingin diarahkan kemana. Yang penting sekolahnya itu berkualitas, terdaftar, dan jelas

  • Aku pun sepemahaman deh, mau mondok atau tidak keduanya pun sama baiknya. Karena balik lagi ke kitanya sendiri dan juga anak-anak. Kalau aku jujur sih sampai sekarang belum menentukan pilihan anakku harus mondok atau tidak, karena masih TK dianya.

  • Setuju mbak, memang setiap pilihan memiliki konsekuensi nya masing-masing. Apalagi sekolah Pesantren maupun Umum memiliki nilai lebih dan minusnya. Saran terbaik adalah mendoakan anak-anak untuk menetapkan pilihan terbaik untuk sekolah yang terbaik pula ya mbak.

  • Aku nih yang galau kayak orang tua yang lain juga. Kepengen masukin anak-anak ke pesantren, tapi anak-anaknya gak mau. Mereka deket banget sama kami. Jangankan jauhan kayak mondok, liburan sama neneknya aja yang cuma paling lama seminggu, nelponin terus. Akunya juga cengeng. Hiks…

  • Keduanya baik sih, cuma ya tergantung anaknya mau apa gak, ortunya siap lepasin anak apa gak hehe.
    Kalau aku kyknya blm kepikiran sekolahin anak ke sana, mungkin krn aku yang gak siap. Tapi anakku gak tau sih blm pernah nanyain jg soalnya msh blm sreg ma institusi bernama sekolah. Gak tau lagi kalu tahun depan hehe

  • Ini jadi tamparan buat aku yang memilih untuk nggak mondokin anak mbak. Karena mereka yang mondokin anaknya aja ada yang bondingnya tetep kuat, lha aku yang ngumpul dirumah sama anak-anak udah kuatin bonding belum? Kalau belum kan sama aja sama mereka yang mondokin anaknya tapi dilepas gitu aja. Haduh, makasih ya mbak udah bikin tulisan ini. Jadi pengingat ku banget.

  • Anak q pernah aq tawarkan ke pesantren, tetapi secara psikologis sepertinya dia tidak sanggup pisah dengan orang tuanya, mungkin bujukannya kurang dari dini

  • Wah kalo aku gak memilih keduanya hehe … Aku pilih di sekolah Islam aja. Dapat tambahan pendidikan agama tapi gak menginap di asrama. Aku sendiri dulu juga di sekolah umum tapi saat sekolah dulu ingin banget bisa sekolah Islam supaya dapat tambahan pendidikan agama. Soalnya aku tuh bacaan-bacaan solat, doa-doa, hapalan qurannya ngepas banget. Jadi aku pengen anakku dapat tambahan agama tapi gak mondok karena aku gak mau kesepian juga di rumah hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *