SEBUAH SURAT UNTUK ANAK SULUNGKU : SELAMAT ULANG TAHUN!

Karena surat dan tulisan itu abadi, seperti cinta mama untuk abang

– Madam A –

Assallammuallaikum, hai hai sayangku cintaku hidupku… Muhammad Yuandriansyah Naseri yang super unyu-unyu. Bagaimana kabarmu di Jogja sana? Kalau dari video call yang barusan kita lakukan kamu terlihat senang ya. Semacam enggak ada kengen-kangennya blas  gitu sama mama. Padahal mama di sini udah merasa rindu aja loh, bahkan sejak semalam. Saat tahu kamu sudah duduk nyaman  di kereta api taksaka tambahan. 

Boleh kan mamah mewek dan mimbik-mimbik sedikit?

Anakku yang solih, mama ingin berbagi secuil cerita. Ceritanya agak panjang  dan mungkin membosankan, tapi biarlah ya. Karena bagi mama, cerita tentang detik-detik kelahiranmu tidak akan akan pernah menjadi hal yang menjemukan. Bahkan sebaliknya, kejadian  itu adalah sesuatu  yang menakjubkan, luar biasa dan tidak akan pernah bisa mama lupakan. Kendati mama ingin, trutama di bagian sakit-sakitnya sih. 

Tadi malam, saat menemani abang menanti datangnya kereta mama jadi ingat masa-masa itu, enam tahun yang lalu.Momen di mana abang mau keluar dari rahim mama.  Ketika itu ayah dan mama berpisah jauh, ayah di Tulungagung, bekerja. Sedangkan mama di Jogja, menanti kelahiran kamu bersama keluarga. 

Kalau tidak salah, sejak pagi mama sudah merasakan mulas-mulas aneh, tapi mama abaikan. Maklum, kan mama tidak tahu mulas karena mau melahirkan itu rasanya seperti apa. Karena makin lama rasanya makin aneh, jadilah mama pergi ke rumah sakit sambil ditemani keluarga dan tante Metri. Iya, tante Metri ikutan heboh loh!

Sesampainya di sana, dokter IGD melakukan pemeriksaan dalam dan ternyata…sudah bukaan dua! Aki dan Enin-mu kalang kabut enggak keruan. Tapi pengecualian untuk ayahmu yang terkenal dengan kecuekannya. Buktinya, saat diberi tahu via telepon dia malah bertanya, 

“Jadi,aku pulang sekarang atau nanti?” 

Seketika, mama langsung bete. Mungkin kamu tidak akan paham, tapi yakinlah ucapan ayahmu adalah pebuah pertanyaan konyol yang membuat mama ingin menggepuknya pakai linggis. Istrinya mau melahirkan kok sempet-sempetnya tanya begitu. Sungguh kedodolan yang hakiki. Makannya,  Kalau suatu hari nanti kamu punya istri dan mau melahirkan, jangan pernah lontarkan pertanyaan seperti itu ya. Langsung cus aja. Ok? Sip. 

Setelahnya, mama berusaha untuk fokus menambah bukaan dengan cara-cara yang pernah diajarkan instruktur senam hamil. Satu hal yang bikin kesal adalah, mereka enggak pernah kasih tahu bahwa melakukan gerakan jongkok-berdiri jongkok-berdiri saat mules itu sakitnya luar biasa. Tapi demi menjaga wibawa di mata tante metri dan amah kamu, mama menahannya. 

Mungkin karena rasa sakitnya masih belum seberapa kali ya.

Sekitar jam lima sore ayahmu tiba-tiba datang. Mama melongo, akhirnya si pelaku utama kehamilan mama, eh, calon ayah kamu maksudnya, bisa juga kasih surprise. Ternyata dia langsung meminta ijin atasannya untuk pulang ke Jogja begitu tahu kamu menunjukkan tanda-tanda mau keluar. Qadarullah, saat itu ada kereta siang yang bisa langsung dinaiki dari stasiun Tulungagung menuju Jogja. Duileeee

Ketika bertemu ayah langsung memeluk dan mencium kening mama, sambil bertanya kondisi saat ini. Detik itu, semua kejengkelan yang tadi pagi mama rasakan lenyap. Walaupun kesal, jauh di lubuk hati yang terdalam mama merasa lega karena ayahmu sudah datang. Paling tidak, kalau nanti rasa sakitnya sudah tidak tertahankan, mama tahu rambut siapa yang harus ditarik. Eh. 

SAAT BUKAAN TIDAK BERTAMBAH

Mamah mulai merasakan mules jam 7 pagi. Anehnya, sampai jam 7 malam mules tetap terasa. Seperti kamu yang konsisten untuk masih tetap berada di dalam perut mama.  Meski begitu, mama masih berusaha untuk tetap sholat loh.Mama berdoa supaya perjalanan melahirkanmu akan dimudahkan oleh Allah.

Doa mama dijawab, bukaan sudah bertambah menjadi 4. Tak lama setelahnya, mama dipindahkan ke ruang persiapan melahirkan. Karena kata perawat di sana, normalnya sih setelah bukaan keempat hanya butuh waktu yang sebentar sampai bukaan lengkap.

Mama udah senang dong, karena itu artinya sebentar lagi kita akan ketemu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Mama stress karena di ruangan tersebut kasurnya tidak nyaman. Ini belum termasuk bau alkohol sangat menyengat serta alat-alat lain seperti gunting, dan kasa yang terlihat menyeramkan. 

Di sana mama berteriak-teriak sekuat tenaga karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang datang semakin sering. Padahal saat itu sudah menjelang tengah malam dan mama ngantuk banget. Mama menyerah, minta ke ayah untuk melakukan sesar aja. Sakitnya itu loh, enggak keruan. Semua ilmu tentang nafas untuk mengurangi rasa sakit sudah ambyar entah kemana, seperti nasi goreng yang hancur karena dilempar dari lantai lima belas. Duh, maaf kalau mama enggak nyambung, hihi.

Sampai tengah malam bukaan juga tidak bertambah. Sebaliknya, mama dan kamu malah makin stress, kelihatan dari denyut jantungnya. Ayah juga masih keukeuh dengan pendapatnya untuk lahiran normal. Hmm, jadi penasaran seandainya ayah yang berada di posisi mama, kira-kira bisa enggak ya dia nahan kemulesan itu? Haahhhh,  Maafkan mama ya sayang, mama ternyata lemah sekali. 

Melihat kondisi mama yang mengalami kemunduran,  diputuskanlah bahwa mama harus dikembalikan ke kamar supaya tidak stress. Mama mendesah lega bisa keluar dari ruangan mengerikan tersebut. Saat kembali di kamar perawatan mama bisa melakukan banyak hal secara normal, seperti ke kamar kecil,  sikat gigi dan menonton siaran malam. 

Mungkin, karena sudah merasa rileks, kamu memutuskan bahwa ini saatnya untuk kembali bergerilya. Mama kembali menjerit saat bukaan  bertambah dengan cepat.

DETIK-DETIK KELAHIRAN

Mama merasakan terjangan rasa sakit yang rasanya di luar nalar dan akal manusia. Kadang hilang sesaat, lalu kembali datang lagi dengan rasa sakita yang lebih besar, meruntuhkan seluruh persendian mama. Ayahmu tidak sanggup berbuat apa-apa,hanya bisa membantu menyeka keringat yang terus menerus keluar.  Mama mertua alias amah justru orang yang berjasa. Beliau mengurut punggung bagian bawah mama yang rasanya seperti terpuntir ke kanan dan ke kiri. 

Perawat dipanggil. Sambil menahan rasa nyeri luar biasa, seorang perawat melakukan pengecekan dalam. 

“Sudah bukaan 7.” Katanya kaget.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang samar-samar mama ingat. Pokoknya tiba-tiba mama kembali dipindahkan ke kasur dorong untuk dibawa ke ruang persiapan melahirkan. Tentu saja mama menolak,  takut nanti akan stuck lagi seperti sebelumnya. Tapi karena kondisi sudah genting,  akhirnya permintaan mama diabaikan. 

Di ruang persiapan, mama kembali menjerit. Suara mama barangkali sudah mencapai oktaf tertinggi.Terbukti banyak perawat di bawah yang laporan pasca mama melahirkan kamu,  wakakakaka. Biarin ajalah ya. 

Di sana bukaan bertambah dan bertambah. Cuma mama heran, kenapa ya rasanya kok seperti ingin pup? Padahal kan mau melahirkan? Jadi ini daritadi tuh mules karena sakit perut atau melahirkan sih? 

Kabar buruknya lagi, di ruangan ini hanya satu orang yang boleh menemani, yaitu ayah kamu. Mama agak sedih karena ayah tidak bisa melakukan pijatan seenak pijatan amah, di punggung mama. Hiks. Tapi da kumaha, yang harus bertanggung jawab kan memang ayah, bukan amah. 

Dalam waktu singkar, rasa ingin pup semakin lama semakin intens. Mama mulai menarik-narik kemeja ayah. Mama genggam tangannya kuat-kuat, mencoba melampiaskan rasa sakit yang timbul karena usaha kerasmu menuju pintu keluar.  Sejujurnya,  kalau boleh mama  malah pengen teriak di telinganya,

“Semua ini gara-gara perbuatan kamuuuuu, perbuatan kamuuuuuuu!!!”

Tapi boro-boro bisa teriak gitu, untuk sekedar mengeluhkan rasa sakit aja mama udah lemes banget. 

Alhamdulillah, ketika kamu menunjukkan tanda-tanda mau keluar, dokternya belum datang. Mama dibantu oleh perawat dan bidan. Dengan sisa-sisa tenaga, mama berhasil mengejan tiga kali sampai akhirnya kamu…kamu sukses meluncur keluar. 

Pada detik kamu berhasil keluar, seluruh rasa sakit yang sebelumnya mama rasakan, hilang seketika. Ajaib! Kemudian mama hanya bisa bengong  menatap kamu yang tadinya berwarna biru langsung berubah merah karena menangis dengan keras. 

“Eh pipis, pipis, awaaaasss!” teriak suster yang menggendong kamu tepat di kedua sisi ketiak.

Mama dan ayah langsung terpana. Oalah, belum juga semenit hadir ke dunia, kamu kok sudah sukses mipisin embak-embak, eh buang air kecil maksudnya. Untung saja perawatnya ramah, soalnya habis dibersihkan kamu langsung ditengkurapkan di atas mama. Kita akan bekerja sama melakukan IMD. 

Setelah semua rasa sakit enggak keruan dan usaha keras melahirkanmu terlewati, akhirnya bu dokter datang. Beliau hendak menjahit pintu keluar yang sempat mengalami sedikit robekan. Untungnya enggak banyak, hanya sekitar 1 cm aja. 

Sambil dijahit, kamu berjuang mencari sumber makanan yang ada pada mama. Ketika itu, ayah juga memberikan adzan di telinga kanan, serta iqamat di telinga kiri. Mama memperhatikanmu dengan takjub. Masih enggak percaya kalau kamu adalah sesosok janin yang sempat menghuni rahim mama. 

BERSYUKUR ATAS KEHADIRANMU

Setelah perjuangan selama hampir 24 jam itu, mama dipindahkan ke kamar perawatan. Saking lemasnya, mama tidak sanggup untuk berjalan sampai akhirnya terpaksa naik kursi roda. 

Ketika mama cukup beristirahat dan perawat mengatakan bahwa kamu akan dibawa ke kamar, mama sangat gembira. Kamu adalah anugerah yang selama ini mama nantikan. Mama terpesona sekali dengan jari-jari mungil, pipi semerah tomat dan rambut setipis kakek-kakek, hahaha.

Terima kasih sayang, karena kamu, mama mendapatkan gelar ibu

Karena kamu, mama mempelajari hal baru

karena kamu, dunia mama menjadi seru

Tidak pernah mama menyangka bahwa bayi mungil seberat 3kg itu akan tumbuh dan berkembang sampai sebesar saat ini. Begitu ganteng dan rupawan. Mama bersyukur sekali dengan segala yang telah Allah berikan…

Selamat ulang tahun putraku, jadilah anak yan solih, pemberani dan bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia, adalah mereka yang membawa manfaat bagi sekelilingnya.

Yang selalu mencintaimu, Mama

12 Comments
  1. January 12, 2019
  2. January 12, 2019
  3. January 13, 2019
  4. January 13, 2019
  5. January 13, 2019
  6. January 13, 2019
  7. January 13, 2019
  8. January 13, 2019
  9. January 14, 2019
  10. January 14, 2019
  11. January 14, 2019
  12. January 14, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *