Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

PENGALAMAN MELAHIRKAN TANPA JAHITAN

PENGALAMAN MELAHIRKAN TANPA JAHITAN

Melahirkan tanpa jahitan itu rasanya anugerah banget

– Madam A –

Yiiha I’m back!

Sharing kali ini adalah tentang proses kelahiran dan menyusui si nomer tiga yang penuh drama *as always*. Tapi sedrama apapun, alhamdulillah saya bisa melahirkan tanpa jahitan. Sesuatu yang tidak pernah terbayang.

Sebelumnya, setor foto dulu. Bocah ganteng nomer 2 ini usianya sekarang udah 3 bulan loh, hihihi. Lucu banget ya, enggak kerasa eui.

melahirkan tanpa jahitan- ayunafamily.com
Cintaku…
Robbi Habli Minnas Solihin…

Cerita dimulai pada suatu hari yang tidak begitu indah. Waktu itu saya sedang kontrol bulanan biasa. Saat diperiksa ternyata sudah mulai ada pembukaan 1. OMMOOOO!!!

Kaget, yungalah kok yo moro-moro wis bukak siji. Alhamdulillah, untungnya bidan dan perawat menenangkan bahwa hal ini biasa terjadi pada proses kelahiran anak kedua, ketiga dan setelahnya. Pokoknya mereka cuma mewanti-wanti kalau memang sudah mulai terasa kontraksi, langsung ke klinik aja.

Yawis, akhirnya begitu pulang dari klinik kami langsung mampir supermarket buat borong nanas dan kurma. Konon katanya, dua jenis buah ini bisa membantu melemaskan serviks dan memicu munculnya kontraksi. Jujur, saya malah pengen cepet segera lahiran. Kangen bobo tengkurap dan guling-guling.

Sesuai saran dokter (karena memang hpl tinggal hitungan jari) saya memperbanyak jalan dan gerakan jongkok-berdiri-jongkok-berdiri. Saya agak malu untuk mengakui, di kehamilan ketiga ini saya pemalas banget. Asli pemales!  Mungkin karena ada ART yang udah ngurusin rumah plus capek ngurusin yuan-luna plus pinggang yang gampang pegel plus masih trauma sama proses kelahiran kedua yang hampir merenggut nyawa ?

KETIKA GETARAN ITU DATANG

Hari jumat pagi tanggal 6 oktober saya mulai merasakan dorongan-dorongan cinta. Belum terlalu kuat sih, tapi jaraknya sudah 10-5 menit sekali. Karena masih pagi, sementara saya abaikan dulu. Saya juga masih menyempatkan diri untuk main-main dengan Luna dan masak rawon.

Dua kali pengalaman melahirkan sebelumnya saya amatir sekali. Yang pertama saya jerit-jerit tiap kontraksi datang dan yang kedua terkapar karena sakit. Untuk lahiran ketiga ini, saya berniat untuk menikmati setiap menit prosesnya. Paling enggak, kali ini saya udah tahulah apa yang akan dihadapi. Pastinya lebih setrong, lebih kalem.

Nah, Jam sepuluh Yusuf pulang setelah saya WA kalau nyeri kok makin sering. Setelahnya, kami bersiap-siap menuju  bidan. Fyi, saya memang berniat untuk melahirkan dengan bpjs. Ada rencana untuk menulis tentang perawatan kehamilan dan melahirkan dengan bpjs, tapi mungkin enggak sekarang ya.

Di klinik tempat ibu bidan saya kembali dicek dalam. Masih bukaan satu longgar ternyata, huuuu. Lanjut pengecekan tekanan darah. Saat ditensi ketahuan deh tekanan darah saya rendah. Ndilalah bidannya khawatir, beliau menyuruh saya untuk pergi ke rumah sakit. Beresiko. Bu bidan takut saya tidak punya kekuatan untuk mengejan.

Aduh,  ini kata-kata si ibu beneran mempengaruhi psikis loh.  Saya yang awalnya santai-santai aja jadi ikut-ikutan khawatir. Akhirnya kami pergi ke klinik DK Ceger untuk mendapatkan rujukan lalu lanjut ke RSIA buah hati ciputat (RS rujukan sesuai faskes 1)

Sesampainya disana kami mengurus pendaftaran. Alhamdulillah karena itu hari kerja, hampir tidak ada antrian sama sekali,  yeiii! Oh iya, RSIA buah hati ciputat ini terkenal bagus untuk pelayanannya. Hanya satu hal yang menjadi ganjalan saya untuk melahirkan di sana : hampir semua dokter obsgyn disitu lelaki.

Lha kepriye, gimanapun saya masih pikir-pikir untuk ngangkang di depan orang selain suami, wkwkwkwk. Suami juga sampai detik ini masih belum ikhlas saya dipegang-pegang bagian itunya sama orang lain walaupun untuk alasan medis . Apalagi kalau memang masih ada dokter lain yang berjenis kelamin perempuan.

Alhamdulillah dokter yang saya temui sepertinya memahami kecemburuan suami (eciye cemburuuu) sehingga beliau tidak melakukan pemeriksaan dalam, cuma usg aja. Hasil dari usg terlihat bahwa posisi janin sudah bagus dan tidak ada lilitan. Hampir saja saya melompat untuk nari-nari kegirangan dan cium pipi pak dokter saking senangnya.

Lebay emang. Habisnya di kontrol terakhir kemarin si dedek masih kelilit lehernya. Nah, kemudian di akhir pemeriksaan, dokter cuma bilang, paling lambat besok pagi saya sudah lahiran. Saya manggut-manggut.

Saat itu, saya masih pede dong. Masih ngerasa sombong bisa mraktekin ilmu gentle birth yang cuma sakuprit hasil baca2 di google, pokoknya masih bisa senyam-senyum, ngemil-ngemil dan becandaan sama perawat.

Pulang dari rumah sakit yang jauhnya minta ampun dari rumah itu, kami sepakat untuk melipir dulu ke Bintaro Xchange. Kalau kalian mengira jalan-jalan dadakan ini adalah keinginan pribadi untuk makan burgernya carl’s jr yang buy one get one free tiap hari jumat, kalian salah. Ini semua kami lakukan demi menjalankan amanah pak dokter : perbanyak jalan.

Selama di mall saya dan Yusuf jalan-jalan sambil gandengan tangan dong. Lumayan, mumpung masih bisa pacaran tanpa ada ekornya. Kapan lagi bisa menikmati momen berduaan di luar sebelum tugas besar mengurus tiga anak menanti. Iya kan? Udah, iyain aja.

Selesai dari carl’s saya mampir ke kamar kecil. Eh, ternyata sudah ada lendir darah di celana dalam walaupun kontraksi saat itu masih belum begitu kuat. Begitu selesai saya langsung lapor sama suami dan berdiskusi, antara mau balik ke RS atau ke klinik BWCC (Bintaro Woman and Children Clinic).  Tidak butuh waktu yang lama sampai akhirnya Yusuf memutuskan untuk ke klinik aja. Saya senyum-senyum, icikiwir doi masih belum rela dia lihat bininya di grepe-grepe lelaki lain !

“Aku mending bayar deh mah, insya allah masih mampu kok.” kata dia.

Alhamdulillah ya rabb, suamiku ternyata bisa cemburu juga *sujudsyukur* *brambangi*

Jadi, setelah rumah-bidan-rumah sakit-mall disambangi,  akhirnya kami sampai ke pemberhentian terakhir : klinik BWCC. Seperti biasa kami kembali mengurus pendaftaran (untuk yang kesekian kalinya di hari yang sama). Begitu selesai saya digiring masuk ke ruang persalinan. Saya menarik nafas  ketika dilakukan pemeriksaan dalam lagi.

Bukaan tiga sodara-sodara !

Tapi jangan terlalu ngarep, karena…

Perjuangan masih jauh kawan!

Bidan pamit untuk mengabari dokter mela (dokter obsgyn saya selama kontrol). Jadi, selama ini saya udah cucok meong sama Dr. Amelia Pane. Selain praktek di BWCC, beliau juga praktek di RS Hermina Ciputat keknya.

Back to labor time. Setelah pemeriksaan, Yusuf yang duduk di sebelah saya nyeletuk,

“Aku yakin paling lambat abis maghrib si dedek udah lahir.”

Jumawa banget dia, sok jadi cenayang. Padahal, dia mana  ngerti kalo nyeri yang saya rasakan mulai memasuki tahap rawan. Bidan kembali nggak lama kemudian. Berdasarkan konsultasi di WA antara bidan dengan dokter Mela, saya disuruh stay karena khawatir bisa melahirkan sewaktu-waktu.

Maklum, namanya juga lahiran anak ketiga dimana jalan lahir sudah ada.

SAAT MELAHIRKAN TANPA JAHITAN

Supaya nggak bosan menunggu, bidan menawari saya untuk pakai bola boing-boing, lupa apa namanya. Pokoknya bola yang besar dan warna-warni itu loh. Sebelumnya, saya diedukasi terlebih dahulu agar bisa memposisikannya dengan benar.

Kata orang sih, hal tersebut efektif nambah bukaan dan mengurangi rasa nyeri. Saya manut aja wis daripada ndomblong. Setelahnya, sesi menunggu bukaan dilakukan dengan bengong, buka2 wa dan video call sama anak-anak.

Bersyukur aki dan enin-nya suka banget ngevideoin polahnya anak-anak di rumah. Asli, saya berasa pengen banget belah diri karena kangen saat nonton video mereka. Padahal yo baru beberapa jam pisah, huhuhu.

Oh iya, di saat genting menanti pembukaan saya masih menyempatkan diri untuk sholat. Sempet juga minta pengen keluar, mampir beli es krim ke Mcdonald depan klinik tapi sayangnya nggak dibolehin. Emang dasar pasien banyak maunya, wkwk.

Bosan sama hape sendiri,akhirnya mainin hape suami. Scroll scroll nemu pesan suami yang amat sangat njelehi di grup pokemon.

“Bro, gw vakum seminggu dulu ya. Istri gw mau open pokedex dulu.”

-_______________________________________-

(((OPEN POKEDEX)))

Errr..saya cuma bisa memutar bola mata sambil mencak-mencak. Gustiiiiiiiiiii!!! Allah nu maha aguuunggg, ini suami baiknya diapain?

Sedih amat yak nasib punya suami gamer, istri mau lahiran aja disamain kayak pokemon.

Untuk sementara kekesalan karena pokemon itu saya abaikan karena jam sembilan malam dilakukan pemeriksaan dalam lagi. Saya mengamati wajah si bidan yang sedang fokus rogoh-rogoh. Baru bukaan empat ternyata! Ommooooo, selama enam jam menunggu ternyata bukaan cuma nambah satu senti!

Semangat saya langsung layu, badan jadi kuyu. Lemes dan kecewa mendera karena bukaan tidak menambah seperti yang dikira.Mau mewek sama suami tapi kok gengsi.

Akhirnya saya cuma bisa ngelus-ngelus perut sambil tanya “Dedek mau keluar kapan? ayo keluar yok, mama udah pegel”

Bidan kembali meminta saya makan untuk menambah tenaga, tapi saya sudah nggak nafsu. Detik demi detik yang berlalu kerasa lamaaaaaa banget. Bahkan pikiran di dalam hati udah mulai grasa-grusu.

Sampai kapan ini bakal ngerasain sakitnya?

Jam sebelas malam kantuk mulai datang. Pengen tidur tapi nggak bisa karena rasa sakit mulai intens tusukannya. Saat itu pengen banget nyulek mata suami pakai gunting operasi, kesel dan bete karena dia asyik sendiri baca komik online.

Saya mulai ngeracau aneh, udah nggak bisa senyum ikhlas lagi. Suami akhirnya sadar kalau keyakinan dan semangat  saya mulai goyah. Baru deh saat itu dia nyimpen hapenya trus minta maaf. Saya yang udah keburu sebel langsung melengos, buang muka.

Duile, mau lahiran aja sempet-sempetnya marahan. Emang drama bangetlah hidup saya ini.

Jam sebelas malam saya berjalan keluar karena klinik udah sepi. Lampu ruang periksa dimatikan, TV juga sudah tidak lagi menyala. Suasana terasa hening, hanya tersisa dua orang bidan jaga.

“Mbaaakk, kalo mau sesar gimana siihh?” Tanya saya sambil meganging pinggang belakang. Ya Allah, beneran ini rasanya udah enggak tahan lagi!

“Bisa aja sih bu sesar atas kemauan sendiri. Tapi kalo ibu jangan deh, sayang banget kalo sesar.” jawab si bidan

Belum sempet saya nyautin suami tiba-tiba langsung mbekep mulut saya sambil bilang “Udah nggak usah didengerin bu, ini udah jadi kebiasaan istri saya tiap kali melahirkan.”

Kemudian dia nyeret saya menjauh dari bidan.

“Kamu tuh kuat mah, ayo kamu tuh kuat.” kata dia sok ngasih semangat

Saya cuma merengut, heu ngasih semangatnya telat pake banget. Tapi walaupun begitu saya tetep nggak bisa jauh dari Yusuf karena tiap kontraksi datang butuh untuk dipijat bagian tulang ekornya.

“Tapi ini masya allah yah rasanya. Aku udah nggak kuat lagi.” kata saya kesal.

Lalu kami berjalan mengelilingi klinik dalam posisi seperti orang berdansa. Kedua tangan saya memeluk leher yusuf karena kaki udah gemetaran, lemes harus bertahan tiap kontraksi datang.

“Ayo, istriku pasti kuat. Kamu mau apa mah, nanti kita ke kafe yang jadi satu sama tukang martabak itu ya? Atau mau eskrim Mcd? Nanti habis lahiran aku beliin. Atau mau..” sayup-sayup saya udah nggak bisa mendengar janji-janji surga yang diocehin yusuf karena ngerasa si dedek dalam perut sudah mulai mendorong saya untuk mengejan.

“Aku..aku mau ngejaaaannnn!” teriak saya tak bisa lagi menahan dorongan si dedek.

Benar saja, tak lama kemudian saya merasa ada cairan bening yang keluar membasahi celana. Bidan yang melihat langsung terhopoh-gopoh keluar dan mengecek kondisi saya.

Suami dan bidan membimbing saya yang sudah mengaduh-aduh kembali ke kasur persalinan. Sebelum naik ke atas kasur yang menurut saya cukup tinggi itu, sekali lagi saya mengejan sambil berteriak.

“Bu tahan bu! Tahan dulu, ini belum waktunya ngejan!” tegas bidan, membuat saya semakin pengen marah-marah.

Perintah untuk melakukan pernafasan dan ingatan untuk melakukan metode gentle birth sudah melayang entah kemana, kalah oleh rasa sakit. Afirmasi positif? Bleehhh, apa pula itu? Yang keinget cuma pengen semua ini segera selesai.

Bahkan untuk naik ke kasur persalinan saja terasa sangat sulit karena saya mulai kacau.

Setelah sukses nangkring di atas kasur,  saya ditidurkan miring ke kirI. Kemudian dengan cepat bidan kembali melakukan pemeriksaan dalam.

Bukaan delapan!

Ya allah, dalam waktu dua jam nambah bukaan empat senti sekaligus, pantesan rasanya nikmat banget. Makbedunduk udah pengen ngejan aja.

Bidan-bidan menyuruh saya untuk tidak panik. Sayangnya saya memang udah panik dan mulai teriak-teriak nanyain ILA (untuk tahu apa itu ILA silakan googling sendiri yah).

“ILA-nya mana? ILA-nya mana??!!” Teriak saya ingin rasa sakit ini segera menghilang.

“Aduuhh, ini datang lagi! Datang lagi kontraksinya!”

“Ayah, pijetnya agak kebawah, bukan disituuu!!”

“Mbaaakkkk, ini suami saya nggak bener mijetinnya! Mbak aja yang mijetin!!”

Salah satu bidan memegang tangan saya dan mulai menuntun untuk melakukan nafas yang mengurangi rasa nyeri saat kontraksi datang. Semenit kerasa kayak setahun saat dorongan menyakitkan itu muncul.

“Bukaan sembilan.” kata si bidan lagi, entah kepada siapa. Ketika itu, perasaan ingin pup mulai nggak bisa ditahan.

Kepala mendadak pusing dan kliyengan.

Mendadak jadi inget sesuatu. Kalau di film ayat-ayat cinta permintaan  yang terkenal adalah “nikahi aku” . Nah, kalo saya malah teriak Tampar aku aja yaah! Tampar aku! Suntik aku! Suntik aku! Rasanya pingin pingsan aja sekalian biar nggak perlu ngerasain lagi.

Jam dua belas malam dokter Mela datang. Ya allah, rasanya lega banget dokter obsgyn kesayangan udah muncul di lokasi. Langsung deh beliau bergegas mulai pemeriksaan segala macem.

“Dok, sudah mulai boleh ngejan lagi nggak?” Tanya saya, mulai putus asa.

“Boleh kok, bukaan kamu sudah lengkap.” jawab dokter Mela kalem sambil menyentuh perut saya dengan jari-jarinya, seperti melakukan pengukuran kekuatan kontraksi si janin.

“Kamu mau posisi melahirkan yang seperti apa?” kembali beliau bertanya.

Sesaat saya bengong, baru kali ini melahirkan ditanyain posisi. Biasanya itu pertanyaan yang diajuin sama Yu..*eh

“Mau tiduran? Berdiri? Jongkok?” Tanya beliau sembari menjelaskan.

“Saya setengah tiduran aja dok” jawab saya cepat. Bidan membantu menaikkan kasur, lalu kedua tangan saya berpegangan pada pergelangan kaki.

“Pokoknya cari posisi senyaman kamu, kaki kamu di perut saya juga nggak masalah kok.” lanjut dokter Mela lagi.

Saya mengangguk, “begini aja cukup dok” jawab saya buru-buru karena kontraksi mulai kembali tiba.

Tak lama, dokter Mela mulai memberikan aba-aba dengan tangannya.

“Uurrggghhhhhhhhhh!” Saya mulai mendorong sekuat tenaga.

“Jangan tutup mata dan jangan teriak, suara keluarkan dari sela gigi.”

Saya tidak ingat siapa yang memberi perintah itu. Yang saya tahu, ketika kontraksi menghilang saya mulai mengatur nafas lagi. Yusuf menghapus keringat yang mengucur di dahi.

“Uuuuuuurgggghhhhhhhhh!!!!”

Kembali saya mendorong saat kontraksi datang. 

Gagal.

“Uuuuuuuuurggggghhhhh!!!!!”

Saya merasakan gigi saya bergemeretak dalam usaha untuk mengejan.

Masih gagal.

Saya menjatuhkan diri ke kasur, kembali mengatur nafas yang mulai hancur. Lemas, rasanya tidak berdaya. Saat itu saya tahu bahwa tenaga saya sudah habis untuk bertahan di saat menanti pembukaan lengkap. Hampir tak ada tenaga tersisa di saat-saat akhir, ironis!

“Ajeng, kamu sudah hebat. Posisi kamu sudah benar, nafas kamu sudah benar, semangat kamu sudah pas. Tinggal didorong sedikit lagi, sedikiiitttt lagi. Kamu mau minum dulu? Pak itu tolong istrinya dikasih minum dulu biar punya tenaga lagi.” dokter Mela kembali memberikan semangat sekaligus instruksi.

Saya pun mencoba minum seteguk teh. Dorongan support dari dokter mela membantu saya untuk mengumpulkan semangat lagi.

“Uuuuurrrgggghhhhhhhhhhhh!!!” Lagi, saya mencoba untuk mendorong.

Dorongan ketiga putus di tengah jalan, tenaga saya habis.

Nah, jeda antara dorongan ketiga dan keempat ini adalah saat-saat paling amazing karena saya merasakan kepala si dedek di pintu keluar. Rasanya seperti menjepit bola diantara dua kaki. Dia sudah berjarak sangat dekat dengan pintu keluar! Saya kembali jatuh ke kasur dan mengatur nafas, Yusuf menggenggam tangan saya seolah menyalurkan tenaga miliknya.

“Ayo ajeng, ini tinggal sedikit lagi” Dokter mela menyangati.

“Uuuuuuuuuuuurrgghhhh!!! Aaahhhhh!!!!!” 

Sekali lagi saya berjuang untuk mengejan.

Disela-sela teriakan saya mendengar dokter Mela bergerak menangkap bayi yang meluncur dengan cepat sambil berkata:

“Assalamualaikum..”

Sambil ngos-ngosan karena nafas yang habis saya bangkit dan terpana  melihat sesosok tubuh bayi berwarna biru yang langsung berubah merah dengan cepat yang tiba-tiba mengeluarkan tangis.

Saya kembali terjatuh di kasur, menoleh ke arah Yusuf sambil berulang kali mengucapkan hamdalah.  Perasaan lega langsung menyelimuti dan membuat saya merekahkan senyum. Saya mengabaikan kamar persalinan yang terlihat seperti kapal pecah, dengan air ketuban dan darah dimana-mana.

Pengguntingan tali pusar dilakukan oleh yusuf. Saya hanya bisa tersenyum kecil melihatnya agak gugup ketika hendak menggunting. Proses selanjutnya adalah IMD, si bayi diletakkan di dada saya sedangkan dokter Mela mulai memeriksa bagian  bawah hendak melakukan jahitan.

“Ajeng, ini kamu nggak ada robekan sama sekali. Cuman ada sedikit lecet kecil, paling tinggal dipencet pake kasa darahnya berhenti. Kamu nggak saya jahit ya.” kata dokter mela memberi tahu dari balik kaki saya yang sedang ngangkang.

Saya melongo..

“Haaaahhhh???? Seriusan dokter saya nggak ada jahitan??” Teriak saya takjub

Dokter mela tertawa dan mengangguk “Iya kamu nggak ada robekan soalnya. Atau kamu mau saya jahit?” Tanya dokter Mela geli.

Kontan saya menggeleng kuat-kuat. Rasanya masih nggak percaya, secara anak ketiga ini BBnya paling tinggi kalau dibandingkan kakak2nya yaitu 3,2kg. Bisa melahirkan tanpa jahitan anak sebesar ini? Wow, Masya Allah!

“Selamat ya Ajeng, bisa melahirkan tanpa jahitan dan bayinya selamat.” Kata dokter Mela lagi sebelum beranjak pergi.

Setelah merasa plong karena si dedek sudah keluar dengan selamat, malam itu juga kami sudah memutuskan namanya : Aylan yang berarti moonlight atau cahaya bulan. Cocok bangetlah karena dia lahir tengah malam.

 

melahirkan tanpa jahitan - ayunafamily.com
Pengalaman melahirkan tanpa jahitan ada pada bayi yang tengah

TIPS MELAHIRKAN TANPA JAHITAN UNTUK PROSES NORMAL

Nah, setelah membaca kisah kelahiran Aylan yang panjang itu, saya akan mencoba berbagi tips untuk melahirkan tanpa jahitan. Jujur, saya sendiri kaget bisa melakukan hal tersebut. Allah sungguh maha baik.

Jadi, yang saya lakukan agar bisa melahirkan tanpa jahitan kemarin adalah

  1. Mengusahakan agar berat janin tidak terlalu besar. Janin yang besar tentu saja membutuhkan jalan keluar yang lebih lebar.
  2. Jangan angkat bokong saat mengejan. Saya sendiri posisinya setengah duduk, kepala lihat ke arah miss V. Bokong saya paksa tetap di tempat.
  3. Perhatikan betul aba-aba bidan atau dokter. Ketika dokter bilang saya boleh mengejan, saya baru mengejan. Ketika dokter bilang tahan, saya juga tahan.

Pasca melahirkan tanpa jahitan

Sempet lemes sih, karena memang kelelahan. Tapi setidaknya saya bisa pipis dan pup tanpa rasa takut, haha. Alhamdulillah jadi enggak ribet juga karena tidak perlu ada perawatan khusus seperti dua persalinan sebelumnya.

Saya bisa jalan dan duduk dengan nyaman dalam berbagai posisi. Memakai celana juga terasa normal.

Melahirkan dengan cara apapun baik, yang penting ibu dan bayi selamat

Anway, saya minta maaf banget ya kalau ada yang baper baca ini. Pokoknya yang perlu teman-teman fokuskan adalah keselamatan ibu dan bayi. Entah itu dengan persalinan normal ataupun sesar, semuanya baik. Semuanya hebat. Semuanya pejuang.

Sekian cerita dari saya, semoga sharing kecil ini bermanfat 🙂

Pondok aren, 10 januari 2018

(Visited 7,177 times, 1 visits today)


36 thoughts on “PENGALAMAN MELAHIRKAN TANPA JAHITAN”

  • mamak juwaraaaakkkkkkkkkkkkk
    tabarakallah.
    smg njennegan dan mas Ucup sll dalam bimbingan Alloh dalam mendidik 3 krucil (atau lebih. wkwkwkwk)

    kluarga makin sakinah mawahdah warahmah oenuh berkah. makin dekat dengan Tuhan pemilik hidup dan mati

    hugsssss. hugsss

  • saya pernah denger katanya lebih sakit waktu proses jahitan dibandingkan melahirkan, itu gimana mbak ya? betul atau cuma pengalaman yang berbeda aja ya?

    • Wah, kalau itu sih masing-masing ya mbak. Tapi selama ini saya enggak terlalu kesakitan saat dijahit

  • ibu yang luarbiasa. lucu banget dedenya sekarang udah gede ya.
    proses melahirkan itu rasanya campur aduk. tegang, was was, apalagi gak tega liat ibu kesakitan.

    • Waah mantap banget mba Ajeng. Jadi ingat dulu betapa sakitnya aku mengejan krn ga pnya ilmunya, huhu. Semoga next anak kedua bisa lebih mudah yg katanya begitu hehe tp ttp kita cuma bs berusaha Allah yg tentukan yaa

  • Keren banget mba, bisa lahiran tanpa jahitan.
    Btw emang emosi banget ya kalau suami main hp, padahal kita lagi kesakitan pertaruhin hidup dan mati

  • Wah akhirnya lahiran dengan normal dan selamat ya. Alhamdulillah…
    Aylan memang lucu. Gemesin…
    Btw gimana janji janji manis dari papa Aylan udah ditepati blm? Ke kafe apa itu? Beli es krim dan apalagi tadi ya? Hehehe

  • Aku juga lahiran tapi gak dijahit mom. Tapi bayinya kecil sih. Cuma 2 kg. Tapi mom bayinya gede ya, 3,2 kg. Hihi. Seru ya melahirkan. AKu masih pengen lagi. Tapi nanti deh.

  • Alhamdulilllah…
    Iki anak tiga cakep-cakep bangets ya. Masya Allah Tabarakallah
    Keren perjuanganmu mba Ajeng..detil bangets nulisnya, berasa lahiran lagi aku hihihi
    Kalau diriku, anak pertama beberapa jahitan, karena dia memang enggak sempurna dan enggak nangis waktu lahir dan akhirnya meninggal. Lahiran kedua tanpa jahitan. Ketiga sesar karena plasenta previa.
    Alhamdulillah tetap kita syukuri apapun itu ya..yang utama merawat dan membesarkan merak dengan penuh cinta.
    TFS

  • Wah, keren mb ajeng. Aku blm tau nih gmb proses lahiran normal. 2 kali sc.. Huhu.. Mcm2 yg nyebabkan sc kmrn. Jd curhat. Ehm, aku kok ngakak banget pas suaminya blg open pokedex.. Haha. Suamiq gamers jg mba tp sejak byk kerjaan programnya agak pensi jg ngegamenya. Sehat terus ya mba

  • Wah hebat tanpa jahitan saat melahirkan. Memang tidaklah mudah tapi tetap bersyukur bunda dan anak selamat. Apalagi katanya kalau di jahit sakit dan agak ngilu

  • Masya Allah gak dijahit kak beneran? Aku sudah dua kali semua dijahit karena katanya lecet tapi ya untung di bius jadi gak berasa sih sakitnya. Masih aman lah kak rasanya juga

  • Hai Mbak Ajeng, salam kenal,
    Meski masih 7 bulan lagi, rasanya saya udah pengen praktekin tips dari Mbak.. Dan mulai pengen belajar tentang gentle birth. Doakan, semoga lahiranku nanti bisa mudah kayak Mbak ya.. Apalagi tambah jahitan.. Ya Allah.. Mudahkan

  • Ya Allah ngakak “Pokedex” 😀
    AKu kok jd inget drama lahitran haha
    Alhamdulillah yaa gak ada sobekan, cuma lecet aja 😀
    Pdhl pakai tereak2 tapi tetp bagus ngejennya/ ngeluarinnya ya hihihi ::D

  • Cerita melahirkan emang paling seru ya mba, sesudahnya suka ketawa sendiri kalau ingat saat melahirkan, haha… Hebat ga ada sobekan, coba ajarin *eh

  • kalau nggak pakai jahitan pastinya nggak ada drama takut pipis yaa. hihi. aku kemarin harus digunting dulu biar kepala bayinya bisa keluar jadi ya otomatis dijahit deh dan itu asli bikin parno ngapa-ngapain

  • Emang kalo liat ak2 ngelahirin itu rasa nya campur aduk, karna taruhannya nyawa, dl aku selagi belum nikah suka ketawa campurvmules kl ngeliat org mo lahiran, contoh nya kk q, dr yg nahan sakit smp suami.nya yg di gigit2 dan suster nya yg d omelin, drama bgt ya, tp pas giliran aq yg ngerasain aku br tau knp ada sebagian org yg beraksi spt itu, karna menahan sakit nya, mk sifat asli seseorang jd kelihatan hehehe … Btw aku lahir an anak ke 2 dan 3 tanpa jahitan, alhamdulillah yg ke 3 jg gak jd sesar jd lahir an normal. Acung jempol buat para emak2 yg udh kelahiran buah hati nya ke dunia.Proud of you ..

  • Masyaa Allah mbak. Perjuangan panjang ya pastinya melahirkan. Semoga sehat selalu ya mbak, anak2 juga menjadi anak yg soleh dan solehah. Sebab, begitu besar perjuangan seorang ibu dalam melahirkan

  • Ih kaya akuu banget ini, rasanya tiada taraaa dan pas ngejan perlu waktu sebentar aja. Malah kata suamiku kalo dia jadi dokternya dia bakal kesenangan luar biasa dapar pasien kaya gitu karena biasa ngadepin yg ngejannya super susah. Kayanya langsung hilang sebelnya diteriakin dan diomelin istri pas kontraksi, hihihi…

    Hanya sayangnya saya ga seberuntung mba Ajeng akhirnya. Karena saya dapat bidan yg pro gunting. Besar kecil bayi tetep epis, ga ngaruh . Angkat bokong apa ga tetep epis, ga ngaruh. Padahal aku sudah atur banget BB bayi supaya di bawah 3 dan ga angkat bokong tetep aja episssszssss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *