Sarah dan Andrian PART 2

Haaaii, maafkeun menunggu sangat lama. Alhamduliullah mulai bisa menulis lagi. Enjoy yang part ke 2 ini yaah!

 

Sarah menghentikan pekerjaan mengetiknya. Punggungnya terasa lelah, matanya terasa lelah, LEHERNYA TERASA LELAH, Ya Allah seluruh tubuhnya terasa lelah. Dia meluruskan punggung sambil bersandar ke kursi, menjulurkan tangannya ke atas kemudian membentuk cakar berlanjut dengan merenggangkan kski dsmbil mrnrkuk jari-jarinya. Dia menguap sebentar dan…

Matanya menoleh kea rah foto yang dipasangnya di meja samping. Fotonya dan Andrian. Mereka sudah menikah hampir, Sarah berfikir sambil mengingat-ingat tanggal. Mmm..hampir 4 bulan sepertinya, katanya dalam hati.

Sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan kiri Sarah kembali mengingat kapan terakhir kali dirinya merasa sangat letih seperti ini. Apa mungkin gara-gara aktifitas semalam?

Sarah yakin rona merah langsung menjalari pipinya. Sarah menarik nafas, dia cukup yakin kegiatan semalam berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit walaupun tetap saja…

Sarah mengibas-kibaskan tangannya, merasa panas walaupun AC di ruangannya menyala terus sejak tadi. Menelan ludah, Sarah mencoba memikirkan hal yang lain. Oh ya, penyebab tubuhnya terasa pegal semalaman karena Andrian melakukan itu semalam. Itu, hal yang sungguh tak termaafkan baginya. Saking kesalnya bahkan sarah sampai tidak bisa tidur. Sarah sakit hati, pokoknya kalau Andrian tidak minta maaf dengan—

“Mbak ini gila ya?”

Damn!

Saking seriusnya berfikir Sarah tidak sadar kalau pintu ruangannya tadi sedikit terbuka dan Bobi ternyata sudah masuk sejak tadi. Lagian, kenapa juga selalu Bobi yang harus memergoki tiap kali aku sedang berfikir tentang Andrian? Pikir Sarah

“Ya bob? Ada apa ya? Kok kamu bisa-bisanya masuk ke ruanganku tanpa ngetuk pintu dulu? Bilang permisi atau selamat siang misalnya?” kata Sarah sambil berdehem dan membetulkan posisi duduk.

“Loh, aku udah ngetuk mbak. Nggak ada tanggapan yaudah aku masuk aja eh, malah nemu mbak yang wajahnya senyum-senyum terus cemberut sendiri” jawab Bobi yang gagal menahan cekikikan

Sarah berdehem lagi , berusaha membuat suaranya terdengar formal “Eh, nggak sopan kamu ya, aku tuh tadi lagi mikir..” Sarah mengamati tangan Bobi yang menggenggam sebuket besar bunga berwarna-warni, dia tertegun sesaat

“Itu kamu bawa apaan bob?”

Bobi masih cekikikan “Hihihi, ini mbak buatmu. Tadi barusan ada tukang yang nganter” bobi menyimpan buket bunga itu dengan hati-hati di meja Sarah “ciyeeeeeee” katanya dengan nada yang membuat Sarah sebal.

“ada kartunya noh” tambah Bobi

Sarah langsung mengambilnya dengan kecepatan kilat.

“eeehh, awas kamu  baca-baca ya bob. Ini privasi tauuuu” kata Sarah sambil berkacak pinggang. Tulisannya ternyata agak panjang, Sarah mulai membaca..

Tuan putriku sayang

My little sweety muach muach

Sarah memasang ekspresi seperti mau gumoh

Maafkan aku semalam ya

Aku nggak nyangka kamu bakal marah besar

Idih,dipikir dengan bunga aku bakalan langsung luluh?

Nah, nah, nah, aku tau kok kalau dengan bunga aja belum tentu kamu bakalan maafin aku

Iiiissshhh!

Ini baru kejutan pertama aja

Nantikan kejutan berikutnya

Jangan berdebar-debar ya

Yang selalu Mencintaimu, Andrian.

“Tuh kan, mbak gila”

Sarah yang baru selesai melipat kembali kartu dari Andrian mendelik dan memasang wajah galak “Heh, ngapain kamu masih berdiri di sini? Keluar gih, syuh-syuh” Katanya dengan sikap bossy yang tidak pernah berhasil.

Bobi membalik badan sambil tertawa terbahak-bahak “Ciyeeeeee”

“Bobiiiiiiiii” untung saja Bobi sudah menutup pintu ruangannya, Sarah tampak siap melemparkan  pemberat berkas kea rah bawahannya yang jahil itu.

Sarah kembali menatap buket bunga yang berada di atas mejanya. Oke Fine, bohong kalau dibilang Sarah tidak luluh dengan bunga. Hellloooww, wanita mana sih yang nggak tergerak hatinya sama bunga? Sarah mengulang kalimat yang ditulis Andrian, aka nada kejutan lain menanti. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.

***

“Jadi, coba jelasin ke gue sebenernya ada masalah apa antara lo dan suami lo?”

Sarah menggeser roda kursinya ke samping, dilihatnya Maura, bos besar pemilik took kue tempat dia bekerja melenggang dengan santai masuk ke ruang kerjanya. Sarah mengangkat sebelah alisnya

“Errr..njelasin apaan sih?”Tanya Sarah bingung

“Inih” Maura meletakkan kotak pipih berukuran besar di sebelah buket bunga yang tadi belum dirapikan Sarah. Sarah mengernyit saat melihat bungkusan Martabak Orins yang dibawa Maura, matanya menatap Maura penuh pertanyaan.

“Mending lo buka dulu deh itu bungkusan martabak” perintah Maura

Sarah mengangkat bahu namun tak urung membukanya dan dan ternganga kaget. Di dalamnya ada martabak keju berukuran besar yang dihias dengan coklat bertuliskan…

PIPI BAKPAO, MAAF YA

Sarah menatap Maura, Maura menatap Sarah, mereka berdua bertatap-tatapan. Sedetik, dua detik kemudian tawa mereka meledak bersama. Maura bahkan sampai harus memegangi perutnya. Sarah tergelak-tegelak lalu duduk, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di meja.

“Oh YA AMPUN! Suami lo gokil abis !!” kata Maura gemas

Sarah mengangguk mengiyakan. Tawa terkekeh masih keluar dari sudut-sudut bibirnya. Mereka mengelus dada mencoba untuk menenangkan diri dari tawa yang sepertinya tidak pernah selesai. Setelah berhasil mengatur nafas Maura langsung bertanya

“Jadi?”

Sarah berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya “Enggak ah, gue malu”

“Malu kenapa?”

Sarah masih terdiam

“kalau lo kayak gini, gue malah maikn penasaran oi” desak Maura

Sarah menghela nafas “Tapi elo janji nggak bakal bahas ini sama orang lain? Kalo cerita gue nggak bakal keluar dari ruangan ini?”

“Iye gue janji! Demi elo, demi perusahaan ini gue bakal jaga rahasia lo!” Maura mengatakan itu dengan semangat

Sarah meringis.

“Yah, mmm…jadi…”

“Jangan diulur-ulur bisa nggak cebol? Langsung ke intinya aja, susah banget sih”

Sarah berpikir segenggam cabe sepertinya sangat cocok kalo dicocolin ke bibirnya Maura. Sarah tau betul dia tidak begitu tinggi, dan panggilan cebol sangat dibenci olehnya.

“Enggak jadi ah, udah bête duluan gue” balas Sarah sambil melengos

“eh, kalo elo nggak mau cerita besok ada surat pemecatan di meja elo ye”

“Bujug! Elo ngancem gue nih ceritanya?” Sarah menaikkan salah satu Alisnya.

“Makanya langsung cerita aja, gue kan udah janji kalo bakalan jaga rahasia” balas Maura santai

It’s complicated! Dasar badak!” Sarah membalas tidak mau kalah

Maura tersenyum, kemudian tanpa meminta ijin terlebih dahulu dia mengambil sepotong martabak milik Sarah, menggigitnya dan duduk dengan santai sambil menumpangkan salah satu kakinya ke depan.

Tell me girl, I’m your bestfriend, remember?”

Sarah memandang Maura, memang bagaimanapun Maura adalah sahabatnya sayangnya, gadis itu juga adalah bosnya.

“Yah, aku malu aja sih karena ini melibatkan…”Sarah memelankan suaranya “Kentut” katanya tanpa suara

Maura melongo, mulutnya yang terisi martabak menganga. Sarah merasa puas bisa membuat ekspresi Maura menjadi seperti itu.

“Elo bercanda ya?” Kata Maura tak percaya

Sarah mengangkat bahu “Terserah elo mau percaya atau enggak. Dia kentut setelah kami berdua olahraga malam, dan bauuuuuuuu banget. Secara sebelumnya dia habis makan 3 biji ubi cilembu. Gue sebelnya nyampe ke ubun-ubun”

Maura kembali menyemburkan tawanya.

“Elo bego banget sih cuiiii!” Maura tampak tidak bisa menahan rasa gemasnya “dia kentut artinya sehat, kalo enggak bisa kentut elo harus khawatir”

“Yaa. tapi kan nggak harus di depan gue juga. Dia tau betul kalo beberapa terakhir ini gue enggak enak badan, sensitive banget sama bau. Abis dia kentut gue terhuyung-huyung berjalan keluar kamar karena pusing ples mau muntah loh” kata Sarah defensive

Maura terkikik

Sarah mendelik sebal, dia menggigit bibir “Semalam bisa dibilang gue bobo punggung-punggungan sama dia. Waktu berangkat kami juga diem-dieman. Makanya dia ngirim bunga sama ini martabak “

“kalian ini emang pasangan sinting. Elo harus bersyukur kali punya suami kayak Andrian, kocak banget dia” Sarah mendengar nada bicara Maura yang mulai melembut

“Kentut aja dipermasalahin. Kalian ini beneran kreatif  nyari masalah buat bertengkar” sindir  Maura sambil menahan geli

Sarah hanya mendengus sebagai balasannya.

“Terus elo masih marah sama Andrian?”

Sarah menyandarkan dagu di tangan kirinya sambil melirik kea rah tumpukan bunga dan martabak di depannya “Dengan bunga dan martabak yang special dikirim dari dia kayak gini? Menurut elo? Gue udah meleleh dan mencair jadi genangan  dari tadi tauk”

Maura terpingkal-pingkal  sekali lagi.

***

Istriku, taukah dirimu kalau cinta itu seperti kentut..

Iya kentut!

Bukan karena baunya, bukan..

Juga bukan karena kentut itu tidak terlihat namun terasa, persis seperti cinta..

Sarah sayang..

Kentut itu, jika ditahan bisa sakit..

Kalau dikeluarkan malu..

Aku malu padamu..

 

Andrian

Sarah memandang kartu yang baru saja diberikan seorang bapak becak padanya. Bapak becak yang dikirim khusus oleh Andrian untuk menjemputnya.

Satu lagi kejutan yang diterima Sarah hari ini.

Tanpa malu-malu walaupun dirinya habis diledek oleh Maura, Bobi dan karyawan lainnya Sarah naik ke atas becak dengan semangat. Dia hanya menjulurkan lidah pada Maura yang membalasnya dengan tertawa. Ya ampun, Sarah merasa dirinya pantas menerima banyak bonus karena membuat Maura terus-menerus tertawa.

Dalam perjalanan pulang Sarah merogoh ke dalam tasnya, dia merasa lega karena barang yang ingin dia serahkan pada Andrian tidak ketinggalan. Sarah mengulum senyum, hari ini Andrian sudah begitu banyak membuatnya merasa dicintai, Sarah berniat membalasnya. Dia yakin Andrian akan senang menerima pengumuman ini, nanti. Nanti ketika dia sudah sampai rumah, Andrianlah yang akan terkejut.

Hanya terkejut? Oh tidak, sarah yakin betul kalau Andrian pasti akan merasa bahagia. Sama seperti yang dia rasakan saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *