Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

PERLUKAH SUATU HAL DISESALI ?

PERLUKAH SUATU HAL DISESALI ?

Bagian kehidupan yang mana yang menurut kamu pantas untuk disesali ?

– Madam A-

Tema yang diangkat untuk hari ke-23 dari tantangan 30 hari menulis dari Blogger Perempuan adalah tentang “hal yang disesali saat ini”.

To be honest, saya agak bingung untuk menuliskannya. Hal pertama yang lewat dalam pikiran saya, bila suatu hal disesali berarti itu adalah pertanda kita tidak bersyukur atas takdir yang telah diberikan kepada Allah. Lebih tepatnya, kecewa. 

Padahal, bisa jadi Allah telah menetapkan takdir terbaik untuk kita. Bukankah ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa bila kita berpikir, “Seandainya tadi…seandainya…” bukanlah sesuatu yang patut dilakukan. 

Maka dari itu, saya mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan Yusuf. Karena saya bingun sekali, tidak tahu harus menuliskan apa. Takut kalau tulisan saya yang akan dibaca oleh banyak orang ini (aamin ya Allah) justru menjadi sesuatu yang mudharat. Padahal, saya kan maunya membawa manfaat yang banyak. 

HAL YANG DISESALI : TANDA TIDAK BERSYUKUR, ATAU PENDORONG UNTUK BERUBAH?

Dari wikihow, saya mendapatkan bahwa penyesalan adalah perasaan dan pola pemikiran yang membuat seseorang selalu memutar kembali dan memikirkan sebuah kejadian, reaksi, atau tindakan lain yang sudah dilakukan. Ini artinya kita akan selalu melihat ke masa lalu alih-aloh berpikir tentang masa depan. 

Penyesalan terkadang bisa menjadi beban yang sangat berat, efek negatifnya kita jadi sulit untuk memaafkan diri sendiri. Hal ini tentunya akan menjadi panjang, karena hari-hari di hadapan kita menjadi akan terus dibayang-bayangi oleh kisah masa lalu. 

Dari hasil diskusi dengan Yusuf, kami berdua mencapai sebuah kesepakatan bahwasanya ada dua jenis penyesalan.

  1. Menyesali sebuah kejadian yang hadir akibat adanya keputusan yang buruk
  2. Menyesali sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan.

Penyesalan jenis pertama sesungguhnya bisa menjadi sesuatu yang produktif. Misalnya untuk kasus saya sendiri. Saya sangat menyesali keputusan saya untuk mengirimkan si abang ke Jogja tanpa menanyai pendapatnya terlebih dahulu. 

Jadi, saat itu dia masuk Rumah Sakit. Sedangkan kedua adiknya juga sakit. Kondisi rumah sudah semikian kacau dan saya merasa tidak sanggup. Saya sangat gegabah, mengatakan kepada ibu mertua untuk membawanya ke Jogja selepas dari Rumah Sakit. 

Pertimbangan saat itu, di Jogja dia bisa beristirahat dengan baik, dirawat oleh kakek-neneknya yang bisa fokus mengurus satu anak saja. Saya khawatir kalau dia tetap di rumah dengan kondisi lemah pasca pulang dari Rumah Sakit, dia akan mudah tertulari adik-adiknya. Saya takut kalau dia akan jatuh sakit lagi.

Dia akhirnya berangkat ke Jogja dengan pesawat. Dia mengatakan ya, tapi entah bagaimana dengan lubuk hatinya. Saat itu saya berpikir bahwa dia akan bahagia. Tapi nyatanya tidak. Setelah 10 hari, dia meminta untuk kembali ke Jakarta. Kembali berkumpul bersama kami semua. 

Pada detik itu, saya menyadari bahwa dia merasa dibuang, tak diinginkan. Dia merasa bahwa kehadirannya mengganggu. Puncaknya, dia merasa tak dicintai. Saya menangis tersedu-sedu…

Bagi saya, menyuruh Yuan pergi adalah suatu kesalahan yang fatal. Sebuah penyesalan yang tidak ingin saya ulangi. 

Hal ini tentu berbeda dengan penyesalan karena tidak mendapatkan sesuatu. Menyesal tidak dapat baju yang bagus, atau makanan yang enak. Ah, itu hanya sebuah hal yang receh. 

ITU PENYESALANKU, APA PENYESALANMU?

Nah, itu dia sedikit kisahku tentang penyesalan. Bagaimana dengan kamu?

(Visited 25 times, 1 visits today)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *