Peluru Udara

Suatu siang ketika si abang sudah pupang dari sekolah, dia mengajak saya bermain.

“Abang mau main apa?” Tanya saya

“Main tembak-tembakan yuk mah!” Jawabnya ceria

Saya mengiyakan dan jadilah kami bermain tembak-tembakan dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk sebagai pistolnya. Pura-puranya seisi rumah berubah menjadi hutan belantara. Bantal berubah menjadi tameng, gorden dijadikan tempat untuk bersembunyi, melangkah pun saya usahakan tanpa suara. Terdengar bunyi haiikkk, dat, der, dor yang cukup ramai. Pada intinya, saya berusaha menjiwai betul permainan tembak-tembakan ini. Sampai akhirnya si abang tiba-tiba protes.

“Yah mama, ditembak kok nggak mati-mati sih?” Keluhnya melihat saya berakting jatuh dan bangun lagi

“Lah, tadi itu tembakan abang meleset kali” kata saya sambil mengernyitkan dahi

“Kok gitu? Mama nggak seru ah” serunya sambil bersedekap. “Yaudah deh aku kasih jurus baru” lanjutnya.

Dengan cepat si abang membalikan badannya dan menunduk, lalu tiba-tiba…

“Duuuuuuuutttttttttttt!” Suara khas bunyi kentut terdengar nyaring dan begitu merasuk sukma. Hal ini belum ditambah bau semerbak yang berasal dari sarapan yang beluk sempat dikeluarkan lagi.

“Hak hak hak! Mamah kena!” Si Abang tertawa begitu keras dan penuh dengan kepuasan.

“Loh, mamah kenapa kok megap-megap gitu? Mamah! Mamaaaahhhh!”

*Tamat*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *