Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

Recent Posts

CINTA TANPA KATA PART 7 : KOSONG

CINTA TANPA KATA PART 7 : KOSONG

Aufar memandang ruang kelasnya yang sudah masih agak ramai. Hari ini hari terakhir latihan ujian, teman-temannya banyak yang tidak langsung pulang. Mungkin, seperti Aufar mereka ingin rehat sejenak dari kejenuhan harus belajar terus menerus. Belum lagi beratnya atmosfir ruangan saat latihan ujian diadakan tadi. Baru […]

CINTA TANPA KATA PART 6

CINTA TANPA KATA PART 6

Aufar melongok, memeriksa dengan hati-hati keadaan dari arah samping gerbang sekolahnya. Beberapa hari ini dia merasa dikuntit oleh Rania. Baru juga berjalan dengan tenang, tau-tau ada tepukan di bahunya, Rania. Gadis itu selalu mengajaknya mengobrol namun Aufar selalu mengabaikannya. A Dia tidak merasa nyaman dengan […]

CINTA TANPA KATA PART 5 : CANTIK

CINTA TANPA KATA PART 5 : CANTIK

Aufar merapikan buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, tangannya memijat tengkuk yang terasa pegal. Selesai dengan buku-buku dia memperhatikan tumpukan kertas kerja yang berisi soal-soal ujian dan jawaban.

Aufar terlahir sebagai seorang tuna wicara. Entah karena virus atau konsumsi makanan yang tidak baik atau apa pokoknya Aufar tidak bisa bicara. Pita suaranya bermasalah, begitu juga lidahnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar aneh sekali, seperti orang gagu. Dia samar-samar mengingat masa kecilnya, saat sang mama menyadari kalau dirinya tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun sampai usia tiga tahun, hanya suara-suara teriakan tidak jelas. Mereka membawanya ke dokter dan ahli tumbuh kembang, diperiksa berkali-kali dan vonis itu jatuh. Selamanya dia tak akan bisa bicara.

Syukurlah dia memiliki orang tua yang begitu sabar dan tegar, walau tak sempurna orang tuanya tetap memberikan cinta dan memfasilitasinya senormal semampu yang mereka bisa lakukan. Masa-masa kecilnya tidak begitu menyenangkan, anak-anak tetangga sering menghinanya. Si gagu, itulah salah satu panggilan yang disematkan padanya, selain anak keturunan jin. Ya, tak sedikit yang bilang kalau cacat yang diderita Aufar adalah karena gangguan makhluk halus, pemikiran menggelikan. Tidak tahan dengan gunjingan warga kampung yang tidak memiliki empati, orang tuanya mengambil keputusan untuk pindah ke kota besar yang memiliki fasilitas lengkap.

Mama memilih resign dan mengurus Aufar sendiri secara penuh. Aufar tak mampu mengungkapkan betapa dia mencintai sang mama, yang langsung mengambil kelas pelatihan komunikasi bahasa isyarat secara intensif. Mamanya juga mendatangkan seorang guru privat yang mengajarinya bahasa isyarat. Tak terhitung betapa seringnya Aufar tantrum karena tidak mampu berkomunikasi secara normal, namun mamanya tetap sabar. Sang papa juga tak kalah dalam usahanya menjalin komunikasi dengan Aufar. Lelaki itu selalu memeluknya, mengatakan betapa dirinya bersyukur mendapatkan Aufar, anak yang tampan dan sehat. Kebisuan bukanlah kesalahannya, itu hanya takdir. Kebisuan tak akan pernah menjadi halangan papa dan mama untuk mencintainya. Papa selalu menemaninya bermain lempar bola, layang-layang ataupun bersepeda layaknya hubungan ayah dan anak yang normal. Tak jarang papa mengajak Aufar ke kantor dan dengan bangga memperkenalkan Aufar ke kolega-koleganya.

Sungguh, semua usaha luar biasa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya mengikis habis rasa rendah diri Aufar. Cinta dan kasih sayang melimpah yang didapat membuatnya merasa berharga dan bahagia. Dia tahu tidak akan diterima di sekolah biasa sehingga memilih untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa saat SMP. Setelah beberapa tahun, beradaptasi serta membaur dengan sesama penderita tuna wicara hidupnya sejauh ini terasa normal. Sampai dia melihat gadis itu.

***

Aufar ingat saat gadis itu memperkenalkan diri, namanya Rania, kelas 2 SMA yang memilih penjurusan IPS. Aufar ingin menghindar, dia tidak terbiasa dengan perempuan. Yah, tentu saja dia mengenal beberapa perempuan di sekolahnya, sesama manusia yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan mereka ataupun guru-guru, tentu mudah untuk berkomunikasi karena mereka menguasai bahasa isyarat. Tapi Rania, demi Tuhan, dia seorang gadis normal. Kenapa seorang gadis yang mampu bicara, mendengar, berjalan, berlari dan melihat secara normal mau berbicara dan berteman dengannya?

Aufar merasa sangat kikuk, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rania. Dia tidak mau mengucapkan sepatah katapun, takut Rania akan mengerut ngeri dan langsung berlari menjauh saat mendengar cara bicaranya yang sangat aneh. Sudah cukup dia dianggap seorang weirdo saat kecil dulu. Dia tidak ingin mengulanginya lagi.

Tapi, well ini sangat aneh karena Rania tahu kekurangannya. Tahu dari mana? Oh ya, tukang foto kopi yang menjadi langganan murid-murid dua sekolahan. Gadis itu bahkan berusaha bicara pelan-pelan, menanyakan apakah dirinya mengerti atau tidak. Ya, pepatah mengatakan ketika kita mempunyai suatu kekurangan akan ada suatu kekuatan lain yang melengkapi. Aufar memiliki kemampuan untuk membaca gerak bibir dengan sangat baik. Sebuah kemampuan yang terbangun berkat usaha dan kerja keras tanpa lelah selama  bertahun-tahun.

Gadis itu menarik, Aufar mau tak mau harus mengakuinya. Tidak secantik gadis-gadis di majalah yang dijual tukang koran pinggir jalan tempatnya biasa menyetop angkot. Aura gadis itu, penuh semangat…

Aufar hanya bisa terpana saat melihat gadis itu tersandung dan langsung melakukan gerakan koprol depan. Dan saat dia mengulurkan tangan untuk membantunya, dia tak pernah menyangka akan menemukan sebuah wajah yang begitu…cantik.

 

CINTA TANPA KATA PART 4 : AWAL PERJUANGAN

CINTA TANPA KATA PART 4 : AWAL PERJUANGAN

Seorang gadis sedang fokus membaca sebuah artikel di laptopnya. Artikel itu membahas seluk-beluk tentang tuna rungu, mulai dari penyebab sampai cara berkomunikasi dengan mereka. Tangannya menggenggam sebuah pulpen dan notes kecil. Setiap kali ada hal yang menurutnya menarik dan penting pasti akan langsung dicatat olehnya. […]

CINTA TANPA KATA PART 3

CINTA TANPA KATA PART 3

“Aufar!” Seru Rania penuh semangat, akhirnya setelah behari-hari menunggu, mencari informasi dan menguntit layaknya burung hantu yang mengincar mangsanya gadis itu bisa menemukan orang yang ditunggunya. Lelaki yang dipanggil Aufar itu menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan dia menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Dahinya mengernyit ketika […]

CINTA TANPA KATA PART 2 : MENGAMATI

CINTA TANPA KATA PART 2 : MENGAMATI

“Kenapa harus jatuh cinta sama lelaki yang enggak sempurna gitu sih?”

Rania terlonjak kaget, dia menoleh ke samping dan menemukan Sasya yang sedang memiringkan kepala, mengamatinya. Rania merasa agak malu karena terpergok sedang melamun tadi.

“Siapa?” Rania balas bertanya. Bayangan seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh serta senyum mempesona kembali muncul di kepalanya.

“Kamu dan siswa SLB itu loh, sok banget pura-pura enggak tahu! Sahut Sasya kesal

Rania terkekeh “Apaan sih Sya, kok malah kamu yang jadi bete gitu. Lagian buatku, enggak penting dia sempurna secara fisik atau enggak”

Sasya hanya mendengus menanggapi jawaban Rania.

“Sya” Rania memanggil sahabatnya dengan lembut. “Jangan panggil dia siswa SLB Sya, dia punya nama. Namanya Aufar”

***

Butuh beberapa hari bagi Rania untuk mengetahui nama lelaki yang menyaksikannya koprol saat jatuh dulu. Ah, Rania sering membayangkan seandainya dia bisa melakukan sihir obliviate seperti dalam kisah Harry Potter. Rania mendadak menjadi tenar di sekolah gara-gara kejadian memalukan itu. Teman-temannya dengan tidak tahu malu mengonfirmasi kejadian tersebut lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Rania kesal setengah mati.

Hari itu adalah hari paling sial bagi Rania, selain terpaksa memakai baju sekolah karena kemeja putihnya kotor dan roknya robek, baju pinjaman dari sekolah ukurannya cukup mini. Rania terpaksa menahan diri menerima celetukan ataupun siulan teman-teman lelakinya karena penampilannya yang seperti model majalah porno. Untung saja Sasya berbaik hati meminjaminya jaket untuk menutupi tubuhnya yang terbalut ketat.

Sepulang sekolah Rania sengaja berlama-lama menunggu di depan gerbang, dia penasaran banget dengan lelaki yang membantunya berdiri tadi. Sayang sekali angin berhembus kencang, awan-awan mendung mulai muncul. Siang itu Rania terpaksa mundur, dia tidak ingin kehujanan. Bajunya sudah cukup ketat, apa jadinya kalau ditambah guyuran air hujan?

Saat Rania berjalan menjauhi gerbang  dia tidak menyadari kalau ada seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh juga keluar dari gerbang sekolah yang berbeda sambil menyampirkan tas ke bahunya. Lelaki itu memandang ke depan dan mengernyit saat melihat sosok seorang gadis yang tampak tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Gadis dengan kunciran kuda itu menarik-narik roknya ke bawah, berusaha menutupi lebih banyak kakinya yang terlihat dengan sia-sia. Lelaki itu menyandarkan sebelah bahunya ke tembok dan melipat tangan di depan dada, lalu…tersenyum…

 

 

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Rania lupa kapan saat pertama kali melihatnya. Yang dia ingat, saat itu dirinya sedang berlari terburu-buru mengejar gerbang sekolah yang akan segera ditutup. Rania terlalu sibuk melihat jam di tangannya sehingga saat kakinya tersandung sebuah batu cukup besar, dia tak sadar. “Aaaarrgggghhhhh!!!” Jeritnya kaget ketika […]

Hobi Suami yang Bikin Istri Gigit Jari

Hobi Suami yang Bikin Istri Gigit Jari

Assallammuallaikum wahai para istri solihah idaman suami masing-masing, dimanapun anda berada.Alohaaaa,  apa kabarnya? Pastinya alhamdulillah, luar biasa, allahuakbar kan ya? Yeeiii! Eh, kamu dan kamu  para istri cantik yang sudah mandi atau belum, tanya dong, apakah suami kalian memiliki hobi? Punya? Alhamdulillah. Kalau berdasarkan KBBI, […]

Bali : Ketika Bertemu Orang Baik

Bali : Ketika Bertemu Orang Baik

Duh, Mumet!
Itu yg saya rasakan ketika sedang fokus mendulang cah ayu  saat  Yusuf bilang kalau “mah, tiket sudah dibeli”
(Warning! Tulisan ini akan panjang, jadi siap-siap loh ya)

Detik berikutnya muncul SS alias sreenshoot jadwal penerbangan untuk malam nanti jam 22.50
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk:

jam 21.00 kamu udah harus sampai bandara ya

Peh, paiitt! paiitt!! makjegagiik!! makbedunduk!!
Saat itu rasanya saya pengen ngelempar yusuf ke papan penggilesan dan nggiles dia bolak-balik sampai jadi remah-remah. Dan itu pun masih belum cukup.
Dia mah santai wae disana tinggal klik2 hape, yg disini udah keringet dingin mbayangin berbagai kerjaan yg harus diselesaikan : beberes rumah, packing, sounding ke yuan kalau bakal naik pesawat (karena dia trauma terbang entah gegera nonton apa), menyiapkan mpasi luna dan seabrek pekerjaan lain yang , intinya harus mengkondisikan semua hal beres dan rapi sebelum berangkat.

packingnya simpel aja mah, yg penting2 aja dibawa

Asli, saya ngambek berat waktu itu, kuezeell!!Suami saya tercinta, si Yusuf belum pernah dicocol pake sambel geledek kayaknya.
Lah, judulnya bawa toddler sama baby, apalagi Luna sedang mengonsumsi susu tambahan, ya nggak mungkin to kalau bawaan saya kurang dari seabreg-abreg? Grrrrrr…! (Keluar taring dan ekor)

Yaa.. salah saya juga sih, soalnya selama ini Yusuf kebanyakan tugasnya cuman tinggal ngancingin dan angkut2 koper doang. Nggak ngerti bahwa dalam proses pengepakan koper yg dipikirin sama ibu2 rempong macam saya ini banyak banget. Belum lagi prosesnya lama dan melelahkan. 


Anak-anak juga taulah kalau di bali mereka akan banyak bermain pasir dan air sehingga rasanya perlu deh baju anak2 dibawa agak banyakan, males banget bok kalo disana harus umbah-umbah. Walaupun janjane iso tuku, tapi sebagai traveler dadakan pemula yg kere, saya harus pinter2 ngatur keuangan kan? Terus, karena males kalau harus bawa Slow Cooker dan ubo rampe-nya, saya membeli Teddy’s chef rice salmon dan juga puree buahnya (jangan ditiru ya, maklum sejak hamil lagi semangat memasak apapun menurun drastis). Nah, saya hemat disatu sisi dan jebol di sisi lain karena Teddy’s chef iki regane luaraaaangg!

Setelah keriuhan dirumah, berangkatlah saya diantar Alvin di tengah hujan badai menuju bandara. Sesampainya di bandara, saya turun dan bersikap sok tegar, sok kuat, sok ho’oh.


“Nggak usah dianterin sampai ke dalem, insya allah aman”

Pokoknya setelah barang2 tersimpan rapi di trolley saya melaju masuk ke bagian keberangkatan. 

Alhamdulillah, disana banyak mas2 entah dari BC entah Angkasa Pura yg kepincut sama senyumnya Luna. Tentu saja hal itu langsung dimanfaatkan emaknya untuk nyuruh mereka angkut2 koper pasca pemeriksaan. Begitu juga saat check in, puas bangetlah sama air asia karena proses check in yang sangat simpel. 

Saya melirik jam, masih 2 jam menuju boarding. Lagi-lagi Alhamdulillah karena Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekarang sudah menyediakan playground. Anak-anak saya taruh disana, dan saya sendiri makan sego ayam goreng yg saya beli di deket rumah dengan harga murah meriah (jian kere tenan) sambil lesehan sambil njagain mereka, multitasking khas ibu-ibu.

Tibalah saat kami duduk manis di dalam pesawat dan hendak take off. Kalau mau jujur nih, saya sendiri deg2an setengah semaput karena udah lama banget nggak naik pesawat. Tapiiiiiii, as a mother i’m trying my best pokerface.

“Tenang ya Yuan, tenang ya Luna, nggak usah takut, kan ada mamah disini” kata saya dengan jumawa di luar, padahal jireh di dalam ???

Qadarullah penerbangan berjalan lancar walau diwarnai Yuan yg njerit2 ketakutan saat proses take off. Untung banget, orang yg duduk di barisan kami sangat baik sekali. Mbak ini membantu saya menenangkan Yuan, ngajak dia ngobrol. Masalah baru muncul ketika kami selamat mendarat di Ngurah Rai, Yuan Luna KO dengan sukses.setelah menyusun strategi sebentar. Saya bersabar, menunggu semua orang keluar dari pesawat kemudian meminta seorang mbak pramugari untuk menggendong Luna sementara saya mengatur Boba Air saya untuk posisi gendongan belakang. 


Saat saya hendak mengambil Luna kembali, ternyata bahkan kaptennya sudah keluar dr kokpit dan tampak gemas melihat bayi saya dalam gendongan si pramugari, saya sempet ngikik karena ekspresi si kapten ini lucu banget, hahahaha. 

Pada akhirnya saya dirubung dan dibantu oleh para awak kabin, Luna saya gendong belakang, tas saya slempang ke samping dan Yuan saya gendong di depan. Untung si Janin masih di dalam perut dan mau berbagi dengan kedua kakaknya. 

Ketika hendak beranjak si kapten sempet berdecak “Wah wah, ibunya jagoan” 

Saya hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih yg tulus pada mereka. Alhamdulillah saat mengambil bagasi Yuan terbangun dan mau duduk kembali di trolley

Akhirnya saya kembali bertemu Yusuf yang menyambut di pintu kedatangan. Awalnya sih pengen melancarkan aksi sebel, tapi yawislah.. Allah maha baik, emang berat sih jd single fighter saat berangkat tadi, tapi toh Alhamdulillah bisa dilalui juga dengan adanya bantuan-bantuan yg tak terduga. Lagian, harusnya saya bersyukur karena nggak semua suami mau mewujudkan impian istrinya, eaa eaaa.

Saya yg sudah ngerasa teler banget karena hampir tidak tidur sampai dini hari masih harus menahan kantuk dan menelan shock karena jarak lobby sampai ke kamar itu jauuuhhhhhnyooooo. Besoknya saya baru tau kalau itu hotel memang gede dan luas banget karena menyambung ke pantai langsung. Kamarnya enak, luas. Satu hal yang munkin nggak enak cuman klosetnya, nggak ada semprotannya yang bikin saya repot setengah mati saat mau cebok wkwkwkwk. Duuh, dasar udik, nggak bisa bertahan sama toilet dengan style yg aneh2 begini, hihihi.

Saat mengajak Yuan ke pantai saya udah ketakutan, takut dia bakal teriak-teriak “Aurat aurat, iihh auratnya keliatan” sama orang2 yg cuma pakai bikini dan bapak2 yg cuma pakai cangcut renang doang. Maklum, si Yuan ini emang sedang diajarin konsep aurat, lha wong kakeknya aja ditentang keras waktu pakai celana pendek di dalam rumah.

Aheeiii, secara keseluruhan saya meraaa enjoy banget di bali. Orangnya ramah-ramah, murah senyum. Iyes, traveling bener2 membawa hikmah yg banyak sih, apalagi dengan bantuan yg begitu banyak saya terima. Selain mengajarkan anak-anak tentang keindahan alam ciptaan Allah, dan kenyataan bahwa kita mah cuma butiran debu ditengah alam semesta ini, saya menyadari satu hal : Sebanyak apapun kebencian yang ditebarkan di dunia maya, tak ada yang dapat mengalahkan indahnya kebaikan-kebaikan di dunia nyata. FAITH IN HUMANITY : RESTORED

Pondok Aren, 16 April 2017

Tulisan ini saya ambil dari Facebook saya sendiri untuk #odedayoepost #travelling #bali
Kisah Lampy si Lampu Putih

Kisah Lampy si Lampu Putih

Lampy selalu berkhayal tentang saat nanti dia akan dibeli oleh seseorang. Seperti yang selalu diributkan oleh teman-temannya yang lain. Aiden, si lampu biru bercerita bagaimana dirinya diproduksi secara khusus dan berharga lebih mahal dibanding lampu lainnya. Yama, si lampu kuning sering mengeluh kalau lampu sejenisnya […]