KONTRASEPSI, SOLUSI BERHUBUNGAN NYAMAN DAN AMAN

 

Pengalaman adalah guru terbaik

– orang bijak –

Saya adalah tipikal orang yang senang sekali merencanakan sesuatu, salah satunya kehamilan. Jarak anak pertama dan kedua saya rasa hitungannya cukup, tiga tahun lima bulan. Takdir, siapakah yang bisa lari dari hal ini? Enggak ada sih sepertinya. Seperti halnya Kate Middleton yang ditakdirkan menjadi calon ratu Inggris, saya yang cuma remahan rempeyek di dasar kaleng Khong Guan pun memilki takdir sendiri yaitu hamil lagi saat anak kedua berusia sembilan bulan.

Continue reading “KONTRASEPSI, SOLUSI BERHUBUNGAN NYAMAN DAN AMAN”

SAFI, PILIHAN SKINCARE HALAL TERBARU DI INDONESIA

Gan, udah pernah denger tentang produk kecantikan yang namanya Safi?

Sama, saya juga belum pernah. Nah, karena itulah hari sabtu tanggal 1 April 2018 kemarin saya bela-belain datang ke Mall Kokas ( Kota Kasablanka ) yang deket sama stasiun Tebet,  untuk menghadiri grand launching produk kecantikan tersebut. Dengan mengenakan busana nuansa putih dan biru gelap, saya menghadapi gelap serta derasnya hujan Jakarta. Iya, dalam separuh perjalanan menuju mall Kokas entah bagaimana langit berubah gelap dan makbedunduk hujan turun makbres! Langit seolah semangat banget menumpahkan air mata *eaaaa.

Continue reading “SAFI, PILIHAN SKINCARE HALAL TERBARU DI INDONESIA”

PRABU STEAK TEBET : HARGA NDLOSOR, RASA PUOL!

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang makanan kesukaan selain martabak manis coklat-keju, saya tidak akan ragu menjawab STEAK. Sebongkah daging berbumbu yang dipanggang dan dibakar, disajikan bersama kentang, sayuran serta bermacam-macam pilihan saus yang membuatnya terasa lebih nikmat saat dimakan. Duh, saya kok jadi ngiler sendiri saat nulis ini.

Continue reading “PRABU STEAK TEBET : HARGA NDLOSOR, RASA PUOL!”

CINTA TANPA KATA LAST PART : PERPISAHAN

“Bro, ada surat buat kamu” kata mas-mas penjaga warung fotokopi. Aufar mengernyit ketika tangannya terulur menerima sebuah amplop putih dengan tulisan ‘For Aufar’

 

Lelaki itu membolak-balik amplop yang ada di tangannya. Tidak ada nama pengirim. Aufar memandang wajah si mas-mas dengan tatapan bertanya, tapi si mas-mas itu hanya mengangkat bahu dan berkata dengan nada menggoda.

“Iya, itu dari gadismu”

Aufar mengibaskan tangannya mendengar jawaban itu. Walau segila apapun perbuatannya kemarin, Rania bukanlah gadisnya. Lama Aufar memandangi amplop tersebut. Namun akhirnya setelah berpikir sejenak, Aufar memasukan surat itu ke dalam tasnya. Dia mengacungkan jempol kepada mas-mas penjaga foto kopi dan berlalu…

****

Dear Aufar,

Hai kamu sedang apa? Aku tebak kamu pasti sedang tidur-tiduran sambil baca surat ini, bener enggak? Kalo bener sih alhamdulillah, yang pasti aku bukan cenayang loh, yakinlah.

Aufar, awalnya aku ragu-ragu sekali untuk menulis surat ini. Maaf, maafkan aku karena tidak menyerahkannya langsung. Aku takut sekali kalau nanti niatku akan luntur dan batal menyerahkannya ke kamu.

Aufar, aku ingat sekali saat pertama kita bertemu, memalukan. Aku hampir jatuh dan berguling, orang-orang menertawakan dan hanya kamu yang membantuku untuk berdiri. Sejak saat itu, aku terpesona. Ah, aku malu menulisnya, tapi sejak saat itulah aku mulai mengagumi kamu. Dan itu adalah  alasan utama kenapa aku ingin kenal kamu lebih dekat. Konyol memang, dan alay sekali kalau boleh ditambahkan.

Selanjutnya, seperti yang sudah kamu ketahui aku banyak mencari informasi tentang kamu. Beberapa orang mengatakan kalau Aufar adalah orang yang ramah, suka menolong dan baik hati meskipun agak cuek, . Dari cerita mereka aku jadi tahu meskipun kamu tuna wicara,  mereka yang mengenalmu tidak pernah merisaukan hal itu.

Aku adalah orang yang sangat memahami sifatku sendiri. Aku manusia yang mudah penasaran dan bersikap  spontan. Seperti kata-katanya Dewi Lestari ‘’my curiosity could kill a lion’. Aku prihatin sekali karena beberapa saat yang lalu, kamu adalah objek utama rasa penasaranku.

Saking penasarannya aku sampai mendaftar kelas kursus bahasa isyarat. Sungguh tidak pernah kuduga mempelajari hal tersebut ternyata membawa kenikmatan tersendiri. Percayalah Aufar, aku sangat menikmati tiap menit yang kuhabiskan untuk mempelajari kemampuan berbahasa isyarat..

Tahukah kamu Aufar, aku menemukan dan mempelajari begitu banyak hal dari situ. Secara tidak langsung aku bisa merasakan bahwa menjadi orang yang kekurangan secara fisik pastinya tidak mudah. Aduh, kekagumanku semakin bertambah mengetahui kamu sanggup melakukannya. Parahnya, aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini Aufar.

Aku takut dengan rasa sukaku yang makin bertambah padamu Aufar. Sulit sekali untuk mengendalikan rasa suka kita pada seseorang.Silakan sebut aku lebay, tapi aku sering membaca buku ataupun artikel di majalah tentang bahayanya sebuah rasa yang tak bisa dikontrol yang sanggup menjadi mesin penghancur masa depan.  Tidak, tentunya aku tidak mau hal itu terjadi padaku ataupun padamu. Karena itu, aku memutuskan untuk menghentikan sejenak aliran rasa ini. Aku sadar sekali, sebagai anak kecil kelas dua SMA, aku sangat rentan melakukan hal-hal yang salah dan tidak pantas.

Aufar, aku sangat bahagia dengan kunjungan kamu kemarin ke kelasku. Aku rasa, hal itu berarti sesuatu bukan? Mungkin semacam perhatian?

Aku begitu senang tapi setelahnya muncul rasa takut. Saat aku bertanya pada hati kecilku,  aku merasa tidak sanggup melanjutkan rasa ini. Aku takut, aku terlalu pengecut. Bagian yang waras dari otakku mengatakan kalau  berbahaya sekali jika rasa ini membesar di waktu yang tidak tepat.

Ya Tuhan, sakit sekali rasanya mengambil keputusan ini. Kamu harus tahu Aufar bahwa pilihan untuk mundur bukanlah sesuatu yang mudah terutama untukku yang selalu mendapatkan segalanya. Aku orang yang egois Aufar, tapi untukmu entah  kenapa aku merasa sanggup untuk menahan diri.

Aufar, mari kita menjalani waktu kita sendiri-sendiri. Aku dengan persiapanku menuju kelas tiga dan kamu dengan persiapan kelulusan. Aku dengar selentingan kalau setelah lulus kamu tidak mau kuliah, tapi langsung terjun ke dunia bisnis. Itu sebuah tantangan yang sangat berat. Kamu membutuhkan semua pikiranmu untuk fokus.  Aku yakin kamu pasti mampu meraih kesuksesan.

Untuk saat ini, ijinkan aku menyerah pada keadaan.Akan tiba saatnya nanti, ketika aku sudah mampu menunjukan pada Ayah dan Bunda bukti keseriusanku untuk kuliah aku ingin sekali menemui . Atau mungkin, aku malah ingin kamu menjadi pihak yang menemukanku. Mau kan?

Iya, memang aku sudah gila karena  berharap sampai sejauh itu. Mungkin, mungkin karena entah bagaimana aku bisa tahu kalau aku mulai mendapat tempat di hatimu. Tidak, jangan membantah.  Kedatanganmu kemarin, itu bukti tak terbantahkan. Boleh percaya atau tidak tapi aku merasakannya Aufar, aku merasakannya sejak pertama kali melihatmu.

Aku sudah berkomitmen  akan menjaga rasa ini untukmu. Terserah teman-temanku mau bilang apa, tapi bagiku kamu adalah cinta monyetku yang pertama, dan terakhir aku harap.

Aku tidak tahu  seperti apa rintangan yang akan kita hadapi di masa depan. Bagaimana pun, aku kan bukan peramal, hahaha. Tapi aku merasakannya kok, kalau kita akan tersambung lagi. Dan yakinlah Aufar bahwa saat itu, aku akan menikmati sepenuh hati pengejaranmu.

Maafkan aku karena belum mencintaimu saat ini, nggak tahu kalau dua tahun lagi.

See you when I see you,Kiss Kiss

Rania.

 

CINTA TANPA KATA PART 11 : RANIA MUNDUR

Rania tidak bisa tidur.

Hari ini benar-benar aneh bin ajaib. Kenapa di saat dirinya bermaksud untuk menyerah, menjauh mundur dari niat awalnya ingin mengenal Aufar lebih dekat, makhluk itu justru mendekat? Ya Tuhan, lelaki itu masuk ke sekolahnya, mendatangi kelasnya, menanyakan kabarnya. Bayangkan betapa terkejutnya Rania?

Yang lebih parah, setelah semua hal absurd itu terjadi, Aufar tetap membisu. Yah, Rania tahu kalau Aufar itu bisu, tapi bisu yang dimaksud adalah Aufar tidak mau mengatakan apapun lagi. Rania kan jadi penasaran, dan ge er pastinya, jangan-jangan Aufar mulai perduli padanya? Ufh, Rania merasakan rona merah menjalari pipinya saat memikirkan hal itu.

Rania menggerak-gerakkan tangannya, menghapalkan kata-kata dalam bahasa isyarat tangan terbaru. Selama mempelajari bahasa ini, Rania mendapatkan banyak sekali hal-hal yang membuka pikiran. Rania semakin menyadari bahwa menjadi manusia yang secara fisik tidk sempurna itu sangat sulit. Dunia seringkali tidak adil kepada mereka yang memiliki kekurangan, iya kan?

Rania mulai membayangkan, akan seperti apa kalau dirinyalah yang tuna wicara? Frustasi, stress atau bahkan memilih bunuh diri? Rania merasa tidak akan sanggup menghadapi dunia dengan kekejamannya, kepercayaan dirinya pasti hancur lebur. Siapa yang mau berteman dengannya? Siapa yang mau berkomunikasi dengan dirinya? mengetahui dia tidak bisa bicara atau selalu bersuara aneh akan membuat orang justru menghindar bukan?

Tiba-tiba mata Rania terasa panas, cairan bening mulai berkumpul di ujung pelupuk matanya.

“Aufar, kasihan sekali kamu” lalu Rania tersedu. Gadis itu tidak tahan memikirkan masa kecil seperti apa yang harus dihadapi Aufar. Tanpa teman, tanpa seseorang untuk berbagi cerita selain ayah dan ibunya. Hanya sedikit sekali orang-orang yang mau memahaminya.

Sejujurnya, selama tiga hari kemarin Rania banyak merenung, mencoba berpikir dengan mengambil sudut pandang Aufar. Jika dia menjadi Aufar, pantas-lah dia merasa aneh dengan tingkah seorang gadis yang begitu SKSD. Jika dia menjadi Aufar, pasti akan bingung saat bertemu dengan gadis aneh yang tiba-tiba belajar bahasa isyarat tanpa alasan jelas. Jika dia menjadi Aufar, yang tidak pernah berhubungan dekat dengan perempuan manapun selain ibunya, dia pasti akan gugup dan tak tahu harus bagaimana menghadapi seorang gadis yang mendekatinya.

Alasan itulah yang membuat Rania mundur.

Nanti, Rania mundur hanya sejenak. Dia sedang menyusun strategi  baru untuk melakukan pendekatan pada Aufar. Lelaki itu berbeda dengan lelaki normal lainnya. Aufar memiliki kepercayaan diri rendah dan perasaan yang lebih sensitif, pengalaman berhubungan dengan perempuan juga sangat minim atau bahkan bisa dibilang nol. Kalau Rania terus memaksakan pendekatan gerilya, dia khawatir membuat Aufar justru menjauh.

Selain itu, Rania sungguh merasa malu. Dia merasa belum menjadi gadis yang pantas untuk bersanding dengan Aufar, sebagai teman dekat. Bukan tidak ya, hanya belum. Dia masih sangat childish, egois, ceroboh dan lain sebagainya. Apalagi mengetahui posisi Aufar yang sedang sibuk menghadapi ujian kelulusan, Rania tidak ingin menjadi pengganggu.

Rania sudah mengobrol banyak hal dengan bunda, salah satunya tentang bentuk nyata sikap menyayangi. Menyayangi tidak harus memiliki. Menyayangi adalah memberi dukungan, mendoakan agar orang yang kita sayangi bisa terus maju ke depan. Dan Rania menginginkan hal itu untuk Aufar. Rania yakin kalau Aufar masih memiliki begitu banyak mimpi untuk dilakukan. Karena itulah Rania memilih untuk mengalah, mundur dan kembali fokus meniti jalan pendidikannya.

Rania berterima kasih sekali pada Aufar. Berkat lelaki itu, Rania tahu betul dia ingin menjadi apa di masa depan nanti. Guru, Rania ingin menjadi guru SLB. Rania menggigit bibir, memikirkan sesuatu. Rania ingin agar Aufar mengerti kalau dia masih ingin menjadi teman Aufar sekaligus menjadi bayangan yang mengamatinya dari jauh. Apa yang harus dilakukan?

Seteah menimbang-nimbang, sebuah keteguhan muncul di wajah Rania. Gadis itu turun dari tempat tidur, mengambil kotak pinsil di dalam tasnya dan menyobek sebuah kertas. Rania mulai menulis surat…

 

CINTA TANPA KATA PART 10 : MAAF

Rindu? Apa itu rindu?

“Aufar, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ke sekolahku, menemuiku dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun? Tunggu, aku paham kalau kamu enggak bisa bicara tapi kita punya banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun tanpa harus dengan suara. Aufar, jawab? Kumohon, jawab pertanyaanku” Rania bertanya pada Aufar dengan wajah yang tampak sangat memelas.

mereka sudah berhenti berjalan. Kini mereka sedang berdiri besisian di sebelh sebuah pohon yang agak jauh dari gerbang sekolah Rania.

“Baiklah, aku akan ubah pertanyaanku. Yang perlu kamu lakukan hanya menggeleng atau mengangguk” Kata Rania penuh tekad, dia menatap tajam Aufar.

“Apakah kamu memang berencana untuk mengunjungiku?”

Aufar menggeleng

Rania terbata, menatap lelaki di hadapannya dengan takjub.

“Apakah karena ingin bertemu denganku?”

Aufar diam

“Aufar, jawab. Apakah kamu nekat masuk ke sekolahku, karena begitu ingin bertemu denganku?”

Rania memperhatikan raut wajah Aufar yang berubah gusar. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah kamu ingin melihatku karena sudh tiga hari tidak ketemu? Ya, aku menghitungnya Aufar, ini hari ketiga sejak aku terpergok melihatmu main basket kemarin” cecar Rania, pandangannya menyelidik.

Aufar mengacak rambutnya lalu menatap Rania tepat di matanya. Mata yang memancarkan pertanyaan dan juga kejujuran.

Aufar mengangkat bahunya, entahlah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Pikiran dan hatinya sepertinya sedang tidak mau bekerja sama dengan baik.

Bahu Rania turun, lunglai dengan jawaban dari Aufar. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali membenci lelaki di hadapannya yang tidak bisa menjawab dengan tegas. Rania…kecewa.

“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu. Aku membencimu Aufar, aku membencimu yang tidak mampu menjawab pertanyaanku dengan ketegasan. Kamu laki-laki Aufar, kamu seharusnya tahu betul dengan perasaanmu. Ini terakhir kali kita berbicara. Aku tidak mau menemuimu lagi, selamat tinggal” Kata Rania memuntahkan segala rasa yang menghimpit di dadanya. Rania mencegah bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh dengan membuang muka.

Tersentak dengan kata-kata Rania, Aufar sontak menahan lengan gadis itu, menahannya untuk pergi

“aaaaaaaa” Aufar membuka mulutnya, dia hendak mengatakan maaf tapi yang keluar hanyalah suara aneh tanpa arti.

Rania terkejut.

“Aufar?”tanyanya, mata Rania membulat

Dengan cepat Aufar mengambil handphone dan menuliskan sesuatu

Maaf Rania

 

CINTA TANPA KATA PART 9 : RINDU

Aufar berjalan melewati gerbang sekolahnya, menahan keinginan untuk sekedar menoleh ke kanan atau ke kiri. Atau sejujurnya, menoleh ke belakang. Hari ini hari Rabu, sudah tiga hari sejak latihan ujian selesai diadakan dia pulang sekolah tanpa gangguan sama sekali. Tal ada gadis dengan suara cempereng yang mendampinginya. Tak ada Rania.

Sialan gadis itu, membuatnya terbiasa dengan keberadaannya lalu pergi menghilang begitu saja. Sungguh perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Aufar mengingat tingkah gadis itu yang aneh. Hari terakhir latihan ujian, setelah dia main basket dia menemukan gadis itu berdiri di gerbang masuk, sedang memandanginya. Sesaat kemudian Rania tampak aneh, seperti gugup? Aufar awalnya menduga kalau gadis itu akan tersenyum dan mendekat, lalu mengobrol dengan gaya SKSD seperti biasa. Namun yang terjadi, gadis itu membalik badan dan berlari menjauh. Dia menghilang. Sampai detik ini Aufar tak melihatnya lagi. Kemana dia?

Apakah Rania sakit?

Ya Tuhan, rasa khawatir muncul di dada Aufar ketika pikiran itu datang. Namun hanya sekejap karena pikiran itu ia buang jauh-jauh. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan dan pikirannya menjadi amburadul hanya karena seorang gadis? Arrgghhh, Aufar ingin mengacak-acak rambutnya. Aufar ingin mendobrak masuk ke sekolah Rania, menggeledah kelasnya hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Aku betul-betul mulai gila” Aufar menyuarakan pikirannya dalam hati.

Aufar sudah mencapai ujung jalan tempat dia biasa menunggu angkotnya. Dia berdiri menunggu sambil terus berpikir, pandangannya tidak fokus.

“Ya Tuhan, aku sudah gila” Katanya kesal sambil berlari membelakangi arah kedatangan angkot, dia berjalan cepat ke warung fotokopi.

***

“Rania, Rania, hei Rania ada yang mencarimu!” Rania yang sedang sibuk menyapu dan membersihkan kelas menoleh ke arah teman yang memanggilnya.

“Siapa?” Tanya Rania acuh tak acuh

“Enggak tahu, cowok ganteng yang enggak mau ngomong samsek. Dia cuman nulis di buku, minta tolong carikan yang namanya Rania” jawab temannya sambil mengangkat bahu.

Rania menghentikan gerakan menyapunya. Jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban temannya. Dengan cepat dia memasukan sampah ke dalam pengki dan merapikan seragamnya. Cowok ganteng yang tidak mau bicara? Enggak mungkin, enggak mungkin banget…

Rania melangkahkan kakinya keluar kelas dan segera saja sebuah sosok yang beberapa ini dihindarinya muncul, berdiri di hadapannya.

Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan secara spontan “A, Aufar? Kamu lagi ngapain disini?”

Dengan cepat Aufar memindai Rania, betul-betul memperhatikan kondisi Rania dari atas sampai bawah. Setelah memastikan kalau gadis itu sehat, normal dan tidak kelihatan sakit sedikitpun lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aufar?Kamu, kamu ngapain ke sini?” Rania mengulang pertanyaannya lagi. Dia jengah melihat Aufar memperhatikan dirinya dengan begitu intens.

Aufar tidak menjawab sepatah katapun, setelah memindai sekali lagi dan yakin bahwa Rania dalam kondisi baik, Aufar berjalan pergi menjauhi Rania.

Rania amat sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ini? Kenapa Aufar tiba-tiba berani masuk ke dalam sekolahnya, mencarinya, menemuinya? Kenapa saat melihatnya tadi, pandangan Aufar seolah melahapnya bulat-bulat? Dan yang lebih geje, setelah semua hal aneh itu Aufar justru pergi lagi? Rania tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan Aufar?

Lelah memikirkan jawabannya sendiri, Rania mengambil tasnya dan bergegas mengejar Aufar.

“Apa kamu merindukanku?” Tanya Rania langsung begitu dia berhasil mengejar Aufar dan mengikuti langkahnya

 

CINTA TANPA KATA PART 8 : MALU

Rania membolak-balik buku yang dibacanya, pandangannya menerawang. Biasanya dia selalu bisa tenggelam dalam kisah-kisah romantis buku favoritnya. Tapi untuk kali ini,entah kenapa buku-buku itu tak lagi menarik minatnya. Rani bangkit dan menaruh buku itu di nakas samping tempat tidurnya.   Setelahnya, dia mengambil posisi tiduran di kasur sambil memeluk guling. Gadis itu mengeluh karena tiga hari ini berlangsung sangat lambat, bahkan sangat sangat sangat lambat. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan setelah membantu Bunda masak dan membereskan rumah. Dia bosan bermain di luar, dia kehilangan semangat, dia…rindu.

Rindu teramat sangat pada punggung lelaki yang selalu menyampirkan tas di bahu kanannya.

Aufar.

Nama itu semakin lama semakin sering melintasi pikirannya. Terutama pada saat-saat tidak ada kesibukan seperti ini. Bagaimana ya kabar Aufar? Apakah dia sukses mengerjakan latihan ujiannya? Apa dia masih ketus dan dingin seperti biasa? Dan…Apakah dia merindukanku? Pertanyaan yang hanya mampu Rania ungkapkan dalam hati. Pertanyaan yang membuatnya gundah gulana hingga tanpa sadar meremas-remas guling yang ada di dalam pelukannya.

Rania masih belum bisa melupakan  momen saat Aufar secara mengejutkan mau merespon tindakannya. Memang hanya sebuah ucapan terima kasih, tapi itu sungguh membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum semalaman. Rania mendesah lega.  Akhirnya, kursus bahasa isyarat yang dia ikuti cukup membuahkan hasil.

Rania menggelindingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Semakin dia memikirkan Aufar, rasa rindu semakin menggerogoti hatinya. Yah,  rasa ingin bertemu semakin tak tertahankan. Rania menenggelamkan wajahnya ke dalam guling. Gadis itu menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal, pikirannya berkelana kemana-mana, berusaha menyusun sebuah rencana.

Setelah menemukan sebuah ide yang dirasanya cukup bagus, Rania berdiri dengan mendadak. Dilihatnya jam dinding, ada waktu dua jam sebelum waktu latihan ujian selesai. Rania segera bergegas, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya.

***

Rania berjalan tergesa-gesa , setengah berlari ketika dilihatnya gerbang sekolah tampak ramai. Sudah setengah jam berlalu sejak waktu ujian latihan selesai, dia khawatir kalau Aufar sudah pulang. Rania mengamati orang-orang yang lalu-lalang di depannya, ada yang dijemput ada yang berjalan ke depan untuk menyetop angkot. Sambil menonggo Rania merasakan hatinya mencelos, apakah dia terlambat?

Rania memberanikan diri untuk maju selangkah lebih dekat, memasuki gerbang Sekolah Luar Biasa dan mengedarkan pandangan. Suara peluit yang dibunyikan menarik perhatiannya, dia menoleh ke arah lapangan.

Waktu bergerak begitu lambat ketika sebuah sosok menyedot perhatian gadis itu dengan sangat menyeluruh. Sosok yang dirindukannya sedang tertawa saat mengejar bola.

Rania mematung, terpesona.

Ya Tuhan, benarkah itu Aufar? Aufar yang tanpa ekspresi? Aufar yang dingin? Aufar yang itu telah menghilang. Aufar yang saat ini dilihatnya tampak sangat bersemangat dan bergairah. Senyum dan tawa membuatnya seratus kali lebih tampan. Rania merasa hampir meleleh melihat Aufar yang kelihatan sangat macho saat bermain basket.

Rania tidak sadar sudah berapa lama dia berdiri di situ sampai Aufar menoleh ke arahnya, menemukannya berdiri di gerbang sekolah seperti gadis penguntit. Senyum dan tawa Aufar memudar saat menyadari kalau Rania muncul di sekolahnya.

Rania merasa seperti pencuri yang ketahuan sedang menjarah harta orang lain. Dengan gugup dia langsung membalikan badan dan berlari. Rania merasa sangat malu. Dia ingin sekali masuk ke dalam pasir hisap dan tak pernah muncul lagi ke permukaan. Perempuan macam apa dirinya? Berani mengejar-ngejar seorang lelaki yang tidak mengharapkan kehadirannya.

Rania langsung menyetop angkot, dia tidak ingin menoleh ke belakang. Bungkusan kue yang ada di tangannya, diserahkan pada supir angkot.