CINTA TANPA KATA PART 10 : MAAF

Rindu? Apa itu rindu?

“Aufar, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ke sekolahku, menemuiku dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun? Tunggu, aku paham kalau kamu enggak bisa bicara tapi kita punya banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun tanpa harus dengan suara. Aufar, jawab? Kumohon, jawab pertanyaanku” Rania bertanya pada Aufar dengan wajah yang tampak sangat memelas.

mereka sudah berhenti berjalan. Kini mereka sedang berdiri besisian di sebelh sebuah pohon yang agak jauh dari gerbang sekolah Rania.

“Baiklah, aku akan ubah pertanyaanku. Yang perlu kamu lakukan hanya menggeleng atau mengangguk” Kata Rania penuh tekad, dia menatap tajam Aufar.

“Apakah kamu memang berencana untuk mengunjungiku?”

Aufar menggeleng

Rania terbata, menatap lelaki di hadapannya dengan takjub.

“Apakah karena ingin bertemu denganku?”

Aufar diam

“Aufar, jawab. Apakah kamu nekat masuk ke sekolahku, karena begitu ingin bertemu denganku?”

Rania memperhatikan raut wajah Aufar yang berubah gusar. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah kamu ingin melihatku karena sudh tiga hari tidak ketemu? Ya, aku menghitungnya Aufar, ini hari ketiga sejak aku terpergok melihatmu main basket kemarin” cecar Rania, pandangannya menyelidik.

Aufar mengacak rambutnya lalu menatap Rania tepat di matanya. Mata yang memancarkan pertanyaan dan juga kejujuran.

Aufar mengangkat bahunya, entahlah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Pikiran dan hatinya sepertinya sedang tidak mau bekerja sama dengan baik.

Bahu Rania turun, lunglai dengan jawaban dari Aufar. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali membenci lelaki di hadapannya yang tidak bisa menjawab dengan tegas. Rania…kecewa.

“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu. Aku membencimu Aufar, aku membencimu yang tidak mampu menjawab pertanyaanku dengan ketegasan. Kamu laki-laki Aufar, kamu seharusnya tahu betul dengan perasaanmu. Ini terakhir kali kita berbicara. Aku tidak mau menemuimu lagi, selamat tinggal” Kata Rania memuntahkan segala rasa yang menghimpit di dadanya. Rania mencegah bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh dengan membuang muka.

Tersentak dengan kata-kata Rania, Aufar sontak menahan lengan gadis itu, menahannya untuk pergi

“aaaaaaaa” Aufar membuka mulutnya, dia hendak mengatakan maaf tapi yang keluar hanyalah suara aneh tanpa arti.

Rania terkejut.

“Aufar?”tanyanya, mata Rania membulat

Dengan cepat Aufar mengambil handphone dan menuliskan sesuatu

Maaf Rania

 

CINTA TANPA KATA PART 9 : RINDU

Aufar berjalan melewati gerbang sekolahnya, menahan keinginan untuk sekedar menoleh ke kanan atau ke kiri. Atau sejujurnya, menoleh ke belakang. Hari ini hari Rabu, sudah tiga hari sejak latihan ujian selesai diadakan dia pulang sekolah tanpa gangguan sama sekali. Tal ada gadis dengan suara cempereng yang mendampinginya. Tak ada Rania.

Sialan gadis itu, membuatnya terbiasa dengan keberadaannya lalu pergi menghilang begitu saja. Sungguh perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Aufar mengingat tingkah gadis itu yang aneh. Hari terakhir latihan ujian, setelah dia main basket dia menemukan gadis itu berdiri di gerbang masuk, sedang memandanginya. Sesaat kemudian Rania tampak aneh, seperti gugup? Aufar awalnya menduga kalau gadis itu akan tersenyum dan mendekat, lalu mengobrol dengan gaya SKSD seperti biasa. Namun yang terjadi, gadis itu membalik badan dan berlari menjauh. Dia menghilang. Sampai detik ini Aufar tak melihatnya lagi. Kemana dia?

Apakah Rania sakit?

Ya Tuhan, rasa khawatir muncul di dada Aufar ketika pikiran itu datang. Namun hanya sekejap karena pikiran itu ia buang jauh-jauh. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan dan pikirannya menjadi amburadul hanya karena seorang gadis? Arrgghhh, Aufar ingin mengacak-acak rambutnya. Aufar ingin mendobrak masuk ke sekolah Rania, menggeledah kelasnya hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Aku betul-betul mulai gila” Aufar menyuarakan pikirannya dalam hati.

Aufar sudah mencapai ujung jalan tempat dia biasa menunggu angkotnya. Dia berdiri menunggu sambil terus berpikir, pandangannya tidak fokus.

“Ya Tuhan, aku sudah gila” Katanya kesal sambil berlari membelakangi arah kedatangan angkot, dia berjalan cepat ke warung fotokopi.

***

“Rania, Rania, hei Rania ada yang mencarimu!” Rania yang sedang sibuk menyapu dan membersihkan kelas menoleh ke arah teman yang memanggilnya.

“Siapa?” Tanya Rania acuh tak acuh

“Enggak tahu, cowok ganteng yang enggak mau ngomong samsek. Dia cuman nulis di buku, minta tolong carikan yang namanya Rania” jawab temannya sambil mengangkat bahu.

Rania menghentikan gerakan menyapunya. Jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban temannya. Dengan cepat dia memasukan sampah ke dalam pengki dan merapikan seragamnya. Cowok ganteng yang tidak mau bicara? Enggak mungkin, enggak mungkin banget…

Rania melangkahkan kakinya keluar kelas dan segera saja sebuah sosok yang beberapa ini dihindarinya muncul, berdiri di hadapannya.

Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan secara spontan “A, Aufar? Kamu lagi ngapain disini?”

Dengan cepat Aufar memindai Rania, betul-betul memperhatikan kondisi Rania dari atas sampai bawah. Setelah memastikan kalau gadis itu sehat, normal dan tidak kelihatan sakit sedikitpun lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aufar?Kamu, kamu ngapain ke sini?” Rania mengulang pertanyaannya lagi. Dia jengah melihat Aufar memperhatikan dirinya dengan begitu intens.

Aufar tidak menjawab sepatah katapun, setelah memindai sekali lagi dan yakin bahwa Rania dalam kondisi baik, Aufar berjalan pergi menjauhi Rania.

Rania amat sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ini? Kenapa Aufar tiba-tiba berani masuk ke dalam sekolahnya, mencarinya, menemuinya? Kenapa saat melihatnya tadi, pandangan Aufar seolah melahapnya bulat-bulat? Dan yang lebih geje, setelah semua hal aneh itu Aufar justru pergi lagi? Rania tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan Aufar?

Lelah memikirkan jawabannya sendiri, Rania mengambil tasnya dan bergegas mengejar Aufar.

“Apa kamu merindukanku?” Tanya Rania langsung begitu dia berhasil mengejar Aufar dan mengikuti langkahnya

 

CINTA TANPA KATA PART 8 : MALU

Rania membolak-balik buku yang dibacanya, pandangannya menerawang. Biasanya dia selalu bisa tenggelam dalam kisah-kisah romantis buku favoritnya. Tapi untuk kali ini,entah kenapa buku-buku itu tak lagi menarik minatnya. Rani bangkit dan menaruh buku itu di nakas samping tempat tidurnya.   Setelahnya, dia mengambil posisi tiduran di kasur sambil memeluk guling. Gadis itu mengeluh karena tiga hari ini berlangsung sangat lambat, bahkan sangat sangat sangat lambat. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan setelah membantu Bunda masak dan membereskan rumah. Dia bosan bermain di luar, dia kehilangan semangat, dia…rindu.

Rindu teramat sangat pada punggung lelaki yang selalu menyampirkan tas di bahu kanannya.

Aufar.

Nama itu semakin lama semakin sering melintasi pikirannya. Terutama pada saat-saat tidak ada kesibukan seperti ini. Bagaimana ya kabar Aufar? Apakah dia sukses mengerjakan latihan ujiannya? Apa dia masih ketus dan dingin seperti biasa? Dan…Apakah dia merindukanku? Pertanyaan yang hanya mampu Rania ungkapkan dalam hati. Pertanyaan yang membuatnya gundah gulana hingga tanpa sadar meremas-remas guling yang ada di dalam pelukannya.

Rania masih belum bisa melupakan  momen saat Aufar secara mengejutkan mau merespon tindakannya. Memang hanya sebuah ucapan terima kasih, tapi itu sungguh membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum semalaman. Rania mendesah lega.  Akhirnya, kursus bahasa isyarat yang dia ikuti cukup membuahkan hasil.

Rania menggelindingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Semakin dia memikirkan Aufar, rasa rindu semakin menggerogoti hatinya. Yah,  rasa ingin bertemu semakin tak tertahankan. Rania menenggelamkan wajahnya ke dalam guling. Gadis itu menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal, pikirannya berkelana kemana-mana, berusaha menyusun sebuah rencana.

Setelah menemukan sebuah ide yang dirasanya cukup bagus, Rania berdiri dengan mendadak. Dilihatnya jam dinding, ada waktu dua jam sebelum waktu latihan ujian selesai. Rania segera bergegas, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya.

***

Rania berjalan tergesa-gesa , setengah berlari ketika dilihatnya gerbang sekolah tampak ramai. Sudah setengah jam berlalu sejak waktu ujian latihan selesai, dia khawatir kalau Aufar sudah pulang. Rania mengamati orang-orang yang lalu-lalang di depannya, ada yang dijemput ada yang berjalan ke depan untuk menyetop angkot. Sambil menonggo Rania merasakan hatinya mencelos, apakah dia terlambat?

Rania memberanikan diri untuk maju selangkah lebih dekat, memasuki gerbang Sekolah Luar Biasa dan mengedarkan pandangan. Suara peluit yang dibunyikan menarik perhatiannya, dia menoleh ke arah lapangan.

Waktu bergerak begitu lambat ketika sebuah sosok menyedot perhatian gadis itu dengan sangat menyeluruh. Sosok yang dirindukannya sedang tertawa saat mengejar bola.

Rania mematung, terpesona.

Ya Tuhan, benarkah itu Aufar? Aufar yang tanpa ekspresi? Aufar yang dingin? Aufar yang itu telah menghilang. Aufar yang saat ini dilihatnya tampak sangat bersemangat dan bergairah. Senyum dan tawa membuatnya seratus kali lebih tampan. Rania merasa hampir meleleh melihat Aufar yang kelihatan sangat macho saat bermain basket.

Rania tidak sadar sudah berapa lama dia berdiri di situ sampai Aufar menoleh ke arahnya, menemukannya berdiri di gerbang sekolah seperti gadis penguntit. Senyum dan tawa Aufar memudar saat menyadari kalau Rania muncul di sekolahnya.

Rania merasa seperti pencuri yang ketahuan sedang menjarah harta orang lain. Dengan gugup dia langsung membalikan badan dan berlari. Rania merasa sangat malu. Dia ingin sekali masuk ke dalam pasir hisap dan tak pernah muncul lagi ke permukaan. Perempuan macam apa dirinya? Berani mengejar-ngejar seorang lelaki yang tidak mengharapkan kehadirannya.

Rania langsung menyetop angkot, dia tidak ingin menoleh ke belakang. Bungkusan kue yang ada di tangannya, diserahkan pada supir angkot.

CINTA TANPA KATA PART 7 : KOSONG

Aufar memandang ruang kelasnya yang sudah masih agak ramai. Hari ini hari terakhir latihan ujian, teman-temannya banyak yang tidak langsung pulang. Mungkin, seperti Aufar mereka ingin rehat sejenak dari kejenuhan harus belajar terus menerus. Belum lagi beratnya atmosfir ruangan saat latihan ujian diadakan tadi. Baru latihan saja sudah setegang ini, bagaimana besok saat ujian betulan?

Aufar yang sedang membereskan barang-barangnya menoleh saat merasa punggungnya ditepuk. Andi, salah satu teman sekelasnya nyengir. Lelaki itu membawa bola basket.

“Olahraga sebentar buat melepas penat yuk?” Ajaknya

Aufar balas menyengir dan langsung mengiyakan ajakan temannya itu. Dengan semangat mereka berdua berlarian di lorong. Aufar menarik bajunya keluar dari celana agar bisa bergerak dengan lebih nyaman. Di lapangan teman-teman yang lain ternyata sudah berkumpul. Yang menjadi wasit adalah Andra, seorang tuna rungu juga tuna wicara tapi memiliki penglihatan serta ingatan yang tajam.

Mereka bermain three on three. Enam orang berkumpul di tengah lapangan menempati posisinya masing-masing. Koin dilempar untuk menentukan bola berada di tangan pihak mana, Aufar menunduk, matanya berkonsentrasi penuh. Akhirnya peluit dibunyikan dan bola dilemparkan. Dengan cepat Aufar melompat dan memukul bola tersebut ke lantai. Bola yang memantul itu ditangkap oleh temannya, Aufar segera berlari ke depan,  berdempetan dengan lawan yang menempelnya. Sambil memberi kode, bola dilempar ke arah Aufar yang berada tak jauh dari ring. Aufar menangkap dengan sigap, berlari sebentar dan langsung melemparnya ke arah ring. Masuk! Poin untuk tim Aufar.

Pertandingan terus berlanjut selama kurang lebih lima belas menit sampai peluit panjang dibunyikan yang berarti babak pertama telah selesai. Keenam orang menyingkir dari lapangan, mengatur nafas dan minum air. Aufar menghapus keringat yang mengucur dengan lengan. Tak lama kemudian peluit kembali dibunyikan tanda ronde kedua akan segera dimulai. Aufar kembali ke lapangan dan kembali mempersiapkan diri.

Pertandingan berlangsung cukup intens, timnya dan tim lawan bergantian mencetak angka. Saat akhirnya peluit tanda selesainya babak kedua, timnya ternyata kalah tipis, hanya 3 angka. Aufar dan temantemannya tertawa, saling memuji dan memukul pundak. Aufar mengambil tempat di sudut lpangan untuk duduk dan meluruskan kakinya.

Olahraga dan keringat membuatnya bersemangat, pikirannya kembali menjadi lebih segar dan jernih. Selama beberapa hari ini dia terus menerus menenggelamkan dirinya untuk belajar. Aufar berjuang sangat keras mengalihkan pikirannya dari seorang gadis normal yang entah bagaimana memutuskan untuk belajar bahasa isyarat. Rania. Entah bagaimana nama gadis itu mulai menelusup ke dalam relung jiwanya. Nama itu kadang terlewat begitu saja tanpa ia sadari.

Selama dua hari berjalan pulang tanpa ada suara cempreng yang memanggil namanya, menjajari langkahnya, menceritakan kisah-kisah kesehariannya. Aufar merasakan sesuatu, sebuah kekosongan. Aufar berusaha menampiknya, bukankah harusnya ia bersyukur tak ada lagi Rania si pengganggu?

Tapi kenapa? Kenapa hatinya berkata lain?

Bagaimana mungkin hatinya tidak mau menurut dengan pikirannya?

Besok hari sabtu dan minggu, hari libur. Untuk dua hari ke depan dia masih tak akan melihat Rania. memikirkan hal itu membuatnya merasa tidak bersemangat. Apa yang sedang dilakukan gadis itu saat ini?

Aufar menutup matanya dan menggeleng kuat-kuat. Tiak, dia tidak boleh memikirkan gadis itu ataupun gadis manapun. Dia harus okus pada ujian kelulusan dan juga rencana-rencananya saat telah lulus nanti. Dia tidak membutuhkan gangguan apapun, walaupun gangguan itu adalah sesosok gadis yang cantik, menarik dan bersemangat.

Ketika Aufar mengacak rambutnya, Andi memandanginya.

“Ada apa?” tanyanya hanya dengan sebuah sorot mata.

Andi hanya mengendikkan dagunya ke arah gerbang. Aufar langsung menoleh ke balakang. Di sana, berdiri seorang gadis yang akhir-akhir ini menjadi pengganggu pikirannya. Rania.

#onedayonepost #aufar #rania #cerbung #berjuang

CINTA TANPA KATA PART 6

Aufar melongok, memeriksa dengan hati-hati keadaan dari arah samping gerbang sekolahnya. Beberapa hari ini dia merasa dikuntit oleh Rania. Baru juga berjalan dengan tenang, tau-tau ada tepukan di bahunya, Rania. Gadis itu selalu mengajaknya mengobrol namun Aufar selalu mengabaikannya. A

Dia tidak merasa nyaman dengan hal itu. Karena itu, dia memutuskan untuk menunda waktu pulang hari ini. Setelah dirasa aman, Aufar mengalungkan tas ke salah satu bahunya dan mulai berjalan.

“Aufaaaaarrrrrr!!!” Terdengar suara cempreng memanggilnya.

Aduh, Aufar mengenali suara itu, dia tidak mau berhenti dan langsung mempercepat langkahnya. Rania yang melihatnya di belakang langsung berlari tak kalah cepat, gadis itu meraih lengan Aufar, memaksanya berhenti.

Aufar menggeram. Namun tak urung, dia menghentikan langkahnya.

Gadis itu mengatur nafas, tangan kirinya memegang lengan Aufar erat, tak mengijinkannya pergi. Setelah nafasnya tidak lagi ngos-ngosan, dengan tangan kanannya yang bebas, Rania menggerakkan jari-jarinya.

Aufar tampak sangat terkejut “Kamu bisa bahasa isyarat?” Jawab Aufar reflek, dengan bahasa isyarat yang sama.

Rania tersenyum lebar, setelah sekian lama baru kali ini lelaki itu memberi respon. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya. Harapan muncul di hatinya, perasaannya melambung begitu tinggi. Kerja kerasnya untuk mempelajari bahasa isyarat terbayar. 

“Sedikit, aku sedang belajar” jawabnya mencoba rendah hati.  Rania kembali menggerakkan jari-jarinya. Dia berharap bahasa isyarat yang digunakannya tidak salah.

“Kamu?” Aufar menunjuk Rania dengan telunjuknya. “Belajar?”

Rania mengangguk, kembali membentuk pola dengan jari-jarinya “Ya, aku belajar Aufar. Aku belajar karena ingin berteman denganmu” Gadis itu balas menunjuk Aufar.

Untuk sesaat, tak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Aufar masih tercengang, kaget dengan apa yang telah diperbuat Rania kali ini. Belajar bahasa isyarat? Ya Tuhan. Pikirannya masih bekecamuk ketika  dengan pelan Aufar menarik tangan Rania yang mengait lengannya.

“Eh, maaf” katanya, tersipu malu

Aufar memandang gadis dengan pipi merona di hadapannya. Dia menghela nafas. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?” Tanyanya bingung dalam hati. Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali tidak tahu harus berkata apa.

Rania  terus mengamatinya, tersenyum kecil. Pandangannya jatuh ke arah buku-buku yang berada dalam genggaman tangan kiri Aufar.

“Kamu…mau ujian ya?” Tanyanya, kali ini tanpa bahasa isyarat.

Aufar mengangguk. Karena tak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi, dia memutar badannya dan kembali berjalan seperti biasa. Rania dengan cepat langsung mengambil posisi ikut berjalan di sampingnya, kembali mengoceh, bercerita tentang kesehariannya.

Tiba-tiba saja langkah Rania melambat, “Aufar, aku besok libur…kurang lebih tiga hari karena ruangan akan dipakai kakak-kakak kelas tiga untuk latihan ujian. Aku enggak masuk sekolah dan besok enggak akan bisa jalan bareng pas pulang kayak gini lagi” katanya sedih.

Aufar hanya menanggapi dengan diam, ekor matanya melirik  raut wajah Rania yang tampak sendu. Apakah gadis ini sedih karena selama beberapa hari ke depan tidak bisa bertemu dengannya lagi?

“Kamu juga kelas tiga kan? Mau ujian juga, baik-baik ya. Kamu harus semangat, aku tahu kamu pintar.”

Rania melihat sudut-sudut bibir Aufar sedikit terangkat, dia yakin kalau Aufar tadi tersenyum walau sekarang sudah kembali ke raut wajahnya yang semula. Hanya respon sekecil itu saja sudah membuat dirinya bahagia.

“Aufar, aku…aku akan menyebut nama kamu dalam doaku. Semoga kamu dimudahkan untuk ujian besok” katanya tulus sambil menatap Aufar dengan senyum termanisnya.

Tak beberapa lama kemudian, gadis itu menoleh ketika angkot yang menjadi langganannya sudah datang menghampiri. Dengan cekatan dia naik dan merapikan roknya. Dilihatnya dari celah jendela Aufar yang masih berdiri mematung, menatap angkot yang dinaikinya. Dengan berani Rania melambaikan tangan.

Entah ada malaikat lewat atau bagaimana, Rania melihat keajaiban. Lengan Aufar terangkat, dilihatnya Aufar sedang menggerakan jemari sambil terus menatapnya yang berjalan makin jauh.

“Terima kasih” kata Rania dengan bisikan, mengartikan bahasa isyarat dari Aufar. Hatinya melambung lagi, malam ini bisa dipastikan kalau mimpinya pasti indah.

 

#onedayonepost #cinta #bisu #unconditionallove #fiksi #cerbung

CINTA TANPA KATA PART 5 : CANTIK

Aufar merapikan buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, tangannya memijat tengkuk yang terasa pegal. Selesai dengan buku-buku dia memperhatikan tumpukan kertas kerja yang berisi soal-soal ujian dan jawaban.

Aufar terlahir sebagai seorang tuna wicara. Entah karena virus atau konsumsi makanan yang tidak baik atau apa pokoknya Aufar tidak bisa bicara. Pita suaranya bermasalah, begitu juga lidahnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar aneh sekali, seperti orang gagu. Dia samar-samar mengingat masa kecilnya, saat sang mama menyadari kalau dirinya tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun sampai usia tiga tahun, hanya suara-suara teriakan tidak jelas. Mereka membawanya ke dokter dan ahli tumbuh kembang, diperiksa berkali-kali dan vonis itu jatuh. Selamanya dia tak akan bisa bicara.

Syukurlah dia memiliki orang tua yang begitu sabar dan tegar, walau tak sempurna orang tuanya tetap memberikan cinta dan memfasilitasinya senormal semampu yang mereka bisa lakukan. Masa-masa kecilnya tidak begitu menyenangkan, anak-anak tetangga sering menghinanya. Si gagu, itulah salah satu panggilan yang disematkan padanya, selain anak keturunan jin. Ya, tak sedikit yang bilang kalau cacat yang diderita Aufar adalah karena gangguan makhluk halus, pemikiran menggelikan. Tidak tahan dengan gunjingan warga kampung yang tidak memiliki empati, orang tuanya mengambil keputusan untuk pindah ke kota besar yang memiliki fasilitas lengkap.

Mama memilih resign dan mengurus Aufar sendiri secara penuh. Aufar tak mampu mengungkapkan betapa dia mencintai sang mama, yang langsung mengambil kelas pelatihan komunikasi bahasa isyarat secara intensif. Mamanya juga mendatangkan seorang guru privat yang mengajarinya bahasa isyarat. Tak terhitung betapa seringnya Aufar tantrum karena tidak mampu berkomunikasi secara normal, namun mamanya tetap sabar. Sang papa juga tak kalah dalam usahanya menjalin komunikasi dengan Aufar. Lelaki itu selalu memeluknya, mengatakan betapa dirinya bersyukur mendapatkan Aufar, anak yang tampan dan sehat. Kebisuan bukanlah kesalahannya, itu hanya takdir. Kebisuan tak akan pernah menjadi halangan papa dan mama untuk mencintainya. Papa selalu menemaninya bermain lempar bola, layang-layang ataupun bersepeda layaknya hubungan ayah dan anak yang normal. Tak jarang papa mengajak Aufar ke kantor dan dengan bangga memperkenalkan Aufar ke kolega-koleganya.

Sungguh, semua usaha luar biasa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya mengikis habis rasa rendah diri Aufar. Cinta dan kasih sayang melimpah yang didapat membuatnya merasa berharga dan bahagia. Dia tahu tidak akan diterima di sekolah biasa sehingga memilih untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa saat SMP. Setelah beberapa tahun, beradaptasi serta membaur dengan sesama penderita tuna wicara hidupnya sejauh ini terasa normal. Sampai dia melihat gadis itu.

***

Aufar ingat saat gadis itu memperkenalkan diri, namanya Rania, kelas 2 SMA yang memilih penjurusan IPS. Aufar ingin menghindar, dia tidak terbiasa dengan perempuan. Yah, tentu saja dia mengenal beberapa perempuan di sekolahnya, sesama manusia yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan mereka ataupun guru-guru, tentu mudah untuk berkomunikasi karena mereka menguasai bahasa isyarat. Tapi Rania, demi Tuhan, dia seorang gadis normal. Kenapa seorang gadis yang mampu bicara, mendengar, berjalan, berlari dan melihat secara normal mau berbicara dan berteman dengannya?

Aufar merasa sangat kikuk, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rania. Dia tidak mau mengucapkan sepatah katapun, takut Rania akan mengerut ngeri dan langsung berlari menjauh saat mendengar cara bicaranya yang sangat aneh. Sudah cukup dia dianggap seorang weirdo saat kecil dulu. Dia tidak ingin mengulanginya lagi.

Tapi, well ini sangat aneh karena Rania tahu kekurangannya. Tahu dari mana? Oh ya, tukang foto kopi yang menjadi langganan murid-murid dua sekolahan. Gadis itu bahkan berusaha bicara pelan-pelan, menanyakan apakah dirinya mengerti atau tidak. Ya, pepatah mengatakan ketika kita mempunyai suatu kekurangan akan ada suatu kekuatan lain yang melengkapi. Aufar memiliki kemampuan untuk membaca gerak bibir dengan sangat baik. Sebuah kemampuan yang terbangun berkat usaha dan kerja keras tanpa lelah selama  bertahun-tahun.

Gadis itu menarik, Aufar mau tak mau harus mengakuinya. Tidak secantik gadis-gadis di majalah yang dijual tukang koran pinggir jalan tempatnya biasa menyetop angkot. Aura gadis itu, penuh semangat…

Aufar hanya bisa terpana saat melihat gadis itu tersandung dan langsung melakukan gerakan koprol depan. Dan saat dia mengulurkan tangan untuk membantunya, dia tak pernah menyangka akan menemukan sebuah wajah yang begitu…cantik.

 

CINTA TANPA KATA PART 4 : AWAL PERJUANGAN

Seorang gadis sedang fokus membaca sebuah artikel di laptopnya. Artikel itu membahas seluk-beluk tentang tuna rungu, mulai dari penyebab sampai cara berkomunikasi dengan mereka. Tangannya menggenggam sebuah pulpen dan notes kecil. Setiap kali ada hal yang menurutnya menarik dan penting pasti akan langsung dicatat olehnya. Rania tak pernah menyangka mempelajari hal-hal tentang Anak Berkebutuhan Khusus alias ABK ternyata sangat menyenangkan. Gadis itu sudah hampir dua jam menghadap laptop dan sampai saat ini belum merasa lelah. Namun, fokusnya sedikit terganggu ketika ada suara ketukan di pintu kamarnya.

Rania menunggu dan tersenyum melihat Bunda membuka pintu dan masuk sambil membawa baki di satu tangan.

“Anak mama sedang apa? Kok sepertinya sedang sibuk sekali?  Besok ada ujian-kah nak?” Tanya Bunda sambil meletakkan baki itu di nakas. Rania melirik ke arah roti bakar isi coklat-keju dan juga jus jeruk yang merupakan camilan favoritnya.

“Bunda kok tahu banget kalau Nia laper? Bunda hebat ih!” Celetuk Rania senang, dengan cepat dia mengambil roti bakar yang masih hangat itu lalu mengunyahnya pelan. Gadis itu sudah menyingkirkan laptop beserta catatannya ke samping lalu mengubah posisi duduknya, mendekat ke arah Bunda.

“Bunda?” Panggil Rania pelan, wajahnya tampak berpikir.

“Iya sayang?” Bunda mengelus rambut panjang Rania. Bagian tubuh yang sangat disukai oleh anak gadis semata wayangnya.

“Nia…” Rania menggigit bibirnya, pikirannya berkecamuk, bingung apakah harus jujur atau tidak kepada bundanya. Selama ini bunda adalah sahabatnya, Rania selalu menceritakan hampir segala hal kecuali… Kecuali tentang sebuah rasa yang baru akhir-akhir ini muncul. Sebuah rasa yang dipicu oleh kehadiran lelaki tuna rungu dengan pandangan mata teduh.

“Nia?” Bunda memiringkan kepala, pandangannya tampak bertanya.

Rania mengatur nafasnya. Setelah menghitung satu sampai tiga akhirnya dia memutuskan untuk berkata jujur. “Nia jatuh cinta bunda”

Rania mengamati bagaimana Bunda hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Rania hampir terkikik, merasa lucu dengan keadaan ini. Keadaan langka karena selama hidup baru kali Bunda terlihat seperti orang bingung yang kehabisan kata-kata.

“Bunda? Bunda? Haloo, Bunda, Nia ada disini, haloooo!” Rania menggerak-gerakkan tangan di depan wajah Bundanya.

“Eh, i..iya” Kata Bunda tergagap. Wanita paruh baya itu mengehela nafas lalu mengambil tempat di sebelah putrinya untuk duduk.

“Maafkan bunda, bunda kaget mendengar pengakuan Nia”

Rania terkekeh “Bunda ih sebegitu kagetnya denger Nia jatuh cinta”

Bunda mengelus rambut Rania lembut ” Iya, bunda kaget banget sayang, KAGET SEKALI. Nah, apa Bunda boleh tahu siapa lelaki yang bikin kamu jatuh ini?”

“Bunda enggak marah Rania jatuh Cinta?”

Bunda menggeleng “Kenapa Bunda harus marah? Jatuh cinta adalah hal yang lumrah, Bunda menikah dengan ayah kamu juga kan karena cinta” kata Bunda terdengar jahil.

Rania tersipu, dia tahu sekali bahkan di usianya yang sudah remaja, yah dan Ibunya masih sangat omantis dan terlihat saling mencintai.

“Orang ini unik Bunda. Dia..dia orang yang enggak biasa”

“Enggak biasa, maksud kamu gimana?”

Rania merasa khawatir kalau Bundanya tidak akan menerima dengan siapa dia jatuh cinta , “Nia ingin Bunda janji terlebih dulu. Nia pengen Bunda janji tidak menghina ataupun merendahkan orang ini. Apakah bunda mau berjanji?”

Bunda mengangguk, mengangsurkan jari kelingkingnya “Bunda janji”

Setelah yakin dengan ucapan bundanya Rania menghembuskan nafas lega ” Orang ini enggak bisa mendengar Bunda. Dia anak sekolah sebelah, Itu loh SMA SLB. Namanya Aufar”

Lalu kisah itu mengalir begitu saja dari mulut Rania. Rania menceritakan bagaimana Aufar yang begitu baik membantunya berdiri saat jatuh di saat orang-orang lain hanya diam saja dan mengejeknya. Aufar yang kata abang fotokopi anak yang ramah dan sopan serta rajin. Aufar yang memiliki pandangan mata paling meneduhkan jiwa. Aufar yang selalu cuek ketika dia mendekatinya. Aufar yang acuh tak acuh.

“Jadi itulah Bunda alasan kenapa Rania ingin sekali mempelajari semua hal tentang Tuna Rungu. Rania ingin bisa berkomunikasi dengan Aufar. Rania ingin berteman dengannya.” tutur gadis itu

“Bunda, Rania ingin kursus bahasa isyarat. Rania ingin ngobrol dengan Aufar dan itu salah satu cara yang paling memungkinkan. Boleh kan Bunda” Pinta Rania tiba-tiba

Bunda tertawa “Nak, bunda senang Nia mau berkata jujur. Masalah cinta, bukankah Ayah juga memiliki mata yang teduh?”

kali ini giliran Rania yang tertawa “Bunda! Ayah memang akan selalu menjadi cinta pertama Rania, tapi…Aufar…entah kenapa Rania merasa ingin lebih mengenal Aufar. Kalau Bunda khawatir nanti Rania jadi enggak fokus sekolah, Rania janji sekolah tetap jadi prioritas utama. Hanya, Rania ingin mempelajari ini Bunda. Rania menemukan sesuatu yang ingin sekali Rania lakukan. Boleh ya Bunda? Please-please-pleaseee!” Kali ini Rania mengatupkan kedua tangannya sambil memohon-mohon dan memasang puppy eyes.

Bunda tertawa lagi lalu mengacak rambut Rania “Nanti, bunda diskusikan dulu sama Ayah ya nak”

#onedayonepost #rania #aufar #tunarungu

 

CINTA TANPA KATA PART 3

“Aufar!” Seru Rania penuh semangat, akhirnya setelah behari-hari menunggu, mencari informasi dan menguntit layaknya burung hantu yang mengincar mangsanya gadis itu bisa menemukan orang yang ditunggunya.

Lelaki yang dipanggil Aufar itu menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan dia menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Dahinya mengernyit ketika melihat sosok gadis koprol yang dulu dibantunya berdiri kini sedang berlari mengejarnya. Aufar menghela nafas sesaat dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Hei tunggu dulu, Aufar! Aufar!” panggil Rania dengan suara terengah-engah karena habis berlari dan mencoba menjajari langkah Aufar. “Hei” Rania menarik-narik lengan kemeja orang yang mengacuhkannya.

Sekali lagi, langkah Aufar terhenti, dia menoleh ke arah Rania. Aufar sengaja memasang raut wajah kesal, tapi entah kenapa gadis di hadapannya justru tersenyum.

“Hai, kamu Aufar kan? Kenalkan, aku Rania!” Sahut gadis itu sambil mengulurkan tangan.

Aufar hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. Rania menggigit bibir, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

“Aufar. Aku. Rania.” Rania menengadah, memandang langsung ke arah bola mata yang kembali membuatnya terpana. “Maaf, apakah bicaraku terlalu cepat? Apakah kau kesulitan memahami kata-kataku?” Tanya Rania dengan hati-hati.

Ya, Rania mengetahui kalau Aufar adalah seorang tuna wicara. Rania sempat khawatir apakah itu artinya Aufar juga tuna rungu, tapi ternyata tidak. Pendengaran Aufar masih bagus, hanya sejak lahir memang ada kelainan pada pita suaranya. Sangatlah sulit bagi Aufar untuk mengeluarkan sebuah suara lirih sekalipun. Rania mengetahui hal itu dari anag tukang fotokopi yang tidak jauh dari sekolah mereka. Yah, seoang wanita muda yang sedang jatuh cinta lebih jago melakukan penelusuran dibanding detektif bukan?

Aufar hanya melambaikan tangannya, menyuruh Rania menjauh.

“Tidak, aku telah mencarimu berhari-hari dan aku tahu kau bisa mendengar ucapanku dengan baik, jadi jangan menghindar” kata Rania gigih. “Anggukan saja kepalamu kalau jawabannya ya dan menggelenglah kalau jawabannya tidak”

Aufar kembali menatap Rania sambil membetulkan letak ransel di punggungnya.

“Namamu Aufar kan?”

Lelaki itu mengangguk

“Aku Rania, kau masih mengingatku bukan?”

Lelaki itu mengangguk

“Maafkan aku, tapi aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah bersedia membantuku berdiri, menolongku sehingga terlihat tidak terlalu memalukan” Kata Rania tulus.

Lelaki itu tertegun sejenak kemudian mengangguk lagi. Rania yakin walau hanya sesaat tadi dia melihat sorot kelembutan dari mata Aufar. Hanya sesaat karena mata itu kembali menatapnya acuh tak acuh.

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh, bolehkah?”

Sebuah kernyitan muncul di dahi Aufar, dia menggeleng dan mengibaskan tangannya.

“Tidak, aku serius. Aku sungguh-sungguh ingin mengenalmu. Aku ingin menjadi temanmua. Ayo berteman”

#onedayonepost #tantangancerbung  #bingung #embuh #kacau

 

 

CINTA TANPA KATA PART 2 : MENGAMATI

“Kenapa harus jatuh cinta sama lelaki yang enggak sempurna gitu sih?”

Rania terlonjak kaget, dia menoleh ke samping dan menemukan Sasya yang sedang memiringkan kepala, mengamatinya. Rania merasa agak malu karena terpergok sedang melamun tadi.

“Siapa?” Rania balas bertanya. Bayangan seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh serta senyum mempesona kembali muncul di kepalanya.

“Kamu dan siswa SLB itu loh, sok banget pura-pura enggak tahu! Sahut Sasya kesal

Rania terkekeh “Apaan sih Sya, kok malah kamu yang jadi bete gitu. Lagian buatku, enggak penting dia sempurna secara fisik atau enggak”

Sasya hanya mendengus menanggapi jawaban Rania.

“Sya” Rania memanggil sahabatnya dengan lembut. “Jangan panggil dia siswa SLB Sya, dia punya nama. Namanya Aufar”

***

Butuh beberapa hari bagi Rania untuk mengetahui nama lelaki yang menyaksikannya koprol saat jatuh dulu. Ah, Rania sering membayangkan seandainya dia bisa melakukan sihir obliviate seperti dalam kisah Harry Potter. Rania mendadak menjadi tenar di sekolah gara-gara kejadian memalukan itu. Teman-temannya dengan tidak tahu malu mengonfirmasi kejadian tersebut lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Rania kesal setengah mati.

Hari itu adalah hari paling sial bagi Rania, selain terpaksa memakai baju sekolah karena kemeja putihnya kotor dan roknya robek, baju pinjaman dari sekolah ukurannya cukup mini. Rania terpaksa menahan diri menerima celetukan ataupun siulan teman-teman lelakinya karena penampilannya yang seperti model majalah porno. Untung saja Sasya berbaik hati meminjaminya jaket untuk menutupi tubuhnya yang terbalut ketat.

Sepulang sekolah Rania sengaja berlama-lama menunggu di depan gerbang, dia penasaran banget dengan lelaki yang membantunya berdiri tadi. Sayang sekali angin berhembus kencang, awan-awan mendung mulai muncul. Siang itu Rania terpaksa mundur, dia tidak ingin kehujanan. Bajunya sudah cukup ketat, apa jadinya kalau ditambah guyuran air hujan?

Saat Rania berjalan menjauhi gerbang  dia tidak menyadari kalau ada seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh juga keluar dari gerbang sekolah yang berbeda sambil menyampirkan tas ke bahunya. Lelaki itu memandang ke depan dan mengernyit saat melihat sosok seorang gadis yang tampak tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Gadis dengan kunciran kuda itu menarik-narik roknya ke bawah, berusaha menutupi lebih banyak kakinya yang terlihat dengan sia-sia. Lelaki itu menyandarkan sebelah bahunya ke tembok dan melipat tangan di depan dada, lalu…tersenyum…

 

 

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Rania lupa kapan saat pertama kali melihatnya. Yang dia ingat, saat itu dirinya sedang berlari terburu-buru mengejar gerbang sekolah yang akan segera ditutup. Rania terlalu sibuk melihat jam di tangannya sehingga saat kakinya tersandung sebuah batu cukup besar, dia tak sadar.

“Aaaarrgggghhhhh!!!” Jeritnya kaget ketika merasa tubuhnya melambung ke atas. Namun, dengan cekatan gadis itu mengubah momentum dan melakukan roll deepan. Kepala ditelengkupkan, tangannya memeluk lutut dan berputar.

Orang-orang yang berada di tempat kejadian menatap takjub. Waktu serasa berhenti saat Rania terduduk, bajunya kotor, rambutnya berantakan. Menyaksikan pemandangan itu orang-orang bertepuk tangan, beberapa siswa lelaki bersiul. Rania tertunduk malu.

Lalu tiba-tiba saja sebuah tangan terulur di depan wajah, membantunya berdiri. Rania mengamitnya, sambil menunduk dia menepuk-nepuk roknya yang kotor terkena debu dan tanah.

“Terima ka…” Kata-kata Rania terpotong saat menengadah dan menemukan sepasang mata yang luar biasa hitam dan teduh, bulu mata tebal dengan lengkungan sempurna serta bibir tipis yang kini tampak geli. Sadar dengan keterpanaannya, Rania berdehem.

“Terima…kasih…” Katanya canggung.

Lelaki di hadapannya tersenyum, namun tak membalas ucapan Rania. Tanpa kata, lelaki itu menunjuk rok Rania, ada robekan yang cukup besar disitu.

“Oh shit!” Rutuknya, dengan malu Rania langsung merapatkan kedua kaki serta roknya.

Ketika menengadahkan kepalanya lagi, lelaki itu sudah berlalu. Rania hanya bisa melihat punggungnya. Dia tertegun saat tahu bahwa lelaki itu masuk ke dalam gerbang Sekolah Luar Biasa. Lelaki itu…cacat…

#onedayonepost #cerbung #aarrggg #kacrut