Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

Recent Posts

Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Hidup, mati, sakit, sehat dan yang pasti jodoh sesungguhnya semua hal tersebut sudah ditulis semuanya oleh Allah. Saya meyakini hal tersebut meskipun sering heran kok ya bisa gedebuk love sama orang yang saat ini jadi suami saya. Baru tadi malam kami bertemu dan mengobrol bersama […]

About Me

About Me

Assallammuallaikum, heiho semua! Marilah kita rehat sejenak setelah kemarin berturut-turut menulis hal-hal yang berat. Aslinya saya baru ngeh kalau ada yang namanya tantangan dalam program ODOP ini. Tantangan minggu ini adalah tentang memperkenalkan diri kita sendiri serta momen paling spesial dalam hidup kita. Wadauw,  baiklah […]

Korban Itu Bernama Evy Suliastin Agustin

Korban Itu Bernama Evy Suliastin Agustin

Nama itu beberapa kali muncul di beranda Facebook saya. Beliau adalah tersangka dari pembunuhan 3 anaknya. Pada saat itu dia sendiri mencoba untuk bunuh diri, namun gagal. Evy diselamatkan oleh adiknya.

Saya terhenyak. Ada sesuatu yang mengganjal, tak ada ibu normal yang melakukan itu. Pasti ada sesuatu, pasti ada sesuatu kata saya dalam hati. Saya pun mencoba melakukan pengecekan. Mbah Google membenarkan dugaan saya : Evy menderita depresi.

Evy memiliki tiga orang Anak. Berdasarkan berita yang saya himpun usia anaknya yang pertama adalah  6 tahun, yang kedua  4 tahun dan yang terakhir 4 bulan. Ya Allah, hati ini terasa seperti diremas, perih karena saya juga memiliki bayi yang usianya segitu. Saya benci melihat bagaimana media memposisikan Evy layaknya pembunuh berdarah dingin. Kejam! Jahat betul! Tak tahukah kalian, Evy itu diabaikan oleh suaminya! Evy juga dituduh selingkuh oleh suaminya! Dia tak dinafkahi! Dia diabaikan! Dia sakit karena merasa tak dicintai! Dia depresi!

Saya yakin ini hanyalah satu dari sekian banyak fenomena yang acapkali terjadi di lingkungan kita. Tentang istri yang terluka, tentang istri yang harus berjuang sendirian sedangkan suaminya melenggang santai entah kemana dan bersama siapa. Tentang istri yang menuntut hak suami agar pernikahannya diakui, agar anak-anaknya bisa mendapatkan akta kelahiran sehingga bisa bersekolah layaknya anak-anak normal lainnya.

Hei, tahukah kau bagaimana sakitnya melahirkan? Setelah perang antara hidup dan mati, para ibu pun masih harus berjuang untuk menyusui, begadang setiap malam mengatasi anak yang masih beradaptasi dengan dunia luar. Ya kalau asinya lancar, kalau tidak? Ya kalau anaknya baru satu, gimana kalau dua? Tiga? Empat? Padahal saat itu luka bekas jahitan belum sembuh sempurna. Mencuci, memasak, beberes dan mengurus anak terus menerus setiaaapppp hari.

Oh iya, selain itu tambahkan pula belenggu kemiskinan.

Jangan Lupakan kalau Evy juga harus menghadapi semua itu sendirian. SEN.DI.RI.AN.

Taka da teman berbagi. Tak ada teman yang mengerti. Taka da yang mau mengasihi dirinya. Dia haus akan perhatian yang sejak kecil tidak pernah dia rasakan karena ditinggal oleh sang Ibu dan sang nenek yang menitipkannya ke Panti Asuhan.

Bagaimana rasanya kehidupan seperti itu, kutanya padamu duhai kawan?
Getir…
Pahit…
Sanggupkah bila kamu yang diharuskan menjalaninya?

Ya Allah, betapa saya merasakan nyeri mendalam untuk Evy. Betapa saya memahami kekosongan jiwanya. Harapannya untuk dihargai, didampingi dalam suka dan duka serta dicintai sudah terhempas jauh. Hanyut bersama ketidakpedulian suaminya.

Lalu dia ingin kembali kepada si Pemberi Cinta, sang Khalik. Dia mendengar bisikan-bisikan bahwa keputusan kembali pada Sang Pencipta haruslah beserta anak-anaknya. Dia ingin berpisah dengan sesuatu yang bernama derita.

Saya berduka untuk Evy, yang merasa sial karena justru dialah yang selamat. Saya berduka untuk sesosok tubuh yang jiwanya sudah mati…

Seandainya, suami evy juga bisa diseret ke pengadilan sebagai tersangka. Sebab dialah pencetus utama depresi yang diderita evy yang kemudian mendorongnya untuk mengakhiri hidup anak-anak serta dirinya sendiri.

Hanya seandainya.

(Tulisan ini dibuat tidak untuk membenarkan perbuatan evy membunuh ketiga anaknya. Lebih karena memahami depresi yang dialami evy, alasan dibalik keputusannya untuk bunuh diri. Semoga kita selalu dilindungi Allah dan dikuatkan dalam menghadapi segala cobaanNya)

 

Peluru Udara

Peluru Udara

Suatu siang ketika si abang sudah pupang dari sekolah, dia mengajak saya bermain. “Abang mau main apa?” Tanya saya “Main tembak-tembakan yuk mah!” Jawabnya ceria Saya mengiyakan dan jadilah kami bermain tembak-tembakan dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk sebagai pistolnya. Pura-puranya seisi rumah berubah menjadi […]

Because you are my new world

Because you are my new world

Postingan kali ini berbau agak serius, so watch out gaes! Sudah beberapa hari terakhir ini saya mengalami perenungan yang cukup panjang. Saya menderita innerchild walaupun bukan dalam level yang parah. Saya pun termasuk beruntung karena berani untuk mengakui bahwa saya butuh bantuan. Jangan salah, bahkan […]

The Sisterhood Love-Hate Relationship

The Sisterhood Love-Hate Relationship

Baiklah saya akan jujur, sesungguhnya saya sedang kebingungan tentang bagaimana menulis pembukaan untuk tulisan kali ini. Blank, i have nothing in my mind to write it down

Apa sebab?

Ya, karena judul di atas.

Saudara perempuan.

To be honest, saya terkadang lupa kalau punya saudara perempuan ???

Gimana dengan teman-teman? How many sister do you have ? And.. do you still remember anything about her?

Adik perempuan saya cuma satu dan dia adalah orang yang mendompleng posisi saya sebagai anak bungsu selama hampir enam tahun. Itulah kenapa papa dan mama sering menyebut saya si bungsu yang tak jadi. Saya sedih, berbagai privilege yang seharusnya saya dapatkan sebagai anak terakhir ternyata harus jatuh ke tangan yang lain.

Namanya Anelies, diambil dari buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Dia lahir sebelum bulan ramadhan, hari minggu kalau tidak salah. Saya masih ingat bentukan dia saat pertama kali ketemu: tangannya keciiiillll sekali, kulitnya berwarna merah, tampangnya seperti anak monyet. Lucu, batin saya waktu itu.

Hari-hari saya tidak berubah begitu banyak dengan kehadiran seorang adik. Entah kenapa, tapi mungkin karena saya memang tipikal anak yang mandiri sejak kecil jadi ya biasa-biasa saja. Saya tidak cemburu dengan perhatian yang diberikan orang tua saya untuknya saat kecil. Tapi saya merasakan sentakan tidak menyenangkan melihat bagaimana kedua kakak lelaki saya memperlakukan dia. Dudududu, emang bener ya perempuan itu. Belum juga kenal yang namanya cowok udah main cemburu aja, hihi.

Saya enggak begitu merasakan keterikatan dengan Anelies. Faktor perbedaan umur yang cukup panjang saya rasa menjadi penyebabnya. Saya masuk SD dia baru lahir. Saya masuk SMP dia masuk SD. Ya bayangin aja saat saya ngefans sama sherina dia baru belajar ngomong. Saya saat tergila-gila sama bryan-nya westlife dia cuma bisa bengong, masih malu-malu jadi anak SD yang pulang-pergi dianterin mamah. Saya udah merasuk ke dalam kisah hewi potah (pronunciation ala british untuk harry potter) dia barusan aja bisa baca. Saya keliling kota sambil teriak woyooo saat pawai kelulusan dia baru sibuk nyari SMP. Gimana kami bisa ngomong dengan nyambung coba? Sekalinya nyambung paling kalau kami bersatu-padu ngerayu mamah buat makan di luar,buahahahaha.

img-20171229-wa0009559393340.jpg
Saya dan Anelies Jaman dulu *sodorin baskom buat muntah*

Selayaknya hubungan antar manusia, hubungan antara saya dan anelies pun naik-turun. Saya sering merasa kesal ketika disuruh mama untuk sekedar mengantarkan atau menjemput dia di sekolah dan tempat les karena tugas dan kerjaan saya bejibun. Padahal nih ya kalo mau dibandingin, jaman SD dulu saya berangkat-pulang atau kemana-mana sendirian cuma pake sepeda dan mama-papa kayak nggak ada khawatir-khawatirnya deh. Nah, sekalinya si anelies yang begitu mah ampun, mamah bisa dipastikan telepon bolak-balik meminta saya atau m kakak-kakak yang lain jadi supirnya.

My friends, inilah namanya The Power of Anak Bungsu. Kalau misalnya saya yang nggak kelihatan di depan mata mamah akan nyantai-nyantai aja. Ah, ntar juga balik, batin beliau. Nah, coba deh kalau si anelies satu jaaaaammm aja nggak ada kabar, dijamin mamah pasti kebakaran jenggot dan panik level semaput.

Untuk poin yang ini saya enggak ngerasa iri sih, seneng malah. Enggak banyak dicariin orang tua kan tandanya dipercaya ( atau tak dianggap ?), dianggap mampu menjaga diri sendiri dan sudah dewasa sehingga enggak perlu dikintilin terus-terusan. Somehow, saya suka sekali menjadikan ini bahan ece-ecean sama si nelis. Dan layaknya kakak-adik, tiada hari tanpa bertengkar bagi kami berdua.

img-20180111-wa00301360555757.jpg
Saya, Anelies dan dua kakak lainnya *belasan kilogram yang lalu*

Lalu seperti kisah-kisah dalam sebuah buku akhirnya kami bertumbuh, tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Minggu berlalu, berubah menjadi tahun. Bertengkar makin lama makin berkurang karena memang jarang ketemu walau serumah. Lalu, tiba-tiba saja saya hendak menikah. Ketika saya mau menjadi istri, si nelis yang bisa dibilang merupakan kembang sepatu cap minyak telon di kampung makin terkenal. Jadilah pacar dia saat saya menikah dengan yusuf, saat wisuda sarjana (hamil muda) serta saat melahirkan yuan adalah tiga orang yang berbeda.

???

Anyway, berdasarkan sumber-sumber yang bisa dipercaya si nelis ini ternyata merasa sedih juga loh waktu saya memutuskan untuk kewong. *Pukpukanelies*

Pada saat mendengar si teman ini bercerita, saya sempet curiga dengan alasan kesedihan dia. Itu anak beneran sedih karena kakaknya diambil orang atau sedih karena enggak ada lawan untuk gontok-gontokan lagi? Kalo saya sih sedih karena kehilangan salah satu objek penindasan ???

Aduh nel, ngakak bener deh mbak ajeng tiap inget tampangmu kalo lagi ditindas. Muahahahahaha *evillaugh*

Okeh, kembali ke tulisan.

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya dimana menikah itu menciptakan dimensi baru dalam hubungan kita dengan orang lain. Disinilah letak uniknya keluarga. Bagaimanapun kanal komunikasi dan hubungan kita dengan seseorang yang terikat keturunan itu akan tetap sama. Contoh riilnya ya seperti saya dan anelies ini. Mau sudah sebesar apapun dia, setebal apapun dandanannya, bagi saya, dia tetaplah seorang anak kecil. Padahal ya baru seminggu yang lalu dia menginjak usia dua puluh dua tahun.

Eciyeh, yang baru aja ulang tahun ke dua puluh dua. Bikin saya jadi inget sama lagunya Taylor swift.

Now, I need you to know hey little girl. Here is a little gift for you..

Kamu tahu enggak siapa yang nyanyi sambil lompat-lompat buat bikin kamu berhenti nangis waktu bayi? Itu mbak ajeng loh, coba tanyain sama mamah sana.

Kamu masih inget enggak siapa yang ngajarin kamu naik sepeda di lapangan minggiran?

Kamu masih inget enggak siapa yang pagi-pagi akhirnya ngalah dan bantuin kamu bikin video di alkid buat kompetisi dari toko baju entah apa namanya itu? Sampai kamu akhirnya jadi juara.

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang asyik untuk diajak bicara dari hati ke hati.

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang enak untuk diajak berbagi tawa

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang hore untuk diajak nongkrong bersama

Atau mungkin, mbak Ajeng hanyalah sosok seorang kakak cerewet yang enggak gaul menurut kamu.

To sum up, I’m sorry for not being a good sister for you..

Mbak ajeng hanyalah seseorang yang sudah masuk ke dunia pernikahan, I need to struggling with my own war..

Seluruh perhatian, energi dan perasaan tercurah untuk mengurus anak-anak, suami dan rumah. Mbak Ajeng lupa kalau masih punya adek, ingetnya kalau pas pulang ke jogja atau saat butuh doang. Sounds bad ha?

Kamu harus tahu kalau..

Mbak Ajeng adalah orang yang bengong saat jajan ke outlet Jogja Scrummy-nya Dude Herlino dan melihat kamu jadi bintang iklannya.

Mbak Ajeng cuma bisa mangap waktu makan di X.O Suki dan ngeliat kamu lagi-lagi nangkring jadi salah satu bintang iklan di videonya. Itupun tahunya gegara si Yuan teriak-teriak “Onty mah, itu Onty”

Mbak Ajeng pun hampir enggak percaya saat mamah cerita kamu main film bareng sama Fedi Nuril di layar lebarnya Surga Yang Tak Dirindukan. Mbak ajeng shock berat. Walaupun cuma jadi gadis yang ditabrak mobil dan masuk rumah sakit sih, tapi kan tetep baeeee, FEDI NURIL GITU LOOHHH!! Fedi Nuril beneran! drummernya GARASI BAND kaann??!! Fedi Nuril yang tampangnya aduhai amat sangat icik-icik ehem-ehem ituuu!!!

*kemudian istighfar

Duh, makin berasa beda aja ya dunia kita nel?

Mbak Ajeng cuma Diva Rumah Tangga sedangkan kamu sliweran di layar kaca. Mulai dari jadi host untuk acara bahasa jawa Indosiar sampai liputan gigi-nya Pepsodent. Ini belum termasuk acara-acara offline lain yang kamu pandu. Semua itu pun Mbak Ajeng enggak akan pernah tahu kalau mamah nggak ngabarin. Btw, you should say thanks to Mamah, beliau adalah orang di belakang layar yang begitu rajin dan antusias ngabarin jam tayang kamu di TV.

Tahu enggak, kalau lagi liat kamu nongol di TV yang ada di pikiran mbak Ajeng adalah, is that girl really you? Ya Allah, anak kecil yang dulunya suka mewek ketika boneka kelincinya hilang itu sekarang udah jadi tante-tante, eh salah maksudku Tante. Kadang mbak Ajeng pun nggak yakin kalau orang yang pakaiannya rapi banget nyampein berita dalam bahasa Jawa di Indosiar adalah orang yang pernah mbak mintain tolong buat beli Croissant Coklat di Mirota.

Rasanya aneh banget ketika ada temen yang tanya via WA “Ajeng, adek kamu itu yang masuk ke dalam instagram UGM Cantik kan?”

Yaelah, mana Mbak Ajeng tempe, lha wong waktu itu instagram aja nggak punya.

Orang-orang diluar sana tahu siapa kamu dan bagaimana sepak terjangmu sedangkan mbak Ajeng disini nyantai-nyantai aja glundang-glundung main sama anak-anak dan nyemil gorengan. Bahkan pernah waktu itu si Didi nanyain kontak kamu karena mau nawarin job. Mbak Ajeng bengong dong, nggak yakin kontak kamu di hape mbak masih aktif atau enggak karena saking lupanya kapan terakhir kali kita komunikasi. Yakin deh banyak orang tanya, serius kamu sodaraan sama nelis?

Ngebetein banget kan? Padahal dilihat dari sisi mana saja jelas cantikan mbak Ajeng.

Hubungan kita berdua itu aneh ya nel? Kadang mbak Ajeng sebel banget sama kamu, terutama kalau gaya ngomong oppa-oppanya udah keluar. Hiiiihhh, gemes banget bikin pengen nenggelemin ke empang. Belum lagi kalo kamu udah ngemeng-ngemeng geje, ampuunnnnn rasa ingin ngebully kamu udah enggak bisa ditahan-tahan lagi.

Mungkin kamu disana juga sering kesel dan kecewa dengan berbagai keputusan hidup yang mbak ambil. Tapi toh sekesel-keselnya kamu sama mbak, sikap kamu ke Yuan dan Luna nggak pernah berubah. Enggak pernah mbak Ajeng lihat kamu kesel sama mereka berdua, and I appreciate that, so much. You should know about that…

img-20180111-wa0028346519220.jpg
enin, pakdhe, onty dan yuan jaman 8 bulan kayaknya

Mbak Ajeng agak terharu juga sih waktu kamu menyempatkan diri untuk datang ke rumah di sela-sela jadwal syuting. Walaupun tetep yee, kerjaannya foto-foto sama triplet dan ngabisin jatah rawon doang. Enggak ding, mbak seneng kok waktu kamu makan sampai nambah-nambah dan muji-muji betapa enaknya rawon sederhana masakan mbak Ajeng. Oalah, si nona artis ternyata rindu sama masakan rumah sederhana.

Lalu kamu minta tolong untuk ikutan ngeprint di rumah. Pada suatu ketika, mbak Ajeng membaca berkas-berkas punya kamu, mbak akhirnya menyadari. Ternyata kamu orang yang berdedikasi dan bersikap profesional dalam pekerjaan. Tidak mudah membagi waktu antara kuliah dan bekerja, tapi kamu bisa melakukan keduanya dengan cukup baik.

Pada akhirnya, mbak ajeng enggak peduli kamu akan mengambil jalan yang mana asal masih sesuai dalam koridor agama. Sama seperti kamu yang nggak banyak ambil pusing mbak ajeng mau jadi apa. Dan kepisah jarak sejauh apapun, kita itu saudara nel. Bahkan, semenyebalkan apapun kamu, ada darah yang sama yang mengalir di dalam nadi kita. Dan itulah yang menjadi alasan utama kenapa mbak ajeng peduli sama kamu. Kita itu saudara, titik.

Last but not least

Happy birthday ndut…

Selamat mengisi lembaran baru kehidupanmu di tahun 2018 ini dengan segala hal yang bermanfaat dan bisa mendekatkanmu pada Allah.

Semoga Allah menjaga kamu, mbak ajeng dan orang-orang yang kita sayangi baik di dunia sampai di akhirat nanti..

Hantu Masa Lalu

Hantu Masa Lalu

Tiga belas tahun yang lalu   Pagi itu  Davina duduk sendirian di meja makan. Sepiring nasi goreng yang tersaji hanya ditatapnya kosong. Pikirannya tidak fokus karena  terdengar suara ribut di atas. Papa dan mamanya bertengkar, lagi. Semalam ayahnya tidak pulang. Davina tahu karena tak lama […]

PENGALAMAN MELAHIRKAN TANPA JAHITAN

PENGALAMAN MELAHIRKAN TANPA JAHITAN

Melahirkan tanpa jahitan itu rasanya anugerah banget – Madam A – Yiiha I’m back! Sharing kali ini adalah tentang proses kelahiran dan menyusui si nomer tiga yang penuh drama *as always*. Tapi sedrama apapun, alhamdulillah saya bisa melahirkan tanpa jahitan. Sesuatu yang tidak pernah terbayang. […]

Lembaran itu bernama kehidupan

Lembaran itu bernama kehidupan

Ada dua alasan utama kenapa orang tidak bisa tidur. Pertama, karena dia sedang bahagia. Kedua, karena takut menghadapi pagi.

Saya pernah mengalami yang kedua.

Sebagai istri dari abdi negara yang penempatannya berubah-ubah, sejak awal saya sudah memahami bahwa kami akan sering pindah. Nah, ada perbadaan mendasar antara hanya memahami dan menjalani langsung. Yang satu sekedar bayangan di kepala, satunya kenyataan.

Setelah menutup buku episode pertama kehidupan saya di yogyakarta, saya mulai menuliskan cerita baru di sebuah kota kecil yang menyenangkan bernama Tulungagung. Sebelum menikah, suami memang sudah mencari rumah kontrakan untuk ditempati segera setelah kami resmi menjadi pasangan halal. Dan begitulah..saat usia pernikahan baru tiga hari saya dibawa pergi oleh suami ke kota tempatnya bekerja.

Rasanya aneh sekali ketika saya harus meninggalkan semua hal seperti keluarga, sahabat, kampus, jalanan serta tempat-tempat yang sudah saya kenal betul. Tak pernah terbersit sekalipun di pikiran bahwa saya akan pergi meninggalkan kota tempat saya bertumbuh ini, tidak pernah.

Mbah, mbok ojo lungo mbah. Ojo ninggalke aku dhewekan nang kene”

Metri, salah satu sahabat dekat saya mengatakan hal tersebut ketika saya hendak berangkat menuju Tulungagung. Wajah metri tampak agak pucat dan ada sedikit genangan air di matanya. Tiga tahun lebih kami berteman dekat. Semua hal hampir kami alami, mulai dari saling iri, saling benci dan saling mengingatkan. Banyaknya lika-liku yang kami alami membuat metri sudah seperti saudara bagi saya. Permintaan metri membuat saya menatapnya trenyuh, tentu saja kami sama-sama tahu kalau permintaannya tidak mungkin saya kabulkan.

“Kamu, kamu baik-baik ya mbah. Pokoknya kamu harus seneng. Kalau misalnya ucup macem-macem sama kamu, kamu lapor sama aku” lanjut metri, ketegasan begitu terlihat di raut wajah maupun suaranya.

Saya menanggapinya dengan tawa serak yang tertahan. Antara mau nangis dan tertawa. Saat itu saya tidak ragu kalau metri siap untuk menggepuk yusuf kalau dia berani menyakiti hati saya.

_MG_1550

metri (paling kanan) saat momen pernikahan saya

Dan begitulah, pegangan tangan kami terlepas ketika saya harus masuk ke dalam mobil. Saya menurunkan kaca jendela, memandang wajah mama, papa, anelis dan juga metri. Wajah-wajah yang mewarnai buku kehidupan saya selama ini. Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. Campuran antara sedih, terharu, ragu-ragu juga takut. Pada akhirnya, yang bisa saya lakukan adalah menengok ke belakang untuk menatap lambaian tangan mereka yang menghilang ketika mobil berbelok. Saya mendesah, menatap yusuf yang fokus menyetir. Yusuf, seseorang yang mulai detik ini akan menulis lembaran baru kehidupan bersama saya.

 

Lambat laun saya semakin memahami makna dari doa “selamat menempuh hidup baru” yang tertulis di setiap surat dari kado-kado pernikahan. Hubungan pernikahan mengubah posisi saya dari seorang anak gadis dengan tanggung jawab ringan menjadi seorang istri. Sebutan istri ini memunculkan dimensi yang baru dalam hubungan saya dengan lingkungan sekitar serta tanggung jawab yang luar biasa besar.

Kalau dulu dengan metri saya bisa mengobrol hampir segala hal, maka setelah predikat istri itu melekat saya kini memiliki batasan. Akan tetapi, batasan itu hilang jika kita berhadapan dengan suami. Kini, segala keluh kesah memiliki tempat pembuangan yang baru : suami. Kini, segala tanggung jawab dunia dan akhirat dibebankan pada seseorang yang baru : suami. Kini, tugas berbagi kebodohan itu akan dilaksanakan bersama seseorang yang baru : suami.

Menulis lembaran baru, bersama dengan orang baru bukan perkara mudah. Tak jarang saya menengok lembaran-lembaran kehidupan lama. Ketika saya masih seorang gadis, ketika tertawa bersama teman-teman adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Pun tak jarang, ketidakdewasaan membuat saya enggan mengisi lembaran kehidupan yang ada. Menikah betul-betul membuat saya terlempar jauh dari yang namanya zona nyaman.

Tapi bukankah itu yang namanya kehidupan?

Momen perpisahan memaksa saya belajar menjadi sosok yang kuat. Ketika yogya menghilang dan saya harus mengucapkan “halo” pada kota tulungagung yang tak saya kenal sama sekali. Tapi Allah maha baik, Allah maha sempurna dengan segala rencana-Nya.

Saya tak tahu ada berapa lembar kehidupan  yang tersisa bagi saya untuk mengisinya. Yang pasti, salah satu resolusi di tahun 2018 ini juga menyangkut kata “pindah” dan “halo” pada tempat tinggal yang baru. Harapan saya, di tahun ini kami bisa menapaki tempat baru, menjelajahi bumi ciptaan Allah.

Tentu saja sebuah harapan tanpa usaha adalah sia-sia belaka. Insya Allah, agenda dan visi misi di tahun 2018 ini bersama suami sudah kami susun, Semoga kami bisa melukiskan hal baru, karena saya ingin menjadi seseorang yang saya tulis di paragraf pertama 🙂

 

Pondok aren,

Januari 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ibuku Tak Sempurna

Ibuku Tak Sempurna

Cerpen kesekian yang bisa aku selesaikan, terinspirasi dari komik isyarat mieko. salah satu komik kesukaanku dulu. Tulisan ini masih sangat mentah, tapi semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua. apalah kita ini tanpa ibu kita, hanya sedotan ale-ale yang terbuang …  gambar diambil dari sini please […]