Nice Homework Part 1

Assallammuallaikum, it’s been a very looooooonggggg time since the last time I write for this lovely blog. Alhamdulillah, kali ini saya diwajibkan menulis dalam rangka menyelesaikan tugas di Matrikulasi Ibu-Ibu Profesional Batch 4. Apaan sih MIIP Itu? versi singkatnya sih, kuliah untuk menjadi seorang ibu yang profesinal dan oke punya gitu loh. untuk versi lengkapnya monggo googling sendiri njih .

Baiklah, setelah tahap perkenalan di grup WA IIP Tangsel, materi pertama digulirkan, tanya-jawab dilaksanakan , tugas disampaikan dan saatnya menyelesaikan. Materi yang pertama banget disampaikan adalah tentang ADAB MENUNTUT ILMU.

I’m trying my best to finish my homework, cekidooottt!

Dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU” kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

“Experiencing, writing and sharing” itu adalah bagaimana saya menyebut jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan. Sejujurnya, saya suka sekali menulis. Menulis tentang segala hal, terutama hal-hal yang saya alami sendiri.

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
‌Kenapa ingin menulis dan berbagi tulisan? Hmmm…kalau dipikirkan lagi, sejarahnya panjang. Saya menikah muda, di usia 22 tahun dan menjadi ibu masih di tahun yang sama. Saat itu, teman-teman saya baru saja lulus, mendapat pekerjaan dan bersenang-senang sedangkan saya saat itu justru harus bergulat dengan popok, mengatur strategi membagi waktu, beramah tamah dengan tetangga dan seabrek hal-hal lainnya yang jauh dari kata  keren. Jujur, terasa sekali shocknya saat awal menjadi Ibu Rumah Tangga.

Menjadi ibu rumah tangga di zaman ini pun sungguh berat, terutama karena banyak sesama IRT yang tidak merasa bangga dengan profesi mereka. Label menjadi IRT itu membosankan, tidak berguna, tidak menghasilkan dan gak gaul karena terkungkung di dalam kotak bernama rumah sepertinya sudah menempel begitu erat. Saya sedih dan prihatin. Bagaimana mungkin profesi IRT yang mulia ini akan dihargai kalau tidak dimulai dari kita sendiri yang menghargainya? betul kan?
‌Bohong kalau misal saya tidak pernah mengalami apa yang disebut dengan zaman kegelapan, dimana saya betul-betul merasa terpuruk dan kesepian. Alhamdulillah, dengan keinginan yang kuat serta dukungan dari suami makin kesini saya merasa bersyukur memilih menjadi IRT. I know every milestone of my son and daughter, itu yang pertama. Kedua,  I know how to deal with “kebosanan di rumah”. Sebagai contoh, saya bisa membaca buku kesukaan saya jika anak2 terlelap, memasak, membuat kue atau camilan, membagikannya ke tetangga, jalan-jalan, ngintilin suami dinas, ikut halaqah, ikut senam, ikut forum ini-itu, you can name it.

Saya menyadari kalau  saya adalah termasuk istri yang beruntung karena bisa menemukan banyak kegiatan yang tetap membuat  sibuk dan merasa berharga di tengah keluarga ataupun lingkungan. Saya berusaha untuk qana’ah dengan penghasilan suami, mencoba untuk bersyukur karena tidak sepeti perempuan lain yang juga harus ikut bekerja keras mengumpulkan rupiah. Bisa melakukan apa yang kita inginkan. Inilah kemewahan yang di dapat ibu rumah tangga.
‌Pengalaman merantau, tinggal berpindah-pindah, anak yang sakit, tetangga yang menyebalkan, resep kue yang enak dan masih banyak lagi merupakan hal-hal yang saya dapatkan selama menjadi ibu rumah tangga. Saya merasakan betul transformasi dari anak gadis, menjadi istri kemudian menjadi ibu. Dimana setiap sesi perubahan itu prosesnya sungguh menakjubkan. Karena itulah, saya ingin menulis. Menulis dan menyebarkannya. Agar para ibu yang merasa rendah diri  dapat kembali menemukan kepercayaan dirinya dan merasa yakin bahwa menjadi IRT adalah pilihan paling oke oce, muehehehe.
‌saya ingin agar orang lain juga dapat melihat bahwa kehidupan ibu rumah tangga itu sungguh penuh dengan lika-liku yang menarik, jauh dari kata “membosankan” yang begitu sering digaungkan.

Alasan kuat yang lain adalah karena menulis itu akan menghasilkan sebuah karya yang abadi. Saya ingin anak-cucu kelak dapat mengenal leluhurnya dari karya-karya yang dihasilkan. Kehidupan itu hanya sementara kawan, tapi tulisan tidak 😀

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang anda rencanakan di bidang tersebut?

Strategi saya adalah mencari ilmu dan pengalaman baru sebanyak-banyaknya. salah satunya adalah dengan mengikuti MIIP agar hal-hal yang saya tulis dan bagi nantinya akan menjadi lebih bermanfaat.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Setelah mendapatkan materi tentang adab menuntut ilmu ini, saya merasa harus melakukan berbagai perubahan seperti : tidak menunda pekerjaan, bersegera dan menyimak saat berada dalam forum diskusi, lebih aware dan teliti dengan detail, menghargai pendapat dan pengalaman orang lain, tidak sembarangan menulis yang bisa menyakiti pihak lain, menuliskan sumber serta mengubah mindset untuk meluruskan niat. Bahwasanya menulis itu hanya sebagai bentuk kenikmatan yang bisa dibagi, bukan hanya mengejar like atau menang lomba.

 

Nah, demikianlah jawaban saya atas tugas yang diberikan oleh tim MIIP. Atas kurang dan lebihnya saya memohon maaf. salam sayang :*

Sarah dan Andrian PART 2

Haaaii, maafkeun menunggu sangat lama. Alhamduliullah mulai bisa menulis lagi. Enjoy yang part ke 2 ini yaah!

 

Sarah menghentikan pekerjaan mengetiknya. Punggungnya terasa lelah, matanya terasa lelah, LEHERNYA TERASA LELAH, Ya Allah seluruh tubuhnya terasa lelah. Dia meluruskan punggung sambil bersandar ke kursi, menjulurkan tangannya ke atas kemudian membentuk cakar berlanjut dengan merenggangkan kski dsmbil mrnrkuk jari-jarinya. Dia menguap sebentar dan…

Matanya menoleh kea rah foto yang dipasangnya di meja samping. Fotonya dan Andrian. Mereka sudah menikah hampir, Sarah berfikir sambil mengingat-ingat tanggal. Mmm..hampir 4 bulan sepertinya, katanya dalam hati.

Sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan kiri Sarah kembali mengingat kapan terakhir kali dirinya merasa sangat letih seperti ini. Apa mungkin gara-gara aktifitas semalam?

Sarah yakin rona merah langsung menjalari pipinya. Sarah menarik nafas, dia cukup yakin kegiatan semalam berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit walaupun tetap saja…

Sarah mengibas-kibaskan tangannya, merasa panas walaupun AC di ruangannya menyala terus sejak tadi. Menelan ludah, Sarah mencoba memikirkan hal yang lain. Oh ya, penyebab tubuhnya terasa pegal semalaman karena Andrian melakukan itu semalam. Itu, hal yang sungguh tak termaafkan baginya. Saking kesalnya bahkan sarah sampai tidak bisa tidur. Sarah sakit hati, pokoknya kalau Andrian tidak minta maaf dengan—

“Mbak ini gila ya?”

Damn!

Saking seriusnya berfikir Sarah tidak sadar kalau pintu ruangannya tadi sedikit terbuka dan Bobi ternyata sudah masuk sejak tadi. Lagian, kenapa juga selalu Bobi yang harus memergoki tiap kali aku sedang berfikir tentang Andrian? Pikir Sarah

“Ya bob? Ada apa ya? Kok kamu bisa-bisanya masuk ke ruanganku tanpa ngetuk pintu dulu? Bilang permisi atau selamat siang misalnya?” kata Sarah sambil berdehem dan membetulkan posisi duduk.

“Loh, aku udah ngetuk mbak. Nggak ada tanggapan yaudah aku masuk aja eh, malah nemu mbak yang wajahnya senyum-senyum terus cemberut sendiri” jawab Bobi yang gagal menahan cekikikan

Sarah berdehem lagi , berusaha membuat suaranya terdengar formal “Eh, nggak sopan kamu ya, aku tuh tadi lagi mikir..” Sarah mengamati tangan Bobi yang menggenggam sebuket besar bunga berwarna-warni, dia tertegun sesaat

“Itu kamu bawa apaan bob?”

Bobi masih cekikikan “Hihihi, ini mbak buatmu. Tadi barusan ada tukang yang nganter” bobi menyimpan buket bunga itu dengan hati-hati di meja Sarah “ciyeeeeeee” katanya dengan nada yang membuat Sarah sebal.

“ada kartunya noh” tambah Bobi

Sarah langsung mengambilnya dengan kecepatan kilat.

“eeehh, awas kamu  baca-baca ya bob. Ini privasi tauuuu” kata Sarah sambil berkacak pinggang. Tulisannya ternyata agak panjang, Sarah mulai membaca..

Tuan putriku sayang

My little sweety muach muach

Sarah memasang ekspresi seperti mau gumoh

Maafkan aku semalam ya

Aku nggak nyangka kamu bakal marah besar

Idih,dipikir dengan bunga aku bakalan langsung luluh?

Nah, nah, nah, aku tau kok kalau dengan bunga aja belum tentu kamu bakalan maafin aku

Iiiissshhh!

Ini baru kejutan pertama aja

Nantikan kejutan berikutnya

Jangan berdebar-debar ya

Yang selalu Mencintaimu, Andrian.

“Tuh kan, mbak gila”

Sarah yang baru selesai melipat kembali kartu dari Andrian mendelik dan memasang wajah galak “Heh, ngapain kamu masih berdiri di sini? Keluar gih, syuh-syuh” Katanya dengan sikap bossy yang tidak pernah berhasil.

Bobi membalik badan sambil tertawa terbahak-bahak “Ciyeeeeee”

“Bobiiiiiiiii” untung saja Bobi sudah menutup pintu ruangannya, Sarah tampak siap melemparkan  pemberat berkas kea rah bawahannya yang jahil itu.

Sarah kembali menatap buket bunga yang berada di atas mejanya. Oke Fine, bohong kalau dibilang Sarah tidak luluh dengan bunga. Hellloooww, wanita mana sih yang nggak tergerak hatinya sama bunga? Sarah mengulang kalimat yang ditulis Andrian, aka nada kejutan lain menanti. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.

***

“Jadi, coba jelasin ke gue sebenernya ada masalah apa antara lo dan suami lo?”

Sarah menggeser roda kursinya ke samping, dilihatnya Maura, bos besar pemilik took kue tempat dia bekerja melenggang dengan santai masuk ke ruang kerjanya. Sarah mengangkat sebelah alisnya

“Errr..njelasin apaan sih?”Tanya Sarah bingung

“Inih” Maura meletakkan kotak pipih berukuran besar di sebelah buket bunga yang tadi belum dirapikan Sarah. Sarah mengernyit saat melihat bungkusan Martabak Orins yang dibawa Maura, matanya menatap Maura penuh pertanyaan.

“Mending lo buka dulu deh itu bungkusan martabak” perintah Maura

Sarah mengangkat bahu namun tak urung membukanya dan dan ternganga kaget. Di dalamnya ada martabak keju berukuran besar yang dihias dengan coklat bertuliskan…

PIPI BAKPAO, MAAF YA

Sarah menatap Maura, Maura menatap Sarah, mereka berdua bertatap-tatapan. Sedetik, dua detik kemudian tawa mereka meledak bersama. Maura bahkan sampai harus memegangi perutnya. Sarah tergelak-tegelak lalu duduk, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di meja.

“Oh YA AMPUN! Suami lo gokil abis !!” kata Maura gemas

Sarah mengangguk mengiyakan. Tawa terkekeh masih keluar dari sudut-sudut bibirnya. Mereka mengelus dada mencoba untuk menenangkan diri dari tawa yang sepertinya tidak pernah selesai. Setelah berhasil mengatur nafas Maura langsung bertanya

“Jadi?”

Sarah berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya “Enggak ah, gue malu”

“Malu kenapa?”

Sarah masih terdiam

“kalau lo kayak gini, gue malah maikn penasaran oi” desak Maura

Sarah menghela nafas “Tapi elo janji nggak bakal bahas ini sama orang lain? Kalo cerita gue nggak bakal keluar dari ruangan ini?”

“Iye gue janji! Demi elo, demi perusahaan ini gue bakal jaga rahasia lo!” Maura mengatakan itu dengan semangat

Sarah meringis.

“Yah, mmm…jadi…”

“Jangan diulur-ulur bisa nggak cebol? Langsung ke intinya aja, susah banget sih”

Sarah berpikir segenggam cabe sepertinya sangat cocok kalo dicocolin ke bibirnya Maura. Sarah tau betul dia tidak begitu tinggi, dan panggilan cebol sangat dibenci olehnya.

“Enggak jadi ah, udah bête duluan gue” balas Sarah sambil melengos

“eh, kalo elo nggak mau cerita besok ada surat pemecatan di meja elo ye”

“Bujug! Elo ngancem gue nih ceritanya?” Sarah menaikkan salah satu Alisnya.

“Makanya langsung cerita aja, gue kan udah janji kalo bakalan jaga rahasia” balas Maura santai

It’s complicated! Dasar badak!” Sarah membalas tidak mau kalah

Maura tersenyum, kemudian tanpa meminta ijin terlebih dahulu dia mengambil sepotong martabak milik Sarah, menggigitnya dan duduk dengan santai sambil menumpangkan salah satu kakinya ke depan.

Tell me girl, I’m your bestfriend, remember?”

Sarah memandang Maura, memang bagaimanapun Maura adalah sahabatnya sayangnya, gadis itu juga adalah bosnya.

“Yah, aku malu aja sih karena ini melibatkan…”Sarah memelankan suaranya “Kentut” katanya tanpa suara

Maura melongo, mulutnya yang terisi martabak menganga. Sarah merasa puas bisa membuat ekspresi Maura menjadi seperti itu.

“Elo bercanda ya?” Kata Maura tak percaya

Sarah mengangkat bahu “Terserah elo mau percaya atau enggak. Dia kentut setelah kami berdua olahraga malam, dan bauuuuuuuu banget. Secara sebelumnya dia habis makan 3 biji ubi cilembu. Gue sebelnya nyampe ke ubun-ubun”

Maura kembali menyemburkan tawanya.

“Elo bego banget sih cuiiii!” Maura tampak tidak bisa menahan rasa gemasnya “dia kentut artinya sehat, kalo enggak bisa kentut elo harus khawatir”

“Yaa. tapi kan nggak harus di depan gue juga. Dia tau betul kalo beberapa terakhir ini gue enggak enak badan, sensitive banget sama bau. Abis dia kentut gue terhuyung-huyung berjalan keluar kamar karena pusing ples mau muntah loh” kata Sarah defensive

Maura terkikik

Sarah mendelik sebal, dia menggigit bibir “Semalam bisa dibilang gue bobo punggung-punggungan sama dia. Waktu berangkat kami juga diem-dieman. Makanya dia ngirim bunga sama ini martabak “

“kalian ini emang pasangan sinting. Elo harus bersyukur kali punya suami kayak Andrian, kocak banget dia” Sarah mendengar nada bicara Maura yang mulai melembut

“Kentut aja dipermasalahin. Kalian ini beneran kreatif  nyari masalah buat bertengkar” sindir  Maura sambil menahan geli

Sarah hanya mendengus sebagai balasannya.

“Terus elo masih marah sama Andrian?”

Sarah menyandarkan dagu di tangan kirinya sambil melirik kea rah tumpukan bunga dan martabak di depannya “Dengan bunga dan martabak yang special dikirim dari dia kayak gini? Menurut elo? Gue udah meleleh dan mencair jadi genangan  dari tadi tauk”

Maura terpingkal-pingkal  sekali lagi.

***

Istriku, taukah dirimu kalau cinta itu seperti kentut..

Iya kentut!

Bukan karena baunya, bukan..

Juga bukan karena kentut itu tidak terlihat namun terasa, persis seperti cinta..

Sarah sayang..

Kentut itu, jika ditahan bisa sakit..

Kalau dikeluarkan malu..

Aku malu padamu..

 

Andrian

Sarah memandang kartu yang baru saja diberikan seorang bapak becak padanya. Bapak becak yang dikirim khusus oleh Andrian untuk menjemputnya.

Satu lagi kejutan yang diterima Sarah hari ini.

Tanpa malu-malu walaupun dirinya habis diledek oleh Maura, Bobi dan karyawan lainnya Sarah naik ke atas becak dengan semangat. Dia hanya menjulurkan lidah pada Maura yang membalasnya dengan tertawa. Ya ampun, Sarah merasa dirinya pantas menerima banyak bonus karena membuat Maura terus-menerus tertawa.

Dalam perjalanan pulang Sarah merogoh ke dalam tasnya, dia merasa lega karena barang yang ingin dia serahkan pada Andrian tidak ketinggalan. Sarah mengulum senyum, hari ini Andrian sudah begitu banyak membuatnya merasa dicintai, Sarah berniat membalasnya. Dia yakin Andrian akan senang menerima pengumuman ini, nanti. Nanti ketika dia sudah sampai rumah, Andrianlah yang akan terkejut.

Hanya terkejut? Oh tidak, sarah yakin betul kalau Andrian pasti akan merasa bahagia. Sama seperti yang dia rasakan saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

“SAY” cerpen yang akhirnya jadi setelah sekian lama

Alhamdulillah, ternyata menulis cerpen dalam kondisi ngurus 2 anak itu memang luar biasa ya perjuangannya. tapi, akhirnya cerpen ini jadi juga loh, huahahaha.

silakahkan dinikmati ya, mohon maaf kalau ada kekuarangan disana-sini, namanya juga tulisan pertama yang dipublish. Silakan untuk kritik dan saran, ditunggu selalu loh

 

————————————————————————–

 

“Mbak’e, ada yang nyari tuh”

Sarah mendongak, berhenti sebentar dari kesibukannya menghitung angka-angka. Dilihatnya bobi, yg masih memakai apron dan sarung tangan melongok ke dalam ruangan, cengiran tampak di wajahnya.

“Cepetan mbak, kasian kalo disuruh nunggu lama-lama, jamuran ntar” kata dia lagi

“Eh iya” Sarah memundurkan kursinya, berdiri dan menyusul bobi keluar dari ruangan. “Siapa sih bob?” Tanyanya sambil berlari kecil, menyamai langkah bobi

“Ogah jawab ah, mbak liat aja sendiri” jawab Bob sambil tersenyum.

Sarah belum sempat menanggapi ketika melihat sosok langsing, dengan celana agak cingkrang dan kaos polo biru sedang berdiri di ujung ruangan.

“Andrian!” Sarah tampak  terkejut melihat suaminya.

“Ciyee, dijemput ehem-ehem nih” goda bobi yang buru-buru kabur kembali ke dapur, takut dijitak atasannya.

“Hei” Andrian melangkah seraya mendekati Sarah. “Masih belum selesai ya? Futsalku udah rampung nih, sekalian jemput kamu. Pulang bareng yuk?”

Sarah menatap Andrian sejenak, pandangannya menyelidik “hmmm,kamu mau nyogok ya?”

“Iya” balasnya sambil meletakan tangan di kedua bahu sarah dan meremasnya pelan. “Suami-istri itu nggak boleh bertengkar lama-lama,dosa. Mending kita nambah pahala aja, biar sama-sama masuk surga. Pacaran wae piye?, mumpung besok libur” kata Andrian, suaranya terdengar bersemangat.

Sarah bersedekap, dagunya terangkat “Yakin alasannya cuma biar masuk surga doang? Nggak ada alasan yg lain lagi?”

Well, karena kamu kan istriku, aku mau ngajak pacaran siapa lagi coba?”

Sarah menatap mata hitam dengan binar semangat yang dibingkai kaca mata di hadapannya.

“Sekaligus permintaan maaf” lanjut Andrian sambil nyengir.

Sarah masih terdiam sambil memanyunkan bibirnya.

“Kamu manyun gitu lucu deh”

Sarah melotot

“Sayang sekali, saking sipitnya matamu, pelototan kamu nggak berefek apapun ke aku” kata Andrian sambil tertawa kecil.

Sarah mendengus dengan tidak elegan”ngajak pacaran kok malah ngece-ngece, nggak niat ih ngajaknya”

“Eits, jangan meledak dulu istriku” kemudian dengan nada merayu “come with me please, I have something for you

Sarah melihat ke arah Andrian lagi

I promise, tonight will be better. Well at least, i will try my best to make it better

“Hmm..”

“Jemuran sudah aku angkatin loh  tadi”tambahnya

Setelah menimbang-nimbang selama semenit, akhirnya Sarah mengangguk “huh, baiklah. Tapi inget ya, ini terpaksa loh. Ter.Pak.Sa

Andrian tersenyum penuh kemenangan.

“Tunggu disini, aku ambil tas dan beberes ruangan dulu” kata Sarah sambil membalik badan.

***

Sarah berjalan ke ruangannya sambil berpikir. Baru kali ini Andrian datang menjemput dan mengajaknya kencan. Yah, bagaimanapun mereka belum ada sebulan ini menikah. Dengan masa perkenalan yang cukup singkat, hanya 2 bulan dan bahkan saat itu Andrian bekerja di luar kota. Sarah sangat kaget ketika Andrian datang kemudian melamar dengan sangat tiba-tiba. Dia memaksa pergi menemui orang tua Sarah serta meminta untuk menikah yang sebisa mungkin dilakukan dalam waktu singkat.

Tentu saja orang tua Sarah terkejut, mereka sempat mempertanyakan alasan kenapa Andrian dan permintaannya datang secepat itu. Sarah ingat sekali bagaimana dia menahan malu ketika harus menghadapi tatapan ibunya yg seolah mengatakan ‘apa kamu hamil?’ itu.Iiihhhh, tentu saja dia tidak hamil. Tapi Andrian sangat pintar bernegosiasi dan tidak lama kemudian dia sudah mengantongi ijin untuk menikahi Sarah. Seperti topan badai, Sarah tidak sadar dengan apa yang terjadi, semua berlalu dengan cepatnya dan tau-tau dia sudah menjadi istri dari Andrian Razi Muhammad.

***

Kehidupan pernikahan cukup menyenangkan. Andrian sangat baik, dia perhatian dan humoris. Sarah tidak pernah bosan mengobrol dengannya. Andrian  juga selalu bisa membuatnya tersenyum dengan semua lelucon konyolnya. Andrian  ringan tangan pula, tidak segan untuk membantu Sarah mencuci pakaian yg berat-berat atau sekedar menyapu halaman. Yang terakhir sebenarnya membuatnya cukup malu, karena tetangga kanan-kiri jadi menuduhnya istri durhaka, hiks.

Tapi lagi-lagi, dengan sikapnya yg sangat mudah untuk dekat dengan orang lain, Andrian membersihkan nama naik Sarah. Membuat semua orang memujanya dan merasa iri pada Sarah karena menjadi istrinya. Sarah sadar, tidak butuh waktu lama untuk tergantung pada orang yang sekarang menjadi suaminya itu. Andrian inilah, andrian itulah,pokoknya  Andrian menjadi pusat dunia Sarah hanya dalam waktu sekejap. Sarah tau dia sudah  jatuh cinta, desperately falling in love with her husband. Hal yang wajar bukan kalau seorang istri mencintai suaminya? Walaupun hal itu terjadi dalam waktu singkat.

Hanya saja, berkali-kali Sarah menyatakan sinyal-sinyal cintanya, berkali-kali pula andrian terlihat tidak membalas . Hal itu tentu membuat Sarah sedih. Rasanya memang konyol, tapi entah bagaimana imajinasi bermain dalam pikirannya dan  lama kelamaan Sarah menjadi curiga . Banyak pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab menurutnya.

Kenapa andrian begitu terburu-buru ingin menikah? satu

Kenapa sampai saat ini, bahkan setelah sarah menjadi istrinya andrian tidak pernah sekalipun mengatakan cinta? Dua, dan itu merupakan hal yang paling penting dari pertanyaan lainnya.

Sarah sudah pernah membuka Hp milik andrian, dia tidak menemukan sesuau yang mencurigakan. Hanya saja, namanya tetap tertulis SaRaH, seoerti orang alay. Sebersit rasa kecewa muncul, dia kan istrinya, kenapa tidak memakai nama yang lebih istimewa sih? Darling lah amore lah lope-lope lah, kok disamaain kayak nyimpen nama orang lain.

Sarah juga membuka e-mail serta medsos milik Andrian, mengubek-ubeknya, mencari hal-hal yang mungkin bisa menjadi petunjuk jawaban atas oertanyaannya. Namun lama kelamaan dia merasa malu karena Andrian sangat terbuka, dia memberikan semua pada Sarah. Password rekening, e-mail, medsos, semua. Tidak ada yang disembunyikan. Tapi..tetap saja. Beberapa hari ini Sarah merasa tersiksa dengan pikirannya sendiri, merasa patah hati karena meraaa cintanya tak terbalas. sarah menjadi agak murung, pemarah dan malas-malasan, tapi sepertinya suaminya yang secuek merpati itu tidak menyadarinya.

 

“Kamu mikirin apa?” Tanya Andrian, memecahkan lamunan Sarah

Nope“jawab sarah agak sedikit salah tingkah ketahuan melamun. “Biasa, kerjaan”

“Oh ya? Emang ada apa dengan kerjaanmu?”

“Baik-baik aja sih” kata Sarah sambil mengangkat bahu

Kemudian hening..

“Kamu nggak mau tanya gimana kerjaanku?”

“Enggak”

“Wih, sadis”

Hening lagi..

“Kamu kenapa?”tanya Andrian lagi “No, jangan jawab kalo kamu nggak kenapa-kenapa. Aku tau betul ada yang gak beres sama kamu. Jawab” walaupun dikatakan dengan ekspresi datar, sarah mendengar nada memerintah di dalamnya.

“Ih sok tau, aku biasa-biasa aja kok” Sarah mencoba mengelak

“Sarah..”kata Andrian lagi, kali ini dengan nada sedikit mengancam.

Sarah mengalihkan pandangan, mencoba mencari-cari sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. Belum sempat Sarah mengatakan sesuatu, Andrian mengamit tangannya. Dan sesuatu yang terasa seperti setruman listrik mendera Sarah ketika kulit mereka bersentuhan.

“Hei, ngapain kamu grepe-grepe aku?”

“Gak ngapa-ngapain, kamu istriku. Aku bebas mau grepe-grepe kamu dimana saja dan kapan saja. Toh sudah diizinkan atas agama dan hukum ” kata Andrian santai sambil menarik tangan Sarah yang satunya lagi. Sarah mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Andrian cukup kuat. Sarah berniat untuk menggigit Andrian, tapi dia cukup punya akal sehat untuk tidak membuat keributan di tempat umum.

“Sarah, hei, lihat aku”bujuk Andrian sambil menyentuh lembut pipi Sarah, memaksa Sarah menoleh ke arahnya.

Dengan malas Sarah menolehkan wajahnya, matanya bertemu dengan mata Andrian.

“Apa?” Tanyanya galak

“Hih, kamu kok galak banget sama suami sendiri”balas Andrian. “Eeh, jangan buang muka dulu, aku belum selesai”

Sarah lagi-lagi mengeluarkan jurus manyunnya

“Jangan manyun gitu, nanti aku cium loh”

“Andrian!”

“Nah nah, makanya. istriku, ada apa denganmu sih? Sini cerita sama aku. Suamimu ini selalu siap untuk mendengarkan loh”kata Andrian lembut

Sarah merenung, yah dia juga sedikit merasa kasihan pada Andrian. Bagaimanapun sikapnya, suaminya itu tetap berusaha bersikap baik. Tidak adil rasanya kalau mereka terus-terusan beginj. Sarah sadar, bagaimanapun hebatnya andrian, dia bukan cenayang.

“Ehmmm, yah..”kata Sarah ragu-ragu. Dilihatnya Andrian menunggu

“Kamu janji enggak ketawa? Janji enggak akan marah? Dan janji akan jawab?”

“Janji” Andrian mengangguk cepat, masih sambil menggenggam kedua tangan Sarah. “Tapi jangan muter-muter kayak semalam ya. Aku bingung karena ujung-ujungnya kamu jadi nangis dan kesel sama aku”

“Oke” Sarah menarik nafas dalam-dalam

Sarah berdehem, mengambil jeda selama beberapa detik..”Jadi, Andrian Razi Muhammad, apakah kamu..emm..ci..cinta sama aku?”tanya sarah dengan suara pelan, wajahnya memerah.

Andrian memandang sarah dengan bingung “cinta?”

“Iya! Mak, maksudku.a kuu, aku selalu bertanya-tanya. Banyak sekali yang ingin aku tau. Kenapa kamu, memintaku untuk segera menikah. Dan,daaan..aku tau kamu selalu beraikap baik sama aku, kamu juga selalu bersikap baik dengan semua orang. Tapi, kamu nggak pernah mengatakan apapun tentang perasaanmu ke aku. Padahal, padahal aku selaku dan sering banget ngungkapin semua yang aku rasain tentang kamu” Sarah berhenti sejenak, menarik nafas, memberanikan diri melirik Andrian. Betapa sebalnya dia karena dilihatnya Andrian seperti menahan tawa. Tidak, Andrian bahkan sudah teryawa. Terbahak-bahak lebih tepatnya.

Sialan, pikir Sarah.

“Andrian, kok kamu malah ketawa siiiihh?”kata Sarah gemas

“Huahahahaha, maaf-maaf. Aku geli banget, kamu, kalian para wanita itu memang aneh. Huahahahaha” andrian masih tertawa sambil memegang perutnya.

“Kalo kamu masih ketawa gitu, aku pergi ajalah. Apalagi kamu janji nggak bakal ketawa kata sarah bersungut-sungut.

“Jangan, hihihi..,jangan pergi” andrian, mengulurkan tangan mencegah Sarah berdiri. Sarah duduk kembali.

“Yah, beginilah, aku setengah mati menahan malu untuk tanya kamu cinta sama aku atau enggak dan kamu malah ketawa sampai sakit perut begitu. Dan semua orang bilang aku wanita yang beruntung, padahal..”katanya menatap sebal Andeian.

Andrian, yang sudah berhasil menguasai diri sekarang tersenyum

“Ya allah Sarah..sarah”katanya geleng-geleng kepala menahan geli

“Coba kamu pikir, ada jutaan wanita di Indonesia, ratusan bahkan ribuan di antaranya kenalanku atau paling tidak aku pernah ketemu. Dan dari semua itu, kamu yang aku pilih utuk jadi istri. Menurutmu apa jawabannya?”

Hening lagi

“Kenapa terburu-buru sekali?”Sarah kembali melontarkan pertanyaan

“Kamu yakin mau tau jawabannya?”

Sarah mengangguk

“Sarah, aku ini laki-laki. Oleh bosku tiba-tiba saja aku dipindah. Saat itu aku frustasi, berada satu kota dengan wanita menggemaskan  yang membuatmu tertarik dan tidak boleh melakukan apapun bisa membuatku gila. Bobot-bibit-bebetku baik, begitu juga kamu. Aku tidak mau setengah-setengah denganmu Sarah. Ya atau tidak sama sekali” jawab Andrian enteng.

“Nekat”

“Biarin. Aku nggak nekat juga sih, sebenarnya aku memang udah capek sendirian. Sekian lama nyari-nyari, eh ketemu sama kamu juga akhirnya”kata andrian nyengir lagi.

Sesuatu seperti rasa bahagia mengembang dalam diri Sarah, tapi Sarah mencoba mengahalaunya.

“Terus, kalau memang begitu kenapa, sampai saat ini kamu nggak pernah bilang cinta? Aku selalu ngucapin itu sama kamu, tiap bangun tidur, berangkat kerja, via wA, sms, dan hampir setiap momen bahkan. Rasanya..tidak adil tauk” katanya sedih.

Sarah menatap Andrian yang tampak sedang memikirkan jawabannya.

“For me, Love is not only about how much you say it Sarah. It’s about how much you prove it”

Sarah terdiam

“I know” balasnya malas-balasan “I believe you shouldn’t say “I love you” unless you really mean it. But if you mean it, you should say it, a lot. Many people just forget

“Touche” Andrian mengelus jari-jari Sarah. “I get it Sarah”

“You do?” Tanya Sarah, gelanyar rasa senang merayap menaiki tubuhnya.

“Maaf ya, aku salah. Buatku kata cinta itu tidak penting. Selama ini aku tinggal bersama orang-orang yang terlalu sering mengucapkan kata cinta, kemudian menyakiti orang lain dengan cinta tersebut. Aku memilih untuk membuktikannya. Tapi ternyata itu tidak tepat juga”katanya dengan nada yang menenangkan.

“Kamu mau maafin aku?”

Sarah pura-pura berpikir “hemm, dimaafkan tidak yaa”

“Ayolah gadis kecil, kalau tidak dimaafkan aku terkam loh nanti” kata Andrian dengan suara mengancam yg dibuat-buat.

Sarah tertawa

“Ish, jangan asal terkam dong. Tentu saja aku mau maafin, asalkan..” Sarah tersenyum jail “asalkan kamu mau katakan cinta ke aku, disini, sekarang juga”

Andrian tersenyum mendengar permintaan Sarah.

“Oke tuan putri, itu pekerjaan mudah” katanya sok.

Andrian mengangkat kedua tangan Sarah, mendekatkan ke bibirnya dan menciumnya perlahan. Sarah menelan ludah, ia yakin sesuatu seperti kuda lagi koprol sedang jumpalitan di dalam perutnya.

“Nah gadis jilbab bunga-bunga..bagaimana anda ingin pernyataan cinta hamba disajikan?” Tanya Andrian jenaka

Sarah menggigit bibir sambil tersenyum, membuat lesung pipitnya terlihat semakin dalam.

“Spesial, tentu saja” jawabnya .

Andrian masih belum melepaskan tangan Sarah, dia berdehem dan mencoba memperbaiki duduknya.

“Baiklah, istriku yang cantik, yang mungil, yang paling susah dimengerti dan penuh teka-teki…”

“Err..bukankah harusnya kamu muji aku ya ?” Gumam sarah

“Itu pujian sayang…”

Sarah menatap Andrian dengan tatapan mencela

“Fine, lanjutkan”

“Yang pendek, eh mungil maksudku..yang masakannya paling enak sedunia, yang sangat sangat sangat sangaaaaat sabar”

Sarah mengernyit dan Andrian kembali menyeringai padanya. Oh makhluk menyebalkan yang ada di hadapannya ini betul-betul minta digiles sambel geledek.

“Aku..”

KRIIIIIIIIINNNNGGGG! Sarah dan Andrian tersentak bersamaan, telepon genggam Andrian berbunyi dengan nyaringnya meminta perhatian.

“Sebentar” kata Andrian sambil melepaskan salah satu genggan tangannya pada Sarah.

“Walah, pak bos bisa-bisanya nelpon saat momen seperti ini” Andrian memandang sarah, meminta maaf sambil menunjuk handphonenya. Sarah menarik tangannya yg satu lagi.

“Angkat dulu gih,daripada ntar kamu dipecat”

Andrian mengangguk, berdiri dan berjalan ke arah pintu luar retoran mencarai tempat yg lebuh privasi untuk menjawab telepon dari bosnya.

Sarah mengehela nafas, tubuhnya masih meremang gara-gara ciuman Andrian di tanggannya. Dia mendesah. Sadar karena sepertinya Andrian akan lama. Sarah membuka tasnya, mengambil Handphone sambil menyeruput air jeruk yg tadi dipesan. Iseng-iseng dia membuka Facebooknya, 1 notif. Raga, teman kuliahnya dulu tampak mengupload sesuatu. Sarah menekan dan menunggu gambar yg muncul detik berikutnya dia terkesiap kaget.

“Whaaatttttt? Oh no Raga! Apa maksudnya ini?”

“Hei gadis kecilku,maaf ya tadi keganggu telepon” sahut Andrian yang sudah datang kembali sambil menarik tempat duduknya. Ada apa? Tanyanya melihat kernyitan di dahi Sarah.

Sarah tidak menjawab, dia beringsut untuk menyerahkan HP miliknya ke arah Andrian. Andrian mengamati gambar yg muncul di layar.

“Raga, teman kuliahku dulu mengupload fotoku sebelum berjilbab. Ya allah, padahal aku dulu sudah sempat membuat status kalau tidak ingin foto-fotoku sebelum berjilbab terupload dan dilihat banyak orang setelah berhijrah. Aduh, aku malu banget. Aku gak suka ini” Sarah memberikan penjelasan dengan resah

“Dimana rumah si Raga ini?”tanya Andrian. Suaranya yg tadi santai dan lembut tiba-tiba berubahmenjadi dingin.

Sarah memandang curiga “Hei, ka..kamu mau apa?” Tanyanya berubah khawatir melihat ekspresi Andrian

“Nggak kenapa-kenapa, sepertinya aku harus kenalan sama dia dan ngasih tau dengan jelas kalau dia nggak boleh sembarangan sama Istriku”

“Andrian No!

***

Sarah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kesalahan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan dan..menakutkan. Sarah memandang lelaki di sebelahnya yang sedang tampak fokus menyetir dengan raut muka yang bisa membuat orang lain begidik. Tadi Andrian berhasil memaksanya untuk pergi ke rumah Raga, walaupun enggan Sarah menerima janji yang diucapkan Andrian bahwa dia tidak akan membuat keributan atau memakai kekerasan apapun, Andrian hanya ingin bicara. Yang Sarah tidak pernah tahu, Andrian bisa membuat orang ketakutan hanya dengan bicara. Yah, itulah yang bisa Sarah pikirkan ketika melihat Raga tampak cukup terintimidasi ketika diajak ngobrol oleh suaminya. Betul Sarah merasa resah ketika tahu fotonya yang tanpa jilbab muncul di laman Facebook dimana semua orang bisa melihatnya, tapi dia tidak pernah menyangka dengan tanggapan Andrian. Dan yang membuatnya semakin bingung adalah fakta bahwa sejak pulang dari rumah Raga, Andrian tidak mau melihat wajahnya serta diam seribu bahasa.

Punya suami tapi nggak paham dengan sifatnya sama sekali, disitu kadang saya merasa sedih

Sarah mendesah lega ketika mobil yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan mulus di rumah. Sarah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu karena Andrian masih harus memarkir mobil. Dia duduk di ruang tamu, otaknya mencoba berpikir dengan cepat, dia tidak suka dengan situasi ini. Sarah sudah siap untuk bertanya saat Andrian masuk dan langsung menggerakan tangannya, memberi kode Sarah untuk diam.

“Stop, sebelum bilang apapun aku butuh air putih dulu, segelas besar”

Sarah langsung pergi ke dapur, mencopot jilbabnya sambil mengambilkan air minu, kembali ke ruang tengah dan mengulurkannya dengan gesit ke arah Andrian. Andrian meneguknya pelan-pelan, terlihat dia sedang mengatur nafas dan emosi. Ekspresi wajahnya yang keras sudah kembali melunak.

“Nah..”Sarah mencoba memulai pembicaraan

Andrian menoleh, memandangnya sesaat kemudian secara tiba-tiba menarik Sarah ke dalam pelukannya. Sarah terkejut, tapi tidak berusaha untuk menolak. Andrian menutup mata sejenak sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Sarah

“Maafin aku ya, kamu pasti ketakutan” Kata Andrian dengan suara pelan

Sarah, yang menggennggam baju Andrian hanya memberi jawaban dengan anggukan kecil.

“kamu benci sama aku?”

Sarah menggeleng

“Sejujurnya… aku bingung dengan perasaanku sendiri Andrian” dia mendongakan wajah “ di satu sisi, aku senang kamu berani untuk mendatangi Raga, melindungi harga diriku, merasa marah buat aku. Di sisi lain, aku cukup takut juga melihat kamu marah, bagaimanapun Raga itu tetap temanku, aku…aku tetap merasa tidak enak kalau harus putus tali silaturahmi sama dia”

Andrian berdecak “Haish, Nggak ada ruginya putus hubungan sama orang yang nggak mengormati kamu sweetheart, aku nggak rela. Demi Allah aku sungguh nggak rela ada orang yang berani upload foto kamu di medsos, dalam kondisi tidak berjilbab pula. Kamu istriku, milikku, muhrimku, jelas sekali aturannya tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh melihatmu dalam kondisi tidak berjilbab. Katakan aku egois, tapi sejak ijab qabul yang aku lakukan dengan ayahmu, kamu sudah jadi tanggunganku, kamu adalah tanggung jawabku… untuk dijaga dan dicintai”

Sarah mengerjap, dia sadar kalau tadi Andrian sempat mengatakan kata yang sudah lama ditunggunya. Eh, dia tidak salah dengar bukan?

“Andrian, kamu..kamu..kamu..”

“Haaahhhhhh” Andrian mengucek-ucek rambut Sarah dengan sayang. “Aku tuh dosa apa sih, punya isti kok emot banget”

“lemot Andrian, bukan emot”

“Wakakak, udah lemot, bloon lagi” lanjut Andrian

Sarah dengan sigap langsung mencubit pinggang Andrian, cubitan paling kecil dan tajam. Andrian mengaduh dengan tidak macho sama sekali.

“Mau lagi suamiku?” Kata Sarah manis

Andrian ber-AW-AW ria sambil nyengir. “Ampun Sarah, cubitan kamu tuh nyerinya lama ilangnya”

“Siapa suruh ngehina istrinya bloon!” Sarah melepaskan pelukan Andrian dengan kesal. Suaminya ini memang paling jago merubah mood orang lain, pikirnya sebal. Andrian makin mengetatkan pelukannya, tidak mau membiarkan Sarah pergi.

“ I love you Sarah” Katanya, terdengar pelan karena teredam rambut Sarah.

Sarah merasakan matanya memanas, sekali lagi dia mendongak, mencari kebenaran dalam binar mata Andrian.

“Kamu itu ibarat buku langka buatku. Buku yang ada satu-satunya di dunia, dibuat hanya untukku. Buku yang mungkin tidak akan pernah selesai aku baca karena tiap halaman selalu menyimpan kejutan-kejutan tak terduga. Buku yang nggak akan pernah membuat aku bosan.”

“Aku sih maunya kamu itu dibungkus rapat-rapat dan disimpan di dalam lemari buku-ku yang paling spesial” Lanjutnya. “Gimana?”

Sarah mendesah bahagia, pertanyaan jail tiba-tiba muncul di kepalanya “Jadi menurut kamu, aku cantik atau enggak?”

Andrian menyeringai kemudian tertawa tertawa “Oh ho! Cantiklah pastinya, apalagi kalau pas pakai warna biru motif polkadot” Katanya menggoda

Sarah tersipu, dia tahu betul apa yang dimaksud Andrian dengan warna biru motif polkadot, kalau boleh jujur itu juga merupakan salah satu pakaian favoritnya untuk merayu Andrian.

“Aku malah berpikir, saat ini bisa jadi waktu yang paling tepat untuk warna biru motif polkadot, sebagai balasan pernyataan cintaku pastinya” Andrian menarik Sarah ke arah kamar mereka sambil masih terus memeluknya.

Sarah tertawa, dia dengan sangat senang hati memakai warna biru motif polkadot untuk Andrian, Andriannya.

 

 

 

 

Ketika 2 krucils menangis bersamaan

Teringat beberapa percakapan dengan si empok saat awal-awal saya mempunyai anak dua ekor. Ketika itu, mungkin saya tampak kelelahan dan kusut walaupun toidak mengeluarkan keluhan apapun, wll at least, mencoba untuk tidak mengucapkan kalimat keluhan.

“Mbak mah masih gampang nih, si kakak nangis adiknya diem, si adik nangis kakaknya diem. Belum pernah kan dua2nya nangis?” Katanya. Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan,

Itu beberapa waktu yang lalu.

Belum juga memori percakapan itu hilang dari ingatan, eh sekarang kejadian. Huahahaha.

Si adiki lagi rasa rewel entah kenapa, sehingga meminta perhatian full untuk disusuin dan digendong-gendong. Eeeeh, ndelalah si kakak ikutan masuk kamar nuntut ini itu, and as ussually “sakdek saknyek” kudu saat ini juga. Ditolak baik-baik malah mewek, narik-narik. Alhasil jadilah dua-duanya mewek.

Masya Allah, seandainya badan bisa dibelah dua, saya membelah diri saat itu juga deh.

hiks hiks hiks, perjalanan masih panjang ternyata. semangat! semangat!

First blog post

Halo, Hola-holaa!

Good morning everyone. So i’m trying to start a new blog. Yep, since I was resign from my last Job I have a more time to write . And I wish people would enjoy the story I have written. Actually, i’m not sure my english is right, so please correct me if i’m wrong to help me better.

This blog will consist of my families life stories. enjoy.. 🙂