Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

Recent Posts

What a Day

What a Day

There’s no bad day, but i do feel bad today First, my oldest boy is sick. Cukup satu skop es krim atau segelas es teh dan boomm! Batuk merajalela. Saya kasihan dan kesal. Kesal karena harus mempersiapkan diri menghadapi efek pingpong. Kalau satu anak sudah […]

Meet Up Blogger Muslimah with Teh Khadijah

Meet Up Blogger Muslimah with Teh Khadijah

Rasanya seperti mimpi ketika permintaan saya untuk bergabung ke acara meet up Blogger Muslimah diterima. Agak malu karena saat mendaftar hanya selang sehari setelah permintaan saya untuk bergabung ke dalam komunitas tersebut di platform Facebook di approve. Alasan lainnya karena saya aktif menulis di blog […]

Kangen

Kangen

Hari ini banyak hal yangvterasa memusingkan. Mulai dari cuaca yang bergonta-ganti terus tiap lima menit. Pembantu yang tidak hadir, Yuan yang pulang sekolah cepat, Luna yang enggak mau makan, jemuran yang enggak mau kering serta otak yang enggak bisa diajak kerja sama untuk menulis.

Lelah cyin, lelah

Rasanya bener-bener enggak mau melakukan apapun malam ini. Terutama saat jam setengah delapan malam suami WA kalau dia bakal pulang telat. Rasanya pengen banting sesuatu deh, bete! Huhuhuhu

Tapi, bisa jadi uring-uringan hari ini disponsori oleh komunikasi yang terhambat…

Sejak hari minggu kemarin aki dan eninnya anak-anak datang berkunjung ke rumah. Dan karena kontrakan kami kecil ya begitulah, kmi berbagi ruangan. Saya bahagia sekali mereka hadir.

Hanya, Yusuf jd pindah diluar. Otomatis sampai malam ini kami enggak pernah pillow talk lagi. Nggak ketemu tempat sampah untuk mengeluarkan 20.000 kata, uhuhuhu.

Kangen..

Ini Tentang Peran Ayah, bukan SAHM ataupun WM

Ini Tentang Peran Ayah, bukan SAHM ataupun WM

Alkisah di suatu hari yang tenang ketika hendak mendaftarkan Yuan di sebuah sekolah playgroup saya bertemu dengan seorang ibu, mari kita sebut saja dengan ibu A. Biasalah untuk mencairkan suasana saat menunggu kami ngobrol sekedar untuk berbasa-basi busuk.Lalu entah bagaimana pembicaraan kami masuk ke dalam […]

Lupa

Lupa

“Bang, ayah udah pulang belum?” Tanya saya pada si abang setelah selesai mandi. Si abang menjawab dengan gelengan kepala. Saya menatap ke arah jam dinding. Udah jam setengah tujuh malam lebih, biasanya jam segitu suara motornya udah kedengaran. Entah kesambet apa tiba-tiba kepala langsung dipenuhi […]

Ganteng

Ganteng

“aduh ini lucu banget siihhh!”

“Ya ampun cakepnyaa!”

“Alisnya kok udah mbentuk gitu ya?”

“Eh, bulu matanya panjang-panjang, lentiiikkk!”

“Ya ampun, matanya sipit kayak cowok korea”

Kalimat-kalimat di atas dilontarkan oleh mereka-mereka yang kenal ataupun tidak kenal dengan anak bungsu saya, Aylan.

Pada saat tahsin pagi tadi, Aylan berhasil menggoda mbak-mbak sampai nenek-nenek akhwat. Mereka gemes sekali dengan Aylan. Nggak tahan untuk sekedar msnggoda supaya Aylan senyum atau tertawa.

Hal yang sama terjadi saat saya memeriksakan diri ke dokter dan mampir ke toko kecantikan. Teriakan mbak-mbak spg ataupun towelan di pili di terima Aylan.

“Alhamdulillah, anak kita banyak penggemarnya” kata saya saat di perjalanan pulang.

“Iya, dia kan ganteng, kayak ayahnya” celetuk Yusuf.

Dan saya langsung menabok punggungnya berkali-kali.

Ditinggal Mama

Ditinggal Mama

Alohaa! Hai-hai-haiii, pegimane kabar? Aslinya hari ini muales banget mau nulis tapi daripada ngutang tulisan, akhirnya numpuk dan bisa bikin hidup enggak tenang malah tambah kacau. Jadinya aye sempatkan untuk writing ala kadarnya ajalah. Semalam saya tidur cepet tapi kebangun tengah malem, you know-lah nasibnya […]

Celetukan-celetukan Yuan

Celetukan-celetukan Yuan

Mah, itu perut mama kok masih gede? Mama mau melahirkan lagi ya? *Jedotin kepala ke tembok* Mah, nanti dedek yang ada di perut mamah namanya siapa? *Nyebur ke kali code* Ayah, pinjem hape buat main Youtube. Enggak boleh. Yah, ayah pelit ih. Loh, kok yuan […]

ART vs IRT

ART vs IRT

Judul di atas terinspirasi dari kejadian yang saya alami kemarin sore. Eh monmaap sebelumnya tau kan apa arti singkatan-singkatan di atas? ART adalah singkatan dari Asisten Rumah Tangga atau pembantu atau pembokat, you named it lah. IRT adalah sebutan bagi para ibu yang bekerja di ranah domestik, Ibu Rumah Tangga. Itu profesi yang saat ini sedang saya jalani.

Oke, back to topic

Ceritanya gini, ada seorang ART yang bekerja di tempat tetangga saya. Orangnya itu ya, secara fisik enggak menunjukan kalau dia ART. Eh maaf, soalnya selama ini rata-rata ART yang saya temui penampilannya lugu dan sederhana. Nah, sesembak ini enggak begitu. Dia punya kulit yang putih, wajahnya mulus terawat, badannya agak montok dan cara berpakaiannya sangat kekinian. Pokoknya antara anak yang dia asuh dan dirinya mirip-mirip lah, engak keliatan kayak anak majikan dan pembantu gitu. Beda banget sama saya yang sering disebut upik abunya anak gadis saking enggak miripnya, hadeh.

Eeeehh, nggak tau upik abu itu siapa? Googling gih, wkwkwkwk.

Selain penampilannya yang sangat enggak pembantu banget, sikapnya juga beda. Buktinya kemarin sore itu, saat papasan sama saya yang lagi gendong bayi sambil ngejar-ngejar anak gadis yang lagi patroli keliling perumahan dia cuma melirik sedikit sambil melengos gitu aja. Wooohhh! Woooohh! Apa maksudnya coba?

Saya pastinya sakit hati dong diperlakukan gitu, maklum saya kan emang emak-emak baperan. Segala macem dimasukin ke hati terus ditelaah sendiri. Padahal mah bisa aja emang si sesembak enggak ngeliat saya. Perempuan oh perempuan, emang ngaconya kadang kejauhan.

Anyway, dari kejadian ini saya jadi banyak berpikir dan merenung. Kalau boleh jujur, sebenernya profesi saya sama mereka itu hampir enggak ada bedanya. Selain sama-sama manusia, perempuan dan hidup di bumi (yaiyalaah cyiinnn!)

Kadang nih ya, enggak jarang eksistensi saya sebagai IRT kalah sama mereka yang ART. Baiklah, saya coba rangkum dua hal yang mendasari pemikiran tersebut. Btw, pembandingnya adalah saya ya, enggak tahu kalau pemikiran ibu-ibu lain yang penghasilan suaminya jauh lebih besar pikirannya sama atau enggak.

  1. Uang

Let’s talk about money darling. Mak, berapa sih gaji ART jaman now? Kalau di daerah tempat tinggal saya untuk sekedar nyetrika dan bebersih rumah seberesnya rata-rata mereka minta 700-800rb sebulan. Sehari paling dua jam, tiga jam kalau cucian lagi banyak. Sedangkan untuk yang stay sampai sore ataupun menginap kisaran gajinya antara 1,3-2 juta, tergantung momong anak atau tidak, punya mesin cuci atau tidak dan masak atau tidak. Bagi saya, uang segitu besar loh, jauh dari kata receh. Lha gaji guru aja lebih kecil dari itu.

“Mah, semua gajiku loh aku kasihin ke kamu” begitu celetuk suami saya ketika kami sedang berdiskusi tentang kondisi keuangan keluarga.

Iya sih cinta, memang eike yang pegang hampir semua take home pay itu, tapi kan tapi tetep ajaaaaa uang itu didistribusikan ke berbagai tempat. Mulai dari bayar kontrakan, bayar sekolah, popok, susu endesbre endesbre. Ujung-ujungnya kan cuma numpang lewat, sama aja bo’ong.

Wahai engkau emak-emak yang teliti dalam berhitung, kita tahu kalau ART kerja dapet bayaran. Sebaliknya, IRT ngelakuin kerjaan seabrek-abrek enggak ada bayaran realnya, ho’oh kan?  Iya sih dibolehin beli baju, kosmetik, buku dan semacamnya. Tapi kalau dihitung enggak nyampe sebesar gaji ART tuh. Semua buku, baju sampe lingerie pun nyari pas lagi diskonan. Apalagi sekarang anak udah tiga, jaraknya deketan pula, prioritas pastinya jatuh ke mereka semua, hahaha.

Aduh, kesannya kayak kurang bersyukur banget ya. Padahal nggak sedikit loh ART yang ngumpulin semua gajinya untuk dikirim ke kampung sana. Jauh dari kampung halaman. Banyak dari mereka juga ninggalin anak buat ngurus anak orang lain. Kebayang enggak sih?

Mungkin jerih payah kita enggak akan pernah bisa dihitung pakai nominal, but at least kalo bener-bener ikhlas jaminannya syurga loh gaes! Tempat dimana kebahagiaan itu terasa abadi.

2. Penampilan

Nah, ini nih. Sekarang banyak loh pembantu-pembantu muda yang penampilannya uwooww! Ada yg diwarnain rambutnya, direbonding, pakai bedak atau pakai celana jeans ketat. Asli, majikannya kalah gaul wis.

Eh tapi majikan yang dimaksud saya ya. Dan ini saktenane adalah ungkapan jujur dari hati yang terdalam. ART saya tiap abis sholat masih sempet ngerapihin jilbab atau bedakan lagi. Lha saya? Kadang ngancingin baju yang terbuka abis nyusuin aja lupa loh saking rieweuhnya. Belum lagi masalah rambut rontok serta pilihan baju yang terbatas karena faktor menyusui. Rambut kucel, baju kumel, wajah enggak segar karena ada lingkaran-lingkaran hitam hasil kurang tidur ngurus bayi. Belum lagi perut menggelambir yang enggak pernah berhenti disangka hamil lagi sama anak sulung, di situ kadang saya berasa ingin njebur ke pinggiran kali code. ya Allah berikanlah hambaMu ini tubuh yang langsing pemikat suami sendiri ya Allah, aamin.

Untuk masalah penampilan saya juga merasa galau gaes. Aslinya saya itu suka dandan, suka terlihat cantik dan menarik kayak jaman masih gadis dulu. Apalah daya sekarang buat sekedar pergi ke kamar mandi aja ada tiga ekor manusia mungil yang nunggu. Memang dibalik foto anak-anak lucu, terawat, imut dan menggemaskan itu ada sosok emak yang amburadul penampilannya tapi kuat tekadnya, wkwkwkwk.

Terus, inti tulisan ini apa?

Intinya sih harus banyak-banyak bersyukur karena dipertemukan dengan ART yang baik-baik, bukan ART yang bikin ketar-ketir.

Pondok Aren, 8 Februari 2018

 

Random Thoughts Part 1

Random Thoughts Part 1

Assallammuallaikum, Halo selamat malam teman-teman lagi pada ngapain nih? lagi baca blog saya kan pastinya, wkwkwk Baiklah, wahai para penunggu postingan mohon maaf sekali karena untuk malam ini saya tidak bisa menulis banyak, hiks. Saya sedih soalnya di kepala kata-kata udah melompat kesana-kesini. Sayang sekali […]