Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

NGEBLOG & PERJUANGAN MELAWAN STEREOTYPE IBU RUMAH TANGGA

NGEBLOG & PERJUANGAN MELAWAN STEREOTYPE IBU RUMAH TANGGA

Padahal awalnya ngeblog mah buat seru-seruan aja, ealah kok malah kepleset dan jatuh cinta. Jadi kecanduan buat ngeblog kan? 

– Madam A –

disclaimer : semua yang saya tulis di sini adalah based on pengalaman pribadi. Tidak bermaksud untuk mendiskreditkan siapapun. Jadi, jangan baper dulu ya 🙂 

Seberapa besar keinginan kamu untuk kruwes-kruwes lambe seseorang yang berkata, 

“Perempuan itu ya, kerjaannya kok cuman sumur, dapur, kasur. Malu-maluin.”

“Kamu itu harus kerja, punya ijazah dari universitas terbaik se-Indonesia Raya, cumlaude pula. Eman-eman kuliahmu kalau akhirnya cuma di rumah.”

“Jaman sekarang, istri itu harus mandiri secara finansia/ Buat jaga-jaga semisal suaminya selingkuh atau mati nanti. Kan kita enggak pernah tahu yang namanya takdir?”

di hadapan kamu yang seorang Ibu Rumah Tangga? 

MADAM DULU & SEKARANG

Keputusan menjadi IRT itu berat loh, jangan salah. Apalagi saat itu, Yusuf yang ngasih perintah . Bukan pilihan saya sendiri. Kebayang dong sebesar apa perang batin yang harus saya lalui untuk merasa ikhlas dengan perintah suami. Berat banget genks! Oh iya, saya pernah menuliskan sekelumit kejadian tentang hal ini, silahkan cek di sini.

Dulu, setiap kali dengar kata-kata penuh racun di atas, saya pasti baper berat. Saya bisa nangis dan sendu seharian lalu menyesal dengan keputusan saya untuk menikah dengan Yusuf di usia muda. Kebahagiaan menjadi istri menguap begitu saja karena habis digerogoti rasa kecewa. Bersyukur? Meh! Ngapain bersyukur, toh setinggi apapun saya belajar kalau ujung-ujungnya cuma jadi IRT tetap aja enggak ada gunanya?

Saya akan protes ke Yusuf, dan bertengkar. Tidak bisa saya sangkal bahwa rumah tangga kami sempat goyah hanya karena terus-menerus membahas hal ini.  Kalau diingat-ingat rasanya kok konyol banget mengijinkan satu dua komentar sampah menjadi duri dalam kehidupan. 

Padahal yang ngomong ya enggak ngasih kontribusi apapun dalam hidup saya. Bayarin kuliah enggak, biayain nikah pun boro-boro. Lucu emang, hihihi.

Tapi itu dulu.

Serius, itu cerita masa lalu karena saat ini saya malah bersyukur banget menjadi Ibu Rumah Tangga. Mungkin karena saya sudah menguasai jurus masuk telinga kiri keluar telinga kanan dengan baik kali ya? Atau bisa jadi karena  saya pindah dan bisa ketemu banyak orang yang pikirannya lebih terbuka. Alasan lainnya sih jelas,  di sini saya banyak bertemu teman-teman senasib sepenanggungan. At least, I don’t feel alone anymore…

Saat ini, ketika ada orang yang  ngoceh kalau enggak punya duit sendiri itu tidak aman atau buat beli pembalut aja mesti minta suami itu memalukan, saya enggak peduli lagi. I’m sorry, those words can’t hurt me anymore. Bukankah begitu Marimar?

Sebaliknya, saya kok malah kasihan sama orang-orang yang mindsetnya masih kayak jaman penjajahan begitu. Harus banget ya ngerendahin orang lain supaya bisa dipandang bahwa pilihannya “lebih hebat”. 

Waktu menyembuhkan. Waktu pula yang mendewasakan…

Enggak tahu kenapa, makin ke sini saya jadi berpikir bahwa kita bisa banget kok memutar kata-kata orang julid yang rempong banget sama pilihan hidup kita. 

Walaupun hanya sebatas ilmu kebatinan alias diomongin di dalam hati saja.

Sini toh saya bisikin sebuah rahasia.  Tahukah kalian kalau kerjaan saya sebagai IRT enggak melulu cuma sumur, dapur, kasur. Kalaupun memang iya, saya sih memilih untuk menikmati banget kegiatan memasak dan berkreasi dengan segala kue enak. 

Lalu,untuk masalah perkasuran.  Masak iya sih ada istri yang enggak suka didatengin sama suaminya buat olahraga dan olah cinta bareng? Saya kok seneng-seneng aja yak, antusias malah *eh.

Secapek-capeknya, saya mah hayuk aja tiap dikasih kode lirikan penuh arti.  Yang gerilya kan pihak sana, wkwk. Walaupun saya sendiri toh biasanya ikut kepancing buat berpartisipasi dengan sukarela. Mana seru kalau cuma diem-diem aja. Eyke kan bukan boneka barbie, yang cantik di luar tapi kaku saat diajak berhubungan.

Enggak perlu malu, lha wong ini  ibadah yang pahalanya bisa menembus langit. Manfaatnya juga banyak banget, selain bisa bikin sehat berhubungan sex juga bisa bikin kita ngobrol asyik sama suami setelahnya. Kecuali di tengah jalan kita terpaksa koprol karena anak tiba-tiba bangun dan gedor-gedor pintu dan berkata;

“Maaaa, lagi ngapain sih di dalem? Aku mau eek.”

Untuk masalah sumur alias beberes rumah, udah saya serahin ke ART. Alhamdulillah, bersyukur banget karena suami justru menjadi orang pertama yang menyarankan hal ini. Jadinya saya bisa fokus sama anak-anak dan sesekali melakukan upgrading diri supaya makin berkualitas. 

Jadi kesimpulannya, kenapa harus malu sih dengan semua istilah dapur, sumur, kasur? 

TENTANG SELINGKUH DAN TAKDIR KEMATIAN

I wanna ask you girls, terutama yang masih memiliki mindset bahwa bekerja adalah  persiapan menghadapi ditinggal mati atau selingkuh oleh suami semata. 

Apakah kalian benar-benar tidak apa-apa kalau suami kalian bermain serong? Apakah kalian sungguh-sungguh siap bila tiba-tiba ditinggalkan selamanya oleh suami?

Saya rasa kita semua tahu bahwa jawabannya adalah tidak. 

Saya sendiri menikah dengan Yusuf karena cinta. Niat kami menikah adalah untuk ibadah dan menjadikannya keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah. Karena itulah, saya yakin bahwa Allah akan menjaga hati kami berdua untuk tetap lurus di jalan-Nya. 

Rasanya tidak benar ketika kita harus bersiap-siap bahwa suami akan melakukan hal buruk. Itu suami kamu loh, orang yang kamu pilih untuk menjadi imam dan tulang punggung. Masak iya kita mau menaruh curiga sama pemimpin di rumah? Saya kok membayangkannya capek banget. Hubungan macam apa yang mau dibangun kalo landasannya adalah rasa waspada, duh suamiku mau selingkuh nih, duh suamiku besok mati nih. Hiii, naudzubillahmindzalik.

Daripada begitu, mending saya jadi IRT waelah, asal suami setia daripada bekerja kantoran tapi suami jelajatan kemana-mana dan lepas tanggung jawab pada keluarga. Kan gitu logikanya?

Begitu juga dengan kematian.

Adakah yang siap menghadapi hal ini? Allah, saya kok jadi melow sendiri nulisnya karena bahkan untuk membayangkannya saja tidak mau. Suami, semenyebalkan apapun, dia adalah partner seumur hidup. I can’t imagine my life without him

ngeblog - ayunafamily.com
source : pixabay

Hidup tanpa elusan tangannya setiap saya mau tidur di malam hari. Hidup tanpa menyentuh janggutnya yang bikin gemes tapi adiktif itu. Hidup tanpa mendengar lagi suaranya yang cempreng seperti kodok. Ya Allah, bagaimana saya bisa hidup tanpa itu semua? 

Tidak bisa. Bahkan meski saya bekerja dan memiliki separuh isi bumi sekalipun, saya khawatir tidak akan siap menanggung rasa kehilangan lelaki pemegang  hati saya. 

Tapi saya yakin bahwa walaupun hati terasa bolong, langkah terasa limbung karena hilangnya separuh jiwa, kita pasti bertahan. Ada anak-anak yang perlu ditopang bukan? 

“Ajeng, misalnya nanti Yusuf sudah diambil kembali oleh Allah, yakinlah bahwa rejeki anak-anak akan tetap ada.” Kata Bu Fithrie suatu hari. Ya, rejeki adalah suatu misteri. Tapi saya percaya bahwa anak-anak memiliki rejekinya masing-masing walaupun sang kepala keluarga sudah tidak ada. 

Untuk hal ini, Yusuf sebenarnya sudah memikirkan sejak lama sekali. Bahkan sejak awal menikah, ketika saya selalu marah-marah karena tidak diizinkan untuk bekerja di luar rumah. 

Cyin, walaupun kamu di rumah, aku pengen kamu punya skill, apapun itu. Karena skill unik itulah yang nantinya bisa jadi pegangan kamu untuk survive kalau aku enggak ada

– Suami Madam A – 

Dan dia betul-betul memegang perkataannya. Jujur, Yusuf sangat membantu saya menemukan hobi atau kegiatan yang saya sukai untuk diseriusi lebih lanjut. 

Misalnya nih, dia tidak pernah menolak ketika dulu saya ingin mengikuti baking class. Dia bersedia mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk biaya kursus ataupun membeli peralatan dan bahan membuat kue. Bahkan saat saya sempat menjajal untuk berjualan kue dulu, dia tidak malu untuk membawanya ke kampus dan menjualnya di kelas. 

Jauh sebelum itu, Yusuf juga mendorong saya untuk ikut pendidikan Advokat. Tahun 2014 dengan biaya sebesar 6juta, jumlah yang cukup menguras tabungan kami. Tapi dia enggak ngeluh. Dukungan yang dia kasih betul-betul total, mulai dari jagain anak selama saya kuliah, menjemput di stasiun, menemani membeli buku sampai sekedar beberes rumah. Saya sering terharu saat pulang kuliah menemukan baju kotor sudah bersih, ataupun kasur yang tertata rapi. 

Lalu, ketika akhirnya saya bisa lulus ujian advokat hanya dengan sekali ujian saya justru memilih untuk mundur kembali menjadi IRT. Padahal kesempatan untuk magang di kantor pengacara cukup besar. This time, sayalah yang memilih untuk tinggal di rumah. Biarlah orang lain saja yang bekerja kantoran berangkat pagi pulang malam. Saya tidak sanggup melakukannya, tidak saat ini. 

Yusuf mendukung. Dia tidak berhitung sama sekali tentang nominal yang sudah digelontorkan. Bagi dia, cukuplah saya memiliki sertifikat advokat dari peradi, mbok menowo suatu saat nanti dibutuhkan. Saya sendiri sudah cukup puas bisa lulus sekali coba.

Saya paham bahwa banyak sekali kisah tentang lelaki yang tidak setia di luaran sana. Tapi saya tidak setuju kalau hal tersebut disebabkan oleh sang istri, apalagi kalau alasannya sereceh “istri tidak bekerja”. Itu mah cuma alasan yang sengaja dibuat-buat oleh lelaki brengsek sebagai pembenaran. 

Nah, bagi teman-temanku sayang yang bekerja, yuk coba diluruskan lagi niatnya. Saya khawatir kalau niatnya belok, entar malah jadi doa dan benar-benar dikabulkan sama Allah. Kan sedih

NGEBLOG, CARA SAYA MENG-UPGRADE DIRI

Saya punya kebiasaan menulis. Menulis status Facebook sih biasanya, wakakaka. Kebanyakan cerita tentang kehidupan rumah tangga dan anak-anak. Banyak orang bilang, mereka suka tulisan saya. Padahal kebanyakan tulisan saya ya kisah-kisah ngenes yang sama sekali tidak isnpiratif. 

Sempat beberapa kali saya ikut kelas menulis juga. Iseng nyoba nulis fiksi. Ternyata kok hasilnya ble’e, banyak bolong dan kadang enggak logis. Halu kejauhan, belum lagi masalah tanda baca yang konsisten banget kacaunya. Pernah juga sekali ngepost di KBM (Komunitas Bisa Menulis) terus di kritik habis-habisan. Habis itu aku mutung, terus enggak mau nulis fiksi lagi. Hihi.

Kali berikutnya saya bikin akun di wattpad. Jebul, tetep aja enggak bikin semangat saya untuk nulis muncul. Sejauh ini saya cuman baca cerita-cerita absurd yang kadang bagus banget, kadang aneh banget. Duile, padahal mah tulisan saya untuk memenuhi standar jelek aja belum tentu mampu. Kok berani-beraninya saya ngomentarin tulisan orang, wkwk.

Oh ya, saya juga jadi ngikutin dunia pergosipan temen-temen author wattpad yang keren-keren itu. Iya, bagiku mereka keren karena seperti apapun bentuk tulisannya, mereka mau nulis dan ngepost. Coba bandingkan dengan saya yang untuk sekedar bikin tulisan satu halaman aja ngumpulin niatnya bisa sebulan. Belum juga ngepost tulisan udah jiper duluan, takut enggak ada yang baca, apalagi nge-rate dan ngasih bintang. Lemah banget mental saya. 

Jadilah saya stuck, jalan di tempat. Menulisnya gitu-gitu aja. Tapi kok ndilalah, saya kedatangan tetangga baru, namanya Yeni Sovia. Orangnya kecil dan mungil, dipakein seragam  anak TK juga masih pantes. Nah,  ibu satu anak inilah yang memperkenalkan saya pada dunia blog. 

“Mbak Ajeng, tulisanmu bagus, sayang banget kalau enggak ngeblog.” Celetuknya berapi-api, saat kami sedang ngerumpi di pengkolan perumahan.

Yah, sejujurnya saya sudah pernah membuat blog di tahun 2016 lalu. Cuman ya sekedar bikin aja, sempat berjanji pada diri sendiri untuk konsisten menulis. Tapi layaknya anggota dewan kita yang terhormat, janji tersebut ternyata palsu. Blog tersebut saya tinggalkan sampai banyak sarang laba-laba.

Selain itu, saya sempat berpikir, memang ngeblog jaman sekarang masih relevan ya? Secara orang-orang lebih suka menulis di media sosial yang lebih cepat responnya. 

Ternyata masih loh!

Ternyata, sayalah yang kudet. Saya ketinggalan jaman banget karena tidak tahu bahwa ada banyak komunitas ngeblog di dunia maya. Ya ampun, maluuuukkkkk. Hihihi. 

“Ngeblog jangan cuma ngeblog mbak Ajeng, harus berkomunitas juga. Nih, aku kasih tau komunitasnya apa aja.” Kata mbak Yeni, saat saya cerita mulai aktif ngeblog lagi.

“Ngbelog jangan cuma ngeblog mbak Ajeng, harus belajar SEO juga.” 

Saya melongo. What? SEO? Apa hubungannya ngeblog dengan CEO-CEO tampan yang sering sliweran di wattpad? Eh, itu CEO sih, bukan SEO bihihik. 

“Ngeblog jangan cuma nulis mbak Ajeng, harus belajar desain dan nambahin gambar yang pas juga. Nih, ada aplikasi Canva buat bantu edit foto.”

Hah? Canva? Makanan apa pula itu?

Baca juga : Mari Berkenalan Dengan Canva

“Ngeblog jangan cuma sekedar ngeblog, boleh loh mbak Ajeng ikutan event-event yang biasanya diadain sama komunitas.”

Opo? Event? Aikamu, serius blogger teh sering diundang buat menghadiri event?

Asli, saya sempet sakit kepala karena serbuan informasi tentang dunia blog ini. Otak saya yang sudah lama tidak dipakai membutuhkan proses cukup lama untuk mencernanya. Belum lagi dengan kegagapan saya terhadap tekonologi, rasanya kok enggak mungkin saya bisa ngeblog dengan baik dan benar. 

Tapi, ternyata saya bisa loh kawan!

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai memahami apa itu SEO. Saya bahkan nekat untuk membeli domain dan hosting agar blog saya menjadi TLD (Top Level Domain). Permintaan yang cukup drastis ini saya ajukan di bulan ulang tahun saya. Yah, hitung-hitung supaya saya enggak lupa kapan harus perpanjangan, ehehe. 

Karena saya sudah mengeluarkan uang untuk membayar, maka saya terpecut untuk menulis lebih konsisten. Terlebih saya juga mendaftar sebagai kontributor artikel di WAG IIP Tangsel. 

Tiada hasil mengkhianati usaha. Sedikit demi sedikit tulisan saya semakin banyak pembacanya. Senang sekali saat ada beberapa orang yang mampir dan meninggalkan jejak pada tulisan di blog saya. Apalagi kalau tetiba ada yang menghubungi, untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena saya menuliskan apa yang mereka rasakan. Begitu pula saat satu dua pesan masuk, mengatakan bahwa tulisan saya informatif. 

Duh, semangat untuk ngeblog makin cetar membahana! hahaha

Allah maha baik, karena disela-sela ngurusin marriage and parenting lyfe, saya dikasih kesempatan untuk belajar dan mengenal dunia yang baru. Rasanya pengen jingkrak-jingkrak sambil teriak AUOOOOO saat pertama kalinya ditawarin postingan paid promotion. 

Jangan salah, saya lumayan sering kok dilanda perasaan bosan untuk menulis. Tapi setiap hal itu terjadi ada saja sesuatu yang bikin semangat saya naik lagi. Entah karena ada postingan yang bisa muncul di halaman pertama google ataupun undangan event tiba-tiba. Belum lagi jika tetiba ada WA masuk yang mengatakan bahwa invoice cair. Cuma recehan kalau dibandingkan sama gajinya Yusuf, but I’m happy with that.  

Siapa yang pernah menyangka bahwa kesukaan saya terhadap kegiatan menulis bisa membalikan kehidupan? 

Kini tiap bangun tidur saya punya serangkaian kegiatan untuk dikerjakan. Membaca lebih banyak, menulis lebih banyak, belajar lebih banyak. Saya yakin sekali, bahwa sejak rutin ngeblog, saya merasa hidup ini berarti. 

Saya merasa bahwa pilihan untuk stay di rumah selama anak-anak masih kecil ternyata tepat. Kalau bukan karena ngeblog, saya enggak yakin bisa diundang sampai dua kali oleh kementrian kesehatan untuk hadir di sebuah media briefing bersama teman-teman jurnalis dari media. 

Kalau bukan karena ngeblog, saya enggak yakin bisa mengenal apa itu influencer, Canva, SEO, serta aplikasi unfollower. 

Kalau bukan karena ngeblog, saya enggak bakal tahu bahwa ada loh jenis pekerjaan yang membutuhkan kreativitas terus-menerus seperti ini. You don’t have to go to the office, kamu cukup datang ke sebuah acara, mendapatkan informasi berharga, menuliskannya dengan gayamu sendiri untuk disebar kemana-mana and get paid

Kalau bukan karena ngeblog, saya yakin bahwa banyak orang masih berpikiran bahwa menjadi IRT adalah pekerjaan yang membosankan. 

Ngeblog changes my life, a lot. 

Jadi, bagaimana mungkin saya tidak jatuh cinta pada kegiatan ini?

UPGRADE YOUR SKILL & BE PROUD

Saya akan berbagi sedikit kisah pada teman-teman sebagai penutup tulisan kali ini. Waktu di Tulungagung, saya berkenalan dengan seorang Ibu yang mempunyai usaha kue. Beliau membuka baking class dan tentu saja saya mengikutinya. 

Saya takjub sekali melihat rumah beliau yang luar biasa besar, dengan fasilitas dapur yang lengkap. Awalnya saya berpikir bahwa suami dari ibu ini pasti pekerjaannya mapan sekali. Tapi ternyata enggak loh. Faktanya, alat-alat baking yang harganya jutaan itu beliau dapatkan karena kemampuannya membuat snack, entah itu roti maupun kue tradisional. Dia suka baking, passion di sana dan didukung oleh sang suami. 

Lama-lama usahanya bertambah besar. Kini, dia tidak hanya berjualan kue. Beliau sering diundang untuk menjadi juri untuk bebagai kegiatan tata boga. Beliau juga sering membagi ilmu kemana-mana, tanpa takut merasa tersaingi. 

Skill memasak dan membuat kue, itulah yang membuat hidupnya berubah. Dari situlah beliau bisa memperluas rumah, membeli mobil, menyewa beberapa pegawai sekaligus. Masya Allah Tabarakallah…

Nah, buat teman-temanku sayang…yuk, coba temukan skill unik yang ada di dalam dirimu. Siapa tahu, skill tersebut akan mampu mengubah haluan hidupmu menjadi lebih baik, lebih positif.

Butuh perjalanan panjang dan mungkin doa yang banyak. Tapi enggak apa-apa, lakukan dengan bahagia. Bener kan Ferguso?

Jadi, kenapa sih kamu ngeblog Jeng? Ya karena cinta, apalagi coba?  

(Visited 182 times, 1 visits today)


10 thoughts on “NGEBLOG & PERJUANGAN MELAWAN STEREOTYPE IBU RUMAH TANGGA”

  • Ma syaa Allah madaaamm.. ai lop yu pull. Because of you dan juga mba bela yg ngajakin aq di kelas Covert Selling, aq juga jadi makin sregep nulis2. Sekedar mengeluarkan 20rb kata biar enggak sumpek 🤭. Dan sekarang support suami jg full setelah aq sering cerita ini itu ttg mba ajeng dan mba2 blogger2 yg lain yg banyak menebar manfaat.

  • Aku terharu bacanya Mba Ajeng. Kalau bukan ngeblog, Mba Ajeng nggak akan mungkin sesering ini menang lomba nulisnya ya, kalau bukan krna ngeblog Mba ajeng ga akan mungkin secepat ini punya buku penerbitnya mayor lho dan di jual di toko2 umum, kalau bukan karena ngeblog mba ajeng nggak akan mungkin secepat ini punya ilmu yang banyak dan luas. Secara diundang untuk dpet ilmu gratis. Sungguh mba ajeng tulisanmu menguatkan para perempuan di luar sana. Smga itu jadi ladang kebaikan dan tabungan di akherat nanti. Aku semakin semangat ngeblog. Karena dirimu juga. Makasih ya 😘😘

  • Hikksss… Parahnya lg yg nyinyirin aq ini ART guruku dulu Mbak di hadapan banyak orang, pas acara Agustus an di kampung.. ada lagi masih saudara sendiri, bilang ke orang tua aq & suamiku, di depanku wkt hari raya, sambil jabat tangan aq, bilang dg nada ngejek “ini yg gagal itu ya?” Duh gemes deh. Akhirnya aq gak nahan Mb, terlalu baper. Sakit hatinya gak ketulungan. Belum lg omongan lain2, msh byk. Kini aq uda anak 2, baru nyoba daftar CPNS kemarin, Alhamdulillah kok ya lolos passing grade. Apa mungkin aq harus menjalani takdir sbg guru lg? Tp kalo motivasinya bukan dr diri sendiri, aq yg salah… Harus bs mengubah mindset agar apa yg kulakukan bs jd ladang pahala.

    • duh, sedih banget ya mbak. Kadang memang lidah itu bisa lebih tajam daripada pedang. Selamat udah lolos passing grade-nya mbak, serahkan semuanya pada Allah, minta yang terbaik padaNya. Aku pribadi ngerasa enggak cocok jadi PNS, wkwkwk.

  • Keren kali mbak Ajeng, bisa jadi penghiburan diriku yg jga lagi ada di fase, “Hah? Aku jdi IRT nih??? Bosen kali d i rumah nih, hidup tak adil cuma ngurusin anak doang nihhh…” karena aku baru 2 bulan punya anak dan cuzzz dri wanita karier ibu kota langsung nyungsep di desa di Semarang alias my hometown. Harus resign dan full time mother. Mana suami yg ngasih mandat lagi kuliah di luar negeri. Aku sedang nyesek bertubi tubi. (Malah curhat) lalu aku menemukan tulisan ini dan mataku sedikit terbuka. Semoga indah pada waktunua kayak lagunya Rizky Febian.

    • Mbaaakkk, peluuukkkk!!!! Stay strong there. Berubah itu enggak pernah enak kok. Salut banget malah karena aku tahu, memutuskan untuk resign justru berat. Selalu yakin, perintah suami itu yang terbaik. Menebar manfaat itu bisa kok dari rumah. Sini siniiii curhat sama akuuu

  • Alhamdulillah yah Mba, paksu selalu mendukung Mba untuk selalu upgrade diri.
    Saya juga pengen suatu saat nanti jadi ibu rumah tangga yang produktif seperti Mba Ajeng, sekarang mah masih harus semangat bekerja di ranah publik juga.
    Mau ibu yang bekerja di ranah domestik maupun publik udah punya hak dan kewajibannya masing-masing yaah…

    Eh iya, Mba Ajeng IIP Tangsel batch berapa? Saya juga ikut IIP looh, baru diwisuda matrikulasi batch 6 dari Bogor kemarin 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *