MENITIPKAN ANAK PADA AYAHNYA, KENAPA TIDAK?

Jangan pernah takut menitipkan anak pada ayahnya. Biarkan naluri keayahan mereka muncul, biarkan bonding itu menguat. Toh anak itu dibikin berdua, jaganya juga berdua kan?

– Madam A –

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara puncak Ulang Tahun ke-5 Bacpaker Jakarta dan Klub Buku. Event ini dihelat di daerah Kelapa Gading yang jauuuhhhhhhhh banget jaraknya dari rumah. Waktu perjalanan yang dibutuhkan pun bisa lebih dari dua jam. Jadilah saya berangkat pagi dan pulang malam. Lalu krucils bersama siapa? Sama Alien. Ya enggak mungkinlah, sama ayahnya dong.

Hah? Serius anak-anak sama ayahnya semua? Yang masih bayi juga?

Iya 

Emang bisa?

Bisa 

Tapi, ayahnya loh itu?

Emang kenapa kalau ayahnya? Justru karena itu ayahnya yang jaga saya enggak merasa khawatir dong.

Tapi kan itu ayahnya?

-___________________________________-

*menghela nafas dalam-dalam*

DITITIPIN ANAK, COBAAN BAGI SEORANG AYAH?

Yap, banyak teman yang cukup heran dan terkaget-kaget ketika saya memasang instatsory kondisi anak-anak yang ditinggal ayahnya. Sepertinya di lingkungan kita, ayah mengurus anak memang bukan sesuatu yang jamak terjadi ya? Karena itulah, saya bersyukur sekali punya suami yang mau dan bisa melakukan hal tersebut. 

Kok bisa? 

Mmmm… sejujurnya, untuk bisa sampai ke tahap ini kami berdua juga berproses kok. Percayalah. Saya juga pernah berada di posisi teman-teman, merasa khawatir plus enggak yakin kalau anak akan baik-baik saja bersama ayaperhnya. Sebaliknya, Yusuf juga pernah merasa bahwa dititipin anak adalah sebuah mimpi buruk. 

Baca Juga : http://ayunafamily.com/cerita-tentang-ranjang/

Agak aneh memang dengan kenyataan ini. Yusuf yang biasa begadang main dota atau PES atau nonton bola tiba-tiba saja menjadi ngantuk sekali kalau disuruh menemani bayi yang rewel minta perhatian sampai pagi. Yusuf yang setrroonggg kalau disuruh motoran kemana-mana, ealaah ngerasa pegel gendong anak lima menit saja. Dia yang pinter dan kreatif banget ngatur strategi kalau ngegame menjadi tak berdaya ngadepin anak yang nangis atau mogok makan. Senasib kan?

menitipkan anak - ayunafamily.com
Anak dan Ayah, source : pixabay

Pertama kali saya pergi meninggalkan anak bersama ayahnya adalah saat Yuan berusia empat bulan. Pada masa itu saya menderita baby blues syndrome, suka nangis dan merasa sedih tiba-tiba, stress berat. Yusuf kemudian memaksa saya untuk memerah ASI dan pergi, entah mau ke mana pokoknya pergi, keluar dari rumah. Lebih spesifik, dia menyarankan salon atau tempat pijat. Dengan berat hati, saya pergi dong, mematuhi perintah dia sebagai suami. Saya melipir ke arah tempat perawatan wajah dan tubuh, dipijat, dilulur dan diajakin ngobrol sama mbak-mbaknya yang ramai itu. Ketika pulang, badan terasa fresh dan segar sekali. 

Pada akhirnya, Baby blues syndrome itu kemudian menghilang pergi entah kemana …

Pengalaman kedua adalah saat saya kepengen olahraga aerobik. Yuan usia enam bulan kalau enggak salah. Rasa khawatir mulai berkurang walau agak sebel karena Yusuf njagain anak sambil main dota. Saya ngakak berat waktu dapat twit dari seorang teman. Teman setimnya Yusuf di Dota. Mereka terpaksa bekerja lebih keras untuk melindungi Yusuf, karena dia butuh waktu nyebokin Yuan yang pup. 

Yeah, lagi fokus-fokusnya nyerang benteng musuh tetiba dapet chat “Eh, aku nyebokin anakku dulu.” Aku kok enggak sanggup bayangin wajah teman-temannya Yusuf, gondok banget mesti. 

Pengalaman menitipkan anak ketiga kalinya  adalah waktu saya ikut acara baking class. Iya, di Tulungagung pun ada kelas-kelas semacam ini loh, keren ya? Nah, karena ini adalah momen belajar dan saya butuh fokus, jadilah Yuan lagi-lagi saya serahkan ke ayahnya. Kami makin terbiasa dengan hal ini.  Pokoknya saya tinggal menyiapkan makanan untuk dia dan Yuan saja. 

MANFAAT MENITIPKAN ANAK PADA AYAHNYA

Setelah tiga pengalaman yang saya tuliskan di atas, menitipkan anak kepada ayahnya ketika saya ada urusan menjadi hal yang normal bagi keluarga kami. Turns out, manfaatnya juga banyak loh, jangan salah. Ini nih diantaranya. 

Manfaat bagi Suami : 

  1. MEMBAHAGIAKAN ISTRI. Bapak-bapak yang budiman, boleh deh coba tuliskan apa saja pekerjaan istri anda mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dijamin list-nya akan panjaaanggg banget, lebih panjang dibanding sungai barito. Makannya, boleh lah sekali-sekali beri mereka waktu istirahat untuk sekedar nyalon atau dipijit atau belanja atau nonton bioskop sendiri. Dijamin habis ini mereka akan tambah cinta dan hormat sama kalian. 
  2. MEREKATKAN BONDING DENGAN ANAK. Kewajiban Ayah adalah bekerja, mencari nafkah untuk anak dan istri. Itulah sebabnya ayah perlu waktu yang betul-betul berkualitas dengan anak. Menurut pengalaman saya, kalau saya masih ada di rumah anak pasti nempelnya ya sama saya. Tapi, kalau saya enggak ada, mereka baru mau sama ayahnya. 
  3. BELAJAR MEMAHAMI BERATNYA PEKERJAAN ISTRI. Saya dan Yusuf menyebutnya bertukar sepatu. Inilah saat di mana dia belajar untuk mengurus anak mulai dari memandikan, membersihkan pup, memberi makan, membacakan buku, mengajak bermain sampai menidurkan. Itu kalau anaknya satu ya, kalau dua ya berarti bisa menyaksikan sendiri apa yang disebut sibling rivalry. Ketika semua anak tantrum pada saat yang bersamaan, di sini kesabaran seorang Ayah diuji. Kapok ra kowe, wkwk
  4. SEMAKIN MENCINTAI ISTRI. Iya, ini beneran terjadi loh. Ada saat di mana Yusuf tiba-tiba berterima kasih pada saya, karena mau melepaskan segala atribut kebesaran saya dan patuh pada permintaannya untuk stay di rumah, mendampinginya kemana-mana dalam suka dan duka. Ketika saya tinggal berdua dengan Yuan, dia ditangisin waktu ke kamar mandi, terpaksa jalan-jalan supaya Yuan mau makan. Dia paham banget kalau itu pekerjaan berat, dan membosankan. Dan segala pengorbanan saya itu, membuat cinta di hatinya makin mekar. Duh, malu eui ngomongnya. 
  5. MEMBAHAGIAKAN DIRI SENDIRI. Gini loh pak, kalau bapak ngemodalin istri buat olahraga, buat nyalon, buat pijet, buat perawatan wajah maka kalian akan mendapatkan istri yang cantiknya awet dan bahagia. Apalagi kalau kalian memberi ruang bagi istri untuk belajar, berkomunitas, produktif di masyarakat, wuiihh. Toh kalau istrinya smart dan bisa diajak ngobrol ngalor-ngidul, kalian juga yang seneng? Iya kan. 

Manfaat Bagi Istri :

  1. MELEPASKAN STRESS. Enggak perlu panjang lebar Madam jelaskan deh, ini mah udah jelas soalnya, ngahahahaha!
  2. BELAJAR PERCAYA PADA SUAMI. Percayalah, aku tahu kalau hal ini barangkali paling berat dilakukan. Percaya kalau Yusuf bisa gantiin popok anak dengan bersih. Percaya kalau dia bisa ngasih makan anak-anak. Percaya kalau dia mau bacain buku buat Yuan. Percaya kalau dia bisa ngasih ASIP ke Aylan. Intinya percaya kalau anak-anak akan baik-baik saja bersama ayahnya. 
  3. BELAJAR IKHLAS UNTUK BERKATA IT’S OK WHEN EVERYTHING’S NOT OK. Menyambung hal yang di atas, ikhlas kalau memang anak-anak makannya tidak sebanyak kalau bersama kita. Ikhlas kalau mereka tidak tidur siang saking asyiknya bermain. Ikhlas saat pulang dan membuka pintu, rumah berantakan kayak habis dikunjungi angin topan. Yang perlu kita terima adalah bahwa anak-anak mendapatkan special moment dengan ayahnya. 
  4. BELAJAR MEMAHAMI BERATNYA PEKERJAAN SUAMI. Kalau ini, mungkin pengalaman pribadi aja sih. Beberapa kali mendapatkan undangan yang mengharuskan saya pergi ke Jakarta, mengarungi dan merasakan betul macetnya jalanan. Begitu juga saat berada di event, melakukan hal-hal yang ditentukan, bekerja secara profesional. Ternyata, itu semua berat loh. Apalagi kalau berangkat pagi dan pulang sore dengan kereta yang padat, duh. Bersyukur banget enggak perlu melalui itu semua setiap hari. Pokoknya bersyukur.
  5. SEMAKIN MENCINTAI SUAMI. Ketika pulang ke rumah, menyaksikan bahwa anak-anak terurus dengan baik saat kita tak ada, apalagi yang bisa kita katakan selain terima kasih? Sudahlah suami bekerja mencari nafkah, eh masih mau ngurusin anak-anak juga. Apa enggak tambah cinta tuh? Tambah cinta ya, bukan tambah anak*eh

Manfaat Bagi Anak :

  1. MEMILIKI KEDEKATAN DENGAN AYAH DAN IBUNYA. Pasti jadi deket ke keduanya kan (walau 70% tetep emaknya)
  2. MENJADI ANAK YANG BAHAGIA. Karena ketularan kebahagiaan ibunya.
  3. MENJADI ANAK YANG CERIA. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak yang dekat dengan kedua orang tuanya lebih ceria dan lebih mudah bergaul di dalam masyarakat.
  4. MENDAPAT GAMBARAN TENTANG AYAH YANG BAIK. Anak itu belajar dari apa yang dilakukan oleh  orang tua-nya, bukan kata-kata. Anak lelaki terutama akan mendapatkan gambaran bahwa ternyata seorang Ayah bisa lho mengurus mereka. Hal ini akan terekam dalam memori mereka dan diduplikasi nantinya. Sedangkan bagi anak perempuan, apa yang diperbuat oleh ayah mereka akan menjadi standar bagi mereka memilih pendamping hidupnya nanti. Makin banyak hal-hal yang bisa dilakukan si ayah, makin tinggi standarnya. Ini tentu baik karena anak perempuan kita secara otomatis akan ter-set untuk tidak mudah klepek-klepek dirayu. Baginya, si Ayah akan tetap menjadi nomor satu.

MENGASUH ANAK, KARENA CINTA

Saya tahu, saya ngerti bahwa apa yang saya dan Yusuf lakukan tidak mungkin bisa diterapkan oleh semua pasangan. Nyatanya banyak sekali ayah-ayah diluar sana yang lebih memilih mengerjakan setumpuk laporan daripada mengurus anak. Lebih suka megang hape dibanding megang tangan anak, lebih seru main game daripada main sama anak. 

Why Why Why?

Banyak penyebabnya. Bisa jadi karena para ayah ini pun tidak memiliki kedekatan dengan ayah-ayah mereka. Mungkin juga karena pola asuh jaman dulu. Nah, ada baiknya  teman-teman bicarakan hal tersebut dengan pasangan masing-masing. Saya pun banyak berdiskusi dengan Yusuf perihal menitipkan anak kepadanya. 

menitipkan anak - ayunafamily.com
Family come first. Source : Pixabay

Sedikit pesan, saat menghadiri kajian dari Ustadz Bendri Jaiyusrahman, beliau berkata bahwa hendaknya para suami itu bersikap baik dan membahagiakan istrinya. Kenapa? Karena pada si istri inilah mereka akan menyerahkan sebagian tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan. Suami yang pelit, baik dalam hal finansial, tenaga maupun waktu pada istrinya, besar kemungkinan rumah tangganya tidak akan bahagia. 

Istri kan Ratu Rumah Tangga. Kebayang dong suasana rumah akan seperti apa kalau sang Ratu saja tidak bahagia? 

Sedikit tips dan trik untuk menitipkan anak pada ayahnya. Kita harus siapkan perlatan perang seperti ransum dan mainan kesukaan anak-anak sambil menginformasikan ke ayahnya. Jangan pernah, jangan pernah mengkritik cara mengasuh si ayah ketika kita menitipkan anak, jangan. Ini akan mengahancurkan rasa percaya diri dan marwah mereka. Kalau nanti mereka enggak mau lagi menerima ketika kita mau menitipkan anak gimana coba? 

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mencobanya secara perlahan-lahan. Misal ditinggal sejam ke pasar, lalu lain kali sejam setengah, terus meningkat jadi tiga jam, empat jam dan bisa seharian deh. Apapun itu, pokoknya lakukan dengan cinta dan kasih sayang. Para ayah perlu menyadari dan mengubah mindset bahwa seharian bersama anak adalah suatu hal yang menyenangkan, bukan menakutkan.

Eh tapi, kenapa rasanya istilah menitipkan anak terasa kurang pas ya? Lha wong itu kan anak kita dan suami, bukan anak orang lain. Hahaha. Duh, kok ya baru sadar sekarang. Anyway, kalau teman-teman sendiri gimana pengalaman menitipkan anak kepada ayahnya? Sharing yuks!

(Visited 8 times, 1 visits today)

2 Replies to “MENITIPKAN ANAK PADA AYAHNYA, KENAPA TIDAK?”

  1. dulu pernah beberapa kali nitipin anak ke suami karena ada event dan tugas kantor. suamiku rada bete. hihi. tapi kalau pagi biasanya malah dia yang ngurusin anak karena aku berangkat kerja duluan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *