MEDIA SOSIAL JAMAN NOW, RACUN HATI ATAU PENYEMANGAT DIRI?

Hal paling mengerikan namun seringkali tidak di sadari adalah fakta bahwa banyak sekali orang membiarkan media sosial untuk mengatur hidupnya

– Madam A –

  

Genks, kenal sama Angela Lee? Saya sih enggak. Enggak kenal, enggak tahu, dan enggak pernah dengar. Sampai berita bahwa dia terjarat kasus penipuan dan pencucian uang. Tahu jumlah hutangnya berapa? 25 MILYAR! 

Bayangkan kalau itu semua dipake buat beli martabak. Entah dapet berapa juta loyang. 

Saat baca beritanya, sambil garuk-garuk kepala yang sesungguhnya enggak gatel saya jadi mikir,

“Oh maaiii, sepenting itukah untuk terlihat mevvah, bahagia dan cantik paripurna di Instagram?”

Ya sahabat qaribque. 

Faktanya demikian

AWKARIN & RACUN MEDIA SOSIAL

Belum lama ini jagad media sosial dihebohkan oleh postingan Awkarin alias Karin Novilda yang menyatakan untuk mundur dari dunia instagram. Awkarin, yang namanya besar dan berpenghasilan sampai ratusan juta mundur dari instagram. I was like, really?

Belum selesai dengan keriuhan tersebut, gadis itu kembali mengunggah video di kanal youtube-nya yang berjudul “I QUIT INSTAGRAM”. Terakhir sih udah empat juta orang penontonnya. 

Baca Juga : Ngeblog & Perjuangan Melawan Stereotype Ibu Rumah Tangga

Saya sendiri enggak nonton sampai akhir sih, panjang banget soale. Saya skip-skip, yang penting dapet poin-poinnya. Jadi, si Karin ini kayaknya udah lelah bermain media sosial, terutama instagram. 

Platform ini barangkali sudah begitu meracuni kehidupannya. Semua foto diposting, setiap kegiatan masuk instastory hanya demi mencapai yang namanya engagement. Ini belum ditambah perasaan tidak puas saat jumlah like yang di dapat tidak sebanyak yang diharapkan. 

She didn’t feel happy just because the number of likes. Berikutnya dia akan merasa pusing dan mulai berpikir, “Apa yang salah dari foto ini? Apa yang kurang? Apa lagi yang harus dilakukan?”

media sosial - ayunafamily.com
source : google 

Saya percaya, bahwa hal ini tidak hanya terjadi pada seorang Karin Novilda. Bisa jadi saya, dan kamu yang membaca tulisan ini juga termasuk di dalamnya. 

BERKAH DARI HANDPHONE RUSAK

Beberapa waktu sebelum berita tentang Awkarain booming, Handphone saya rusak. Remuk seremuk-remuknya gegara dibanting pake kursi sama Aylan. Layarnya hancur dan enggak bisa nyala. Akibatnya, selama beberapa hari saya tidak menyalakan media sosial sama sekali. 

Kalian tahu apa yang saya rasakan?

Bebas! 

Saya merasakan hidup yang sebenarnya. Saya bisa fokus di rumah ngurusin anak-anak tanpa terganggu handphone sedikit-sedikit. Saya bisa membaca buku lebih banyak. Saya tidak tergoda untuk bergosip. Dan yang paling penting, enggak lapar mata saat lihat gamis-gamis cantik bersliweran di depan mata. HAHAHAHA

Sejujurnya, pengakuan Karin ini membuat saya malu karena sempat denial bahwa saya merasakan hal yang sama. Saya sering merasa iri dengan mereka yang bisa jalan-jalan ke luar negeri, makan di restoran fancy, memakai baju mahal dengan make up paripurna sehingga tampak cantik sekali. 

media sosial- ayunafamily.com
source : google

Saya jadi kufur nikmat. Saya jadi banyak mengeluh dengan hidup yang saya jalani saat ini. Kenapa saya enggak bisa kayak mereka yang kayaknya hidupnya tuh hura-hura melulu. Mereka bisa melakukan hal ini dan hal itu, sedangkan saya disini terikat dengan tiga anak yang masya Allah aktifnya alhamdulillah.

Kenapa wajahku enggak bisa semulus Tasya Farasya? Kenapa badanku enggak selangsing Kate Middleton yang udah ngelahirin tiga anak tapi tetep setipis papan? Kenapa enggak bisa selucu dan setenar Bude Sumiyati? *halah*

Those pictures of people’s life hurt me like hell. 

Makannya enggak salah kalau jaman sekarang ada yang bilang, bisa offline dari media sosial adalah sebuah kemewahan.

JADI, GIMANA CARA MEMAKSIMALKAN MEDIA SOSIAL YANG BENAR ?

Yah, ada beberapa hal yang saya lakukan agar media sosial tidak terlalu membuat saya baper dan tetap happy living my own lyfe. Bagaimanapun, sebagai seorang blogger, mau enggak mau saya tetap harus keep in touch sama media sosial je. 

  1. Offline. Ini tips paling ampuh ya. Enggak usah buka apapun, cukup buka baju suami dan baju sendiri dan saling seret ke kasur sebagai pengalih perhatian. *eh
  2. Enggak usah follow artis. Satu-satunya artis yang aku follow adalah Maia Estianty. Itupun entah karena kesambet apa. 
  3. Enggak usah follow pedagang gamis. Soalnya bisa bikin dompet jebol
  4. Follow mereka yang bagi kamu postingannya memberi inspirasi dan insight positif
  5. Mute atau block akun-akun yang suka menebar kebencian dan bikin panas feed. 

Percayalah, lebih baik kamu menjadi kuper daripada diperbudak yang namanya media sosial. Ohohoho

(Visited 24 times, 1 visits today)
tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

3 Replies to “MEDIA SOSIAL JAMAN NOW, RACUN HATI ATAU PENYEMANGAT DIRI?”

  1. Walah mba. Aku setuju. Pernah diingatkan teman juga terlalj banyak liat postingan teman bisa bikin jauh dari agama. Merasa malang sendiri. Iri. Hasad. Ga bersyukur intinya. Mana juga jadi males2an solat ngaji dkk. Jd akhirnya sampai uninstall ig fb dkk.

  2. Saya punya IG, FB, dan twitter, senang update status terutama status jualan hihihi…

    Tapi emang follow penjual gamis itu ratjun berbahaya hahaha… saya setuju banget sama yang satu itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *