JUDGING ALA NETIZEN INDONESIA

Barusan ini saya mengakses media sosial Facebook dan menemukan postingan sesembak yang disertai dua buah video. Postingan tersebut kurang lebih memiliki caption seperti ini

Menurut cerita polos anak ganteng ini,dia kena marah ibunya hanya gara2 salah melulu ngerjain LKS sehingga ibunya jengkel lalu ibunya dg sengaja memanaskan setrika utk melukai bagian paha anak ganteng ini.
Tp meskipun kesakitan dia tetap berangkat sekolah.Kendati begitu anak ini ijin utk tdk mengikuti upacara,ketika ditanya oleh pihak sekolah alasan anak ini tdk mau mengikuti upacara,disitulah permulaan terbongkarnya tindak kekerasan ibunya trhadap anak ini.krn setelah ditanya lebih detail,anak ini mengaku kesakitan sembari menunjukan luka setrika td.Tidak sampai disitu,pihak sekolah juga menemukan banyak luka disekujur tubuhnya.
Krn merasa sudah diluar batas kewajaran,barulah pihak sekolah melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang.

Ijinkan eikeuh utk berkomentar yaa,mohon maaf apabila ada yg tersinggung??? :

ETA NU JADI INDUNG NA SUGAN GELO NYA,BOGA KELAINAN JIWA ATAWA KUMAHA..KOPLOK BANGET TEGA NYETRIKA ANAK SAKITU LEUTIK KENEH,TEU PIRA SALAH NGERJAKEUN LKS ❓
EMANGNA SIA BAHEULA LANGSUNG PINTER KITU,TARA SALAH..PAN MUN SALAH TINGGAL BERE NYAHO SUPAYA BISAEUN LAIN MAH DI SIKSA ⁉️

Jujur saya enggak sanggup untuk melihat videonya, takut mewek-mewek. Hanya saja saya tercengang membaca komentar-komentar netizen Indonesia yang maha hebat, maha benar dan maha tak bisa disalahkan.

Eta Ibuna Jurig! (Itu ibunya setan)

Ouch, komentarnya sungguh…nganu sekali.

Ehem, wahai kalian emak-emak. Saya tahu yang dilakukan si ibu itu sungguh kejam, jahat dan mengerikan. Tapi tapi tapi, apakah dengan mengatai seperti itu artinya kita ini suci?

Yakin?

Saya punya tiga orang anak, alhamdulillah mereka semua normal dan sehat. Tak jarang ada kondisi dimana salah satu atau bahkan ketiganya meminta perhatian yang lebih. Entah karena mereka lapar, pup di celana atau sekedar ingin ditemani bermain. Pada saat yang sama saya sedang berkutat dengan…katakanlah tugas ODOP. Mesti pada tahu semualah kalo menulis itu kita membutuhkan hati serta suasana yang tenang. Ketika anak-anak rewel dan tugas bejibun tak jarang saya merasa bahwa mereka itu berisik dan mengganggu. Padahal saya ibunya sendiri loh, dan mereka anak-anak saya.

Apakah itu artinya saya tidak sayang kepada mereka? Oh tidak, saya sayang dan cinta banget sama mereka. Tapi memang terkadang kondisi yang tidak pas membuat kita tidak sanggup berpikir jernih sehingga terjadilah hal yang kita sebut “kehilafan-kekhilafan” begitu saja.

Sekuat apapun saya berjuang menjadi malaikat, rasanya tetap ada sisi yang lemah. Kalah oleh nafsu ingin memarahi anak.

Coba deh saya tanya, adakah ibu disini yang betul-betul hampir tidak pernah seumur hidupnya?

Belum lagi waktu saya scroll ke atas komen-komennya banyak yang bertanya si ayah kemana. Duh alahiyunggg, muncul lagi kasus dimana anak menjadi korban karena ibu yang stress ditinggal oleh suaminya.

Ini kembali menjadi catatan bagi saya dan suami, bahwa ungkapan “Our child, they do not need a perfect parent. They need a happy parent” itu benar adanya. Seberat apapun anak menguji kita, ketika ayah/suami memberikan kontribusi nyata, saya rasa enggak mungkin deh ibunya bakal stress tingkat tinggi.

Saya selalu merasa sedih, kasihan sama mereka, para istri yang tidak memiliki tempat sampah. Merasa penat, bosan dan kesal namun tidak tahu harus mengungkapkannya ke siapa. Karena suaminya tidak ada. Stress yang menumpuk lama-lama menimbulkan depresi. Lalu si ibu yang depresi ini “diganggu” oleh anaknya yang bertanya tentang suatu soal LKS. Hasilnya kita sudah tahu, anak menjadi korban.

Ya allah…betapa sedihnya.

Saya bersimpati pada nasib si anak, tapi mencoba berhati-hati untuk memberikan komentar (padahal tulisan ini ya komentar).

Rasa-rasanya fungsi jempol dan lidah sudah mulai tidak bisa dibedakan lagi. Menulis komentar yang menyakitkan hati tanpa mengetahui fakta sebenarnya kok ya gampang saja. Padahal tulisan kita sifatnya abadi loh. Tulisanmu mencerminkan kepribadianmu.

Kalo kita seneng banget nulis yang isinya kebun binatang atau hardikan kasar walaupun foto yang kita pasang adalah pose tercantik dan termanis, rasanya kok aneh ya.

Namanya juga media sosial, mungkin kita perlu banyak-banyak belajar komedi atau mengalami tragedi yang sama supaya lebih bijak dalam berpendapat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *