Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Hidup, mati, sakit, sehat dan yang pasti jodoh sesungguhnya semua hal tersebut sudah ditulis semuanya oleh Allah. Saya meyakini hal tersebut meskipun sering heran kok ya bisa gedebuk love sama orang yang saat ini jadi suami saya.

Baru tadi malam kami bertemu dan mengobrol bersama seorang ibu yang merupakan konsultan pernikahan dan anak. Saya mengalami kesulitan besar dalam hal manajemen emosi. Suatu hal yang cukup menganggu tugas saya sebagai perempuan, istri serta ibu. Iya betul, disini saya tidak akan malu mengakui bahwa saya membutuhkan bantuan. Orang-orang diluar banyak yang melihat bahwa saya adalah ibu yang hebat, wonderful, bahagia dengan suami dan tiga orang anak.

Alhamdulillah, namun sebagai manusia biasa ada saat dimana saya tetap membutuhkan bantuan. Salah satu manfaat tinggal di kota besar adalah, saya bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan dengan cukup mudah.

Dalam diskusi pagi-siang saya berdiskusi banyak tentang komunikasi dengan anak. Akan sulit bagi saya memanajemen emosi karena saya tidak pernah selesai dengan masa lalu atau innerchild. Hal ini akan saya bahas kapan-kapan saja ya, karena pembahasan pasutri lebih menarik untuk dibagi.

Seperti yang saya tulis di atas, jodoh kita telah tertulis di lauh mahfudz. Saya yang periang, cerewet dan tidak bisa diam ini kok ya bisa-bisanya menjatuhkan hati sama makhluk ciptaan Allah yang pendiam, datar dan nggak banyak bicara.

Sejak pertama kali melihat, bu fitri mengatakan bahwa saya adalah orang yang berkepribadian sanguin sedangkan yusuf plegmatis. Berdasarkan ilmu psikologi, kami adalah pasangan yang cocok. Bagi orang plegmatis, orang dengan tipe sanguin ini sangat menarik karena bisa menyeret mereka untuk lebih banyak tertawa dan gembira. Sebaliknya, orang sanguin merasa tipe plegmatis itu menggoda karena bisa meredam perasaan meluap-luap mereka lebih baik.

Yusuf ini tipenya tidak bisa ditebak. Tau-tau datang ke rumah, tau-tau ngajak nikah. Saya masih ingat saat teman-temannya kaget tahu bahwa yusuf sudah melamar dam kami akan segera maju ke pelaminan. Maklum, saat itu seluruh dunia sudah tau yusud sudah punya pasangan yang tak bisa dipisahkan : game.

Hal ini sempat menjadi lelucon boeboooo. Nggak cuma teman, bahkan kakak saya sendiri pernah bilang bahwa saat malam pertama mereka akan melemparkan satu set PS lengkap dengan gamenya ke kamar hotel kami sebagai taruhan yusuf lebih tertarik main game atau main congklak sama saya. Wkwkwkwkw

Duh gusti, keterlaluan betul mereka udah bikin saya deg2an. Hahahaha

Walaupun saat ini kami sudah hampi enam tahun menikah (insya allah sampai berkumpul lagi di jannahNya) saya merasa tetap seperti dulu saat pertama kali bertemu dengannya. Walaupun saat ini rasanya semakin lebih. Saya pernah tanya sama dia

“Kamu masih cinta to sama aku?”

“Enggak”

Jantung langsung berhenti berdetak, mata kerasa panas, air mata siap tumpah

“Aku mah makin cinta banget, enggak cuman cinta” lanjut dia

Wakakakakak, nyebelin banget kan jawabannya?

Oke, kembali ke masa sekarang.
Bu fitri bertanya apa yang saya rasakan kepada yusuf, lalu meluncurlah setiap kata demi kata layaknya air bah. Tidak perlu dibahas ya, yang akan saya tulis adalah apa yang diucapkan bu fitri.

Sering sekali walaupun sudah menikah dalam waktu yang lama, suami istri masih tidak saling memahami. Seperti saya yang tidak memahami kenapa suami saya ini ajaib banget tingkahnya. Setiap kali saya minta A dia njelimet dulu ke B. Kalo domintain tolong istri mesti klemat-klemet. Belum lagi cueknya ampun-ampunan. Bener-bener bikin senewen dan gregetan. Entah gimana kok yo walaupun saya sering kesel tetep aja bisa jadi tiga anak. *Nyengir malu-malu

“Ajeng, kamu harus memahami memang begitulah orang dengan kepribadian plegmatis” bu fitri membuka pembicaraan

Saya tercenung

“Orang plegmatis itu ajeng, datar..diem,tenang. Dia tidak suka disuruh-suruh oleh orang lain, kalau bicara jarang mau melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya, nggak banyak ngomong”

Yeah, saya lupa menambahkan bagaimana datarnya wajah suami saya itu. Mau marah, mau seneng, mau sedih wajahnya ya tetep begitu itu, nggak berubah.

“Kelihatannya dia cuek tapi sebenarnya dia mendengarkan. Dia tidak memberi respon tapi sebenernya suami kamu itu memahami apa yang kamu bicarakan ajeng”

Saya melirik ke arah suami yang tetiba terlihat senyum-senyum sendiri, sebel.

“Kamu seharusnya bersyukur karena dia itu tempat yang cocok untuk buang sampah, dalam artian kamu mau ngomong sebanyak apapun dia akan mendengarkan”

“Kalian itu ibarat tangga. Ajeng berada di puncak teratas sedangkan yusuf di dasar. Kalian butuh kompromi, ajeng perlu turun sebaliknya yusuf harus mau naik. Ajeng tidak perlu selalu marah atau kesal bila yusuf tidak banyak merespon atau ngomong karena kepribadiannya memang seperti itu”

“Tapi yusuf juga perlu memahami, bahwa kalau ajeng turun tangga terlalu banyak dia akan menghilangkan kepribadian dirinya sendiri. Dia akan memaksakan diri menjadi seseorang yang bukan dirinya. Akan berbahaya karena lama-kelamaan ajeng akan merasa lelah ketika tidak bisa menjadi diri sendiri saat menghadapi kamu. Semakin gawat kalau ajeng akhirnya betul-betul capek dan berhenti mencoba memahami kamu”

“Seseorang itu butuh minimal empat pelukan untuk hidup, minimal. Kapan terakhir kali kamu peluk istri kamu?” Tanya bu fitri pada yusuf.

Saya dan yusuf berpandangan, mengingat-ingat kapan ya terakhir kali kami berpelukan?

“Tau nggak kalau ucapan ‘mama capek ya hari ini?’ itu bisa menurunkan sampai 50% kelelahan seorang istri?”

“Coba deh ajeng dan yusuf ini sering-sering nonton stand up comedy atau WIB(Waktu Indonesia Bercanda)-nya cak lontong biar kalian bisa ketawa bareng. Biar yusuf juga nggak datar-datar amat” kata bu fitri memberikan saran

Saya dan yusuf tertawa.

Acara malam itu ditutup dengan perbincangan hangat, tugas saya untuk membuat catatan level emosi serta pesan untukenghubungi beliau jika saya berada pada titik tidak tahu harus bagaimana.
Salah satu pesan yang membekas adalah, orang-orang yang selesai dengan masa lalunya biasanya akan lebih mudah untuk move on. Dan suami adalah orang yang saya butuhkan untuk membantu menyembuhkan innerchild saya.

Saat pillowtalk kami mengobrol sebentar tentang bagaimana yuan serta luna sudah sangat terlihat kepribadiannya. Mereka berdua sanguinis, turunan saya. Sedangkan untuk aylan kami masih belum tahu, bisa jadi dia plegmatis seperti ayahnya. Maklum, dari ketiga anak saya hanya aylan yang golongan darahnya ngikut ayahe ??

Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih banyak tentang tipe kepribadian sanguinis, korelis, melankolis dan plegamtis ini silahkan googling ya.

Alhamdulillah, sampai detik ini saya bersyukur punya suami plegmatis. Biarlah dia bermuka datar sama orang-orang diluar sana, karena senyum dan ceria-nya spesial untuk kami, istri dan anak-anaknya, hahaha.

Foto dibawah ini diambil saat wisuda sarjana suami. Saya hamil Luna 32 minggu waktu itu. Kelihatan kan, yang wisuda siapa yang wajahnya bahagia banget siapa ????

istri sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *