CINTA TANPA KATA PART 6

Aufar melongok, memeriksa dengan hati-hati keadaan dari arah samping gerbang sekolahnya. Beberapa hari ini dia merasa dikuntit oleh Rania. Baru juga berjalan dengan tenang, tau-tau ada tepukan di bahunya, Rania. Gadis itu selalu mengajaknya mengobrol namun Aufar selalu mengabaikannya. A

Dia tidak merasa nyaman dengan hal itu. Karena itu, dia memutuskan untuk menunda waktu pulang hari ini. Setelah dirasa aman, Aufar mengalungkan tas ke salah satu bahunya dan mulai berjalan.

“Aufaaaaarrrrrr!!!” Terdengar suara cempreng memanggilnya.

Aduh, Aufar mengenali suara itu, dia tidak mau berhenti dan langsung mempercepat langkahnya. Rania yang melihatnya di belakang langsung berlari tak kalah cepat, gadis itu meraih lengan Aufar, memaksanya berhenti.

Aufar menggeram. Namun tak urung, dia menghentikan langkahnya.

Gadis itu mengatur nafas, tangan kirinya memegang lengan Aufar erat, tak mengijinkannya pergi. Setelah nafasnya tidak lagi ngos-ngosan, dengan tangan kanannya yang bebas, Rania menggerakkan jari-jarinya.

Aufar tampak sangat terkejut “Kamu bisa bahasa isyarat?” Jawab Aufar reflek, dengan bahasa isyarat yang sama.

Rania tersenyum lebar, setelah sekian lama baru kali ini lelaki itu memberi respon. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya. Harapan muncul di hatinya, perasaannya melambung begitu tinggi. Kerja kerasnya untuk mempelajari bahasa isyarat terbayar. 

“Sedikit, aku sedang belajar” jawabnya mencoba rendah hati.  Rania kembali menggerakkan jari-jarinya. Dia berharap bahasa isyarat yang digunakannya tidak salah.

“Kamu?” Aufar menunjuk Rania dengan telunjuknya. “Belajar?”

Rania mengangguk, kembali membentuk pola dengan jari-jarinya “Ya, aku belajar Aufar. Aku belajar karena ingin berteman denganmu” Gadis itu balas menunjuk Aufar.

Untuk sesaat, tak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Aufar masih tercengang, kaget dengan apa yang telah diperbuat Rania kali ini. Belajar bahasa isyarat? Ya Tuhan. Pikirannya masih bekecamuk ketika  dengan pelan Aufar menarik tangan Rania yang mengait lengannya.

“Eh, maaf” katanya, tersipu malu

Aufar memandang gadis dengan pipi merona di hadapannya. Dia menghela nafas. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?” Tanyanya bingung dalam hati. Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali tidak tahu harus berkata apa.

Rania  terus mengamatinya, tersenyum kecil. Pandangannya jatuh ke arah buku-buku yang berada dalam genggaman tangan kiri Aufar.

“Kamu…mau ujian ya?” Tanyanya, kali ini tanpa bahasa isyarat.

Aufar mengangguk. Karena tak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi, dia memutar badannya dan kembali berjalan seperti biasa. Rania dengan cepat langsung mengambil posisi ikut berjalan di sampingnya, kembali mengoceh, bercerita tentang kesehariannya.

Tiba-tiba saja langkah Rania melambat, “Aufar, aku besok libur…kurang lebih tiga hari karena ruangan akan dipakai kakak-kakak kelas tiga untuk latihan ujian. Aku enggak masuk sekolah dan besok enggak akan bisa jalan bareng pas pulang kayak gini lagi” katanya sedih.

Aufar hanya menanggapi dengan diam, ekor matanya melirik  raut wajah Rania yang tampak sendu. Apakah gadis ini sedih karena selama beberapa hari ke depan tidak bisa bertemu dengannya lagi?

“Kamu juga kelas tiga kan? Mau ujian juga, baik-baik ya. Kamu harus semangat, aku tahu kamu pintar.”

Rania melihat sudut-sudut bibir Aufar sedikit terangkat, dia yakin kalau Aufar tadi tersenyum walau sekarang sudah kembali ke raut wajahnya yang semula. Hanya respon sekecil itu saja sudah membuat dirinya bahagia.

“Aufar, aku…aku akan menyebut nama kamu dalam doaku. Semoga kamu dimudahkan untuk ujian besok” katanya tulus sambil menatap Aufar dengan senyum termanisnya.

Tak beberapa lama kemudian, gadis itu menoleh ketika angkot yang menjadi langganannya sudah datang menghampiri. Dengan cekatan dia naik dan merapikan roknya. Dilihatnya dari celah jendela Aufar yang masih berdiri mematung, menatap angkot yang dinaikinya. Dengan berani Rania melambaikan tangan.

Entah ada malaikat lewat atau bagaimana, Rania melihat keajaiban. Lengan Aufar terangkat, dilihatnya Aufar sedang menggerakan jemari sambil terus menatapnya yang berjalan makin jauh.

“Terima kasih” kata Rania dengan bisikan, mengartikan bahasa isyarat dari Aufar. Hatinya melambung lagi, malam ini bisa dipastikan kalau mimpinya pasti indah.

 

#onedayonepost #cinta #bisu #unconditionallove #fiksi #cerbung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *