RANJANG & SEBUAH KISAH DI BALIKNYA

Coba tebak, ranjang apa yang paling nyaman? Ranjang pernikahan dong. Soalnya yang bikin sedih itu ranjang kematian, hiks…

– Madam A –

“Kapan terakhir kali kita tidur bareng?”

Sebuah pertanyaan terlontar dari Yusuf, suami ter-uwuwuwu=nya Madam. Eh tapi jangan mikir yang enggak-enggak dulu ya. Maksud dari tidur yang kami dia tanyakan  adalah sebuah aktivitas istirahat, bukan olahraga atau pertandingan beronde-ronde yang menguras sesuatu, bukan.

Oke, back to topic. Saya yakin teman-teman  mungkin akan merasa bingung, kenapa kok suami saya bertanya seperti itu.  Aneh banget. Emang Madam dan suami selama ini pisah ranjang ya ?

Kalian mau tahu aja atau mau tahu banget?

Sebagai suami istri tidur bareng adalah sesuatu yang wajar, toh perbuatan itu tidak melanggar aturan agama, Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila dan Garis-garis Besar Haluan Negara ini. But yes,  saya kalian tidak salah baca, doi memang bertanya tentang kapan terakhir kami tidur bareng, I mean bobo di ranjang yang sama dan sebelahan.

Baca juga : http://ayunafamily.com/cemburu-cara-terbaik-menyampaikannya

Saya termenung dan mulai mikir, iya ya kapan terakhir kali saya tidur sambil ndusel-ndusel keteknya dia? Udah lama banget kayaknya. Iya, selama beberapa bulan terakhir ini kami memang tidak tidur di ranjang yang sama. Tenang, alhamdulillah enggak ada masalah rumah tangga yang bikin geger keluarga kami kok.

Jadi begini kisahnya, ranjang paling besar di rumah saya itu ukurannya 160x200cm. Kalau dipake buat tidur dua orang dewasa, 1 anak dan 1 bayi masih cukup nyamanlah. Lalu bagaimana kalau si ibu ini tiba-tiba dihamilin lagi dan kedua anak yang lain ketika tidur rungsing banget bahkan suka banget menjajah wilayah orang dengan seenaknya? Sabar ya bu, orang sabar pipinya lebar *eh

Berkali-kali saya terbangun untuk memindahkan kaki anak-anak yang nyasar ke kepala atau perut saya. Berkali-kali juga mereka, dengan kekuatan entah darimana bisa mendorong saya sampai ke pojokan. Bahkan sangat sulit bagi saya untuk tidur telentang karena anak-anak nempel banget bobonya. Jadilah ketika bangun saya justru merasa capek, letih dan pegel. Padahal bumil kan butuh bobo yang berkualitas gitu loh. 

Demi meraih cita-cita tidur yang hakiki, saya dan Yusuf akhirnya sepakat untuk membeli kasur tambahan model sorong. Itu loh, yang kasurnya atas bawah. Kebetulan kamar saya cukup besar sehingga dua kasur bisa muat di dalamnya. Agar lebih nyaman, saya dan anak-anak tidur di atas, sedangkan dia mengalah untuk di bawah. Kadang si abang atau si teteh mau  menemani ayahnya di bawah, walaupun kalau tengah malam bangun mereka tetap pindah ke atas sih. Sedangkan saya menemani Yusuf kalau sedang ber”tugas” saja.

Saya yakin teman-teman pasti bertanya-tanya, kenapa si Abang tidak dilatih tidur sendiri di kamar yang lain? Jawabannya sudah pernah, dia excited banget malah. Tapiiiiii, setelah dua malam berani tidur sendiri dia berubah menjadi anak yang penakut. Usut punya usut ternyata dia ditakut-takutin oleh anak tetangga. Jujur ini masalah banget karena si Abang jadi trauma tingkat tinggi. Dia yang dulunya pemberani jadi sering ngompol di celana saking takutnya untuk pergi ke kamar mandi sendiri.  Next 
time kalau ada kemauan saya coba tulis deh. Panjang ceritanya. 

Alasan lain kenapa saya kok enggak bobo bareng Yusuf sebenernya ada banyak. Pertama, tugas saya ngelonin si teteh dan selalu berakhir ketiduran di sebelahnya. Kedua,  sebagai ibu hamil yang perutnya makin gede dan gerakannya makin terbatas, saya males banget buat bangun kalau udah mapan di kasur. Padahal ya cuma tinggal berguling ke bawah aja.

ranjang - ayunafamily.com
nasipp

Ketiga, tidur kasur yang luas itu tidak bisa dipungkiri rasanya lebih nikmat.  Gimana ya,saat itu kenyamanan terasa lebih prioritas dibanding keintiman. Sahabat bumilque pasti paham deh. Keempat, sebetulnya setelah Aylan lahir saya sempat mencoba tidur berdua di kasur bawah. Tapiiii, ketika lagi enak-enak ngimpi makan mendoan lalu terbangun karena  Aylan nangis itu rasanya… Kalau sekasur sih kan tinggal sodorin ASI, karena beda lokasi jadilah terpaksa saya  bangun dan menata posisi lagi. Capek. Apalagi saya termasuk ke dalam golongan manusia yang susah tidur tapi gampang terbangun. Kan kesel banget tuh. Akhirnya terpaksa saya ninggalin Yusuf sendirian, lagi. Begitu terus sampai harga matabak enggak turun-turun.

Baca juga : http://ayunafamily.com/makanan-afrodisiak-untuk-pasangan/

Ternyata, pola tidur seperti ini berimbas cukup banyak pada kehidupan percintaan kami.  Saya baru ngeh dengan hal ini ketika merasa bahwa hubungan kami berdua berubah jadi sedingin es batu yang ada di kutub utara. Belum lagi komunikasi kami sedang blangsak-blangsaknya karena dia lembur dan pulang malam terus. Saya yang capek karena harus menghandle anak sampai malam juga kehabisan tenaga untuk ngajak ngobrol saat dia sampai di rumah. Saya sering membiarkan dia makan malam sendiri, dia juga selalu membiarkan saya tidur kembali.

Perasaan terdalam Yusuf saat ditinggal tidur

Sekilas apa yang kami berdua lakukan terkesan dewasa ya. Tapi ketika hal tersebut terus-menerus dilakukan saya tetap merasa ada sesuatu yang hilang. Saya jadi enggak peduli dengan penampilan, enggak excited menyambut dia pulang. Kalau dulu suka bergenit-genit sama suami, sekarang enggak. Yusuf juga jadi sangat jarang tanya-tanya tentang aktivitas saya dan anak-anak. 

Kami kehilangan momen pilow talk yang biasa disertai elusan, canda, tawa dan komentar-komentar sok tahu. Padahal elusan dan obrolan ringan bersama Yusuf adalah sesuatu yang saya butuhkan setelah bergerilya dengan kesibukan harian. Yah, sentuhan memang salah satu cara untuk mengkomunikasikan rasa cinta sih, ada penelitiannya juga. 

Mungkin, mungkin karena itulah saya dan Yusuf jadi tidak well connected. Untuk beberapa waktu, kami tidak sehati, sepaham dan sepemikiran. Apapun yang dia lakukan terlihat salah di mata saya, begitu pula sebaliknya. Walau Yusuf cenderung diam, saya tetap bisa merasakannya.

Yep, entah ke mana perginya chemistry,  reaksi kimia yang ada di antara kami itu?

Saya jadi sering bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang duluan  berhenti untuk peduli? Bertahun-tahun mengenal Yusuf, saya tahu dia bukan orang yang dingin. Dia hanya cuek dan sedikit tidak peka. Tapi dia juga bisa  hangat dan romantis, ketika sedang ingin. Sayang banget momen kayak gini enggak sering, wkwk. Sebaliknya, saya yang selalu ribut kayak badai ini juga bisa jadi pendiam loh, jangan salah.

Pada akhirnya, saya memahami bekunya hubungan kami adalah karena kesalahan kami berdua

Kami berhenti untuk saling peduli, itu problem utamanya. Kami berhenti untuk tidur di ranjang yang sama, itu pemicunya. Duh, ternyata dalam kehidupan rumah tangga hal yang sepele itu enggak bisa dianggap remeh ya?

Kami berdiskusi panjang lebar tentang hal ini dan sepakat untuk mengubah pengaturan tidur. Saya dan Yusuf wajib tidur di ranjang yang sama, entah di atas atau di bawah. Saya harus berusaha untuk menemani dia makan malam. Bila saya betul-betul mengantuk maka Yusuf akan makan di kamar, di dekat saya supaya tetap bisa mengobrol.

Simpel banget kan, tapi berefek banyak loh karena faktanya perlahan-lahan es di antara kami berdua mencair.  Kami kembali sering berkirim pesan enggak penting, sekedar menananyakan sudah makan atau belum. Sering juga menanyakan pendapat dia tentang daster mana yang tampak cantik bila dipakai oleh saya, kemudian menyuruhnya untuk bayar,wkwk. Candaan, godaan dan rayuan kembali kami lontarkan. Tidak penting siapa duluan yang memulai karena saya tahu pasti, marriage takes two to tanggo. 

Dari kejadian ini saya jadi belajar bahwa ranjang adalah benda mati yang punya posisi  penting dalam hubungan suami-istri. Di atasnya, berbagai aktivitas keluarga terjadi. Mulai dari proses membuat anak, hadirnya anak, bertengkar, baikan, semuanya wis bahagia sampai kesedihan.

Eh,tidak hanya ranjang, kamar juga sih ya. Kalau dalam Islam bahkan sampai ada aturan tentang bagaimana orang tua, anak lelaki dan perempuan sebaiknya tidur terpisah. Lebih lanjut, kita juga mengenal yang namanya “waktu aurat”. Ini adalah waktu khusus bagi orang tua yang bahkan anak-anak pun tidak boleh sembarangan masuk. Supaya kita sebagai suami istri punya kesempatan untuk ngobrol kali ya. Eh, tapi yakin sekedar ngobrol? Yakin? Yakin? Yakin?

Anyway, sempat baca-baca sekilas kalau bobo di ranjang yang sama itu banyak manfaatnya, selain dapet pahala seabrek-abrek, kehkehkeh. Secara singkat, manfaat yang bisa didapat antara lain ;

  1. Adanya kontak fisik yang bisa mengurangi stress
  2. Meningkatkan rasa bahagia (terutama kalau sebelum tidur dibeliin martabak)
  3. Menyehatkan jantung (melibatkan aktivitas olahraga)
  4. Tidur lebih nyenyak (kecuali pasangan kamu mulai grepe-grepe)

Nah, gimana-gimana sharing Madam kali ini? Kecuali suami kalian keranjingan main Mobile Legend, jangan sampai kalian tidur di ranjang yang berbeda ya! 


(Visited 118 times, 11 visits today)

6 Replies to “RANJANG & SEBUAH KISAH DI BALIKNYA”

  1. Koq pas banget ya mba, udah 2 bulan ini kami juga pisah ranjang, krn kasur kami cuma size queen dipakai ber4 tentu sesak banget, anak sulung udah pernah dilatih tidur di kamarnya dan sempat mau setahunan tapi balik lagi ke kamar kami, ya sudah akhirnya ayahnya ngalah….
    Akhirnya sempat marah kmren krn semakin renggang kami. Du du du, kalo ingat angkara murkanya aku ga brani lagi cuek sama blio. Memang yg penting selain komunikasi juga kontak fisik mba

  2. Ini sempat aku rasain waktu awal awal lahiran. Saat aku harus stay di rumah ortu dan paksu lebih aware sama si bayi dan aku merasa hubungan kami agak gimana gtu wkwk atau aku yg lg baper

  3. Obrolannya dewasa ini, hehehe
    Kalau saya karena anak masih satu, anak udah bobo ganti Bapaknya minta kelon hahaha.
    Mungkin karena pernikahan kami masih menginjak 6 tahun, ya? udah lama belum sih 6 tahun? Dan kami menikah tanpa pacaran terlebih dahulu jadi sekarang sebisa mungkin kami pacaran hahaha

  4. Aku kalau tidur ama suami paling suka sambil meluk dia dari belakang atau pegang tangannya. Hasilnya pak suami kalau bangun tidur suka pegel-pegel badannya karena bekas dipegangin mulu semalaman wkwkwk. Nggak tau ya kenapa aku itu seneng kalau tidur dibawah kelek suami. Serasa dikelonin 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *