BILA WAKTU TELAH TIBA

k

Masih terngiang subuh itu, 18 Agustus 2018 ketika terbangun dan mengecek pesan-pesan di ponsel.  Seorang sahabat mengirimkan pesan bahwa suami yang dicintainya telah kembali ke sisi Allah. Saya terduduk, menangis terisak-isak. 

Allah..

Namanya Putri Fitriyana, seorang Ibu Rumah Tangga dengan 4 orang anak. Sependek saya mengenalnya, orangnya kalem, pembawaannya santai. Penglaman beliau menghadapi hiruk pikuk kehidupan Rumah Tangga sering menjadi panutan saya dan teman-teman yang lain. Nasehat-nasehatnya menenangkan.

Mungkin, mungkin karena Allah tahu. Allah tahu betapa kuat seorang Putri Fitriyana dalam menanggung ujian demi ujian yang diberikan. Berawal dari sakit yang muncul tiba-tiba, suami koma dan akhirnya meninggal. Ya Allah…Al-fatihah untuk suami mbak Putri Rahimahullah.

Sepanjang ujian tersebut saya mendapat kabar dan foto-foto yang menunjukan ketegaran hati dan jiwa beliau. Mbak putri masih bisa tersenyum saat dijenguk bahkan masih sanggup melantunkan ayat-ayat suci Al-quran sambil mengelus rambut suaminya yang saat itu terbaring koma. 

Allah…

Saya tidak tahu bagaimana beliau sanggup berdiri tegak ketika dunianya limbung karena kehilangan sang suami tercinta. Saya tidak mengerti bagaimana air mata begitu jarang keluar, padahal rasa sakit karena kehilangan itu nyata adanya. 

Ah, sepertinya saya lupa kalau seorang mukmin bahagianya tampak di wajahnya, dan sedihnya hanya terlihat di hati. 

***

Kejadian kemarin membuat saya dan Yusuf saling mengoreksi diri. Begitu banyak hal-hal yang perlu dievaluasi dari hubungan kami. Saya memperhatikan wajah Yusuf lekat-lekat dan bertanya dalam hati, bagaimana kalau ternyata satu jam lagi adalah saat perpisahan kami? Sanggupkah saya?

Karena itulah, saya mencoba menuliskan beberapa hal yang sering luput saat menjaga hubungan dengan pasangan, antara lain

  • Bersalaman dan cium saat akan berpisah. Saya sering menganggap remeh hal ini. Terkadang masih sibuk di dapur atau mandiin anak-anak sehingga tidak proper ketika suami pamit ijin ke kantor.
  • Katakan cinta setiap hari. Kapan terakhir kali kita bilang cinta ke pasangan? Iya sih, emang tanpa kita perlu ngomong pun pasangan tahu kalau kita cinta sama dia. But please, do it once a day. 
  • Berbalas pesan receh. Kadang saya sering melakukannya saat sedang stress, hahaha. Yah sekedar tanya udah makan belum atau gimana tadi kondisi jalanan. Walau receh, rasanya kok seneng ya bisa kontak terus sama pak suami
  • Jangan berpisah saat marah. Nah, ini iih hal yang cukup sering terjadi. Berpisah saat saling marah-marahan. Duh, gimana coba rasanya kalau hal-hal yang kita ingat terakhir kali saat suami pergi adalah buruknya hubungan kita? Pasti nyesel dan nyesek banget kan, huhuhu. 

Nah, barangkali hanya segini dulu yang bisa saya rangkum. Sungguh enggak bisa lupa kalau KEMATIAN ADALAH SEBAIK-BAIK PENGINGAT. Mungkin teman-teman ada yang mau berbagi kisahnya?

MENJAGA KESEHATAN, PESAN PENTING DARI FILM “ME BEFORE YOU”

sehat itu penting - ayunafamily.com

“Karena uang menjadi tidak ada artinya jika kita tidak sehat”

  • – Madam A –

Assallammuallaikum, gimana kabarnya hari ini? Gemah ripah loh jinawi, sehat hahaha hihihi kan ya? Alhamdulillah kalau gitu. Nah, kebetulan hari ini madam lagi agak melow dan  sedih, nggak ada yang nanya kale. Bukan, bukan karena harga telor yang udah terbang ke nirwana sampai enggak masuk akal itu.  Tapi karena… mmm, haruskah madam cerita?

Baiklah kalau kalian memaksa. *digepuk orang sekampung*

Duh, maaf yak kalau madam kok kesannya jayus banget. Jadi gini loh pemirsa, madam masih terhanyut dalam suasana film berjudul “Me Before You”.  Film ini diadaptasi dari novel karangan Jojo Moyes yang judulnya sama. Sebenernya,  nontonnya udah selesai dari kapan tahun sih,  tapi kok melownya masih sampai sekarang. Memang madam ini sangat lebay nganunya. *eh

sehat itu penting - ayunafamily.com
william mengajak kencan Louisa

Continue reading “MENJAGA KESEHATAN, PESAN PENTING DARI FILM “ME BEFORE YOU””

REVIEW GERBER GRADUATES PUFF

Review Gerber - ayunafamily.com

Alhamdulillah, ada Gerber di dalam tas saya

  • – Madam A –

Assallammuallaikum, halo semua !

Masih ingat saya kan? Maafkan kalau saya terlalu lama vakum karena kesibukan di dunia nyata. Saya sungkem dulu deh sama teman-teman di dunia maya. *halah*

Tentang Cranky

Anyway, kali ini saya mau membahas sesuatu yang berhubungan dengan cranky. Wait, kalian  tahu apa arti kata tersebut enggak? Aslinya saya enggak tahu sih, kan bahasa Inggris saya agak ble’e.  Tapi, sejak punya anak saya jadi enggak asing dengan kata itu. Apalagi anaknya tiga bijik, jaraknya dempet-dempet pula.  Muahahaha.

Jadi, cranky itu artinya ngambek atau rewel. Parents jaman now memakai kata itu untuk menyebut kondisi di mana anak-anak menangis, meraung atau marah-marah tanpa alasan yang jelas.  Eh tapi, berdasarkan pengalaman saya menjadi orang tua selama enam tahun ini, saya jadi tau sih penyebab mereka biasa bersikap geje gitu. Pilihannya cuman dua, antara lapar atau ngantuk.

Nah, kali ini saya mau kasih review pribadi tentang sebuah snack yang selalu menjadi penyelamat di kala serangan cranky datang tanpa diundang.

Continue reading “REVIEW GERBER GRADUATES PUFF”

MARI BERKENALAN DENGAN CANVA

All Hail untuk para pencipta Canva!

  • – Madam A –

Canva itu apa? Apakah temannya spageti dan Pizza? Begitu pikir saya dalam hati saat pertama kali mendengar tentang sebuah aplikasi bernama Canva. Maklum, namanya juga Ibu Rumah Tangga yang biasanya hanya sibuk sama pekerjaan domestik, jadi untuk hal-hal beginian saya enggak begitu ngeh. Tapi itu kejadian jaman dulu sih, ketika saya belum mengenal dunia blog.

Continue reading “MARI BERKENALAN DENGAN CANVA”

KETIKA KEMATIAN MENJADI PENGINGATMU

Sungguh, kematian adalah sebaik-baik pengingat

  • – orang bijak –

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati (Al-Imron 185)

Setiap kalimat yang mengatakan tentang kematian selalu  menghentak alam pikiran saya dengan begitu kerasnya. Mencipatakan getar dan debar kelam di hati.  Membuat saya kembali mengenangan momen  tak terlupakan saat berada dalam situasi antara hidup dan mati.

Continue reading “KETIKA KEMATIAN MENJADI PENGINGATMU”

CINTA TANPA KATA LAST PART : PERPISAHAN

“Bro, ada surat buat kamu” kata mas-mas penjaga warung fotokopi. Aufar mengernyit ketika tangannya terulur menerima sebuah amplop putih dengan tulisan ‘For Aufar’

 

Lelaki itu membolak-balik amplop yang ada di tangannya. Tidak ada nama pengirim. Aufar memandang wajah si mas-mas dengan tatapan bertanya, tapi si mas-mas itu hanya mengangkat bahu dan berkata dengan nada menggoda.

“Iya, itu dari gadismu”

Aufar mengibaskan tangannya mendengar jawaban itu. Walau segila apapun perbuatannya kemarin, Rania bukanlah gadisnya. Lama Aufar memandangi amplop tersebut. Namun akhirnya setelah berpikir sejenak, Aufar memasukan surat itu ke dalam tasnya. Dia mengacungkan jempol kepada mas-mas penjaga foto kopi dan berlalu…

****

Dear Aufar,

Hai kamu sedang apa? Aku tebak kamu pasti sedang tidur-tiduran sambil baca surat ini, bener enggak? Kalo bener sih alhamdulillah, yang pasti aku bukan cenayang loh, yakinlah.

Aufar, awalnya aku ragu-ragu sekali untuk menulis surat ini. Maaf, maafkan aku karena tidak menyerahkannya langsung. Aku takut sekali kalau nanti niatku akan luntur dan batal menyerahkannya ke kamu.

Aufar, aku ingat sekali saat pertama kita bertemu, memalukan. Aku hampir jatuh dan berguling, orang-orang menertawakan dan hanya kamu yang membantuku untuk berdiri. Sejak saat itu, aku terpesona. Ah, aku malu menulisnya, tapi sejak saat itulah aku mulai mengagumi kamu. Dan itu adalah  alasan utama kenapa aku ingin kenal kamu lebih dekat. Konyol memang, dan alay sekali kalau boleh ditambahkan.

Selanjutnya, seperti yang sudah kamu ketahui aku banyak mencari informasi tentang kamu. Beberapa orang mengatakan kalau Aufar adalah orang yang ramah, suka menolong dan baik hati meskipun agak cuek, . Dari cerita mereka aku jadi tahu meskipun kamu tuna wicara,  mereka yang mengenalmu tidak pernah merisaukan hal itu.

Aku adalah orang yang sangat memahami sifatku sendiri. Aku manusia yang mudah penasaran dan bersikap  spontan. Seperti kata-katanya Dewi Lestari ‘’my curiosity could kill a lion’. Aku prihatin sekali karena beberapa saat yang lalu, kamu adalah objek utama rasa penasaranku.

Saking penasarannya aku sampai mendaftar kelas kursus bahasa isyarat. Sungguh tidak pernah kuduga mempelajari hal tersebut ternyata membawa kenikmatan tersendiri. Percayalah Aufar, aku sangat menikmati tiap menit yang kuhabiskan untuk mempelajari kemampuan berbahasa isyarat..

Tahukah kamu Aufar, aku menemukan dan mempelajari begitu banyak hal dari situ. Secara tidak langsung aku bisa merasakan bahwa menjadi orang yang kekurangan secara fisik pastinya tidak mudah. Aduh, kekagumanku semakin bertambah mengetahui kamu sanggup melakukannya. Parahnya, aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini Aufar.

Aku takut dengan rasa sukaku yang makin bertambah padamu Aufar. Sulit sekali untuk mengendalikan rasa suka kita pada seseorang.Silakan sebut aku lebay, tapi aku sering membaca buku ataupun artikel di majalah tentang bahayanya sebuah rasa yang tak bisa dikontrol yang sanggup menjadi mesin penghancur masa depan.  Tidak, tentunya aku tidak mau hal itu terjadi padaku ataupun padamu. Karena itu, aku memutuskan untuk menghentikan sejenak aliran rasa ini. Aku sadar sekali, sebagai anak kecil kelas dua SMA, aku sangat rentan melakukan hal-hal yang salah dan tidak pantas.

Aufar, aku sangat bahagia dengan kunjungan kamu kemarin ke kelasku. Aku rasa, hal itu berarti sesuatu bukan? Mungkin semacam perhatian?

Aku begitu senang tapi setelahnya muncul rasa takut. Saat aku bertanya pada hati kecilku,  aku merasa tidak sanggup melanjutkan rasa ini. Aku takut, aku terlalu pengecut. Bagian yang waras dari otakku mengatakan kalau  berbahaya sekali jika rasa ini membesar di waktu yang tidak tepat.

Ya Tuhan, sakit sekali rasanya mengambil keputusan ini. Kamu harus tahu Aufar bahwa pilihan untuk mundur bukanlah sesuatu yang mudah terutama untukku yang selalu mendapatkan segalanya. Aku orang yang egois Aufar, tapi untukmu entah  kenapa aku merasa sanggup untuk menahan diri.

Aufar, mari kita menjalani waktu kita sendiri-sendiri. Aku dengan persiapanku menuju kelas tiga dan kamu dengan persiapan kelulusan. Aku dengar selentingan kalau setelah lulus kamu tidak mau kuliah, tapi langsung terjun ke dunia bisnis. Itu sebuah tantangan yang sangat berat. Kamu membutuhkan semua pikiranmu untuk fokus.  Aku yakin kamu pasti mampu meraih kesuksesan.

Untuk saat ini, ijinkan aku menyerah pada keadaan.Akan tiba saatnya nanti, ketika aku sudah mampu menunjukan pada Ayah dan Bunda bukti keseriusanku untuk kuliah aku ingin sekali menemui . Atau mungkin, aku malah ingin kamu menjadi pihak yang menemukanku. Mau kan?

Iya, memang aku sudah gila karena  berharap sampai sejauh itu. Mungkin, mungkin karena entah bagaimana aku bisa tahu kalau aku mulai mendapat tempat di hatimu. Tidak, jangan membantah.  Kedatanganmu kemarin, itu bukti tak terbantahkan. Boleh percaya atau tidak tapi aku merasakannya Aufar, aku merasakannya sejak pertama kali melihatmu.

Aku sudah berkomitmen  akan menjaga rasa ini untukmu. Terserah teman-temanku mau bilang apa, tapi bagiku kamu adalah cinta monyetku yang pertama, dan terakhir aku harap.

Aku tidak tahu  seperti apa rintangan yang akan kita hadapi di masa depan. Bagaimana pun, aku kan bukan peramal, hahaha. Tapi aku merasakannya kok, kalau kita akan tersambung lagi. Dan yakinlah Aufar bahwa saat itu, aku akan menikmati sepenuh hati pengejaranmu.

Maafkan aku karena belum mencintaimu saat ini, nggak tahu kalau dua tahun lagi.

See you when I see you,Kiss Kiss

Rania.

 

CINTA TANPA KATA PART 11 : RANIA MUNDUR

Rania tidak bisa tidur.

Hari ini benar-benar aneh bin ajaib. Kenapa di saat dirinya bermaksud untuk menyerah, menjauh mundur dari niat awalnya ingin mengenal Aufar lebih dekat, makhluk itu justru mendekat? Ya Tuhan, lelaki itu masuk ke sekolahnya, mendatangi kelasnya, menanyakan kabarnya. Bayangkan betapa terkejutnya Rania?

Yang lebih parah, setelah semua hal absurd itu terjadi, Aufar tetap membisu. Yah, Rania tahu kalau Aufar itu bisu, tapi bisu yang dimaksud adalah Aufar tidak mau mengatakan apapun lagi. Rania kan jadi penasaran, dan ge er pastinya, jangan-jangan Aufar mulai perduli padanya? Ufh, Rania merasakan rona merah menjalari pipinya saat memikirkan hal itu.

Rania menggerak-gerakkan tangannya, menghapalkan kata-kata dalam bahasa isyarat tangan terbaru. Selama mempelajari bahasa ini, Rania mendapatkan banyak sekali hal-hal yang membuka pikiran. Rania semakin menyadari bahwa menjadi manusia yang secara fisik tidk sempurna itu sangat sulit. Dunia seringkali tidak adil kepada mereka yang memiliki kekurangan, iya kan?

Rania mulai membayangkan, akan seperti apa kalau dirinyalah yang tuna wicara? Frustasi, stress atau bahkan memilih bunuh diri? Rania merasa tidak akan sanggup menghadapi dunia dengan kekejamannya, kepercayaan dirinya pasti hancur lebur. Siapa yang mau berteman dengannya? Siapa yang mau berkomunikasi dengan dirinya? mengetahui dia tidak bisa bicara atau selalu bersuara aneh akan membuat orang justru menghindar bukan?

Tiba-tiba mata Rania terasa panas, cairan bening mulai berkumpul di ujung pelupuk matanya.

“Aufar, kasihan sekali kamu” lalu Rania tersedu. Gadis itu tidak tahan memikirkan masa kecil seperti apa yang harus dihadapi Aufar. Tanpa teman, tanpa seseorang untuk berbagi cerita selain ayah dan ibunya. Hanya sedikit sekali orang-orang yang mau memahaminya.

Sejujurnya, selama tiga hari kemarin Rania banyak merenung, mencoba berpikir dengan mengambil sudut pandang Aufar. Jika dia menjadi Aufar, pantas-lah dia merasa aneh dengan tingkah seorang gadis yang begitu SKSD. Jika dia menjadi Aufar, pasti akan bingung saat bertemu dengan gadis aneh yang tiba-tiba belajar bahasa isyarat tanpa alasan jelas. Jika dia menjadi Aufar, yang tidak pernah berhubungan dekat dengan perempuan manapun selain ibunya, dia pasti akan gugup dan tak tahu harus bagaimana menghadapi seorang gadis yang mendekatinya.

Alasan itulah yang membuat Rania mundur.

Nanti, Rania mundur hanya sejenak. Dia sedang menyusun strategi  baru untuk melakukan pendekatan pada Aufar. Lelaki itu berbeda dengan lelaki normal lainnya. Aufar memiliki kepercayaan diri rendah dan perasaan yang lebih sensitif, pengalaman berhubungan dengan perempuan juga sangat minim atau bahkan bisa dibilang nol. Kalau Rania terus memaksakan pendekatan gerilya, dia khawatir membuat Aufar justru menjauh.

Selain itu, Rania sungguh merasa malu. Dia merasa belum menjadi gadis yang pantas untuk bersanding dengan Aufar, sebagai teman dekat. Bukan tidak ya, hanya belum. Dia masih sangat childish, egois, ceroboh dan lain sebagainya. Apalagi mengetahui posisi Aufar yang sedang sibuk menghadapi ujian kelulusan, Rania tidak ingin menjadi pengganggu.

Rania sudah mengobrol banyak hal dengan bunda, salah satunya tentang bentuk nyata sikap menyayangi. Menyayangi tidak harus memiliki. Menyayangi adalah memberi dukungan, mendoakan agar orang yang kita sayangi bisa terus maju ke depan. Dan Rania menginginkan hal itu untuk Aufar. Rania yakin kalau Aufar masih memiliki begitu banyak mimpi untuk dilakukan. Karena itulah Rania memilih untuk mengalah, mundur dan kembali fokus meniti jalan pendidikannya.

Rania berterima kasih sekali pada Aufar. Berkat lelaki itu, Rania tahu betul dia ingin menjadi apa di masa depan nanti. Guru, Rania ingin menjadi guru SLB. Rania menggigit bibir, memikirkan sesuatu. Rania ingin agar Aufar mengerti kalau dia masih ingin menjadi teman Aufar sekaligus menjadi bayangan yang mengamatinya dari jauh. Apa yang harus dilakukan?

Seteah menimbang-nimbang, sebuah keteguhan muncul di wajah Rania. Gadis itu turun dari tempat tidur, mengambil kotak pinsil di dalam tasnya dan menyobek sebuah kertas. Rania mulai menulis surat…

 

CINTA TANPA KATA PART 10 : MAAF

Rindu? Apa itu rindu?

“Aufar, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ke sekolahku, menemuiku dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun? Tunggu, aku paham kalau kamu enggak bisa bicara tapi kita punya banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun tanpa harus dengan suara. Aufar, jawab? Kumohon, jawab pertanyaanku” Rania bertanya pada Aufar dengan wajah yang tampak sangat memelas.

mereka sudah berhenti berjalan. Kini mereka sedang berdiri besisian di sebelh sebuah pohon yang agak jauh dari gerbang sekolah Rania.

“Baiklah, aku akan ubah pertanyaanku. Yang perlu kamu lakukan hanya menggeleng atau mengangguk” Kata Rania penuh tekad, dia menatap tajam Aufar.

“Apakah kamu memang berencana untuk mengunjungiku?”

Aufar menggeleng

Rania terbata, menatap lelaki di hadapannya dengan takjub.

“Apakah karena ingin bertemu denganku?”

Aufar diam

“Aufar, jawab. Apakah kamu nekat masuk ke sekolahku, karena begitu ingin bertemu denganku?”

Rania memperhatikan raut wajah Aufar yang berubah gusar. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah kamu ingin melihatku karena sudh tiga hari tidak ketemu? Ya, aku menghitungnya Aufar, ini hari ketiga sejak aku terpergok melihatmu main basket kemarin” cecar Rania, pandangannya menyelidik.

Aufar mengacak rambutnya lalu menatap Rania tepat di matanya. Mata yang memancarkan pertanyaan dan juga kejujuran.

Aufar mengangkat bahunya, entahlah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Pikiran dan hatinya sepertinya sedang tidak mau bekerja sama dengan baik.

Bahu Rania turun, lunglai dengan jawaban dari Aufar. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali membenci lelaki di hadapannya yang tidak bisa menjawab dengan tegas. Rania…kecewa.

“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu. Aku membencimu Aufar, aku membencimu yang tidak mampu menjawab pertanyaanku dengan ketegasan. Kamu laki-laki Aufar, kamu seharusnya tahu betul dengan perasaanmu. Ini terakhir kali kita berbicara. Aku tidak mau menemuimu lagi, selamat tinggal” Kata Rania memuntahkan segala rasa yang menghimpit di dadanya. Rania mencegah bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh dengan membuang muka.

Tersentak dengan kata-kata Rania, Aufar sontak menahan lengan gadis itu, menahannya untuk pergi

“aaaaaaaa” Aufar membuka mulutnya, dia hendak mengatakan maaf tapi yang keluar hanyalah suara aneh tanpa arti.

Rania terkejut.

“Aufar?”tanyanya, mata Rania membulat

Dengan cepat Aufar mengambil handphone dan menuliskan sesuatu

Maaf Rania

 

CINTA TANPA KATA PART 9 : RINDU

Aufar berjalan melewati gerbang sekolahnya, menahan keinginan untuk sekedar menoleh ke kanan atau ke kiri. Atau sejujurnya, menoleh ke belakang. Hari ini hari Rabu, sudah tiga hari sejak latihan ujian selesai diadakan dia pulang sekolah tanpa gangguan sama sekali. Tal ada gadis dengan suara cempereng yang mendampinginya. Tak ada Rania.

Sialan gadis itu, membuatnya terbiasa dengan keberadaannya lalu pergi menghilang begitu saja. Sungguh perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Aufar mengingat tingkah gadis itu yang aneh. Hari terakhir latihan ujian, setelah dia main basket dia menemukan gadis itu berdiri di gerbang masuk, sedang memandanginya. Sesaat kemudian Rania tampak aneh, seperti gugup? Aufar awalnya menduga kalau gadis itu akan tersenyum dan mendekat, lalu mengobrol dengan gaya SKSD seperti biasa. Namun yang terjadi, gadis itu membalik badan dan berlari menjauh. Dia menghilang. Sampai detik ini Aufar tak melihatnya lagi. Kemana dia?

Apakah Rania sakit?

Ya Tuhan, rasa khawatir muncul di dada Aufar ketika pikiran itu datang. Namun hanya sekejap karena pikiran itu ia buang jauh-jauh. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan dan pikirannya menjadi amburadul hanya karena seorang gadis? Arrgghhh, Aufar ingin mengacak-acak rambutnya. Aufar ingin mendobrak masuk ke sekolah Rania, menggeledah kelasnya hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Aku betul-betul mulai gila” Aufar menyuarakan pikirannya dalam hati.

Aufar sudah mencapai ujung jalan tempat dia biasa menunggu angkotnya. Dia berdiri menunggu sambil terus berpikir, pandangannya tidak fokus.

“Ya Tuhan, aku sudah gila” Katanya kesal sambil berlari membelakangi arah kedatangan angkot, dia berjalan cepat ke warung fotokopi.

***

“Rania, Rania, hei Rania ada yang mencarimu!” Rania yang sedang sibuk menyapu dan membersihkan kelas menoleh ke arah teman yang memanggilnya.

“Siapa?” Tanya Rania acuh tak acuh

“Enggak tahu, cowok ganteng yang enggak mau ngomong samsek. Dia cuman nulis di buku, minta tolong carikan yang namanya Rania” jawab temannya sambil mengangkat bahu.

Rania menghentikan gerakan menyapunya. Jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban temannya. Dengan cepat dia memasukan sampah ke dalam pengki dan merapikan seragamnya. Cowok ganteng yang tidak mau bicara? Enggak mungkin, enggak mungkin banget…

Rania melangkahkan kakinya keluar kelas dan segera saja sebuah sosok yang beberapa ini dihindarinya muncul, berdiri di hadapannya.

Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan secara spontan “A, Aufar? Kamu lagi ngapain disini?”

Dengan cepat Aufar memindai Rania, betul-betul memperhatikan kondisi Rania dari atas sampai bawah. Setelah memastikan kalau gadis itu sehat, normal dan tidak kelihatan sakit sedikitpun lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aufar?Kamu, kamu ngapain ke sini?” Rania mengulang pertanyaannya lagi. Dia jengah melihat Aufar memperhatikan dirinya dengan begitu intens.

Aufar tidak menjawab sepatah katapun, setelah memindai sekali lagi dan yakin bahwa Rania dalam kondisi baik, Aufar berjalan pergi menjauhi Rania.

Rania amat sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ini? Kenapa Aufar tiba-tiba berani masuk ke dalam sekolahnya, mencarinya, menemuinya? Kenapa saat melihatnya tadi, pandangan Aufar seolah melahapnya bulat-bulat? Dan yang lebih geje, setelah semua hal aneh itu Aufar justru pergi lagi? Rania tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan Aufar?

Lelah memikirkan jawabannya sendiri, Rania mengambil tasnya dan bergegas mengejar Aufar.

“Apa kamu merindukanku?” Tanya Rania langsung begitu dia berhasil mengejar Aufar dan mengikuti langkahnya