BILA WAKTU TELAH TIBA

 

k

Masih terngiang subuh itu, 18 Agustus 2018 ketika terbangun dan mengecek pesan-pesan di ponsel.  Seorang sahabat mengirimkan pesan bahwa suami yang dicintainya telah kembali ke sisi Allah. Saya terduduk, menangis terisak-isak. 

Allah..

Namanya Putri Fitriyana, seorang Ibu Rumah Tangga dengan 4 orang anak. Sependek saya mengenalnya, orangnya kalem, pembawaannya santai. Penglaman beliau menghadapi hiruk pikuk kehidupan Rumah Tangga sering menjadi panutan saya dan teman-teman yang lain. Nasehat-nasehatnya menenangkan.

Mungkin, mungkin karena Allah tahu. Allah tahu betapa kuat seorang Putri Fitriyana dalam menanggung ujian demi ujian yang diberikan. Berawal dari sakit yang muncul tiba-tiba, suami koma dan akhirnya meninggal. Ya Allah…Al-fatihah untuk suami mbak Putri Rahimahullah.

Sepanjang ujian tersebut saya mendapat kabar dan foto-foto yang menunjukan ketegaran hati dan jiwa beliau. Mbak putri masih bisa tersenyum saat dijenguk bahkan masih sanggup melantunkan ayat-ayat suci Al-quran sambil mengelus rambut suaminya yang saat itu terbaring koma. 

Allah…

Saya tidak tahu bagaimana beliau sanggup berdiri tegak ketika dunianya limbung karena kehilangan sang suami tercinta. Saya tidak mengerti bagaimana air mata begitu jarang keluar, padahal rasa sakit karena kehilangan itu nyata adanya. 

Ah, sepertinya saya lupa kalau seorang mukmin bahagianya tampak di wajahnya, dan sedihnya hanya terlihat di hati. 

***

Kejadian kemarin membuat saya dan Yusuf saling mengoreksi diri. Begitu banyak hal-hal yang perlu dievaluasi dari hubungan kami. Saya memperhatikan wajah Yusuf lekat-lekat dan bertanya dalam hati, bagaimana kalau ternyata satu jam lagi adalah saat perpisahan kami? Sanggupkah saya?

Karena itulah, saya mencoba menuliskan beberapa hal yang sering luput saat menjaga hubungan dengan pasangan, antara lain

  • Bersalaman dan cium saat akan berpisah. Saya sering menganggap remeh hal ini. Terkadang masih sibuk di dapur atau mandiin anak-anak sehingga tidak proper ketika suami pamit ijin ke kantor.
  • Katakan cinta setiap hari. Kapan terakhir kali kita bilang cinta ke pasangan? Iya sih, emang tanpa kita perlu ngomong pun pasangan tahu kalau kita cinta sama dia. But please, do it once a day. 
  • Berbalas pesan receh. Kadang saya sering melakukannya saat sedang stress, hahaha. Yah sekedar tanya udah makan belum atau gimana tadi kondisi jalanan. Walau receh, rasanya kok seneng ya bisa kontak terus sama pak suami
  • Jangan berpisah saat marah. Nah, ini iih hal yang cukup sering terjadi. Berpisah saat saling marah-marahan. Duh, gimana coba rasanya kalau hal-hal yang kita ingat terakhir kali saat suami pergi adalah buruknya hubungan kita? Pasti nyesel dan nyesek banget kan, huhuhu. 

Nah, barangkali hanya segini dulu yang bisa saya rangkum. Sungguh enggak bisa lupa kalau KEMATIAN ADALAH SEBAIK-BAIK PENGINGAT. Mungkin teman-teman ada yang mau berbagi kisahnya?

(Visited 22 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *