Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

BELAJAR MENJADI ORANG TUA DARI FILM NUSSA DAN RARA

BELAJAR MENJADI ORANG TUA DARI FILM NUSSA DAN RARA

Ya Allah, selama ini kemana aja? Kok ya baru tahu tentang Nussa dan Rara

– Madam A –

Nussa dan Rara, sebelumnya saya sudah sering mendengar orang-orang yang menulis status tentang film tersebut. Namun, entah kenapa saya kok belum ada minat untuk nonton. Toh koleksi anak-anak masih belum bosen betah Boboboy atau Omar Hana.

Sampai pagi ini.

Yes, padahal niat awalnya buka youtube tuh untuk lihat video senam zumba. Setelah kemarin shock berat lihat angka yang muncul di timbangan. Itu angka yang muncul di digit awal entah kenapa bisa naik satu poin. Pantesan ini badan kerasa berat banget, emang udah nambah banyak lemak dan gelambir ternyata, wkwkwk.

Pas lagi nyari-nyari gitu, saya lihat iklannya nussa dan rara sliweran. Penasaran eui, kok bisa ya? Padahal antara senam mengecilkan perut, lengan, dan paha juga video tersebut enggak ada nyambung-nyambungnya sedikitpun. Entahlah, mungkin hanya pihak youtube dan Allah SWT aja yang tahu.

Lalu, sambil menunggu video senam zumba yang saya pilih terdonlot sempurna, saya pun iseng mencoba menonton nussa dan rara. Durasinya cuma 9 menit, cukup panjang bila dibanding video lain yang kisarannya cuma 4-5 menit saja.

nussa dan rara - ayunafamily.com

Maka, dengan membaca bismillah *halah* , saya pun mulai menyaksikannya.

NUSSA DAN RARA DALAM EPISODE : #NUSSABISA

Film dibuka dengan adegan Nussa yang sedang mempersiapkan diri untuk berangkat sepakbola. Sedangkan Umma, nama panggilan sang ibu, terus bertanya apakah Nussa sudah membawa semua daftar perlengkapan yang dibutuhkan.

“Nussa berangkat dulu ya Umma.” kata Nussa pamit sambil mencangkolng tas setelah selesai memakai sepatu.

Ketika hendak beranjak pergi, dengan tiba-tiba Umma memegang bahu Nussa. Ragu-ragu antara ingin melepas atau memegang lebih lama. Ekspresi Umma saat memandang Nussa tak terbaca. Lalu adegan terlempar ke masa lalu. Saat di mana Nussa lahir.

Saat di mana saya baru tahu kalau Nussa hanya memiliki sebuah kaki sejak bayi…

Fragmen demi fragmen terus berlanjut . Nussa mendapatkan sebuah kaki palsu untuk melengkapi ketidaksempurnaan kakinya. Dia sangat bahagia mencoba benda tersebut. Meski awalnya sulit untuk membiasakan berdiri dengan dua kaki, Nussa pantang menyerah.

Memiliki kaki palsu tidak menghalangi hobinya bermain sepakbola. Olahraga yang saya yakin, digandrungi sebagian besar anak-anak sejagat raya. Semangatnya yang luar biasa itulah yang mendorong Nussa untuk mendaftar ke tim sepakbola Bhineka.

Maka, dengan gembira, Nussa pun mengetuk pintu kamar Umma, hendak menyerahkan formulir pendaftaran. Karena untuk bisa bergabung ke dalam tim tersebut, harus ada tanda tangan persetujuan orang tua.

Begitu pintu dibuka, Nussa tahu kalau harapannya akan kandas. Terlihat dari raut wajah Umma yang tidak setuju. Nussa kecewa lalu berjalan gontai meninggalkan kamar ibunya.

Saat itu, Nussa tampak berpikir, mungkin Umma tidak setuju dirinya masuk tim sepakbola karena kondisi kakinya yang pincang sebelah. Kembali Nussa mengumpulkan semangat untuk berlatih lebih keras. Tujuannya jelas, memberi tahu sang ibu bahwa kondisi kakinya bukanlah alasan.

Kembali, Umma menolak.

Nussa mencoba lagi.

Dan Umma menolak lagi.

Begitu terus sampai cebong dan kampret bersatu menjadi cepret. Eh, enggak ding.

Akhirnya, Nussa betul-betul putus asa. Dia menyerah, tidak lagi mencoba untuk meminta ijin pada ibunya. Nussa mencoba memahami ibunya, meski hatinya sedih dan kecewa…

Pada suatu hari, tiba-tiba terdengar bunyi orang jatuh. Nussa dan Rara yang sedang menonton televisi kaget. Nussa langsung berlari ke kamar sang ibu dan menemukan Umma terjatuh dari tempat tidur. Dengan sekuat tenaga, dia berjuang menopang ibunya agar bisa berdiri.

Nussa berhasil! Tak peduli walau kaki yang digunakan untuk meopang tubuh ibu dan dirinya adalah campuran antara kaki palsu dan kaki asli.

Tidak hanya itu, Nussa juga bergegas mengambilkan air minum serta obat untuk untuk Umma. Kekhawatirannya tampak sungguh-sungguh, padahal Umma tahu kalau Nussa memendam rasa kecewa padanya.

Kejadian tersebut mengubah pikiran Umma. Ternyata, Nussa benar-benar bisa walau memiliki kaki palsu. Keesokan harinya, Nussa tampak sangat bahagia karena menemukan bahwa lembar pendaftaran tim sepakbola Bhineka sudah ditandatangani oleh Umma-nya.

Lalu, adegan kembali ke masa sekarang, di mana Umma sedang memegang bahu Nussa.

“Umma kenapa?” tanya Nussa bingung.

Umma menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Tidak…Umma, Umma percaya kalau Nussa bisa…” jawabnya sambil tersenyum

PELAJARAN PARENTING DI DALAMNYA

Saya beruntung, menonton film ini dalam kondisi belum mandi. Sehingga saat air mata merebak dan tak terbendung lagi, saya bisa lari ke kamar mandi. Menyalakan keran air agak kencang untuk menyamarkan isak tangis saya. Wew.

Jangan sampai anak-anak lihat pokoknya. Berabe kalau sampai ketahuan, bisa dipanggil cengeng entar sama mereka, hahah.

Lebay banget emang. Tapi saya tuh lemah kalau berhadapan sama film-film yang mengisahkan orangtua dan anak kayak gini. Boro-boro, pas kemarin nonton berita penembakan di Christchurch, Selandia Baru aja saya udah mimbik-mimbik nangis kok.

Anyway, dari sebuah film ini saja rasanya saya bisa mengambil banyak sekali pelajaran. Terutama tentang bagaimana kita seharusnya menjadi orang tua.

Awalnya, saya gemas sekali sama Umma, yang tidak mau memberi ijin pada Nussa. Mbok yo dikasih gitu loh, kan kasian banget itu anak lakinya pengen main bola…huhuhu.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kalau saya menjadi Umma, saya pasti melakukan hal yang sama. Seorang ibu sangat dekat dengan rasa khawatir, isn’t it right?

Baca Juga : Hal Sederhana Untuk Ibu Bahagia

Anak makan sendiri, khawatir tumpah. Padahal dia lagi melatih otot motoriknya

Anak lagi asyik gigit-gigit bantal, khawatir kemakan. Padahal dia lagi mau tumbuh gigi, dan gusinya kerasa gatal sekali.

Anak mandi sendiri, khawatir sabun bakal habis, bak mandi penuh busa.

Anak main sama teman-temannya, khawatir dia bakal di bully.

Anak mau naik sepeda, kita larang. Khawatir jatuh.

Anak mau bantuin kita cuci piring, kita cegah. Khawatir gelas dan piring pecah.

Pokoknya, semua yang dilakukan anak membuat kita serba khawatir. Sadar enggak sih bapak ibuk semua kalau rasa kekhawatiran yang berlebihan ini membuat anak tidak memiliki ruang untuk berkembang?

Haqqul yakin, kita sebenernya sama-sama tau kalau segala sesuatu yang berlebihan itu enggak baik. Khawatir itu perlu, khawatir itu wajib, khawatir adalah salah satu ungkapan sayang dan cinta. Tapi biarkan rasa tersebut berada porsi yang tepat.

Baca Juga : Komunikasi Positif dengan Anak Tuh Begini Loh!

Saya terharu sekali melihat Nussa yang begitu pantang menyerah untuk menunjukkan ke ibunya bahwa dia mampu. Bahwa dia layak untuk diberi kepercayaan bermain sepakbola secara profesional.

Butuh lebih dari sekali penolakan untuk membuat Nussa berhenti. Dan bagian ini membuat hati saya terpoteque-poteque. Saya justru merasa khawatir, ketika rasa cemas dan pelarangan berlebihan akan membuat anak percaya kalau dirinya “tidak cukup mampu”.

Bahaya banget, gilak!

Jangan sampai anak kita underestimate sama kemampuan dirinya sendiri ya pak, buk. Efeknya bakal luar biasa buruk. Anak akan menjadi rendah diri, ragu-ragu, takut menghadapi konsekuensi, tidak mandiri dan sebagainya. Jangan, pokoknya jangan.

MEMBERI RUANG KEPERCAYAAN PADA ANAK

Saya paham betul kenapa orang tua agak sulit memberi kesempatan pada anak. Merelakan anak untuk melakukan sesuatu yang menurut kita “tidak aman” itu berat banget, lebih berat daripada berat badan saya saat ini *ups.

Kalau saya pribadi, susah kasih ijin karena khawatir anak-anak enggak mampu menghadapi konsekuensi di belakang pilihannya. Err..enggak cuma mereka sih sebenernya, saya sendiri juga takut dengan respon yang akan keluar kalau ternyata anak-anak tidak bisa bertanggung jawab.

Sebagai contoh, ada saat di mana saya mau memberi kesempatan si abang untuk membantu di dapur. Ada juga waktu saya menolak permintaannya untuk membantu. Saat terburu-buru misalnya. Saya takut jadi marah-marah sendiri kalau si abang jadi memperlambat pekerjaan.

Kalau sudah begini, pilihan terbaik yang bisa diambil adalah negosiasi. Bikin perjanjian sama anak, kapan dia bisa bantu, kapan enggak. Kemudian mengenai syarat-syarat kalau dia mau bantu “ngrecokin” kita, sudah mandi atau menyelesaikan kewajibannya dulu contohnya.

Sampai detik ini, saya percaya bahwa sebaga orang dewasa dan sebagai orang tua, tugas saya hanyalah sebagai fasilitator. Bagaimanapun, anak-anak membutuhkan kesediaan kita untuk membiarkan mereka berdaya dan memiliki suara untuk menentukan dan mengambil keputusan.

Yakinlah, usaha untuk mengubah cara pandang dan pola pikir terhadap anak itu sulit. Bagi saya, anak adalah anak, sudah sebesar apapun mereka. Tapi makin lama saya makin menyadari kalau mereka tumbuh semakin besar, memiliki kemampuan, kapasitas, serta hak yang sama seperti orang dewasa (meski masih terbatas sih yauw).

Makannya, saya salut banget sama Umma. Meski harus ada kejadian tak mengenakkan dulu, tapi akhirnya dia bersedia untuk berdamai dengan kekhawatirannya dan memberi ijin pada Nussa.

BANGGA DENGAN FILM NUSSA DAN RARA YANG ASLI INDONESIA

Waktu pertama kali nonton saya sempet mikir, “Film ini produksi Indonesia atau Malaysia ya?”

Tapi, waktu tahu bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, bukan Melayu saya takjub banget. Seneng, bahagia, bangga! Finnally, akhirnya ada juga film anak berseri yang gambarnya bagus, tokoh-tokohnya berkesan, ceritanya berisi, berkualitas! Berkelas!

Oh iya, Nussa dan Rara sendiri adalah sepasang kakak-beradik. Nama mereka merupakan akronim dari Nusantara. Keren betul.

Nussa dan Rara - ayunafamily.com

Film yang muncul sejak bulan November tahun lalu ini telah sukses meraih lebih dari dua juta penonton loh. Saya sendiri gemas dengan tokoh Rara, suaranya imut-imut!

Buat yang penasaran, bisa subsribe ke official youtube-nya @nussaofficial atau follow ig-nya @nussaofficial yaa!

(Visited 72 times, 1 visits today)


4 thoughts on “BELAJAR MENJADI ORANG TUA DARI FILM NUSSA DAN RARA”

  • Saya suka Nussa dan Rara tapi belum pernah nonton episode yang Mbak Ajeng ceritain ini. Jangankan untuk nonton langsung, baca reviewnya aja udah sedih duluan, Mbak. Saya juga bangga bangsa kita punya film animasi anak yang bermutu baik secara visual maupun jalan cerita.

  • Di Indonesia masih jarang ya konten animasi anak yang sarat nilai agama, terima kasih buat Nussa dan Rara yang bisa jadi salah satu alternatif hiburan ´aman´ buat anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *