CINTA TANPA KATA PART 5 : CANTIK

Aufar merapikan buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, tangannya memijat tengkuk yang terasa pegal. Selesai dengan buku-buku dia memperhatikan tumpukan kertas kerja yang berisi soal-soal ujian dan jawaban.

Aufar terlahir sebagai seorang tuna wicara. Entah karena virus atau konsumsi makanan yang tidak baik atau apa pokoknya Aufar tidak bisa bicara. Pita suaranya bermasalah, begitu juga lidahnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar aneh sekali, seperti orang gagu. Dia samar-samar mengingat masa kecilnya, saat sang mama menyadari kalau dirinya tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun sampai usia tiga tahun, hanya suara-suara teriakan tidak jelas. Mereka membawanya ke dokter dan ahli tumbuh kembang, diperiksa berkali-kali dan vonis itu jatuh. Selamanya dia tak akan bisa bicara.

Syukurlah dia memiliki orang tua yang begitu sabar dan tegar, walau tak sempurna orang tuanya tetap memberikan cinta dan memfasilitasinya senormal semampu yang mereka bisa lakukan. Masa-masa kecilnya tidak begitu menyenangkan, anak-anak tetangga sering menghinanya. Si gagu, itulah salah satu panggilan yang disematkan padanya, selain anak keturunan jin. Ya, tak sedikit yang bilang kalau cacat yang diderita Aufar adalah karena gangguan makhluk halus, pemikiran menggelikan. Tidak tahan dengan gunjingan warga kampung yang tidak memiliki empati, orang tuanya mengambil keputusan untuk pindah ke kota besar yang memiliki fasilitas lengkap.

Mama memilih resign dan mengurus Aufar sendiri secara penuh. Aufar tak mampu mengungkapkan betapa dia mencintai sang mama, yang langsung mengambil kelas pelatihan komunikasi bahasa isyarat secara intensif. Mamanya juga mendatangkan seorang guru privat yang mengajarinya bahasa isyarat. Tak terhitung betapa seringnya Aufar tantrum karena tidak mampu berkomunikasi secara normal, namun mamanya tetap sabar. Sang papa juga tak kalah dalam usahanya menjalin komunikasi dengan Aufar. Lelaki itu selalu memeluknya, mengatakan betapa dirinya bersyukur mendapatkan Aufar, anak yang tampan dan sehat. Kebisuan bukanlah kesalahannya, itu hanya takdir. Kebisuan tak akan pernah menjadi halangan papa dan mama untuk mencintainya. Papa selalu menemaninya bermain lempar bola, layang-layang ataupun bersepeda layaknya hubungan ayah dan anak yang normal. Tak jarang papa mengajak Aufar ke kantor dan dengan bangga memperkenalkan Aufar ke kolega-koleganya.

Sungguh, semua usaha luar biasa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya mengikis habis rasa rendah diri Aufar. Cinta dan kasih sayang melimpah yang didapat membuatnya merasa berharga dan bahagia. Dia tahu tidak akan diterima di sekolah biasa sehingga memilih untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa saat SMP. Setelah beberapa tahun, beradaptasi serta membaur dengan sesama penderita tuna wicara hidupnya sejauh ini terasa normal. Sampai dia melihat gadis itu.

***

Aufar ingat saat gadis itu memperkenalkan diri, namanya Rania, kelas 2 SMA yang memilih penjurusan IPS. Aufar ingin menghindar, dia tidak terbiasa dengan perempuan. Yah, tentu saja dia mengenal beberapa perempuan di sekolahnya, sesama manusia yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan mereka ataupun guru-guru, tentu mudah untuk berkomunikasi karena mereka menguasai bahasa isyarat. Tapi Rania, demi Tuhan, dia seorang gadis normal. Kenapa seorang gadis yang mampu bicara, mendengar, berjalan, berlari dan melihat secara normal mau berbicara dan berteman dengannya?

Aufar merasa sangat kikuk, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rania. Dia tidak mau mengucapkan sepatah katapun, takut Rania akan mengerut ngeri dan langsung berlari menjauh saat mendengar cara bicaranya yang sangat aneh. Sudah cukup dia dianggap seorang weirdo saat kecil dulu. Dia tidak ingin mengulanginya lagi.

Tapi, well ini sangat aneh karena Rania tahu kekurangannya. Tahu dari mana? Oh ya, tukang foto kopi yang menjadi langganan murid-murid dua sekolahan. Gadis itu bahkan berusaha bicara pelan-pelan, menanyakan apakah dirinya mengerti atau tidak. Ya, pepatah mengatakan ketika kita mempunyai suatu kekurangan akan ada suatu kekuatan lain yang melengkapi. Aufar memiliki kemampuan untuk membaca gerak bibir dengan sangat baik. Sebuah kemampuan yang terbangun berkat usaha dan kerja keras tanpa lelah selama  bertahun-tahun.

Gadis itu menarik, Aufar mau tak mau harus mengakuinya. Tidak secantik gadis-gadis di majalah yang dijual tukang koran pinggir jalan tempatnya biasa menyetop angkot. Aura gadis itu, penuh semangat…

Aufar hanya bisa terpana saat melihat gadis itu tersandung dan langsung melakukan gerakan koprol depan. Dan saat dia mengulurkan tangan untuk membantunya, dia tak pernah menyangka akan menemukan sebuah wajah yang begitu…cantik.

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 4 : AWAL PERJUANGAN

Seorang gadis sedang fokus membaca sebuah artikel di laptopnya. Artikel itu membahas seluk-beluk tentang tuna rungu, mulai dari penyebab sampai cara berkomunikasi dengan mereka. Tangannya menggenggam sebuah pulpen dan notes kecil. Setiap kali ada hal yang menurutnya menarik dan penting pasti akan langsung dicatat olehnya. Rania tak pernah menyangka mempelajari hal-hal tentang Anak Berkebutuhan Khusus alias ABK ternyata sangat menyenangkan. Gadis itu sudah hampir dua jam menghadap laptop dan sampai saat ini belum merasa lelah. Namun, fokusnya sedikit terganggu ketika ada suara ketukan di pintu kamarnya.

Rania menunggu dan tersenyum melihat Bunda membuka pintu dan masuk sambil membawa baki di satu tangan.

“Anak mama sedang apa? Kok sepertinya sedang sibuk sekali?  Besok ada ujian-kah nak?” Tanya Bunda sambil meletakkan baki itu di nakas. Rania melirik ke arah roti bakar isi coklat-keju dan juga jus jeruk yang merupakan camilan favoritnya.

“Bunda kok tahu banget kalau Nia laper? Bunda hebat ih!” Celetuk Rania senang, dengan cepat dia mengambil roti bakar yang masih hangat itu lalu mengunyahnya pelan. Gadis itu sudah menyingkirkan laptop beserta catatannya ke samping lalu mengubah posisi duduknya, mendekat ke arah Bunda.

“Bunda?” Panggil Rania pelan, wajahnya tampak berpikir.

“Iya sayang?” Bunda mengelus rambut panjang Rania. Bagian tubuh yang sangat disukai oleh anak gadis semata wayangnya.

“Nia…” Rania menggigit bibirnya, pikirannya berkecamuk, bingung apakah harus jujur atau tidak kepada bundanya. Selama ini bunda adalah sahabatnya, Rania selalu menceritakan hampir segala hal kecuali… Kecuali tentang sebuah rasa yang baru akhir-akhir ini muncul. Sebuah rasa yang dipicu oleh kehadiran lelaki tuna rungu dengan pandangan mata teduh.

“Nia?” Bunda memiringkan kepala, pandangannya tampak bertanya.

Rania mengatur nafasnya. Setelah menghitung satu sampai tiga akhirnya dia memutuskan untuk berkata jujur. “Nia jatuh cinta bunda”

Rania mengamati bagaimana Bunda hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Rania hampir terkikik, merasa lucu dengan keadaan ini. Keadaan langka karena selama hidup baru kali Bunda terlihat seperti orang bingung yang kehabisan kata-kata.

“Bunda? Bunda? Haloo, Bunda, Nia ada disini, haloooo!” Rania menggerak-gerakkan tangan di depan wajah Bundanya.

“Eh, i..iya” Kata Bunda tergagap. Wanita paruh baya itu mengehela nafas lalu mengambil tempat di sebelah putrinya untuk duduk.

“Maafkan bunda, bunda kaget mendengar pengakuan Nia”

Rania terkekeh “Bunda ih sebegitu kagetnya denger Nia jatuh cinta”

Bunda mengelus rambut Rania lembut ” Iya, bunda kaget banget sayang, KAGET SEKALI. Nah, apa Bunda boleh tahu siapa lelaki yang bikin kamu jatuh ini?”

“Bunda enggak marah Rania jatuh Cinta?”

Bunda menggeleng “Kenapa Bunda harus marah? Jatuh cinta adalah hal yang lumrah, Bunda menikah dengan ayah kamu juga kan karena cinta” kata Bunda terdengar jahil.

Rania tersipu, dia tahu sekali bahkan di usianya yang sudah remaja, yah dan Ibunya masih sangat omantis dan terlihat saling mencintai.

“Orang ini unik Bunda. Dia..dia orang yang enggak biasa”

“Enggak biasa, maksud kamu gimana?”

Rania merasa khawatir kalau Bundanya tidak akan menerima dengan siapa dia jatuh cinta , “Nia ingin Bunda janji terlebih dulu. Nia pengen Bunda janji tidak menghina ataupun merendahkan orang ini. Apakah bunda mau berjanji?”

Bunda mengangguk, mengangsurkan jari kelingkingnya “Bunda janji”

Setelah yakin dengan ucapan bundanya Rania menghembuskan nafas lega ” Orang ini enggak bisa mendengar Bunda. Dia anak sekolah sebelah, Itu loh SMA SLB. Namanya Aufar”

Lalu kisah itu mengalir begitu saja dari mulut Rania. Rania menceritakan bagaimana Aufar yang begitu baik membantunya berdiri saat jatuh di saat orang-orang lain hanya diam saja dan mengejeknya. Aufar yang kata abang fotokopi anak yang ramah dan sopan serta rajin. Aufar yang memiliki pandangan mata paling meneduhkan jiwa. Aufar yang selalu cuek ketika dia mendekatinya. Aufar yang acuh tak acuh.

“Jadi itulah Bunda alasan kenapa Rania ingin sekali mempelajari semua hal tentang Tuna Rungu. Rania ingin bisa berkomunikasi dengan Aufar. Rania ingin berteman dengannya.” tutur gadis itu

“Bunda, Rania ingin kursus bahasa isyarat. Rania ingin ngobrol dengan Aufar dan itu salah satu cara yang paling memungkinkan. Boleh kan Bunda” Pinta Rania tiba-tiba

Bunda tertawa “Nak, bunda senang Nia mau berkata jujur. Masalah cinta, bukankah Ayah juga memiliki mata yang teduh?”

kali ini giliran Rania yang tertawa “Bunda! Ayah memang akan selalu menjadi cinta pertama Rania, tapi…Aufar…entah kenapa Rania merasa ingin lebih mengenal Aufar. Kalau Bunda khawatir nanti Rania jadi enggak fokus sekolah, Rania janji sekolah tetap jadi prioritas utama. Hanya, Rania ingin mempelajari ini Bunda. Rania menemukan sesuatu yang ingin sekali Rania lakukan. Boleh ya Bunda? Please-please-pleaseee!” Kali ini Rania mengatupkan kedua tangannya sambil memohon-mohon dan memasang puppy eyes.

Bunda tertawa lagi lalu mengacak rambut Rania “Nanti, bunda diskusikan dulu sama Ayah ya nak”

#onedayonepost #rania #aufar #tunarungu

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 3

“Aufar!” Seru Rania penuh semangat, akhirnya setelah behari-hari menunggu, mencari informasi dan menguntit layaknya burung hantu yang mengincar mangsanya gadis itu bisa menemukan orang yang ditunggunya.

Lelaki yang dipanggil Aufar itu menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan dia menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Dahinya mengernyit ketika melihat sosok gadis koprol yang dulu dibantunya berdiri kini sedang berlari mengejarnya. Aufar menghela nafas sesaat dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Hei tunggu dulu, Aufar! Aufar!” panggil Rania dengan suara terengah-engah karena habis berlari dan mencoba menjajari langkah Aufar. “Hei” Rania menarik-narik lengan kemeja orang yang mengacuhkannya.

Sekali lagi, langkah Aufar terhenti, dia menoleh ke arah Rania. Aufar sengaja memasang raut wajah kesal, tapi entah kenapa gadis di hadapannya justru tersenyum.

“Hai, kamu Aufar kan? Kenalkan, aku Rania!” Sahut gadis itu sambil mengulurkan tangan.

Aufar hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. Rania menggigit bibir, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

“Aufar. Aku. Rania.” Rania menengadah, memandang langsung ke arah bola mata yang kembali membuatnya terpana. “Maaf, apakah bicaraku terlalu cepat? Apakah kau kesulitan memahami kata-kataku?” Tanya Rania dengan hati-hati.

Ya, Rania mengetahui kalau Aufar adalah seorang tuna wicara. Rania sempat khawatir apakah itu artinya Aufar juga tuna rungu, tapi ternyata tidak. Pendengaran Aufar masih bagus, hanya sejak lahir memang ada kelainan pada pita suaranya. Sangatlah sulit bagi Aufar untuk mengeluarkan sebuah suara lirih sekalipun. Rania mengetahui hal itu dari anag tukang fotokopi yang tidak jauh dari sekolah mereka. Yah, seoang wanita muda yang sedang jatuh cinta lebih jago melakukan penelusuran dibanding detektif bukan?

Aufar hanya melambaikan tangannya, menyuruh Rania menjauh.

“Tidak, aku telah mencarimu berhari-hari dan aku tahu kau bisa mendengar ucapanku dengan baik, jadi jangan menghindar” kata Rania gigih. “Anggukan saja kepalamu kalau jawabannya ya dan menggelenglah kalau jawabannya tidak”

Aufar kembali menatap Rania sambil membetulkan letak ransel di punggungnya.

“Namamu Aufar kan?”

Lelaki itu mengangguk

“Aku Rania, kau masih mengingatku bukan?”

Lelaki itu mengangguk

“Maafkan aku, tapi aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah bersedia membantuku berdiri, menolongku sehingga terlihat tidak terlalu memalukan” Kata Rania tulus.

Lelaki itu tertegun sejenak kemudian mengangguk lagi. Rania yakin walau hanya sesaat tadi dia melihat sorot kelembutan dari mata Aufar. Hanya sesaat karena mata itu kembali menatapnya acuh tak acuh.

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh, bolehkah?”

Sebuah kernyitan muncul di dahi Aufar, dia menggeleng dan mengibaskan tangannya.

“Tidak, aku serius. Aku sungguh-sungguh ingin mengenalmu. Aku ingin menjadi temanmua. Ayo berteman”

#onedayonepost #tantangancerbung  #bingung #embuh #kacau

 

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 2 : MENGAMATI

“Kenapa harus jatuh cinta sama lelaki yang enggak sempurna gitu sih?”

Rania terlonjak kaget, dia menoleh ke samping dan menemukan Sasya yang sedang memiringkan kepala, mengamatinya. Rania merasa agak malu karena terpergok sedang melamun tadi.

“Siapa?” Rania balas bertanya. Bayangan seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh serta senyum mempesona kembali muncul di kepalanya.

“Kamu dan siswa SLB itu loh, sok banget pura-pura enggak tahu! Sahut Sasya kesal

Rania terkekeh “Apaan sih Sya, kok malah kamu yang jadi bete gitu. Lagian buatku, enggak penting dia sempurna secara fisik atau enggak”

Sasya hanya mendengus menanggapi jawaban Rania.

“Sya” Rania memanggil sahabatnya dengan lembut. “Jangan panggil dia siswa SLB Sya, dia punya nama. Namanya Aufar”

***

Butuh beberapa hari bagi Rania untuk mengetahui nama lelaki yang menyaksikannya koprol saat jatuh dulu. Ah, Rania sering membayangkan seandainya dia bisa melakukan sihir obliviate seperti dalam kisah Harry Potter. Rania mendadak menjadi tenar di sekolah gara-gara kejadian memalukan itu. Teman-temannya dengan tidak tahu malu mengonfirmasi kejadian tersebut lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Rania kesal setengah mati.

Hari itu adalah hari paling sial bagi Rania, selain terpaksa memakai baju sekolah karena kemeja putihnya kotor dan roknya robek, baju pinjaman dari sekolah ukurannya cukup mini. Rania terpaksa menahan diri menerima celetukan ataupun siulan teman-teman lelakinya karena penampilannya yang seperti model majalah porno. Untung saja Sasya berbaik hati meminjaminya jaket untuk menutupi tubuhnya yang terbalut ketat.

Sepulang sekolah Rania sengaja berlama-lama menunggu di depan gerbang, dia penasaran banget dengan lelaki yang membantunya berdiri tadi. Sayang sekali angin berhembus kencang, awan-awan mendung mulai muncul. Siang itu Rania terpaksa mundur, dia tidak ingin kehujanan. Bajunya sudah cukup ketat, apa jadinya kalau ditambah guyuran air hujan?

Saat Rania berjalan menjauhi gerbang  dia tidak menyadari kalau ada seorang lelaki dengan pandangan mata yang teduh juga keluar dari gerbang sekolah yang berbeda sambil menyampirkan tas ke bahunya. Lelaki itu memandang ke depan dan mengernyit saat melihat sosok seorang gadis yang tampak tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Gadis dengan kunciran kuda itu menarik-narik roknya ke bawah, berusaha menutupi lebih banyak kakinya yang terlihat dengan sia-sia. Lelaki itu menyandarkan sebelah bahunya ke tembok dan melipat tangan di depan dada, lalu…tersenyum…

 

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Rania lupa kapan saat pertama kali melihatnya. Yang dia ingat, saat itu dirinya sedang berlari terburu-buru mengejar gerbang sekolah yang akan segera ditutup. Rania terlalu sibuk melihat jam di tangannya sehingga saat kakinya tersandung sebuah batu cukup besar, dia tak sadar.

“Aaaarrgggghhhhh!!!” Jeritnya kaget ketika merasa tubuhnya melambung ke atas. Namun, dengan cekatan gadis itu mengubah momentum dan melakukan roll deepan. Kepala ditelengkupkan, tangannya memeluk lutut dan berputar.

Orang-orang yang berada di tempat kejadian menatap takjub. Waktu serasa berhenti saat Rania terduduk, bajunya kotor, rambutnya berantakan. Menyaksikan pemandangan itu orang-orang bertepuk tangan, beberapa siswa lelaki bersiul. Rania tertunduk malu.

Lalu tiba-tiba saja sebuah tangan terulur di depan wajah, membantunya berdiri. Rania mengamitnya, sambil menunduk dia menepuk-nepuk roknya yang kotor terkena debu dan tanah.

“Terima ka…” Kata-kata Rania terpotong saat menengadah dan menemukan sepasang mata yang luar biasa hitam dan teduh, bulu mata tebal dengan lengkungan sempurna serta bibir tipis yang kini tampak geli. Sadar dengan keterpanaannya, Rania berdehem.

“Terima…kasih…” Katanya canggung.

Lelaki di hadapannya tersenyum, namun tak membalas ucapan Rania. Tanpa kata, lelaki itu menunjuk rok Rania, ada robekan yang cukup besar disitu.

“Oh shit!” Rutuknya, dengan malu Rania langsung merapatkan kedua kaki serta roknya.

Ketika menengadahkan kepalanya lagi, lelaki itu sudah berlalu. Rania hanya bisa melihat punggungnya. Dia tertegun saat tahu bahwa lelaki itu masuk ke dalam gerbang Sekolah Luar Biasa. Lelaki itu…cacat…

#onedayonepost #cerbung #aarrggg #kacrut

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Hobi Suami yang Bikin Istri Gigit Jari

Assallammuallaikum wahai para istri solihah idaman suami masing-masing, dimanapun anda berada.Alohaaaa,  apa kabarnya? Pastinya alhamdulillah, luar biasa, allahuakbar kan ya? Yeeiii!

Eh, kamu dan kamu  para istri cantik yang sudah mandi atau belum, tanya dong, apakah suami kalian memiliki hobi? Punya? Alhamdulillah.

Kalau berdasarkan KBBI, kata Hobi memiliki arti : kegemaran, kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Saya sangat memahami kondisi spiritual istri ketika melihat suaminya sedang asyik dengan hobinya sendiri. Tenang kawan, kamu tidak sendirian , ihiks.

Nah, kali ini saya mau membahas beberapa hobi yang dimiliki oleh suami berdasarkan hasil pengamatan dan curhatan para istri baik di dunia nyata ataupun sosial media. Saya sangat mengerti bahwa kita semua butuh hobi. Hobi menjadi salah satu escape , cara kita melarikan diri dari rutinitas harian. Melakukan hobi, membuat kita menjadi lebih fresh, segar dan bahagia.

Layaknya seorang chef yang menabur garam pada sup. Terlalu banyak keasinan, terlalu sedikit rasanya hambar. Hal yang sama berlaku pada hukum melakukan hobi. Takaran yang pas adalah secukupnya. Hanya, hal tersebut kadang tidak mudah dilakukan. Apalagi kalau yang melakukan adalah makhluk bernama suami. Dimana khilaf adalah nama tengahnya.

Sudah ditinggal kerja dari senin-jumat, sejak pagi sampai malam. Berharap bisa sayang-sayangan atau sekedar ngobrol enak di kala weekend. Jebul, suaminya malah memilih untui melakukan hobinya sendiri tanpa mengajak anak-istri. Duh, itu bendungan katulampa kalah deh sama jebolnya air mata para istri.

Masih mending kalau hobinya juga sederhana, yang gratisan gitu misalnya. Masalahnya, enggak jarang hobi para suami itu mahal-mahal banget. Disinilah dilemanya istri, pengen sih mendukung suami dengan hobinya. Tapi kok harga sakuprit mainan hobi suami itu bisa untui uang belanja dua puluh satu hari ya? Bingung kan?

Kira-kira, apa saja sih hobi suami yang bisa bikin saya dan teman-teman semua gigit jari? Atau, minimal menggelundung sampai ke ostrali lah? Wkwkwkwkwk. Udahlah, langsung cekidot aja yuks :

1. Main Game di Handphone

Saya yakin teman-teman enggak asing dengan game semacam ML (Mobile Legend), CoC (Clash of Clans) ataupun Pokemon. Kadang bingung juga kenapa itu para bapak kepalanya bisa tertunduk khusuk kebawah, dikira lagi dzikir ternyata main game. Ya Allah bang, jangan bikin zonk ke aye napa?

Saya benci dia main game, lupa waktu, lupa keadaan, lupa kalau punya anak-istri. Lebih benci lagi kalau ada yang bilang gini “Masih mending main game, dirumah, kelihatan. Daripada kelayapan enggak jelas”

Hmmm… Kalimat yang rasanya enggak cocok deh buat dijadikan pembenaran. Faktanya, segala sesuatu yang berlebihan itu salah.

2. Futsal

Siapa disini yang suaminya suka banget main futsal? Ayok cuuunggggg!!

Iya, walaupun rasanya keren bingits punya suami yang hobi futsal, kalo tiap hari ditinggal buat mainan bola rasanya gimanaaaaa gitu. Belum lagi harga pernak-pernik olahraga yang satu ini terbilang cukup mahal. Walaupun bisa aja beli jersey KW tapi untuk sepatu harga enggak bisa bohong loh buibu, yakin deh.

Ini belum termasuk ketika pulang badan bau keringet, rambut lepek dan wajah kusam plus kresek isi baju kotor. Alamak, harap sabar buibu ini ujian! (sambil pencet hidung)

3. Koleksi Mainan

Mainan disini banyak macamnya ya, dan yakinlah bahwa “mainan” yang dimaksud tidak murah. Mari kita sebut dengan hotwheels, plarail, action figure dan masih banyak lagi. Untuk hobi yang ini kita harus benar-benar perhatian karena cameo “Beli mainan harga sejuta ngakunya seratus ribu” bukan isapan jempol belaka.

4. Memelihara Hewan

“Udah, kekepin terus itu aquariumnya!cium aja sekalian ikan cupangnya!”

atau

“Bujug, bersihin kandang burung jago amat yak, sekalinya disuruh bersihin pup anak ngeluhnya sakit perut”

Pernah dengar kalimat yang mmm…mirip-miriplah sama kalimat di atas? Emang nyebelin sih kalau suami udah fokus ke makhluk lain. Kita berasa jadi istri kedua, burung disayang-sayang dihibur-hibur. Kita? haaaahh…(mengehela nafas)

5. Membaca Buku

Dari sekian banyak hobi, rasa-rasanya hanya hobi ini yang terdengar smart, seksi dan suamiable banget. Ya enggak sih? Pernah lihat di Facebook kumpulan foto pria-pria nerd penyuka buku yang tampang dan penampilannya bikin kita auw-auw-auwww!!

Yak, itulah lima hobi yang kira-kira bisa bikin istri gigit jari. Saya sering bertanya-tanya dlam hati, coba para suami itu hobinya nyuci baju, beberes atau nganterin istrinya belanka ke pasar. Bahagia banget deh hidup kita. Wkwkwkwkwk

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Bali : Ketika Bertemu Orang Baik

Duh, Mumet!
Itu yg saya rasakan ketika sedang fokus mendulang cah ayu  saat  Yusuf bilang kalau “mah, tiket sudah dibeli”
(Warning! Tulisan ini akan panjang, jadi siap-siap loh ya)

Detik berikutnya muncul SS alias sreenshoot jadwal penerbangan untuk malam nanti jam 22.50
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk:

jam 21.00 kamu udah harus sampai bandara ya

Peh, paiitt! paiitt!! makjegagiik!! makbedunduk!!
Saat itu rasanya saya pengen ngelempar yusuf ke papan penggilesan dan nggiles dia bolak-balik sampai jadi remah-remah. Dan itu pun masih belum cukup.
Dia mah santai wae disana tinggal klik2 hape, yg disini udah keringet dingin mbayangin berbagai kerjaan yg harus diselesaikan : beberes rumah, packing, sounding ke yuan kalau bakal naik pesawat (karena dia trauma terbang entah gegera nonton apa), menyiapkan mpasi luna dan seabrek pekerjaan lain yang , intinya harus mengkondisikan semua hal beres dan rapi sebelum berangkat.

packingnya simpel aja mah, yg penting2 aja dibawa

Asli, saya ngambek berat waktu itu, kuezeell!!Suami saya tercinta, si Yusuf belum pernah dicocol pake sambel geledek kayaknya.
Lah, judulnya bawa toddler sama baby, apalagi Luna sedang mengonsumsi susu tambahan, ya nggak mungkin to kalau bawaan saya kurang dari seabreg-abreg? Grrrrrr…! (Keluar taring dan ekor)

Yaa.. salah saya juga sih, soalnya selama ini Yusuf kebanyakan tugasnya cuman tinggal ngancingin dan angkut2 koper doang. Nggak ngerti bahwa dalam proses pengepakan koper yg dipikirin sama ibu2 rempong macam saya ini banyak banget. Belum lagi prosesnya lama dan melelahkan. 


Anak-anak juga taulah kalau di bali mereka akan banyak bermain pasir dan air sehingga rasanya perlu deh baju anak2 dibawa agak banyakan, males banget bok kalo disana harus umbah-umbah. Walaupun janjane iso tuku, tapi sebagai traveler dadakan pemula yg kere, saya harus pinter2 ngatur keuangan kan? Terus, karena males kalau harus bawa Slow Cooker dan ubo rampe-nya, saya membeli Teddy’s chef rice salmon dan juga puree buahnya (jangan ditiru ya, maklum sejak hamil lagi semangat memasak apapun menurun drastis). Nah, saya hemat disatu sisi dan jebol di sisi lain karena Teddy’s chef iki regane luaraaaangg!

Setelah keriuhan dirumah, berangkatlah saya diantar Alvin di tengah hujan badai menuju bandara. Sesampainya di bandara, saya turun dan bersikap sok tegar, sok kuat, sok ho’oh.


“Nggak usah dianterin sampai ke dalem, insya allah aman”

Pokoknya setelah barang2 tersimpan rapi di trolley saya melaju masuk ke bagian keberangkatan. 

Alhamdulillah, disana banyak mas2 entah dari BC entah Angkasa Pura yg kepincut sama senyumnya Luna. Tentu saja hal itu langsung dimanfaatkan emaknya untuk nyuruh mereka angkut2 koper pasca pemeriksaan. Begitu juga saat check in, puas bangetlah sama air asia karena proses check in yang sangat simpel. 

Saya melirik jam, masih 2 jam menuju boarding. Lagi-lagi Alhamdulillah karena Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekarang sudah menyediakan playground. Anak-anak saya taruh disana, dan saya sendiri makan sego ayam goreng yg saya beli di deket rumah dengan harga murah meriah (jian kere tenan) sambil lesehan sambil njagain mereka, multitasking khas ibu-ibu.

Tibalah saat kami duduk manis di dalam pesawat dan hendak take off. Kalau mau jujur nih, saya sendiri deg2an setengah semaput karena udah lama banget nggak naik pesawat. Tapiiiiiii, as a mother i’m trying my best pokerface.

“Tenang ya Yuan, tenang ya Luna, nggak usah takut, kan ada mamah disini” kata saya dengan jumawa di luar, padahal jireh di dalam ???

Qadarullah penerbangan berjalan lancar walau diwarnai Yuan yg njerit2 ketakutan saat proses take off. Untung banget, orang yg duduk di barisan kami sangat baik sekali. Mbak ini membantu saya menenangkan Yuan, ngajak dia ngobrol. Masalah baru muncul ketika kami selamat mendarat di Ngurah Rai, Yuan Luna KO dengan sukses.setelah menyusun strategi sebentar. Saya bersabar, menunggu semua orang keluar dari pesawat kemudian meminta seorang mbak pramugari untuk menggendong Luna sementara saya mengatur Boba Air saya untuk posisi gendongan belakang. 


Saat saya hendak mengambil Luna kembali, ternyata bahkan kaptennya sudah keluar dr kokpit dan tampak gemas melihat bayi saya dalam gendongan si pramugari, saya sempet ngikik karena ekspresi si kapten ini lucu banget, hahahaha. 

Pada akhirnya saya dirubung dan dibantu oleh para awak kabin, Luna saya gendong belakang, tas saya slempang ke samping dan Yuan saya gendong di depan. Untung si Janin masih di dalam perut dan mau berbagi dengan kedua kakaknya. 

Ketika hendak beranjak si kapten sempet berdecak “Wah wah, ibunya jagoan” 

Saya hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih yg tulus pada mereka. Alhamdulillah saat mengambil bagasi Yuan terbangun dan mau duduk kembali di trolley

Akhirnya saya kembali bertemu Yusuf yang menyambut di pintu kedatangan. Awalnya sih pengen melancarkan aksi sebel, tapi yawislah.. Allah maha baik, emang berat sih jd single fighter saat berangkat tadi, tapi toh Alhamdulillah bisa dilalui juga dengan adanya bantuan-bantuan yg tak terduga. Lagian, harusnya saya bersyukur karena nggak semua suami mau mewujudkan impian istrinya, eaa eaaa.

Saya yg sudah ngerasa teler banget karena hampir tidak tidur sampai dini hari masih harus menahan kantuk dan menelan shock karena jarak lobby sampai ke kamar itu jauuuhhhhhnyooooo. Besoknya saya baru tau kalau itu hotel memang gede dan luas banget karena menyambung ke pantai langsung. Kamarnya enak, luas. Satu hal yang munkin nggak enak cuman klosetnya, nggak ada semprotannya yang bikin saya repot setengah mati saat mau cebok wkwkwkwk. Duuh, dasar udik, nggak bisa bertahan sama toilet dengan style yg aneh2 begini, hihihi.

Saat mengajak Yuan ke pantai saya udah ketakutan, takut dia bakal teriak-teriak “Aurat aurat, iihh auratnya keliatan” sama orang2 yg cuma pakai bikini dan bapak2 yg cuma pakai cangcut renang doang. Maklum, si Yuan ini emang sedang diajarin konsep aurat, lha wong kakeknya aja ditentang keras waktu pakai celana pendek di dalam rumah.

Aheeiii, secara keseluruhan saya meraaa enjoy banget di bali. Orangnya ramah-ramah, murah senyum. Iyes, traveling bener2 membawa hikmah yg banyak sih, apalagi dengan bantuan yg begitu banyak saya terima. Selain mengajarkan anak-anak tentang keindahan alam ciptaan Allah, dan kenyataan bahwa kita mah cuma butiran debu ditengah alam semesta ini, saya menyadari satu hal : Sebanyak apapun kebencian yang ditebarkan di dunia maya, tak ada yang dapat mengalahkan indahnya kebaikan-kebaikan di dunia nyata. FAITH IN HUMANITY : RESTORED

Pondok Aren, 16 April 2017

Tulisan ini saya ambil dari Facebook saya sendiri untuk #odedayoepost #travelling #bali
tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Kisah Lampy si Lampu Putih

Lampy selalu berkhayal tentang saat nanti dia akan dibeli oleh seseorang. Seperti yang selalu diributkan oleh teman-temannya yang lain. Aiden, si lampu biru bercerita bagaimana dirinya diproduksi secara khusus dan berharga lebih mahal dibanding lampu lainnya. Yama, si lampu kuning sering mengeluh kalau lampu sejenisnya kini mulai jarang digunakan karena nyalanya tak terang. Lain lagi dengan Roundy, si lampu lingkaran yang harus menguatkan diri karena nantinya dia akan dipasang di luar ruangan. Begitu banyak teman, begitu banyak penantian. Lampy mencintai tempat dimana dia tersimpan rapi bersama ratusan lampu lain yang menjadi temannya.

Lampy tak pernah menyangka kalau waktunya telah tiba. Seorang lelaki dan wanita muda berdiskusi tentang sesuatu di depan rak-nya sampai Lampy merasa digenggam dan ditaruh hati-hati di sebuah keranjang merah. Lampy kaget, dia menjerit dan mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya dengan sangat terburu-buru. Bye Aiden, bye Yama, bye Roundy …

***

Dari lantai, Lampy mengamati ruangan sekitar yang akan menjadi lingkungan tempatnya bekerja menghabiskan usia. Sebuah rumah mungil yang berisi sedikit barang. Bau cat tembok menyeruak tajam, membuatnya agak pusing. Si lelaki membuka kotak pembungkus dan meminta wanitanya untuk mengambilkan kursi. Bahkan sesaat sebelum naik, si lelaki menarik tangan wanitanya dan mengecup sekilas, membuat pipi wanita itu terkikik dan merona merah. Lampy tersenyum kecil ketika wanita itu berseru, “Hentikan Ryan,cepat pasang saja lampunya”

Ryan memutar-mutar sebuah lampu bohlam berwarna putih yang ada di tangannya ke dudukan lampu, setelah yakin terpasang sempurna dia melompat turun dan mengetuk saklar.

Lampy tak pernah menyangka kalau pertemuannya dengan listrik betul-betul terasa menyengat. Pada detik saklar dinyalakan dia berjengit dan tiba-tiba saja tubuhnya berubah menjadi sebuah sumber cahaya putih yang menyinari segeap ruangan mungil di bawahnya. Lampy tersenyum puas, saatnya bekerja telah tiba.

***

Setelah beberapa lama, Lampy makin terbiasa dengan kehadiran listrik. Tak lagi dia berjengit ketika listrik berjalan menghampirinya, menyalurkan energi tanpa batas. Dia menyukai atmosfer rumah ini. Nona Missy tak pernah lupa untuk mematikan saklar ketika pagi tiba, membuatnya bisa beristirahat, tidur sepanjang hari.

Suatu hari, Lampy memperhatikan perilaku nona Missy yang tampak aneh. Wanita itu berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan. Sesekali dia menarik-narik rambut sambil berteriak frustasi. Ada apakah gerangan? Tak biasanya nona Missy berlaku seperti itu. Dia wanita yang manis, suka bersenandung kecil ketika melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Nona Missy mudah merona, terutama saat suaminya melontarkan pujian-pujian kecil atau mengecup dan memeluk tiba-tiba. Saat itu, biasanya Lampy merasa jengah dan malu. Dia tidak ingin menyala terang ketika ada dua anak manusia sedang begitu khusuk bercumbu di bawahnya.

Nona Missy berlari ke arah kamar mandi, tak lama kemudian terdengar suara orang muntah yang begitu keras. Lampy khawatir, sangat khawatir. Apakah nona Missy sakit? Apakah Nona Missy akan meninggal? Ya Tuhan, tidak! Lampy adalah lampu yang penakut. Diaa tak bisa mengenyahkan cerita Roundy tentang rumah kosong yang kosong melompong, penuh kesedihan dan akhirnya dihuni makhluk-makhluk tak kasat mata. Lampy tidak menginginkannya!

Bertahanlah nona Missy, kau harus kuat! Kau harus sehat! Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini!

***

Ketika malam akhirnya tiba, Lampy merasa heran karena dirinya tidak dinyalakan. Ruangan menjadi sangat gelap. Lampy tak suka dengan kegelapan, bagaimanapun dia dibuat sebagai salah satu sumber cahaya.

Tak lama, suara motor yang amat dikenalnya tiba. Samar-samar Lampy melihat sosok Nona Missy berjalan dengan mengendap-endap. Begitu pelan, nyaris tanpa suara. Ah, ada apa lagi ini? Lampy tidak bisa berhenti berpikir.

Nona Missy berdiri di samping saklar lampu, menahan nafas agar tidak ketahuan. Lalu ketika pintu dibuka…

“KEJUTAN!!!!” Teriak Nona Missy. Ryan terlonjak karena kaget, lalu tersenyum melihat istrinya.

Lampy memperhatikan bagaimana Nona Missy menyerahkan suatu benda pipih panjang ke arah suaminya. Lampy betul-betul mengamati bagaimana Ryan tampak shock, lelaki itu tidak pernah shock, tidak selama Lampy bekerja di rumah itu.

Yang membuat Lampy terkejut, Ryan justru menggendong Nona Missy dan memutar-mutarnya, berteriak penuh kebahagiaan sampai keduanya ngos-ngosan. Ryan menengadahkan wajah dan tangan, tampak bersyukur. Setitik air mata tak luput dari penglihatan Lampy. Ada apa sesungguhnya ini?

“Aku akan menjadi ayah! Terima kasih Tuhan! Terima kasih Misi! Terimakasih Artemis-ku sayang, aku mencintai mu! Sangat!” Seru Ryan sambil meninju udara.

Lampy terkejut mendengar hal bahagia tersebut. Hatinya yang berdebar-debar berharap, semoga dia masih cukup kuat untuk bersinar sampai tangisan bayi nanti muncul

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Maaf

“Mbak Ajeng, sebulan berapa kalo bertengkar sama suami?”

Begitulah kira-kira pertanyaan kepo tetangga saya ketika kami sedang asyik mengikuti workshop yang diselenggarakan Blogger Perempuan Network.

“Hehehe, lah baru kemarin itu kami bertengkar, tapi langsung baikan lagi sih” jawab saya sambil nyengir.

Iya, pasangan suami-istri mana sih ya ng enggak pernah bertengkar coba? Apalagi saya dan Yusuf yang kepribadiannya berbeda banget. Walau kami sama-sama berjuang saling menurunkan standar supaya bisa ketemu di tengah-tengah namanya kres mah tetep bae. Lagian, bertengkar enggak selalu jelek kok, kadang malah bisa bikin hubungan makin lengket asal bisa menanggulanginya.

Pertengkaran kemarin disponsori oleh janji yang tak terlaksana. Yusuf berniat mengajak saya dan anak-anak makan hokben sepulang dia bekerja. Anak-anak sangat excited sampai-sampai mereka mau disuruh bobo siang dengan mudah. Namun, rrncana hanyalah rencana karena pada akhirnya Allah yang maha menentukan segalanya. Yusuf pulang jam sembilan malam, ngaret sampai tiga jam.

Kebayang kan kecewanya anak-anak? Dan juga saya.

Maka ketika dia pulang saya acuh tak acuh, saya menolak permintaan maafnya dan menampik uluran tangannya. Saya marah, saya kecewa. Saya benci ketika dia menguraikan alasan keterlambatannya… Saya menyuruhnya untuk berhenti bicara, dan saya…saya menangis…

Karena melihat saya menangis, Yusuf pun meletakkan Yuan yang tertidur di pangkuannya dan berjalan mendekati saya lalu memberikan pelukan yang sangat erat.

“Kamu kecewa banget ya mah, maaf ya..maaf, aku sendiri juga kecewa” kata dia, terdengar seperti membenci diri sendiri.

Kami berpelukan cukup lama, mencoba menurunkan emosi masing-masing. Saya menengadah, melihat wajahnya. Ada bulatan hitam yang cukup jelas di bawah kelopak matanya, tanda kurang tidur dan banyak pikiran. Matanya terlihat lelah, dan saat saya tanya sudah makan atau belum jawabannya adalah belum.

Mendadak saya diserang rasa malu dan berdosa yang amat sangat. Ya allah, suamiku ini…kasihan banget pulang kantor kok dimarah2in istrinya.

Maafkan aku ya suamiku, maaf…

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Ketika anak bertanya tentang penisnya yang lurus

LURUS

“Mah, itu si Yuan bilang kalau penisnya tiba-tiba kerasa geli terus jadi lurus” kata Yusuf tiba-tiba, dengan suara yang agak panik.

Saya tercenung
“Lah, emang kalian habis ngapain?” Tanya saya karena tahu ayah dan anak ini habis melakukan aktifitas berdua.

“Aku ngajakin Yuan nonton Final Fantasy bareng. Enggak ada yg aneh-aneh, cuman emang tokoh perempuannya pake celana pendek” jawab dia, saya mendeteksi ada nada meminta maaf dari ucapan Yusuf.

Saya muntab. Kesel! Rasanya pengen ngambil gada terus nggeprukin ke Yusuf berkali-kali atau njejelin cabe seratus biji ke kepalanya. What? Emang sih saya penggemar pasangan Yuna dan Tidus dari FF IX yang muncul di lagu Melodies Of Life. Tapi tapi tapi, mengajak anak umur lima tahun untuk menonton film yang saya tahu betul tokoh perempuannya berpakaian agak terbuka itu, itu..

antara Yusuf sudah bosan hidup, atau kangen saya omelin.

Namun alih-alih pergi ke tukang sayur untuk mewujudkan impian jejelin cabe ke suami saya tersayang, saya pergi menghampiri Yuan.

Saya peluk, saya elus rambutnya. Ya allah, anak yang dulu bayi sekarang sudah sebesar ini. Betapa cepat waktu berlalu?

“Abang, tadi ayah cerita katanya abang ngerasa penisnya geli ya?” Tanya saya lembut

Dia mengangguk dan menjawab dengan wajahnya yang polos ” Iya mah,tadi yuan lihat gambar perempuannya, terus penis yuan kerasa geli. Eh, jadi lurus, ihihihi”

Saya menghela nafas sambil terus mengelus rambutnya. Ya Allah, betapa saya seorang fakir ilmu, untuk kasus seperti ini saja saya masih bingung bagaimana cara menghadapinya. Alhamdulillah, sampai titik ini minimal kami tidak panik histeris.

Saya berpandang-pandangan dengan Yusuf. Setelah melakukan telepati akhirnya kami sepakat untuk menanyakan hal ini pada Bu Fithrie.

Malam harinya saya menanyakan hal tersebut pada si ibu

“Bu, kalimat apa ya yang kira-kira pas untuk menanggapi pengalamannya si Yuan?” Tanya saya setelah bercerita panjang lebar.

“Oh, kalau masalah itu sih ajeng tinggal katakan kalimat ini : Alhamdulillah, itu artinya Yuan adalah anak laki-laki yang sehat. Sudah, sampai situ saja” jawab si ibu, simple dan mudah dipahami, seperti biasa.

Ya allah, alhamdulillah tak lama saya kembali merecall kejadian tadi siang dan mengatakan bahwa Yuan adalah anak laki-laki yang sehat. Tanggapan Yuan? Oh dia tersenyum bahagia karena disebut anak laki-laki yang sehat. Sementara ini, _case closed_

Moral of the story-nya, ternyata kita sebagai orang tua jaman now sangat butuh belajar tentang sex education dan bagaimana cara menyampaikannya pada anak. Anak perlu kita bantu memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Dan kita perlu untuk berada di sampingnya, mendampinginya, meyakinkannya bahwa hal tersebut normal dan wajar.

Saya bersyukur Yuan tidak malu ataupun menolak untuk berbagi cerita tentang hal tersebut kepada saya ataupun ayahnya. Bagaimanapun, kami berdua berusaha sebisa mungkin untuk menjadi teman tempatnya berbagi. Ngeri banget kalau Yuan sampai menyembunyikan hal ini dan cerita ke temen2nya dan justru mendapatkan pemahaman yang salah.

Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Ini juga menjadi koreksi bagi Yusuf, karena dia adalah si tersangka utama. Hiiihhh, kesel! *Kemudian istighfar*

Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat untuk teman-teman semua terutama yang punya anak laki-laki.

Pondok Aren, 2 maret 2018

#parenting #sexeducation #saveourchild #blog #blogger

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂