CINTA TANPA KATA PART 10 : MAAF

Rindu? Apa itu rindu?

“Aufar, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ke sekolahku, menemuiku dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun? Tunggu, aku paham kalau kamu enggak bisa bicara tapi kita punya banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun tanpa harus dengan suara. Aufar, jawab? Kumohon, jawab pertanyaanku” Rania bertanya pada Aufar dengan wajah yang tampak sangat memelas.

mereka sudah berhenti berjalan. Kini mereka sedang berdiri besisian di sebelh sebuah pohon yang agak jauh dari gerbang sekolah Rania.

“Baiklah, aku akan ubah pertanyaanku. Yang perlu kamu lakukan hanya menggeleng atau mengangguk” Kata Rania penuh tekad, dia menatap tajam Aufar.

“Apakah kamu memang berencana untuk mengunjungiku?”

Aufar menggeleng

Rania terbata, menatap lelaki di hadapannya dengan takjub.

“Apakah karena ingin bertemu denganku?”

Aufar diam

“Aufar, jawab. Apakah kamu nekat masuk ke sekolahku, karena begitu ingin bertemu denganku?”

Rania memperhatikan raut wajah Aufar yang berubah gusar. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah kamu ingin melihatku karena sudh tiga hari tidak ketemu? Ya, aku menghitungnya Aufar, ini hari ketiga sejak aku terpergok melihatmu main basket kemarin” cecar Rania, pandangannya menyelidik.

Aufar mengacak rambutnya lalu menatap Rania tepat di matanya. Mata yang memancarkan pertanyaan dan juga kejujuran.

Aufar mengangkat bahunya, entahlah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Pikiran dan hatinya sepertinya sedang tidak mau bekerja sama dengan baik.

Bahu Rania turun, lunglai dengan jawaban dari Aufar. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali membenci lelaki di hadapannya yang tidak bisa menjawab dengan tegas. Rania…kecewa.

“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu. Aku membencimu Aufar, aku membencimu yang tidak mampu menjawab pertanyaanku dengan ketegasan. Kamu laki-laki Aufar, kamu seharusnya tahu betul dengan perasaanmu. Ini terakhir kali kita berbicara. Aku tidak mau menemuimu lagi, selamat tinggal” Kata Rania memuntahkan segala rasa yang menghimpit di dadanya. Rania mencegah bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh dengan membuang muka.

Tersentak dengan kata-kata Rania, Aufar sontak menahan lengan gadis itu, menahannya untuk pergi

“aaaaaaaa” Aufar membuka mulutnya, dia hendak mengatakan maaf tapi yang keluar hanyalah suara aneh tanpa arti.

Rania terkejut.

“Aufar?”tanyanya, mata Rania membulat

Dengan cepat Aufar mengambil handphone dan menuliskan sesuatu

Maaf Rania

 

CINTA TANPA KATA PART 9 : RINDU

Aufar berjalan melewati gerbang sekolahnya, menahan keinginan untuk sekedar menoleh ke kanan atau ke kiri. Atau sejujurnya, menoleh ke belakang. Hari ini hari Rabu, sudah tiga hari sejak latihan ujian selesai diadakan dia pulang sekolah tanpa gangguan sama sekali. Tal ada gadis dengan suara cempereng yang mendampinginya. Tak ada Rania.

Sialan gadis itu, membuatnya terbiasa dengan keberadaannya lalu pergi menghilang begitu saja. Sungguh perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Aufar mengingat tingkah gadis itu yang aneh. Hari terakhir latihan ujian, setelah dia main basket dia menemukan gadis itu berdiri di gerbang masuk, sedang memandanginya. Sesaat kemudian Rania tampak aneh, seperti gugup? Aufar awalnya menduga kalau gadis itu akan tersenyum dan mendekat, lalu mengobrol dengan gaya SKSD seperti biasa. Namun yang terjadi, gadis itu membalik badan dan berlari menjauh. Dia menghilang. Sampai detik ini Aufar tak melihatnya lagi. Kemana dia?

Apakah Rania sakit?

Ya Tuhan, rasa khawatir muncul di dada Aufar ketika pikiran itu datang. Namun hanya sekejap karena pikiran itu ia buang jauh-jauh. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan dan pikirannya menjadi amburadul hanya karena seorang gadis? Arrgghhh, Aufar ingin mengacak-acak rambutnya. Aufar ingin mendobrak masuk ke sekolah Rania, menggeledah kelasnya hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Aku betul-betul mulai gila” Aufar menyuarakan pikirannya dalam hati.

Aufar sudah mencapai ujung jalan tempat dia biasa menunggu angkotnya. Dia berdiri menunggu sambil terus berpikir, pandangannya tidak fokus.

“Ya Tuhan, aku sudah gila” Katanya kesal sambil berlari membelakangi arah kedatangan angkot, dia berjalan cepat ke warung fotokopi.

***

“Rania, Rania, hei Rania ada yang mencarimu!” Rania yang sedang sibuk menyapu dan membersihkan kelas menoleh ke arah teman yang memanggilnya.

“Siapa?” Tanya Rania acuh tak acuh

“Enggak tahu, cowok ganteng yang enggak mau ngomong samsek. Dia cuman nulis di buku, minta tolong carikan yang namanya Rania” jawab temannya sambil mengangkat bahu.

Rania menghentikan gerakan menyapunya. Jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban temannya. Dengan cepat dia memasukan sampah ke dalam pengki dan merapikan seragamnya. Cowok ganteng yang tidak mau bicara? Enggak mungkin, enggak mungkin banget…

Rania melangkahkan kakinya keluar kelas dan segera saja sebuah sosok yang beberapa ini dihindarinya muncul, berdiri di hadapannya.

Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan secara spontan “A, Aufar? Kamu lagi ngapain disini?”

Dengan cepat Aufar memindai Rania, betul-betul memperhatikan kondisi Rania dari atas sampai bawah. Setelah memastikan kalau gadis itu sehat, normal dan tidak kelihatan sakit sedikitpun lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aufar?Kamu, kamu ngapain ke sini?” Rania mengulang pertanyaannya lagi. Dia jengah melihat Aufar memperhatikan dirinya dengan begitu intens.

Aufar tidak menjawab sepatah katapun, setelah memindai sekali lagi dan yakin bahwa Rania dalam kondisi baik, Aufar berjalan pergi menjauhi Rania.

Rania amat sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ini? Kenapa Aufar tiba-tiba berani masuk ke dalam sekolahnya, mencarinya, menemuinya? Kenapa saat melihatnya tadi, pandangan Aufar seolah melahapnya bulat-bulat? Dan yang lebih geje, setelah semua hal aneh itu Aufar justru pergi lagi? Rania tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan Aufar?

Lelah memikirkan jawabannya sendiri, Rania mengambil tasnya dan bergegas mengejar Aufar.

“Apa kamu merindukanku?” Tanya Rania langsung begitu dia berhasil mengejar Aufar dan mengikuti langkahnya