CINTA TANPA KATA PART 7 : KOSONG

Aufar memandang ruang kelasnya yang sudah masih agak ramai. Hari ini hari terakhir latihan ujian, teman-temannya banyak yang tidak langsung pulang. Mungkin, seperti Aufar mereka ingin rehat sejenak dari kejenuhan harus belajar terus menerus. Belum lagi beratnya atmosfir ruangan saat latihan ujian diadakan tadi. Baru latihan saja sudah setegang ini, bagaimana besok saat ujian betulan?

Aufar yang sedang membereskan barang-barangnya menoleh saat merasa punggungnya ditepuk. Andi, salah satu teman sekelasnya nyengir. Lelaki itu membawa bola basket.

“Olahraga sebentar buat melepas penat yuk?” Ajaknya

Aufar balas menyengir dan langsung mengiyakan ajakan temannya itu. Dengan semangat mereka berdua berlarian di lorong. Aufar menarik bajunya keluar dari celana agar bisa bergerak dengan lebih nyaman. Di lapangan teman-teman yang lain ternyata sudah berkumpul. Yang menjadi wasit adalah Andra, seorang tuna rungu juga tuna wicara tapi memiliki penglihatan serta ingatan yang tajam.

Mereka bermain three on three. Enam orang berkumpul di tengah lapangan menempati posisinya masing-masing. Koin dilempar untuk menentukan bola berada di tangan pihak mana, Aufar menunduk, matanya berkonsentrasi penuh. Akhirnya peluit dibunyikan dan bola dilemparkan. Dengan cepat Aufar melompat dan memukul bola tersebut ke lantai. Bola yang memantul itu ditangkap oleh temannya, Aufar segera berlari ke depan,  berdempetan dengan lawan yang menempelnya. Sambil memberi kode, bola dilempar ke arah Aufar yang berada tak jauh dari ring. Aufar menangkap dengan sigap, berlari sebentar dan langsung melemparnya ke arah ring. Masuk! Poin untuk tim Aufar.

Pertandingan terus berlanjut selama kurang lebih lima belas menit sampai peluit panjang dibunyikan yang berarti babak pertama telah selesai. Keenam orang menyingkir dari lapangan, mengatur nafas dan minum air. Aufar menghapus keringat yang mengucur dengan lengan. Tak lama kemudian peluit kembali dibunyikan tanda ronde kedua akan segera dimulai. Aufar kembali ke lapangan dan kembali mempersiapkan diri.

Pertandingan berlangsung cukup intens, timnya dan tim lawan bergantian mencetak angka. Saat akhirnya peluit tanda selesainya babak kedua, timnya ternyata kalah tipis, hanya 3 angka. Aufar dan temantemannya tertawa, saling memuji dan memukul pundak. Aufar mengambil tempat di sudut lpangan untuk duduk dan meluruskan kakinya.

Olahraga dan keringat membuatnya bersemangat, pikirannya kembali menjadi lebih segar dan jernih. Selama beberapa hari ini dia terus menerus menenggelamkan dirinya untuk belajar. Aufar berjuang sangat keras mengalihkan pikirannya dari seorang gadis normal yang entah bagaimana memutuskan untuk belajar bahasa isyarat. Rania. Entah bagaimana nama gadis itu mulai menelusup ke dalam relung jiwanya. Nama itu kadang terlewat begitu saja tanpa ia sadari.

Selama dua hari berjalan pulang tanpa ada suara cempreng yang memanggil namanya, menjajari langkahnya, menceritakan kisah-kisah kesehariannya. Aufar merasakan sesuatu, sebuah kekosongan. Aufar berusaha menampiknya, bukankah harusnya ia bersyukur tak ada lagi Rania si pengganggu?

Tapi kenapa? Kenapa hatinya berkata lain?

Bagaimana mungkin hatinya tidak mau menurut dengan pikirannya?

Besok hari sabtu dan minggu, hari libur. Untuk dua hari ke depan dia masih tak akan melihat Rania. memikirkan hal itu membuatnya merasa tidak bersemangat. Apa yang sedang dilakukan gadis itu saat ini?

Aufar menutup matanya dan menggeleng kuat-kuat. Tiak, dia tidak boleh memikirkan gadis itu ataupun gadis manapun. Dia harus okus pada ujian kelulusan dan juga rencana-rencananya saat telah lulus nanti. Dia tidak membutuhkan gangguan apapun, walaupun gangguan itu adalah sesosok gadis yang cantik, menarik dan bersemangat.

Ketika Aufar mengacak rambutnya, Andi memandanginya.

“Ada apa?” tanyanya hanya dengan sebuah sorot mata.

Andi hanya mengendikkan dagunya ke arah gerbang. Aufar langsung menoleh ke balakang. Di sana, berdiri seorang gadis yang akhir-akhir ini menjadi pengganggu pikirannya. Rania.

#onedayonepost #aufar #rania #cerbung #berjuang

CINTA TANPA KATA PART 6

Aufar melongok, memeriksa dengan hati-hati keadaan dari arah samping gerbang sekolahnya. Beberapa hari ini dia merasa dikuntit oleh Rania. Baru juga berjalan dengan tenang, tau-tau ada tepukan di bahunya, Rania. Gadis itu selalu mengajaknya mengobrol namun Aufar selalu mengabaikannya. A

Dia tidak merasa nyaman dengan hal itu. Karena itu, dia memutuskan untuk menunda waktu pulang hari ini. Setelah dirasa aman, Aufar mengalungkan tas ke salah satu bahunya dan mulai berjalan.

“Aufaaaaarrrrrr!!!” Terdengar suara cempreng memanggilnya.

Aduh, Aufar mengenali suara itu, dia tidak mau berhenti dan langsung mempercepat langkahnya. Rania yang melihatnya di belakang langsung berlari tak kalah cepat, gadis itu meraih lengan Aufar, memaksanya berhenti.

Aufar menggeram. Namun tak urung, dia menghentikan langkahnya.

Gadis itu mengatur nafas, tangan kirinya memegang lengan Aufar erat, tak mengijinkannya pergi. Setelah nafasnya tidak lagi ngos-ngosan, dengan tangan kanannya yang bebas, Rania menggerakkan jari-jarinya.

Aufar tampak sangat terkejut “Kamu bisa bahasa isyarat?” Jawab Aufar reflek, dengan bahasa isyarat yang sama.

Rania tersenyum lebar, setelah sekian lama baru kali ini lelaki itu memberi respon. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya. Harapan muncul di hatinya, perasaannya melambung begitu tinggi. Kerja kerasnya untuk mempelajari bahasa isyarat terbayar. 

“Sedikit, aku sedang belajar” jawabnya mencoba rendah hati.  Rania kembali menggerakkan jari-jarinya. Dia berharap bahasa isyarat yang digunakannya tidak salah.

“Kamu?” Aufar menunjuk Rania dengan telunjuknya. “Belajar?”

Rania mengangguk, kembali membentuk pola dengan jari-jarinya “Ya, aku belajar Aufar. Aku belajar karena ingin berteman denganmu” Gadis itu balas menunjuk Aufar.

Untuk sesaat, tak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Aufar masih tercengang, kaget dengan apa yang telah diperbuat Rania kali ini. Belajar bahasa isyarat? Ya Tuhan. Pikirannya masih bekecamuk ketika  dengan pelan Aufar menarik tangan Rania yang mengait lengannya.

“Eh, maaf” katanya, tersipu malu

Aufar memandang gadis dengan pipi merona di hadapannya. Dia menghela nafas. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?” Tanyanya bingung dalam hati. Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali tidak tahu harus berkata apa.

Rania  terus mengamatinya, tersenyum kecil. Pandangannya jatuh ke arah buku-buku yang berada dalam genggaman tangan kiri Aufar.

“Kamu…mau ujian ya?” Tanyanya, kali ini tanpa bahasa isyarat.

Aufar mengangguk. Karena tak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi, dia memutar badannya dan kembali berjalan seperti biasa. Rania dengan cepat langsung mengambil posisi ikut berjalan di sampingnya, kembali mengoceh, bercerita tentang kesehariannya.

Tiba-tiba saja langkah Rania melambat, “Aufar, aku besok libur…kurang lebih tiga hari karena ruangan akan dipakai kakak-kakak kelas tiga untuk latihan ujian. Aku enggak masuk sekolah dan besok enggak akan bisa jalan bareng pas pulang kayak gini lagi” katanya sedih.

Aufar hanya menanggapi dengan diam, ekor matanya melirik  raut wajah Rania yang tampak sendu. Apakah gadis ini sedih karena selama beberapa hari ke depan tidak bisa bertemu dengannya lagi?

“Kamu juga kelas tiga kan? Mau ujian juga, baik-baik ya. Kamu harus semangat, aku tahu kamu pintar.”

Rania melihat sudut-sudut bibir Aufar sedikit terangkat, dia yakin kalau Aufar tadi tersenyum walau sekarang sudah kembali ke raut wajahnya yang semula. Hanya respon sekecil itu saja sudah membuat dirinya bahagia.

“Aufar, aku…aku akan menyebut nama kamu dalam doaku. Semoga kamu dimudahkan untuk ujian besok” katanya tulus sambil menatap Aufar dengan senyum termanisnya.

Tak beberapa lama kemudian, gadis itu menoleh ketika angkot yang menjadi langganannya sudah datang menghampiri. Dengan cekatan dia naik dan merapikan roknya. Dilihatnya dari celah jendela Aufar yang masih berdiri mematung, menatap angkot yang dinaikinya. Dengan berani Rania melambaikan tangan.

Entah ada malaikat lewat atau bagaimana, Rania melihat keajaiban. Lengan Aufar terangkat, dilihatnya Aufar sedang menggerakan jemari sambil terus menatapnya yang berjalan makin jauh.

“Terima kasih” kata Rania dengan bisikan, mengartikan bahasa isyarat dari Aufar. Hatinya melambung lagi, malam ini bisa dipastikan kalau mimpinya pasti indah.

 

#onedayonepost #cinta #bisu #unconditionallove #fiksi #cerbung