Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

Day: March 5, 2018

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Cinta Tanpa Kata : Perkenalan

Rania lupa kapan saat pertama kali melihatnya. Yang dia ingat, saat itu dirinya sedang berlari terburu-buru mengejar gerbang sekolah yang akan segera ditutup. Rania terlalu sibuk melihat jam di tangannya sehingga saat kakinya tersandung sebuah batu cukup besar, dia tak sadar. “Aaaarrgggghhhhh!!!” Jeritnya kaget ketika […]

Hobi Suami yang Bikin Istri Gigit Jari

Hobi Suami yang Bikin Istri Gigit Jari

Assallammuallaikum wahai para istri solihah idaman suami masing-masing, dimanapun anda berada.Alohaaaa,  apa kabarnya? Pastinya alhamdulillah, luar biasa, allahuakbar kan ya? Yeeiii! Eh, kamu dan kamu  para istri cantik yang sudah mandi atau belum, tanya dong, apakah suami kalian memiliki hobi? Punya? Alhamdulillah. Kalau berdasarkan KBBI, […]

Bali : Ketika Bertemu Orang Baik

Bali : Ketika Bertemu Orang Baik

Duh, Mumet!
Itu yg saya rasakan ketika sedang fokus mendulang cah ayu  saat  Yusuf bilang kalau “mah, tiket sudah dibeli”
(Warning! Tulisan ini akan panjang, jadi siap-siap loh ya)

Detik berikutnya muncul SS alias sreenshoot jadwal penerbangan untuk malam nanti jam 22.50
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk:

jam 21.00 kamu udah harus sampai bandara ya

Peh, paiitt! paiitt!! makjegagiik!! makbedunduk!!
Saat itu rasanya saya pengen ngelempar yusuf ke papan penggilesan dan nggiles dia bolak-balik sampai jadi remah-remah. Dan itu pun masih belum cukup.
Dia mah santai wae disana tinggal klik2 hape, yg disini udah keringet dingin mbayangin berbagai kerjaan yg harus diselesaikan : beberes rumah, packing, sounding ke yuan kalau bakal naik pesawat (karena dia trauma terbang entah gegera nonton apa), menyiapkan mpasi luna dan seabrek pekerjaan lain yang , intinya harus mengkondisikan semua hal beres dan rapi sebelum berangkat.

packingnya simpel aja mah, yg penting2 aja dibawa

Asli, saya ngambek berat waktu itu, kuezeell!!Suami saya tercinta, si Yusuf belum pernah dicocol pake sambel geledek kayaknya.
Lah, judulnya bawa toddler sama baby, apalagi Luna sedang mengonsumsi susu tambahan, ya nggak mungkin to kalau bawaan saya kurang dari seabreg-abreg? Grrrrrr…! (Keluar taring dan ekor)

Yaa.. salah saya juga sih, soalnya selama ini Yusuf kebanyakan tugasnya cuman tinggal ngancingin dan angkut2 koper doang. Nggak ngerti bahwa dalam proses pengepakan koper yg dipikirin sama ibu2 rempong macam saya ini banyak banget. Belum lagi prosesnya lama dan melelahkan. 


Anak-anak juga taulah kalau di bali mereka akan banyak bermain pasir dan air sehingga rasanya perlu deh baju anak2 dibawa agak banyakan, males banget bok kalo disana harus umbah-umbah. Walaupun janjane iso tuku, tapi sebagai traveler dadakan pemula yg kere, saya harus pinter2 ngatur keuangan kan? Terus, karena males kalau harus bawa Slow Cooker dan ubo rampe-nya, saya membeli Teddy’s chef rice salmon dan juga puree buahnya (jangan ditiru ya, maklum sejak hamil lagi semangat memasak apapun menurun drastis). Nah, saya hemat disatu sisi dan jebol di sisi lain karena Teddy’s chef iki regane luaraaaangg!

Setelah keriuhan dirumah, berangkatlah saya diantar Alvin di tengah hujan badai menuju bandara. Sesampainya di bandara, saya turun dan bersikap sok tegar, sok kuat, sok ho’oh.


“Nggak usah dianterin sampai ke dalem, insya allah aman”

Pokoknya setelah barang2 tersimpan rapi di trolley saya melaju masuk ke bagian keberangkatan. 

Alhamdulillah, disana banyak mas2 entah dari BC entah Angkasa Pura yg kepincut sama senyumnya Luna. Tentu saja hal itu langsung dimanfaatkan emaknya untuk nyuruh mereka angkut2 koper pasca pemeriksaan. Begitu juga saat check in, puas bangetlah sama air asia karena proses check in yang sangat simpel. 

Saya melirik jam, masih 2 jam menuju boarding. Lagi-lagi Alhamdulillah karena Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekarang sudah menyediakan playground. Anak-anak saya taruh disana, dan saya sendiri makan sego ayam goreng yg saya beli di deket rumah dengan harga murah meriah (jian kere tenan) sambil lesehan sambil njagain mereka, multitasking khas ibu-ibu.

Tibalah saat kami duduk manis di dalam pesawat dan hendak take off. Kalau mau jujur nih, saya sendiri deg2an setengah semaput karena udah lama banget nggak naik pesawat. Tapiiiiiii, as a mother i’m trying my best pokerface.

“Tenang ya Yuan, tenang ya Luna, nggak usah takut, kan ada mamah disini” kata saya dengan jumawa di luar, padahal jireh di dalam ???

Qadarullah penerbangan berjalan lancar walau diwarnai Yuan yg njerit2 ketakutan saat proses take off. Untung banget, orang yg duduk di barisan kami sangat baik sekali. Mbak ini membantu saya menenangkan Yuan, ngajak dia ngobrol. Masalah baru muncul ketika kami selamat mendarat di Ngurah Rai, Yuan Luna KO dengan sukses.setelah menyusun strategi sebentar. Saya bersabar, menunggu semua orang keluar dari pesawat kemudian meminta seorang mbak pramugari untuk menggendong Luna sementara saya mengatur Boba Air saya untuk posisi gendongan belakang. 


Saat saya hendak mengambil Luna kembali, ternyata bahkan kaptennya sudah keluar dr kokpit dan tampak gemas melihat bayi saya dalam gendongan si pramugari, saya sempet ngikik karena ekspresi si kapten ini lucu banget, hahahaha. 

Pada akhirnya saya dirubung dan dibantu oleh para awak kabin, Luna saya gendong belakang, tas saya slempang ke samping dan Yuan saya gendong di depan. Untung si Janin masih di dalam perut dan mau berbagi dengan kedua kakaknya. 

Ketika hendak beranjak si kapten sempet berdecak “Wah wah, ibunya jagoan” 

Saya hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih yg tulus pada mereka. Alhamdulillah saat mengambil bagasi Yuan terbangun dan mau duduk kembali di trolley

Akhirnya saya kembali bertemu Yusuf yang menyambut di pintu kedatangan. Awalnya sih pengen melancarkan aksi sebel, tapi yawislah.. Allah maha baik, emang berat sih jd single fighter saat berangkat tadi, tapi toh Alhamdulillah bisa dilalui juga dengan adanya bantuan-bantuan yg tak terduga. Lagian, harusnya saya bersyukur karena nggak semua suami mau mewujudkan impian istrinya, eaa eaaa.

Saya yg sudah ngerasa teler banget karena hampir tidak tidur sampai dini hari masih harus menahan kantuk dan menelan shock karena jarak lobby sampai ke kamar itu jauuuhhhhhnyooooo. Besoknya saya baru tau kalau itu hotel memang gede dan luas banget karena menyambung ke pantai langsung. Kamarnya enak, luas. Satu hal yang munkin nggak enak cuman klosetnya, nggak ada semprotannya yang bikin saya repot setengah mati saat mau cebok wkwkwkwk. Duuh, dasar udik, nggak bisa bertahan sama toilet dengan style yg aneh2 begini, hihihi.

Saat mengajak Yuan ke pantai saya udah ketakutan, takut dia bakal teriak-teriak “Aurat aurat, iihh auratnya keliatan” sama orang2 yg cuma pakai bikini dan bapak2 yg cuma pakai cangcut renang doang. Maklum, si Yuan ini emang sedang diajarin konsep aurat, lha wong kakeknya aja ditentang keras waktu pakai celana pendek di dalam rumah.

Aheeiii, secara keseluruhan saya meraaa enjoy banget di bali. Orangnya ramah-ramah, murah senyum. Iyes, traveling bener2 membawa hikmah yg banyak sih, apalagi dengan bantuan yg begitu banyak saya terima. Selain mengajarkan anak-anak tentang keindahan alam ciptaan Allah, dan kenyataan bahwa kita mah cuma butiran debu ditengah alam semesta ini, saya menyadari satu hal : Sebanyak apapun kebencian yang ditebarkan di dunia maya, tak ada yang dapat mengalahkan indahnya kebaikan-kebaikan di dunia nyata. FAITH IN HUMANITY : RESTORED

Pondok Aren, 16 April 2017

Tulisan ini saya ambil dari Facebook saya sendiri untuk #odedayoepost #travelling #bali