Kisah Lampy si Lampu Putih

Lampy selalu berkhayal tentang saat nanti dia akan dibeli oleh seseorang. Seperti yang selalu diributkan oleh teman-temannya yang lain. Aiden, si lampu biru bercerita bagaimana dirinya diproduksi secara khusus dan berharga lebih mahal dibanding lampu lainnya. Yama, si lampu kuning sering mengeluh kalau lampu sejenisnya kini mulai jarang digunakan karena nyalanya tak terang. Lain lagi dengan Roundy, si lampu lingkaran yang harus menguatkan diri karena nantinya dia akan dipasang di luar ruangan. Begitu banyak teman, begitu banyak penantian. Lampy mencintai tempat dimana dia tersimpan rapi bersama ratusan lampu lain yang menjadi temannya.

Lampy tak pernah menyangka kalau waktunya telah tiba. Seorang lelaki dan wanita muda berdiskusi tentang sesuatu di depan rak-nya sampai Lampy merasa digenggam dan ditaruh hati-hati di sebuah keranjang merah. Lampy kaget, dia menjerit dan mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya dengan sangat terburu-buru. Bye Aiden, bye Yama, bye Roundy …

***

Dari lantai, Lampy mengamati ruangan sekitar yang akan menjadi lingkungan tempatnya bekerja menghabiskan usia. Sebuah rumah mungil yang berisi sedikit barang. Bau cat tembok menyeruak tajam, membuatnya agak pusing. Si lelaki membuka kotak pembungkus dan meminta wanitanya untuk mengambilkan kursi. Bahkan sesaat sebelum naik, si lelaki menarik tangan wanitanya dan mengecup sekilas, membuat pipi wanita itu terkikik dan merona merah. Lampy tersenyum kecil ketika wanita itu berseru, “Hentikan Ryan,cepat pasang saja lampunya”

Ryan memutar-mutar sebuah lampu bohlam berwarna putih yang ada di tangannya ke dudukan lampu, setelah yakin terpasang sempurna dia melompat turun dan mengetuk saklar.

Lampy tak pernah menyangka kalau pertemuannya dengan listrik betul-betul terasa menyengat. Pada detik saklar dinyalakan dia berjengit dan tiba-tiba saja tubuhnya berubah menjadi sebuah sumber cahaya putih yang menyinari segeap ruangan mungil di bawahnya. Lampy tersenyum puas, saatnya bekerja telah tiba.

***

Setelah beberapa lama, Lampy makin terbiasa dengan kehadiran listrik. Tak lagi dia berjengit ketika listrik berjalan menghampirinya, menyalurkan energi tanpa batas. Dia menyukai atmosfer rumah ini. Nona Missy tak pernah lupa untuk mematikan saklar ketika pagi tiba, membuatnya bisa beristirahat, tidur sepanjang hari.

Suatu hari, Lampy memperhatikan perilaku nona Missy yang tampak aneh. Wanita itu berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan. Sesekali dia menarik-narik rambut sambil berteriak frustasi. Ada apakah gerangan? Tak biasanya nona Missy berlaku seperti itu. Dia wanita yang manis, suka bersenandung kecil ketika melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Nona Missy mudah merona, terutama saat suaminya melontarkan pujian-pujian kecil atau mengecup dan memeluk tiba-tiba. Saat itu, biasanya Lampy merasa jengah dan malu. Dia tidak ingin menyala terang ketika ada dua anak manusia sedang begitu khusuk bercumbu di bawahnya.

Nona Missy berlari ke arah kamar mandi, tak lama kemudian terdengar suara orang muntah yang begitu keras. Lampy khawatir, sangat khawatir. Apakah nona Missy sakit? Apakah Nona Missy akan meninggal? Ya Tuhan, tidak! Lampy adalah lampu yang penakut. Diaa tak bisa mengenyahkan cerita Roundy tentang rumah kosong yang kosong melompong, penuh kesedihan dan akhirnya dihuni makhluk-makhluk tak kasat mata. Lampy tidak menginginkannya!

Bertahanlah nona Missy, kau harus kuat! Kau harus sehat! Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini!

***

Ketika malam akhirnya tiba, Lampy merasa heran karena dirinya tidak dinyalakan. Ruangan menjadi sangat gelap. Lampy tak suka dengan kegelapan, bagaimanapun dia dibuat sebagai salah satu sumber cahaya.

Tak lama, suara motor yang amat dikenalnya tiba. Samar-samar Lampy melihat sosok Nona Missy berjalan dengan mengendap-endap. Begitu pelan, nyaris tanpa suara. Ah, ada apa lagi ini? Lampy tidak bisa berhenti berpikir.

Nona Missy berdiri di samping saklar lampu, menahan nafas agar tidak ketahuan. Lalu ketika pintu dibuka…

“KEJUTAN!!!!” Teriak Nona Missy. Ryan terlonjak karena kaget, lalu tersenyum melihat istrinya.

Lampy memperhatikan bagaimana Nona Missy menyerahkan suatu benda pipih panjang ke arah suaminya. Lampy betul-betul mengamati bagaimana Ryan tampak shock, lelaki itu tidak pernah shock, tidak selama Lampy bekerja di rumah itu.

Yang membuat Lampy terkejut, Ryan justru menggendong Nona Missy dan memutar-mutarnya, berteriak penuh kebahagiaan sampai keduanya ngos-ngosan. Ryan menengadahkan wajah dan tangan, tampak bersyukur. Setitik air mata tak luput dari penglihatan Lampy. Ada apa sesungguhnya ini?

“Aku akan menjadi ayah! Terima kasih Tuhan! Terima kasih Misi! Terimakasih Artemis-ku sayang, aku mencintai mu! Sangat!” Seru Ryan sambil meninju udara.

Lampy terkejut mendengar hal bahagia tersebut. Hatinya yang berdebar-debar berharap, semoga dia masih cukup kuat untuk bersinar sampai tangisan bayi nanti muncul

Maaf

“Mbak Ajeng, sebulan berapa kalo bertengkar sama suami?”

Begitulah kira-kira pertanyaan kepo tetangga saya ketika kami sedang asyik mengikuti workshop yang diselenggarakan Blogger Perempuan Network.

“Hehehe, lah baru kemarin itu kami bertengkar, tapi langsung baikan lagi sih” jawab saya sambil nyengir.

Iya, pasangan suami-istri mana sih ya ng enggak pernah bertengkar coba? Apalagi saya dan Yusuf yang kepribadiannya berbeda banget. Walau kami sama-sama berjuang saling menurunkan standar supaya bisa ketemu di tengah-tengah namanya kres mah tetep bae. Lagian, bertengkar enggak selalu jelek kok, kadang malah bisa bikin hubungan makin lengket asal bisa menanggulanginya.

Pertengkaran kemarin disponsori oleh janji yang tak terlaksana. Yusuf berniat mengajak saya dan anak-anak makan hokben sepulang dia bekerja. Anak-anak sangat excited sampai-sampai mereka mau disuruh bobo siang dengan mudah. Namun, rrncana hanyalah rencana karena pada akhirnya Allah yang maha menentukan segalanya. Yusuf pulang jam sembilan malam, ngaret sampai tiga jam.

Kebayang kan kecewanya anak-anak? Dan juga saya.

Maka ketika dia pulang saya acuh tak acuh, saya menolak permintaan maafnya dan menampik uluran tangannya. Saya marah, saya kecewa. Saya benci ketika dia menguraikan alasan keterlambatannya… Saya menyuruhnya untuk berhenti bicara, dan saya…saya menangis…

Karena melihat saya menangis, Yusuf pun meletakkan Yuan yang tertidur di pangkuannya dan berjalan mendekati saya lalu memberikan pelukan yang sangat erat.

“Kamu kecewa banget ya mah, maaf ya..maaf, aku sendiri juga kecewa” kata dia, terdengar seperti membenci diri sendiri.

Kami berpelukan cukup lama, mencoba menurunkan emosi masing-masing. Saya menengadah, melihat wajahnya. Ada bulatan hitam yang cukup jelas di bawah kelopak matanya, tanda kurang tidur dan banyak pikiran. Matanya terlihat lelah, dan saat saya tanya sudah makan atau belum jawabannya adalah belum.

Mendadak saya diserang rasa malu dan berdosa yang amat sangat. Ya allah, suamiku ini…kasihan banget pulang kantor kok dimarah2in istrinya.

Maafkan aku ya suamiku, maaf…