HAL SEDERHANA UNTUK IBU BAHAGIA

Tak bisa dipungkiri bahwa menjadi seorang Ibu membawa kita pada sebuah pekerjaan yang tidak ada habisnya. Cak Lontong pernah berkata “beratnya pekerjaan seorang ibu itu ngalah-ngalahin presiden”. Iya sih setuju, soalnya menjadi presiden kan ada batas waktunya, lima tahun. Nah, menjadi ibu itu batas waktunya sampai kematian datang menjemput alias sampai akhir usia.

Continue reading “HAL SEDERHANA UNTUK IBU BAHAGIA”

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

EMPAT TIPE KEPRIBADIAN MANUSIA

kepribadian manusia

Duh, begini amat yak rasanya jadi orang dengan tipe kepribadian sanguins yang punya suami plegmatis

-Madam A-

Kepribadian

Apa itu kepribadian? Yang enggak tahu ngacung dong, Madam juga enggak tahu soalnya, wkwkwkwk. Kalau menurut KBBI daring, kepribadian adalah hak untuk menggunakan harkat martabat manusia (jiwa, tubuh, kehormatan) dengan leluasa. Wow, penjelasannya sungguh sangat khas babang Ivan Lanin yaaa. 

Saya baru tahu kalau di dunia ini ada empat tipe kepribadian manusia. Sebelumnya, mohon maaf  Madam bukan ahli psikologi. Madam hanya sempat mempelajari sedikit sekali tentang hal ini ketika mengikuti kelas parenting serta konsultasi pribadi dengan   Ibu Safithrie Sutrisno.

Madam begitu tertarik dan penasaran.  Alasannya jelas, Madam bingung kenapa bisa berjodoh dengan makhluk yang secara kepribadian berbeda 180derajat. Dia kasih pelet khusus atau gimana sih, atau karena memang…cinta… Eciyeee, cintaaahhh! *siapinbaskombuatmuntah*

Berdasarkan informasi yang Madam peroleh, keempat tipe kepribadian itu adalah : Sanguinis, Melankolis, Koleris dan Plegmatis.

empat tipe kepribadian manusia
kepribadian manusia itu macam-macam loh!

Ngg… Berasa masih asing banget di kuping ya dengernya?Memang sejauh ini yang Madam sering dengar adalah kata melankolis. Biasanya istilah melankolis itu nyambungnya ke masalah perasaan. Kayak abis denger lagu dangdut koplo terus merasa diri melankolis gitu, bah!

Nah, sebelum pada makin bingung, kuy kita coba bedah satu-satu. Kalian juga boleh ngira-ngira sendiri, berdasarkan ciri-ciri yang dipaparkan  kita masuk ke dalam tipe kepribadian yang mana sih? Nggak boleh denial ya, harus jujur. 

Tipe Kepribadian Sanguinis


Kekuatan : Suka bicara. Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Ceria dan penuh rasa ingin tahu. Hidup di masa sekarang. Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan). Berhati tulus dan kekanak-kanakan. Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara). Umumnya hebat di permukaan. Mudah berteman dan menyukai orang lain. Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian. Menyenangkan dan dicemburui orang lain. Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam). Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan. Menyukai hal-hal yang spontan.

Kelemahan :
Suara dan tertawa yang keras (bahkan terlalu keras). Membesar-besarkan suatu hal / kejadian. Susah untuk diam. Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka ikutan Gank). Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele. RKP (Rentang Konsentrasi Pendek) alias pelupa. Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias). Mudah berubah-ubah. Susah datang tepat waktu jam kantor.
Prioritas kegiatan kacau. Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas. Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya. Egoistis alias suka mementingkan diri sendiri. Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama.Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.

Nah, dari uraian di atas, dengan bangga Madam akan bilang kalau Madam masuk ke dalam tipe kepribadian yang ini. Bahkan, sejak awal Bu Fithrie sudah mengatakan kalau Madam ini sanguins banget. 

Tapi emang sih, teman-teman sering bilang kalau Madam ini orangnya happy dan bisa menghidupkan suasana. Madam emang suka buat ramai dan ribut (terkecuali saat nganu) sampai terkadang bikin orang sebel.   Madam cukup sering dibilang urakan karena kalau ngomong kayak pake TOA. Orang sanguin itu, berbisik aja pasti tetanga sebelah denger, wakakaka.

Madam tipe yang suka berinisiatif dan banyak ide, tapi lemah di bagian eksekusi. Madam juga gampang banget dibikin bahagia. Bayangkan, dibagi permen sama anak aja terharunya enggak ketulungan. Pokoknya hampir semua kelebihan dan kelemahan yang disebutin di atas sesuai dengan kepribadian Madam. Katanya sih, katanya loh ya, hal inilah yang menjadi salah satu alasan Yusuf jatuh cintrong sama Madam *eaaakkk

Baik, coba kita cek  tipe kepribadian yang lain ya.

Tipe Kepribadian Melankolis

Kekuatan :
Analitis, mendalam, dan penuh pikiran.Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal. Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis). Sensitif. Mau mengorbankan diri dan idealis. Standar tinggi dan perfeksionis. Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi). Hemat. Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif). Kalau sudah mulai, dituntaskan. Berteman dengan hati-hati. Puas di belakang layar, menghindari perhatian. Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi. Sangat memperhatikan orang lain.

Kelemahan :
Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan). Mengingat yang negatif & pendendam. Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah. Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan. Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah. Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan. Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan. Hidup berdasarkan definisi. Sulit bersosialisasi (cenderung pilih-pilih).Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya. Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang). Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian). Memerlukan persetujuan.

Saya punya tean dengan tipe kepribadian  melankolis sempurna. Dia itu,  sebelum memasukan uang ke dalam dompet, uangnya akan dirapikan dulu. Setelahnya, baru kemudian dimasukan dengan susunan yang begitu teratur,  dari merah ke biru ke abu-abu. Dia juga enggak bisa melihat pigura yang menyerong sesenti saja, pasti deh langsung dibenerin. Begitu juga saat menjemur pakaian, dengan telaten baju kecil-kecil ditaruh bagian depan, diberi jarak lima senti, di bagian tengah untuk  kaos. Terakhir, paling belakang adalah kemeja dan baju-baju dewasa. Menata baju? Wow, baju ditata sesuai warna dan jenisnya.  Sangat rapi.

Yakinlah, bekerja sama dengan orang melankolis ini menyenangkan karena mereka biasa memastikan bahwa semua hal telah siap dengan sempurna, hihihi. Oh iya, mereka juga selalu memastikan diri untuk mengenakan busana yang paripurna. Saat blanja di tukang sayur, kadang saya masih pake baju tidur, belum mandi, masih bau asi dan bawang. Sedangkan teman saya ini sudah cantik wangi dengan gamisnya. Bukan lebay, tapi memang hal ini sudah menjadi standar mereka kok.

Dalam tahap ekstrim, orang melankolis ini bahkan  selalu tergerak untuk merapikan rumah orang lain, kesel lihat berantakan soalnya. Wkwkwkwk.

TIPE KEPRIBADIAN KOLERIS


Kekuatan :
Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif. Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan. Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target. Bebas dan mandiri. Berani menghadapi tantangan dan masalah. “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat. Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas. Membuat dan menentukan tujuan. Terdorong oleh tantangan dan tantangan. Tidak begitu perlu teman. Mau memimpin dan mengorganisasi. Biasanya benar dan punya visi ke depan. Unggul dalam keadaan darurat.

Kelemahan :
Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis). Senang memerintah. Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai. Menyukai kontroversi dan pertengkaran. Terlalu kaku dan kuat/ keras. Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik. Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci. Sering membuat keputusan tergesa-gesa. Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain. Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan. Workaholics (cinta mati dengan pekerjaan). Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf. Mungkin selalu benar tetapi tidak populer.


Nah, hayo-hayo siapa disini yang merasa kepribadiannya koleris? Kalau saya lihat sih rata-rata mereka yang selalu kepengen memimpinlah yang punya kepribadian ini. Contohnya si anu dan si inu, buahahahaha. Padahal jadi pemimpin itu tanggung jawabnya berat ye kan? 

Beberapa hari ini saya  banyak membaca-baca tentang profesi ranger, orang yang bertugas menjadi pemandu ataupun penjaga di Taman Nasional Komodo. Orang koleris sangat cocok dengan profesi ini, harus keras soalnya kadang ada wisatawan yang ble’e dan menganggap remeh masalah keamanan.  Satu lagi, orang dengan tiipe kepribadian koleris sangat sulit ditindas.

Kepribadian ini saya temukan pada Yusuf juga sih, walau enggak dominan. Dia itu meski ble’e tapi prinsipnya  kuat dan enggak mudah goyah. Ya sekali dua kali masih mau diajak kompromi. Tetep aja dia mah seringnya  menjadi  Raja Tega

Oke, the last one

TIPE KEPRIBADIN PLEGMATIS

Kekuatan :
Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh. Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik. Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana. Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi). Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi. Penengah masalah yg baik. Cenderung berusaha menemukan cara termudah. Baik di bawah tekanan. Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan. Rasa humor yg tajam. Senang melihat dan mengawasi. Berbelaskasihan dan peduli.
Mudah diajak rukun dan damai.

Kelemahan :
Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru. Takut dan khawatir. Menghindari konflik dan tanggung jawab. Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar). Terlalu pemalu dan pendiam. Humor kering dan mengejek (Sarkatis). Kurang berorientasi pada tujuan.
Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri. Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat. Tidak senang didesak-desak. Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

Hmm… yang bisa menjadi contoh untuk tipe kepribadian ini adalah suami Madam sendiri. Dia itu dominan plegmatis. Banget. Ekspresi wajahnya datar, enggak bisa ditebak apakah sedang marah, sedih atau senang. Orangnya agak pemalas dan enggak sigap. Suami saya tipe yang bisa tidur di mana saja. Pernah rumah dalam kondisi berantakan total, dia hanya memindahkan sedikit barang-barang yang ada di atas kasur untuk kemudian tidur dengan damai. Orangnya ngalahan karena memang tidak suka berkonflik.

Oh iya, saya dan Yusuf sering sekali berbeda. Terkadang, perbedaan itu membawa masalah tersendiri bagi hubungan kami. selengkapnya simak di postingan istri sanguinis, suami plegmatis

Orang plegmatis itu lumayan gampang terdistraksi fokusnya. Niat awal mau mandi, ngambil handuk lihat kok kayak ada buku yang menarik? Ujung-ujungnya baca buku dulu dan enggak jadi mandi. Adakah yang sering begitu? Nyebelin banget enggak sih bosque ? kekekeke

MANFAAT MEMAHAMI TIPE-TIPE KEPRIBADIAN

Nah, bagaimana teman-teman? Sudah bisa menebak belum kita ini masuk ke dalam tipe kepribadian yang mana? Ada orang yang memiliki empat tipe kepribadian, ada yang tiga ataupun dua. Biasanya sih kombinasi walaupun selalu ada satu tipe  yang dominan.

Saya inget betul bagaimana Bu Fithrie menebak tipe kepribadian anggota kelas satu persatu. Dari belasan orang ada satu yang tidak bisa beliau tebak. Orang ini bisa dibilang kepribadiannya tidak terbaca. Sanguin bukan, melankolis kayaknya kok enggak, koleris dan plegmatis juga tidak. Hal ini bisa terjadi akibat kesalahan POLA ASUH orang tua.

Sering kan kita mendengar cerita kalau si A dulu begini sekarang berubah jadi begitu? Biasanya sih orang-orang sanguin itu yang kena. Kenapa? Karena tipe kepribadian sanguins paling mudah dihancurkan. Wiihh, serem ya?

empat tipe kepribadian
berbeda tak mengapa, yang penting tetap berteman!

Mengetahui tipe-tipe kepribadian ternyata membantu Madam untuk memahami pola komunikasi yang baik dalam kehidupan rumah tangga ataupun lingkup yang lebih besar loh. Madam jadi tahu, kalau berhadapan dengan orang dengan tipe kepribadian ini berarti kita harus… ya begitulah pokoknya. Intinya, jadi tahu harus bagaimana bersikap dan membawa diri. 

Nah, coba dong Madam pengen tahu kalau dari penjelasan di atas, kalian masuk tipe kepribadian yang mana? Feel free to share yah! *ketjup

 

Sumber : http://arie5758(dot)blogspot (dot)co(dot)id️

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA LAST PART : PERPISAHAN

“Bro, ada surat buat kamu” kata mas-mas penjaga warung fotokopi. Aufar mengernyit ketika tangannya terulur menerima sebuah amplop putih dengan tulisan ‘For Aufar’

 

Lelaki itu membolak-balik amplop yang ada di tangannya. Tidak ada nama pengirim. Aufar memandang wajah si mas-mas dengan tatapan bertanya, tapi si mas-mas itu hanya mengangkat bahu dan berkata dengan nada menggoda.

“Iya, itu dari gadismu”

Aufar mengibaskan tangannya mendengar jawaban itu. Walau segila apapun perbuatannya kemarin, Rania bukanlah gadisnya. Lama Aufar memandangi amplop tersebut. Namun akhirnya setelah berpikir sejenak, Aufar memasukan surat itu ke dalam tasnya. Dia mengacungkan jempol kepada mas-mas penjaga foto kopi dan berlalu…

****

Dear Aufar,

Hai kamu sedang apa? Aku tebak kamu pasti sedang tidur-tiduran sambil baca surat ini, bener enggak? Kalo bener sih alhamdulillah, yang pasti aku bukan cenayang loh, yakinlah.

Aufar, awalnya aku ragu-ragu sekali untuk menulis surat ini. Maaf, maafkan aku karena tidak menyerahkannya langsung. Aku takut sekali kalau nanti niatku akan luntur dan batal menyerahkannya ke kamu.

Aufar, aku ingat sekali saat pertama kita bertemu, memalukan. Aku hampir jatuh dan berguling, orang-orang menertawakan dan hanya kamu yang membantuku untuk berdiri. Sejak saat itu, aku terpesona. Ah, aku malu menulisnya, tapi sejak saat itulah aku mulai mengagumi kamu. Dan itu adalah  alasan utama kenapa aku ingin kenal kamu lebih dekat. Konyol memang, dan alay sekali kalau boleh ditambahkan.

Selanjutnya, seperti yang sudah kamu ketahui aku banyak mencari informasi tentang kamu. Beberapa orang mengatakan kalau Aufar adalah orang yang ramah, suka menolong dan baik hati meskipun agak cuek, . Dari cerita mereka aku jadi tahu meskipun kamu tuna wicara,  mereka yang mengenalmu tidak pernah merisaukan hal itu.

Aku adalah orang yang sangat memahami sifatku sendiri. Aku manusia yang mudah penasaran dan bersikap  spontan. Seperti kata-katanya Dewi Lestari ‘’my curiosity could kill a lion’. Aku prihatin sekali karena beberapa saat yang lalu, kamu adalah objek utama rasa penasaranku.

Saking penasarannya aku sampai mendaftar kelas kursus bahasa isyarat. Sungguh tidak pernah kuduga mempelajari hal tersebut ternyata membawa kenikmatan tersendiri. Percayalah Aufar, aku sangat menikmati tiap menit yang kuhabiskan untuk mempelajari kemampuan berbahasa isyarat..

Tahukah kamu Aufar, aku menemukan dan mempelajari begitu banyak hal dari situ. Secara tidak langsung aku bisa merasakan bahwa menjadi orang yang kekurangan secara fisik pastinya tidak mudah. Aduh, kekagumanku semakin bertambah mengetahui kamu sanggup melakukannya. Parahnya, aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini Aufar.

Aku takut dengan rasa sukaku yang makin bertambah padamu Aufar. Sulit sekali untuk mengendalikan rasa suka kita pada seseorang.Silakan sebut aku lebay, tapi aku sering membaca buku ataupun artikel di majalah tentang bahayanya sebuah rasa yang tak bisa dikontrol yang sanggup menjadi mesin penghancur masa depan.  Tidak, tentunya aku tidak mau hal itu terjadi padaku ataupun padamu. Karena itu, aku memutuskan untuk menghentikan sejenak aliran rasa ini. Aku sadar sekali, sebagai anak kecil kelas dua SMA, aku sangat rentan melakukan hal-hal yang salah dan tidak pantas.

Aufar, aku sangat bahagia dengan kunjungan kamu kemarin ke kelasku. Aku rasa, hal itu berarti sesuatu bukan? Mungkin semacam perhatian?

Aku begitu senang tapi setelahnya muncul rasa takut. Saat aku bertanya pada hati kecilku,  aku merasa tidak sanggup melanjutkan rasa ini. Aku takut, aku terlalu pengecut. Bagian yang waras dari otakku mengatakan kalau  berbahaya sekali jika rasa ini membesar di waktu yang tidak tepat.

Ya Tuhan, sakit sekali rasanya mengambil keputusan ini. Kamu harus tahu Aufar bahwa pilihan untuk mundur bukanlah sesuatu yang mudah terutama untukku yang selalu mendapatkan segalanya. Aku orang yang egois Aufar, tapi untukmu entah  kenapa aku merasa sanggup untuk menahan diri.

Aufar, mari kita menjalani waktu kita sendiri-sendiri. Aku dengan persiapanku menuju kelas tiga dan kamu dengan persiapan kelulusan. Aku dengar selentingan kalau setelah lulus kamu tidak mau kuliah, tapi langsung terjun ke dunia bisnis. Itu sebuah tantangan yang sangat berat. Kamu membutuhkan semua pikiranmu untuk fokus.  Aku yakin kamu pasti mampu meraih kesuksesan.

Untuk saat ini, ijinkan aku menyerah pada keadaan.Akan tiba saatnya nanti, ketika aku sudah mampu menunjukan pada Ayah dan Bunda bukti keseriusanku untuk kuliah aku ingin sekali menemui . Atau mungkin, aku malah ingin kamu menjadi pihak yang menemukanku. Mau kan?

Iya, memang aku sudah gila karena  berharap sampai sejauh itu. Mungkin, mungkin karena entah bagaimana aku bisa tahu kalau aku mulai mendapat tempat di hatimu. Tidak, jangan membantah.  Kedatanganmu kemarin, itu bukti tak terbantahkan. Boleh percaya atau tidak tapi aku merasakannya Aufar, aku merasakannya sejak pertama kali melihatmu.

Aku sudah berkomitmen  akan menjaga rasa ini untukmu. Terserah teman-temanku mau bilang apa, tapi bagiku kamu adalah cinta monyetku yang pertama, dan terakhir aku harap.

Aku tidak tahu  seperti apa rintangan yang akan kita hadapi di masa depan. Bagaimana pun, aku kan bukan peramal, hahaha. Tapi aku merasakannya kok, kalau kita akan tersambung lagi. Dan yakinlah Aufar bahwa saat itu, aku akan menikmati sepenuh hati pengejaranmu.

Maafkan aku karena belum mencintaimu saat ini, nggak tahu kalau dua tahun lagi.

See you when I see you,Kiss Kiss

Rania.

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 11 : RANIA MUNDUR

Rania tidak bisa tidur.

Hari ini benar-benar aneh bin ajaib. Kenapa di saat dirinya bermaksud untuk menyerah, menjauh mundur dari niat awalnya ingin mengenal Aufar lebih dekat, makhluk itu justru mendekat? Ya Tuhan, lelaki itu masuk ke sekolahnya, mendatangi kelasnya, menanyakan kabarnya. Bayangkan betapa terkejutnya Rania?

Yang lebih parah, setelah semua hal absurd itu terjadi, Aufar tetap membisu. Yah, Rania tahu kalau Aufar itu bisu, tapi bisu yang dimaksud adalah Aufar tidak mau mengatakan apapun lagi. Rania kan jadi penasaran, dan ge er pastinya, jangan-jangan Aufar mulai perduli padanya? Ufh, Rania merasakan rona merah menjalari pipinya saat memikirkan hal itu.

Rania menggerak-gerakkan tangannya, menghapalkan kata-kata dalam bahasa isyarat tangan terbaru. Selama mempelajari bahasa ini, Rania mendapatkan banyak sekali hal-hal yang membuka pikiran. Rania semakin menyadari bahwa menjadi manusia yang secara fisik tidk sempurna itu sangat sulit. Dunia seringkali tidak adil kepada mereka yang memiliki kekurangan, iya kan?

Rania mulai membayangkan, akan seperti apa kalau dirinyalah yang tuna wicara? Frustasi, stress atau bahkan memilih bunuh diri? Rania merasa tidak akan sanggup menghadapi dunia dengan kekejamannya, kepercayaan dirinya pasti hancur lebur. Siapa yang mau berteman dengannya? Siapa yang mau berkomunikasi dengan dirinya? mengetahui dia tidak bisa bicara atau selalu bersuara aneh akan membuat orang justru menghindar bukan?

Tiba-tiba mata Rania terasa panas, cairan bening mulai berkumpul di ujung pelupuk matanya.

“Aufar, kasihan sekali kamu” lalu Rania tersedu. Gadis itu tidak tahan memikirkan masa kecil seperti apa yang harus dihadapi Aufar. Tanpa teman, tanpa seseorang untuk berbagi cerita selain ayah dan ibunya. Hanya sedikit sekali orang-orang yang mau memahaminya.

Sejujurnya, selama tiga hari kemarin Rania banyak merenung, mencoba berpikir dengan mengambil sudut pandang Aufar. Jika dia menjadi Aufar, pantas-lah dia merasa aneh dengan tingkah seorang gadis yang begitu SKSD. Jika dia menjadi Aufar, pasti akan bingung saat bertemu dengan gadis aneh yang tiba-tiba belajar bahasa isyarat tanpa alasan jelas. Jika dia menjadi Aufar, yang tidak pernah berhubungan dekat dengan perempuan manapun selain ibunya, dia pasti akan gugup dan tak tahu harus bagaimana menghadapi seorang gadis yang mendekatinya.

Alasan itulah yang membuat Rania mundur.

Nanti, Rania mundur hanya sejenak. Dia sedang menyusun strategi  baru untuk melakukan pendekatan pada Aufar. Lelaki itu berbeda dengan lelaki normal lainnya. Aufar memiliki kepercayaan diri rendah dan perasaan yang lebih sensitif, pengalaman berhubungan dengan perempuan juga sangat minim atau bahkan bisa dibilang nol. Kalau Rania terus memaksakan pendekatan gerilya, dia khawatir membuat Aufar justru menjauh.

Selain itu, Rania sungguh merasa malu. Dia merasa belum menjadi gadis yang pantas untuk bersanding dengan Aufar, sebagai teman dekat. Bukan tidak ya, hanya belum. Dia masih sangat childish, egois, ceroboh dan lain sebagainya. Apalagi mengetahui posisi Aufar yang sedang sibuk menghadapi ujian kelulusan, Rania tidak ingin menjadi pengganggu.

Rania sudah mengobrol banyak hal dengan bunda, salah satunya tentang bentuk nyata sikap menyayangi. Menyayangi tidak harus memiliki. Menyayangi adalah memberi dukungan, mendoakan agar orang yang kita sayangi bisa terus maju ke depan. Dan Rania menginginkan hal itu untuk Aufar. Rania yakin kalau Aufar masih memiliki begitu banyak mimpi untuk dilakukan. Karena itulah Rania memilih untuk mengalah, mundur dan kembali fokus meniti jalan pendidikannya.

Rania berterima kasih sekali pada Aufar. Berkat lelaki itu, Rania tahu betul dia ingin menjadi apa di masa depan nanti. Guru, Rania ingin menjadi guru SLB. Rania menggigit bibir, memikirkan sesuatu. Rania ingin agar Aufar mengerti kalau dia masih ingin menjadi teman Aufar sekaligus menjadi bayangan yang mengamatinya dari jauh. Apa yang harus dilakukan?

Seteah menimbang-nimbang, sebuah keteguhan muncul di wajah Rania. Gadis itu turun dari tempat tidur, mengambil kotak pinsil di dalam tasnya dan menyobek sebuah kertas. Rania mulai menulis surat…

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 10 : MAAF

Rindu? Apa itu rindu?

“Aufar, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ke sekolahku, menemuiku dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun? Tunggu, aku paham kalau kamu enggak bisa bicara tapi kita punya banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun tanpa harus dengan suara. Aufar, jawab? Kumohon, jawab pertanyaanku” Rania bertanya pada Aufar dengan wajah yang tampak sangat memelas.

mereka sudah berhenti berjalan. Kini mereka sedang berdiri besisian di sebelh sebuah pohon yang agak jauh dari gerbang sekolah Rania.

“Baiklah, aku akan ubah pertanyaanku. Yang perlu kamu lakukan hanya menggeleng atau mengangguk” Kata Rania penuh tekad, dia menatap tajam Aufar.

“Apakah kamu memang berencana untuk mengunjungiku?”

Aufar menggeleng

Rania terbata, menatap lelaki di hadapannya dengan takjub.

“Apakah karena ingin bertemu denganku?”

Aufar diam

“Aufar, jawab. Apakah kamu nekat masuk ke sekolahku, karena begitu ingin bertemu denganku?”

Rania memperhatikan raut wajah Aufar yang berubah gusar. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah kamu ingin melihatku karena sudh tiga hari tidak ketemu? Ya, aku menghitungnya Aufar, ini hari ketiga sejak aku terpergok melihatmu main basket kemarin” cecar Rania, pandangannya menyelidik.

Aufar mengacak rambutnya lalu menatap Rania tepat di matanya. Mata yang memancarkan pertanyaan dan juga kejujuran.

Aufar mengangkat bahunya, entahlah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Pikiran dan hatinya sepertinya sedang tidak mau bekerja sama dengan baik.

Bahu Rania turun, lunglai dengan jawaban dari Aufar. Dia marah, dia kesal, dia ingin sekali membenci lelaki di hadapannya yang tidak bisa menjawab dengan tegas. Rania…kecewa.

“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu. Aku membencimu Aufar, aku membencimu yang tidak mampu menjawab pertanyaanku dengan ketegasan. Kamu laki-laki Aufar, kamu seharusnya tahu betul dengan perasaanmu. Ini terakhir kali kita berbicara. Aku tidak mau menemuimu lagi, selamat tinggal” Kata Rania memuntahkan segala rasa yang menghimpit di dadanya. Rania mencegah bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh dengan membuang muka.

Tersentak dengan kata-kata Rania, Aufar sontak menahan lengan gadis itu, menahannya untuk pergi

“aaaaaaaa” Aufar membuka mulutnya, dia hendak mengatakan maaf tapi yang keluar hanyalah suara aneh tanpa arti.

Rania terkejut.

“Aufar?”tanyanya, mata Rania membulat

Dengan cepat Aufar mengambil handphone dan menuliskan sesuatu

Maaf Rania

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 9 : RINDU

Aufar berjalan melewati gerbang sekolahnya, menahan keinginan untuk sekedar menoleh ke kanan atau ke kiri. Atau sejujurnya, menoleh ke belakang. Hari ini hari Rabu, sudah tiga hari sejak latihan ujian selesai diadakan dia pulang sekolah tanpa gangguan sama sekali. Tal ada gadis dengan suara cempereng yang mendampinginya. Tak ada Rania.

Sialan gadis itu, membuatnya terbiasa dengan keberadaannya lalu pergi menghilang begitu saja. Sungguh perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Aufar mengingat tingkah gadis itu yang aneh. Hari terakhir latihan ujian, setelah dia main basket dia menemukan gadis itu berdiri di gerbang masuk, sedang memandanginya. Sesaat kemudian Rania tampak aneh, seperti gugup? Aufar awalnya menduga kalau gadis itu akan tersenyum dan mendekat, lalu mengobrol dengan gaya SKSD seperti biasa. Namun yang terjadi, gadis itu membalik badan dan berlari menjauh. Dia menghilang. Sampai detik ini Aufar tak melihatnya lagi. Kemana dia?

Apakah Rania sakit?

Ya Tuhan, rasa khawatir muncul di dada Aufar ketika pikiran itu datang. Namun hanya sekejap karena pikiran itu ia buang jauh-jauh. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan dan pikirannya menjadi amburadul hanya karena seorang gadis? Arrgghhh, Aufar ingin mengacak-acak rambutnya. Aufar ingin mendobrak masuk ke sekolah Rania, menggeledah kelasnya hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Aku betul-betul mulai gila” Aufar menyuarakan pikirannya dalam hati.

Aufar sudah mencapai ujung jalan tempat dia biasa menunggu angkotnya. Dia berdiri menunggu sambil terus berpikir, pandangannya tidak fokus.

“Ya Tuhan, aku sudah gila” Katanya kesal sambil berlari membelakangi arah kedatangan angkot, dia berjalan cepat ke warung fotokopi.

***

“Rania, Rania, hei Rania ada yang mencarimu!” Rania yang sedang sibuk menyapu dan membersihkan kelas menoleh ke arah teman yang memanggilnya.

“Siapa?” Tanya Rania acuh tak acuh

“Enggak tahu, cowok ganteng yang enggak mau ngomong samsek. Dia cuman nulis di buku, minta tolong carikan yang namanya Rania” jawab temannya sambil mengangkat bahu.

Rania menghentikan gerakan menyapunya. Jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban temannya. Dengan cepat dia memasukan sampah ke dalam pengki dan merapikan seragamnya. Cowok ganteng yang tidak mau bicara? Enggak mungkin, enggak mungkin banget…

Rania melangkahkan kakinya keluar kelas dan segera saja sebuah sosok yang beberapa ini dihindarinya muncul, berdiri di hadapannya.

Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan secara spontan “A, Aufar? Kamu lagi ngapain disini?”

Dengan cepat Aufar memindai Rania, betul-betul memperhatikan kondisi Rania dari atas sampai bawah. Setelah memastikan kalau gadis itu sehat, normal dan tidak kelihatan sakit sedikitpun lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aufar?Kamu, kamu ngapain ke sini?” Rania mengulang pertanyaannya lagi. Dia jengah melihat Aufar memperhatikan dirinya dengan begitu intens.

Aufar tidak menjawab sepatah katapun, setelah memindai sekali lagi dan yakin bahwa Rania dalam kondisi baik, Aufar berjalan pergi menjauhi Rania.

Rania amat sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ini? Kenapa Aufar tiba-tiba berani masuk ke dalam sekolahnya, mencarinya, menemuinya? Kenapa saat melihatnya tadi, pandangan Aufar seolah melahapnya bulat-bulat? Dan yang lebih geje, setelah semua hal aneh itu Aufar justru pergi lagi? Rania tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan Aufar?

Lelah memikirkan jawabannya sendiri, Rania mengambil tasnya dan bergegas mengejar Aufar.

“Apa kamu merindukanku?” Tanya Rania langsung begitu dia berhasil mengejar Aufar dan mengikuti langkahnya

 

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 8 : MALU

Rania membolak-balik buku yang dibacanya, pandangannya menerawang. Biasanya dia selalu bisa tenggelam dalam kisah-kisah romantis buku favoritnya. Tapi untuk kali ini,entah kenapa buku-buku itu tak lagi menarik minatnya. Rani bangkit dan menaruh buku itu di nakas samping tempat tidurnya.   Setelahnya, dia mengambil posisi tiduran di kasur sambil memeluk guling. Gadis itu mengeluh karena tiga hari ini berlangsung sangat lambat, bahkan sangat sangat sangat lambat. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan setelah membantu Bunda masak dan membereskan rumah. Dia bosan bermain di luar, dia kehilangan semangat, dia…rindu.

Rindu teramat sangat pada punggung lelaki yang selalu menyampirkan tas di bahu kanannya.

Aufar.

Nama itu semakin lama semakin sering melintasi pikirannya. Terutama pada saat-saat tidak ada kesibukan seperti ini. Bagaimana ya kabar Aufar? Apakah dia sukses mengerjakan latihan ujiannya? Apa dia masih ketus dan dingin seperti biasa? Dan…Apakah dia merindukanku? Pertanyaan yang hanya mampu Rania ungkapkan dalam hati. Pertanyaan yang membuatnya gundah gulana hingga tanpa sadar meremas-remas guling yang ada di dalam pelukannya.

Rania masih belum bisa melupakan  momen saat Aufar secara mengejutkan mau merespon tindakannya. Memang hanya sebuah ucapan terima kasih, tapi itu sungguh membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum semalaman. Rania mendesah lega.  Akhirnya, kursus bahasa isyarat yang dia ikuti cukup membuahkan hasil.

Rania menggelindingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Semakin dia memikirkan Aufar, rasa rindu semakin menggerogoti hatinya. Yah,  rasa ingin bertemu semakin tak tertahankan. Rania menenggelamkan wajahnya ke dalam guling. Gadis itu menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal, pikirannya berkelana kemana-mana, berusaha menyusun sebuah rencana.

Setelah menemukan sebuah ide yang dirasanya cukup bagus, Rania berdiri dengan mendadak. Dilihatnya jam dinding, ada waktu dua jam sebelum waktu latihan ujian selesai. Rania segera bergegas, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya.

***

Rania berjalan tergesa-gesa , setengah berlari ketika dilihatnya gerbang sekolah tampak ramai. Sudah setengah jam berlalu sejak waktu ujian latihan selesai, dia khawatir kalau Aufar sudah pulang. Rania mengamati orang-orang yang lalu-lalang di depannya, ada yang dijemput ada yang berjalan ke depan untuk menyetop angkot. Sambil menonggo Rania merasakan hatinya mencelos, apakah dia terlambat?

Rania memberanikan diri untuk maju selangkah lebih dekat, memasuki gerbang Sekolah Luar Biasa dan mengedarkan pandangan. Suara peluit yang dibunyikan menarik perhatiannya, dia menoleh ke arah lapangan.

Waktu bergerak begitu lambat ketika sebuah sosok menyedot perhatian gadis itu dengan sangat menyeluruh. Sosok yang dirindukannya sedang tertawa saat mengejar bola.

Rania mematung, terpesona.

Ya Tuhan, benarkah itu Aufar? Aufar yang tanpa ekspresi? Aufar yang dingin? Aufar yang itu telah menghilang. Aufar yang saat ini dilihatnya tampak sangat bersemangat dan bergairah. Senyum dan tawa membuatnya seratus kali lebih tampan. Rania merasa hampir meleleh melihat Aufar yang kelihatan sangat macho saat bermain basket.

Rania tidak sadar sudah berapa lama dia berdiri di situ sampai Aufar menoleh ke arahnya, menemukannya berdiri di gerbang sekolah seperti gadis penguntit. Senyum dan tawa Aufar memudar saat menyadari kalau Rania muncul di sekolahnya.

Rania merasa seperti pencuri yang ketahuan sedang menjarah harta orang lain. Dengan gugup dia langsung membalikan badan dan berlari. Rania merasa sangat malu. Dia ingin sekali masuk ke dalam pasir hisap dan tak pernah muncul lagi ke permukaan. Perempuan macam apa dirinya? Berani mengejar-ngejar seorang lelaki yang tidak mengharapkan kehadirannya.

Rania langsung menyetop angkot, dia tidak ingin menoleh ke belakang. Bungkusan kue yang ada di tangannya, diserahkan pada supir angkot.

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 7 : KOSONG

Aufar memandang ruang kelasnya yang sudah masih agak ramai. Hari ini hari terakhir latihan ujian, teman-temannya banyak yang tidak langsung pulang. Mungkin, seperti Aufar mereka ingin rehat sejenak dari kejenuhan harus belajar terus menerus. Belum lagi beratnya atmosfir ruangan saat latihan ujian diadakan tadi. Baru latihan saja sudah setegang ini, bagaimana besok saat ujian betulan?

Aufar yang sedang membereskan barang-barangnya menoleh saat merasa punggungnya ditepuk. Andi, salah satu teman sekelasnya nyengir. Lelaki itu membawa bola basket.

“Olahraga sebentar buat melepas penat yuk?” Ajaknya

Aufar balas menyengir dan langsung mengiyakan ajakan temannya itu. Dengan semangat mereka berdua berlarian di lorong. Aufar menarik bajunya keluar dari celana agar bisa bergerak dengan lebih nyaman. Di lapangan teman-teman yang lain ternyata sudah berkumpul. Yang menjadi wasit adalah Andra, seorang tuna rungu juga tuna wicara tapi memiliki penglihatan serta ingatan yang tajam.

Mereka bermain three on three. Enam orang berkumpul di tengah lapangan menempati posisinya masing-masing. Koin dilempar untuk menentukan bola berada di tangan pihak mana, Aufar menunduk, matanya berkonsentrasi penuh. Akhirnya peluit dibunyikan dan bola dilemparkan. Dengan cepat Aufar melompat dan memukul bola tersebut ke lantai. Bola yang memantul itu ditangkap oleh temannya, Aufar segera berlari ke depan,  berdempetan dengan lawan yang menempelnya. Sambil memberi kode, bola dilempar ke arah Aufar yang berada tak jauh dari ring. Aufar menangkap dengan sigap, berlari sebentar dan langsung melemparnya ke arah ring. Masuk! Poin untuk tim Aufar.

Pertandingan terus berlanjut selama kurang lebih lima belas menit sampai peluit panjang dibunyikan yang berarti babak pertama telah selesai. Keenam orang menyingkir dari lapangan, mengatur nafas dan minum air. Aufar menghapus keringat yang mengucur dengan lengan. Tak lama kemudian peluit kembali dibunyikan tanda ronde kedua akan segera dimulai. Aufar kembali ke lapangan dan kembali mempersiapkan diri.

Pertandingan berlangsung cukup intens, timnya dan tim lawan bergantian mencetak angka. Saat akhirnya peluit tanda selesainya babak kedua, timnya ternyata kalah tipis, hanya 3 angka. Aufar dan temantemannya tertawa, saling memuji dan memukul pundak. Aufar mengambil tempat di sudut lpangan untuk duduk dan meluruskan kakinya.

Olahraga dan keringat membuatnya bersemangat, pikirannya kembali menjadi lebih segar dan jernih. Selama beberapa hari ini dia terus menerus menenggelamkan dirinya untuk belajar. Aufar berjuang sangat keras mengalihkan pikirannya dari seorang gadis normal yang entah bagaimana memutuskan untuk belajar bahasa isyarat. Rania. Entah bagaimana nama gadis itu mulai menelusup ke dalam relung jiwanya. Nama itu kadang terlewat begitu saja tanpa ia sadari.

Selama dua hari berjalan pulang tanpa ada suara cempreng yang memanggil namanya, menjajari langkahnya, menceritakan kisah-kisah kesehariannya. Aufar merasakan sesuatu, sebuah kekosongan. Aufar berusaha menampiknya, bukankah harusnya ia bersyukur tak ada lagi Rania si pengganggu?

Tapi kenapa? Kenapa hatinya berkata lain?

Bagaimana mungkin hatinya tidak mau menurut dengan pikirannya?

Besok hari sabtu dan minggu, hari libur. Untuk dua hari ke depan dia masih tak akan melihat Rania. memikirkan hal itu membuatnya merasa tidak bersemangat. Apa yang sedang dilakukan gadis itu saat ini?

Aufar menutup matanya dan menggeleng kuat-kuat. Tiak, dia tidak boleh memikirkan gadis itu ataupun gadis manapun. Dia harus okus pada ujian kelulusan dan juga rencana-rencananya saat telah lulus nanti. Dia tidak membutuhkan gangguan apapun, walaupun gangguan itu adalah sesosok gadis yang cantik, menarik dan bersemangat.

Ketika Aufar mengacak rambutnya, Andi memandanginya.

“Ada apa?” tanyanya hanya dengan sebuah sorot mata.

Andi hanya mengendikkan dagunya ke arah gerbang. Aufar langsung menoleh ke balakang. Di sana, berdiri seorang gadis yang akhir-akhir ini menjadi pengganggu pikirannya. Rania.

#onedayonepost #aufar #rania #cerbung #berjuang

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

CINTA TANPA KATA PART 6

Aufar melongok, memeriksa dengan hati-hati keadaan dari arah samping gerbang sekolahnya. Beberapa hari ini dia merasa dikuntit oleh Rania. Baru juga berjalan dengan tenang, tau-tau ada tepukan di bahunya, Rania. Gadis itu selalu mengajaknya mengobrol namun Aufar selalu mengabaikannya. A

Dia tidak merasa nyaman dengan hal itu. Karena itu, dia memutuskan untuk menunda waktu pulang hari ini. Setelah dirasa aman, Aufar mengalungkan tas ke salah satu bahunya dan mulai berjalan.

“Aufaaaaarrrrrr!!!” Terdengar suara cempreng memanggilnya.

Aduh, Aufar mengenali suara itu, dia tidak mau berhenti dan langsung mempercepat langkahnya. Rania yang melihatnya di belakang langsung berlari tak kalah cepat, gadis itu meraih lengan Aufar, memaksanya berhenti.

Aufar menggeram. Namun tak urung, dia menghentikan langkahnya.

Gadis itu mengatur nafas, tangan kirinya memegang lengan Aufar erat, tak mengijinkannya pergi. Setelah nafasnya tidak lagi ngos-ngosan, dengan tangan kanannya yang bebas, Rania menggerakkan jari-jarinya.

Aufar tampak sangat terkejut “Kamu bisa bahasa isyarat?” Jawab Aufar reflek, dengan bahasa isyarat yang sama.

Rania tersenyum lebar, setelah sekian lama baru kali ini lelaki itu memberi respon. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya. Harapan muncul di hatinya, perasaannya melambung begitu tinggi. Kerja kerasnya untuk mempelajari bahasa isyarat terbayar. 

“Sedikit, aku sedang belajar” jawabnya mencoba rendah hati.  Rania kembali menggerakkan jari-jarinya. Dia berharap bahasa isyarat yang digunakannya tidak salah.

“Kamu?” Aufar menunjuk Rania dengan telunjuknya. “Belajar?”

Rania mengangguk, kembali membentuk pola dengan jari-jarinya “Ya, aku belajar Aufar. Aku belajar karena ingin berteman denganmu” Gadis itu balas menunjuk Aufar.

Untuk sesaat, tak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Aufar masih tercengang, kaget dengan apa yang telah diperbuat Rania kali ini. Belajar bahasa isyarat? Ya Tuhan. Pikirannya masih bekecamuk ketika  dengan pelan Aufar menarik tangan Rania yang mengait lengannya.

“Eh, maaf” katanya, tersipu malu

Aufar memandang gadis dengan pipi merona di hadapannya. Dia menghela nafas. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?” Tanyanya bingung dalam hati. Aufar menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali tidak tahu harus berkata apa.

Rania  terus mengamatinya, tersenyum kecil. Pandangannya jatuh ke arah buku-buku yang berada dalam genggaman tangan kiri Aufar.

“Kamu…mau ujian ya?” Tanyanya, kali ini tanpa bahasa isyarat.

Aufar mengangguk. Karena tak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi, dia memutar badannya dan kembali berjalan seperti biasa. Rania dengan cepat langsung mengambil posisi ikut berjalan di sampingnya, kembali mengoceh, bercerita tentang kesehariannya.

Tiba-tiba saja langkah Rania melambat, “Aufar, aku besok libur…kurang lebih tiga hari karena ruangan akan dipakai kakak-kakak kelas tiga untuk latihan ujian. Aku enggak masuk sekolah dan besok enggak akan bisa jalan bareng pas pulang kayak gini lagi” katanya sedih.

Aufar hanya menanggapi dengan diam, ekor matanya melirik  raut wajah Rania yang tampak sendu. Apakah gadis ini sedih karena selama beberapa hari ke depan tidak bisa bertemu dengannya lagi?

“Kamu juga kelas tiga kan? Mau ujian juga, baik-baik ya. Kamu harus semangat, aku tahu kamu pintar.”

Rania melihat sudut-sudut bibir Aufar sedikit terangkat, dia yakin kalau Aufar tadi tersenyum walau sekarang sudah kembali ke raut wajahnya yang semula. Hanya respon sekecil itu saja sudah membuat dirinya bahagia.

“Aufar, aku…aku akan menyebut nama kamu dalam doaku. Semoga kamu dimudahkan untuk ujian besok” katanya tulus sambil menatap Aufar dengan senyum termanisnya.

Tak beberapa lama kemudian, gadis itu menoleh ketika angkot yang menjadi langganannya sudah datang menghampiri. Dengan cekatan dia naik dan merapikan roknya. Dilihatnya dari celah jendela Aufar yang masih berdiri mematung, menatap angkot yang dinaikinya. Dengan berani Rania melambaikan tangan.

Entah ada malaikat lewat atau bagaimana, Rania melihat keajaiban. Lengan Aufar terangkat, dilihatnya Aufar sedang menggerakan jemari sambil terus menatapnya yang berjalan makin jauh.

“Terima kasih” kata Rania dengan bisikan, mengartikan bahasa isyarat dari Aufar. Hatinya melambung lagi, malam ini bisa dipastikan kalau mimpinya pasti indah.

 

#onedayonepost #cinta #bisu #unconditionallove #fiksi #cerbung

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂