Ketahuan

Percakapan sepasang suami istri di malam hari :

S untuk suami dan I untuk Istri

I : Bang, mau pisang goreng

S : Jam sebelas malem gini mana ada dek yang jual pisang goreng?

I : Tapi adek mauuu bang! Eh, bukan adek, ini si jabang bayi yang mau baaanggg!! (Sambil ngrengek dan ngelus-ngelus perut)

S : Tapi dek, a…

I : Abang mau anak kita ileran, kudisan, panuan??Hah? Mau?! (Mata melotot, mendelik memancarkan cahaya merah, rambut berubah menjadi saiya ala-ala dragon ball)

S : Tapi, tapi dek..

I : Beli bang, aku udah megang rahasia kamu, ahahahahahaha!! (Ketawa ala suzana)

S : Ra,ra,rahasia apa dek? (Mengekeret, ndepipis di deket pintu)

I : Aku tau abang bo’ong sama adek! Udah tau semua!

S : Abang bohong apa dek? Abang cinta banget sama adek, nggak mungkin abang bohooongg! (Ngomong dengan nada super duper melow)

I : Cih, nggak usah sok deh bang, semuanya udah adek bongkar! Adek menemukan ini di saku jaket abang! (Ngelempar sebuah nota yang udah diuwel-uwel tepat ke hidung pesek suaminya)

S : Dek, abang bisa jelasin semuanya dek. Abang mohon! (Tangan gemetar, keringat segede-gede biji jagung mulai bercucuran)

I : Jelasin apa? Semua buktinya udah jelas bang! Suami kayak apa yang beli mainan hotwheels nggak berguna harga sejuta tapi ngakunya dua ratus ribu?! Itu bukti notanya jelas banget! (Wajah beringas, siap mencabik-cabik suami jadi seratus tiga puluh satu bagian)

S: Abang khilaf dek, abang khilaf, ampunnnnn!!

I : Makannya, cariin pisang gorengnya atau adek bakar hotwheels edisi spesial punya abang!” (Ngeluarin sebuah mobil kecil warna merah putih dari balik bantal)

S : (terperanjat, tertunduk lemah, nyengir) “maafin abang ya dek, maaf, gimana kalau kamu mainan sama  abang aja? Eh maaf (kena timpuk guling istrinya)

I : Abaangggg! Berani grepe-grepe adek kelar hidup abang ya!

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas  menulis fiksi bergenre komedi dari kelas ODOP (One Day One Post) Batch 5 🙂

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Sakit

Yuan sakit.

Dia bilang dadanya sakit

Dia bilang nafasnya susah

Dia bilang tenggorokannya perih

Sudah beberapa kali saya memberi terapi uap dengan ventolin, sesaknya masih belum release.

Khawatir dengan kondisinya yang semakin memburuk, saya buru-buru mandi dan bersiap-siap. Kesal banget karena si ayah masih menganggap sakitnya Yuan biasa saja. Padahal kondisinya sudah menyedihkan.

Akhirnya saya nekat membawa Yuan ke rumah sakit sendirian, luna dan aylan ditinggal bersama ayahnya. Begitu sampai, saya mengurus pendaftaran dan masuk ke IGD.

IGD RS Aminah tampak sepi ketika saya masuk dan langsung disambut oleh seorang dokter dan dua orang perawat.

“Serangan Asma” kata saya

Segeralah Yuan ditidurkan di sebuah kasur pasien, diberi oksigen dan diukur saturasinya. Dokter memeriksa Yuan dengan stetoskopnya, muncul kernyitab di dahinya.

“Ibu, ini putra ibu serangan asmanya berat. Dia harus masuk NICU, sayang sekali rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas tersebut” terang bu dokter.

Saya kaget

“Anak saya kenapa?” Tanya saya, masuh shock dengan penjelasan dokter.

“Coba lihat ini” dokter menunjukan alat saturasi yang menjepit jempol tangan yuan. “Saturasinya rendah sekali, putra ibu harus segera dibawa ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap.

Saya masih terdiam, tertegun layaknya orang bodoh.

“Ibu ayo, ini putranya harus segera dirawat!” Seru bu dokter.

Saya tersentak, buru-buru mengambil hape dan mencari go-car

“Jangan pakai mobil bu, rawan macetm motor saja” tambah beliau

Saya mengangguk.

Ya Allah, ada apa dengan putraku?

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

What a Day

There’s no bad day, but i do feel bad today

First, my oldest boy is sick. Cukup satu skop es krim atau segelas es teh dan boomm! Batuk merajalela.

Saya kasihan dan kesal. Kesal karena harus mempersiapkan diri menghadapi efek pingpong. Kalau satu anak sudah sakit, tinggal nunggu merembet ke anak yang lain saja.

Second, finnally i can feel what everyone said about writers block. It is real. Aslinya udah nulis berkali-kali tentang reportase meet up blogger muslimah kemarin. Tapi tulisannya nggak berasa, hambar. Nulis, hapus, nulis,hapus, begitu terus nggak ada kemajuan. Iseng-iseng curhat di grup ternyata boleh ditulis pake gaya curhat *tepokjidat

Third, my laptop is broken. Setelah menulis beberapa hal di buku catatan, setelah mendengarkan rekaman berulang-ulang, setelah menata kata-kata di dalam pikiran.

Rasanya pengen menjerit histeris ketika buka laptop, permukaannya basah dan keyboardnya hang.

Ya Allah, apakah ini ujian untuk hambaMu yang lupa waktu ini? Padahal deadline sudah sangat dekat.

Fourth, untuk kesekian kalinya dalam minggu ini pasangan jiwa datang terlambat. Udah gitu pas pulang langsung ceramah tentang perawatan laptop.

Rasanya pengen banget makan martabak dua kardus terus lari-lari dibawah hujan saking keselnya.

Kenapa tidak ada satupun yang mau bekerja sama hari ini? Aarrggghhh, pusiiiingg *dengan gaya ala peggy melati sukma*

Hatiku, please yang kuat ya hatiku..*pukpuk diri sendiri*

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Meet Up Blogger Muslimah with Teh Khadijah

Rasanya seperti mimpi ketika permintaan saya untuk bergabung ke acara meet up Blogger Muslimah diterima. Agak malu karena saat mendaftar hanya selang sehari setelah permintaan saya untuk bergabung ke dalam komunitas tersebut di platform Facebook di approve. Alasan lainnya karena saya aktif menulis di blog ya baru sebulanan ini, itu pun karena disemangati oleh tetangga saya, seorang blogger senior yang bernama mbak Yeni Sovia.

Betapa beruntungnya diri ini memiliki kesempatan untuk berkomunitas, pikir saya saat bergelantungan di dalam commuter line menuju lokasi acara.

Hari sabtu tanggal 10 Februari yang lalu komunitas Blogger Muslimah mengadakan meet up bersama para anggotanya. Acara ini bertajuk “Muslimah Berdaya dan Menginspirasi” dan bertempat di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebenarnya, saya memiliki dua agenda lain di hari yang sama. Namun, setelah memikirkan, menimbang, membanting dan memungut lagi akhirnya saya mengambil sebuah keputusan untuk menghadiri acara yang ini. Daya tarik utamanya tentu saja karena dalam acara tersebut akan hadir bintang tamu super spesial, yaitu Teh Khadija nama panggilan baru dari artis Peggy Melati Sukma yang kini telah mantap berhijrah. Asli, saya penasaran bangets!

img-20180207-wa00221980173097.jpg
Lihat banner ini langsung mengiler pengen segera ikutan

Alhamdulillah, thanks to Bapak Gojek yang telah mengantar saya dengan selamat ke Gedung Permata Kuningan. Maklum, selama ini tempat gaul saya cuma keliling perumahan. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali pergi ke Jakarta dengan angkutan umum sendirian. Jadi berasa orang kampung pergi ke kota ketika berhdapan dengan gedung-gedung pencakar langit, ehehe, Sesampainya di lantai 17, beberapa panitia berseragam menyambut saya penuh senyum. Mereka meminta saya untuk mengisi daftar hadir dan menyerahkan sebuah goodybag.

Ketika tas berwarna pink itu terbuka saya melongo. Masya Allah, salah satu isiannya adalah Khimar segiempat bolak-balik yang sangat uwooww dari Rumah Hijab Alsa berwarna hitam – abu bersama brosnya. For your information, kalian harus tahu kalau Hijab Alsa ini juga menyediakan hijab serta bergo yang elegan namun tetap syar’i loh.

img_20180210_0919191991440356.jpg
penampakan khimarnya, bahannya tebal, lembut dan tidak nerawang. Syukaaa

Di acara itu saya berkenalan dengan teman-teman blogger lain yang levelnya sudah profesional. Sempat merasa tidak pede , tapi kok tapi kok mereka sangat murah senyum dan ramah sehingga membuat saya merasa nyaman. Bagaikan anak ayam ketemu sama induknya, mereka begitu asyik diajak mengobrol walau baru pertama kali bertemu.

Saya juga mengagumi desain interior kantor Proxys yang oh maaann! caem abis! Merasa sebagai kupu-kupu, akhirnya keluar deh keinginan saya untuk foto-foto, mumpung lagi cantik, hihihi.

img-20180210-wa0007830062882.jpg
suasana kantor proxys di bagian depan, bikin saya senyum-senyum 🙂

Setelah puas foto-foto cantik, akhirnya kami dipanggil masuk ke dalam sebuah ruangan karena acara akan segera dimulai. Alohaaa ~

Acara meet up Blogger Muslimah ini dipandu oleh Teh Icha. Si teteh orangnya unik! Dia punya cara yang sangat antimainstream untuk membuat kami semua berkenalan dan saling mengenal satu sama lain. Intinya, kami mau tidak mau harus bisa menghapal teman-teman dari kursi paling ujung depan sampai ujung paling belakang. Di akhir permainan, Teh Icha ternyata sanggup menghapl nama kami semua, wooohhhh!!

Thanks to Teh Icha yang berhasil membuat kami deg-degan tertawa-tawa, suasana benar-benar hidup! Ijin meniru cara ini ya teh kalau-kalau nanti saya didapuk sama orang lain buat jadi MC *sungkem*

Menyambut sambutan-sambutan dulu yuks!

Kelar dengan tawa, acara kembali berlanjut. Kini giliran founder Blogger Muslimah yang Tampil, yaitu Uni Novia Syaidah Rais. Beliau tampak sangat anggun dan menawan dalam balutan gamis merah. Dengan penuh semangat, Uni menyampaikan kepada kami semua tentang program-program Blogger Muslimah di tahun 2018 ini.

uni syaidah rais
Uni Novia Syaidah Rais

Program-program tersebut antara lain:

  1. Meet-Up; Menghadirkan tokoh muslimah inspiratif. Seperti acara BM sabtu lalu yang menghadirkan teh Khadija aka Peggy Melati Sukma.
  2. Edukasi Muslimah; Melakukan kunjungan ke media agar anggota BM tidak hanya bisa menulis namun mengerti kode etik dalam kepenulisan itu sendiri.
  3. Kepribadian Muslimah; Disajikan secara online di website Blogger Muslimah bersama mba Ratih Sophie Azizah
  4. Posting Tematik; Menuliskan dalam sebuah blog dengan tema yang sudah ditentukan.
  5. Program Kepenulisan; yang masih terus digodok agar lebih interaktif.
  6. Muslimah Trip : berharap bukan sekadar jalan-jalan tapi dapat mendatangkan 3 manfaat sekaligus, yaitu melatih fisik, menajamkan akal dan menghidupkan hati.

Widihh, keren banget yak program-programnya, bikin saya gemes pengen ikutan! Eh, kamu-kamu tertarik pengen ikutan? Bisa loh join di grup FB Blogger Muslimah atau jalan-jalan ke websitenya di www.bloggermuslimah.id

Next…

Sambutan selanjutnya datang dari seorang ibu yang tidak kalah cantiknya yang berperan sebagai tuan rumah. Yap, Ibu Veni Ferawati Nirmala Sari dari proxys consulting. Jujur saya agak terbuai oleh suara si ibu yang begitu lembut ini. Mungkin banyak teman yang bertanya, proxys itu apa sih? Nah, beliau memperkenalkan sedikit tentang perusahaan ini. Sebagai sebuah perusahaan konsultan manajemen, Proxys cukup berpengalaman dalam membantu perusahaan-perusahaan melalui beragam trainingnya. Saya juga takjub ketika tahu bahwa ini kali kedua Blogger Muslimah mengadakan acara disini. Saya cuma bisa ber-o-o ria karena memang inilah kali pertama saya ikut acara kumpul-kumpul blogger.

img-20180210-wa0027734548381.jpg
Ibu Veni Ferawati Nirmala Sari yang tampak sangat memesona

Dalam kesempatan itu, beliau menjelaskan bahwa kantornya adalah coworking space. Ruangan-ruangan training ini tidak terpakai di hari sabtu dan Minggu. “Saya senang bila ruangan ini bermanfaat di hari libur” Ucapnya lembut.

Sebagai tambahan informasi, berikut beberapa program yang dimiliki IT Learning Center@proxsisspace:
  • ITLC Community Meet Up yang mewadahi para komunitas untuk meet-upan atau melakukan kegiatan di sini, seperti yang dilakukan blogger muslimah sabtu lalu.
  • ITLC Experts Presents yang menyediakan pembicara handal seputar IT (IT startup, blogger, web developer).
  • ITLC Start Up Incubator yang akan membimbing pebisnis pemula di bidang IT, mulai dari perencanaan hingga bisnis tersebut berjalan.
Wow, so cool!

And Finnally, Main Course !!

Setelah ditunggu-tunggu tibalah acara inti meet up Blogger Muslimah ini bersama bintang tamu yaitu Teh Khadijah “Peggy Melati Sukma”. Awalnya saya sempat keluar ruangan dulu untuk mengambil air minum ketika ada sesosok wanita yang ramping dan tinggi semampai mengenakan gamis kotak-kotak biru dengan cadar cokelat. Walau saya tidak bisa melihat mulutnya, matanya memancarkan senyuman, wanita tersebut mengulurkan tangan, menyalami saya dan cipika-cipiki kanan-kiri sambil mengucapkan salam. Duhai…
Wanita cantik tersebut, teh Peggy Melati Sukma…
Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, takjub ada seorang artis yang mau bersalaman saya langsung menghambur masuk kembali ke dalam ruangan seraya berjanji dalam hati untuk menghindar cuci tangan dulu sementara, wkwkwk.

img-20180210-wa002633384491.jpg
Teh Khadijah Peggy Melati Sukma dan Uni Novia, Masya Allah…Masya Allah…

Tanpa banyak membuang waktu, Uni selaku moderator langsung memandu jalannya acara inti. Selama hampir dua jam acara berjalan, begitu lancar dan mengalir laksana aliran sungai. Begitu indah, memesona dan mengharukan. Tak jarang berkali-kali saya menghapus aliran air yang tak bisa dibendung kelopak mata.
Allah…
Sungguh, saya bingung harus bagaimana menulis ringkasan cerita dua jam yang sangat berisi dan mengharu-biru menjadi sesingkat mungkin. Saya ragu tulisan saya tidak akan seindah dan semenarik diskusi faktualnya. Tapi, saya harus berani mencoba kan?
Saya berani taruhan, kalau semua orang di ruangan meet up itu penasaran betul dengan alasan teh Peggy eh, teh Khadijah berhijrah.
“Elu keracunan apa sih gy?” Celetuk si teteh menceritakan komentar teman-temannya yang cukup ekstrim ketika dirinya mulai berhijrah, membuat kami semua tertawa.
“Padahal ini ya bukan one minute moment. It’s a process, it’s a journey” terangnya lagi.
Di awal-awal ceritanya, teteh menjelaskan konsep hijrah. Hijrah adalah diri kita sendiri sejak dilahirkan. Dari saat awal menciptakan kita di alam ruh, dihijrahkan atau ditiupkan ke dalam jasad. Lalu ketika jasad dan ruh bersatu di dalam rahim dihijrahkan bentuk baru ini ke alam dunia. Setelahnya, Allah hijrahkan lagi kita dari dunia ke alam barzah. Dipisahkan lagi ruh dan jasadnya. Jasad kembali ke tempat asalnya yaitu tanah, yang ruh melanjutkan perjalanan. Hijrah itu berpindah.
Menurut salah satu hadistnya, Rasululah SAW mengatakan bahwa hijrah adalah perjalanan untuk selalu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.
Bagi teh Khadijah sendiri, hijrahnya tidk hanya meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah tapi juga menuju sesuatu yang lain, yang diperintahkan oleh Allah sesuai dengan surat Adz dzariyat ayat 56. Artinya eggak saya tulis ya, biar temen-temen tergerak untuk kembali membuka al-qurannya. hohoho *dikeplak
Tapi kita pastinya paham lah bahwa hijrah diakukan untuk menuju ke arah yang lebih baik bukan? Teh Khadijah menuturkan apa saja ikhtiar yang dirinya lakukan saat awal berhijrah, ini dia rangkumannya;
  1. Dimuai dari berhijab. Bagi si teteh, ini adalah salah satu proposl awal yang ditujukan kepada Allah agar Allah merubah arah hidup menuju ketaatan. Bukan hanya sekedar menutup aurat saja.
  2. membereskan syahadat. Laaillahaillallah, tiada tuhan selain Allah. Berusaha membereskan perilakunya, perasaannya, pemikirannya untuk tidak menduakan Allah dengan apapun juga. Dengan kelima jarinya teteh memaparkan tentang berbagai hal yang selalu dia uber-uber dalam hidup mulai dari sekolah, perusahaan, karir, penghargaan, go international semua itu telah menempati posisi tertinggi dalam kehidupannya. Teteh bercerita betapa dia sering membubarkan sholat hanya gara-gara show ataupun syuting. Belum lagi membuka aurat kesana-kemari demi uang seratus atau dua ratus juta. Naudzubillahmindzalik.
  3. Memperbaiki sholat. Kalau syahadat adalah akad, maka tekhnis peribadatannya adalah sholat. Apa sih yang mesti dirapikan dari sholat? Menurut teteh tentu saja sholat tepat waktu, di awal waktu. Menambah kuantitas dengan sholat sunah, menambah kualitas dengan memperbaiki gerakan-gerakan sholat.
  4. memperbaiki puasa

Singkat kata, semua ikhtiar di atas hanyalah sebuah proposal dimana kita berharap bahwa Allah yang akan menggenapkan niat kita untuk berhijrah. Yang pasti jangan pernah lelah untuk terus menerus memperbaiki diri kita di hadapan Allah.

screenshot_2018-02-21-12-01-54-320_com1226996139.png
Teh Khadijah ketika asyik bercerita, foto diambil langsung dari instagram uni

Kami seemua tersentak ketika teh Khadijah bercerita bahwa saat kecil dulu beliau pernah menyabet juara MTQ. Kesiap kaget terdengar dimana-mana, apalagi saya. Kayak enggak percaya gitu bahwa Peggy Melati Sukma kecil adalah anak yang ehem, alim.

Ternyata oh ternyata teh Khadijah alias mbak Peggy ini datang dari keluarga yang biasa saja. Keluarga serba enggak ada, serba enggak mampu dan serba enggak punya. Yang beliau miliki adalah semangat untuk survive di tengah keterbatasan. Hal ini tidak pernah saya ketahui sebelumya. Saya sempat mengira kalau si teteh sudah berlebih secara materi dari sononya.

Saya salah.

Agak mengejutkan ketika teteh menceritakan sekelumit kehidupan masa lalunya, terutama tentang bagaimana sang Ibunda yang sangat teguh mendidik beliau untuk terus dekat kepada Allah.

“Ibu saya mengajarkan tiga hal, pertama tentang how to survive, kedua untuk terus selalu dekat kepada Allah, ketiga untuk meminta segala hal hanya kepada Allah”

Allah, saya bergetar sekali…bahwa pada Indonesia jaman dahulu ada orang tua yang begitu tekun mendidik anaknya dengan pemahaman Islam yang mumpuni.

Lagi, teteh menggambarkan kehidupannya yang beliau sebut terbagi dalam empat fase;

  • Fase pertama : usia 0- 14 tahun dimana orang tuanya mengajarkan Islam, akidah dan tauhid. Dalam fase ini, beliau mulai menyadari bahwa dirinya berbakat, sangat berbakat
  • Fase kedua : usia 14 tahun dimana untuk pertama kalinya masuk ke dunia entertainment.
  • Fase ketiga : usia 15 tahun masuk dunia pofesional. Pada saat itu teteh mulai mengenal uang, fokus hanya pada mengejar prestasi serta reputasi. Mulai lupa untuk sholat, puasa dan lainn-lain. Pokoknya tidak fokus pada Allah. Iman mulai goyang, terombang-ambing di lautan kesenangan dunia.
  • Fase keempat : Saat ini, fase hijrah. Merasa jauh lebih mudah untuk kembali kepada Allah karena di saat kecil sudah diberi pemahaman yang cukup bagus oleh Ibunda. Di fase ini mulai menyadari dua hal penting, kebaikan adalah ujian sama halnya keburukan adalah ujian.

Dalam perjalanan hijrahnya, Teh Khadijah menekankan kepada kami khususnya sebagai Ibu untuk betul-betul menanamkan tiga hal ini:

  1. Ketauhidan
  2. Syariat Islam
  3. Perjuangan Islam

Tiga hal itu sangat penting, lebih penting dibanding meninggalkan harta benda ataupun uang kata beliau. Masya Allah…

Banyak sekali moral of the story dari diskusi dengan beliau. Betapa beliau saat ini sering sekali berdzikir, beristighfar karena mengharapkan ampunan serta kasih sayang dari Allah. Bagaimana beliau menyadari bahwa kasih sayang Allah jauh lebih banyak dibandingkan murkanya sehingga yang perlu dilakukan adalah berjuang sekuat tenaga membereskan bonding dengan Allah.

Di saat-saat akhir diskusi karena waktu tak terasa berjalan dengan sangat cepat, teteh menceritakan bagaimana dia tidak pernah mampu menembus Palestina selama masa keartisannya. Namun, baru dua tahun berhijrah dirinya justru bisa kesana untuk menyerahkan bantuan secara langsung. Ya, fokus Teh Khadijah di luar negeri adalah Palestina, Suriah serta Rohingya. Sedangkan untuk di dalam negeri beliau mendirikan yayasan rumah tahfidz Khadijah.

Fokus Teh Khadijah juga sudah banyak berubah, sekarang waktunya dihabiskan untuk berdakwah. Segala keuntungan usahanya di bidang fashion pun diperuntukan bagi yayasannya. Satu cerita yang membuat kami mendesah, merinding adalah bahwa semenjak hijrah teteh tak pernah lagi membeli baju. Namun setiap bulan tak kurang dari sepuluh akaian selalu diterima olehnya, gratis! Masya Allah…

Waktu terus berlalu, akhirnya mau tidak mau diskusi harus segera diakhiri. Beberapa peserta melakukan tanya jawab, termasuk saya, hehehe. Yang paling mengharukna adalah permintaan Bu Siti, salah satu peserta met up. Bu Siti meminta Teh Khadijah untuk membaca Al-quran, surat manapun untuk kami dengarkan. Dan akhirnya acara tersebut ditutup dengan suara Indah Teh Khadijah yang membuat kami larut dalam keharuan…

****

Dietku oh dietku…

Kalau pada saat acara utama saya menitikkan air mata keharuan, sesi istirahat membuat saya menangis di dalam hati karena melihat…melihat…sajian potluck yang begitu banyak macamnya.

img_20180210_0930412043615943.jpg
potluck penghancur diet yang hakiki

Saya setuju sekali dengan apa yang diucapkan Teh Khadijah, bahwa Kesenangan adalah Ujian. Contohnya kemarin itu saat salah satu Sponsor, yaitu Ah Mah Cake Indonesia meenghadirkan spongecae spesialnya. AAAHHHHHH TIDAKKKKK!!!!

img_20180210_124015889442656.jpg
penampakan Spongecake dari Ah Mah Cake Indonesia yang menggoda

Tuh kan, tuh kan pada ngiler kan yang baca, hihihi.
Jadi, Ah Mah Cake memproduksi tradisional egg sponge cake yang terbuat dari bahan-bahan lokal yang aman dan halal. Saya juga baru tahu kalau Ah Mah Cake ini menduduki peringkat pertama untuk Best Selling Egg Sponge Cake di beberapa negara Asia. Mari kita sebut saja semacam Singapura, China, Thailand dan Malaysia.
Haaa, temen-temen pasti penasaran kan? pengen nyobain cake super lembut yang rasanya kayak kapas dan lumer di mulut ini kan? hayoo, hayo ngaku hayooo hahahha. Yang penasaran boleh langsung datengin dua outletnya yang sementara ini baru ada di Jakarta, yaitu di Kelapa Gading (seberang MKG 3) dan Mall Emporium Pluit lantai LG no.6.
Buat temen-temen lain jangan sedih karena kabarnya Ah Mah Cake bakalan hadir di lima kota besar di Indonesia. Untuk info lebih lanjutnya, terutama yang kepo dengan promo atau kepengen liat produknya Ah Mah Cake yang lain bisa mampir ke instagramnya di ahmahcakeindonesia

Shalira Syar’i

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala dan berdecak kagum kepada panitia acara meet up blogger muslimah kemarin itu. Mari kita hitung, saat datang dapat goodie bag, bebas mengambi kopi atau teh atau aqua, bisa foto-foto dengan spot yang keren gila, diskusi di ruangan yang nyaman, menyimak kisah Teh Khadijah, menikmati Potluck dan sajian Ah Mah Cake yang sukses menjadi guilty pleasure saya. Sudah sebanyak itu dan masih belum selesai karena Teh Icha kembali memanggil kami untuk masuk karena akan ada pengumuman pemenang lomba foto meet up blogger muslimah di instagram. Sponsor untuk sesi ini tidk lain tidak bukan adalah Shalira Syar’i.

shalira syar'i
Duh, gamis dari shalira syar’i ini bikin mupeng yaaa. Love bangettss!

Asli iri banget sama temen-temen yang menjadi pemenangnya. Saya cuma bisa tepuk tangan, ikut berbahagi sama mereka yang dapat hadiahnya.

Eh, tapi ternyata ada kejutan lain! Nama saya juga dipanggil! Ternyata pertanyaan saya pada saat diskusi bersama Teh Khadijah terpilih menjadi salah satu pertanyaan yang bagus dan berhak mendapatkan hadiah. Yeeiiii! Senangnya enggak jadi sedih, hahhaha

img-20180210-wa00141565919920.jpg
Kelihatan banget kan yang mana yang wajahnya menunjukkan kebahagian hakiki, hihi

Ahamdulillah, luar biasa Allahu Akbar. Hari itu menjadi Sabtu yang akan selalu dikenang. Saluuttt banget, empat jempol untuk panitia acara ini, rapih, bersih, menarik, pokoknya luar biasa! Kalian keren !!

img-20180210-wa0028212680896.jpg
Foto bersama, memori indah tak terlupakan

Terima kasih banyak teman-teman panitia yang telah menyelenggarakan acara ini. Terima kasih banyak teman-teman blogger lain yang sudah datang, senangnya bisa menambah jalinan komunikasi dengan kalian. Terima kasih blogger muslimah telah berkenan menjadikan saya salah satu bagian dari acara kalian. Semoga Allah membalas kerja keras kalian yah!

Sangat menantikan acara selanjutnya karena acara meet up ini ternyata nagihin! 🙂

#blogger #amateur #meetupbloggermuslimah #hijabalsa #proxysitlearningcenter #ahmahcake #shalirasyari

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Kangen

Hari ini banyak hal yangvterasa memusingkan. Mulai dari cuaca yang bergonta-ganti terus tiap lima menit. Pembantu yang tidak hadir, Yuan yang pulang sekolah cepat, Luna yang enggak mau makan, jemuran yang enggak mau kering serta otak yang enggak bisa diajak kerja sama untuk menulis.

Lelah cyin, lelah

Rasanya bener-bener enggak mau melakukan apapun malam ini. Terutama saat jam setengah delapan malam suami WA kalau dia bakal pulang telat. Rasanya pengen banting sesuatu deh, bete! Huhuhuhu

Tapi, bisa jadi uring-uringan hari ini disponsori oleh komunikasi yang terhambat…

Sejak hari minggu kemarin aki dan eninnya anak-anak datang berkunjung ke rumah. Dan karena kontrakan kami kecil ya begitulah, kmi berbagi ruangan. Saya bahagia sekali mereka hadir.

Hanya, Yusuf jd pindah diluar. Otomatis sampai malam ini kami enggak pernah pillow talk lagi. Nggak ketemu tempat sampah untuk mengeluarkan 20.000 kata, uhuhuhu.

Kangen..

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Ini Tentang Peran Ayah, bukan SAHM ataupun WM

Alkisah di suatu hari yang tenang ketika hendak mendaftarkan Yuan di sebuah sekolah playgroup saya bertemu dengan seorang ibu, mari kita sebut saja dengan ibu A. Biasalah untuk mencairkan suasana saat menunggu kami ngobrol sekedar untuk berbasa-basi busuk.Lalu entah bagaimana pembicaraan kami masuk ke dalam ranah pekerjaan. Saya mengatakan bahwa saat ini berprofesi sebagai IRT alias Ibu Rumah Tangga. Ibu A, yang tidak pernah saya kenal sebelumnya berkomentar sesuatu yang intinya bagi dia, sebagai lulusan universitas ternama di negeri ini menjalani profesi IRT itu adalah sesuatu yang sia-sia.

Duh, Gusti Allah nu maha agung…

Sakit? Oh pasti, ketika pulang saya mengadukan hal ini pada suami. Ujung-unjungnya saya nangis dong, tidak lama kemudian rasa rendah diri kembali menghantui. Merasa tidak puas dengan tanggapan suami, saya curhat pada teman saya yang seorang working mom (fyi, di komplek rumah petak tempat saya tinggal saat itu, saya adalah satu-satunya IRT).

Makjegagik!

Responnya di luar dugaan saya, dia Marah. Iya, dia marah. Dia bilang kalau ibu A sungguh sombong, tidak sopan dan extremely menyebalkan. Teman saya yang ikut merasakan kesal bilang kalau Ibu A itu di kantor pasti kerjaannya cuma nyantai-nyantai, sok sibuk dan sok ho’oh. Karena kalau dia memang hebat di kantor, dia nggak akan menghina profesi orang lain. Bukankah orang yang merasa perlu merendahkan harga diri orang lain itu karena untuk menutupi ketidakmampuan dirinya sendiri?

Ya sudahlah, saya sudah berdamai dengan masa-masa itu, selesai. Kalaupun teringat lagi saya justru kasihan sama anaknya. Gimana ya kehidupan sehari-hari si anak punya ibu yang omongannya nylekit dan suka merendahkan orang lain? Huffthh..

Apa ibroh yang bisa saya ambil dari pengalaman di atas? Saya dihina oleh seorang working mom namun dibela oleh working mom yang lain. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa masalah bukan pada titel working mom-nya, tapi memang orangnya yang njelehi. Iya kan?

Mommy’s war itu mengerikan, terutama isu tentang SAHM vs WM di media sosial. Ehm, kalau boleh jujur perang di dunia nyata juga tidak kalah panas sih. Di kota kecil tempat saya tinggal dulu profesi IRT tidak jarang dipandang sebelah mata.. Mau kamu lulusan dari universitas terkenal kalau ujung-ujungnya cuma jadi IRT yo tetep wae, kamu cuma upil seujung kuku. Saya pernah bertemu dengan orang yang memilih bekerja dengan gaji katakanlah 100 dan harus membayar pengasuh 150. Akhirnya dia meminta suaminya untuk nombokin. Jadi alih-alih membantu kondisi keuangan keluarga dia justru menambah beban pengeluaran suaminya. Semua itu dia lakukan demi mendapat titel “bekerja” . Jujur saya sedih, sebegitu hinakah profesi IRT sampai lebih memilih menyerahkan pengasuhan anak serta semua gaji yang dimiliki untuk mendapatkan pandangan hormat dari orang lain?

Alhamdulillah, saya beryukur sekali diberi kesempatan oleh Allah untuk berpindah-pindah tempat tinggal, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang yang membuat pikiran saya semakin terbuka.

Awal-awal saya pindah ke tangsel, rasa minder mendera karena seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, saya satu-satunya IRT di lingkungan tempat tinggal. Saya merasa malu untuk menyapa ataupun mengobrol, khawatir mereka akan merendahkan seperti yang banyak dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Nyatanya, saya salah. Setelah ngobrol kami nyambung-nyambung aja tuh dan malah tetep bisa merasa asyik satu sama lain. Mereka sangat mengagumi saya yang mampu menghadapi segala problema Ibu Rumah Tangga mulai dari seabrek kerjaan yang enggak ada habisnya,rasa bosan yang melanda, ngurusin anak dengan tingkah polahnya, sampai cara mengelola keuangan yang datang hanya dari pihak suami. Sebaliknya, saya semakin memahami bahwa berperan menjadi working mom itu tidak mudah, pumping asi, antar-jemput anak ke day cara, tetep beberes rumah dan memenuhi gizi keluarga dengan masakan sendiri. Karena berteman dekat kami pun sering berbagi cerita, salah satunya alasan untuk bekerja. Ada yang punya keharusan mrmbayar hutang orang tua, sekolah adik-adik dan sebagainya. Kami saling mengagumi dan dengan sendirinya, muncul toleransi di antara kami.

Lalu muncul SK penempatan, kami berpisah. Saya hamil anak kedua dan pindah ke rumah yang lebih besar. Saya tak bisa melupakan berbagai kenangan indah bersama teman-teman working mom saya. Saya memasang mata dan telinga, mengamati bagaimana cara pengasuh anak teman saya ketika dia pergi bekerja. Sebaliknya, mereka adalah pembeli pertama ketika saya mencoba peruntungan untuk berjualan. To sum up, we support each other. Tidak ada dalam kamus kami perang antar ibu lha mau gimana? Toh kami ini kan sama-sama perempuan, istri dan juga ibu.

Selama ini saya adalah pembaca setia tulisan mbak Yuria Cleopatra. Tulisan beliau bagus-bagus dan menghentak sekali di hati. Aku bocahmu mbak, hehe.

Beberapa waktu yang lalu, tulisan mbak Yuria kembali menghidupkan jagad per-facebook-an. Banyak orang yang menanggapi, setuju maupun tidak setuju, positif maupun negatif. Bagi saya pribadi, tulisan mbak Yuria sangat nano-nano sekali. Untuk kali ini, ijinkanlah saya menanggapi tulisan dengan tulisan.

Benarkah day care menyebabkan para ibu menjadi don’t care?

Saya rasa untuk sebagian kasus iya, rasanya kita tahu sama tahu kalau semua ibu pasti senang sekali menitipkan anak di day care. Bayangkan, mengantar dalam kondisi apa adanya di pagi hari dan diambil ketika mereka beres, sudah wangi, sudah makan, tinggal uwel-uwel. Saya belum pernah make jasa day care (karena enggak sanggup bayar biayanya), tapi sering bangetlah tergoda. Enak banget kan ya kalau kita bisa terbebas seharian full dari anak-anak? Lumayan waktunya bisa dipake untuk sekedar ngelayap ke bioskop ataupun nyalon (kode!). Tapi nih, saya banyak menemui para ibu yang rutin menanyai pengasuh anak mereka. Yaa mungkin sekedar menanyakan mereka sedang apa? Sudah makan atau belum? Pupnya gimana? Bisa tidur siang atau tidak. Tak jarang mereka merasa resah kalau tidak mendapatkan tanggapan dari si pengasuh, dan itu berimbas pada fokus pada pekerjaan loh.

Saya punya sedikit cerita. Ada dua orang anak yang sesungguhnya mengontrak di tempat lain tapi sering ditaruh di rumah tantenya yang merupakan tetangga satu blok . Keduanya sudah sekolah setingkat SD,kelas 2 dan 3 kalau tidak salah. Nah, mereka berdua ini oleh orang tuanya diantar ke rumah si Tante lalu plung, ditinggal pergi begitu saja, dengan alasan bekerja. Mereka ditinggal dari pagi sampai sore SENDIRIAN. Tidak ada orang dewasa yang menemani, memastikan mereka aman, memastikan mereka makan, tidak ada.

Kalau cerita dua anak ini bisa dijadikan pembanding, maka bagi saya orang tua yang menitipkan anak mereka ke day care itu jauh lebih peduli loh. Paling tidak, ada yang menjaga dan memastikan mereka makan. Rasanya aneh saja melihat orang tua yang dua-duanya bekerja tapi enggak mau modal sedikitpun untuk bayar pembantu untuk menjaga anak-anaknya.

Benarkah tingkat pendidikan pengasuh di day care selalu lebih rendah dibanding ibu?

Saya akan menjawab Iya. Lha, bener kan? Kalau mereka pinter-pinter tentunya mereka milih jadi bos dong, bukan pengasuh. Nah, karena saya cukup sering bergaul dengan sesama pengasuh saat sedang mengasuh anak-anak saya melihat itu nyata kok. Cuma memang saya bisa kasih satu catatan, walau secara pendidikan mereka rendah secara mental mereka sabar luar biasa. Ya emang sih alasannya duit, tapi mereka ini jauh lebih sabar dan telaten dibanding si Ibu. Tidak jarang saya melihat bagaimana para Ibu ini kelimpungan menghadapi anak mereka ketika pengasuh tidak ada. Kalau paling sering sih pasca lebaran, rata-rata obrolan sesama pengasuh itu begini;

“Ya ampun ditinggal seminggu anake dadi kuru, mbokne ora telaten sing ndulang”

Hayo loooo, siapa yang begini? Nggak usah baper, ngaku aja wis, saya juga gitu kok muihihihi. Ini bisa jadi catatan bagi kita semua karena ketika menghadapi anak justru masalah mental kitalah yang menjadi tantangan. Anak enggak mau makan, nyerah. Akhir-akhirnya kita jadi ngegampangin, udahlah entar nunggu si embak balik aja paling jadi gendut lagi.

Bagaimana dengan kontribusi ibu dalam pengasuhan?

Nah, ini nih topik utama yang pengen saya bahas sejak tadi. Mohon maaf kalau mukadimahnya kepanjangan ya. *sungkem

Saya merenung dan mikir keras, lalu sebuah pertanyaan melintas di kepala.

SEBENERNYA MASALAH PENGASUHAN INI YANG BERTANGGUNG JAWAB UTAMA SIAPA SIH????

Kesel loh, kesel banget rasanya tiap baca artikel kok kayake kalau ada masalah terjadi di luar sana selalu para Ibu yang disalahin. SE.LA.LU

Belum bisa hamil? — salah ibu

Keguguran ? — salah Ibu

Melahirkan sesar? — salah ibu

Nggak bisa nyusuin? — salah ibu

Anak minum sufor? — salah ibu

Anak nangis? — salah ibu

Anak sakit? — salah Ibu

Semua semua semua salah Ibu. Lah, LALU AYAHNYA DIMANA????? (Capslock jebol karena menulis dengan penuh emosi)

*exhale-inhale *Istighfar

Ibu-ibu semua, terutama yang muslim saya mau ajak kalian untuk buka kembali Al-Qurannya.

Dalam surat At- Tahrim ayat 6, Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.”

Selain itu saya ambilkan beberapa hadis yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya:

  1. Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”
  4. Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).

Ladies, tolong sadari satu hal, ketika para ibu baik yang SAHM dan WM saling cakar menyalahkan, para bapak sedang asyik ngopi-ngopi sambil garuk-garuk pantat dan belum mandi dan main game, dan ENGGAK PEDULI. Sadarilah, saling membenci itu melelahkan serta nirfaedah.

Saya amat sangat memahami tulisan mbak Yuria yang khawatir dengan kondisi lingkungan saat ini. Saya juga merasakan yang sama kok, sama-sama khawatir., banget malah. Lingkungan kita makin kesini kok makin ngeri, LGBT mulai terang-terangan, bullying dimana-mana dan ada dalam segala level, pornografi, seks bebas, dan.. Ya…kalo ditulis semua mungkin enggak akan cukup selembar kertas. Saya juga takut, dunia macam apa yang akan dihadapi anak-anak kita nanti? Hutan belantarakah? Hukum rimbakah? Mengerikan !

Lalu bagimana caranya mempersiapkan anak kita menghadapi itu semua? Penguatan di rumah! Dan gaesss plis dipahamiiii, tanggung jawab itu ada di tangan para ayah, bukan hanya kita. Saya muak tiap kali yang ditodong untuk ini dan itu hanya pihak Ibu, lalu ayah ngapain? Coba deh googling, Indonesia ini Fatherless Country loh! Dimana-mana ayah memang hadir secara fisik tapi tidak psikologis.

Ayah ada dirumah tapi sibuk main game. Ayah ada dirumah tapi sukanya marah-marah. Ayah ada di rumah tapi seperti tidak ada. Yang dibutuhkan dari ayah hanya uangnya, bukan kehadirannya. Tidakkah itu menyedihkan?

Saya rasa peran seorang ibu di rumah dapat maksimal atau tidak itu tergantung pada ayah. Loh?

Jadi gini, anak yang cerdas biasanya adalah anak yang bahagia, anak yang bahagia adalah hasil pola asuh ibu yang bahagia, Sosok ibu yang bahagia muncul karena si ayah mampu membahagiakannya.

Ayah hebat –> Ibu bahagia –> Anak bahagia –> Anak cerdas

Nah sekarang coba saya tanya pada para suami, sudahkah memenuhi tugas pertama dan utama yaitu membahagiakan istri/ibu dari anak-anak kalian ?

Perlu dipahami oleh para ayah bahwa menjadi istri/ibu yang bahagia itu susah-susah gampang. Cukup kalian nafkahi, peluk setiap hari, dengarkan serta ajak ngobrol. Terimalah keluh-kesahnya, tanggapi kemudian dipeluk lagi. Kalian enggak perlu membelikan emas sepuluh kilo ataupun tiket berlibur ke luar negeri, walaupun kalau dikasih pasti enggak bakal nolak juga, wkwkwk

Sering saya mendengar kisah para ibu yang tak akur dengan mertua maupun ipar dan suami juga tidak bisa menjembatani masalah ini dengan baik. Membuat si ibu frustasi. Tak butuh waktu lama untuk kemudian segala perasaan negatif itu disalurkan ke anaknya lewat teriakan , cubitan dan kemarahan.

Masalah nafkah. Aduh, gimana ya soalnya saya sendiri masih harus banyak-banyak belajar tentang bab bersyukur. Seandainya suami mampu menafkahi istrinya secara ma’ruf insya allah istri enggak akan terpaksa ikut bekerja diluar untuk membantu kondisi keuangan keluarga.

Selain itu, saya rasa suami wajib meluangkan waktu menemani istri belanja bulanan atau harian. Paling tidak, dari sana suami bisa tahu harga beras, bawang, sabun dan popok jaman now itu berapa, juga harga gamis dan lipstick *eh. Ini bisa mengurangi adanya misscommunication antara suami dan istri dalam masalah finansial. Suami juga bisa merenung dan mikir seribu kali untuk beli hotwheels.

Ayah, tak perlu malu untuk sesekali menunjukan kemesraan dengan ibu di depan anak-anak kalian. Di balik seruan-seruan “ih ayah sama bunda ngapain seehhh, syuh-syuh” ada anak-anak yang merasa tenang dan aman karena melihat kedua orang tuanya saling mencintai. Ini akan menambah rasa hornat mereka kepadamu loh. Yang lebih penting lagi, mereka akan belajar cara menghargai perempuan dari cara ayahnya memperlakukan ibu mereka.

Wahai para lelaki yang memiliki istri bekerja, kalian itu sebenrnya pernah enggak sih ngajak ngobrol anak-anak kalian tentang keinginan mereka?

“Hei jagoan, hei putri cantik, coba ayah tanya, kalian lebih suka bunda di rumah atau bunda bekerja? Kalian lebih suka dirumah sama si embak atau di day care?”

Pernah enggak?

Pernah enggak kalian mencoba menjelaskan ke mereka kenapa bunda harus pergi bekerja di kantor? Sanggupkah kalian mengatakan, “Kalau bunda enggak kerja, nanti yang bantu ayah bayar cicilan rumah siapa ?”

Bisakah kalian membuat anak-anak kalian memahami alasan-alasan kenapa ayah dan bunda dengan sangat terpaksa harus sama-sama bekerja di luar? Kalian ya, bukan si bunda.

Wahai para suami yang suka sedih ketika rencana futsal harus dibatalkan, pernah enggak sih kalian mengucapkan terima kasih sama istri, atas pengorbanan dia untuk stay dirumah? Susah loh untuk merasa ikhlas ketika harus berkompromi dengan mimpi-mimpi. Masih beruntung kalau hitangannya kompromi, lah kalau harus mengubur mimpi?

Wahai para ayah yang suka ngeluh pegel ketika gendong anaknya baru lima menit, coba dong tanya ke anak-anak kalian. “Bro, sist, kalian suka kangen enggak sih kalau sehari aja enggak ketemu sama ayah? kalian pengen punya ayah yang kayak gimana sih?” . Kalau jawabannya adalah “Ayah yang nggak pelit kalau kuotanya dihabisin buat nonton youtube” maka hati-hati. Ini jadi warning buat kalian.

Wahai para ayah yang lebih suka ngelus gadget dibanding ngelus rambut anak-anak kalian ketika mereka sedang tidur. Coba lihat grafik di bawah ini.

fb_img_1518526852248675746890.jpg
Foto diambil dari sini

Apa yang kalian rasakan? Khawatir enggak? Atau malah cuek? Duh, jangan ya. Please wake up, please! Ini datanya tahun kapan coba, saya yakin tahun 2018 ini kasusnya makin bertambah. Ini sudah mengkhawatirkan, kalau kalian sampe enggak peduli rasanya kok keterlaluan.

Kita mungkin tidak bisa mengubah kasus-kasus yang sudah terjadi, tapi kita bisa berusaha untuk tidak menambah angka-angka tersebut. Kita bisa dan harus melindungi keluarga kita. Dan hei ayah, ini adalah tugas kamu, tanggung jawab kamu. Biarpun ada yang bilang bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya tetap saja kita harus ingat, bahwa ayah adalah kepala sekolahnya.

Hei kamu para ayah, ketahuilah bahwa semua hal yang disebut dalam infografik di atas bisa dihindari dengan adanya campur tangan kalian, bukan hanya Ibu. Yakinlah bahwa anak-anak yang tumbuh dengan kehadiran figur ayah maupun ibu secara lengkap memiliki kecerdasan emosional, kemampuan untuk berkomunikasi serta bertahan hidup yang jauh lebih baik.

Dalam beberapa video Ibu Elly Risman yang saya tonton beliau berulang kali menerangkan bahwa anak-anak yang mengalami BLAST (Bored, Lonely, Angry/Afraid/Anxious, Stressed and Tired) rentan menjadi pihak yang mengakses konten pornografi dan kecanduan. Kalau sudah kecanduan ya sudah, efeknya panjang sekali karena bisa menyebabkan kerusakan otak. Kebayang enggak sih, kalau komponen utama dalam tubuh kita yang bernama otak itu rusak, hidup kita akan menjadi seperti apa?

Lalu apa yang bisa mencegah itu terjadi? Gampang kok, Cinta dan perhatian.

Beri anak-anak kita cinta terbaik, perhatian terbaik, kesabaran terbaik. Warning terutama bagi kalian para Ayah yang memiliki anak perempuan! Tolong, sering-sering dipeluk ya anaknya, kasih perhatian, puji dia, katakan kalau dia cantik setiaappp hari. Wajib hukumnya bagi para ayah untuk mengajak anak gadis mereka kencan, sisihkan sedikit uang untuk membelikan mereka boneka atau tas atau buku atau apapun yang menjadi benda favorit mereka. Rebut cintanya, rebut kasih sayangnya, jangan pernah mengabaikan mereka. Niscaya, anak-anak gadis itu tidak akan mudah jatuh pada rayuan buaya. Karena ayah adalah pemegang cinta pertama anak perempuannya.

Anak-anak yang tangki cintanya kosong, mereka haus akan kasih sayang. Mereka merasa tidak diperhatikan, tidak dicintai, tidak disayangi. Hal itulah yang mendorong mereka untuk mencari cinta diluar. Maka jadilah kasus-kasus dia atas itu, mulai dari ciuman bibir, hamil di luar nikah, aborsi. Naudzubillahmindzallik.

Please ayah please, alihkan perhatianmu dari gadget ke anak gadis kalian. Mereka memerlukannya.

Para ayah, ajarkan anak laki-laki kalian cara menghargai perempuan melalui caramu memperlakukan ibunya anak-anak. Lembut terhadap istri dan anak-anak namun tegas bila situasinya memang dibutuhkan. Ringankanlah tangan kalian membantu pekerjaan rumah tangga. Jangan malu untuk membantu di dapur, mencuci baju, menyapu, menjemur. Pantang menyerah, ajarkan bahwa segala macam pekerjaan asal halal Insya Allah berkah. Bersikaplah seperti Superman yang tidak takut pada rasa sakit, yang dadanya bidang dan keras, siap untuk menjadi tempat bersandar istri serta anak-anak.

Saya yakin, yakiinnn sekali jikalau ayah peduli pada pengasuhan anak maka ibu akan seratus kali lebih bersemangat untuk mengabdikan diri pada pendidikan anak-anaknya.

Betul atau betul?

Seperti yang ditulis oleh mbak Yuria, Anak-anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita. Kita yang akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban kelak. Bukan sekedar materi yang harus kita berikan. Bukan sekedar hal teknis yang harus kita selesaikan. Namun yang terpenting adalah perhatian.

Bagi saya, yang ditulis oleh mbak Yuria adalah bentuk cinta. Panggilan, pengingat semua pihak bahwa hal-hal itu nyata adanya. Bagi saya, cara menanggulangi permasalahan pelik potret generasi kita saat ini tidak hanya dari pihak ibu, yang utama justru ayah. Wahai para ibu yang bekerja dalam ranah domestik maupun publik, let’s stop this war. Let’s stop blaming and start supporting each other.

Tak peduli peran apapun yang kita jalani, kitalah penanggung jawab utama anak-anak kita di masa depan nanti.

PondokAren, 13 februari 2018

Fb : ajeng pujianti lestari

Instagram : ajeng.yulunay

Catatan sumber-sumber penulisan :

Kewajiban Suami Terhadap Istri

SAAT DAY CARE MENJADI DAY (THEY) DON'T CARESaat ini daycare menjadi primadona banyak ibu. Padatnya aktivitas, sulitnya…

Dikirim oleh Yuria Cleopatra pada 7 Februari 2018

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Lupa

“Bang, ayah udah pulang belum?” Tanya saya pada si abang setelah selesai mandi.

Si abang menjawab dengan gelengan kepala.

Saya menatap ke arah jam dinding. Udah jam setengah tujuh malam lebih, biasanya jam segitu suara motornya udah kedengaran. Entah kesambet apa tiba-tiba kepala langsung dipenuhi segala macem pikiran negatif. Jangan-jangan dia nyari pikachu dulu? Jangan-jangan dia lembur tapi nggak sempat ngabarin? Jangan-jangan?

Ya ampun, saya langsung beristighfar. Akhirnya saya mengambil hape dan memencet nomor orang kesayangan.

“Halo?” Terdengar suara suami dinujung sana, suasana yang menjadi latar belakangnya terkesan ramai.

“Kamu dimana?” Tanya saya penuh emosi

“English course” jawab dia lempeng

Saya langsung tepok jidat! Ya ampun,ini kan hari selasa yaaaa! Kok bisa-bisanya saya lupa kalau hari ini dia ada jadwal les ielts di kantor. Saya jadi malu sendiri, udah marah-marah enggak jelas dan berprasangka buruk sama dia.

“Sorry, I forget”

“It’s okey, I’ll see you home honey”

Kemudian telepon terputus. Aahh,saking kangennya aku sampai lupa. Dudududuu

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Ganteng

“aduh ini lucu banget siihhh!”

“Ya ampun cakepnyaa!”

“Alisnya kok udah mbentuk gitu ya?”

“Eh, bulu matanya panjang-panjang, lentiiikkk!”

“Ya ampun, matanya sipit kayak cowok korea”

Kalimat-kalimat di atas dilontarkan oleh mereka-mereka yang kenal ataupun tidak kenal dengan anak bungsu saya, Aylan.

Pada saat tahsin pagi tadi, Aylan berhasil menggoda mbak-mbak sampai nenek-nenek akhwat. Mereka gemes sekali dengan Aylan. Nggak tahan untuk sekedar msnggoda supaya Aylan senyum atau tertawa.

Hal yang sama terjadi saat saya memeriksakan diri ke dokter dan mampir ke toko kecantikan. Teriakan mbak-mbak spg ataupun towelan di pili di terima Aylan.

“Alhamdulillah, anak kita banyak penggemarnya” kata saya saat di perjalanan pulang.

“Iya, dia kan ganteng, kayak ayahnya” celetuk Yusuf.

Dan saya langsung menabok punggungnya berkali-kali.

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Ditinggal Mama

Alohaa! Hai-hai-haiii, pegimane kabar? Aslinya hari ini muales banget mau nulis tapi daripada ngutang tulisan, akhirnya numpuk dan bisa bikin hidup enggak tenang malah tambah kacau. Jadinya aye sempatkan untuk writing ala kadarnya ajalah.

Semalam saya tidur cepet tapi kebangun tengah malem, you know-lah nasibnya busui. Alhasil pagi-pagi badan remek dan mata udah kayak panda. Maju-mundur mau hadir ke acara Meet Up Blogger Muslimah. Alhadulillah si Ayah mendukung penuh.

Jadilah setelah saya gendandapan beberes rumah, nyiapin sarapan+makan siang dan mandiin Aylan serta merah ASI, diantar oleh si Ayah dan triplet ke Stasiun Pondok Ranji. Alhamdulillah, ketika berpamitan tidak ada yang ngerengek-ngerengek ataupun nangis bombay. Sambil nunggu kereta datang saya pengen nari jingkrak-jingkrak dan tebar bunga, akhirnya, KEBEBASAN!! YEEIIIII!!

Udah lama banget sejak terakhir kali bisa pergi jalan-jalan sendirian. Mungkin karena saking penatnya saya betul-betul menikmati perjalanan dari Stasiun ke Gedung Permata Kuningan. Begitu sampai langsung disambut oleh panitia dan teman-teman blogger lain yang levelnya sudah senior. Alhamdulillah mereka sangat welcome, dan asyik. Saya yang cuma sekelas kutu kupret ini nggak jadi mengkeret ndepipis di pojokan ruangan.

Acara berjalan lancar dan seru, terutama pada saat sesi tausiyah bersama teteh Khadijah “Peggy Melati Sukma”. Untuk detail acara akan saya tuliskan nanti yah. Oh ya, saat sampai disana saya menyempatkan diri laporan ke teman tapi sangat mesra yang sudah halal terlebih dahulu. Saya takut dia khawatir istrinya yang paling imut-imut ini nyasar ke kali ciliwung.

Ketika jam sudah menunjukan pukul 12 siang dia tiba-tiba WA

Udah selesai belum acaranya?

Belum, dikit lagi? anak-anak mana? Fotoin dong

Alhamdulillah, dari foto-foto yang dikirim anak-anak tidur dengan lelap, begitu juga Aylan. Mama nggak jadi khawatir.

Terima kasih suamiku, terima kasih anak-anakku sudah mau bekerja sama memberikan waktu untuk mama bernafas sejenak, I love you all

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Celetukan-celetukan Yuan

Mah, itu perut mama kok masih gede? Mama mau melahirkan lagi ya?

*Jedotin kepala ke tembok*

Mah, nanti dedek yang ada di perut mamah namanya siapa?

*Nyebur ke kali code*

Ayah, pinjem hape buat main Youtube. Enggak boleh. Yah, ayah pelit ih. Loh, kok yuan bilang gitu? Ayah sedih dibilang pelit. Yaudah deh ayah enggak pelit, ayah itu..pelit banget..

*Garuk-garuk pintu*

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂