Balada perkontrakan

Gaes, udah berapa kali pindah rumah?

Dulu, dulu saya sering bertanya-tanya kenapa kami sering sekali berpindah tempat tinggal kepada mama dan papa. Dari kos-kosan satu kamar ke sebuah rumah mungil dan rumah mungil lainnya. Sampai akhirnya kakek membangunkan rumah untuk kami, kami tidak pernah berpindah-pindah tempat tinggal lagi.

Bagi ajeng kecil, pindah rumah itu rasanya nano-nano. Kadang senang kadang sedih, terutama kalau sudah menemukan teman bermain yang menyenangkan. Atau mungkin ketika sempat merasakan punya kamar sendiri kemudian harus berbagi.

Waktu berlalu.

Saya menikah dengan seorang buruh negara yang wilayah kerjanya se-Indonesia Raya. Hanya bagian kepegawaian dan Allah SWT yang tahu dimana suami akan ditempatkan. Itulah sebab kenapa sampai saat ini kami belum mempunyai tempat tinggal yang tetap, selain memang tidak ada uangnya. Wakakakakaka

Dulu saya ngontrak di Tulungagung, Jawa Timur. Mengontrak untuk dua tahun sampai qadarullah suami diterima D4. Kami pindah ke Jakarta, eh Tangerang Selatan maksudnya. Kontrakan kami lokasinya sangat dekat dengan kampus, tinggal jalan saja. Setelah lulus dan karena akan melahirkan anak kedua, kami mengontrak sebuah rumah di cluster. Dua bulan lagi dua tahun. Lalu datanglah chat dari si induk semang.

Si pemilik rumah mengatakan bahwa dia hendak menaikan harga sewa sampai DUA KALI LIPAT.

Saya kaget dong, dan pengen geprukin sesuatu ke kepalanya si pemilik.

Edan wae, rumahnya tanpa kanopi, carport masih apa adanya, bocor nggak mau tanggung jawab dan tetiba mau naikin harga segitu.

Duh, beginilah nasib kontraktor. Bingungnya tiada akhir