KETIKA PEREMPUAN BERSATU & TAK TERKALAHKAN

Saya gagal move on ! Gatot alias gagal total untuk bisa melanjutkan hidup setiap melihat foto di bawah ini

img-20180224-wa0079192243666.jpg
terharu sungguh aku terharu #nyanyik

Wuiihhh, rame banget itu ya? Acara apaan sih? kok kayaknya seru banget!!!

Iya, emang acara kopdar PIPDJP a.k.a Persatuan Istri Pegawai DJP yang diselenggarakan di Bumi Bambini, Ciputat tanggal 24 Februari itu keseruannya sungguh tak terlupakan. Temanya juga waow banget, soalnya panitia perlu semedi tujuh hari tujuh malam dengan menabur kembang tujuh rupa ke suami masing-masing, wkwkwk.

Dari Maya Menjadi Nyata, Saudara Selamanya

Tema itu mencerminkan kondisi kami, para istri buruh negara yang bekerja di bidang perpajakan. Selama ini kami terhubung dalam grup whatsaap dan tidak beretemu muka (kecuali yang memang bertetangga, dan member terbayak memang dari pondok aren). Wacana untuk melakukan kopdar sering berdengung, bismillah akhirnya setelah nekat membentuk grup khusus kopdar jabodetabek acara ini berhasil terealisasi, dengan ijin Allah tentunya.

Acara ini terhitung besar karena pada awalnya ada 50-an keluarga yang akan ikut, walaupun pada hari H hanya 30-an saja. Panitia, yang semuanya adalah perempuan, istri juga ibu bekerja sangat keras meramu, meracik serta mempersiapkan acara ini agar betul-betul berkesan. Semua diatur sedemikian rupa, mulai dari waktu, tanggal, tempat, dresscode merah-hitam, agenda lomba dan lain-lainnya. Pokoknya luar biasa deh ibu-ibu ini, ngurus anak iya, sosialisasi iya, jadi panitia juga bisa. Bener-bener istri idaman yang unch unch unch banget, Milea mah cuma a piece of cake ~

img_20180224_0736382042876374.jpg
menyempatkan diri untuk berfoto di photo booth yang dipasang para suami, sebelum acara dimulai. Coba tebak saya yang mana hayooo, ahahaha.

Acara dipandu oleh bapak MC Alvin Erlangga yang ternyata merupakan kakak saya sendiri *uhuk.

Acara berjalan dengan begitu apiknya, mulai dari pembukaan, doa bersama, tausiyah oleh Pak Fery, penyerahan hadiah bagi para pemenang sayembara menulis PIDJP part 2 yang nantinya insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku *doubleuhuk*

img-20180224-wa00781311926476.jpg
Wajah bahagia para pemenang sayembara menulis, walaupun harus berebut piala dengan anak. Gile, keren banget yak para ibu ini, Sangat istriable *digaplok

Acara ini bertabur hadiah, sampai-sampai panitia harus mengadakan banyak penghargaan unik-unik semacam: 4 orang pertama yang transfer duluan dan 4 orang peserta yang pertama hadir di acara.

Pokoknya, Panitia banyak sponsor mah, bebasss!

Berlanjut ke sesi perkenalan yang lagi-lagi dibuat dengan sangat antimainstream. Setiap kepala keluarga dipersilahkan memperkenalkan diri beserta anggota keluarganya, kemudian mereka wajib menjawab pertanyaan yang diajukan oleh MC. Normal sih ya, yang enggak normal tu pertanyaannya, tak terduga dan ngaco abis!

Beberapa contoh pertanyaan ngaco:

  • Siapakah Dirjen Pajak saat ini? Apakah A. Robert Pakpahan atau B. Robert Makmahan?
  • Berapakah nomer hape pasangan anda?
  • Kapan tanggal lahir istri anda?
  • Siapakah orang paling kaya di dunia? A.Tony Stark B. Bruce Wayne C. Bu Dendy
  • Lebih suka Via Vallen atau Nella Kharisma?
  • Apakah tahun ini akan ada IPK? (DAN JAWABANNYA DISAMBUT DENGAN SANGAT MERIAH BOEBOOO)
  • Apakah anda setuju dengan poligami? (Dijawab dengan kebingungan, penuh keringat dan deg2an karena ada istri disebelahnya, wkwkwkwk )

Saya dan pak MC memang semalaman berdiskusi, menyiapkan 40 pertanyaan berbeda untuk 40 keluarga yang bisa bikin mereka manggil awan kinton untuk pergi ke laut atau mengeluarkan jurus kamehameha.

Sekali lagi, namanya juga panitia, bebass!

Keseruan berikutnya adalah lomba yang dieberi judul enggak kalah ngaco: MENGUKIR CINTA. Dimana para istri ditutup matanya dan wajib melipsticki , eh mengukir bibir suami kesayangannya masing-masing. Kehebohan loma itu benar-benar enggak bisa dilukiskan, karena memang saya bukan pelukis.

img-20180224-wa0084680175164.jpg
Romantis itu sederhana : gendong anak terus dilipstikin sama istri. Oh indahnya Oh bahagianya~

Puas dengan lomba-lomba kami pun menyantap makan siang berupa ayam bakar bumbu rempah yang sangatos lezatos nikmatos. Kemasan makanannya pun sangat eksklusif, dengan sticker yang dicetak khusus. Sungguh, panitia makannya sambil terharu. Snack Boxnya juga enggak kalah nyam-nyam! Sayang engak sempat foto, tapi sosis solo, donat serta kue sus buatan Bu Nining Komalasari beneran jadi favorit semua peserta ataupun panitia.

img-20180224-wa00271326537106.jpeg
Terima kasih mbak Barbara Crony berkenan menyediakan makan iang untuk kami dengan harga terjangkau, rasa enak dan packaging istimewa

Alhamdulillah, akhirnya acara selesai ditutup dengan foto bersama dan saya menyerahkan bingkisan untuk Alvin yang berkenan memandu dari awal sampai akhir.

img-20180224-wa00381174175461.jpg
Adik mnyerahkan bingkisan ke kakak. Ada yang bilang gen kami sangat kuat karena kami sangat mirip satu sama lain

Alhamulillah, saya bersyukur sekali acara yang dipersiapkan dengan susah payah bisa berjalan dengan lancar. Bertemu dengan teman-teman yang selama ini dikenal hanya via medsos. Saya kagum dan terharu dengan semangat para peserta. Ada yang berangkat tanpa suami dengan tiga anak, ada yang sedang hamil dan sendirian, ada yang jauh dari depok bawa motor dan bawa dua anak, pokoknya panitia merasa sangat diapesiasi dengan semangat teman-teman peserta.

Yang paling penting dari kopdar ini adalah satu : MENYIBAK KEBENARAN. Ternyata Mpok Amel yang rame di grup orangnya anggun dan keibuan banget. Ternyata Bu Irvin betul-betul ramah, lembut dan menenangkan banget senyumannya. Ternyata Mbak Laila bener-bener cantik, tinggi, ramping dan setrong persis seperti fotonya. Ternyata Bu Ira dan Bu Endah sangat kalem namun dewasa, Ternyata mbak Iin Tri orangnya sangat njawani dan sumeh. Ternyata mbak miftah orangnya ceria dan maniiiiss sekali. Ternyata Mbak Ati orangnya supel dan hobi banget ngejar-ngejar anaknya, Ternyata mbak Yuna yang sedang hamil besar tetap semangat dan antusias. Ternyata bu Arik orangnya masya Allah bu, berpengalaman! Dan Bu Hanny, uwow syantieekk awet muda!

Saya senang sekali karena acara ini diselenggarakan tanggal 24 Februari, bersamaan dengan tanggal ulang tahun suami saya tercinta.

img_20180224_0848131278446939.jpg
Foto berdua tok, untuk sedetik lupa kalau ekor sudah tiga. Bahagia banget karena di foto ini saya tampak langsing tiada tara, duduudu

Demikianlah laporan acara weekend kali ini. Meskipun saat pulang malam harinya saya menderita diare dan demam, saya tetap bersyukur menjadi bagian dari momen keakraban para istri.

Terakhir, saya hendak mengutip kata-kata pak Fery saat tausiyah :

Ada segolongan orang yang dijauhan dari api neraka. Salah satunya adalah mereka yang menyambung tali silaturahmi.

Nah, semoga kita semua adalah orang-orang yang termasuk dalam golongan itu yaa!

#blog #blogger #kpdar #pipdjp #onedayonepost

JUDGING ALA NETIZEN INDONESIA

Barusan ini saya mengakses media sosial Facebook dan menemukan postingan sesembak yang disertai dua buah video. Postingan tersebut kurang lebih memiliki caption seperti ini

Menurut cerita polos anak ganteng ini,dia kena marah ibunya hanya gara2 salah melulu ngerjain LKS sehingga ibunya jengkel lalu ibunya dg sengaja memanaskan setrika utk melukai bagian paha anak ganteng ini.
Tp meskipun kesakitan dia tetap berangkat sekolah.Kendati begitu anak ini ijin utk tdk mengikuti upacara,ketika ditanya oleh pihak sekolah alasan anak ini tdk mau mengikuti upacara,disitulah permulaan terbongkarnya tindak kekerasan ibunya trhadap anak ini.krn setelah ditanya lebih detail,anak ini mengaku kesakitan sembari menunjukan luka setrika td.Tidak sampai disitu,pihak sekolah juga menemukan banyak luka disekujur tubuhnya.
Krn merasa sudah diluar batas kewajaran,barulah pihak sekolah melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang.

Ijinkan eikeuh utk berkomentar yaa,mohon maaf apabila ada yg tersinggung??? :

ETA NU JADI INDUNG NA SUGAN GELO NYA,BOGA KELAINAN JIWA ATAWA KUMAHA..KOPLOK BANGET TEGA NYETRIKA ANAK SAKITU LEUTIK KENEH,TEU PIRA SALAH NGERJAKEUN LKS ❓
EMANGNA SIA BAHEULA LANGSUNG PINTER KITU,TARA SALAH..PAN MUN SALAH TINGGAL BERE NYAHO SUPAYA BISAEUN LAIN MAH DI SIKSA ⁉️

Jujur saya enggak sanggup untuk melihat videonya, takut mewek-mewek. Hanya saja saya tercengang membaca komentar-komentar netizen Indonesia yang maha hebat, maha benar dan maha tak bisa disalahkan.

Eta Ibuna Jurig! (Itu ibunya setan)

Ouch, komentarnya sungguh…nganu sekali.

Ehem, wahai kalian emak-emak. Saya tahu yang dilakukan si ibu itu sungguh kejam, jahat dan mengerikan. Tapi tapi tapi, apakah dengan mengatai seperti itu artinya kita ini suci?

Yakin?

Saya punya tiga orang anak, alhamdulillah mereka semua normal dan sehat. Tak jarang ada kondisi dimana salah satu atau bahkan ketiganya meminta perhatian yang lebih. Entah karena mereka lapar, pup di celana atau sekedar ingin ditemani bermain. Pada saat yang sama saya sedang berkutat dengan…katakanlah tugas ODOP. Mesti pada tahu semualah kalo menulis itu kita membutuhkan hati serta suasana yang tenang. Ketika anak-anak rewel dan tugas bejibun tak jarang saya merasa bahwa mereka itu berisik dan mengganggu. Padahal saya ibunya sendiri loh, dan mereka anak-anak saya.

Apakah itu artinya saya tidak sayang kepada mereka? Oh tidak, saya sayang dan cinta banget sama mereka. Tapi memang terkadang kondisi yang tidak pas membuat kita tidak sanggup berpikir jernih sehingga terjadilah hal yang kita sebut “kehilafan-kekhilafan” begitu saja.

Sekuat apapun saya berjuang menjadi malaikat, rasanya tetap ada sisi yang lemah. Kalah oleh nafsu ingin memarahi anak.

Coba deh saya tanya, adakah ibu disini yang betul-betul hampir tidak pernah seumur hidupnya?

Belum lagi waktu saya scroll ke atas komen-komennya banyak yang bertanya si ayah kemana. Duh alahiyunggg, muncul lagi kasus dimana anak menjadi korban karena ibu yang stress ditinggal oleh suaminya.

Ini kembali menjadi catatan bagi saya dan suami, bahwa ungkapan “Our child, they do not need a perfect parent. They need a happy parent” itu benar adanya. Seberat apapun anak menguji kita, ketika ayah/suami memberikan kontribusi nyata, saya rasa enggak mungkin deh ibunya bakal stress tingkat tinggi.

Saya selalu merasa sedih, kasihan sama mereka, para istri yang tidak memiliki tempat sampah. Merasa penat, bosan dan kesal namun tidak tahu harus mengungkapkannya ke siapa. Karena suaminya tidak ada. Stress yang menumpuk lama-lama menimbulkan depresi. Lalu si ibu yang depresi ini “diganggu” oleh anaknya yang bertanya tentang suatu soal LKS. Hasilnya kita sudah tahu, anak menjadi korban.

Ya allah…betapa sedihnya.

Saya bersimpati pada nasib si anak, tapi mencoba berhati-hati untuk memberikan komentar (padahal tulisan ini ya komentar).

Rasa-rasanya fungsi jempol dan lidah sudah mulai tidak bisa dibedakan lagi. Menulis komentar yang menyakitkan hati tanpa mengetahui fakta sebenarnya kok ya gampang saja. Padahal tulisan kita sifatnya abadi loh. Tulisanmu mencerminkan kepribadianmu.

Kalo kita seneng banget nulis yang isinya kebun binatang atau hardikan kasar walaupun foto yang kita pasang adalah pose tercantik dan termanis, rasanya kok aneh ya.

Namanya juga media sosial, mungkin kita perlu banyak-banyak belajar komedi atau mengalami tragedi yang sama supaya lebih bijak dalam berpendapat?