Ini Tentang Peran Ayah, bukan SAHM ataupun WM

Alkisah di suatu hari yang tenang ketika hendak mendaftarkan Yuan di sebuah sekolah playgroup saya bertemu dengan seorang ibu, mari kita sebut saja dengan ibu A. Biasalah untuk mencairkan suasana saat menunggu kami ngobrol sekedar untuk berbasa-basi busuk.Lalu entah bagaimana pembicaraan kami masuk ke dalam ranah pekerjaan. Saya mengatakan bahwa saat ini berprofesi sebagai IRT alias Ibu Rumah Tangga. Ibu A, yang tidak pernah saya kenal sebelumnya berkomentar sesuatu yang intinya bagi dia, sebagai lulusan universitas ternama di negeri ini menjalani profesi IRT itu adalah sesuatu yang sia-sia.

Duh, Gusti Allah nu maha agung…

Sakit? Oh pasti, ketika pulang saya mengadukan hal ini pada suami. Ujung-unjungnya saya nangis dong, tidak lama kemudian rasa rendah diri kembali menghantui. Merasa tidak puas dengan tanggapan suami, saya curhat pada teman saya yang seorang working mom (fyi, di komplek rumah petak tempat saya tinggal saat itu, saya adalah satu-satunya IRT).

Makjegagik!

Responnya di luar dugaan saya, dia Marah. Iya, dia marah. Dia bilang kalau ibu A sungguh sombong, tidak sopan dan extremely menyebalkan. Teman saya yang ikut merasakan kesal bilang kalau Ibu A itu di kantor pasti kerjaannya cuma nyantai-nyantai, sok sibuk dan sok ho’oh. Karena kalau dia memang hebat di kantor, dia nggak akan menghina profesi orang lain. Bukankah orang yang merasa perlu merendahkan harga diri orang lain itu karena untuk menutupi ketidakmampuan dirinya sendiri?

Ya sudahlah, saya sudah berdamai dengan masa-masa itu, selesai. Kalaupun teringat lagi saya justru kasihan sama anaknya. Gimana ya kehidupan sehari-hari si anak punya ibu yang omongannya nylekit dan suka merendahkan orang lain? Huffthh..

Apa ibroh yang bisa saya ambil dari pengalaman di atas? Saya dihina oleh seorang working mom namun dibela oleh working mom yang lain. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa masalah bukan pada titel working mom-nya, tapi memang orangnya yang njelehi. Iya kan?

Mommy’s war itu mengerikan, terutama isu tentang SAHM vs WM di media sosial. Ehm, kalau boleh jujur perang di dunia nyata juga tidak kalah panas sih. Di kota kecil tempat saya tinggal dulu profesi IRT tidak jarang dipandang sebelah mata.. Mau kamu lulusan dari universitas terkenal kalau ujung-ujungnya cuma jadi IRT yo tetep wae, kamu cuma upil seujung kuku. Saya pernah bertemu dengan orang yang memilih bekerja dengan gaji katakanlah 100 dan harus membayar pengasuh 150. Akhirnya dia meminta suaminya untuk nombokin. Jadi alih-alih membantu kondisi keuangan keluarga dia justru menambah beban pengeluaran suaminya. Semua itu dia lakukan demi mendapat titel “bekerja” . Jujur saya sedih, sebegitu hinakah profesi IRT sampai lebih memilih menyerahkan pengasuhan anak serta semua gaji yang dimiliki untuk mendapatkan pandangan hormat dari orang lain?

Alhamdulillah, saya beryukur sekali diberi kesempatan oleh Allah untuk berpindah-pindah tempat tinggal, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang yang membuat pikiran saya semakin terbuka.

Awal-awal saya pindah ke tangsel, rasa minder mendera karena seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, saya satu-satunya IRT di lingkungan tempat tinggal. Saya merasa malu untuk menyapa ataupun mengobrol, khawatir mereka akan merendahkan seperti yang banyak dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Nyatanya, saya salah. Setelah ngobrol kami nyambung-nyambung aja tuh dan malah tetep bisa merasa asyik satu sama lain. Mereka sangat mengagumi saya yang mampu menghadapi segala problema Ibu Rumah Tangga mulai dari seabrek kerjaan yang enggak ada habisnya,rasa bosan yang melanda, ngurusin anak dengan tingkah polahnya, sampai cara mengelola keuangan yang datang hanya dari pihak suami. Sebaliknya, saya semakin memahami bahwa berperan menjadi working mom itu tidak mudah, pumping asi, antar-jemput anak ke day cara, tetep beberes rumah dan memenuhi gizi keluarga dengan masakan sendiri. Karena berteman dekat kami pun sering berbagi cerita, salah satunya alasan untuk bekerja. Ada yang punya keharusan mrmbayar hutang orang tua, sekolah adik-adik dan sebagainya. Kami saling mengagumi dan dengan sendirinya, muncul toleransi di antara kami.

Lalu muncul SK penempatan, kami berpisah. Saya hamil anak kedua dan pindah ke rumah yang lebih besar. Saya tak bisa melupakan berbagai kenangan indah bersama teman-teman working mom saya. Saya memasang mata dan telinga, mengamati bagaimana cara pengasuh anak teman saya ketika dia pergi bekerja. Sebaliknya, mereka adalah pembeli pertama ketika saya mencoba peruntungan untuk berjualan. To sum up, we support each other. Tidak ada dalam kamus kami perang antar ibu lha mau gimana? Toh kami ini kan sama-sama perempuan, istri dan juga ibu.

Selama ini saya adalah pembaca setia tulisan mbak Yuria Cleopatra. Tulisan beliau bagus-bagus dan menghentak sekali di hati. Aku bocahmu mbak, hehe.

Beberapa waktu yang lalu, tulisan mbak Yuria kembali menghidupkan jagad per-facebook-an. Banyak orang yang menanggapi, setuju maupun tidak setuju, positif maupun negatif. Bagi saya pribadi, tulisan mbak Yuria sangat nano-nano sekali. Untuk kali ini, ijinkanlah saya menanggapi tulisan dengan tulisan.

Benarkah day care menyebabkan para ibu menjadi don’t care?

Saya rasa untuk sebagian kasus iya, rasanya kita tahu sama tahu kalau semua ibu pasti senang sekali menitipkan anak di day care. Bayangkan, mengantar dalam kondisi apa adanya di pagi hari dan diambil ketika mereka beres, sudah wangi, sudah makan, tinggal uwel-uwel. Saya belum pernah make jasa day care (karena enggak sanggup bayar biayanya), tapi sering bangetlah tergoda. Enak banget kan ya kalau kita bisa terbebas seharian full dari anak-anak? Lumayan waktunya bisa dipake untuk sekedar ngelayap ke bioskop ataupun nyalon (kode!). Tapi nih, saya banyak menemui para ibu yang rutin menanyai pengasuh anak mereka. Yaa mungkin sekedar menanyakan mereka sedang apa? Sudah makan atau belum? Pupnya gimana? Bisa tidur siang atau tidak. Tak jarang mereka merasa resah kalau tidak mendapatkan tanggapan dari si pengasuh, dan itu berimbas pada fokus pada pekerjaan loh.

Saya punya sedikit cerita. Ada dua orang anak yang sesungguhnya mengontrak di tempat lain tapi sering ditaruh di rumah tantenya yang merupakan tetangga satu blok . Keduanya sudah sekolah setingkat SD,kelas 2 dan 3 kalau tidak salah. Nah, mereka berdua ini oleh orang tuanya diantar ke rumah si Tante lalu plung, ditinggal pergi begitu saja, dengan alasan bekerja. Mereka ditinggal dari pagi sampai sore SENDIRIAN. Tidak ada orang dewasa yang menemani, memastikan mereka aman, memastikan mereka makan, tidak ada.

Kalau cerita dua anak ini bisa dijadikan pembanding, maka bagi saya orang tua yang menitipkan anak mereka ke day care itu jauh lebih peduli loh. Paling tidak, ada yang menjaga dan memastikan mereka makan. Rasanya aneh saja melihat orang tua yang dua-duanya bekerja tapi enggak mau modal sedikitpun untuk bayar pembantu untuk menjaga anak-anaknya.

Benarkah tingkat pendidikan pengasuh di day care selalu lebih rendah dibanding ibu?

Saya akan menjawab Iya. Lha, bener kan? Kalau mereka pinter-pinter tentunya mereka milih jadi bos dong, bukan pengasuh. Nah, karena saya cukup sering bergaul dengan sesama pengasuh saat sedang mengasuh anak-anak saya melihat itu nyata kok. Cuma memang saya bisa kasih satu catatan, walau secara pendidikan mereka rendah secara mental mereka sabar luar biasa. Ya emang sih alasannya duit, tapi mereka ini jauh lebih sabar dan telaten dibanding si Ibu. Tidak jarang saya melihat bagaimana para Ibu ini kelimpungan menghadapi anak mereka ketika pengasuh tidak ada. Kalau paling sering sih pasca lebaran, rata-rata obrolan sesama pengasuh itu begini;

“Ya ampun ditinggal seminggu anake dadi kuru, mbokne ora telaten sing ndulang”

Hayo loooo, siapa yang begini? Nggak usah baper, ngaku aja wis, saya juga gitu kok muihihihi. Ini bisa jadi catatan bagi kita semua karena ketika menghadapi anak justru masalah mental kitalah yang menjadi tantangan. Anak enggak mau makan, nyerah. Akhir-akhirnya kita jadi ngegampangin, udahlah entar nunggu si embak balik aja paling jadi gendut lagi.

Bagaimana dengan kontribusi ibu dalam pengasuhan?

Nah, ini nih topik utama yang pengen saya bahas sejak tadi. Mohon maaf kalau mukadimahnya kepanjangan ya. *sungkem

Saya merenung dan mikir keras, lalu sebuah pertanyaan melintas di kepala.

SEBENERNYA MASALAH PENGASUHAN INI YANG BERTANGGUNG JAWAB UTAMA SIAPA SIH????

Kesel loh, kesel banget rasanya tiap baca artikel kok kayake kalau ada masalah terjadi di luar sana selalu para Ibu yang disalahin. SE.LA.LU

Belum bisa hamil? — salah ibu

Keguguran ? — salah Ibu

Melahirkan sesar? — salah ibu

Nggak bisa nyusuin? — salah ibu

Anak minum sufor? — salah ibu

Anak nangis? — salah ibu

Anak sakit? — salah Ibu

Semua semua semua salah Ibu. Lah, LALU AYAHNYA DIMANA????? (Capslock jebol karena menulis dengan penuh emosi)

*exhale-inhale *Istighfar

Ibu-ibu semua, terutama yang muslim saya mau ajak kalian untuk buka kembali Al-Qurannya.

Dalam surat At- Tahrim ayat 6, Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.”

Selain itu saya ambilkan beberapa hadis yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya:

  1. Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”
  4. Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).

Ladies, tolong sadari satu hal, ketika para ibu baik yang SAHM dan WM saling cakar menyalahkan, para bapak sedang asyik ngopi-ngopi sambil garuk-garuk pantat dan belum mandi dan main game, dan ENGGAK PEDULI. Sadarilah, saling membenci itu melelahkan serta nirfaedah.

Saya amat sangat memahami tulisan mbak Yuria yang khawatir dengan kondisi lingkungan saat ini. Saya juga merasakan yang sama kok, sama-sama khawatir., banget malah. Lingkungan kita makin kesini kok makin ngeri, LGBT mulai terang-terangan, bullying dimana-mana dan ada dalam segala level, pornografi, seks bebas, dan.. Ya…kalo ditulis semua mungkin enggak akan cukup selembar kertas. Saya juga takut, dunia macam apa yang akan dihadapi anak-anak kita nanti? Hutan belantarakah? Hukum rimbakah? Mengerikan !

Lalu bagimana caranya mempersiapkan anak kita menghadapi itu semua? Penguatan di rumah! Dan gaesss plis dipahamiiii, tanggung jawab itu ada di tangan para ayah, bukan hanya kita. Saya muak tiap kali yang ditodong untuk ini dan itu hanya pihak Ibu, lalu ayah ngapain? Coba deh googling, Indonesia ini Fatherless Country loh! Dimana-mana ayah memang hadir secara fisik tapi tidak psikologis.

Ayah ada dirumah tapi sibuk main game. Ayah ada dirumah tapi sukanya marah-marah. Ayah ada di rumah tapi seperti tidak ada. Yang dibutuhkan dari ayah hanya uangnya, bukan kehadirannya. Tidakkah itu menyedihkan?

Saya rasa peran seorang ibu di rumah dapat maksimal atau tidak itu tergantung pada ayah. Loh?

Jadi gini, anak yang cerdas biasanya adalah anak yang bahagia, anak yang bahagia adalah hasil pola asuh ibu yang bahagia, Sosok ibu yang bahagia muncul karena si ayah mampu membahagiakannya.

Ayah hebat –> Ibu bahagia –> Anak bahagia –> Anak cerdas

Nah sekarang coba saya tanya pada para suami, sudahkah memenuhi tugas pertama dan utama yaitu membahagiakan istri/ibu dari anak-anak kalian ?

Perlu dipahami oleh para ayah bahwa menjadi istri/ibu yang bahagia itu susah-susah gampang. Cukup kalian nafkahi, peluk setiap hari, dengarkan serta ajak ngobrol. Terimalah keluh-kesahnya, tanggapi kemudian dipeluk lagi. Kalian enggak perlu membelikan emas sepuluh kilo ataupun tiket berlibur ke luar negeri, walaupun kalau dikasih pasti enggak bakal nolak juga, wkwkwk

Sering saya mendengar kisah para ibu yang tak akur dengan mertua maupun ipar dan suami juga tidak bisa menjembatani masalah ini dengan baik. Membuat si ibu frustasi. Tak butuh waktu lama untuk kemudian segala perasaan negatif itu disalurkan ke anaknya lewat teriakan , cubitan dan kemarahan.

Masalah nafkah. Aduh, gimana ya soalnya saya sendiri masih harus banyak-banyak belajar tentang bab bersyukur. Seandainya suami mampu menafkahi istrinya secara ma’ruf insya allah istri enggak akan terpaksa ikut bekerja diluar untuk membantu kondisi keuangan keluarga.

Selain itu, saya rasa suami wajib meluangkan waktu menemani istri belanja bulanan atau harian. Paling tidak, dari sana suami bisa tahu harga beras, bawang, sabun dan popok jaman now itu berapa, juga harga gamis dan lipstick *eh. Ini bisa mengurangi adanya misscommunication antara suami dan istri dalam masalah finansial. Suami juga bisa merenung dan mikir seribu kali untuk beli hotwheels.

Ayah, tak perlu malu untuk sesekali menunjukan kemesraan dengan ibu di depan anak-anak kalian. Di balik seruan-seruan “ih ayah sama bunda ngapain seehhh, syuh-syuh” ada anak-anak yang merasa tenang dan aman karena melihat kedua orang tuanya saling mencintai. Ini akan menambah rasa hornat mereka kepadamu loh. Yang lebih penting lagi, mereka akan belajar cara menghargai perempuan dari cara ayahnya memperlakukan ibu mereka.

Wahai para lelaki yang memiliki istri bekerja, kalian itu sebenrnya pernah enggak sih ngajak ngobrol anak-anak kalian tentang keinginan mereka?

“Hei jagoan, hei putri cantik, coba ayah tanya, kalian lebih suka bunda di rumah atau bunda bekerja? Kalian lebih suka dirumah sama si embak atau di day care?”

Pernah enggak?

Pernah enggak kalian mencoba menjelaskan ke mereka kenapa bunda harus pergi bekerja di kantor? Sanggupkah kalian mengatakan, “Kalau bunda enggak kerja, nanti yang bantu ayah bayar cicilan rumah siapa ?”

Bisakah kalian membuat anak-anak kalian memahami alasan-alasan kenapa ayah dan bunda dengan sangat terpaksa harus sama-sama bekerja di luar? Kalian ya, bukan si bunda.

Wahai para suami yang suka sedih ketika rencana futsal harus dibatalkan, pernah enggak sih kalian mengucapkan terima kasih sama istri, atas pengorbanan dia untuk stay dirumah? Susah loh untuk merasa ikhlas ketika harus berkompromi dengan mimpi-mimpi. Masih beruntung kalau hitangannya kompromi, lah kalau harus mengubur mimpi?

Wahai para ayah yang suka ngeluh pegel ketika gendong anaknya baru lima menit, coba dong tanya ke anak-anak kalian. “Bro, sist, kalian suka kangen enggak sih kalau sehari aja enggak ketemu sama ayah? kalian pengen punya ayah yang kayak gimana sih?” . Kalau jawabannya adalah “Ayah yang nggak pelit kalau kuotanya dihabisin buat nonton youtube” maka hati-hati. Ini jadi warning buat kalian.

Wahai para ayah yang lebih suka ngelus gadget dibanding ngelus rambut anak-anak kalian ketika mereka sedang tidur. Coba lihat grafik di bawah ini.

fb_img_1518526852248675746890.jpg
Foto diambil dari sini

Apa yang kalian rasakan? Khawatir enggak? Atau malah cuek? Duh, jangan ya. Please wake up, please! Ini datanya tahun kapan coba, saya yakin tahun 2018 ini kasusnya makin bertambah. Ini sudah mengkhawatirkan, kalau kalian sampe enggak peduli rasanya kok keterlaluan.

Kita mungkin tidak bisa mengubah kasus-kasus yang sudah terjadi, tapi kita bisa berusaha untuk tidak menambah angka-angka tersebut. Kita bisa dan harus melindungi keluarga kita. Dan hei ayah, ini adalah tugas kamu, tanggung jawab kamu. Biarpun ada yang bilang bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya tetap saja kita harus ingat, bahwa ayah adalah kepala sekolahnya.

Hei kamu para ayah, ketahuilah bahwa semua hal yang disebut dalam infografik di atas bisa dihindari dengan adanya campur tangan kalian, bukan hanya Ibu. Yakinlah bahwa anak-anak yang tumbuh dengan kehadiran figur ayah maupun ibu secara lengkap memiliki kecerdasan emosional, kemampuan untuk berkomunikasi serta bertahan hidup yang jauh lebih baik.

Dalam beberapa video Ibu Elly Risman yang saya tonton beliau berulang kali menerangkan bahwa anak-anak yang mengalami BLAST (Bored, Lonely, Angry/Afraid/Anxious, Stressed and Tired) rentan menjadi pihak yang mengakses konten pornografi dan kecanduan. Kalau sudah kecanduan ya sudah, efeknya panjang sekali karena bisa menyebabkan kerusakan otak. Kebayang enggak sih, kalau komponen utama dalam tubuh kita yang bernama otak itu rusak, hidup kita akan menjadi seperti apa?

Lalu apa yang bisa mencegah itu terjadi? Gampang kok, Cinta dan perhatian.

Beri anak-anak kita cinta terbaik, perhatian terbaik, kesabaran terbaik. Warning terutama bagi kalian para Ayah yang memiliki anak perempuan! Tolong, sering-sering dipeluk ya anaknya, kasih perhatian, puji dia, katakan kalau dia cantik setiaappp hari. Wajib hukumnya bagi para ayah untuk mengajak anak gadis mereka kencan, sisihkan sedikit uang untuk membelikan mereka boneka atau tas atau buku atau apapun yang menjadi benda favorit mereka. Rebut cintanya, rebut kasih sayangnya, jangan pernah mengabaikan mereka. Niscaya, anak-anak gadis itu tidak akan mudah jatuh pada rayuan buaya. Karena ayah adalah pemegang cinta pertama anak perempuannya.

Anak-anak yang tangki cintanya kosong, mereka haus akan kasih sayang. Mereka merasa tidak diperhatikan, tidak dicintai, tidak disayangi. Hal itulah yang mendorong mereka untuk mencari cinta diluar. Maka jadilah kasus-kasus dia atas itu, mulai dari ciuman bibir, hamil di luar nikah, aborsi. Naudzubillahmindzallik.

Please ayah please, alihkan perhatianmu dari gadget ke anak gadis kalian. Mereka memerlukannya.

Para ayah, ajarkan anak laki-laki kalian cara menghargai perempuan melalui caramu memperlakukan ibunya anak-anak. Lembut terhadap istri dan anak-anak namun tegas bila situasinya memang dibutuhkan. Ringankanlah tangan kalian membantu pekerjaan rumah tangga. Jangan malu untuk membantu di dapur, mencuci baju, menyapu, menjemur. Pantang menyerah, ajarkan bahwa segala macam pekerjaan asal halal Insya Allah berkah. Bersikaplah seperti Superman yang tidak takut pada rasa sakit, yang dadanya bidang dan keras, siap untuk menjadi tempat bersandar istri serta anak-anak.

Saya yakin, yakiinnn sekali jikalau ayah peduli pada pengasuhan anak maka ibu akan seratus kali lebih bersemangat untuk mengabdikan diri pada pendidikan anak-anaknya.

Betul atau betul?

Seperti yang ditulis oleh mbak Yuria, Anak-anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita. Kita yang akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban kelak. Bukan sekedar materi yang harus kita berikan. Bukan sekedar hal teknis yang harus kita selesaikan. Namun yang terpenting adalah perhatian.

Bagi saya, yang ditulis oleh mbak Yuria adalah bentuk cinta. Panggilan, pengingat semua pihak bahwa hal-hal itu nyata adanya. Bagi saya, cara menanggulangi permasalahan pelik potret generasi kita saat ini tidak hanya dari pihak ibu, yang utama justru ayah. Wahai para ibu yang bekerja dalam ranah domestik maupun publik, let’s stop this war. Let’s stop blaming and start supporting each other.

Tak peduli peran apapun yang kita jalani, kitalah penanggung jawab utama anak-anak kita di masa depan nanti.

PondokAren, 13 februari 2018

Fb : ajeng pujianti lestari

Instagram : ajeng.yulunay

Catatan sumber-sumber penulisan :

Kewajiban Suami Terhadap Istri

SAAT DAY CARE MENJADI DAY (THEY) DON'T CARESaat ini daycare menjadi primadona banyak ibu. Padatnya aktivitas, sulitnya…

Dikirim oleh Yuria Cleopatra pada 7 Februari 2018

Lupa

“Bang, ayah udah pulang belum?” Tanya saya pada si abang setelah selesai mandi.

Si abang menjawab dengan gelengan kepala.

Saya menatap ke arah jam dinding. Udah jam setengah tujuh malam lebih, biasanya jam segitu suara motornya udah kedengaran. Entah kesambet apa tiba-tiba kepala langsung dipenuhi segala macem pikiran negatif. Jangan-jangan dia nyari pikachu dulu? Jangan-jangan dia lembur tapi nggak sempat ngabarin? Jangan-jangan?

Ya ampun, saya langsung beristighfar. Akhirnya saya mengambil hape dan memencet nomor orang kesayangan.

“Halo?” Terdengar suara suami dinujung sana, suasana yang menjadi latar belakangnya terkesan ramai.

“Kamu dimana?” Tanya saya penuh emosi

“English course” jawab dia lempeng

Saya langsung tepok jidat! Ya ampun,ini kan hari selasa yaaaa! Kok bisa-bisanya saya lupa kalau hari ini dia ada jadwal les ielts di kantor. Saya jadi malu sendiri, udah marah-marah enggak jelas dan berprasangka buruk sama dia.

“Sorry, I forget”

“It’s okey, I’ll see you home honey”

Kemudian telepon terputus. Aahh,saking kangennya aku sampai lupa. Dudududuu