ART vs IRT

Judul di atas terinspirasi dari kejadian yang saya alami kemarin sore. Eh monmaap sebelumnya tau kan apa arti singkatan-singkatan di atas? ART adalah singkatan dari Asisten Rumah Tangga atau pembantu atau pembokat, you named it lah. IRT adalah sebutan bagi para ibu yang bekerja di ranah domestik, Ibu Rumah Tangga. Itu profesi yang saat ini sedang saya jalani.

Oke, back to topic

Ceritanya gini, ada seorang ART yang bekerja di tempat tetangga saya. Orangnya itu ya, secara fisik enggak menunjukan kalau dia ART. Eh maaf, soalnya selama ini rata-rata ART yang saya temui penampilannya lugu dan sederhana. Nah, sesembak ini enggak begitu. Dia punya kulit yang putih, wajahnya mulus terawat, badannya agak montok dan cara berpakaiannya sangat kekinian. Pokoknya antara anak yang dia asuh dan dirinya mirip-mirip lah, engak keliatan kayak anak majikan dan pembantu gitu. Beda banget sama saya yang sering disebut upik abunya anak gadis saking enggak miripnya, hadeh.

Eeeehh, nggak tau upik abu itu siapa? Googling gih, wkwkwkwk.

Selain penampilannya yang sangat enggak pembantu banget, sikapnya juga beda. Buktinya kemarin sore itu, saat papasan sama saya yang lagi gendong bayi sambil ngejar-ngejar anak gadis yang lagi patroli keliling perumahan dia cuma melirik sedikit sambil melengos gitu aja. Wooohhh! Woooohh! Apa maksudnya coba?

Saya pastinya sakit hati dong diperlakukan gitu, maklum saya kan emang emak-emak baperan. Segala macem dimasukin ke hati terus ditelaah sendiri. Padahal mah bisa aja emang si sesembak enggak ngeliat saya. Perempuan oh perempuan, emang ngaconya kadang kejauhan.

Anyway, dari kejadian ini saya jadi banyak berpikir dan merenung. Kalau boleh jujur, sebenernya profesi saya sama mereka itu hampir enggak ada bedanya. Selain sama-sama manusia, perempuan dan hidup di bumi (yaiyalaah cyiinnn!)

Kadang nih ya, enggak jarang eksistensi saya sebagai IRT kalah sama mereka yang ART. Baiklah, saya coba rangkum dua hal yang mendasari pemikiran tersebut. Btw, pembandingnya adalah saya ya, enggak tahu kalau pemikiran ibu-ibu lain yang penghasilan suaminya jauh lebih besar pikirannya sama atau enggak.

  1. Uang

Let’s talk about money darling. Mak, berapa sih gaji ART jaman now? Kalau di daerah tempat tinggal saya untuk sekedar nyetrika dan bebersih rumah seberesnya rata-rata mereka minta 700-800rb sebulan. Sehari paling dua jam, tiga jam kalau cucian lagi banyak. Sedangkan untuk yang stay sampai sore ataupun menginap kisaran gajinya antara 1,3-2 juta, tergantung momong anak atau tidak, punya mesin cuci atau tidak dan masak atau tidak. Bagi saya, uang segitu besar loh, jauh dari kata receh. Lha gaji guru aja lebih kecil dari itu.

“Mah, semua gajiku loh aku kasihin ke kamu” begitu celetuk suami saya ketika kami sedang berdiskusi tentang kondisi keuangan keluarga.

Iya sih cinta, memang eike yang pegang hampir semua take home pay itu, tapi kan tapi tetep ajaaaaa uang itu didistribusikan ke berbagai tempat. Mulai dari bayar kontrakan, bayar sekolah, popok, susu endesbre endesbre. Ujung-ujungnya kan cuma numpang lewat, sama aja bo’ong.

Wahai engkau emak-emak yang teliti dalam berhitung, kita tahu kalau ART kerja dapet bayaran. Sebaliknya, IRT ngelakuin kerjaan seabrek-abrek enggak ada bayaran realnya, ho’oh kan?  Iya sih dibolehin beli baju, kosmetik, buku dan semacamnya. Tapi kalau dihitung enggak nyampe sebesar gaji ART tuh. Semua buku, baju sampe lingerie pun nyari pas lagi diskonan. Apalagi sekarang anak udah tiga, jaraknya deketan pula, prioritas pastinya jatuh ke mereka semua, hahaha.

Aduh, kesannya kayak kurang bersyukur banget ya. Padahal nggak sedikit loh ART yang ngumpulin semua gajinya untuk dikirim ke kampung sana. Jauh dari kampung halaman. Banyak dari mereka juga ninggalin anak buat ngurus anak orang lain. Kebayang enggak sih?

Mungkin jerih payah kita enggak akan pernah bisa dihitung pakai nominal, but at least kalo bener-bener ikhlas jaminannya syurga loh gaes! Tempat dimana kebahagiaan itu terasa abadi.

2. Penampilan

Nah, ini nih. Sekarang banyak loh pembantu-pembantu muda yang penampilannya uwooww! Ada yg diwarnain rambutnya, direbonding, pakai bedak atau pakai celana jeans ketat. Asli, majikannya kalah gaul wis.

Eh tapi majikan yang dimaksud saya ya. Dan ini saktenane adalah ungkapan jujur dari hati yang terdalam. ART saya tiap abis sholat masih sempet ngerapihin jilbab atau bedakan lagi. Lha saya? Kadang ngancingin baju yang terbuka abis nyusuin aja lupa loh saking rieweuhnya. Belum lagi masalah rambut rontok serta pilihan baju yang terbatas karena faktor menyusui. Rambut kucel, baju kumel, wajah enggak segar karena ada lingkaran-lingkaran hitam hasil kurang tidur ngurus bayi. Belum lagi perut menggelambir yang enggak pernah berhenti disangka hamil lagi sama anak sulung, di situ kadang saya berasa ingin njebur ke pinggiran kali code. ya Allah berikanlah hambaMu ini tubuh yang langsing pemikat suami sendiri ya Allah, aamin.

Untuk masalah penampilan saya juga merasa galau gaes. Aslinya saya itu suka dandan, suka terlihat cantik dan menarik kayak jaman masih gadis dulu. Apalah daya sekarang buat sekedar pergi ke kamar mandi aja ada tiga ekor manusia mungil yang nunggu. Memang dibalik foto anak-anak lucu, terawat, imut dan menggemaskan itu ada sosok emak yang amburadul penampilannya tapi kuat tekadnya, wkwkwkwk.

Terus, inti tulisan ini apa?

Intinya sih harus banyak-banyak bersyukur karena dipertemukan dengan ART yang baik-baik, bukan ART yang bikin ketar-ketir.

Pondok Aren, 8 Februari 2018