The Power of Martabak

Jikalau ada seseorang yang ketika wafat tetap mendapatkan aliran pahala yang super deras saya yakin salah satunya adalah penemu martabak manis.

Iya, martabak.

Tau kan? Kue manis yang bersarang, ditabur gula dan kadang kacang lalu diberi toping coklat butiran atau keju. Diangkat, ditekuk menjadi bentuk setengah lingkaran sambil diberi olesan wysman saat masih panas-panasnya sebagai tambahan pelezat. Terakhir dipotong-potong sampai bagian keraknya terlihat agak retak kemudian dimasukan kotak. Hmmmm…menulis ginian bikin saya menelan ludah.

Siapa yang sanggup bertahan dengan godaan martabak?

Saya sih enggak sanggup sodara-sodara.

Jaman masih berhubungan tanpa kejelasan dulu saya dan Yusuf pernah ribut-ribut dikit. Efeknya saya mangkel, males sekali menanggapi telepon maupun sms dari dia. Bahkan ketika dia sengaja datang ke rumah pun rasanya ogah banget buat nemuin.

Tapi semua itu berubah saat tahu tangan Yusuf tidak kosong melompong. Itu, ditangan kanan bawa bunga dan tangan kiri kresek hitam isi martabak, hati ini pun langsung meleleh. Martabaknya saya terima, sekaligus permintaan maaf dari Yusuf. Bunga hanya sebagai pemanis karena enggak bisa dimakan. Wkwkwkwk

Begitu juga saat hendak mengajak keluar. Tidak diperlukan teknik komunikasi tingkat tinggi, yang perlu dilakukan hanya menyodorkan sekotak martabak panas-panas. Maka ijin untuk membawa saya jalan-jalan pun keluar dengan mulusnya.

Martabak adalah salah satu makanan favorit yang biasa saya bawa sebagai bingkisan saat menengok teman di rumah sakit.

Sedang keki? Kesal? Marah? Kecewa? Atau gundah gulana? Saya sarankan untuk mengunyah minimal tiga potong martabak. Lupakan dulu diet.

Iya maaf, memang martabak adalah makanan ter-guilty pleasure.

Dan hei kamu-kamu para suami yang pulang pulang kantor dengan membawa sekotak martabak. Semoga Allah SWT selalu melimpahi kesehatan dan rejeki yang tak putus-putus pada kalian.

Salam sayang dari pecinta martabak garis keras ??