Balada perkontrakan

Gaes, udah berapa kali pindah rumah?

Dulu, dulu saya sering bertanya-tanya kenapa kami sering sekali berpindah tempat tinggal kepada mama dan papa. Dari kos-kosan satu kamar ke sebuah rumah mungil dan rumah mungil lainnya. Sampai akhirnya kakek membangunkan rumah untuk kami, kami tidak pernah berpindah-pindah tempat tinggal lagi.

Bagi ajeng kecil, pindah rumah itu rasanya nano-nano. Kadang senang kadang sedih, terutama kalau sudah menemukan teman bermain yang menyenangkan. Atau mungkin ketika sempat merasakan punya kamar sendiri kemudian harus berbagi.

Waktu berlalu.

Saya menikah dengan seorang buruh negara yang wilayah kerjanya se-Indonesia Raya. Hanya bagian kepegawaian dan Allah SWT yang tahu dimana suami akan ditempatkan. Itulah sebab kenapa sampai saat ini kami belum mempunyai tempat tinggal yang tetap, selain memang tidak ada uangnya. Wakakakakaka

Dulu saya ngontrak di Tulungagung, Jawa Timur. Mengontrak untuk dua tahun sampai qadarullah suami diterima D4. Kami pindah ke Jakarta, eh Tangerang Selatan maksudnya. Kontrakan kami lokasinya sangat dekat dengan kampus, tinggal jalan saja. Setelah lulus dan karena akan melahirkan anak kedua, kami mengontrak sebuah rumah di cluster. Dua bulan lagi dua tahun. Lalu datanglah chat dari si induk semang.

Si pemilik rumah mengatakan bahwa dia hendak menaikan harga sewa sampai DUA KALI LIPAT.

Saya kaget dong, dan pengen geprukin sesuatu ke kepalanya si pemilik.

Edan wae, rumahnya tanpa kanopi, carport masih apa adanya, bocor nggak mau tanggung jawab dan tetiba mau naikin harga segitu.

Duh, beginilah nasib kontraktor. Bingungnya tiada akhir

Start a new beginning of toilet training

Nah, kali ini saya mau berbagi sedikit kabar dan minta doa. Eh, jangan ngambek dulu, masih mending saya minta doa bukan minta disawer uang sama bu dendy ??

Ceritanya kemarin senin sehabis mandi, si tengah yang paling cantik sedunia ogah dipakein diapers. Udah dibujuk, dirayu, dikejar-kejar muter rumah tanpa baju dan malah ketawa-ketiwi sampai akhirnya ketangkap dan nangis ketika dipaksa pakai. Memang anak yang satu itu pantang menyerah. No means no, dengan hebatnya dia copot kembali diapersnya itu.

Setelah pusing saya akhirnya mengambil training pants yang selama ini sudah saya simpan. Dengan sedikit rayuan, bahwa pantatnya nanti bergambar ikan akhirnya anak kecil itu mau juga dipakein celana. Dia berjalan dengan jumawa, mamerin pantatnya kemana-mana. Tengil banget wajahnya itu, betul-betul turunan bapaknya. Hiieehh, dasar anak bapake, KZL.

Dan ya begitulah, mungkin memang takdir kami sudah diatur sedemikian rupa bahwa inilah saat dimana saya harus melatih anak gadis untuk melepaskan diapers dan melatihnya pipis serta pup di toilet. Tak pernah saya duga, saat ini akhirnya tiba juga, huufftthh.

Mohon doanya dari pembaca semua, semoga orang tuanya istiqomah untuk tiap jam bawa anak tengah ke kamar mandi. Semoga bisa diberi kesabaran untuk ngepel rumah berkali-kali, menghilangkan najis dari air seni. Serta diberi rejeki yang banyak, supaya bisa beli es krim dan carl’s jr yang membantu mempertahankan kewarasan. Hohoho

Aamin.

#odop #blog #blogger

KETIKA PEREMPUAN BERSATU & TAK TERKALAHKAN

Saya gagal move on ! Gatot alias gagal total untuk bisa melanjutkan hidup setiap melihat foto di bawah ini

img-20180224-wa0079192243666.jpg
terharu sungguh aku terharu #nyanyik

Wuiihhh, rame banget itu ya? Acara apaan sih? kok kayaknya seru banget!!!

Iya, emang acara kopdar PIPDJP a.k.a Persatuan Istri Pegawai DJP yang diselenggarakan di Bumi Bambini, Ciputat tanggal 24 Februari itu keseruannya sungguh tak terlupakan. Temanya juga waow banget, soalnya panitia perlu semedi tujuh hari tujuh malam dengan menabur kembang tujuh rupa ke suami masing-masing, wkwkwk.

Dari Maya Menjadi Nyata, Saudara Selamanya

Tema itu mencerminkan kondisi kami, para istri buruh negara yang bekerja di bidang perpajakan. Selama ini kami terhubung dalam grup whatsaap dan tidak beretemu muka (kecuali yang memang bertetangga, dan member terbayak memang dari pondok aren). Wacana untuk melakukan kopdar sering berdengung, bismillah akhirnya setelah nekat membentuk grup khusus kopdar jabodetabek acara ini berhasil terealisasi, dengan ijin Allah tentunya.

Acara ini terhitung besar karena pada awalnya ada 50-an keluarga yang akan ikut, walaupun pada hari H hanya 30-an saja. Panitia, yang semuanya adalah perempuan, istri juga ibu bekerja sangat keras meramu, meracik serta mempersiapkan acara ini agar betul-betul berkesan. Semua diatur sedemikian rupa, mulai dari waktu, tanggal, tempat, dresscode merah-hitam, agenda lomba dan lain-lainnya. Pokoknya luar biasa deh ibu-ibu ini, ngurus anak iya, sosialisasi iya, jadi panitia juga bisa. Bener-bener istri idaman yang unch unch unch banget, Milea mah cuma a piece of cake ~

img_20180224_0736382042876374.jpg
menyempatkan diri untuk berfoto di photo booth yang dipasang para suami, sebelum acara dimulai. Coba tebak saya yang mana hayooo, ahahaha.

Acara dipandu oleh bapak MC Alvin Erlangga yang ternyata merupakan kakak saya sendiri *uhuk.

Acara berjalan dengan begitu apiknya, mulai dari pembukaan, doa bersama, tausiyah oleh Pak Fery, penyerahan hadiah bagi para pemenang sayembara menulis PIDJP part 2 yang nantinya insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku *doubleuhuk*

img-20180224-wa00781311926476.jpg
Wajah bahagia para pemenang sayembara menulis, walaupun harus berebut piala dengan anak. Gile, keren banget yak para ibu ini, Sangat istriable *digaplok

Acara ini bertabur hadiah, sampai-sampai panitia harus mengadakan banyak penghargaan unik-unik semacam: 4 orang pertama yang transfer duluan dan 4 orang peserta yang pertama hadir di acara.

Pokoknya, Panitia banyak sponsor mah, bebasss!

Berlanjut ke sesi perkenalan yang lagi-lagi dibuat dengan sangat antimainstream. Setiap kepala keluarga dipersilahkan memperkenalkan diri beserta anggota keluarganya, kemudian mereka wajib menjawab pertanyaan yang diajukan oleh MC. Normal sih ya, yang enggak normal tu pertanyaannya, tak terduga dan ngaco abis!

Beberapa contoh pertanyaan ngaco:

  • Siapakah Dirjen Pajak saat ini? Apakah A. Robert Pakpahan atau B. Robert Makmahan?
  • Berapakah nomer hape pasangan anda?
  • Kapan tanggal lahir istri anda?
  • Siapakah orang paling kaya di dunia? A.Tony Stark B. Bruce Wayne C. Bu Dendy
  • Lebih suka Via Vallen atau Nella Kharisma?
  • Apakah tahun ini akan ada IPK? (DAN JAWABANNYA DISAMBUT DENGAN SANGAT MERIAH BOEBOOO)
  • Apakah anda setuju dengan poligami? (Dijawab dengan kebingungan, penuh keringat dan deg2an karena ada istri disebelahnya, wkwkwkwk )

Saya dan pak MC memang semalaman berdiskusi, menyiapkan 40 pertanyaan berbeda untuk 40 keluarga yang bisa bikin mereka manggil awan kinton untuk pergi ke laut atau mengeluarkan jurus kamehameha.

Sekali lagi, namanya juga panitia, bebass!

Keseruan berikutnya adalah lomba yang dieberi judul enggak kalah ngaco: MENGUKIR CINTA. Dimana para istri ditutup matanya dan wajib melipsticki , eh mengukir bibir suami kesayangannya masing-masing. Kehebohan loma itu benar-benar enggak bisa dilukiskan, karena memang saya bukan pelukis.

img-20180224-wa0084680175164.jpg
Romantis itu sederhana : gendong anak terus dilipstikin sama istri. Oh indahnya Oh bahagianya~

Puas dengan lomba-lomba kami pun menyantap makan siang berupa ayam bakar bumbu rempah yang sangatos lezatos nikmatos. Kemasan makanannya pun sangat eksklusif, dengan sticker yang dicetak khusus. Sungguh, panitia makannya sambil terharu. Snack Boxnya juga enggak kalah nyam-nyam! Sayang engak sempat foto, tapi sosis solo, donat serta kue sus buatan Bu Nining Komalasari beneran jadi favorit semua peserta ataupun panitia.

img-20180224-wa00271326537106.jpeg
Terima kasih mbak Barbara Crony berkenan menyediakan makan iang untuk kami dengan harga terjangkau, rasa enak dan packaging istimewa

Alhamdulillah, akhirnya acara selesai ditutup dengan foto bersama dan saya menyerahkan bingkisan untuk Alvin yang berkenan memandu dari awal sampai akhir.

img-20180224-wa00381174175461.jpg
Adik mnyerahkan bingkisan ke kakak. Ada yang bilang gen kami sangat kuat karena kami sangat mirip satu sama lain

Alhamulillah, saya bersyukur sekali acara yang dipersiapkan dengan susah payah bisa berjalan dengan lancar. Bertemu dengan teman-teman yang selama ini dikenal hanya via medsos. Saya kagum dan terharu dengan semangat para peserta. Ada yang berangkat tanpa suami dengan tiga anak, ada yang sedang hamil dan sendirian, ada yang jauh dari depok bawa motor dan bawa dua anak, pokoknya panitia merasa sangat diapesiasi dengan semangat teman-teman peserta.

Yang paling penting dari kopdar ini adalah satu : MENYIBAK KEBENARAN. Ternyata Mpok Amel yang rame di grup orangnya anggun dan keibuan banget. Ternyata Bu Irvin betul-betul ramah, lembut dan menenangkan banget senyumannya. Ternyata Mbak Laila bener-bener cantik, tinggi, ramping dan setrong persis seperti fotonya. Ternyata Bu Ira dan Bu Endah sangat kalem namun dewasa, Ternyata mbak Iin Tri orangnya sangat njawani dan sumeh. Ternyata mbak miftah orangnya ceria dan maniiiiss sekali. Ternyata Mbak Ati orangnya supel dan hobi banget ngejar-ngejar anaknya, Ternyata mbak Yuna yang sedang hamil besar tetap semangat dan antusias. Ternyata bu Arik orangnya masya Allah bu, berpengalaman! Dan Bu Hanny, uwow syantieekk awet muda!

Saya senang sekali karena acara ini diselenggarakan tanggal 24 Februari, bersamaan dengan tanggal ulang tahun suami saya tercinta.

img_20180224_0848131278446939.jpg
Foto berdua tok, untuk sedetik lupa kalau ekor sudah tiga. Bahagia banget karena di foto ini saya tampak langsing tiada tara, duduudu

Demikianlah laporan acara weekend kali ini. Meskipun saat pulang malam harinya saya menderita diare dan demam, saya tetap bersyukur menjadi bagian dari momen keakraban para istri.

Terakhir, saya hendak mengutip kata-kata pak Fery saat tausiyah :

Ada segolongan orang yang dijauhan dari api neraka. Salah satunya adalah mereka yang menyambung tali silaturahmi.

Nah, semoga kita semua adalah orang-orang yang termasuk dalam golongan itu yaa!

#blog #blogger #kpdar #pipdjp #onedayonepost

JUDGING ALA NETIZEN INDONESIA

Barusan ini saya mengakses media sosial Facebook dan menemukan postingan sesembak yang disertai dua buah video. Postingan tersebut kurang lebih memiliki caption seperti ini

Menurut cerita polos anak ganteng ini,dia kena marah ibunya hanya gara2 salah melulu ngerjain LKS sehingga ibunya jengkel lalu ibunya dg sengaja memanaskan setrika utk melukai bagian paha anak ganteng ini.
Tp meskipun kesakitan dia tetap berangkat sekolah.Kendati begitu anak ini ijin utk tdk mengikuti upacara,ketika ditanya oleh pihak sekolah alasan anak ini tdk mau mengikuti upacara,disitulah permulaan terbongkarnya tindak kekerasan ibunya trhadap anak ini.krn setelah ditanya lebih detail,anak ini mengaku kesakitan sembari menunjukan luka setrika td.Tidak sampai disitu,pihak sekolah juga menemukan banyak luka disekujur tubuhnya.
Krn merasa sudah diluar batas kewajaran,barulah pihak sekolah melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang.

Ijinkan eikeuh utk berkomentar yaa,mohon maaf apabila ada yg tersinggung??? :

ETA NU JADI INDUNG NA SUGAN GELO NYA,BOGA KELAINAN JIWA ATAWA KUMAHA..KOPLOK BANGET TEGA NYETRIKA ANAK SAKITU LEUTIK KENEH,TEU PIRA SALAH NGERJAKEUN LKS ❓
EMANGNA SIA BAHEULA LANGSUNG PINTER KITU,TARA SALAH..PAN MUN SALAH TINGGAL BERE NYAHO SUPAYA BISAEUN LAIN MAH DI SIKSA ⁉️

Jujur saya enggak sanggup untuk melihat videonya, takut mewek-mewek. Hanya saja saya tercengang membaca komentar-komentar netizen Indonesia yang maha hebat, maha benar dan maha tak bisa disalahkan.

Eta Ibuna Jurig! (Itu ibunya setan)

Ouch, komentarnya sungguh…nganu sekali.

Ehem, wahai kalian emak-emak. Saya tahu yang dilakukan si ibu itu sungguh kejam, jahat dan mengerikan. Tapi tapi tapi, apakah dengan mengatai seperti itu artinya kita ini suci?

Yakin?

Saya punya tiga orang anak, alhamdulillah mereka semua normal dan sehat. Tak jarang ada kondisi dimana salah satu atau bahkan ketiganya meminta perhatian yang lebih. Entah karena mereka lapar, pup di celana atau sekedar ingin ditemani bermain. Pada saat yang sama saya sedang berkutat dengan…katakanlah tugas ODOP. Mesti pada tahu semualah kalo menulis itu kita membutuhkan hati serta suasana yang tenang. Ketika anak-anak rewel dan tugas bejibun tak jarang saya merasa bahwa mereka itu berisik dan mengganggu. Padahal saya ibunya sendiri loh, dan mereka anak-anak saya.

Apakah itu artinya saya tidak sayang kepada mereka? Oh tidak, saya sayang dan cinta banget sama mereka. Tapi memang terkadang kondisi yang tidak pas membuat kita tidak sanggup berpikir jernih sehingga terjadilah hal yang kita sebut “kehilafan-kekhilafan” begitu saja.

Sekuat apapun saya berjuang menjadi malaikat, rasanya tetap ada sisi yang lemah. Kalah oleh nafsu ingin memarahi anak.

Coba deh saya tanya, adakah ibu disini yang betul-betul hampir tidak pernah seumur hidupnya?

Belum lagi waktu saya scroll ke atas komen-komennya banyak yang bertanya si ayah kemana. Duh alahiyunggg, muncul lagi kasus dimana anak menjadi korban karena ibu yang stress ditinggal oleh suaminya.

Ini kembali menjadi catatan bagi saya dan suami, bahwa ungkapan “Our child, they do not need a perfect parent. They need a happy parent” itu benar adanya. Seberat apapun anak menguji kita, ketika ayah/suami memberikan kontribusi nyata, saya rasa enggak mungkin deh ibunya bakal stress tingkat tinggi.

Saya selalu merasa sedih, kasihan sama mereka, para istri yang tidak memiliki tempat sampah. Merasa penat, bosan dan kesal namun tidak tahu harus mengungkapkannya ke siapa. Karena suaminya tidak ada. Stress yang menumpuk lama-lama menimbulkan depresi. Lalu si ibu yang depresi ini “diganggu” oleh anaknya yang bertanya tentang suatu soal LKS. Hasilnya kita sudah tahu, anak menjadi korban.

Ya allah…betapa sedihnya.

Saya bersimpati pada nasib si anak, tapi mencoba berhati-hati untuk memberikan komentar (padahal tulisan ini ya komentar).

Rasa-rasanya fungsi jempol dan lidah sudah mulai tidak bisa dibedakan lagi. Menulis komentar yang menyakitkan hati tanpa mengetahui fakta sebenarnya kok ya gampang saja. Padahal tulisan kita sifatnya abadi loh. Tulisanmu mencerminkan kepribadianmu.

Kalo kita seneng banget nulis yang isinya kebun binatang atau hardikan kasar walaupun foto yang kita pasang adalah pose tercantik dan termanis, rasanya kok aneh ya.

Namanya juga media sosial, mungkin kita perlu banyak-banyak belajar komedi atau mengalami tragedi yang sama supaya lebih bijak dalam berpendapat?

Roda

Kita sering mendengar istilah tentang : Hidup itu berputar seperti roda. Dan saat ini saya kembali nerasakan roda kehidupan.

Masih inget bagaimana hari jumat, sabtu, minggu yang lalu saya gedandapan ke rumah sakit untuk mengurus si sulung yang rawat inap karena asma +pneumonia. Saya dan suami berbagi tugas, dia mengurus si sulung. Sedangkan saya dirumah mengurus si tengah dan si bungsu.

Saat itu sebenarnya juga sedang flu, entah karena kelelahan entah karena cuaca. Tapi saya bertekad untuk stay strong. Saya enggak boleh sakit, lha nanti anak-anak gimana kalau emboknya tumbang? Aah, itulah ibu, yang ada di kepalanya hanyalah anak-anak.

Alhamdulillah si sulung yang biasa dipanggil abang sudah pulang. Kondisinya juga sudah normal kembali, ditandai dengan bunyi-bunyi pertengkaran yang terjadi di rumah. Ibu, berbahagialah kalau anak-anakmu bertengkar, itu tandanya mereka semua sehat walafiat, hahahaha.

Dan akhirnya hari ini, saya bersama teman-teman yang lain berhasil mengadakan sebuah acara kopdar yang cukup besar, atas ijin Allah. Saya bahagia sekali karena acara berjalan lancar,l dan mendapatkan apresiasi dari para peserta.

Keromantisan saya dan pak suami, untuk sedetik lupa kalau punya anak tiga, uwuwuwuwu

Di sana saya merasa sehat walau kelelahan. Ndilalah begitu sampai rumah kepala terasa pusing dan kaki luar biasa pegal, badan merinding terus-terusan. Ngreges!!

Ya Allah, padahal ini adalah hari ulang tahun pak suami. Harusnya kan saya merayu-rayu dia bukan malah tergelatak tak berdaya dengan demam yang melanda seperti ini. Hiks

Semoga, saya besok bisa sehat kembali

#onedayonepost #blog #blogger #sakit

Ketika Menulis Menyembuhkan Jiwa

Siapa disini yang jaman SD dulu punya diari? Sini ayo ngacung temenin saya, ehehehe.

Tiap kali jalan-jalan ke toko alat tulis saya suka sekali mampir ke rak buku diari yang motifnya unyu-unyu menggemaskan. Selalu bikin saya keingetan masa-masa menulis dengan pensil, pulpen maupun pulpen warna-warni. Saat itu segala macam hal saya tulis, mulai dari kejadian sehari-hari, lirik lagu dan kepanjangan dari nama panggilan per hurufnya (misal AJENG, A:Anak cantik). Saat itu saya juga rajin tukar-menukar diari dengan teman sekelas. Pokoknya seru sekali!

Saya lupa kapan tepatnya, pokoknya ketika saya sudah bisa membaca orang tua membuat usaha taman bacaan di rumah. Ruang tamu kami dikosongkan, lemar-lmari serta rak dipesan, buku-buku berdatangan lengkap beserta sampul plastiknya. Saya bahagiaaaa sekali, it was a very beautiful memory. Coba bayangkan, saya bebas membaca komik doraemon, 21 emon, Ninja Hatori, Dragon Ball, Candy-Candy, Topeng Kaca, Detektif Conan, Lagenda Naga, Paman Gober, Monika, Gosebumps, Harry Potter bahkan sampai Seri Tokoh Dunia dan Kisah 25 Nabi&Rasul dengan cuma-cuma. Saya tumbuh menjadi anak kecil yang gila komik, sampai-sampai saat makan pun sambil baca komik.

Saya merasakan betul manfaat dari kesenangan membaca itu, saat kecil imajinasi saya sudah berkembang sangat luas. Saya bahkan sempat menjadi wakil dari sekolah untuk mengikuti lomba bahasa indonesia, karena nilai saya untuk mata pelajaran itu cukup bagus. Saat SMA menjadi wakil sekolah menghadiri peringatan hari sastra dan bertemu dengan Taufik Ismail yang puisi-puisinya luar biasa. Saat SMP saya membuat cerpen yang ditulis tangan dan ditulisnya di buku, menulis sampai pegal habis itu diedarkan sambil meminta teman-teman berkomentar. Dulu enggak pernah kepikiran apapun, enggak ada beban untuk menulis. Terutama ketika mendengar teman-teman yang bilang kalau mereka terhibur dengan cerita yang saya buat, itu makin bikin saya semangat. Yang penting nulis, pokoknya nulis.

Lalu karena kesibukan ujian dan kemajuan teknologi membuat saya menjadi malas untuk menulis. Lebih suka pegang hape dan smsan sama gebetan walaupun untuk hobi membaca masih saya pertahankan.

Saya suka berbagi pengalaman. Lagi-lagi saya enggak ingat, yang pasti saya pernah membuat postingan cukup panjang di Facebook dan mendapat respon yang cukup baik. Mereka bilang tulisan saya informatif, insipiratif dan very helpful. Padahal tulisan-tulisan yang saya posting adalah tulisan curhatan atau pelampiasan karena lelah, kesal dan merana saking enggak punya tempat sampah untuk meluapkan. Ada perasaan lega ketika semua rasa itu tertuang dalam kata-kata. Rasa sakit, sedih, kecewa, bahagia, gundah pokoknya semua emosi itu tersalurkan tanpa pernah saya ketahui. Akhirnya saya menyadari kalau…kalau…

Menulis itu menyembuhkan jiwa…

Bahkan saat saya belum mengenal blog ataupun segala macam medsos. Menulis adalah sebuah media penyampaian perasaan yang manfaatnya luar biasa.

Hanya saja bagi seseorang seperti saya, menuli itu sangat tergantung pada mood, dan sesungguhnya itu enggak baik, saya tahu. Saya membuat blog entah sejak puluhan purnama yang lalu, saya lupa. Dalam proses pembuatannya saya sering berkomitmen pada diri sendiri untuk rajin menulis. Namun harapan tinggal harapan, kesibukan di dunia nyata dan maya untuk bermain medsos justru yang paling sering mendapat perhatian. Sampai akhirnya nawaitu untuk menulis tinggal angan-angan dan blog menjadi karatan.

Lalu saya bertemu dengan komunitas ODOP a.k.a One Day One Post. Sebuah komunitas yang didirikan dengan tujuan amat mulia : membuat anggotanya konsisten menulis. Aaah, sungguh sulit sekali pada awalnya mengikuti ritme yang ditentukan oleh ODOP karena selain menulis kita diwajibkan untuk BW (Blog Walking). Saya harus pintar-pintar mengatur waktu, menyediakan momen sendiri, fokus untuk menulis, lepas dari gangguan tiga krucils dan suami, hahaha kejem amat yak.

Tapi masya Allah, dari program pelatihan ini makin lama saya makin terbiasa. Gara-gara kewajiban untuk menulis setiap hari saya menjadi ;

  1. Lebih peka memandang segala hal yang terjadi di sekitar. Karena hampir semua hal bisa menjadi ide untuk menulis.
  2. Lebih berilmu walaupun sak uprit karena ODOP menyediakan kelas-kelas yang diisi oleh orang-orang hebat yang leelnya sudah profesinal.
  3. Lebih semangat untuk menuli karena saat BW sering merasa iri, mereka aja bisa menulis dengan sangat bagus, aku juga harus berjuang untuk bisa dong!
  4. Lebih kepenak karena sambil nulis bisa curhat colongan, wkwkwk

Yang pasti, karena ODOP hubungan saya dengan adik perempuan jadi membaik. Eh, kok bisa? Iya, ceritanya waktu itu adik saya ulang tahun. Saya hanya membuat sebuah tulisan untuk dijadikan kado. Jebul, dia sangat terharu dengan tulisan saya, dan entah kenapa ketegangan di antara kami mencair dan komunikasi kami jauh lebih lancar. Temen-temen yang penasaran bisa cek tulisan itu di sini

Karena ODOP juga saya mampu membuat sebuah tulisan curhat yang dalam sehari bisa menembus sampai 1000 viewers, amat sangat uwow bagi saya yang seorang amatir ini. Penasaran lagi? Bisa cek tulisannya di when love hurt your hearts

Dari tulisan yang itu, banyak orang menghubungi saya untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk sudah menuliskan hal-hal yang mereka rasakan, membuat mereka memahami dan lebih mengenal diri sendiri. Tak lupa mereka memaksa saya untuk terus sehat supaya bisa terus berbagi cerita, eciye. hahahaha

Alhamdulilah, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk mereka semua yang menjadikan ODOP ini ada. Kalian keren banget gaes!!

Terakhir, alasan kecintaan saya menulis tak lain tak bukan adalah salah satu quote dari penulis favorit say

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)” ― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

#blog #blogger #menulis #tantangan #odop #onedayonepost

When He’s Not Around

Halo selamat malam!

Sejujurnya saat ini saya agak kecewa karena niatan untuk bisa menulis di siang hari selalu gagal total. Sedih banget karena untuk melakukan hal itu masih sebatas cita-cita saja, ihiks. Harapanku, bersabarlaahh ~

Sepertinya akhir-akhir ini saya cukup sering menulis tentang betapa frustasinya saya karena rindu, karena kangen sama dia. Saya sebal karena sebulan terakhir dia jarang sekali bisa pulang dengan tepat waktu. Tak jarang ketika dia pulang, anak-anak sudah tertidur dan saya mengantuk. Jujur, setiap suami pulang rasanya pasti ingin langsung menyemburkan cerita tentang segala hal yang terjadi sejak pagi ditinggal pergi sampai malam dia pulang. Yaelahh, namanya juga perempuan, kan harus mengeluarkan dua puluh ribu kata dlam sehari, minimal. MINIMAL! Camkan itu wahai kau para lelaki ble’e.

Jujur, ketiadaan waktu untuk ngobrol asyik berdua dari hari ke hari membuat saya merasa hubungan kami mengalami kemunduran. Sehari enggak bisa cerita yawis, saya berusaha untuk sabar dan menelan kembali semua serbuan air bah kata-kata. Dua hari enggak bisa cerita, yawis sabar lagi, telen lagi. Tiga hari enggak bisa cerita, hati berasa penuh, pikiran udah aneh-aneh, bawaan pengen marah-marah. Empat hari enggak bisa cerita, menoba berdamai dengan keadaan. Lima hari enggak bisa cerita, luweh, enggak peduli, I don’t care anymore.

Parah banget kan?

Saya takut, takut banget merasa terbiasa dengan ketiadaan dia dalam kehidupan pernikahan kami. Saya takut mengabaikan perasaan saya sendiri. Saya takut kehilangan rasa membutuhkan sosok suami disamping saya.

Takut.

Saya memilih menjadi bunglon. Tentu saja ada waktu dimana saya ingin menjadi istri yang manja, yang dianterin kemana-mana, yang dibantu ngangkatin galon aqua, yang mau ditemenin pergi ke pasar supaya bisa bawain belanjaan, yang baru bisa tidur kalau dielus-elus seperti kucing haus belaian. Menjadi seorang istri yang 100% membutuhkan suaminya secara lahir dan batin.

Namun, sebagai istri pegawai saya sadar ada waktunya bagi saya untuk tampil bakoh, strong dan mandiri saat suami tidak bisa berada di sekitar. Mungkin keterampilan seperti memasang gas sendiri, menutup keran bocor, membunuh kecoak ataupun menyapu kalajengking yang tiba-tiba menampakan diri tanpa saya harus menjerit.

Hebat bangen kan gueh? wkwkwkwk

Tapi yaaa, namanya juga istri. Rumah dan anak mudah saja dihadapin, tapi kok ya mata ini susah banget untuk tidur tiap kali ditinggal dinas luar? Eta terangkanlah

 

 

 

 

 

Asma

Punya keturunan Asma?

Ceritanya saat menikah dulu bisa dibilang saya buta banget. He pop a question, and I said yes. Sesimpel itu.

Saya enggak pernah tahu kalau dia memiliki turunan asma.
Saya juga enggak tau kalau dia golongan darahnya B
Saya pikir semua itu enggak masalah, in the name of love gitu loh

Sampai akhirnya kami memiliki tiga anak, qadarullah ketiganya memiliki ciri-ciri anak dengan keturunan asma (eh, bener enggak sih penyebutannya gini?)

Saya sempet pillow talk sama Yusuf tentang hal ini. Enggak mengurangi rasa cinta saya ke yusuf pastinya, hanya saja membuat saya menjadi harus sangat sangat sangat extra aware.

Yuan, anak sulung saya baru kemarin sore pulang dari rumah sakit setelah 4 hari 3 malam rawat inap. Awalnya saya kira batuk-pilek dan sesak biasa. Saya uap tapi sesaknya enggak release. Berdua kami ke IGD dan tulang saya hampir meleleh ketika dokternya bilang Yuan harus masuk NICU. Ketika diperiksa bagian depan, belakang, atas, bawah nafasnya terdengar sangat ngiiik ngiikk. Besoknya tes lab ditemukan bakteri dari urine. Hasil rontgen oun dokter menyatakan berkabut karena paru-parunya penuh lendir. Ya allah…

Asma + Pneumonia
Saya begidik tiap kali inget kejadian kemarin.

Alhamdulillah sekali saat ini dia sudah diperbolehkan pulang. Ada beberapa catatan makanan yang harus dihindari seperti susu coklat, pisang, kacang. Semua yang bisa memicu batuk.

Yuan juga alergi dengan debu dan dingin, dua kondisi yang lagi-lagi bisa memicu batuk. Harus hati-hati banget, karena kalau batuk besar kemungkinan asmanya akan kambuh.

Kalau Luna mirip-mirip.
Saat usia dua bulanan saja dia sudah kena dermatitis atopik, padahal hanya minum ASI. Usut punya usut ternyata karena saya konsumsi susu sapi dan turunannya. Hal ini menyebabkan kulitnya merah-merah dan muncul bintil-bintil di mana-mana.
Saya menderita sekali karena saat itu harus mengalah untuk tidak makan martabak. Padahal martabak itu kan booster AsI paling ??

Waktu periksa masalah kulit ini dokternya tanya “siapa di antara orang tuanya yang punya turunan asma?”
Saya dan Yusuf sama-sama ngacung. Dokternya cuman nyeletuk “oh pantes”

Makin besar alergi ini makin berkurang sih, terutama ketika dia harus konsumsi sufor. Dia juga rentan sama telur ayam curah dan selai kacang. Sempet ngejilat sisa selai kacang disendok, hasilnya badannya merah semua dan gatel-gatel. Mewek sesorean.

Kalo Aylan?
Ya sebelas dua belas lah untuk masalah batuk-pileknya.

Yang paling saya inget dari aylan adalah jaudience, bilirubin tinggi, kuning saat usianya 3 hari. Golongan darah saya O, yusuf B. Yuan O, Luna O, tapi Aylan B.
Jadi penyebab kuningnya kemarin yg utama memang karena perbedaan golongan darah + dehidrasi.

Saya yang stress berat karena kelelahan pasca melahirkan plus kepisah sama anak yang lain dirumah tiba-tiba ngoceh enggak jelas.
“Kenapa kita harus berbeda sih le?”
Kemudian perawat yang mendengar ocehan saya menjawab “golongan darah boleh beda, yang penting hati kita sama mamah”

Wkwkwkwk, ampun deh ???

Masih agak-agak heran sih karena baik saya dan yusuf malah enggak asma, tapi keturunan kami berdua malah yang kena.
Gimana kalo temen-temen yang lain? Ada yang punya pengalaman sama-kah?

Ujian

Mudah untuk mengatakan “aku beriman” ketika kapal sedang berlayar dengan tenang.

Lalu satu persatu angin itu datang, menciptakan gelombang yang menghantam kapal, membuatnya bergoyang. Terombang-ambing di tengah lautan.

Lalu awan menggelap, petir mengeluarkan gelegar terbaiknya. Menambah suasana makin mencekam.

Saya tak tahu kenapa pikiran itu terlintas begitu saja di kepala ini. Ketika muncul perasaan kesal dan benci pada Tuhan.

Kenapa harus aku?

Kenapa selalu aku?

Kapan putaran ini akan berhenti dan hidupku damai kembali? Kapan?

Lalu saya teringat kata-kata seorang artis yang beberapa tahun ini berhijrah:

Kebahagiaan adalah ujian

Kesulitan adalah ujian

Lalu saya teringat pada perjuangan perempuan-perempuan lain di luar sana, yang diberi ujian lebih lebih lebih berat.

Dan mungkin ujian saya kali ini cuma seujung upil. Upilnya bayi pula.

Ya allah..kuatkanlah pundakku, kuatkanlah dadaku, kuatkanlah perasaanku. Untuk menerima ujian darimu

#onedayonepost #sedih #ujian

Menyesal

Saya mengamati lini masa media sosial dan hanya bisa mengehela nafas panjang. Ketika hampir 70% status berkata “otw ke…” Saya cuma bisa dirumah. Kesepian, kehilangan sosok dua lelaki sholih yang terdampar di rumah sakit sana.

Hasil rontgen Yuan sudah keluar dan darisana diagnosisnya tepat : Pneumonia.

Kok bisa kena pneumonia? Lah, saya juga bingung. Awalnya saya kira hanya serangan asma biasa, ternyata oh ternyata. Maafkan mama sayang, mama berdosa sama kamu, mama menyesal sekali kenapa enggak percaya dan segera merespon kesakitanmu dengan lebih serius…

Dan hari ini, tanpa kamu dirumah rasanya mama patah hati…

Sepi enggak ada suara jahil yang gangguin Luna ataupun ngrecokin mama. Sepi rasanya enggak ada yang bisa diuwel-uwel dan dimintain tolong ini-itu.

Mama enggak peduli rumah mau berantakan, ataupun kamu bertengkar sama Luna. Mama pengen kamu segera sehat sayang, segera kembali ke rumah kontrakan kita.

Mama rindu…

Sayang sekali mama disini juga flu, ditambah nggak ada yang bisa dititipin luna. Maafkan mama karena belum.bisa ke rumah sakit sejak jumat kemarin.

Maaf ya nak..