Hantu Masa Lalu

Tiga belas tahun yang lalu

 

Pagi itu  Davina duduk sendirian di meja makan. Sepiring nasi goreng yang tersaji hanya ditatapnya kosong. Pikirannya tidak fokus karena  terdengar suara ribut di atas. Papa dan mamanya bertengkar, lagi. Semalam ayahnya tidak pulang. Davina tahu karena tak lama setelah jam berdentang dua belas kali, mama pindah ke kamarnya. Davina merasakan kasurnya melekuk menahan tambahan bobot seseorang. Mama tidur di samping sambil mengelus dan memeluk Davina.  Mama tidak pernah cerita tapi Davina tahu bahwa mama sedang sedih, kesedihan dalam diam yang juga turut menghancurkan hatinya yang masih kecil.

Papa berubah. Davina lupa sejak kapan tapi papa yang dulu sangat ia banggakan kini seperti orang yang berbeda. Davina tidak lagi  menemukan tatapan hangat, panggilan sayang ataupun pelukan menenangkan. Papa tiba-tiba sering bersenandung sendiri,berdandan rapi serta memakai parfum berlebihan yang membuatnya bersin-bersin lalu melenggang pergi begitu saja. Dulu papa seperti itu, terlihat tampan dan sering menggoda untuk mama. Tak jarang Davina merasa jengah melihat bagaimana mama cekikikan ketika digoda oleh papa. Tapi tidak, sekarag tak ada lagi tawa mama dan godaan manja papa. Rumah ini sekarang terasa begitu muram, sepi dan kosong.

Davina pernah melihat bagaimana papa membanting tubuh mama ke lantai. Davina menjerit dan spontan berlari untuk memukuli papanya. Davina menangis  ketika tangan kecilnya ditahan oleh papa. Papa hanya bilang kalau mama keterlaluan karena membanting ponsel papa sampai rusak. Setelah kejadian itu papa pergi tanpa pamit. Mama hanya bisa menarik davina ke dalam pelukan, mereka menangis berdua. Davina takut pada papanya yang sekarang seperti orang lain. Dia merasa lega karena malam itu papanya tidak pulang.

Davina selalu berdoa, meminta  Allah agar segera menolongnya, mengembalikan keluarganya menjadi normal seperti sedia kala. Davina tidak tahan melihat mama terus tertindas, pertama oleh papanya, kedua oleh keluarga papanya. Oma bersikap sangat jahat pada mama. Seminggu yang lalu Oma datang dan bertengkar dengan mama. Davina mendengarnya namun hanya bisa bersembunyi meringkuk di ujung kasur di dalam kamar sambil berharap oma segera pergi. Ya Allah, kapan semua ini akan berlalu? Tanya Davina dalam hati.

Hari demi hari telah berlalu, akan tetapi kehidupan keluarga Davina masih tetap sama, bahkan lebih buruk. Setelah pertengkaran di pagi hari itu, papa pergi dan tidak pernah pulang. Davina malu karena merasa lega, keberadaan papanya di rumah bukanlah sesuatu yang diharapkan lagi olehnya. Hidupnya, walau sepi tapi terasa lebih damai. Mamanya juga demikian, Davina tahu kalau mama sering berdoa sampai menangis terisak-isak tanpa suara. Tapi mama tidak pernah memperlihatkannya pada Davina.

Tak lama setelah kepergian papa, mama mulai berusaha membuat roti yang kemudian dijual di tetangga atau dititip di sekolah-sekolah terdekat. Mama sempat meminta maaf pada Davina karena harus menjual televisi sebagai modalnya. Davina merasa sangat sedih tapi menyadari kalau hidupnya kini tak sama. Mama mengatur hidup mereka dengan sangat hemat, tak ada lagi jajan diluar, tak ada lagi berbelanja hal-hal yang tidak penting. Lagi-lagi entah bagaimana Davina bisa tahu kalau papa tidak lagi memberikan uang untuk mama sejak pergi dari rumah. Taka pa, Davina sangat menikmati saat-saat membantu mama membuat roti serta menjualnya.

Suatu siang saat Davina pulang sekolah, rumahnya kedatangan tamu seorang bapak. Wajah bapak itu terlihat tegas, dari tutur kata dan cara bergeraknya Davina menilai bahwa si bapak sangat sopan. Bapak itu mengobrol serius dengan mama. Davina melihat kalau mamanya tampak tegang dan pucat. Sepulangnya si bapak mama hampir terjatuh ketika mencoba berdiri, shock sepertinya. Davina jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa sesungguhnya bapak tadi?

Bola takdir kini berpihak pada Davina dan mamanya. Bapak itu bernama Pak Santoso dan beliau adalah seorang kepala RT di kampung Welas, Bandung. Beberapa hari yang lalu, Pak Santoso mendatangi rumah seorang warga bernama Arnita. Pak Santoso dan beberapa warga lain merasa ada keanehan di rumah tersebut. Arnita, walaupun agak tertutup, diketahui adalah seorang lajang. Namun beberapa waktu terakhir ini ada lelaki yang tinggal bersama di rumahnya. Untuk menjaga suasana kampung tetap kondusif, Pak Santoso akhirnya menanyai Arnita dan lelaki yang bernama Andrean. Mereka berdua mengaku saudara kandung tapi beda Ibu. Pak Santoso yang tidak langsung percaya begitu saja dengan pengakuan tersebut  meminta KTP keduanya. Pak Santoso mencatat identitas mereka. Gelagat aneh dari Arnita maupun Andrean membuat Pak Santoso tidak bisa melepas kecurigaannya.

Bagi Pak Santoso, tidak mungkin kakak dan adik berlaku seintim itu. Dengan berpegangan pada instingnya yang telah bertahun-tahun teruji sebagai penjaga keamanan di Kampung Welas, Pak Santoso berinisiatif untuk pergi ke alamat yang tertera di KTP Andrean. Bagaimanapun di KTP tersebut Andrean berstatus sudah menikah, walaupun lelaki itu berkata bahwa istrinya bekerja di luar pulau. Ternyata insting Pak Santoso tidak salah, beliau menemukan Mama dan mengetahui kalau Andrean tidak pernah mempunyai saudari lain Ibu bernama Arnita. Kebenaran makin lama makin terkuak!

Mama, walaupun tampak sangat terguncang tapi berusaha tenang saat menjawab semua pertanyaan tentang dirinya dan Andrean. Mama mengatakan bahwa dirinya sampai detik ini adalah istri sah dari Andrean dan bahwa lelaki itu sudah berbulan-bulan pergi meninggalkan keluarganya tanpa nafkah sepeserpun. Mama juga mengatakan bahwa suaminya selama ini dicari-cari atasannya karena melarikan mobil dan sejumlah uang dari brangkas kantor.

Rencana jebakan untuk membongkar kebohongan Andrean dan Arnita akhirnya disusun. Dua hari setelah kedatangan Pak Santoso, Davina dan Mama pergi ke kampung Welas. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, ibu dan anak itu tinggal sementara di rumah keluarga Pak Santoso. Tengah malam saat Davina sudah tertidur akhirnya rencana dijalankan. Pak Santoso, mama, beberapa warga kampung, atasan Andrean serta dua orang polisi bergerak untuk menggebrek rumah Arnita.

Penggrebekan berlangsung cukup seru. Pada awalnya Pak Santoso-lah yang pertama mengetuk pintu sedangkan Mama  bersembunyi di balik pagar. Ketika pintu akhirnya dibuka dan sosok Andrean muncul dari baliknya, Mama tidak bisa menahan diri untuk melompat dan berteriak

“Itu suami saya Pak! Suami sayaaa!!”

Mama menjerit sambil menunjuk Andrean dengan tangannya yang gemetar. Andrean sendiri yang awalnya merasa kesal karena tengah malam digangu tampak sangat terkejut dengan kedatangan Pak Santoso maupun istri yang sudah lama ditinggalkannya. Keterkejutan Andrean langsung berubah menjadi kengerian saat mengetahui atasan tempatnya bekerja juga ada di tempat itu, berteriak lantang untuk menangkapnya pada dua orang polisi yang berjaga. Andrean gelagapan, dia tidak bisa berkutik lagi!

Tidak lama kemudian Arnita yang merasa heran dengan suara rebut-ribut di halaman kontrakannya  ikut keluar dan berteriak kaget. Dia ketahuan! Dia tertangkap basah! Rasa malu menyelubunginya ketika melihat bagaimana para warga menatapnya dengan jijik. Arnita menjerit-jerit, menunjuk dan menyalahkan Andrean. Suasana pun menjadi gaduh, makin lama makin banyak warga datang untuk melihatnya.

Suasana yang gaduh dapat dipadamkan dengan cepat oleh Pak Santoso. Arnita dan Andrean akhirnya digiring ke kantor Polisi dan dijebloskan ke dalam penjara untuk sementara. Mama  yang shock diberi air minum dan ditenangkan oleh istri Pak Santoso serta warga yang lain.

Pagi menjelang, kabar tentang penggrebekan Andrean dan Arnita langsung tersebar kemana-mana. Oma datang menemui Davina dan mamanya, meminta maaf untuk segala perbuatan Andrean dan meminta Mama agar tidak memperpanjang masalah ini. Video tentang penggrebekan sudah diamankan. Keberadaan banyaknya saksi juga membuat nyali Andrean ciut.

Mama dibantu oleh keluarga besarnya langsung mengajukan cerai dari Andrean ke pengadilan Agama. Davina untuk sementara dititipkan dirumah nenek selama beberapa hari dan tidak sekolah sampai suasana kondusif. Davina merasa senang karena dirumah nenek  ramai dengan para sepupunya yang lain. Nenek serta kakek juga sangat sayang padanya. Beberapa hari setelahnya Davina bertanya kepada mamanya kapan mereka akan kembali ke rumah. Mama menjawab bahwa rumah itu sudah dijual dan mereka akan pindah keluar kota, tinggal di tempat yang baru.

 

Saat ini…

 

Sore itu Davina mengambil tempat duduk di samping mamanya yang sedang asyik melihat tayangan komedi di televisi. Setelah menghitung sampai sepuluh di dalam hati, Davina berkata dengan suara yang pelan pada Mamanya

“Ma, Rega kemarin datang dan..dan melamarku”

Mamanya melongo, dengan segera Televisi dimatikan. Pandangannya kini beralih ke Davina. “Benarkah itu sayang?”

Davina mengangguk “Tapi aku nggak bisa menerima Rega Ma. Aku takut..” jawabnya ragu.

Mama menatap Davina prihatin “Apakah karena…papa kamu?” Tanya Mama tanpa basa-basi

Davina mengangguk lagi.

Sudah tiga belas tahun berlalu sejak Mama dan Papa resmi bercerai, masa yang sesungguhnya lama tapi terasa seperti baru kemarin. Papanya dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Selama itu Davina tidak pernah menengoknya. Usia Davina sepuluh tahun saat badai menerpa keluarga mereka. Usia dimana harusnya Davina sedang bahagia-bahagianya menjadi seorang anak kecil.

Mama memutuskan untuk pindah segera setelah semua urusan dengan Andrean selesai. Luka yang ditorehkan Andrean padanya begitu dalam, begitu perih, begitu tak terlupakan. Dirinya sempat berpikir ingin mengakhiri hidup karena beratnya ujian yang dihadapi, tapi bagaimana dengan Davina? Davina adalah jangkarnya, dia menginginkan hanya yang terbaik untuk Davina. Dirinya boleh hancur, tapi Davina tidak.

Mama  menyadari bahwa kehidupan tidak akan mudah bagi mereka berdua walaupun Andrean sudah ada di dalam penjara. Davina yang dulu merupakan anak ceria lambat laun berubah menjadi pribadi yang tertutup, minder dan penakut. Davina sangat takut pada laki-laki dan sulit menyesuaikan diri. Akhirnya, dengan bantuan keluarga, mereka berdua mengikuti bimbingan konseling bersama-sama.

Butuh bertahun-tahun untuk mengembalikan kepribadian Davina, itupun tidak sepenuhnya . Hati yang luka bisa sembuh seiring waktu, namun bekasnya tetap ada, tidak akan pernah hilang.

“Masih dendam-kah sama papa nak?” Tanya Mama lembut

Davina terdiam, ada kernyitan di dahi yang menunjukkan bahwa dia sedang berpikir. “Bukan dendam ma, hanya trauma. Aku..aku takut Rega akan seperti papa” jawabnya lesu

Mama  menatap putrinya dengan sedih. Andrean sudah mati sebelum keluar dari penjara, bunuh diri karena tidak tahan dengan kehidupan disana. Sungguh mengesalkan karena walaupun pria itu sudah tidak ada di dunia, hantunya tetap muncul dalam kehidupannya dan Davina, menjelma menjadi mosnter bernama trauma masa lalu.

“Rega bukan papa kamu Davina” kali ini perempuan paruh baya itu berkata lebih tegas.

Davina menunduk,semakin dalam pundaknya berguncang-guncang “aku tahu mama, aku tahu..” isaknya.

Mama  memeluk putri semata wayangnya. Matanya memejam  untuk berpikir betapa ingin dia menghapuskan segala rasa sakit yang dirasakan Davina.

“Sstt…hei, sudah…sudah..” Mama mengelus bahu Davina, berusaha menenangkannya.

Davina menengadah, memandang wajah sang mama. Manik mata yang tak pernah berhenti memberikan keteduhan.. Begitulah, sedalam apapun papanya menyakiti mama, tak pernah dia menemukan jejak dendam.

“Kamu tahu sayang, membenci itu melelahkan. Apalagi kalau mengingat orang yang kamu benci itu sudah masuk ke dalam tanah” Mama menghembuskan nafas sesaat sebelum  melanjutkan kata-katanya “Masa lalu adalah masa lalu, biarlah itu menjadi pelajaran bagi kita berdua. Menyakitkan memang, membekas dan bahkan tak bisa hilang tapi bukankah hidup terus berjalan? Rugi sekali kalau masa depan kita harus ikut rusak hanya karena masa lalu, iya kan?”

Davina mengangguk lemah.

“Maafkanlah papamu. Benar dia berbuat salah, tapi bukankah dia sudah mendapatkan pengadilan di dunia? Tak lama lagi dia juga akan mendapatkan pengadilan di akhirat. Sesungguhnya, tragis sekali hidup papa kamu itu.”

Davina menaruh kepala di bahu ibunya, merasa kembali menjadi seperti anak kecil.

“Memaafkan itu memang sulit Davina, tapi itu bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Sudah cukup kita menderita di masa lalu, jangan sampai kita juga tidak bahagia di masa datang. Atau, kamu memang memilih untuk enggak mau hidup bahagia?”

Davina menggeleng sambil merasakan bagaimana Mama membuatnya tersenyum sedikit.

“Kamu lebih dari berhak untuk meraih kebahagiaan sayang. Coba lihat mama, mama memutuskan untuk menjual dan meninggalkan hampir semua hal di belakang dan pindah untuk memulai hidup berdua yang indah bersama kamu, dan mama sangat bahagia dengan pilihan itu. Lembaran kelam itu sudah mama tutup, mama bahkan tidak sudi untuk membukanya kembali. Mama memilih untuk memaafkan dan maju menikmati kehidupan di depan”

“Sekarang Mama tanya, tolong jawab dengan jujur. Davina, apakah kamu mencintai mas Rega?”

Davina berharap wajahnya tidak merona, “eh”

“Ayo jawab Davina” Desak Mama, memperlakukan Davina seperti anak kecil yang ketahuan mengambil permen tanpa ijin.

Davina berdehem, kikuk antara ingin mengakui atau menghindar. Akhirnya dia memutuskan untuk memberi pengakuan yang paling terbuka . “Iya mama, aku mencintai Mas Rega”

Mama tersenyum, merasa lega dengan jawaban Davina. Perempuan itu meraih kedua tangan Davina. “Hal pertama yang bisa kamu lakukan untuk lepas dari hantu masa lalu setelah memaafkan papamu adalah memberikan kesempatan kepada Mas Rega untuk membahagiakanmu sayang”

“Sangat tidak adil kalau kamu menolaknya tanpa mencoba terlebih dahulu, beri mas Rega kesempatan. Mama yakin kalau lelaki itu tidak akan membuat kamu kecewa Davina” lanjut Mama memberi dorongan.

“Tapi ma, bagaimana kalau..bagaimana kalau..”Davina masih bersikeras dengan “keraguannya.

“Jangan pernah pikirkan hal buruk. Dengarkan mama, kamu.berhak.untuk.bahagia”.

“Sudah tiba saatnya kamu membuka lembaran baru untuk hidupmu sendiri Davina, beranilah, lanjutkan hidup” Tegas Mama.

Davina mengangguk, tetes-tetes air mengalir deras di pipinya.

“Aku sayang sama mama, selalu” Kata Davina sambil memeluk Mama dengan erat.

***

Malam hari setelah menangis di ujung sajadah, Davina meraih ponsel pintarnya. Dia mencari-cari nama Mas Rega dan mulai mengetik

(Mas, aku siap memberi jawaban)

The End

 

Akhirnyaaaa, selesai juga. Fiuuhh alhamdulillah.

Author’s Note : Cerpen ini dibuat berdasarkan kisah nyata ya. Pak RT yang mencari informasi tentang istri dari si peselingkuh itu benar adanya loh. Terharu ya, masih ada orang-orang yang peduli sampai sedemikian jauh.

Untuk hal-hal lainnya saya ubah sedikit disana dan sedikit disini. Mohon maaf kalau feel-nya kurang. Cerpen ini dibuat mendadak, sambil ngurus anak-anak yang sakit pula, uhuhuhu

Semoga kita semua (terutama saya sendiri) bisa mengambil ibroh dari cerita ini. Dan semoga semua yang membaca cerita ini dijauhkan dari hal-hal yang demikian. S

Salam penuh cinta, kiss kiss

Pondok Aren, 12 Januari 2018

 

Pengalaman Melahirkan Tanpa Jahitan 

Yihaaaa!! I’m back!

Sharing kali ini adalah tentang proses kelahiran dan menyusui si nomer tiga yang penuh drama *as always*

Sebelumnya, setor foto dulu. Ganteng nomer 2 ini usianya sekarang udah 3 bulan loh ???


Cerita dimulai pada suatu hari yang tidak begitu indah dimana saya kontrol bulanan dan ternyata sudah mulai ada pembukaan 1. Ya kaget sih, moro-moro kok wis bukak siji. Untungnya bidan dan perawat menenangkan bahwa hal ini biasa terjadi pada proses kelahiran anak kedua, ketiga dan setelahnya.

Yawis, akhirnya pulang dari klinik langsung mampir supermarket buat borong nanas dan kurma. Konon katanya, dua jenis buah itu bisa membantu melemaskan serviks dan memicu munculnya kontraksi.

Sesuai saran dokter karena memang hpl tinggal hitungan jari, saya memperbanyak jalan dan gerakan jongkok-berdiri-jongkok-berdiri. Kalau boleh jujur, di kehamilan ketiga ini saya pemalas banget. Asli pemales!  Mungkin karena ada ART yang udah ngurusin rumah plus capek ngurusin yuan-luna plus pinggang yang gampang pegel plus masih trauma sama proses kelahiran kedua yang hampir merenggut nyawa ?

Hari jumat pagi tanggal 6 oktober saya mulai merasakan dorongan-dorongan cinta, belum terlalu kuat tapi jaraknya sudah 10-5 menit sekali. Sementara saya abaikan. Saya masih menyempatkan diri untuk main-main dengan luna dan masak rawon.

Dua kali pengalaman melahirkan sebelumnya saya amatir sekali. Yang pertama saya jerit-jerit tiap kontraksi datang dan yang kedua terkapar karena sakit. Untuk lahiran ketiga ini, saya berniat untuk menikmati setiap menit prosesnya. Paling enggak, kali ini saya udah tahulah apa yang akan dihadapi. Pastinya lebih setrong, lebih kalem.

Nah, Jam sepuluh yusuf pulang setelah saya WA kalau nyeri kok makin sering. Setelahnya, kami bersiap-siap menuju  bidan. Fyi, saya memang berniat untuk melahirkan dengan bpjs. Ada rencana untuk menulis tentang perawatan kehamilan dan melahirkan dengan bpjs, tapi mungkin enggak sekarang ya.

Di klinik tempat ibu bidan saya kembali dicek dalam. Masih bukaan satu longgar ternyata, huuuu. Lanjut pengecekan tekanan darah. Saat ditensi ketahuan deh tekanan darah saya rendah. Ndilalah bidannya khawatir, beliau menyuruh saya untuk pergi ke rumah sakit. Beresiko. Bu bidan takut saya tidak punya kekuatan untuk mengejan. Aduh,  ini beneran mempengaruhi psikis loh.  Saya yang awalnya santai-santai aja jadi ikut-ikutan khawatir. Akhirnya kami pergi ke klinik untuk mendapatkan rujukan lalu lanjut ke RSIA buah hati ciputat (RS rujukan sesuai faskes 1)

Sesampainya disana kami mengurus pendaftaran. Alhamdulillah karena itu hari kerja, hampir tidak ada antrian sama sekali  yeiii! RSIA buah hati ciputat ini terkenal bagus untuk pelayanannya. Satu hal yang menjadi ganjalan adalah hampir semua dokter obsgyn disitu lelaki. Lha kepriye, gimanapun saya masih pikir-pikir untuk ngangkang di depan orang selain suami, wkwkwkwk. Suami juga sampai detik ini masih belum ikhlas saya dipegang-pegang bagian itunya sama orang lain walaupun untuk alasan medis . Apalagi kalau memang masih ada dokter lain yang berjenis kelamin perempuan.

Alhamdulillah dokter tidak melakukan pemeriksaan dalam, cuma usg aja. Hasil dari usg posisi sudah bagus dan tidak ada lilitan. Hampir saja saya melompat untuk nari-nari kegirangan dan cium pipi pak dokter saking senangnya ?? Habisnya di pemeriksaan terakhir si dedek masih kelilit lehernya. Di akhir pemeriksaan dokter cuma bilang, paling lambat besok pagi saya sudah lahiran. Saat itu, saya masih pede, masih ngerasa sombong bisa mraktekin ilmu gentle birth yang cuma sakuprit hasil baca2 di google, pokoknya masih bisa senyam-senyum dan becandaan sama perawat ??

Pulang dari rumah sakit kami sepakat untuk melipir dulu ke bintaro xchange. Bukan karena keinginan pribadi untuk makan burgernya carl’s jr yang buy one get one free tiap hari jumat, bukan. Ini semua demi menjalankan amanah pak dokter dalam waktu yang sesingkat-singkatnya : perbanyak jalan. Di mall kami jalan-jalan sambil gandengan tangan dong, mumpung masih bisa pacaran tanpa ada ekornya. Lumayanlah, menikmati momen berduaan di luar sebelum tugas besar menanti.

Selesai dari carl’s saya mampir ke kamar kecil dan menemukan adanya lendir darah walaupun kontraksi saat itu masih belum begitu kuat. Saya lapor sama suami dan berdiskusi, antara mau balik ke RS atau ke klinik BWCC (bintaro woman and children clinic).  Akhirnya yusuf memutuskan untuk ke klinik aja, masih belum rela dia lihat bininya di grepe-grepe lelaki lain ahay!

“Aku mending bayar deh mah, insya allah masih mampu kok” kata dia

Ya allah, suamiku ternyata bisa cemburu juga sodara-sodara *sujudsyukur* *brambangi*

Jadi, setelah rumah-bidan-rumah sakit-mall disambangi,  akhirnya kami sampai ke pemberhentian terakhir : klinik BWCC. Seperti biasa kami kembali mengurus pendaftaran (untuk yang kesekian kalinya di hari yang sama). Begitu selesai saya digiring masuk ke ruang persalinan. Saya menarik nafas  ketika dilakukan pemeriksaan dalam lagi.

Bukaan tiga sodara-sodara !

Perjuangan masih jauh kawan!

Bidan pamit untuk mengabari dokter mela (dokter obsgyn saya selama kontrol). Di sebelah saya,  yusuf dengan kepedean tingkat tinggi nyeletuk

“Aku yakin paling lambat abis maghrib si dedek udah lahir”

Jumawa banget dia, sok jadi cenayang. Dia mana  ngerti kalo nyeri yang saya rasakan mulai memasuki tahap rawan. Bidan kembali nggak lama, berdasarkan konsultasi di WA antara bidan dengan dokter,saya disuruh stay karena khawatir bisa melahirkan sewaktu-waktu. Namanya juga anak ketiga dimana jalan lahir sudah ada.

Supaya nggak bosan nunggu bidan menawari saya untuk pakai bola boing-boing , lupa apa namanya, pokoknya besar gitu deh. Diajarin juga memposisikan yang benar. Katanya sih efektif nambah bukaan dan mengurangi rasa nyeri. Saya manut aja daripada ndomblong. Sesi menunggu bukaan dilakukan denga bengong, buka2 wa dan video call sama anak-anak.

Bersyukur aki dan enin-nya suka banget ngevideoin polahnya anak-anak. Rasanya pengen belah diri karena kangen saat nonton video mereka. Padahal yo baru beberapa jam pisah, aku ki ancene lebay ??

Di saat genting menanti pembukaan saya masih menyempatkan diri untuk sholat. Sempet juga minta pengen keluar, mampir beli es krim ke mcdonald depan klinik tapi nggak dibolehin ??. Elah, dasar pasien banyak maunya. Bosan sama hape sendiri, mainin hapenya suami. Scroll scroll nemu pesan suami yang amat sangat njelehi di grup pokemon.

“Bro, gw vakum seminggu dulu ya. Istri gw mau open pokedex dulu”

Errr..saya cuma bisa memutar bola mata sambil mendecak-decak. Gusti nu maha aguuunggg,  nasib punya suami gamer ya gini, istri mau lahiran aja disamain kayak pokemon ??

Jam sembilan malam dilakukan pemeriksaan dalam lagi. Saya menganati wajah si bidan yang sedang dokus rogoh-rogoh. Baru bukaan empat ternyata! Oh maii, selama enam jam ternyata bukaan cuma nambah satu senti!

Semangat saya langsung layu, badan jadi kuyu. Lemes dan kecewa karena bukaan tidak menambah seperti yang diperkirakan. Akhirnya saya cuma bisa ngelus-ngelus perut sambil tanya “dedek mau keluar kapan, ayo keluar yok, mama udah pegel”

Bidan nyuruh saya makan untuk menambah tenaga tapi saya sudah nggak nafsu. Detik demi detik yang berlalu kerasa lamaaaaaa banget. Dalam hati udah mulai grasa-grusu, sampai kapan ini bakal ngerasain sakitnya? Jam sebelas malam kantuk mulai datang, pengen tidur tapi nggak bisa karena rasa sakit mulai intens tusukannya. Saat itu pengen banget nyulek mata suami pakai gunting operasi, kesel dan bete karena dia asyik sendiri baca komik online.

Saya mulai ngeracau aneh, udah nggak bisa senyum ikhlas lagi. Suami sadar kalau keyakinan dan semangat  saya mulai goyah. Baru deh saat itu dia nyimpen hapenya trus minta maaf. Saya yang udah keburu sebel langsung melengos, buang muka. Duile, mau lahiran aja sempet-sempetnya marahan. Emang drama bangetlah hidup saya ini.

Jam sebelas malam saya berjalan keluar karena klinik udah sepi, lampu ruang periksa dimatika, TV juga sudah tidak lagi menyala. Suasana terasa hening, hanya tersisa dua orang bidan jaga.

“Mbaaakk, kalo mau sesar gimana siihh?” Tanya saya sambil meganging pinggang belakang.

“Bisa aja sih bu sesar atas kemauan sendiri. Tapi kalo ibu jangan deh, sayang banget kalo sesar” jawab si bidan

Belum sempet saya nyautin suami tiba-tiba langsung mbekep mulut saya sambil bilang “udah nggak usah didengerin bu, ini udah jadi kebiasaan istri saya tiap kali melahirkan”

Kemudian yusuf nyeret saya menjauh dari bidan.

“Kamu tuh kuat mah, ayo kamu tuh kuat” kata dia sok ngasih semangat

Saya cuma merengut, heu ngasih semangatnya telat banget. Tapi walaupun kesel saya tetep nggak bisa jauh dari yusuf karena tiap kontraksi datang butuh untuk dipijat bagian tulang ekornya.

“Tapi ini masya allah yah rasanya. Aku udah nggak kuat lagi” kata saya menahan kesal.

Kami berjalan keliling klinik dalam posisi seperti orang berdansa. Tangan saya memeluk lehernya yusuf karena kaki udah gemetaran, lemes harus bertahan tiap kontraksi datang.

“Ayo, istriku pasti kuat. Kamu mau apa mah, nanti kita ke kafe yang jadi satu sama tukang martabak itu ya? Atau mau eskrim mcd? Nanti habis lahiran aku beliin. Atau mau..” sayup-sayup saya udah nggak bisa mendengar janji-janji surga yang diocehin yusuf karena ngerasa si dedek dalam perut sudah mulai mendorong saya untuk mengejan.

“Aku..aku mau ngejaaaannnn” teriak saya tak bisa menahan dorongan si dedek. 

Benarsaja, tak lama kemudian keluar cairan bening yang membasahi celana. Bidan langsung terhopoh-gopoh keluar mengecek kondisi saya. Suami dan bidan membimbing saya kembali ke kasur persalinan. Sebelum naik ke atas kasur yang menurut saya cukup tinggi itu, sekali lagi saya mengejan sambil berteriak.

“Bu tahan bu! Tahan dulu, ini belum waktunya ngejan!”

Perintah untuk melakukan pernafasan dan ingatan untuk melakukan metode gentle birth sudah melayang entah kemana, kalah oleh rasa sakit. Afirmasi positif? Bleehhh, apa pula itu, yang keinget cuma pengen semua ini segera selesai. Naik ke kasur persalinan terasa sangat sulit karena saya mulai kacau.

Setelah sukses nangkring di atas kasur,  saya ditidurkan miring ke kiri selnajutnya dengan cepat bidan kembali melakukan pemeriksaan dalam.

Bukaan delapan!

Ya allah, dalam waktu dua jam nambah bukaan empat senti sekaligus, pantesan rasanya nikmat banget. Makbedunduk udah pengen ngejan aja.

Bidan-bidan menyuruh saya untuk tidak panik. Sayangnya saya memang udah panik dan mulai teriak-teriak nanyain ILA (untuk tahu apa itu ILA silakan googling sendiri yah).

“ILA-nya mana? ILA-nya mana??!!” Teriak saya ingin rasa sakit ini segera menghilang.

“Aduuhh, ini datang lagi! Datang lagi kontraksinya!”

“Ayah, pijetnya agak kebawah, bukan disituuu!!”

“Mbaaakkkk, ini suami saya nggak bener mijetinnya! Mbak aja yang mijetin!!”

Salah satu bidan memegang tangan saya dan mulai menuntun untuk melakukan nafas yang mengurangi rasa nyeri saat kontraksi datang. Semenit kerasa kayak setahun saat dorongan menyakitkan itu muncul.

“Bukaan sembilan” kata si bidan lagi ketika perasaan ingin pup mulai nggak bisa ditahan.

Kepala kerasa pusing dan kliyengan.

Kalau di film ayat-ayat cinta permintaan  yang terkenal adalah “nikahi aku” . Nah, kalo saya malah teriak Tampar aku aja yaah! Tampar aku! Suntik aku! Suntik aku! Rasanya pingin pingsan aja sekalian biar nggak perlu ngerasain lagi.

Jam dua belas malam dokter mela datang. Ya allah, rasanya lega banget dokter obsgyn kesayangan udah muncul di lokasi. Langsung deh beliau bergegas mulai pemeriksaan segala macem.

“Dok, sudah mulai boleh ngejan lagi nggak?” Tanya saya putus asa.

“Boleh kok, bukaan kamu sudah lengkap” jawab dokter mela kalem sambil menyentuh perut saya dengan jari-jarinya, seperti melakukan pengukuran kekuatan kontraksi si janin.

“Kamu mau posisi melahirkan yang seperti apa?” Dokter mela balik bertanya.

Sesaat saya bengong, baru kali ini melahirkan ditanyain posisi. Biasanya itu pertanyaan yang diajuin sama yu..*eh

“Mau tiduran? Berdiri? Jongkok?” Tanya beliau sembari menjelaskan.

“Saya setengah tiduran aja dok” jawab saya cepat. Bidan membantu menaikkan kasur, kedua tangan saya berpegangan pada pergelangan kaki.

“Pokoknya cari posisi senyaman kamu, kaki kamu di perut saya juga nggak masalah kok”lanjut dokter mela lagi.

Saya mengangguk, “begini aja dok” jawab saya buru-buru karena kontraksi mulai kembali tiba.

Dokter mela mulai memberikan aba-aba.

“Uurrggghhhhhhhhhh!” Saya mulai mendorong sekuat tenaga.

“Jangan tutup mata dan jangan teriak, suara keluarkan dari gigi”

Saya tidak ingat siapa yang memberi perintah itu. Yang saya tahu, ketika kontraksi menghilang saya mulai mengatur nafas lagi. Yusuf menghapus keringat yang mengucur di dahi.

“Uuuuuuurgggghhhhhhhhh!!!!”

Kembali saya mendorong saat kontraksi datang. 

Saya merasakan gigi saya bergemeretak dalam usaha untuk mengejan. Masih gagal.

Saya menjatuhkan diri ke kasur, kembali mengatur nafas yang mulai hancur. Lemas, rasanya tidak berdaya. Saat itu saya tahu bahwa tenaga saya sudah habis untuk bertahan di saat menanti pembukaan lengkap. Hampir tak ada tenaga tersisa di saat-saat akhir, ironis!

“Ajeng, kamu sudah hebat. Posisi kamu sudah benar, nafas kamu sudah benar, semangat kamu sudah pas. Tinggal didorong sedikit lagi, sedikiiitttt lagi. Kamu mau minum dulu? Pak itu tolong istrinya dikasih minum dulu biar punya tenaga lagi” dokter mela memberikan semangat sekaligus instruksi.

Minum seteguk teh dan dorongan dari dokter mela membantu saya untuk mengumpulkan semangat lagi.

“Uuuuurrrgggghhhhhhhhhhhh!!!” Kembali saya mencoba untuk mendorong.

Dorongan ketiga putus di tengah jalan, tenaga saya habis.

Nah, jeda antara dorongan ketiga dan keempat ini adalah saat-saat paling amazing karena saya merasakan kepala si dedek di pintu keluar. Rasanya seperti menjepit bola diantara dua kaki. Dia sudah berjarak sangat dekat dengan pintu keluar! Saya kembali jatuh ke kasur dan mengatur nafas, yusuf menggenggam tangan saya seolah menyalurkan tenaga miliknya.

“Ayo ajeng, ini tinggal sedikit lagi” Dokter mela menyangati.

“Uuuuuuuuuuuurrgghhhh!!! Aaahhhhh!!!!!” 

Sekalilagi saya berjuang untuk mengejan.

Disela-sela teriakan saya mendengar dokter mela bergerak menangkap bayi yang meluncur dengan cepat sambil berkata:

“Assalamualaikum..”

Sambil ngos-ngosan karena nafas yang habis saya bangkit dan terpana  melihat sesosok tubuh bayi berwarna biru yang langsung berubah merah dengan cepat dan tiba-tiba mengeluarkan tangis.

Saya kembali terjatuh di kasur, menoleh ke arah yusuf sambil berulang kali mengucapkan hamdalah.  Perasaan lega langsung menyelimuti dan membuat saya merekahkan senyum. Saya mengabaikan kamar persalinan yang terlihat seperti kapal pecah, dengan air ketuban dan darah dimana-mana.

Pengguntingan tali pusar dilakukan oleh yusuf. Saya hanya bisa tersenyum kecil melihatnya agak gugup ketika hendak menggunting. Proses selanjutnya adalah IMD, si bayi diletakkan di dada saya sedangkan dokter mela mulai memeriksa bagian  bawah hendak melakukan jahitan.

“Ajeng, ini kamu nggak ada robekan sama sekali. Cuman ada sedikit lecet kecil, paling tinggal dipencet pake kasa darahnya berhenti. Kamu nggak saya jahit ya” kata dokter mela memberi tahu dari balik kaki saya yang sedang ngangkang.

Saya melongo..

“Haaaahhhh???? Seriusan dokter saya nggak ada jahitan??” Teriak saya takjub

Dokter mela ketawa dan mengangguk “iya kamu nggak ada robekan soalnya. Atau kamu mau saya jahit?” Tanya dokter mela geli.

Kontan saya menggeleng kuat-kuat. Rasanya masih nggak percaya, secara anak ketiga ini BBnya paling tinggi kalau dibandingkan kakak2nya yaitu 3,2kg.

Setelah merasa plong karena si dedek sudah keluar dengan selamat, malam itu juga kami sudah memutuskan namanya : Aylan yang berarti moonlight atau cahaya bulan. Cocok bangetlah karena dia lahir tengah malam.


Mohon doa dari teman-teman semua semoga saya dan yusuf bisa menjadi orang tua yang sanggup membimbing anak-anak menjadi anak yg solih-solihah dan bermanfaat bagi bangsa dan agama ?

Dari pengalaman tiga kali melahirkan, saya bisa mengambil kesimpulan tentang apa-apa saja yang bisa memicu kontraksi:

  1. Makan nanas dan kurma

  2. Banyak jalan, senam hamil, ngepel

  3. Yang paling terakhir dan paling jos : berhubungan

Sedangkan untuk tips tidak ada robekan, sejujurnya saya juga tidak tahu karena kondisi kehamilan tiap orang berbeda. Namun dua hal ini bosa jadi masukan.

  1. Usahakan BB bayi tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil

  2. Ikut senam hamil

  3. Jangan angkat bokong saat mengejan

  4. Perhatikan aba-aba bidan atau dokter

Please, please jangan tanyakan apakah saya mau nambah anak lagi atau tidak. Yang pasti setiap kali kontraksi dan melahirkan dalam hati saya selalu menyebut nama teman-teman yang sedang berjuang memiliki momongan.

Pondok aren, 10 januari 2018

Lembaran itu bernama kehidupan

Ada dua alasan utama kenapa orang tidak bisa tidur. Pertama, karena dia sedang bahagia. Kedua, karena takut menghadapi pagi.

Saya pernah mengalami yang kedua.

Sebagai istri dari abdi negara yang penempatannya berubah-ubah, sejak awal saya sudah memahami bahwa kami akan sering pindah. Nah, ada perbadaan mendasar antara hanya memahami dan menjalani langsung. Yang satu sekedar bayangan di kepala, satunya kenyataan.

Setelah menutup buku episode pertama kehidupan saya di yogyakarta, saya mulai menuliskan cerita baru di sebuah kota kecil yang menyenangkan bernama Tulungagung. Sebelum menikah, suami memang sudah mencari rumah kontrakan untuk ditempati segera setelah kami resmi menjadi pasangan halal. Dan begitulah..saat usia pernikahan baru tiga hari saya dibawa pergi oleh suami ke kota tempatnya bekerja.

Rasanya aneh sekali ketika saya harus meninggalkan semua hal seperti keluarga, sahabat, kampus, jalanan serta tempat-tempat yang sudah saya kenal betul. Tak pernah terbersit sekalipun di pikiran bahwa saya akan pergi meninggalkan kota tempat saya bertumbuh ini, tidak pernah.

Mbah, mbok ojo lungo mbah. Ojo ninggalke aku dhewekan nang kene”

Metri, salah satu sahabat dekat saya mengatakan hal tersebut ketika saya hendak berangkat menuju Tulungagung. Wajah metri tampak agak pucat dan ada sedikit genangan air di matanya. Tiga tahun lebih kami berteman dekat. Semua hal hampir kami alami, mulai dari saling iri, saling benci dan saling mengingatkan. Banyaknya lika-liku yang kami alami membuat metri sudah seperti saudara bagi saya. Permintaan metri membuat saya menatapnya trenyuh, tentu saja kami sama-sama tahu kalau permintaannya tidak mungkin saya kabulkan.

“Kamu, kamu baik-baik ya mbah. Pokoknya kamu harus seneng. Kalau misalnya ucup macem-macem sama kamu, kamu lapor sama aku” lanjut metri, ketegasan begitu terlihat di raut wajah maupun suaranya.

Saya menanggapinya dengan tawa serak yang tertahan. Antara mau nangis dan tertawa. Saat itu saya tidak ragu kalau metri siap untuk menggepuk yusuf kalau dia berani menyakiti hati saya.

_MG_1550

metri (paling kanan) saat momen pernikahan saya

Dan begitulah, pegangan tangan kami terlepas ketika saya harus masuk ke dalam mobil. Saya menurunkan kaca jendela, memandang wajah mama, papa, anelis dan juga metri. Wajah-wajah yang mewarnai buku kehidupan saya selama ini. Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. Campuran antara sedih, terharu, ragu-ragu juga takut. Pada akhirnya, yang bisa saya lakukan adalah menengok ke belakang untuk menatap lambaian tangan mereka yang menghilang ketika mobil berbelok. Saya mendesah, menatap yusuf yang fokus menyetir. Yusuf, seseorang yang mulai detik ini akan menulis lembaran baru kehidupan bersama saya.

 

Lambat laun saya semakin memahami makna dari doa “selamat menempuh hidup baru” yang tertulis di setiap surat dari kado-kado pernikahan. Hubungan pernikahan mengubah posisi saya dari seorang anak gadis dengan tanggung jawab ringan menjadi seorang istri. Sebutan istri ini memunculkan dimensi yang baru dalam hubungan saya dengan lingkungan sekitar serta tanggung jawab yang luar biasa besar.

Kalau dulu dengan metri saya bisa mengobrol hampir segala hal, maka setelah predikat istri itu melekat saya kini memiliki batasan. Akan tetapi, batasan itu hilang jika kita berhadapan dengan suami. Kini, segala keluh kesah memiliki tempat pembuangan yang baru : suami. Kini, segala tanggung jawab dunia dan akhirat dibebankan pada seseorang yang baru : suami. Kini, tugas berbagi kebodohan itu akan dilaksanakan bersama seseorang yang baru : suami.

Menulis lembaran baru, bersama dengan orang baru bukan perkara mudah. Tak jarang saya menengok lembaran-lembaran kehidupan lama. Ketika saya masih seorang gadis, ketika tertawa bersama teman-teman adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Pun tak jarang, ketidakdewasaan membuat saya enggan mengisi lembaran kehidupan yang ada. Menikah betul-betul membuat saya terlempar jauh dari yang namanya zona nyaman.

Tapi bukankah itu yang namanya kehidupan?

Momen perpisahan memaksa saya belajar menjadi sosok yang kuat. Ketika yogya menghilang dan saya harus mengucapkan “halo” pada kota tulungagung yang tak saya kenal sama sekali. Tapi Allah maha baik, Allah maha sempurna dengan segala rencana-Nya.

Saya tak tahu ada berapa lembar kehidupan  yang tersisa bagi saya untuk mengisinya. Yang pasti, salah satu resolusi di tahun 2018 ini juga menyangkut kata “pindah” dan “halo” pada tempat tinggal yang baru. Harapan saya, di tahun ini kami bisa menapaki tempat baru, menjelajahi bumi ciptaan Allah.

Tentu saja sebuah harapan tanpa usaha adalah sia-sia belaka. Insya Allah, agenda dan visi misi di tahun 2018 ini bersama suami sudah kami susun, Semoga kami bisa melukiskan hal baru, karena saya ingin menjadi seseorang yang saya tulis di paragraf pertama 🙂

 

Pondok aren,

Januari 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ibuku Tak Sempurna

Cerpen kesekian yang bisa aku selesaikan, terinspirasi dari komik isyarat mieko. salah satu komik kesukaanku dulu. Tulisan ini masih sangat mentah, tapi semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua. apalah kita ini tanpa ibu kita, hanya sedotan ale-ale yang terbuang … 

isyarat mieko

gambar diambil dari sini

please enjoy the story, ajeng

 

Dear diary

Capek banget hari ini, ospek itu bener-bener melelahkan ya? Aku nggak bisa curhat panjang-panjang dulu, ngantuk soalnya. Pengen cepet bobo, zzzz…

Dear diary

Aahhh!! Hari ini ketemu kakak kelas yang cakep bangettt!! Galak tapi gantengnya uuuuuuuuu! Tadi sempet sengaja mau bikin kesalahan biar dimarahin sama si kakak ganteng, hahahaha. Eh, tapi ini rahasia kita aja yah jangan sampai mama dan papa atau nadia tau, hihihi

Dear diary

Namanya kak Tama! Kakak tingkat kelas 3, bentar lagi lulus. Yang ngefans banyak banget cui, aku mah nggak mungkin dia lirik, hiks. Jadi diary, baiknya aku berani coba atau mundur aja? Ufff, jadi galau apalagi nadia bilang kak Tama itu jadi penyebab banyak hati yang patah dimana-mana…  Apaan coba si Nadia, kok tau banget dia tentang gosip seputar kak Tama?

Dear diary

Diary, akhirnya aku ambil ekskul membatik yang sama dengan..kak Tama! Duh, biarin aja lah ya, habisnya kelas 1 dan kelas 3 beda lantai, jadi jarang bisa ketemu. Mudah-mudahan aku bisa lebih deket dengan kak Tama, minimal bisa saling kenal deh sama dia lewat ekskul ini, semoga *pray

DIARY!!!!!!!! I’M SOOOO HAPPYYYYYYY!!! *jingkrak-jingkrak

Hari ini beneran ketemu kak Tama, dia jadi MC saat acara perkenalan anggota baru. Kami tadi sempet kontak mata walaupun sedetik. Haduuhh, langsung deg-deg serrrr!! Di depan ruangan sampe lupa mau ngomong apa saking groginya >< . Aku kampungan banget yah ? belum tentu kak Tama ingat sama aku tapi aku udah ge er aja, ahihihihi. Biarin biarin biarin, yang penting aku hepi syalalalalala

Dear diary

OMG! OMG! OMG!

Sabar diary, sabar (menata nafas)

Jadi, ceritanya waktu tadi mau pulang dan ambil sepeda ada kejadian memalukan. Entah gimana sepedaku jatuh dan malah ikut ngambrukin sepeda yang lainnya. Kayak permainan domino itu loh. Aku udah gugup banget tadi karena semua sepeda jatuh huhuhuhu!! Nggak taunya ada kak Tama!! Terus dia langsung bantu aku berdiriin sepeda-sepeda yang berjatuhan gitu. Nah, ternyata dia juga ingat kalau aku salah satu anggota ekskul membatik. Aku meleleh diary, meleleh!! Aarrgghh bahagianya!

 

Tiga minggu kemudian…

 

Dear diary

Aku sedih hari ini nggak bisa masuk ekskul membatik karena nemenin mama periksa adek yang lagi demam, batuk, pilek ke klinik di jalan sabang situ. Padahal aku sudah mulai dekat dan banyak ngobrol sama kak Tama. Sedih sih, tapi mau gimana lagi..

Mama kan nggak bisa bicara dan aku terpaksa jadi penerjemah Bahasa isyarat antara mama dan  bu dokter gara-gara papa sibuk banget.. ah papa ah

Emang sedih dan kecewa awalnya, tapiiiiii.. sekali lag,i dewi keberuntungan kayaknya masih ada di dekatku.

Tebak tebak tebak!

Aku ketemu kak Tama di klinik! Kyaaaaaaaa!! Aduuuhhh, aku sempet ngerasa itu Cuma halusinasi karena kepikiran kak Tama terus, tapi setelah ngucek mata berkali-kali itu beneran kak Tama. Dia sama bapaknya kayaknya, uuu…anak berbakti banget. Jadi makin ngefans sama kak Tama, uuuuuuuuuu!

Dear diary

Aku sedih…

Pagi ini ketika masuk ke dalam kelas, beberapa teman lelaki di kelas tiba-tiba nggerak-nggerakin tangannya nggak jelas ke aku. Bahkan si Danu dengan suara keras banget bilang kalo aku anak cacat karena mamaku bisu.

Cacat..

Aku kehilangan kata-kata saking kagetnya. Aku nggak sanggup balas ucapan mereka karena mendadak kepalaku pusing. Aku kayak kehilangan suara saat mereka menghinaku. Tadi yang maju dan menghardik Danu jusru Nadia.

Lebih parahnya lagi, saat istirahat Danu juga bilang ke temen-temen yang lain supaya jangan deket-deket sama aku supaya nggak ketularan bisu.

Aku..aku kesel banget!! Kenapa mereka bersikap seperti itu? Aku nggak mau sekolah lagi, nggak mau! Nggak mau! Aku maluu!!

Dear diary

Hari ini niatnya aku nggak mau sekolah. Waktu mama masuk ke dalam kamar aku pura-pura tidur, nunjukin wajah lemes. Tapi sama papa aku diseret dari Kasur, papa sepertinya tahu kalau aku cuma pura-pura sakit. Ish papa ish papa.

Yaudah, akhirnya aku berangkat sekolah walaupun rasanya males banget. Aku muak ngeliat Danu masih bertingkah walaupun teman-teman yang lain sudah enggak, kemungkinan karena kemarin pada diancam sama nadia bakal dilaporin ke guru BK.

Lalu, mungkin karena aku lesu dan udah nggak peduli sama hinaan Danu, itu anak tiba-tiba bilang kalau yang pertama kali ngasih tahu mamaku cacat adalah kak Tama.

Deg!

Rasanya aku langsung nggak bisa napas. Kenapa kak Tama…kenapa kak Tama tega?

Aaahhhh ! aku pusing diary, rasanya kayak berputar-putar terutama karena sampai rumah tadi aku basah kuyup karena kehujanan..

Aku..aku udah nggak ngerti lagi..

Dear diary

Ahirnya aku bisa nulis lagi setelah tiga hari kemarin terkapar di Kasur, buat bangun aja rasanya kliyengan. Mama yang khawatir banget dengan kondisiku maksa papa ijin dari kantornya buat nganterin aku ke dokter. Mulutku pahit dan susah tidur, rasanya tersiksa..

Kayaknya  mama tahu kalau ada sesuatu, karena aku nggak mau ngomong apapun.

Nah, barusan waktu mau ke kamar mandi aku lihat papa dan mama lagi ngomongin aku. Aku tahu dari gerakan tangannya. Sejujurnya aku sedih karena  mama terlihat lesu dan papa..papa mah begitu terus wajahnya, nggak ketebak. Aku jadi mundur, males mau ke kamar mandi..

Dear diary

Ya allah diary, apa yang sudah aku lakuin?

Hari ini papa mampir ke rumah Nadia untuk nitipin surat ijin dokter ke wali kelas. Terus bukannya ke kantor, papa tiba-tiba pulang lagi, masuk ke kamarku dan bicara serius. Papa yang biasanya tanpa ekspresi itu…entah kenapa aku tau kalau papa yang tadi berbeda.

Ya allah diary, aku…aku berdosa besar sama mama..

Papa masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah album foto dan aku disuruh buka. Di dalamnya adalah foto-foto seorang wanita yang wajahnya mirip denganku, itu foto mama! Setelah memandangi foto-foto dari depan sampai belakang aku baru tahu kalau mama dulunya adalah seorang penyiar dan sering memenangkan berbagai perlombaan.aku nggak tahu, aku nggak pernah tahu tentang itu, yang aku tahu mama hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tadi,  papa tiba-tiba duduk di sebelahku dan cerita panjang lebar kalau..kalau..kalau-

Mama kehilangan pita suaranya saat melahirkanku…

Papa bilang proses kelahiranku amat sulit dan panjang tapi mama tidak mau menyerah. Sepertinya karena teriakan saat mengejan itulah pita suaranya putus. Mama baru menyadarinya waktu nggak ada satu suarapun bisa keluar dari tenggorokannya. Keadaan saat itu sangat kacau, tapi mama adalah orang yang sangat tegar. Kata papa, mama luar biasa sabar karena berhasil melewati masa-masa sulit, menerima kalau dia tidak lagi bisa bersuara memupuskan harapannya untuk  bisa menjadi penyiar professional. Sesuatu yang selalu menjadi impian masa kecil mama, demi menghadirkanku ke dunia.

Dunia mama jungkir-balik. Inilah ujian terberat mama, dunia tanpa kata-kata.Tak terhitung berkali-kali mama jatuh-bangun untuk belajar Bahasa isyarat, bersama papa. Ini belum termasuk  usaha mama untuk tetap merawatku layaknya anak yang normal. Papa juga sempat bercerita betapa paniknya mama menggedor-gedor rumah pak RT, membawa pulpen dan kertas untuk menulis kalau dia butuh bantuan karena aku kejang. Mama tidak pernah membenciku ataupun marah sama aku, padahal aku adalah penyebab semua penderitaannya.

Papa terang-terangan bilang kalau dia tau dari Nadia alasanku jatuh sakit. Aku melihat papa mengusap wajahnya dengan cukup frustasi saat ngomongin itu.  Papa tahu akan tiba saatnya dimana aku akan tertarik dengan lawan jenis dan papa berharap aku menaruh hati pada orang yang tepat. Orang yang tepat menurut definisi papa adalah yang bisa menerimaku dan kondisi mama. Papa bilang beliau sangat kecewa padaku, kecewa karena apa yang kulakukan bisa menyakiti hati mama. Papa bilang tidak ada seorangpun yang pantas menghina mama cacat dan aku bukanlah anak cacat. Boleh jadi mama tidak bisa bicara layaknya orang normal, tapi cintanya padaku sempurna. Aku tidak berhak menyakiti hati mama yang sudah berkorban begitu banyak, tidak berhak.

Aku malu diary! Aku malu! Aku malu pada diriku sendiri yang tidak pernah bersyukur dan berterima kasih pada mama.  Aku anak durhaka, aku..aku harus meminta maaf sama mama!

Tapi gimana? Aku bahkan nggak sanggup ngeliat wajah mama, aku…

 

“Tok tok tok!”

Vania tertegun, gerakan tangannya yang sedang tekun menulis terhenti karena sebuah ketukan di pintu kamarnya. Setelah meletakan pena, dengan gontai Vania berjalan untuk membuka pintu, dia tahu betul siapa yang menanti di depan pintu kamarnya.

Mamanya..

Mama Vania, dengan raut khawatir membawa sebuah gelas berisi jus jambu biji di tangan kanannya.

“masih tidak enak badan?” Tanya mama vania dengan bahasa isyarat.

Vania memandangi wajah mamanya untuk sedetik, keteduhan itu, kasih sayang itu…yanpa ragu vania langsung menghambur masuk ke pelukannya. Air mata Vania tumpah, dengan sesenggukan dia berkata

“Maaf mama, maafkan Vania. Vania cinta sama mama…”