Not Only Hope

Sabtu adalah hari yang cukup sibuk bagi saya. Dimulai dengan tahsin pada pukul 07.00 pagi kemudian dilanjut dengan Liqo dan kadang jalan-jalan sore sama triplet dan ayahnya.

Ceritanya saat tahsin saya duduk berdampingan dengan seorang embak yang manis dan syar’i sekali pakaiannya. Di sela-sela kelas, sambil menunggu giliran kami berdua ngobrol ngalor-ngidul. Dari sana saya tahu kalau dia sudah lulus dan bekerja, namun belum lama ini resign dari tempat kerja sebelumnya. Saya adalah seseorang yang amat sangat kepo , kadang saking keponya suka kepengen napuk mulut sendiri karena kok yo nggak bisa ngerem buat jaga omongan. Duh, jangan ditiru ya kawan ??

“Loh, kenapa mbak resign?” Tanya saya. Tuh kan, mulut ini..hiihhh

Untung embaknya baik, dia cuma tersenyum manis “Ada beberapa hal yang ternyata aku nggak cocok mbak, jadinya pilih keluar aja. Makannya sekarang aku lagi nganggur” jawabnya

Mendengar jawabannya si embak saya bukannya puas, malah makin maksimal kekepoannya “Mmmm..apa gara-gara di tempat kerja enggak mendukung embak untuk berbusana syar’i?” Tanya saya lagi, tebak-tebak manggis.

Si embak tersenyum dan ngangguk-ngangguk.

Doski lanjut cerita kalau di tempat kerjanya dulu nggak boleh pakai rok, jilbab pun harus dililit dan dimasukan ke dalan kaos. Si embak ini sering datang ke kajiannya Ustadz Khalid. Di situ dia banyak dapat ilmu baru dan mantap untuk berhijrah.

Waktu saya tanya, apakah enggak sayang ninggalin kerjaan. Dia jawab enggak, gimanapun bukan bosnya nanti yang nentuin dia masuk surga atau bukan. Uang banyak tapi enggak berkah apalah artinya. Masya Allah, terharu betul saya…

Itu masih cerita pertama.

Nah, cerita kedua masih di hari yang sama. Saya berangkat liqo boncengan motor bareng seorang bumil. Kebetulan tuan rumahnya barusan pindah, beliau hanya share location aja via WA. Dua orang ibu-ibu gaptek nyari rumah via google maps. Hasilnya sudah pasti bisa ditebak, nyasar saudara-saudara. Tapi tetep aja kami ngeles dengan kalimat :

“Ini petanya asli ngaco”

Padahal yang ngaco itu ya kami berdua. Nah, di saat terseaat itu kami tanya-tanya jalan sama tukang air galon. Alhamdulillah sekali, sebagai tukang galon berpengalaman si bapak hapal nama jalan dan nomor rumah, bahkan sampai ke RT-nya. Yakinlah si bapak ini lebih jago daripada aplikasi gmaps.

Setelah bertanya-tanya tentang jalan, si bapak malah memacu motornya untuk menuntun kami berdua ke tempat yang dituju. Sepertinya beliau kasihan melihat kami berdua cuma berO-O ria mendengarkan penjelasan arah kanan-kiri kanan-kiri yang dimaksud. Tak lama kami pun sampai dan rumah yang dimaksud ketemu.

Masya Allah…

Walaupun berita buruk hampir selalu muncul di lini masa, orang baik di dunia nyata itu selalu ada.

Dan saya tidak akan putus harapan.

Pondok Aren, 29 januari 2018