Ibuku Tak Sempurna

Cerpen kesekian yang bisa aku selesaikan, terinspirasi dari komik isyarat mieko. salah satu komik kesukaanku dulu. Tulisan ini masih sangat mentah, tapi semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua. apalah kita ini tanpa ibu kita, hanya sedotan ale-ale yang terbuang … 

isyarat mieko

gambar diambil dari sini

please enjoy the story, ajeng

 

Dear diary

Capek banget hari ini, ospek itu bener-bener melelahkan ya? Aku nggak bisa curhat panjang-panjang dulu, ngantuk soalnya. Pengen cepet bobo, zzzz…

Dear diary

Aahhh!! Hari ini ketemu kakak kelas yang cakep bangettt!! Galak tapi gantengnya uuuuuuuuu! Tadi sempet sengaja mau bikin kesalahan biar dimarahin sama si kakak ganteng, hahahaha. Eh, tapi ini rahasia kita aja yah jangan sampai mama dan papa atau nadia tau, hihihi

Dear diary

Namanya kak Tama! Kakak tingkat kelas 3, bentar lagi lulus. Yang ngefans banyak banget cui, aku mah nggak mungkin dia lirik, hiks. Jadi diary, baiknya aku berani coba atau mundur aja? Ufff, jadi galau apalagi nadia bilang kak Tama itu jadi penyebab banyak hati yang patah dimana-mana…  Apaan coba si Nadia, kok tau banget dia tentang gosip seputar kak Tama?

Dear diary

Diary, akhirnya aku ambil ekskul membatik yang sama dengan..kak Tama! Duh, biarin aja lah ya, habisnya kelas 1 dan kelas 3 beda lantai, jadi jarang bisa ketemu. Mudah-mudahan aku bisa lebih deket dengan kak Tama, minimal bisa saling kenal deh sama dia lewat ekskul ini, semoga *pray

DIARY!!!!!!!! I’M SOOOO HAPPYYYYYYY!!! *jingkrak-jingkrak

Hari ini beneran ketemu kak Tama, dia jadi MC saat acara perkenalan anggota baru. Kami tadi sempet kontak mata walaupun sedetik. Haduuhh, langsung deg-deg serrrr!! Di depan ruangan sampe lupa mau ngomong apa saking groginya >< . Aku kampungan banget yah ? belum tentu kak Tama ingat sama aku tapi aku udah ge er aja, ahihihihi. Biarin biarin biarin, yang penting aku hepi syalalalalala

Dear diary

OMG! OMG! OMG!

Sabar diary, sabar (menata nafas)

Jadi, ceritanya waktu tadi mau pulang dan ambil sepeda ada kejadian memalukan. Entah gimana sepedaku jatuh dan malah ikut ngambrukin sepeda yang lainnya. Kayak permainan domino itu loh. Aku udah gugup banget tadi karena semua sepeda jatuh huhuhuhu!! Nggak taunya ada kak Tama!! Terus dia langsung bantu aku berdiriin sepeda-sepeda yang berjatuhan gitu. Nah, ternyata dia juga ingat kalau aku salah satu anggota ekskul membatik. Aku meleleh diary, meleleh!! Aarrgghh bahagianya!

 

Tiga minggu kemudian…

 

Dear diary

Aku sedih hari ini nggak bisa masuk ekskul membatik karena nemenin mama periksa adek yang lagi demam, batuk, pilek ke klinik di jalan sabang situ. Padahal aku sudah mulai dekat dan banyak ngobrol sama kak Tama. Sedih sih, tapi mau gimana lagi..

Mama kan nggak bisa bicara dan aku terpaksa jadi penerjemah Bahasa isyarat antara mama dan  bu dokter gara-gara papa sibuk banget.. ah papa ah

Emang sedih dan kecewa awalnya, tapiiiiii.. sekali lag,i dewi keberuntungan kayaknya masih ada di dekatku.

Tebak tebak tebak!

Aku ketemu kak Tama di klinik! Kyaaaaaaaa!! Aduuuhhh, aku sempet ngerasa itu Cuma halusinasi karena kepikiran kak Tama terus, tapi setelah ngucek mata berkali-kali itu beneran kak Tama. Dia sama bapaknya kayaknya, uuu…anak berbakti banget. Jadi makin ngefans sama kak Tama, uuuuuuuuuu!

Dear diary

Aku sedih…

Pagi ini ketika masuk ke dalam kelas, beberapa teman lelaki di kelas tiba-tiba nggerak-nggerakin tangannya nggak jelas ke aku. Bahkan si Danu dengan suara keras banget bilang kalo aku anak cacat karena mamaku bisu.

Cacat..

Aku kehilangan kata-kata saking kagetnya. Aku nggak sanggup balas ucapan mereka karena mendadak kepalaku pusing. Aku kayak kehilangan suara saat mereka menghinaku. Tadi yang maju dan menghardik Danu jusru Nadia.

Lebih parahnya lagi, saat istirahat Danu juga bilang ke temen-temen yang lain supaya jangan deket-deket sama aku supaya nggak ketularan bisu.

Aku..aku kesel banget!! Kenapa mereka bersikap seperti itu? Aku nggak mau sekolah lagi, nggak mau! Nggak mau! Aku maluu!!

Dear diary

Hari ini niatnya aku nggak mau sekolah. Waktu mama masuk ke dalam kamar aku pura-pura tidur, nunjukin wajah lemes. Tapi sama papa aku diseret dari Kasur, papa sepertinya tahu kalau aku cuma pura-pura sakit. Ish papa ish papa.

Yaudah, akhirnya aku berangkat sekolah walaupun rasanya males banget. Aku muak ngeliat Danu masih bertingkah walaupun teman-teman yang lain sudah enggak, kemungkinan karena kemarin pada diancam sama nadia bakal dilaporin ke guru BK.

Lalu, mungkin karena aku lesu dan udah nggak peduli sama hinaan Danu, itu anak tiba-tiba bilang kalau yang pertama kali ngasih tahu mamaku cacat adalah kak Tama.

Deg!

Rasanya aku langsung nggak bisa napas. Kenapa kak Tama…kenapa kak Tama tega?

Aaahhhh ! aku pusing diary, rasanya kayak berputar-putar terutama karena sampai rumah tadi aku basah kuyup karena kehujanan..

Aku..aku udah nggak ngerti lagi..

Dear diary

Ahirnya aku bisa nulis lagi setelah tiga hari kemarin terkapar di Kasur, buat bangun aja rasanya kliyengan. Mama yang khawatir banget dengan kondisiku maksa papa ijin dari kantornya buat nganterin aku ke dokter. Mulutku pahit dan susah tidur, rasanya tersiksa..

Kayaknya  mama tahu kalau ada sesuatu, karena aku nggak mau ngomong apapun.

Nah, barusan waktu mau ke kamar mandi aku lihat papa dan mama lagi ngomongin aku. Aku tahu dari gerakan tangannya. Sejujurnya aku sedih karena  mama terlihat lesu dan papa..papa mah begitu terus wajahnya, nggak ketebak. Aku jadi mundur, males mau ke kamar mandi..

Dear diary

Ya allah diary, apa yang sudah aku lakuin?

Hari ini papa mampir ke rumah Nadia untuk nitipin surat ijin dokter ke wali kelas. Terus bukannya ke kantor, papa tiba-tiba pulang lagi, masuk ke kamarku dan bicara serius. Papa yang biasanya tanpa ekspresi itu…entah kenapa aku tau kalau papa yang tadi berbeda.

Ya allah diary, aku…aku berdosa besar sama mama..

Papa masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah album foto dan aku disuruh buka. Di dalamnya adalah foto-foto seorang wanita yang wajahnya mirip denganku, itu foto mama! Setelah memandangi foto-foto dari depan sampai belakang aku baru tahu kalau mama dulunya adalah seorang penyiar dan sering memenangkan berbagai perlombaan.aku nggak tahu, aku nggak pernah tahu tentang itu, yang aku tahu mama hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tadi,  papa tiba-tiba duduk di sebelahku dan cerita panjang lebar kalau..kalau..kalau-

Mama kehilangan pita suaranya saat melahirkanku…

Papa bilang proses kelahiranku amat sulit dan panjang tapi mama tidak mau menyerah. Sepertinya karena teriakan saat mengejan itulah pita suaranya putus. Mama baru menyadarinya waktu nggak ada satu suarapun bisa keluar dari tenggorokannya. Keadaan saat itu sangat kacau, tapi mama adalah orang yang sangat tegar. Kata papa, mama luar biasa sabar karena berhasil melewati masa-masa sulit, menerima kalau dia tidak lagi bisa bersuara memupuskan harapannya untuk  bisa menjadi penyiar professional. Sesuatu yang selalu menjadi impian masa kecil mama, demi menghadirkanku ke dunia.

Dunia mama jungkir-balik. Inilah ujian terberat mama, dunia tanpa kata-kata.Tak terhitung berkali-kali mama jatuh-bangun untuk belajar Bahasa isyarat, bersama papa. Ini belum termasuk  usaha mama untuk tetap merawatku layaknya anak yang normal. Papa juga sempat bercerita betapa paniknya mama menggedor-gedor rumah pak RT, membawa pulpen dan kertas untuk menulis kalau dia butuh bantuan karena aku kejang. Mama tidak pernah membenciku ataupun marah sama aku, padahal aku adalah penyebab semua penderitaannya.

Papa terang-terangan bilang kalau dia tau dari Nadia alasanku jatuh sakit. Aku melihat papa mengusap wajahnya dengan cukup frustasi saat ngomongin itu.  Papa tahu akan tiba saatnya dimana aku akan tertarik dengan lawan jenis dan papa berharap aku menaruh hati pada orang yang tepat. Orang yang tepat menurut definisi papa adalah yang bisa menerimaku dan kondisi mama. Papa bilang beliau sangat kecewa padaku, kecewa karena apa yang kulakukan bisa menyakiti hati mama. Papa bilang tidak ada seorangpun yang pantas menghina mama cacat dan aku bukanlah anak cacat. Boleh jadi mama tidak bisa bicara layaknya orang normal, tapi cintanya padaku sempurna. Aku tidak berhak menyakiti hati mama yang sudah berkorban begitu banyak, tidak berhak.

Aku malu diary! Aku malu! Aku malu pada diriku sendiri yang tidak pernah bersyukur dan berterima kasih pada mama.  Aku anak durhaka, aku..aku harus meminta maaf sama mama!

Tapi gimana? Aku bahkan nggak sanggup ngeliat wajah mama, aku…

 

“Tok tok tok!”

Vania tertegun, gerakan tangannya yang sedang tekun menulis terhenti karena sebuah ketukan di pintu kamarnya. Setelah meletakan pena, dengan gontai Vania berjalan untuk membuka pintu, dia tahu betul siapa yang menanti di depan pintu kamarnya.

Mamanya..

Mama Vania, dengan raut khawatir membawa sebuah gelas berisi jus jambu biji di tangan kanannya.

“masih tidak enak badan?” Tanya mama vania dengan bahasa isyarat.

Vania memandangi wajah mamanya untuk sedetik, keteduhan itu, kasih sayang itu…yanpa ragu vania langsung menghambur masuk ke pelukannya. Air mata Vania tumpah, dengan sesenggukan dia berkata

“Maaf mama, maafkan Vania. Vania cinta sama mama…”