Catatan Harian Menantu Sinting

Gaes, saya mau kasih review suka-suka yaaaa

Jadi begini,

Berawal dari jalan-jalan di wattpad saya menemukan cerita milik kak Rosi L Simamora. Judulnya menggelitik sekali : Catatan Harian Menantu Sinting . Saat saya buka, judul untuk tiap babnya juga sangat lucu seperti, Mertuaku Hansip Hari Suburku, Mertuaku Cruella Devilku. Lalu begitu dibaca, hasilnya tak mengecewakan pemirsa. Ada delapan episode CHMS di wattpad yang saya baca dalam satu waktu. Semuanya sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Mari berkenalan dengan Minar dan Sahat. pasangan muda dengan latar belakang keluarga Batak yang sangat kental. Sesuai dengan judulnya, buku ini ditulis dari sudut pandang Minar yang dongkol dan frustasi dengan hadirnya orang ketiga dalam rumah tangganya.

Weits, jangan balik badan dulu karena orang ketiga yang dimaksud adalah Mamak Mertua. Sosok mamak mertua inilah yang selalu memberi cobaan ajaib pada Minar dengan level tak tanggung-tanggung. Minar terjepit, dia berada dalam dilema antara mengalah tapi makan hati atau melawan tapi takut disebut durhaka. Uniknya, setiap battle antara Minar dan Mamak Mertua yang biasa dipanggil Inang ini selalu berakhir konyol.

Konflik yang tertuang dalam buku ini sebenarnya kejadian sehari-hari. Semacam Minar yang dalam setiap fase pernikahannya selalu dihantui perasaan tertekan karena belum dikaruniai anak sampai delapan tahun pernikahan atau tentang perbedaan arti “bersih” antara mamak mertua dan dirinya. Sungguh, kejelian Kak Rosilah dalam meramu kata dan menyusun kejadian-kejadian yang membuatnya menarik.

Apalagi endingnya. Uuhh, cukup menyentuh menurut saya. Kesimpulan yang saya ambil sejak awal tentang mamak mertua benar, bahwa beliau itu sebenarnya sayang betul sama si Minar. Yeai!

_“Aku males jelasin ke mamakmu, bahwa yang kurang pinter renang itu serdadumu, bukan kau. Jadi waktu dia nelepon ngotot bilang kau harus les renang, aku iyain aja biar cepet. Tiap rabu dan Jumat dia nggak pernah absen nelepon aku buat ngecek kau pergi les atau enggak.kekekekeke”_–Dari Minar, yang geli banget ngelihat sahat ngeri saat urusan spermanya jadi obrolan mamak-mamak di pesta adat.

4,5 dari 5✴️

Spesial untuk mamak mertua yang sudah bikin geger karena menemukan “senter pink” yang bisa getar-getar di hadapan seluruh keluarga ??

Horor

Apa hal yang paling menakutkan bagimu?

Menonton IT sendirian?

Berada di ruangan gelap?

Merasa lupa mematikan kompor padahal sedang keluar?

Meminjamkan buku kepada teman dan bukunya tidak dikembalikan?

Mendapatkan notifikasi permintaan follow dari mantan di instagram, setelah dicek ternyata si mantan hidup mapan dan tambah tampan?

Stok popok menipis, beras habis ketika ke atm hanya bisa meringis?

Ah, semua itu mah lewat…

Horor yang paling menakutkan adalah ketika busui lapar, sudah beli indomie dan telor di warung. Anak-anak sengaja ditidurkan cepat dan jeng jeng jeng gas habis!

Gusti Allah! Paringono Jaguar Ya Allah!

Not Only Hope

Sabtu adalah hari yang cukup sibuk bagi saya. Dimulai dengan tahsin pada pukul 07.00 pagi kemudian dilanjut dengan Liqo dan kadang jalan-jalan sore sama triplet dan ayahnya.

Ceritanya saat tahsin saya duduk berdampingan dengan seorang embak yang manis dan syar’i sekali pakaiannya. Di sela-sela kelas, sambil menunggu giliran kami berdua ngobrol ngalor-ngidul. Dari sana saya tahu kalau dia sudah lulus dan bekerja, namun belum lama ini resign dari tempat kerja sebelumnya. Saya adalah seseorang yang amat sangat kepo , kadang saking keponya suka kepengen napuk mulut sendiri karena kok yo nggak bisa ngerem buat jaga omongan. Duh, jangan ditiru ya kawan ??

“Loh, kenapa mbak resign?” Tanya saya. Tuh kan, mulut ini..hiihhh

Untung embaknya baik, dia cuma tersenyum manis “Ada beberapa hal yang ternyata aku nggak cocok mbak, jadinya pilih keluar aja. Makannya sekarang aku lagi nganggur” jawabnya

Mendengar jawabannya si embak saya bukannya puas, malah makin maksimal kekepoannya “Mmmm..apa gara-gara di tempat kerja enggak mendukung embak untuk berbusana syar’i?” Tanya saya lagi, tebak-tebak manggis.

Si embak tersenyum dan ngangguk-ngangguk.

Doski lanjut cerita kalau di tempat kerjanya dulu nggak boleh pakai rok, jilbab pun harus dililit dan dimasukan ke dalan kaos. Si embak ini sering datang ke kajiannya Ustadz Khalid. Di situ dia banyak dapat ilmu baru dan mantap untuk berhijrah.

Waktu saya tanya, apakah enggak sayang ninggalin kerjaan. Dia jawab enggak, gimanapun bukan bosnya nanti yang nentuin dia masuk surga atau bukan. Uang banyak tapi enggak berkah apalah artinya. Masya Allah, terharu betul saya…

Itu masih cerita pertama.

Nah, cerita kedua masih di hari yang sama. Saya berangkat liqo boncengan motor bareng seorang bumil. Kebetulan tuan rumahnya barusan pindah, beliau hanya share location aja via WA. Dua orang ibu-ibu gaptek nyari rumah via google maps. Hasilnya sudah pasti bisa ditebak, nyasar saudara-saudara. Tapi tetep aja kami ngeles dengan kalimat :

“Ini petanya asli ngaco”

Padahal yang ngaco itu ya kami berdua. Nah, di saat terseaat itu kami tanya-tanya jalan sama tukang air galon. Alhamdulillah sekali, sebagai tukang galon berpengalaman si bapak hapal nama jalan dan nomor rumah, bahkan sampai ke RT-nya. Yakinlah si bapak ini lebih jago daripada aplikasi gmaps.

Setelah bertanya-tanya tentang jalan, si bapak malah memacu motornya untuk menuntun kami berdua ke tempat yang dituju. Sepertinya beliau kasihan melihat kami berdua cuma berO-O ria mendengarkan penjelasan arah kanan-kiri kanan-kiri yang dimaksud. Tak lama kami pun sampai dan rumah yang dimaksud ketemu.

Masya Allah…

Walaupun berita buruk hampir selalu muncul di lini masa, orang baik di dunia nyata itu selalu ada.

Dan saya tidak akan putus harapan.

Pondok Aren, 29 januari 2018

Can I borrow Your Toys?

Suatu hari di sebuah kelas belajar parenting online ada yang mengajukan pertanyaan seperti ini :

Halo semua, bolehkah berbagi pengalaman. Anak saya dua usianya 3,5 dan 1,5 tahun. Si adik ini sering sekali menginginkan mainan kakaknya walaupun sudah diberi mainan yang sama. Saya harus bagaimana?

Sesungguhnya, bukan kewajiban saya untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun jempol ini entah kenapa terasa gatal sekali untuk mengetik. Maklum, saya juga pernah mengalami hal yang sama, setiap hari malah. Namanya juga mahmudagaamah muda anak baru tiga *sombong*

Oke, langsung saja ke jawaban sok tahu saya ya. Aslinya jawaban ini based on ahli parenting yang kemudian saya praktekan di rumah.

Halo Bunda, boleh share pengalaman jugakah?

Anak saya ada tiga bun. Si sulung berusia 5 tahun laki, si

tengah 20 bulan perempuan, si bungsu 4 bulan laki.

Untuk menghindari masalah rebutan saya biasa menerapkan sistem IJIN. Sejak si tengah berusia 1,5 tahun saya yakin dia sudah bisa memahami kata-kata. Nah, kasusnya hampir sama bund dimana si tengah ini suka sekali dengan semua mainan kakaknya. Tidak hanya masalah mainan, kakaknya juga selalu dikintilin kemana saja kapan saja sampai kadang si kakak merasa risih. Ya saya melihatnya sih, sosok si kakak ini menjadi manusia favorit baginya.

Makanan, mainan bahkan sampai cangcut milik si kakak sering banget diaku-aku oleh si tengah. Nah, bila si tengah ini menginginkan barang si kakak saya mulai membiasakan dia untuk bertanya

“Adek mau ini? Ijin dulu ya, itu punya abang”

Kalau si kakak mengijinkan maka masalah selesai.

Sayangnya hal itu jarang terjadi. Seringnya sih si kakak tidak mengijinkan ya. Kalau sudah begini si tengah tidak boleh ambil barangnya. Menangis, itu pastilah. Tapi bagaimanapun saya harus tetap menjaga harkat, martabat dan marwah si kakak di depan adiknya. Boleh berarti boleh, tidak boleh berarti tidak boleh, batasnya jelas.

Saat momen tangisan dimulai maka saya akan memisahkan si tengah dan si kakak. Saya peluk dan tarik emosinya.

“Adek sedih ya? Ya allah, adek pasti sedih karena nggak dipinjamin mainan sama abang”

Begitu sambil saya elus-elus punggungnya. Biasanya setelah emosinya keluar dia akan lebih tenang dan tangisnya mereda. Saat itulah baru saya tawari, “adek, main yang ini aja yuk?” Atau “baca buku aja yuk?”

Untuk si abang, biasanya saat mau tidur kami review kegiatan apa saja seharian tadi. Nah ketika itu saya bilang penuh sayang

“bang, mama sebenernya sedih loh abang tadi nggak mau berbagi mainan sama adek” lalu dilanjut dengan kata-kata “mama seneng kalo abang mau berbagi mainan sama adek besok… Adek itu sayang sama abang, makannya pengen deket sama abang terus.baik-baik ya sama adek. Mama sayang banget sama kalian berdua soalnya”

Dari sini si adek belajar bahwa si kakak itu harus dihargai dan dihormati keputusannya. Sebaliknya, Si kakak juga ketika tidak dipaksa, biasanya mau berbagi sama adeknya.

Jujur saya masih jatuh bangun menerapkan ini, tapi alhamdulillah cara ini lebih banyak berhasil nya. Kalau kata konselor kesayangan saya, ada yang namanya 1000jam terbang. Lakukan seribu kali, kalau belum seribu kali jangan mengeluh kenapa hal ini belum berhasil. Demikian

Nah, itulah sedikit cerita parenting ala-ala mamanya triplet. Semoga bermanfaat 🙂

#ODOP #parenting #onedayonepost

Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Hidup, mati, sakit, sehat dan yang pasti jodoh sesungguhnya semua hal tersebut sudah ditulis semuanya oleh Allah. Saya meyakini hal tersebut meskipun sering heran kok ya bisa gedebuk love sama orang yang saat ini jadi suami saya.

Baru tadi malam kami bertemu dan mengobrol bersama seorang ibu yang merupakan konsultan pernikahan dan anak. Saya mengalami kesulitan besar dalam hal manajemen emosi. Suatu hal yang cukup menganggu tugas saya sebagai perempuan, istri serta ibu. Iya betul, disini saya tidak akan malu mengakui bahwa saya membutuhkan bantuan. Orang-orang diluar banyak yang melihat bahwa saya adalah ibu yang hebat, wonderful, bahagia dengan suami dan tiga orang anak.

Alhamdulillah, namun sebagai manusia biasa ada saat dimana saya tetap membutuhkan bantuan. Salah satu manfaat tinggal di kota besar adalah, saya bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan dengan cukup mudah.

Dalam diskusi pagi-siang saya berdiskusi banyak tentang komunikasi dengan anak. Akan sulit bagi saya memanajemen emosi karena saya tidak pernah selesai dengan masa lalu atau innerchild. Hal ini akan saya bahas kapan-kapan saja ya, karena pembahasan pasutri lebih menarik untuk dibagi.

Seperti yang saya tulis di atas, jodoh kita telah tertulis di lauh mahfudz. Saya yang periang, cerewet dan tidak bisa diam ini kok ya bisa-bisanya menjatuhkan hati sama makhluk ciptaan Allah yang pendiam, datar dan nggak banyak bicara.

Sejak pertama kali melihat, bu fitri mengatakan bahwa saya adalah orang yang berkepribadian sanguin sedangkan yusuf plegmatis. Berdasarkan ilmu psikologi, kami adalah pasangan yang cocok. Bagi orang plegmatis, orang dengan tipe sanguin ini sangat menarik karena bisa menyeret mereka untuk lebih banyak tertawa dan gembira. Sebaliknya, orang sanguin merasa tipe plegmatis itu menggoda karena bisa meredam perasaan meluap-luap mereka lebih baik.

Yusuf ini tipenya tidak bisa ditebak. Tau-tau datang ke rumah, tau-tau ngajak nikah. Saya masih ingat saat teman-temannya kaget tahu bahwa yusuf sudah melamar dam kami akan segera maju ke pelaminan. Maklum, saat itu seluruh dunia sudah tau yusud sudah punya pasangan yang tak bisa dipisahkan : game.

Hal ini sempat menjadi lelucon boeboooo. Nggak cuma teman, bahkan kakak saya sendiri pernah bilang bahwa saat malam pertama mereka akan melemparkan satu set PS lengkap dengan gamenya ke kamar hotel kami sebagai taruhan yusuf lebih tertarik main game atau main congklak sama saya. Wkwkwkwkw

Duh gusti, keterlaluan betul mereka udah bikin saya deg2an. Hahahaha

Walaupun saat ini kami sudah hampi enam tahun menikah (insya allah sampai berkumpul lagi di jannahNya) saya merasa tetap seperti dulu saat pertama kali bertemu dengannya. Walaupun saat ini rasanya semakin lebih. Saya pernah tanya sama dia

“Kamu masih cinta to sama aku?”

“Enggak”

Jantung langsung berhenti berdetak, mata kerasa panas, air mata siap tumpah

“Aku mah makin cinta banget, enggak cuman cinta” lanjut dia

Wakakakakak, nyebelin banget kan jawabannya?

Oke, kembali ke masa sekarang.
Bu fitri bertanya apa yang saya rasakan kepada yusuf, lalu meluncurlah setiap kata demi kata layaknya air bah. Tidak perlu dibahas ya, yang akan saya tulis adalah apa yang diucapkan bu fitri.

Sering sekali walaupun sudah menikah dalam waktu yang lama, suami istri masih tidak saling memahami. Seperti saya yang tidak memahami kenapa suami saya ini ajaib banget tingkahnya. Setiap kali saya minta A dia njelimet dulu ke B. Kalo domintain tolong istri mesti klemat-klemet. Belum lagi cueknya ampun-ampunan. Bener-bener bikin senewen dan gregetan. Entah gimana kok yo walaupun saya sering kesel tetep aja bisa jadi tiga anak. *Nyengir malu-malu

“Ajeng, kamu harus memahami memang begitulah orang dengan kepribadian plegmatis” bu fitri membuka pembicaraan

Saya tercenung

“Orang plegmatis itu ajeng, datar..diem,tenang. Dia tidak suka disuruh-suruh oleh orang lain, kalau bicara jarang mau melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya, nggak banyak ngomong”

Yeah, saya lupa menambahkan bagaimana datarnya wajah suami saya itu. Mau marah, mau seneng, mau sedih wajahnya ya tetep begitu itu, nggak berubah.

“Kelihatannya dia cuek tapi sebenarnya dia mendengarkan. Dia tidak memberi respon tapi sebenernya suami kamu itu memahami apa yang kamu bicarakan ajeng”

Saya melirik ke arah suami yang tetiba terlihat senyum-senyum sendiri, sebel.

“Kamu seharusnya bersyukur karena dia itu tempat yang cocok untuk buang sampah, dalam artian kamu mau ngomong sebanyak apapun dia akan mendengarkan”

“Kalian itu ibarat tangga. Ajeng berada di puncak teratas sedangkan yusuf di dasar. Kalian butuh kompromi, ajeng perlu turun sebaliknya yusuf harus mau naik. Ajeng tidak perlu selalu marah atau kesal bila yusuf tidak banyak merespon atau ngomong karena kepribadiannya memang seperti itu”

“Tapi yusuf juga perlu memahami, bahwa kalau ajeng turun tangga terlalu banyak dia akan menghilangkan kepribadian dirinya sendiri. Dia akan memaksakan diri menjadi seseorang yang bukan dirinya. Akan berbahaya karena lama-kelamaan ajeng akan merasa lelah ketika tidak bisa menjadi diri sendiri saat menghadapi kamu. Semakin gawat kalau ajeng akhirnya betul-betul capek dan berhenti mencoba memahami kamu”

“Seseorang itu butuh minimal empat pelukan untuk hidup, minimal. Kapan terakhir kali kamu peluk istri kamu?” Tanya bu fitri pada yusuf.

Saya dan yusuf berpandangan, mengingat-ingat kapan ya terakhir kali kami berpelukan?

“Tau nggak kalau ucapan ‘mama capek ya hari ini?’ itu bisa menurunkan sampai 50% kelelahan seorang istri?”

“Coba deh ajeng dan yusuf ini sering-sering nonton stand up comedy atau WIB(Waktu Indonesia Bercanda)-nya cak lontong biar kalian bisa ketawa bareng. Biar yusuf juga nggak datar-datar amat” kata bu fitri memberikan saran

Saya dan yusuf tertawa.

Acara malam itu ditutup dengan perbincangan hangat, tugas saya untuk membuat catatan level emosi serta pesan untukenghubungi beliau jika saya berada pada titik tidak tahu harus bagaimana.
Salah satu pesan yang membekas adalah, orang-orang yang selesai dengan masa lalunya biasanya akan lebih mudah untuk move on. Dan suami adalah orang yang saya butuhkan untuk membantu menyembuhkan innerchild saya.

Saat pillowtalk kami mengobrol sebentar tentang bagaimana yuan serta luna sudah sangat terlihat kepribadiannya. Mereka berdua sanguinis, turunan saya. Sedangkan untuk aylan kami masih belum tahu, bisa jadi dia plegmatis seperti ayahnya. Maklum, dari ketiga anak saya hanya aylan yang golongan darahnya ngikut ayahe ??

Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih banyak tentang tipe kepribadian sanguinis, korelis, melankolis dan plegamtis ini silahkan googling ya.

Alhamdulillah, sampai detik ini saya bersyukur punya suami plegmatis. Biarlah dia bermuka datar sama orang-orang diluar sana, karena senyum dan ceria-nya spesial untuk kami, istri dan anak-anaknya, hahaha.

Foto dibawah ini diambil saat wisuda sarjana suami. Saya hamil Luna 32 minggu waktu itu. Kelihatan kan, yang wisuda siapa yang wajahnya bahagia banget siapa ????

istri sanguinis

About Me

Assallammuallaikum, heiho semua!

Marilah kita rehat sejenak setelah kemarin berturut-turut menulis hal-hal yang berat. Aslinya saya baru ngeh kalau ada yang namanya tantangan dalam program ODOP ini. Tantangan minggu ini adalah tentang memperkenalkan diri kita sendiri serta momen paling spesial dalam hidup kita.

Wadauw,  baiklah saya dandan sebentar dan ambil TOA dulu ya biar lebih afdol. *kibas jilbab*

Saya sering bertanya-tanya, kenapa sih diberi nama Ajeng Pujianti Lestari? Apakah karena orang tua menginginkan saya untuk selalu menjadi yang terdepan? Dipuji-puji serta dilestarikan? Hmm..sesunnguhnya ini masih menjadi misteri. Yang penting saya tetap merasa bangga dengan nama ini walaupun beberapa teman bule saya sering salah dalam hal pronounciation-nya. Entah kenapa mereka lebih suka menyebut Ajeng dengan aksen e seperti penyebutan pada kata lele, duh.

Alhamdulillah saya merupakan anak generasi 90-an yang bahagia, untuk tanggal lahir tepatnya rahasia ya, nanti kalian-kalian pada ngirim kado kan bisa bikin saya terharu *ditabok berjamaah*

Saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga Tulen, kerjaannya pure ngurus anak tanpa embel-embel olshop. Anak saya tiga, laki-perempuan-laki, istilah jawanya sih Sendang Kapit Pancuran. Qadarullah sudah hampir tiga tahun tinggal di pinggiran kota Jakarta walaupun asalnya dari Yogyakarta, demi menemani suami yang bekerja, uhuhuhuhuhu. Iya saya sedih harus berpisah dari Jogja yang kata orang ngangenin itu, tapi mau gimana lagi, suami pengennya diekorin terus. Lagian masalah kita hidup dimana itu mah enggak penting, yang penting itu hidup bersama siapa, eciyeh!

Saya punya hobi membaca sejak memiliki kemampuan untuk membaca. Ceritanya jaman saya SD dulu orang tua membuka usaha taman bacaan dirumah, jadilah saya makin akrab dengan buku. Walaupun saat saya SMP usaha itu tidak berlanjut lagi, hobi membaca saya tidak pernah pudar. Sampai detik ini, saya pun kadang-kadang masih suka baca komiknya Kariagekun sambil menyusui. Nah, supaya dibilang enggak gagal move on, saya juga merambah bacaan ke novel meski jatuhnya ke genre historical romance. Monmaap, habisnya saya enggak dapat keromantisan di dunia nyata sih.

Bagaimana dengan momen-momen spesial yang tak terlupakan? Hmm..asli saya harus berpikir sangat keras untuk jawab. Setiap momen yang saya lalui di hidup ini spesial soalnya, iya kan? Tapi bagaimanapun kita harus memilih, dan bagi saya pilihan itu jatuh pada momen tak terlupakan dimana saya diberi kesempatan hidup yang kedua. Kisah itu saya ikut sertakan dalam sebuah kontes menulis di The Asianparent Indonesia. Alhamdulillah, ternyata saya menang pemirsa.

asian parent

Ini adalah salah satu momen dimana saya semakin percaya diri dengan kemampuan menulis yang amat amburadul, muahahahaha. Dalam kontes tersebut tulisan dibatasi hanya lima ratus kata saja. Beberapa hari setelah pengumuman, tulisan saya akhirnya ditayangkan. Buat temen-temen yang penasaran bisa klik disini

Anyway, mungkin untuk sementara ini hanya itu saja yang bisa saya tuliskan. Bila ingin mengenal lebih jauh bisa mampir ke akun-akun berikut ini ;

Facebook : Ajeng Pujianti Lestari

Instagram : Ajeng.yulunay

Wattpad : Ajenghimme

#SalamODOP #Tantangan #OneDayOnePost

 

 

Korban Itu Bernama Evy Suliastin Agustin

Nama itu beberapa kali muncul di beranda Facebook saya. Beliau adalah tersangka dari pembunuhan 3 anaknya. Pada saat itu dia sendiri mencoba untuk bunuh diri, namun gagal. Evy diselamatkan oleh adiknya.

Saya terhenyak. Ada sesuatu yang mengganjal, tak ada ibu normal yang melakukan itu. Pasti ada sesuatu, pasti ada sesuatu kata saya dalam hati. Saya pun mencoba melakukan pengecekan. Mbah Google membenarkan dugaan saya : Evy menderita depresi.

Evy memiliki tiga orang Anak. Berdasarkan berita yang saya himpun usia anaknya yang pertama adalah  6 tahun, yang kedua  4 tahun dan yang terakhir 4 bulan. Ya Allah, hati ini terasa seperti diremas, perih karena saya juga memiliki bayi yang usianya segitu. Saya benci melihat bagaimana media memposisikan Evy layaknya pembunuh berdarah dingin. Kejam! Jahat betul! Tak tahukah kalian, Evy itu diabaikan oleh suaminya! Evy juga dituduh selingkuh oleh suaminya! Dia tak dinafkahi! Dia diabaikan! Dia sakit karena merasa tak dicintai! Dia depresi!

Saya yakin ini hanyalah satu dari sekian banyak fenomena yang acapkali terjadi di lingkungan kita. Tentang istri yang terluka, tentang istri yang harus berjuang sendirian sedangkan suaminya melenggang santai entah kemana dan bersama siapa. Tentang istri yang menuntut hak suami agar pernikahannya diakui, agar anak-anaknya bisa mendapatkan akta kelahiran sehingga bisa bersekolah layaknya anak-anak normal lainnya.

Hei, tahukah kau bagaimana sakitnya melahirkan? Setelah perang antara hidup dan mati, para ibu pun masih harus berjuang untuk menyusui, begadang setiap malam mengatasi anak yang masih beradaptasi dengan dunia luar. Ya kalau asinya lancar, kalau tidak? Ya kalau anaknya baru satu, gimana kalau dua? Tiga? Empat? Padahal saat itu luka bekas jahitan belum sembuh sempurna. Mencuci, memasak, beberes dan mengurus anak terus menerus setiaaapppp hari.

Oh iya, selain itu tambahkan pula belenggu kemiskinan.

Jangan Lupakan kalau Evy juga harus menghadapi semua itu sendirian. SEN.DI.RI.AN.

Taka da teman berbagi. Tak ada teman yang mengerti. Taka da yang mau mengasihi dirinya. Dia haus akan perhatian yang sejak kecil tidak pernah dia rasakan karena ditinggal oleh sang Ibu dan sang nenek yang menitipkannya ke Panti Asuhan.

Bagaimana rasanya kehidupan seperti itu, kutanya padamu duhai kawan?
Getir…
Pahit…
Sanggupkah bila kamu yang diharuskan menjalaninya?

Ya Allah, betapa saya merasakan nyeri mendalam untuk Evy. Betapa saya memahami kekosongan jiwanya. Harapannya untuk dihargai, didampingi dalam suka dan duka serta dicintai sudah terhempas jauh. Hanyut bersama ketidakpedulian suaminya.

Lalu dia ingin kembali kepada si Pemberi Cinta, sang Khalik. Dia mendengar bisikan-bisikan bahwa keputusan kembali pada Sang Pencipta haruslah beserta anak-anaknya. Dia ingin berpisah dengan sesuatu yang bernama derita.

Saya berduka untuk Evy, yang merasa sial karena justru dialah yang selamat. Saya berduka untuk sesosok tubuh yang jiwanya sudah mati…

Seandainya, suami evy juga bisa diseret ke pengadilan sebagai tersangka. Sebab dialah pencetus utama depresi yang diderita evy yang kemudian mendorongnya untuk mengakhiri hidup anak-anak serta dirinya sendiri.

Hanya seandainya.

(Tulisan ini dibuat tidak untuk membenarkan perbuatan evy membunuh ketiga anaknya. Lebih karena memahami depresi yang dialami evy, alasan dibalik keputusannya untuk bunuh diri. Semoga kita selalu dilindungi Allah dan dikuatkan dalam menghadapi segala cobaanNya)

 

Peluru Udara

Suatu siang ketika si abang sudah pupang dari sekolah, dia mengajak saya bermain.

“Abang mau main apa?” Tanya saya

“Main tembak-tembakan yuk mah!” Jawabnya ceria

Saya mengiyakan dan jadilah kami bermain tembak-tembakan dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk sebagai pistolnya. Pura-puranya seisi rumah berubah menjadi hutan belantara. Bantal berubah menjadi tameng, gorden dijadikan tempat untuk bersembunyi, melangkah pun saya usahakan tanpa suara. Terdengar bunyi haiikkk, dat, der, dor yang cukup ramai. Pada intinya, saya berusaha menjiwai betul permainan tembak-tembakan ini. Sampai akhirnya si abang tiba-tiba protes.

“Yah mama, ditembak kok nggak mati-mati sih?” Keluhnya melihat saya berakting jatuh dan bangun lagi

“Lah, tadi itu tembakan abang meleset kali” kata saya sambil mengernyitkan dahi

“Kok gitu? Mama nggak seru ah” serunya sambil bersedekap. “Yaudah deh aku kasih jurus baru” lanjutnya.

Dengan cepat si abang membalikan badannya dan menunduk, lalu tiba-tiba…

“Duuuuuuuutttttttttttt!” Suara khas bunyi kentut terdengar nyaring dan begitu merasuk sukma. Hal ini belum ditambah bau semerbak yang berasal dari sarapan yang beluk sempat dikeluarkan lagi.

“Hak hak hak! Mamah kena!” Si Abang tertawa begitu keras dan penuh dengan kepuasan.

“Loh, mamah kenapa kok megap-megap gitu? Mamah! Mamaaaahhhh!”

*Tamat*

Because you are my new world

Postingan kali ini berbau agak serius, so watch out gaes!

Sudah beberapa hari terakhir ini saya mengalami perenungan yang cukup panjang. Saya menderita innerchild walaupun bukan dalam level yang parah. Saya pun termasuk beruntung karena berani untuk mengakui bahwa saya butuh bantuan. Jangan salah, bahkan untuk mengakui hal tersebut saja saya mesti mengalami banyak hal dulu. Begitu banyak pemikiran dan pertimbangan sebelum akhirnya diambil keputusan untuk berkata “yes, I need help”

Innerchild itu tidak menyenangkan buibu, pakbapak, mas mbak semua. Saya sangat takut serta khawatir kalau-kalau tindakan saya selama ini akan menanamkan innerchild ke anak-anak saya. Hal inilah yang mendorong saya untuk segera memutus mata rantai mimpi buruk tak terelakan itu. Sudah saatnya saya membersihkan diri dan memulai pola asuh yang baru.

Semua hal mudah untuk dikatakan, tapi tidak untuk dilakukan. Bahkan ketika saya sudah berkonsultasi serta mengalami sesi yang cukup menguras tenaga serta menjalani terapi level emosi, kadang hal-hal buruk tetap saja bisa terjadi. Saya masih saja kurang sabar, masih menganggap anak-anak sebagai beban. Saya masih belum bisa melepaskan emosi saya dengan cara yang smooth.

Terkadang, ketika hubungan saya dengan suami sedang blangsak-blangsaknya, api emosi itu semakin mudah untuk tersulut. Hal ini tentu saja menyedihkan. Coba tebak, siapa yang akan menjadi korban dari hal ini? Yak betul, anak-anak.

Setelah berkali-kali mengikuti kelas parenting dari orang yang sama, saya semakin memiliki konsep yang kuat mengenai pola asuh. Anak yang cerdas biasanya adalah anak yang bahagia. Nah, inilah titik paling penting yang harus diperhatikan : Anak yang bahagia itu muncul dari didikan Orang Tua yang Bahagia.

Bahagia.

Tugas ini terlihat simple, tapi dalam kehidupan nyata justru suliiiiittt sekali untuk diaplikasikan. Terlebih ketika ekspektasi dan kenyataan berbeda jauh, duh kebahagiaan mah jadi cuma semacam lagenda dalam ruang hampa.

Apalagi bagi saya yang menaruh keranjang kebahagiaan di tangan orang lain, yaitu suami.

Terdengar konyol kan? Saya pun males mengakui tapi mau gimana lagi, itulah faktanya. Semenjak menikah, pusat dunia saya berganti poros. Kebahagiaan bukan lagi tentang baju bermerk, nongkrong di kafe mahal atau jalan-jalan ke luar negeri.

Suami, dia adalah pusat dunia saya sekarang.

Maka benarlah apa kata bu fithrie, kalau istri adalah penyuplai cinta suami adalah si pemegang cinta. Bagaimana cara si suami menjaga dan merawat cinta itulah yang menjadi hulu dari aliran energi dalam proses membentuk anak yang bahagia.

Tak ada gading yang tak retak.

Bahkan dalam kisah cinta yang sempurna, luka itu pasti ada. Begitu pula dalam kisah saya. Dulu, duluuu sekali ketika berada di awal-awal masa pernikahan, suami pernah melakukan seauatu yang mematahkan hati saya. Sebagai orang dengan kepribadian plegmatis, dia hampir tidak menyadari itu.

Setiap istri pasti setuju, kalau orang lain bilang gendut kita tidak akan ambil pusing. Lalu bagaimana kalau kata gendut itu keluar dari mulut suami? Rasanya pasti pengen lompat ke tengah-tengah jalan tol saat itu juga. Iya kan? Ini adalah contoh betapa setiap detail kata dan perilaku suami itu memiliki efek yang luar biasa pada istri.

Kasus saya bukan tentang gendut-menggendut sih..

Kejadiannya sudah lama, sudah pernah dibahas dan dia pun sudah meminta maaf. Tapi tak disangka, cerita ini berbuntut panjang. Ternyata inilah salah satu penyebab mengapa cara saya memperlakukan si abang dan si adek dengan berbeda.

Ada luka disitu. Sebuah torehan yang tidak bisa sembuh begitu saja walau sudah lewat bertahun-tahun lamanya. Luka itu menancap di alam bawah sadar, rasa sakitnya ini yang menjadi salah satu pemicu kegarangan saya terhadap si abang.

Alhamdulillah, bersyukur sekali rasanya sampah masa lalu itu bisa keluar. Beneran lega, karena sampah itu sudah membusuk begitu lama di dalam diri ini, bercokol dan menggerogoti pikiran.

Lagi-lagi saya yakin hal ini rasanya begitu sulit untuk dipercaya tapii…saya merasakan betul perbedaannya. Selama seharian kemarin saya hampir tidak meninggikan suara ataupun merasa kesal dengan apa yang dilakukan anak-anak. Saya rasa, ini merupakan awal yang bagus untuk sebuah perubahan.

Jadi, jangan pernah, jangaaaannn pernaaahhh mengabaikan perasaanmu wahai para ibu. Dan hei kamu para Ayah, sudah peluk istrimu hari ini? Tahukah kalian kalau pelukan itu bisa meredakan kelelahan istri sampai 50%?

Nggak tahu? Yasudah sana, lakukan segera! Peluk dia, cium dia, katakan bahwa kamu cinta padanya. Maka kamu akan menerima dunia, dijamin.

Pondok Aren, 23 januari 2018

The Sisterhood Love-Hate Relationship

Baiklah saya akan jujur, sesungguhnya saya sedang kebingungan tentang bagaimana menulis pembukaan untuk tulisan kali ini. Blank, i have nothing in my mind to write it down

Apa sebab?

Ya, karena judul di atas.

Saudara perempuan.

To be honest, saya terkadang lupa kalau punya saudara perempuan ???

Gimana dengan teman-teman? How many sister do you have ? And.. do you still remember anything about her?

Adik perempuan saya cuma satu dan dia adalah orang yang mendompleng posisi saya sebagai anak bungsu selama hampir enam tahun. Itulah kenapa papa dan mama sering menyebut saya si bungsu yang tak jadi. Saya sedih, berbagai privilege yang seharusnya saya dapatkan sebagai anak terakhir ternyata harus jatuh ke tangan yang lain.

Namanya Anelies, diambil dari buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Dia lahir sebelum bulan ramadhan, hari minggu kalau tidak salah. Saya masih ingat bentukan dia saat pertama kali ketemu: tangannya keciiiillll sekali, kulitnya berwarna merah, tampangnya seperti anak monyet. Lucu, batin saya waktu itu.

Hari-hari saya tidak berubah begitu banyak dengan kehadiran seorang adik. Entah kenapa, tapi mungkin karena saya memang tipikal anak yang mandiri sejak kecil jadi ya biasa-biasa saja. Saya tidak cemburu dengan perhatian yang diberikan orang tua saya untuknya saat kecil. Tapi saya merasakan sentakan tidak menyenangkan melihat bagaimana kedua kakak lelaki saya memperlakukan dia. Dudududu, emang bener ya perempuan itu. Belum juga kenal yang namanya cowok udah main cemburu aja, hihi.

Saya enggak begitu merasakan keterikatan dengan Anelies. Faktor perbedaan umur yang cukup panjang saya rasa menjadi penyebabnya. Saya masuk SD dia baru lahir. Saya masuk SMP dia masuk SD. Ya bayangin aja saat saya ngefans sama sherina dia baru belajar ngomong. Saya saat tergila-gila sama bryan-nya westlife dia cuma bisa bengong, masih malu-malu jadi anak SD yang pulang-pergi dianterin mamah. Saya udah merasuk ke dalam kisah hewi potah (pronunciation ala british untuk harry potter) dia barusan aja bisa baca. Saya keliling kota sambil teriak woyooo saat pawai kelulusan dia baru sibuk nyari SMP. Gimana kami bisa ngomong dengan nyambung coba? Sekalinya nyambung paling kalau kami bersatu-padu ngerayu mamah buat makan di luar,buahahahaha.

img-20171229-wa0009559393340.jpg
Saya dan Anelies Jaman dulu *sodorin baskom buat muntah*

Selayaknya hubungan antar manusia, hubungan antara saya dan anelies pun naik-turun. Saya sering merasa kesal ketika disuruh mama untuk sekedar mengantarkan atau menjemput dia di sekolah dan tempat les karena tugas dan kerjaan saya bejibun. Padahal nih ya kalo mau dibandingin, jaman SD dulu saya berangkat-pulang atau kemana-mana sendirian cuma pake sepeda dan mama-papa kayak nggak ada khawatir-khawatirnya deh. Nah, sekalinya si anelies yang begitu mah ampun, mamah bisa dipastikan telepon bolak-balik meminta saya atau m kakak-kakak yang lain jadi supirnya.

My friends, inilah namanya The Power of Anak Bungsu. Kalau misalnya saya yang nggak kelihatan di depan mata mamah akan nyantai-nyantai aja. Ah, ntar juga balik, batin beliau. Nah, coba deh kalau si anelies satu jaaaaammm aja nggak ada kabar, dijamin mamah pasti kebakaran jenggot dan panik level semaput.

Untuk poin yang ini saya enggak ngerasa iri sih, seneng malah. Enggak banyak dicariin orang tua kan tandanya dipercaya ( atau tak dianggap ?), dianggap mampu menjaga diri sendiri dan sudah dewasa sehingga enggak perlu dikintilin terus-terusan. Somehow, saya suka sekali menjadikan ini bahan ece-ecean sama si nelis. Dan layaknya kakak-adik, tiada hari tanpa bertengkar bagi kami berdua.

img-20180111-wa00301360555757.jpg
Saya, Anelies dan dua kakak lainnya *belasan kilogram yang lalu*

Lalu seperti kisah-kisah dalam sebuah buku akhirnya kami bertumbuh, tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Minggu berlalu, berubah menjadi tahun. Bertengkar makin lama makin berkurang karena memang jarang ketemu walau serumah. Lalu, tiba-tiba saja saya hendak menikah. Ketika saya mau menjadi istri, si nelis yang bisa dibilang merupakan kembang sepatu cap minyak telon di kampung makin terkenal. Jadilah pacar dia saat saya menikah dengan yusuf, saat wisuda sarjana (hamil muda) serta saat melahirkan yuan adalah tiga orang yang berbeda.

???

Anyway, berdasarkan sumber-sumber yang bisa dipercaya si nelis ini ternyata merasa sedih juga loh waktu saya memutuskan untuk kewong. *Pukpukanelies*

Pada saat mendengar si teman ini bercerita, saya sempet curiga dengan alasan kesedihan dia. Itu anak beneran sedih karena kakaknya diambil orang atau sedih karena enggak ada lawan untuk gontok-gontokan lagi? Kalo saya sih sedih karena kehilangan salah satu objek penindasan ???

Aduh nel, ngakak bener deh mbak ajeng tiap inget tampangmu kalo lagi ditindas. Muahahahahaha *evillaugh*

Okeh, kembali ke tulisan.

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya dimana menikah itu menciptakan dimensi baru dalam hubungan kita dengan orang lain. Disinilah letak uniknya keluarga. Bagaimanapun kanal komunikasi dan hubungan kita dengan seseorang yang terikat keturunan itu akan tetap sama. Contoh riilnya ya seperti saya dan anelies ini. Mau sudah sebesar apapun dia, setebal apapun dandanannya, bagi saya, dia tetaplah seorang anak kecil. Padahal ya baru seminggu yang lalu dia menginjak usia dua puluh dua tahun.

Eciyeh, yang baru aja ulang tahun ke dua puluh dua. Bikin saya jadi inget sama lagunya Taylor swift.

Now, I need you to know hey little girl. Here is a little gift for you..

Kamu tahu enggak siapa yang nyanyi sambil lompat-lompat buat bikin kamu berhenti nangis waktu bayi? Itu mbak ajeng loh, coba tanyain sama mamah sana.

Kamu masih inget enggak siapa yang ngajarin kamu naik sepeda di lapangan minggiran?

Kamu masih inget enggak siapa yang pagi-pagi akhirnya ngalah dan bantuin kamu bikin video di alkid buat kompetisi dari toko baju entah apa namanya itu? Sampai kamu akhirnya jadi juara.

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang asyik untuk diajak bicara dari hati ke hati.

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang enak untuk diajak berbagi tawa

Mungkin, mbak Ajeng bukanlah kakak yang hore untuk diajak nongkrong bersama

Atau mungkin, mbak Ajeng hanyalah sosok seorang kakak cerewet yang enggak gaul menurut kamu.

To sum up, I’m sorry for not being a good sister for you..

Mbak ajeng hanyalah seseorang yang sudah masuk ke dunia pernikahan, I need to struggling with my own war..

Seluruh perhatian, energi dan perasaan tercurah untuk mengurus anak-anak, suami dan rumah. Mbak Ajeng lupa kalau masih punya adek, ingetnya kalau pas pulang ke jogja atau saat butuh doang. Sounds bad ha?

Kamu harus tahu kalau..

Mbak Ajeng adalah orang yang bengong saat jajan ke outlet Jogja Scrummy-nya Dude Herlino dan melihat kamu jadi bintang iklannya.

Mbak Ajeng cuma bisa mangap waktu makan di X.O Suki dan ngeliat kamu lagi-lagi nangkring jadi salah satu bintang iklan di videonya. Itupun tahunya gegara si Yuan teriak-teriak “Onty mah, itu Onty”

Mbak Ajeng pun hampir enggak percaya saat mamah cerita kamu main film bareng sama Fedi Nuril di layar lebarnya Surga Yang Tak Dirindukan. Mbak ajeng shock berat. Walaupun cuma jadi gadis yang ditabrak mobil dan masuk rumah sakit sih, tapi kan tetep baeeee, FEDI NURIL GITU LOOHHH!! Fedi Nuril beneran! drummernya GARASI BAND kaann??!! Fedi Nuril yang tampangnya aduhai amat sangat icik-icik ehem-ehem ituuu!!!

*kemudian istighfar

Duh, makin berasa beda aja ya dunia kita nel?

Mbak Ajeng cuma Diva Rumah Tangga sedangkan kamu sliweran di layar kaca. Mulai dari jadi host untuk acara bahasa jawa Indosiar sampai liputan gigi-nya Pepsodent. Ini belum termasuk acara-acara offline lain yang kamu pandu. Semua itu pun Mbak Ajeng enggak akan pernah tahu kalau mamah nggak ngabarin. Btw, you should say thanks to Mamah, beliau adalah orang di belakang layar yang begitu rajin dan antusias ngabarin jam tayang kamu di TV.

Tahu enggak, kalau lagi liat kamu nongol di TV yang ada di pikiran mbak Ajeng adalah, is that girl really you? Ya Allah, anak kecil yang dulunya suka mewek ketika boneka kelincinya hilang itu sekarang udah jadi tante-tante, eh salah maksudku Tante. Kadang mbak Ajeng pun nggak yakin kalau orang yang pakaiannya rapi banget nyampein berita dalam bahasa Jawa di Indosiar adalah orang yang pernah mbak mintain tolong buat beli Croissant Coklat di Mirota.

Rasanya aneh banget ketika ada temen yang tanya via WA “Ajeng, adek kamu itu yang masuk ke dalam instagram UGM Cantik kan?”

Yaelah, mana Mbak Ajeng tempe, lha wong waktu itu instagram aja nggak punya.

Orang-orang diluar sana tahu siapa kamu dan bagaimana sepak terjangmu sedangkan mbak Ajeng disini nyantai-nyantai aja glundang-glundung main sama anak-anak dan nyemil gorengan. Bahkan pernah waktu itu si Didi nanyain kontak kamu karena mau nawarin job. Mbak Ajeng bengong dong, nggak yakin kontak kamu di hape mbak masih aktif atau enggak karena saking lupanya kapan terakhir kali kita komunikasi. Yakin deh banyak orang tanya, serius kamu sodaraan sama nelis?

Ngebetein banget kan? Padahal dilihat dari sisi mana saja jelas cantikan mbak Ajeng.

Hubungan kita berdua itu aneh ya nel? Kadang mbak Ajeng sebel banget sama kamu, terutama kalau gaya ngomong oppa-oppanya udah keluar. Hiiiihhh, gemes banget bikin pengen nenggelemin ke empang. Belum lagi kalo kamu udah ngemeng-ngemeng geje, ampuunnnnn rasa ingin ngebully kamu udah enggak bisa ditahan-tahan lagi.

Mungkin kamu disana juga sering kesel dan kecewa dengan berbagai keputusan hidup yang mbak ambil. Tapi toh sekesel-keselnya kamu sama mbak, sikap kamu ke Yuan dan Luna nggak pernah berubah. Enggak pernah mbak Ajeng lihat kamu kesel sama mereka berdua, and I appreciate that, so much. You should know about that…

img-20180111-wa0028346519220.jpg
enin, pakdhe, onty dan yuan jaman 8 bulan kayaknya

Mbak Ajeng agak terharu juga sih waktu kamu menyempatkan diri untuk datang ke rumah di sela-sela jadwal syuting. Walaupun tetep yee, kerjaannya foto-foto sama triplet dan ngabisin jatah rawon doang. Enggak ding, mbak seneng kok waktu kamu makan sampai nambah-nambah dan muji-muji betapa enaknya rawon sederhana masakan mbak Ajeng. Oalah, si nona artis ternyata rindu sama masakan rumah sederhana.

Lalu kamu minta tolong untuk ikutan ngeprint di rumah. Pada suatu ketika, mbak Ajeng membaca berkas-berkas punya kamu, mbak akhirnya menyadari. Ternyata kamu orang yang berdedikasi dan bersikap profesional dalam pekerjaan. Tidak mudah membagi waktu antara kuliah dan bekerja, tapi kamu bisa melakukan keduanya dengan cukup baik.

Pada akhirnya, mbak ajeng enggak peduli kamu akan mengambil jalan yang mana asal masih sesuai dalam koridor agama. Sama seperti kamu yang nggak banyak ambil pusing mbak ajeng mau jadi apa. Dan kepisah jarak sejauh apapun, kita itu saudara nel. Bahkan, semenyebalkan apapun kamu, ada darah yang sama yang mengalir di dalam nadi kita. Dan itulah yang menjadi alasan utama kenapa mbak ajeng peduli sama kamu. Kita itu saudara, titik.

Last but not least

Happy birthday ndut…

Selamat mengisi lembaran baru kehidupanmu di tahun 2018 ini dengan segala hal yang bermanfaat dan bisa mendekatkanmu pada Allah.

Semoga Allah menjaga kamu, mbak ajeng dan orang-orang yang kita sayangi baik di dunia sampai di akhirat nanti..