Ruang Cerita Keluarga Mama Triplet

Month: January 2018

Catatan Harian Menantu Sinting

Catatan Harian Menantu Sinting

Gaes, saya mau kasih review suka-suka yaaaa Jadi begini, Berawal dari jalan-jalan di wattpad saya menemukan cerita milik kak Rosi L Simamora. Judulnya menggelitik sekali : Catatan Harian Menantu Sinting . Saat saya buka, judul untuk tiap babnya juga sangat lucu seperti, Mertuaku Hansip Hari […]

Horor

Horor

Apa hal yang paling menakutkan bagimu? Menonton IT sendirian? Berada di ruangan gelap? Merasa lupa mematikan kompor padahal sedang keluar? Meminjamkan buku kepada teman dan bukunya tidak dikembalikan? Mendapatkan notifikasi permintaan follow dari mantan di instagram, setelah dicek ternyata si mantan hidup mapan dan tambah […]

Not Only Hope

Not Only Hope

Sabtu adalah hari yang cukup sibuk bagi saya. Dimulai dengan tahsin pada pukul 07.00 pagi kemudian dilanjut dengan Liqo dan kadang jalan-jalan sore sama triplet dan ayahnya.

Ceritanya saat tahsin saya duduk berdampingan dengan seorang embak yang manis dan syar’i sekali pakaiannya. Di sela-sela kelas, sambil menunggu giliran kami berdua ngobrol ngalor-ngidul. Dari sana saya tahu kalau dia sudah lulus dan bekerja, namun belum lama ini resign dari tempat kerja sebelumnya. Saya adalah seseorang yang amat sangat kepo , kadang saking keponya suka kepengen napuk mulut sendiri karena kok yo nggak bisa ngerem buat jaga omongan. Duh, jangan ditiru ya kawan ??

“Loh, kenapa mbak resign?” Tanya saya. Tuh kan, mulut ini..hiihhh

Untung embaknya baik, dia cuma tersenyum manis “Ada beberapa hal yang ternyata aku nggak cocok mbak, jadinya pilih keluar aja. Makannya sekarang aku lagi nganggur” jawabnya

Mendengar jawabannya si embak saya bukannya puas, malah makin maksimal kekepoannya “Mmmm..apa gara-gara di tempat kerja enggak mendukung embak untuk berbusana syar’i?” Tanya saya lagi, tebak-tebak manggis.

Si embak tersenyum dan ngangguk-ngangguk.

Doski lanjut cerita kalau di tempat kerjanya dulu nggak boleh pakai rok, jilbab pun harus dililit dan dimasukan ke dalan kaos. Si embak ini sering datang ke kajiannya Ustadz Khalid. Di situ dia banyak dapat ilmu baru dan mantap untuk berhijrah.

Waktu saya tanya, apakah enggak sayang ninggalin kerjaan. Dia jawab enggak, gimanapun bukan bosnya nanti yang nentuin dia masuk surga atau bukan. Uang banyak tapi enggak berkah apalah artinya. Masya Allah, terharu betul saya…

Itu masih cerita pertama.

Nah, cerita kedua masih di hari yang sama. Saya berangkat liqo boncengan motor bareng seorang bumil. Kebetulan tuan rumahnya barusan pindah, beliau hanya share location aja via WA. Dua orang ibu-ibu gaptek nyari rumah via google maps. Hasilnya sudah pasti bisa ditebak, nyasar saudara-saudara. Tapi tetep aja kami ngeles dengan kalimat :

“Ini petanya asli ngaco”

Padahal yang ngaco itu ya kami berdua. Nah, di saat terseaat itu kami tanya-tanya jalan sama tukang air galon. Alhamdulillah sekali, sebagai tukang galon berpengalaman si bapak hapal nama jalan dan nomor rumah, bahkan sampai ke RT-nya. Yakinlah si bapak ini lebih jago daripada aplikasi gmaps.

Setelah bertanya-tanya tentang jalan, si bapak malah memacu motornya untuk menuntun kami berdua ke tempat yang dituju. Sepertinya beliau kasihan melihat kami berdua cuma berO-O ria mendengarkan penjelasan arah kanan-kiri kanan-kiri yang dimaksud. Tak lama kami pun sampai dan rumah yang dimaksud ketemu.

Masya Allah…

Walaupun berita buruk hampir selalu muncul di lini masa, orang baik di dunia nyata itu selalu ada.

Dan saya tidak akan putus harapan.

Pondok Aren, 29 januari 2018

Can I borrow Your Toys?

Can I borrow Your Toys?

Suatu hari di sebuah kelas belajar parenting online ada yang mengajukan pertanyaan seperti ini : Halo semua, bolehkah berbagi pengalaman. Anak saya dua usianya 3,5 dan 1,5 tahun. Si adik ini sering sekali menginginkan mainan kakaknya walaupun sudah diberi mainan yang sama. Saya harus bagaimana? […]

Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Istri Sanguinis, Suami Plegmatis

Hidup, mati, sakit, sehat dan yang pasti jodoh sesungguhnya semua hal tersebut sudah ditulis semuanya oleh Allah. Saya meyakini hal tersebut meskipun sering heran kok ya bisa gedebuk love sama orang yang saat ini jadi suami saya. Baru tadi malam kami bertemu dan mengobrol bersama […]

About Me

About Me

Assallammuallaikum, heiho semua!

Marilah kita rehat sejenak setelah kemarin berturut-turut menulis hal-hal yang berat. Aslinya saya baru ngeh kalau ada yang namanya tantangan dalam program ODOP ini. Tantangan minggu ini adalah tentang memperkenalkan diri kita sendiri serta momen paling spesial dalam hidup kita.

Wadauw,  baiklah saya dandan sebentar dan ambil TOA dulu ya biar lebih afdol. *kibas jilbab*

Saya sering bertanya-tanya, kenapa sih diberi nama Ajeng Pujianti Lestari? Apakah karena orang tua menginginkan saya untuk selalu menjadi yang terdepan? Dipuji-puji serta dilestarikan? Hmm..sesunnguhnya ini masih menjadi misteri. Yang penting saya tetap merasa bangga dengan nama ini walaupun beberapa teman bule saya sering salah dalam hal pronounciation-nya. Entah kenapa mereka lebih suka menyebut Ajeng dengan aksen e seperti penyebutan pada kata lele, duh.

Alhamdulillah saya merupakan anak generasi 90-an yang bahagia, untuk tanggal lahir tepatnya rahasia ya, nanti kalian-kalian pada ngirim kado kan bisa bikin saya terharu *ditabok berjamaah*

Saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga Tulen, kerjaannya pure ngurus anak tanpa embel-embel olshop. Anak saya tiga, laki-perempuan-laki, istilah jawanya sih Sendang Kapit Pancuran. Qadarullah sudah hampir tiga tahun tinggal di pinggiran kota Jakarta walaupun asalnya dari Yogyakarta, demi menemani suami yang bekerja, uhuhuhuhuhu. Iya saya sedih harus berpisah dari Jogja yang kata orang ngangenin itu, tapi mau gimana lagi, suami pengennya diekorin terus. Lagian masalah kita hidup dimana itu mah enggak penting, yang penting itu hidup bersama siapa, eciyeh!

Saya punya hobi membaca sejak memiliki kemampuan untuk membaca. Ceritanya jaman saya SD dulu orang tua membuka usaha taman bacaan dirumah, jadilah saya makin akrab dengan buku. Walaupun saat saya SMP usaha itu tidak berlanjut lagi, hobi membaca saya tidak pernah pudar. Sampai detik ini, saya pun kadang-kadang masih suka baca komiknya Kariagekun sambil menyusui. Nah, supaya dibilang enggak gagal move on, saya juga merambah bacaan ke novel meski jatuhnya ke genre historical romance. Monmaap, habisnya saya enggak dapat keromantisan di dunia nyata sih.

Bagaimana dengan momen-momen spesial yang tak terlupakan? Hmm..asli saya harus berpikir sangat keras untuk jawab. Setiap momen yang saya lalui di hidup ini spesial soalnya, iya kan? Tapi bagaimanapun kita harus memilih, dan bagi saya pilihan itu jatuh pada momen tak terlupakan dimana saya diberi kesempatan hidup yang kedua. Kisah itu saya ikut sertakan dalam sebuah kontes menulis di The Asianparent Indonesia. Alhamdulillah, ternyata saya menang pemirsa.

asian parent

Ini adalah salah satu momen dimana saya semakin percaya diri dengan kemampuan menulis yang amat amburadul, muahahahaha. Dalam kontes tersebut tulisan dibatasi hanya lima ratus kata saja. Beberapa hari setelah pengumuman, tulisan saya akhirnya ditayangkan. Buat temen-temen yang penasaran bisa klik disini

Anyway, mungkin untuk sementara ini hanya itu saja yang bisa saya tuliskan. Bila ingin mengenal lebih jauh bisa mampir ke akun-akun berikut ini ;

Facebook : Ajeng Pujianti Lestari

Instagram : Ajeng.yulunay

Wattpad : Ajenghimme

#SalamODOP #Tantangan #OneDayOnePost

 

 

Korban Itu Bernama Evy Suliastin Agustin

Korban Itu Bernama Evy Suliastin Agustin

Nama itu beberapa kali muncul di beranda Facebook saya. Beliau adalah tersangka dari pembunuhan 3 anaknya. Pada saat itu dia sendiri mencoba untuk bunuh diri, namun gagal. Evy diselamatkan oleh adiknya. Saya terhenyak. Ada sesuatu yang mengganjal, tak ada ibu normal yang melakukan itu. Pasti […]

Peluru Udara

Peluru Udara

Suatu siang ketika si abang sudah pupang dari sekolah, dia mengajak saya bermain. “Abang mau main apa?” Tanya saya “Main tembak-tembakan yuk mah!” Jawabnya ceria Saya mengiyakan dan jadilah kami bermain tembak-tembakan dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk sebagai pistolnya. Pura-puranya seisi rumah berubah menjadi […]

Because you are my new world

Because you are my new world

Postingan kali ini berbau agak serius, so watch out gaes!

Sudah beberapa hari terakhir ini saya mengalami perenungan yang cukup panjang. Saya menderita innerchild walaupun bukan dalam level yang parah. Saya pun termasuk beruntung karena berani untuk mengakui bahwa saya butuh bantuan. Jangan salah, bahkan untuk mengakui hal tersebut saja saya mesti mengalami banyak hal dulu. Begitu banyak pemikiran dan pertimbangan sebelum akhirnya diambil keputusan untuk berkata “yes, I need help”

Innerchild itu tidak menyenangkan buibu, pakbapak, mas mbak semua. Saya sangat takut serta khawatir kalau-kalau tindakan saya selama ini akan menanamkan innerchild ke anak-anak saya. Hal inilah yang mendorong saya untuk segera memutus mata rantai mimpi buruk tak terelakan itu. Sudah saatnya saya membersihkan diri dan memulai pola asuh yang baru.

Semua hal mudah untuk dikatakan, tapi tidak untuk dilakukan. Bahkan ketika saya sudah berkonsultasi serta mengalami sesi yang cukup menguras tenaga serta menjalani terapi level emosi, kadang hal-hal buruk tetap saja bisa terjadi. Saya masih saja kurang sabar, masih menganggap anak-anak sebagai beban. Saya masih belum bisa melepaskan emosi saya dengan cara yang smooth.

Terkadang, ketika hubungan saya dengan suami sedang blangsak-blangsaknya, api emosi itu semakin mudah untuk tersulut. Hal ini tentu saja menyedihkan. Coba tebak, siapa yang akan menjadi korban dari hal ini? Yak betul, anak-anak.

Setelah berkali-kali mengikuti kelas parenting dari orang yang sama, saya semakin memiliki konsep yang kuat mengenai pola asuh. Anak yang cerdas biasanya adalah anak yang bahagia. Nah, inilah titik paling penting yang harus diperhatikan : Anak yang bahagia itu muncul dari didikan Orang Tua yang Bahagia.

Bahagia.

Tugas ini terlihat simple, tapi dalam kehidupan nyata justru suliiiiittt sekali untuk diaplikasikan. Terlebih ketika ekspektasi dan kenyataan berbeda jauh, duh kebahagiaan mah jadi cuma semacam lagenda dalam ruang hampa.

Apalagi bagi saya yang menaruh keranjang kebahagiaan di tangan orang lain, yaitu suami.

Terdengar konyol kan? Saya pun males mengakui tapi mau gimana lagi, itulah faktanya. Semenjak menikah, pusat dunia saya berganti poros. Kebahagiaan bukan lagi tentang baju bermerk, nongkrong di kafe mahal atau jalan-jalan ke luar negeri.

Suami, dia adalah pusat dunia saya sekarang.

Maka benarlah apa kata bu fithrie, kalau istri adalah penyuplai cinta suami adalah si pemegang cinta. Bagaimana cara si suami menjaga dan merawat cinta itulah yang menjadi hulu dari aliran energi dalam proses membentuk anak yang bahagia.

Tak ada gading yang tak retak.

Bahkan dalam kisah cinta yang sempurna, luka itu pasti ada. Begitu pula dalam kisah saya. Dulu, duluuu sekali ketika berada di awal-awal masa pernikahan, suami pernah melakukan seauatu yang mematahkan hati saya. Sebagai orang dengan kepribadian plegmatis, dia hampir tidak menyadari itu.

Setiap istri pasti setuju, kalau orang lain bilang gendut kita tidak akan ambil pusing. Lalu bagaimana kalau kata gendut itu keluar dari mulut suami? Rasanya pasti pengen lompat ke tengah-tengah jalan tol saat itu juga. Iya kan? Ini adalah contoh betapa setiap detail kata dan perilaku suami itu memiliki efek yang luar biasa pada istri.

Kasus saya bukan tentang gendut-menggendut sih..

Kejadiannya sudah lama, sudah pernah dibahas dan dia pun sudah meminta maaf. Tapi tak disangka, cerita ini berbuntut panjang. Ternyata inilah salah satu penyebab mengapa cara saya memperlakukan si abang dan si adek dengan berbeda.

Ada luka disitu. Sebuah torehan yang tidak bisa sembuh begitu saja walau sudah lewat bertahun-tahun lamanya. Luka itu menancap di alam bawah sadar, rasa sakitnya ini yang menjadi salah satu pemicu kegarangan saya terhadap si abang.

Alhamdulillah, bersyukur sekali rasanya sampah masa lalu itu bisa keluar. Beneran lega, karena sampah itu sudah membusuk begitu lama di dalam diri ini, bercokol dan menggerogoti pikiran.

Lagi-lagi saya yakin hal ini rasanya begitu sulit untuk dipercaya tapii…saya merasakan betul perbedaannya. Selama seharian kemarin saya hampir tidak meninggikan suara ataupun merasa kesal dengan apa yang dilakukan anak-anak. Saya rasa, ini merupakan awal yang bagus untuk sebuah perubahan.

Jadi, jangan pernah, jangaaaannn pernaaahhh mengabaikan perasaanmu wahai para ibu. Dan hei kamu para Ayah, sudah peluk istrimu hari ini? Tahukah kalian kalau pelukan itu bisa meredakan kelelahan istri sampai 50%?

Nggak tahu? Yasudah sana, lakukan segera! Peluk dia, cium dia, katakan bahwa kamu cinta padanya. Maka kamu akan menerima dunia, dijamin.

Pondok Aren, 23 januari 2018

The Sisterhood Love-Hate Relationship

The Sisterhood Love-Hate Relationship

Baiklah saya akan jujur, sesungguhnya saya sedang kebingungan tentang bagaimana menulis pembukaan untuk tulisan kali ini. Blank, i have nothing in my mind to write it down Apa sebab? Ya, karena judul di atas. Saudara perempuan. To be honest, saya terkadang lupa kalau punya saudara […]