NHW #2 MIIP BATCH 4

 

Bismillah,

Dalam program Matrikulasi Ibu Profesional, kali ini saya akan mencoba mengerjakan tugas ke2 yang makin lama makin menantang.

Tugasnya adalah sebagai berikut :

Buatlah indikator yang kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bias membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

 

Nah, sebelumnya mungkin ada intermezo sedikit ya. Saya adalah istri dari seorang suami yang seumuran, kami berdua hanya terpaut jarak lima hari. Suami saya orangnya nggak banyak ngomong, cuman sekalinya ngomong ya nggak beda jauh sama ibu-ibulah, wakakakak. Putra pertama saya bulan ini usianya 4 tahun 5 bulan, alhamdulillah sudah bisa diajak diskusi. Yang susah malah suami, karena dia selalu bilang kalau nggak muluk-muluk mengharapkan istri. Mungkin dia sadar diri dengan kondisinya dia sendiri kali ya, hahahaha.
Nah, sedangkan saya sendiri juga sama, dengan kondisi dirumah momong anak dua dan hamil 19 minggu sepertinya checklist indikator profesionalisme tidak berani yang tinggi-tinggi, memanjat Menara Eiffel misalnya, wkwkwkwk. Pokoknya yang kira-kira bisa merubah saya lebih baik dan lebih professional. Anyway, inilah dia

 

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

1.      Sebagai Individu

No

Indikator

Terlaksana

Tidak
Terlaksana

 1

Membuat satu tulisan sehari

 

 

 2

Membaca minimal satu artikel baru dalam sehari

 

 


 3

Membaca alquran dengan menerapkan ilmu tajwid yang benar

 

 

.
 4

Menahan diri untuk berkeluh kesah mulai sejak bangun tidur sampai kembali tidur

 

 

 

2.      Sebagai Istri

No

Indikator

Terlaksana

Tidak
terlaksana


 1

Sabar dalam segala situasi dan kondisi, terutama saat menghadapi suami

 

 


 2

Murah senyum, terutama di saat-saat suami pulang kantor atau mendapat kabar diajak
futsal atau saat ditinggal Dinas Luar

 

 


 3

Patuh terhadap perintah suami, karena suami tidak mungkin ingin menyakiti istri

 

 

 

Dari hasil diskusi dengan suami yang dilakukan via WA (saking sok sibuknya), saat saya menunjukkan tugas yang harus dilakukan dan bertanya sama dia, KAMU MAU AKU JADI ISTRI SEPERTI APA?

Jawaban doski sungguh simple, istri yang beriman n bertaqwa sudah cukup (sambil diikuti emoticon :* )

Tambahannya ya sabar sama murah senyum

Hahahaha, Tuh kan, simple banget suami saya. Aaah, maafkan aku ya ay kalau sering cemberut dan marah-marah. I love you so much..

 

4.      Sebagai Ibu

No

Indikator

Terlaksana

Tidak
Terlaksana

 1

Menjadi ibu yang less teriak-teriak

 

 

2

Meluangkan waktu lebih banyak untuk bermain bersama

 

 

3

Menambah jumlah buku yang dibacakan oleh mama

 

 

 

Well, dari hasil diskusi geje dengan si abang, setelah ditanya dengan berbagai hal, kesimpulan yang dapat saya ambil untuk digunakan sebagai indikator pada akhirnya mengerucut pada tiga hal di atas.

“Yuan suka mamah nggak teriak-teriak” duuh, untuk halyang ini saya langsung loyo. Maafkan mamah ya solih, mama sadar selama ini jadiibu kok nggak ada lembut-lembutnya.

“Yuan suka main, yuan suka dibacain buku daripada mama main hape”

Beneran deh, mengerjakan tugas ini saya sebagai istri dan ibu kok kayak ditampar berkali-kali, masih begitu banyak dan jauh rasanya dari cita-cita untuk menjadi ibu professional. Tapi, kita tidak boleh pesimis
kan ya? Tetep semangat dan lanjut dengan MIIP!

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

SARAH & ANDRIAN : PART 3

“Happy Birth Day untuk bumiiilllll!!!”

Sarah mengerjap-kerjapkan matanya, tampak terkejut melihat ruang kerjanya yang mungil kini dipenuhi rekan kerjanya seperti Maura, Bobi dan beberapa asisten chef lain beserta kue dan bunga yang terhampar di meja.

“Waaaaawwwwwww” Sahut Sarah Sumringah, senyum ceria mengganti ekspresi terkejutnya. “Aku dapat surprise”

Maura, si bos langsung maju mendekat dan mengecup pipi Sarah yang sebelah kanan “Selamat ulang tahun sahabatku, maaf ya terlambat beberapa hari. kamu tau sendiri kan kondisi di sini kayak apa”. Katanya dengan nada meminta maaf.

Sarah tersenyum lagi “yaelah, gitu doang dipikirin. santai aja kaliiii”. Kata Sarah sambil memeluk Maura, dia melihat Bobi yang juga berjalan mendekat dari balik bahu bosnya itu.

“Mbak Sarah, hepi-hepi ya. Selamat ulang tahun dan selamat atas kehamilannya. Itu ada kue dari orang-orang yang di kitchen.” kata Bobi sambil menunjuk sebuah kue tart yang ditutup seluruhnya oleh ganache coklat, kesukaan Sarah. “Aku juga sebenernya pengen nyium mbak Sarah, tapi daripada entar digaplok, dilindes dan dibuang ke angkasa sama mas Andrian, aku mundur” candanya lagi.

Sarah terkekeh geli, dia menatap kue tart dan bobi bergantian, rasa haru menyeruak di dadanya. “Ah, kamu mah bisa aja bob. Makasih banyak buat kuenya, tau aja kalian kue favorit aku”

“Oke!” Maura tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya dan memberi komando, “silakan semua kasih selamat ke bumil terus balik kerja ke tempat masing-masing yaa. Ingat, kita masih harus kejar orderan supaya hasilnya tepat waktu dan konsumen nggak kecewa”

Satu per satu orang memberi selamat pada Sarah, sambil ada yang mengelus perutnya karena ingin ketularan hamil. Sarah hanya tersenyum manis sambil membalas mendoakan. ketika akhirnya semua orang sudah keluar dan hanya tersisa Maura di ruangannya, Sarah mengangkat alis, bertanya.

“Eh, elo nggak papa? gue tahu baru-baru ini kalau elo hamil. Khawatir gue, dari kemarin elo lembur dan jalan-jalan naik-turun tangga” Tanya Maura blak-blakan.

Sarah mengangguk “Nggak papa kok, santai aja. Gue bahkan nggak ngerasa mual parah atau ngerasa berbeda dengan gue yang dulu. Insya Allah gue masih sanggup ngerjain segala macem sih” jawabnya.

“Iya, tapi gue tetep khawatir, bulan depan kerjaan lo gue kurangin ya. Elo nggak boleh kecapekan” Tandasnya.

Sarah mengulum senyum dan mengangkat bahu melihat kekhawatiran sahabatnya ini, sungguh dia merasa beruntung memiliki atasan sebaik Maura. “Terserah elo aja, kalau elo yakin” kata Sarah Jahil

Maura mencubit pipi Sarah “gue yakin banget kaliiii, nah elo habisin itu kue ya, gue balik ke atas nemuin klien dulu”

Sarah tiba-tiba menarik tangan Maura yang hendak keluar ruangan “Ra, makasih banyak ya buat ini semua”

Sekarang, gantian Maura yang tersenyum “Take it easy darl” katanya sambil tersenyum kemudian menutup pintu, meninggalkan Sarah kembali sendirian di ruangannya.

***

Andrian menyetir dengan membabi buta, memarkir mobil, membanting pintu dan segera berlari ke arah ruang IGD di sebuah rumah sakit Ibu dan Anak yang cukup terkenal di kotanya. Lima belas menit yang lalu dia mendapat telepon dari Maura kalau Sarah terpeleset dari tangga, jatuh dengan pantat yang meniban lantai terlebih dahlu. hanya benturan normal, tapi dengan kondisi Sarah saat ini hal itu menjadi berbahaya. Terbukti tidak lama kemudian Sarah mengeluh merasakan nyeri di perutnya dan disusul dengan darah yang mengalir dari paha sampai ke betisnya. Maura yang panik langsung membawa Sarah ke RS dan menelepon Andrian di tengah jalan. Begitu mendapat kabar, Andrian langsung meninggalkan rapat dan pergi saat itu juga.

Andrian membuka ruang IGD, bertanya dengan tergesa-gesa pada salah satu perawat dan langsung menyibak tirai yang berada di pojok ruangan. Di dalamnya dia menemukan Sarah sedang terbaring dan diperiksa sepertinya oleh seorang bidan, disampingnya ada Maura yang tampak amat sangat pucat.

“Andrian!” Panggil Sarah sambil mengulurkan tangan, ketika menyadari suaminya sudah tiba.

Andrian langsung menerima uluran tangan Sarah, mengamit dan menciumnya “Hei, gimana keadaannya?” tanya Andrian dengan sorot mata khawatir.

Sarah menggeleng, wajahnya kalut dan air mata mulai menggenang di matanya “Aku tadi kepleset, jatuh..kemudian kemudian perutku sakit, sakit sekali, nyeri tak tertahankan dan darah keluar terus-terusan dari dalam..”isaknya

“Aku takut Andrian..aku takut..bagaimana kalau..kalauu..”Sarah tercekat, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Ssshhhh..sudah” Sergah Andrian, “Aku udah disini sekarang, kamu nggak sendirian. Jangan pikirkan hal-hal yang lain, semua akan baik-baik saja, oke?”Kata Andrian berusaha menenangkan, dia mengeratkan pegangan tangannya pada Sarah.

Saat itu, Sarah mengetahui dengan jelas bahwa Andrian pun takut pada hal yang sama : mereka takut kehilangan calon buah hati mereka..

***

Pada akhirnya, Sarah harus melakukan prosedur kuretase. Hasil USG yang baru saja dilakukan menunjukkan bahwa Janin yang dikandung Sarah koyak, dan terjadi pendarahan di beberapa titik sehingga Sarah terus menerus mengeluarkan darah. Tindakan harus segera dilakukan agar Sarah tidak kehabisan darah. Andrian dengan sigap langsung menyetujui apa saja yang dibeberkan oleh dokter, hati dan pikirannya kacau, dia sudah kehilangan janin mereka dan tidak ingin Sarah ikut menghilang juga, apapun yang penting Sarah selamat.

Kini Andrian duduk gelisah menunggu di ruang tunggu sementara Sarah menjalani prosedur kuretase. Hatinya terasa diremas saat terakhir kali dia melihat Sarah, Sarah sedang memanggil-manggil dan menggapai-gapaikan tangan padanya.

“Andrian, Andrian!” Panggil Sarah keras sebelum kasurnya didorong menuju ke ruangan. Tangan Sarah menggapai-gapai tangan Andrian, mencari kekuatan, mencari perlindungan.

Andrian meraihnya, menggenggam tangan Sarah dengan begitu erat dan tidak berhenti memberi tahu bahwa Sarah tidak perlu takut karena dirinya ada disitu. Pada akhirnya, Andrian harus melepaskan Sarah ketika perawat hendak menutup pintu, meminta  untuk menanti di ruang tunggu yang dituruti olehnya dengan murung.

Inikah rasanya ketika kehilangan sesuatu yang bahkan belum menjadi miliknya?

***

Sarah membuka matanya, hal pertama yang di sadari adalah bau obat dan desinkfektan yang agak menyengat. Perlahan dia menoleh ke samping kiri, melihat bagaimana infus darah memasuki tangannya dengan lancar.

“Hei, sudah bangun?”

Sarah menoleh ke kanan, ke arah suara yang sudah begitu dikenalnya..dia menemukan Andrian. Andrian, suaminya tersayang yang biasanya selalu tampil cool, jail dan menyebalkan sekarang berdiri dengan sedikit menunduk. Raut wajahnya tak terbaca, penampilannya berantakan dan rambutnya kusut. Andrian terlihat seperti habis menghadapi badai.

Sarah mengulurkan tangan kanannya yang terpasang infus, hendak merapikan rambut Andrian yang tidak tertata. Saat Sarah menyentuhnya, Andrian hanya terdiam.

“Kamu kacau banget…”kata Sarah serak

“Suamiku…”lanjut Sarah perlahan, dia ragu-ragu hendak melanjutkan. Rasa takut menggayuti pikiran Sarah, oh..tapi dia harus berani untuk bertanya, harus berani.

Sarah berdehem sekali, memandang mata hitam obsidian Andrian yang tidak pernah membuatnya bosan “Janin..gimana janin kita?” tanyanya, merasa lega karena pertanyaan itu bisa keluar dari mulutnya dengan lancar.

Andrian terdiam sejenak, dia mengambil kursi dan duduk di sebelah kasur Sarah. Lembut, Andrian ganti membelai kepala Sarah, merapikan helai-helai rambut basah karena keringat dan memijat pelipis Sarah, mencoba membuat istrinya nyaman.

“Janin kita tidak bertahan sayang..dia..dia koyak…” Balas Andrian, menjawab pertanyaan Sarah. “Dokter mengatakan, mungkin saja sejak awal janin kita memang tidak sekuat janin biasanya walaupun sehat… sehingga sedikit benturan bisa berakibat fatal padanya” Andrian menyampaikan hal tersebut sambil mencium pelipis Sarah. Kemudian dia merasakan tubuh Sarah bergetar, ada tetesan basah mengalir dari pipi Sarah. Tiba-tiba saja Andrian merasakan kedua pundaknya sudah digayuti oleh Sarah dan Sarah menaruh wajah di lehernya.

“Maaf..maafkan aku..maafkan aku..maafkan aku..maafkan aku..maafkan istrimu yang bodoh ini” bisiknya penuh air mata.

Andrian memosisikan tubuhnya agar bisasejajar dengan Sarah di atas kasur, memeluknya erat, menaruh dagu di atas puncak kepalanya “Sssttt..sudah, jangan bicara apapun lagi ya. Ini namanya takdir, kita memang belum ditakdirkan memilikinya..sudah..sudah Sarah, jangan menyalahkan dirimu seperti itu” Andrian berkata dengan sabar. Sesungguhnya, Andrian tahu bahwa dirinya juga merasakan sakit karena kehilangan, tapi Sarah..apa yang dialami Sarah lebih dari rasa sedih dan sakit yang dirasakannya.

“Kamu hidup, itu sudah lebih dari cukup buatku, paham?” tegas Andrian ketika menempalkan dahinya ke dahi Sarah “Aku tau kamu sedih, jujur..akupun sedih Sarah. Tapi kita bisa melaluinya, kita akan melaluinya. Bersama-sama. ya?”tanya Andrian.

Air mata Sarah kembali mengalir tak terbendung, tapi tak urung dia mengangguk. Ya, mereka akan melaluinya.

Tapi sekarang, saat ini Sarah hanya ingin memeluk Andrian, bergayut dan menumpahkan seluruh kesedihannya berdua. Sarah merapatkan diri “Kamu juga boleh menangis kalau mau, aku janji nggak akan kasih tahu siapapun”Kata Sarah dengan suara kecil.

Sudut bibir Andrian terangkat sedikit, dia tersenyum kecil “Ya Sarah..ya” balas Andrian lembut

kemudian mereka berdua berpelukan lama, meresapi rasa kehilangan dan akhirnya saling melengkapi dan memberi kekuatan. Saat ini, mereka akan berduka, hanya saat ini…

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂

Nice Homework Part 1

Assallammuallaikum, it’s been a very looooooonggggg time since the last time I write for this lovely blog. Alhamdulillah, kali ini saya diwajibkan menulis dalam rangka menyelesaikan tugas di Matrikulasi Ibu-Ibu Profesional Batch 4. Apaan sih MIIP Itu? versi singkatnya sih, kuliah untuk menjadi seorang ibu yang profesinal dan oke punya gitu loh. untuk versi lengkapnya monggo googling sendiri njih .

Baiklah, setelah tahap perkenalan di grup WA IIP Tangsel, materi pertama digulirkan, tanya-jawab dilaksanakan , tugas disampaikan dan saatnya menyelesaikan. Materi yang pertama banget disampaikan adalah tentang ADAB MENUNTUT ILMU.

I’m trying my best to finish my homework, cekidooottt!

Dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU” kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

“Experiencing, writing and sharing” itu adalah bagaimana saya menyebut jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan. Sejujurnya, saya suka sekali menulis. Menulis tentang segala hal, terutama hal-hal yang saya alami sendiri.

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
‌Kenapa ingin menulis dan berbagi tulisan? Hmmm…kalau dipikirkan lagi, sejarahnya panjang. Saya menikah muda, di usia 22 tahun dan menjadi ibu masih di tahun yang sama. Saat itu, teman-teman saya baru saja lulus, mendapat pekerjaan dan bersenang-senang sedangkan saya saat itu justru harus bergulat dengan popok, mengatur strategi membagi waktu, beramah tamah dengan tetangga dan seabrek hal-hal lainnya yang jauh dari kata  keren. Jujur, terasa sekali shocknya saat awal menjadi Ibu Rumah Tangga.

Menjadi ibu rumah tangga di zaman ini pun sungguh berat, terutama karena banyak sesama IRT yang tidak merasa bangga dengan profesi mereka. Label menjadi IRT itu membosankan, tidak berguna, tidak menghasilkan dan gak gaul karena terkungkung di dalam kotak bernama rumah sepertinya sudah menempel begitu erat. Saya sedih dan prihatin. Bagaimana mungkin profesi IRT yang mulia ini akan dihargai kalau tidak dimulai dari kita sendiri yang menghargainya? betul kan?
‌Bohong kalau misal saya tidak pernah mengalami apa yang disebut dengan zaman kegelapan, dimana saya betul-betul merasa terpuruk dan kesepian. Alhamdulillah, dengan keinginan yang kuat serta dukungan dari suami makin kesini saya merasa bersyukur memilih menjadi IRT. I know every milestone of my son and daughter, itu yang pertama. Kedua,  I know how to deal with “kebosanan di rumah”. Sebagai contoh, saya bisa membaca buku kesukaan saya jika anak2 terlelap, memasak, membuat kue atau camilan, membagikannya ke tetangga, jalan-jalan, ngintilin suami dinas, ikut halaqah, ikut senam, ikut forum ini-itu, you can name it.

Saya menyadari kalau  saya adalah termasuk istri yang beruntung karena bisa menemukan banyak kegiatan yang tetap membuat  sibuk dan merasa berharga di tengah keluarga ataupun lingkungan. Saya berusaha untuk qana’ah dengan penghasilan suami, mencoba untuk bersyukur karena tidak sepeti perempuan lain yang juga harus ikut bekerja keras mengumpulkan rupiah. Bisa melakukan apa yang kita inginkan. Inilah kemewahan yang di dapat ibu rumah tangga.
‌Pengalaman merantau, tinggal berpindah-pindah, anak yang sakit, tetangga yang menyebalkan, resep kue yang enak dan masih banyak lagi merupakan hal-hal yang saya dapatkan selama menjadi ibu rumah tangga. Saya merasakan betul transformasi dari anak gadis, menjadi istri kemudian menjadi ibu. Dimana setiap sesi perubahan itu prosesnya sungguh menakjubkan. Karena itulah, saya ingin menulis. Menulis dan menyebarkannya. Agar para ibu yang merasa rendah diri  dapat kembali menemukan kepercayaan dirinya dan merasa yakin bahwa menjadi IRT adalah pilihan paling oke oce, muehehehe.
‌saya ingin agar orang lain juga dapat melihat bahwa kehidupan ibu rumah tangga itu sungguh penuh dengan lika-liku yang menarik, jauh dari kata “membosankan” yang begitu sering digaungkan.

Alasan kuat yang lain adalah karena menulis itu akan menghasilkan sebuah karya yang abadi. Saya ingin anak-cucu kelak dapat mengenal leluhurnya dari karya-karya yang dihasilkan. Kehidupan itu hanya sementara kawan, tapi tulisan tidak 😀

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang anda rencanakan di bidang tersebut?

Strategi saya adalah mencari ilmu dan pengalaman baru sebanyak-banyaknya. salah satunya adalah dengan mengikuti MIIP agar hal-hal yang saya tulis dan bagi nantinya akan menjadi lebih bermanfaat.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Setelah mendapatkan materi tentang adab menuntut ilmu ini, saya merasa harus melakukan berbagai perubahan seperti : tidak menunda pekerjaan, bersegera dan menyimak saat berada dalam forum diskusi, lebih aware dan teliti dengan detail, menghargai pendapat dan pengalaman orang lain, tidak sembarangan menulis yang bisa menyakiti pihak lain, menuliskan sumber serta mengubah mindset untuk meluruskan niat. Bahwasanya menulis itu hanya sebagai bentuk kenikmatan yang bisa dibagi, bukan hanya mengejar like atau menang lomba.

 

Nah, demikianlah jawaban saya atas tugas yang diberikan oleh tim MIIP. Atas kurang dan lebihnya saya memohon maaf. salam sayang :*

tempo gelato - ayunafami;ly.com

Ibu tiga anak. Pecinta martabak coklat-keju. Suka menulis biar enggak histeris 🙂