“SAY” cerpen yang akhirnya jadi setelah sekian lama

Alhamdulillah, ternyata menulis cerpen dalam kondisi ngurus 2 anak itu memang luar biasa ya perjuangannya. tapi, akhirnya cerpen ini jadi juga loh, huahahaha.

silakahkan dinikmati ya, mohon maaf kalau ada kekuarangan disana-sini, namanya juga tulisan pertama yang dipublish. Silakan untuk kritik dan saran, ditunggu selalu loh

 

————————————————————————–

 

“Mbak’e, ada yang nyari tuh”

Sarah mendongak, berhenti sebentar dari kesibukannya menghitung angka-angka. Dilihatnya bobi, yg masih memakai apron dan sarung tangan melongok ke dalam ruangan, cengiran tampak di wajahnya.

“Cepetan mbak, kasian kalo disuruh nunggu lama-lama, jamuran ntar” kata dia lagi

“Eh iya” Sarah memundurkan kursinya, berdiri dan menyusul bobi keluar dari ruangan. “Siapa sih bob?” Tanyanya sambil berlari kecil, menyamai langkah bobi

“Ogah jawab ah, mbak liat aja sendiri” jawab Bob sambil tersenyum.

Sarah belum sempat menanggapi ketika melihat sosok langsing, dengan celana agak cingkrang dan kaos polo biru sedang berdiri di ujung ruangan.

“Andrian!” Sarah tampak  terkejut melihat suaminya.

“Ciyee, dijemput ehem-ehem nih” goda bobi yang buru-buru kabur kembali ke dapur, takut dijitak atasannya.

“Hei” Andrian melangkah seraya mendekati Sarah. “Masih belum selesai ya? Futsalku udah rampung nih, sekalian jemput kamu. Pulang bareng yuk?”

Sarah menatap Andrian sejenak, pandangannya menyelidik “hmmm,kamu mau nyogok ya?”

“Iya” balasnya sambil meletakan tangan di kedua bahu sarah dan meremasnya pelan. “Suami-istri itu nggak boleh bertengkar lama-lama,dosa. Mending kita nambah pahala aja, biar sama-sama masuk surga. Pacaran wae piye?, mumpung besok libur” kata Andrian, suaranya terdengar bersemangat.

Sarah bersedekap, dagunya terangkat “Yakin alasannya cuma biar masuk surga doang? Nggak ada alasan yg lain lagi?”

Well, karena kamu kan istriku, aku mau ngajak pacaran siapa lagi coba?”

Sarah menatap mata hitam dengan binar semangat yang dibingkai kaca mata di hadapannya.

“Sekaligus permintaan maaf” lanjut Andrian sambil nyengir.

Sarah masih terdiam sambil memanyunkan bibirnya.

“Kamu manyun gitu lucu deh”

Sarah melotot

“Sayang sekali, saking sipitnya matamu, pelototan kamu nggak berefek apapun ke aku” kata Andrian sambil tertawa kecil.

Sarah mendengus dengan tidak elegan”ngajak pacaran kok malah ngece-ngece, nggak niat ih ngajaknya”

“Eits, jangan meledak dulu istriku” kemudian dengan nada merayu “come with me please, I have something for you

Sarah melihat ke arah Andrian lagi

I promise, tonight will be better. Well at least, i will try my best to make it better

“Hmm..”

“Jemuran sudah aku angkatin loh  tadi”tambahnya

Setelah menimbang-nimbang selama semenit, akhirnya Sarah mengangguk “huh, baiklah. Tapi inget ya, ini terpaksa loh. Ter.Pak.Sa

Andrian tersenyum penuh kemenangan.

“Tunggu disini, aku ambil tas dan beberes ruangan dulu” kata Sarah sambil membalik badan.

***

Sarah berjalan ke ruangannya sambil berpikir. Baru kali ini Andrian datang menjemput dan mengajaknya kencan. Yah, bagaimanapun mereka belum ada sebulan ini menikah. Dengan masa perkenalan yang cukup singkat, hanya 2 bulan dan bahkan saat itu Andrian bekerja di luar kota. Sarah sangat kaget ketika Andrian datang kemudian melamar dengan sangat tiba-tiba. Dia memaksa pergi menemui orang tua Sarah serta meminta untuk menikah yang sebisa mungkin dilakukan dalam waktu singkat.

Tentu saja orang tua Sarah terkejut, mereka sempat mempertanyakan alasan kenapa Andrian dan permintaannya datang secepat itu. Sarah ingat sekali bagaimana dia menahan malu ketika harus menghadapi tatapan ibunya yg seolah mengatakan ‘apa kamu hamil?’ itu.Iiihhhh, tentu saja dia tidak hamil. Tapi Andrian sangat pintar bernegosiasi dan tidak lama kemudian dia sudah mengantongi ijin untuk menikahi Sarah. Seperti topan badai, Sarah tidak sadar dengan apa yang terjadi, semua berlalu dengan cepatnya dan tau-tau dia sudah menjadi istri dari Andrian Razi Muhammad.

***

Kehidupan pernikahan cukup menyenangkan. Andrian sangat baik, dia perhatian dan humoris. Sarah tidak pernah bosan mengobrol dengannya. Andrian  juga selalu bisa membuatnya tersenyum dengan semua lelucon konyolnya. Andrian  ringan tangan pula, tidak segan untuk membantu Sarah mencuci pakaian yg berat-berat atau sekedar menyapu halaman. Yang terakhir sebenarnya membuatnya cukup malu, karena tetangga kanan-kiri jadi menuduhnya istri durhaka, hiks.

Tapi lagi-lagi, dengan sikapnya yg sangat mudah untuk dekat dengan orang lain, Andrian membersihkan nama naik Sarah. Membuat semua orang memujanya dan merasa iri pada Sarah karena menjadi istrinya. Sarah sadar, tidak butuh waktu lama untuk tergantung pada orang yang sekarang menjadi suaminya itu. Andrian inilah, andrian itulah,pokoknya  Andrian menjadi pusat dunia Sarah hanya dalam waktu sekejap. Sarah tau dia sudah  jatuh cinta, desperately falling in love with her husband. Hal yang wajar bukan kalau seorang istri mencintai suaminya? Walaupun hal itu terjadi dalam waktu singkat.

Hanya saja, berkali-kali Sarah menyatakan sinyal-sinyal cintanya, berkali-kali pula andrian terlihat tidak membalas . Hal itu tentu membuat Sarah sedih. Rasanya memang konyol, tapi entah bagaimana imajinasi bermain dalam pikirannya dan  lama kelamaan Sarah menjadi curiga . Banyak pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab menurutnya.

Kenapa andrian begitu terburu-buru ingin menikah? satu

Kenapa sampai saat ini, bahkan setelah sarah menjadi istrinya andrian tidak pernah sekalipun mengatakan cinta? Dua, dan itu merupakan hal yang paling penting dari pertanyaan lainnya.

Sarah sudah pernah membuka Hp milik andrian, dia tidak menemukan sesuau yang mencurigakan. Hanya saja, namanya tetap tertulis SaRaH, seoerti orang alay. Sebersit rasa kecewa muncul, dia kan istrinya, kenapa tidak memakai nama yang lebih istimewa sih? Darling lah amore lah lope-lope lah, kok disamaain kayak nyimpen nama orang lain.

Sarah juga membuka e-mail serta medsos milik Andrian, mengubek-ubeknya, mencari hal-hal yang mungkin bisa menjadi petunjuk jawaban atas oertanyaannya. Namun lama kelamaan dia merasa malu karena Andrian sangat terbuka, dia memberikan semua pada Sarah. Password rekening, e-mail, medsos, semua. Tidak ada yang disembunyikan. Tapi..tetap saja. Beberapa hari ini Sarah merasa tersiksa dengan pikirannya sendiri, merasa patah hati karena meraaa cintanya tak terbalas. sarah menjadi agak murung, pemarah dan malas-malasan, tapi sepertinya suaminya yang secuek merpati itu tidak menyadarinya.

 

“Kamu mikirin apa?” Tanya Andrian, memecahkan lamunan Sarah

Nope“jawab sarah agak sedikit salah tingkah ketahuan melamun. “Biasa, kerjaan”

“Oh ya? Emang ada apa dengan kerjaanmu?”

“Baik-baik aja sih” kata Sarah sambil mengangkat bahu

Kemudian hening..

“Kamu nggak mau tanya gimana kerjaanku?”

“Enggak”

“Wih, sadis”

Hening lagi..

“Kamu kenapa?”tanya Andrian lagi “No, jangan jawab kalo kamu nggak kenapa-kenapa. Aku tau betul ada yang gak beres sama kamu. Jawab” walaupun dikatakan dengan ekspresi datar, sarah mendengar nada memerintah di dalamnya.

“Ih sok tau, aku biasa-biasa aja kok” Sarah mencoba mengelak

“Sarah..”kata Andrian lagi, kali ini dengan nada sedikit mengancam.

Sarah mengalihkan pandangan, mencoba mencari-cari sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. Belum sempat Sarah mengatakan sesuatu, Andrian mengamit tangannya. Dan sesuatu yang terasa seperti setruman listrik mendera Sarah ketika kulit mereka bersentuhan.

“Hei, ngapain kamu grepe-grepe aku?”

“Gak ngapa-ngapain, kamu istriku. Aku bebas mau grepe-grepe kamu dimana saja dan kapan saja. Toh sudah diizinkan atas agama dan hukum ” kata Andrian santai sambil menarik tangan Sarah yang satunya lagi. Sarah mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Andrian cukup kuat. Sarah berniat untuk menggigit Andrian, tapi dia cukup punya akal sehat untuk tidak membuat keributan di tempat umum.

“Sarah, hei, lihat aku”bujuk Andrian sambil menyentuh lembut pipi Sarah, memaksa Sarah menoleh ke arahnya.

Dengan malas Sarah menolehkan wajahnya, matanya bertemu dengan mata Andrian.

“Apa?” Tanyanya galak

“Hih, kamu kok galak banget sama suami sendiri”balas Andrian. “Eeh, jangan buang muka dulu, aku belum selesai”

Sarah lagi-lagi mengeluarkan jurus manyunnya

“Jangan manyun gitu, nanti aku cium loh”

“Andrian!”

“Nah nah, makanya. istriku, ada apa denganmu sih? Sini cerita sama aku. Suamimu ini selalu siap untuk mendengarkan loh”kata Andrian lembut

Sarah merenung, yah dia juga sedikit merasa kasihan pada Andrian. Bagaimanapun sikapnya, suaminya itu tetap berusaha bersikap baik. Tidak adil rasanya kalau mereka terus-terusan beginj. Sarah sadar, bagaimanapun hebatnya andrian, dia bukan cenayang.

“Ehmmm, yah..”kata Sarah ragu-ragu. Dilihatnya Andrian menunggu

“Kamu janji enggak ketawa? Janji enggak akan marah? Dan janji akan jawab?”

“Janji” Andrian mengangguk cepat, masih sambil menggenggam kedua tangan Sarah. “Tapi jangan muter-muter kayak semalam ya. Aku bingung karena ujung-ujungnya kamu jadi nangis dan kesel sama aku”

“Oke” Sarah menarik nafas dalam-dalam

Sarah berdehem, mengambil jeda selama beberapa detik..”Jadi, Andrian Razi Muhammad, apakah kamu..emm..ci..cinta sama aku?”tanya sarah dengan suara pelan, wajahnya memerah.

Andrian memandang sarah dengan bingung “cinta?”

“Iya! Mak, maksudku.a kuu, aku selalu bertanya-tanya. Banyak sekali yang ingin aku tau. Kenapa kamu, memintaku untuk segera menikah. Dan,daaan..aku tau kamu selalu beraikap baik sama aku, kamu juga selalu bersikap baik dengan semua orang. Tapi, kamu nggak pernah mengatakan apapun tentang perasaanmu ke aku. Padahal, padahal aku selaku dan sering banget ngungkapin semua yang aku rasain tentang kamu” Sarah berhenti sejenak, menarik nafas, memberanikan diri melirik Andrian. Betapa sebalnya dia karena dilihatnya Andrian seperti menahan tawa. Tidak, Andrian bahkan sudah teryawa. Terbahak-bahak lebih tepatnya.

Sialan, pikir Sarah.

“Andrian, kok kamu malah ketawa siiiihh?”kata Sarah gemas

“Huahahahaha, maaf-maaf. Aku geli banget, kamu, kalian para wanita itu memang aneh. Huahahahaha” andrian masih tertawa sambil memegang perutnya.

“Kalo kamu masih ketawa gitu, aku pergi ajalah. Apalagi kamu janji nggak bakal ketawa kata sarah bersungut-sungut.

“Jangan, hihihi..,jangan pergi” andrian, mengulurkan tangan mencegah Sarah berdiri. Sarah duduk kembali.

“Yah, beginilah, aku setengah mati menahan malu untuk tanya kamu cinta sama aku atau enggak dan kamu malah ketawa sampai sakit perut begitu. Dan semua orang bilang aku wanita yang beruntung, padahal..”katanya menatap sebal Andeian.

Andrian, yang sudah berhasil menguasai diri sekarang tersenyum

“Ya allah Sarah..sarah”katanya geleng-geleng kepala menahan geli

“Coba kamu pikir, ada jutaan wanita di Indonesia, ratusan bahkan ribuan di antaranya kenalanku atau paling tidak aku pernah ketemu. Dan dari semua itu, kamu yang aku pilih utuk jadi istri. Menurutmu apa jawabannya?”

Hening lagi

“Kenapa terburu-buru sekali?”Sarah kembali melontarkan pertanyaan

“Kamu yakin mau tau jawabannya?”

Sarah mengangguk

“Sarah, aku ini laki-laki. Oleh bosku tiba-tiba saja aku dipindah. Saat itu aku frustasi, berada satu kota dengan wanita menggemaskan  yang membuatmu tertarik dan tidak boleh melakukan apapun bisa membuatku gila. Bobot-bibit-bebetku baik, begitu juga kamu. Aku tidak mau setengah-setengah denganmu Sarah. Ya atau tidak sama sekali” jawab Andrian enteng.

“Nekat”

“Biarin. Aku nggak nekat juga sih, sebenarnya aku memang udah capek sendirian. Sekian lama nyari-nyari, eh ketemu sama kamu juga akhirnya”kata andrian nyengir lagi.

Sesuatu seperti rasa bahagia mengembang dalam diri Sarah, tapi Sarah mencoba mengahalaunya.

“Terus, kalau memang begitu kenapa, sampai saat ini kamu nggak pernah bilang cinta? Aku selalu ngucapin itu sama kamu, tiap bangun tidur, berangkat kerja, via wA, sms, dan hampir setiap momen bahkan. Rasanya..tidak adil tauk” katanya sedih.

Sarah menatap Andrian yang tampak sedang memikirkan jawabannya.

“For me, Love is not only about how much you say it Sarah. It’s about how much you prove it”

Sarah terdiam

“I know” balasnya malas-balasan “I believe you shouldn’t say “I love you” unless you really mean it. But if you mean it, you should say it, a lot. Many people just forget

“Touche” Andrian mengelus jari-jari Sarah. “I get it Sarah”

“You do?” Tanya Sarah, gelanyar rasa senang merayap menaiki tubuhnya.

“Maaf ya, aku salah. Buatku kata cinta itu tidak penting. Selama ini aku tinggal bersama orang-orang yang terlalu sering mengucapkan kata cinta, kemudian menyakiti orang lain dengan cinta tersebut. Aku memilih untuk membuktikannya. Tapi ternyata itu tidak tepat juga”katanya dengan nada yang menenangkan.

“Kamu mau maafin aku?”

Sarah pura-pura berpikir “hemm, dimaafkan tidak yaa”

“Ayolah gadis kecil, kalau tidak dimaafkan aku terkam loh nanti” kata Andrian dengan suara mengancam yg dibuat-buat.

Sarah tertawa

“Ish, jangan asal terkam dong. Tentu saja aku mau maafin, asalkan..” Sarah tersenyum jail “asalkan kamu mau katakan cinta ke aku, disini, sekarang juga”

Andrian tersenyum mendengar permintaan Sarah.

“Oke tuan putri, itu pekerjaan mudah” katanya sok.

Andrian mengangkat kedua tangan Sarah, mendekatkan ke bibirnya dan menciumnya perlahan. Sarah menelan ludah, ia yakin sesuatu seperti kuda lagi koprol sedang jumpalitan di dalam perutnya.

“Nah gadis jilbab bunga-bunga..bagaimana anda ingin pernyataan cinta hamba disajikan?” Tanya Andrian jenaka

Sarah menggigit bibir sambil tersenyum, membuat lesung pipitnya terlihat semakin dalam.

“Spesial, tentu saja” jawabnya .

Andrian masih belum melepaskan tangan Sarah, dia berdehem dan mencoba memperbaiki duduknya.

“Baiklah, istriku yang cantik, yang mungil, yang paling susah dimengerti dan penuh teka-teki…”

“Err..bukankah harusnya kamu muji aku ya ?” Gumam sarah

“Itu pujian sayang…”

Sarah menatap Andrian dengan tatapan mencela

“Fine, lanjutkan”

“Yang pendek, eh mungil maksudku..yang masakannya paling enak sedunia, yang sangat sangat sangat sangaaaaat sabar”

Sarah mengernyit dan Andrian kembali menyeringai padanya. Oh makhluk menyebalkan yang ada di hadapannya ini betul-betul minta digiles sambel geledek.

“Aku..”

KRIIIIIIIIINNNNGGGG! Sarah dan Andrian tersentak bersamaan, telepon genggam Andrian berbunyi dengan nyaringnya meminta perhatian.

“Sebentar” kata Andrian sambil melepaskan salah satu genggan tangannya pada Sarah.

“Walah, pak bos bisa-bisanya nelpon saat momen seperti ini” Andrian memandang sarah, meminta maaf sambil menunjuk handphonenya. Sarah menarik tangannya yg satu lagi.

“Angkat dulu gih,daripada ntar kamu dipecat”

Andrian mengangguk, berdiri dan berjalan ke arah pintu luar retoran mencarai tempat yg lebuh privasi untuk menjawab telepon dari bosnya.

Sarah mengehela nafas, tubuhnya masih meremang gara-gara ciuman Andrian di tanggannya. Dia mendesah. Sadar karena sepertinya Andrian akan lama. Sarah membuka tasnya, mengambil Handphone sambil menyeruput air jeruk yg tadi dipesan. Iseng-iseng dia membuka Facebooknya, 1 notif. Raga, teman kuliahnya dulu tampak mengupload sesuatu. Sarah menekan dan menunggu gambar yg muncul detik berikutnya dia terkesiap kaget.

“Whaaatttttt? Oh no Raga! Apa maksudnya ini?”

“Hei gadis kecilku,maaf ya tadi keganggu telepon” sahut Andrian yang sudah datang kembali sambil menarik tempat duduknya. Ada apa? Tanyanya melihat kernyitan di dahi Sarah.

Sarah tidak menjawab, dia beringsut untuk menyerahkan HP miliknya ke arah Andrian. Andrian mengamati gambar yg muncul di layar.

“Raga, teman kuliahku dulu mengupload fotoku sebelum berjilbab. Ya allah, padahal aku dulu sudah sempat membuat status kalau tidak ingin foto-fotoku sebelum berjilbab terupload dan dilihat banyak orang setelah berhijrah. Aduh, aku malu banget. Aku gak suka ini” Sarah memberikan penjelasan dengan resah

“Dimana rumah si Raga ini?”tanya Andrian. Suaranya yg tadi santai dan lembut tiba-tiba berubahmenjadi dingin.

Sarah memandang curiga “Hei, ka..kamu mau apa?” Tanyanya berubah khawatir melihat ekspresi Andrian

“Nggak kenapa-kenapa, sepertinya aku harus kenalan sama dia dan ngasih tau dengan jelas kalau dia nggak boleh sembarangan sama Istriku”

“Andrian No!

***

Sarah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kesalahan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan dan..menakutkan. Sarah memandang lelaki di sebelahnya yang sedang tampak fokus menyetir dengan raut muka yang bisa membuat orang lain begidik. Tadi Andrian berhasil memaksanya untuk pergi ke rumah Raga, walaupun enggan Sarah menerima janji yang diucapkan Andrian bahwa dia tidak akan membuat keributan atau memakai kekerasan apapun, Andrian hanya ingin bicara. Yang Sarah tidak pernah tahu, Andrian bisa membuat orang ketakutan hanya dengan bicara. Yah, itulah yang bisa Sarah pikirkan ketika melihat Raga tampak cukup terintimidasi ketika diajak ngobrol oleh suaminya. Betul Sarah merasa resah ketika tahu fotonya yang tanpa jilbab muncul di laman Facebook dimana semua orang bisa melihatnya, tapi dia tidak pernah menyangka dengan tanggapan Andrian. Dan yang membuatnya semakin bingung adalah fakta bahwa sejak pulang dari rumah Raga, Andrian tidak mau melihat wajahnya serta diam seribu bahasa.

Punya suami tapi nggak paham dengan sifatnya sama sekali, disitu kadang saya merasa sedih

Sarah mendesah lega ketika mobil yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan mulus di rumah. Sarah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu karena Andrian masih harus memarkir mobil. Dia duduk di ruang tamu, otaknya mencoba berpikir dengan cepat, dia tidak suka dengan situasi ini. Sarah sudah siap untuk bertanya saat Andrian masuk dan langsung menggerakan tangannya, memberi kode Sarah untuk diam.

“Stop, sebelum bilang apapun aku butuh air putih dulu, segelas besar”

Sarah langsung pergi ke dapur, mencopot jilbabnya sambil mengambilkan air minu, kembali ke ruang tengah dan mengulurkannya dengan gesit ke arah Andrian. Andrian meneguknya pelan-pelan, terlihat dia sedang mengatur nafas dan emosi. Ekspresi wajahnya yang keras sudah kembali melunak.

“Nah..”Sarah mencoba memulai pembicaraan

Andrian menoleh, memandangnya sesaat kemudian secara tiba-tiba menarik Sarah ke dalam pelukannya. Sarah terkejut, tapi tidak berusaha untuk menolak. Andrian menutup mata sejenak sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Sarah

“Maafin aku ya, kamu pasti ketakutan” Kata Andrian dengan suara pelan

Sarah, yang menggennggam baju Andrian hanya memberi jawaban dengan anggukan kecil.

“kamu benci sama aku?”

Sarah menggeleng

“Sejujurnya… aku bingung dengan perasaanku sendiri Andrian” dia mendongakan wajah “ di satu sisi, aku senang kamu berani untuk mendatangi Raga, melindungi harga diriku, merasa marah buat aku. Di sisi lain, aku cukup takut juga melihat kamu marah, bagaimanapun Raga itu tetap temanku, aku…aku tetap merasa tidak enak kalau harus putus tali silaturahmi sama dia”

Andrian berdecak “Haish, Nggak ada ruginya putus hubungan sama orang yang nggak mengormati kamu sweetheart, aku nggak rela. Demi Allah aku sungguh nggak rela ada orang yang berani upload foto kamu di medsos, dalam kondisi tidak berjilbab pula. Kamu istriku, milikku, muhrimku, jelas sekali aturannya tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh melihatmu dalam kondisi tidak berjilbab. Katakan aku egois, tapi sejak ijab qabul yang aku lakukan dengan ayahmu, kamu sudah jadi tanggunganku, kamu adalah tanggung jawabku… untuk dijaga dan dicintai”

Sarah mengerjap, dia sadar kalau tadi Andrian sempat mengatakan kata yang sudah lama ditunggunya. Eh, dia tidak salah dengar bukan?

“Andrian, kamu..kamu..kamu..”

“Haaahhhhhh” Andrian mengucek-ucek rambut Sarah dengan sayang. “Aku tuh dosa apa sih, punya isti kok emot banget”

“lemot Andrian, bukan emot”

“Wakakak, udah lemot, bloon lagi” lanjut Andrian

Sarah dengan sigap langsung mencubit pinggang Andrian, cubitan paling kecil dan tajam. Andrian mengaduh dengan tidak macho sama sekali.

“Mau lagi suamiku?” Kata Sarah manis

Andrian ber-AW-AW ria sambil nyengir. “Ampun Sarah, cubitan kamu tuh nyerinya lama ilangnya”

“Siapa suruh ngehina istrinya bloon!” Sarah melepaskan pelukan Andrian dengan kesal. Suaminya ini memang paling jago merubah mood orang lain, pikirnya sebal. Andrian makin mengetatkan pelukannya, tidak mau membiarkan Sarah pergi.

“ I love you Sarah” Katanya, terdengar pelan karena teredam rambut Sarah.

Sarah merasakan matanya memanas, sekali lagi dia mendongak, mencari kebenaran dalam binar mata Andrian.

“Kamu itu ibarat buku langka buatku. Buku yang ada satu-satunya di dunia, dibuat hanya untukku. Buku yang mungkin tidak akan pernah selesai aku baca karena tiap halaman selalu menyimpan kejutan-kejutan tak terduga. Buku yang nggak akan pernah membuat aku bosan.”

“Aku sih maunya kamu itu dibungkus rapat-rapat dan disimpan di dalam lemari buku-ku yang paling spesial” Lanjutnya. “Gimana?”

Sarah mendesah bahagia, pertanyaan jail tiba-tiba muncul di kepalanya “Jadi menurut kamu, aku cantik atau enggak?”

Andrian menyeringai kemudian tertawa tertawa “Oh ho! Cantiklah pastinya, apalagi kalau pas pakai warna biru motif polkadot” Katanya menggoda

Sarah tersipu, dia tahu betul apa yang dimaksud Andrian dengan warna biru motif polkadot, kalau boleh jujur itu juga merupakan salah satu pakaian favoritnya untuk merayu Andrian.

“Aku malah berpikir, saat ini bisa jadi waktu yang paling tepat untuk warna biru motif polkadot, sebagai balasan pernyataan cintaku pastinya” Andrian menarik Sarah ke arah kamar mereka sambil masih terus memeluknya.

Sarah tertawa, dia dengan sangat senang hati memakai warna biru motif polkadot untuk Andrian, Andriannya.

 

 

 

 

Ketika 2 krucils menangis bersamaan

Teringat beberapa percakapan dengan si empok saat awal-awal saya mempunyai anak dua ekor. Ketika itu, mungkin saya tampak kelelahan dan kusut walaupun toidak mengeluarkan keluhan apapun, wll at least, mencoba untuk tidak mengucapkan kalimat keluhan.

“Mbak mah masih gampang nih, si kakak nangis adiknya diem, si adik nangis kakaknya diem. Belum pernah kan dua2nya nangis?” Katanya. Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan,

Itu beberapa waktu yang lalu.

Belum juga memori percakapan itu hilang dari ingatan, eh sekarang kejadian. Huahahaha.

Si adiki lagi rasa rewel entah kenapa, sehingga meminta perhatian full untuk disusuin dan digendong-gendong. Eeeeh, ndelalah si kakak ikutan masuk kamar nuntut ini itu, and as ussually “sakdek saknyek” kudu saat ini juga. Ditolak baik-baik malah mewek, narik-narik. Alhasil jadilah dua-duanya mewek.

Masya Allah, seandainya badan bisa dibelah dua, saya membelah diri saat itu juga deh.

hiks hiks hiks, perjalanan masih panjang ternyata. semangat! semangat!